diff --git a/storage/app/.gitignore b/storage/app/.gitignore deleted file mode 100755 index fedb287..0000000 --- a/storage/app/.gitignore +++ /dev/null @@ -1,4 +0,0 @@ -* -!private/ -!public/ -!.gitignore diff --git a/storage/app/books/.gitkeep b/storage/app/books/.gitkeep new file mode 100644 index 0000000..e69de29 diff --git a/storage/app/books/ayah.pdf b/storage/app/books/ayah.pdf new file mode 100755 index 0000000..36b0f7d --- /dev/null +++ b/storage/app/books/ayah.pdf @@ -0,0 +1,10918 @@ + https://pustaka-indo.blogspot.co.id/ + + Hak cipta dilindungi undang-undang. + Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian +atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit. + Andrea Hirata + +https://pustaka-indo.blogspot.co.id/ + AYAH +Andrea Hirata + +Cetakan Pertama, Mei 2015 + +Penyunting: Imam Risdiyanto +Perancang sampul: Andreas Kusumahadi +Pemeriksa aksara: Intan & Fitriana +Penata aksara: Martin Buczer & Tri Raharjo +Digitalisasi: Rahmat Tsani H. + +Diterbitkan oleh Penerbit Bentang +(PT Bentang Pustaka) +Anggota Ikapi +Jln. Plemburan No. 1, Pogung Lor, RT 11, RW 48 +SIA XV, Sleman, Yogyakarta – 55284 +Telp.: 0274 – 889248 +Faks: 0274 – 883753 +Surel: bentang.pustaka@mizan.com +Surel redaksi: bentangpustaka@yahoo.com +http://bentang.mizan.com +http://www.bentangpustaka.com + +Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT) +Andrea Hirata + + Ayah/Andrea Hirata; penyunting, Imam Risdiyanto.—Yogyakarta: +Bentang, 2015. + +xx + 412 hlm.; 20,5 cm. + +ISBN 978-602-291-102-9 + +1. Fiksi Indonesia. I. Judul. II. Imam Risdiyanto. + + 899.221 3 + +E-book ini didistribusikan oleh: +Mizan Digital Publishing +Jl. Jagakarsa Raya No. 40 +Jakarta Selatan - 12620 +Phone.: +62-21-7864547 (Hunting) +Fax.: +62-21-7864272 +email: mizandigitalpublishing@mizan.com + +https://pustaka-indo.blogspot.co.id/ + Teriring terima kasih untuk guruku + James Alan McPherson + +https://pustaka-indo.blogspot.co.id/ + Seperti +dikisahkan Amiru + + kepadaku + Daftar Isi + +Purnama Kedua Belas ~ 1 +Radio ~ 5 +Pensil ~ 9 +Pingsan ~ 14 +Seorang Ayah Bernama Markoni ~ 17 +Volare ~ 22 +Masih Berlaku ~ 26 +Bunga Ilalang ~ 30 +SMA ~ 35 +Izmi ~ 39 +Intervensi ~ 45 +Surat ~ 48 +Barang Antik ~ 51 +Perlambang ~ 54 +Enam ~ 59 +Merayu Awan ~ 61 +Sayap Kecil yang Sempat Tumbuh dan Patah Lagi ~ 66 +Semua Kebaikan dari Saputangan ~ 73 +Rahasia ~ 79 + Geometri ~ 83 +Amiru dan Sepedanya ~ 86 +Terima Kasih ~ 94 +Cita-Cita Izmi dan Amiru ~ 105 +Pahlawan ~ 107 +Tanjong Pandang ~ 111 +Puisi ~ 123 +Amiru dan Kantor Gadai ~ 129 +Saat Langit Menjadi Biru ~ 135 +Pendamba Cinta ~ 139 +Wawancara ~ 144 +Kue Satu ~ 148 +Biru Karena Rindu ~ 152 +Medali Keemasan ~ 158 +Konfigurasi ~ 166 +Stadium 3 ~ 171 +Juru Puisi ~ 174 +Ayah yang Bersembunyi ~ 178 +Aya ~ 187 +Semua Telah Membeku di dalam Waktu ~ 193 +Ruang Sidang III ~ 207 +Menyukai Travelling ~ 214 +Rabun ~ 218 +37 Syarat ~ 231 +Satire Akhir Tahun ~ 237 + Surat-Surat Lena ~ 240 +“Besame Mucho” ~ 247 +Kisah Keluarga Langit ~ 253 +Sketsa ~ 261 +Kota yang Pandai Berpuisi ~ 266 +Delapan Tahun Kegilaan ~ 280 +Genap ~ 286 +Bahasa Indonesia ~ 290 +Kapal Ternak ~ 298 +Juliet-mu ~ 301 +Ilmu Bumi ~ 306 +Indonesia Lonely Man ~ 314 +Sahabat Pena dan Hikayat 6 Kota ~ 317 +Stolen Generation ~ 328 +Musibah ~ 336 +25 Km/Jam ~ 342 +Api Neraka ~ 346 +Piala ~ 351 +Merdeka ~ 360 +Biru ~ 376 +Janji Lama ~ 383 +Sweet ~ 387 +Purnama Kedua Belas ~ 392 + Purnama +Kedua Belas + +MALAM senyap, tak ada suara kecuali bunyi kafilah-kafilah +angin berembus dari selatan, menampar-nampar atap rum- +bia, menyelisik daun delima, menjatuhkan buah kenari, me- +nepis permukaan Danau Merantik, menyapu padang, lalu +terlontar jauh, jauh ke utara. Sesekali burung-burung pipit +yang tidur di gulma terbangun, bercuit-cuit berebut tempat +tidur, lalu senyap lagi. + + Meski tersembul di antara gumpal awan April, purnama +kedua belas terang benderang. Begitu terang sehingga Sabari +yang duduk sendiri di beranda, sedih, kesepian, dan merana, +dapat melihat gurat nasib di telapak tangan kirinya. Tangan +kanannya erat menggenggam pensil. + + Tak ada yang dapat dipahaminya, telapak tangannya +adalah anak-anak sungai yang tak tentu mana hulu mana hi- +lirnya. Sabari terombang-ambing di riaknya, timbul, tengge- + 2 ~ Andrea Hirata + +lam. Dibekapnya pensil itu, bunga-bunga ilalang beterbangan +dalam dadanya. + + Seekor kucing berbulu hitam, tetapi telah berubah men- +jadi abu-abu, karena suka tidur di tungku, melompat ke pang- +kuannya. Kucing yang telah berjanji pada dirinya sendiri, un- +tuk ikut Sabari sampai ajal menjemput, juga merana. Biduk +rumah tangganya, persis rumah tangga Sabari, telah karam. +Marleni, istrinya, telah minggat, direbut kucing garong dari +pasar pagi Tanjong Pandan yang tak tahu adat. + + Bentuk rumah Sabari pun macam orang kesepian, bong- +kok, mau tumpah, kurang percaya diri. Sebatang pohon deli- +ma di pojok kanan pekarangan ikut-ikutan kesepian. Mereka, +termasuk pohon delima itu, rindu kepada Marlena, Marleni, +dan terutama, Zorro. + + Abu Meong, nama kucing tadi, meloncat dari pangku- +an juragannya lalu melangkah menuju dapur dengan gaya +seperti orang habis melemparkan bola boling. Penuh gaya, +tetapi palsu. Selain patah hati, kucing dapur itu juga mende- +rita tekanan batin, post power syndrome istilah masa kini, sejak +tikus-tikus di rumah itu minggat. Tetangga kiri-kanan bilang, +tikus-tikus itu tak tahan karena Sabari selalu muram, tak ceria +seperti dulu. Buncai, tukang kredit alat-alat rumah tangga, +malah menyebarkan gosip tak sedap. Katanya, tikus-tikus itu +terjun ke dalam sumur, mengakhiri hidup mereka, lantaran +tak sanggup kelaparan sebab Sabari begitu miskin. Ting- +gallah Abu Meong yang baru sadar bahwa kaum tikus yang + Ayah ~ 3 + +kerap mengalami perlakuan represif darinya adalah sumber +wibawa, sekaligus kebahagiaannya, satu-satunya. + + Marlena, oh, Marlena, perempuan yang telah membuat +Sabari senewen karena kasmaran. Cinta pertamanya, belah- +an jiwanya, segala-galanya. Sayang seribu sayang, tak sedikit +pun Lena mengacuhkannya. Gambar-gambar hitam putih, +karena sudah lama tentu saja, silih berganti melayang dalam +kepala lelaki lugu yang melankolis itu. Gambar waktu Sabari +mengambil saputangan Lena yang jatuh di lapangan upacara. + + “Siapa yang menyuruhmu mengambilnya?! Siapa?! Aku +bisa mengambilnya sendiri!” Padahal, Sabari menyerahkan- +nya tak kurang khidmat dari cara Paskibra Kabupaten me- +nyerahkan bendera. + + “Buku tulis untukmu, Lena,” kata Sabari selembut +mungkin, malu dan gugup. Buku itu adalah hadiah harap- +an tiga lomba menulis puisi tingkat pelajar, prestasi tertinggi +Sabari. Dia ingin Lena bangga kepadanya. Tak usah ya, kata +Lena. + + Maka, Sabari gelisah, lalu kecewa, lalu menderita. Ten- +tu kemudian khalayak ramai tak habis pikir melihat seorang +lelaki hanya terpaku pada satu perempuan, tak dapat dibelok- +belokkan ke perempuan lain, seolah dunia ini hanya selebar +saputangan Lena. + + Kawan dekat Sabari, yakni Maulana Hasan Magribi— +lahir saat azan Maghrib—biasa dipanggil Ukun dan Mus- +tamat Kalimat, biasa dipanggil Tamat, berkali-kali mengi- + 4 ~ Andrea Hirata + +ngatkan Sabari bahwa dia bisa berakhir di Panti Rehabilitasi +Gangguan Jiwa Amanah di bawah pimpinan Dra. Ida Nurai- +ni, apabila kepalanya yang ditumbuhi rambut keriting ber- +gumpal-gumpal itu hanya dipenuhi bayangan Lena. Sabari +bergidik. Dia pun sering mengingatkan dirinya sendiri akan +hal itu. + Radio + +SEPANJANG pengetahuan Amiru, ayahnya, Amirza, tak +pernah ke warung kopi seperti kebanyakan lelaki di Kampung +Nira. Meski belum bolehlah dikatakan panjang pengetahuan- +nya sebab dia cuma bocah lelaki berusia sepuluh tahun, kelas +lima SD. + + Amirza bekerja sebagai buruh pabrik sandal jepit bermu- +tu. Malam dilewatkannya dengan menjalin pukat di bawah +temaram lampu minyak sambil menyimak siaran radio. Istri, +tiga anak, pabrik sandal jepit, menjual pukat, dan radio. Da- +lam lingkaran itulah hidup Amirza berputar, hari demi hari, +tahun demi tahun, tak ada hal lain. + + Bahasa yang asing dan irama yang aneh dari negeri- +negeri yang jauh kemerosok, timbul tenggelam, menguing +dari radio kuno yang tutup belakangnya tak tahu sudah +minggat ke mana, sehingga tampak rangkaian kabel berke- +lak-kelok semau-maunya di antara tabung-tabung berdebu, + 6 ~ Andrea Hirata + +lalu secara ajaib mengeluarkan bunyi, bahkan musik, bahkan +orang berkata-kata! + + Di atas tombol fine tuning ada tulisan PHIL dari bahan +berkilau. Lalu, ada jejak tulisan LIP di sampingnya, menan- +dakan radio itu telah mengalami masa-masa yang jaya se- +kaligus perjuangan yang sulit. Ujung antenanya dililit kawat +kuningan yang diulur menuju belakang rumah lalu ditautkan +ke kawat kandang bebek. Tentu dimaksudkan agar dapat me- +nerima siaran radio lebih jelas. Bagaimana kandang bebek +bisa menjadi perpanjangan antena radio adalah bagian dari +petualangan epik Amirza bersama radionya, yang di dalam- +nya melibatkan seorang lelaki Melayu amatir bernama Syarif +Miskin. + + Seandainya mau disebut sebagai teknologi, radio itu +adalah teknologi pertama dan satu-satunya di rumah itu, +yang bahkan tak berlistrik. Jika mau disebut hiburan, radio itu +pula satu-satunya hiburan bagi Amirza sekeluarga. Jika ingin +disebut harta, radio itu pula harta paling berharga di rumah +itu. Dan, jika ingin disebut sebagai budaya, Amirza adalah +penganut budaya radio yang setia. + + Radio itu diletakkan dengan penuh hormat di atas le- +mari rendah berkaca. Harap maklum, segala sesuatu yang +terbuat dari kaca dianggap mewah di Kampung Nira. Mes- +ki rupanya kaca lemari itu hanya plastik serupa kaca. Lokasi +radio pun dipilih dengan teliti, di pojok ruang tengah, agar +terhindar dari guyuran hujan lantaran atap seng yang bocor. + Ayah ~ 7 + +Taplak bermotif Melayu tradisional dirajut khusus oleh istri +Amirza untuk alas radio itu. Di sebelah radio dipajang vas bu- +nga plastik berisi lima tangkai bunga mawar, juga dari plastik. +Melihat dekorasi itu pasti Mister Phillip sendiri akan terharu. + + Setiap malam Amirza duduk di kursi rotan di samping +radio itu. Disampirkannya ujung pukat pada paku yang ter- +tancap di dinding, dinyalakannya lampu minyak, dihidupkan- +nya radio. + + Setelah bercerita untuk mengantar tidur dua adik perem- +puannya, Amirta, usia lima tahun dan Amirna, usia tiga ta- +hun, dari kamar sebelah, melalui celah dinding papan, Amiru +sering mengintip ayahnya. Senang dia melihat ayahnya terse- +nyum mendengar lagu-lagu yang indah. Tak ada yang lebih +diinginkan Amiru selain melihat ayahnya tersenyum. + + Acara kesenangan ayahnya adalah ceramah agama Is- +lam, sandiwara radio, lagu-lagu Semenanjung, dan tak lupa, +berita tentang Lady Diana. Entah bagaimana mulanya, pen- +duduk Kampung Nira gemar sekali kepada Lady Diana. Tak +peduli tua, muda, wanita maupun pria. Kegemaran itu tak lu- +put menghinggapi ayah Amiru. Jika RRI atau radio lokal me- +nyinggung sedikit saja nama Lady Diana, lekas-lekas Amirza +membesarkan volume radio. + + Lady Diana adalah kembang dunia yang selalu membesarkan hati +orang miskin, kata mereka. Jika ada berita Lady Diana mengun- +jungi kampung miskin nun di belahan dunia antah-berantah, +mereka mendekatkan telinga ke radio atau berkerumun di + 8 ~ Andrea Hirata + +depan televisi umum, Sanyo hitam putih, empat belas inci, +di pekarangan balai kampung. Lady Diana muncul di layar, +mereka berdiri dan mendekati TV karena mau melihat Lady +Diana dari dekat. + + Keesokannya tak ada topik bicara lain di sekolah, kan- +tor desa, pasar, warung-warung kopi, selain soal Lady Diana. +Mereka yang tak sempat melihatnya, menyesal, membanting +topi ke meja. + + “Rugilah kau!” kata kawan-kawannya. + Pembicaraan itu baru reda setelah berhari-hari. Orang- +orang Nira berharap suatu hari Lady Diana bersedia me- +ngunjungi kampung mereka yang miskin. Ada yang bermak- +sud mengirim surat kepada presiden agar mengundang Lady +Diana ke Indonesia. Setelah mengunjungi Istana Negara, +barangkali Lady Diana berminat bertandang ke Kampung +Nira. + Pensil + +PERTANYAANNYA sekarang, bagaimana mulanya sehingga +Sabari tergila-gila kepada Lena? + + Dulu dia tak ubahnya anak-anak lain di Belantik, kam- +pung paling ujung, di pinggir laut Belitong sebelah timur. +Pulang sekolah dia langsung mengalungkan katapel, me­ +ngantongi duku muda untuk pelurunya, bersandal cunghai, +melempari buah sagu, mengejar layangan, berlari-lari di pa- +dang, dan berenang di danau galian tambang. Kulit kelam +terbakar matahari, luka-luka seantero kaki, pulang ke rumah +dimarahi Ibu demi melihat baju penuh bercak getah buah hu- +tan, lalu pontang-panting berlari ke masjid agar tak terlambat +dan dimarahi guru mengaji. Di masjid tertawa, bersorak, be- +rebut, bertengkar, menangis. + + Soal cinta? Sabari tak kenal dan tak suka. Cinta adalah +kata yang asing. Cinta adalah racun manis penuh tipu mus- +lihat. Cinta adalah burung merpati dalam topi pesulap. Cin- + 10 ~ Andrea Hirata + +ta adalah tempat yang jauh, sangat jauh, dan urusan konyol +orang dewasa. + + Waktu kelas dua SMP, Ukun berkata kepada Sabari +bahwa dia suka sama Hanifa, sampai tak bisa tidur dibuat- +nya. Sebelumnya, Ukun juga pernah bilang bahwa dia suka +sama Sita, Mawar, Anisa, Laila, Nurmala, Aini, Indra, Deli, +Lili, Mumun, Nizam, Latifah, Salamah, Fatimah, Hasanah, +Sasha, Zasa, Zaza, dan Shasya. Adapun Tamat, tanpa malu- +malu bilang bahwa dia suka sama Amoi, Zarina, A Yun, Mi- +nar, A Mung, Nuri, Rifa, Umi kampung seberang, dan Umi +anak Pak RT. + + “Tapi, hanya suka pandang,” kata Tamat. + “Maksudmu?” tanya Sabari. + “Kata ayahku, aku tak boleh pacaran sebelum tamat +perguruan tinggi. Itulah sebabnya ayahku menamaiku Ta- +mat.” Padahal, ayahnya sendiri punya tiga istri. Lempar batu +sembunyi tangan. + Menurut Sabari semua itu menjijikkan. Setiap kali Ukun +berkoar soal putri-putri kecil yang disukainya itu, Sabari +­ngomel-ngomel. Sangat mungkin karena dia telah melihat +dengan matanya sendiri betapa buruknya cinta. Keluarga se- +pupu-sepupunya berantakan. Dia selalu bertanya, mengapa +tak ada hukum yang menjerat orang-orang yang suka main- +main dengan cinta macam Ukun, Tamat, dan sepupu-sepu- +punya itu? Baginya cinta adalah perbuatan buruk yang dilin- +dungi hukum. + Ayah ~ 11 + + Karena tahu Sabari anti cinta, pernah Ukun menggo- +danya dengan memasang-masangkannya dengan Shasya. +Sabari muntab tak keruan. Tiga hari Ukun didiamkannya. Sa- +bari yang penyabar, tak pernah begitu sebelumnya. Ukun se- +lalu menggoda Sabari dengan berbagai tingkah, tetapi kapok +menggodanya soal anak perempuan. + + Alkisah, tamatlah Sabari, Ukun, dan Tamat dari SMP. +Impian mereka berikutnya sama dengan impian lulusan SMP +lainnya, yaitu masuk SMA negeri. Demikian banyak lulusan +SMP dari berbagai SMP di puluhan kecamatan, tetapi bang- +ku SMA terbatas. Maka, diadakan ujian seleksi selama tiga +hari, bertempat di Markas Pertemuan Buruh (MPB). + + Hari terakhir adalah ujian Bahasa Indonesia. Sabari ter- +senyum simpul. Dijawabnya semua soal dengan tenang. Cin- +cai. Dilihatnya nun di sana, Ukun mengaduk-aduk rambut. +Sabari tersenyum lagi. Di arah pukul 5.00, Tamat tercenung, +tampak tertekan batinnya. Sabari kembali tersenyum. Maaf, +siswa lain bolehlah jago Matematika, IPA, Bahasa Inggris, +Geografi, Biologi, tetapi Sabari adalah Isaac Newton-nya Ba- +hasa Indonesia. + + Dalam waktu singkat, Sabari telah menjawab semua +soal, tetapi dia tak ingin mengecewakan pihak-pihak yang te- +lah memberinya nama Sabari, yakni ayahnya dan diaminkan +neneknya. Ditunggunya dengan sabar sampai waktu mau ha- +bis. Jika menyerahkan jawaban secara mendadak, peserta lain +bisa terintimidasi, lalu grogi, pecah konsentrasi lalu berantak- +an. Betapa tampan budi pekerti anak itu. + 12 ~ Andrea Hirata + + Akhirnya, waktu hampir habis. Sabari membereskan +tasnya dan bersiap-siap menyerahkan kertas jawaban kepada +pengawas di depan sana, tetapi mendadak dia terperanjat ka- +rena sekonyong-konyong seorang anak perempuan menikung +di depannya, merampas kertas jawabannya, duduk di sam- +pingnya, dan tanpa ba bi bu langsung menyontek jawabannya. + + Tangkas sekali anak itu memindahkan semua jawaban +Sabari ke kertas jawabannya sendiri. Wajahnya tegang, na- +pasnya memburu, keringat bertimbulan di dahinya. Sabari +terpaku. Posisi pengawas yang jauh di depan membuat anak +itu bebas melakukan pelanggaran. Semuanya berlangsung +dengan sangat cepat. Yang diketahui Sabari kemudian ada- +lah teriakan dari pengawas bahwa waktu telah habis, harap +kertas jawaban diserahkan, jika tidak, pengawas akan menda- +tangi peserta dan mengambilnya secara paksa. + + Usai menyalin semua jawaban, anak perempuan itu me- +nyerahkannya kembali kepada Sabari. Tahu-tahu pengawas +telah berdiri di depan mereka dan mengambil kertas jawaban +sambil ngomel-ngomel. + + Anak perempuan itu membereskan tasnya. Sabari ter- +pana melihat bunga-bunga ilalang dalam tasnya. Tanpa ber- +kata-kata, anak itu tersenyum kepada Sabari dan menyerah- +kan pensilnya. Mungkin semacam hadiah untuk kebaikan +Sabari. + + Sabari menerima pensil dengan tangan yang dirasakan- +nya tak lagi merupakan bagian dari tubuhnya. Dia tertegun + Ayah ~ 13 + +karena tak pernah melihat mata manusia seindah mata anak +perempuan itu. Begitu indah, teduh tetapi berkilau, bak pur- +nama kedua belas. + + Anak itu bangkit, melangkah pergi, meninggalkan Sa- +bari yang gemetar sehingga bangku tempat duduknya berge- +meletuk. + + Usai ujian itu, sepanjang sore dan malam, Sabari te- +rus menggenggam pensil pemberian anak perempuan yang +tak dikenalnya itu. Tak pernah sedetik pun melepaskannya. +Ke­esokannya dia terbangun, pensil itu masih berada dalam +genggamannya. + Pingsan + +AMIRU senang melihat ayahnya bereksperimen dengan ra- +dio. Karena dengan begitu, kata hatinya, pikiran ayahnya, +juga pikirannya sendiri, akan teralihkan dari kesedihan. Kese- +dihan karena ibu Amiru sering jatuh sakit. Ibunya bisa sehat +selama berminggu-minggu, tetapi jika penyakitnya kambuh, +dia tak bisa bangun dari tempat tidur. + + Amiru kagum akan rasa sayang, kesabaran, dan ketela- +tenan ayahnya merawat ibunya. Oleh karena itu, dia, selaku +anak tertua, juga selalu rajin merawat ibunya. Jika keadaan +mencemaskan, Amiru berbaring di samping ibunya, diciumi­ +nya tangan ibunya sambil berdoa agar ibunya lekas sembuh. +Sementara ayahnya terus berusaha mencari penyembuhan +untuk ibunya. + + Maka, jika ada satu hal yang dapat membuat ayahnya +senang, dapat melupakan sejenak kemalangan yang merun- + Ayah ~ 15 + +dung, Amiru akan berusaha untuk mendapatkannya, dan hal +itu adalah radio. + + Dalam kaitan-kaitan itu, secara aneh, Amiru selalu men- +dukung eksperimen ayahnya akan radio itu sekaligus selalu +berharap agar eksperimen itu gagal. Supaya ayahnya tetap +sibuk. + + Pernah, karena ingin mendengar siaran langsung per- +tandingan bulu tangkis Thomas Cup Indonesia versus Malay- +sia yang disiarkan RRI secara langsung, ayahnya meminjam +kuali ibunya. Diulurnya seutas kawat yang panjang dari ante- +na radio lalu ditautkannya ujung kawat itu pada telinga kua- +li yang dipasang di atap rumah. Maksudnya mungkin untuk +memfungsikan kuali itu sebagai semacam antena parabola. +Siaran radio tidak membaik. Eksperimen antena kuali: gagal. + + Tak kenal menyerah, Amirza mencoba berbagai cara su- +paya mendapat siaran radio yang lebih jelas. Dia memanjat +pohon gayam di samping rumah lalu mengikat sebatang besi +di puncaknya. Di ujung batang besi itu ditautkan kawat yang +telah diulur dari antena radio. Hasilnya siaran radio malah +makin kemerosok. + + Ayah Amiru penasaran. Dibalutnya ujung besi di pun- +cak pohon gayam itu dengan gulungan timah. Tindakan +itu mengikuti sebuah alur logika yang amat akademik, yaitu +sebagai kaum yang akrab dengan tambang, penduduk Nira +paham bahwa petir gemar sekali menyambar tanah yang me- +ngandung timah. Karena petir adalah listrik dan frekuensi ra- + 16 ~ Andrea Hirata + +dio juga salah satu bentuk penjelmaan listrik, frekuensi radio +pasti senang menyambar antena radio yang dilapisi timah. +Akibatnya, tidak bisa tidak, siaran radio pasti akan semakin +jelas. Begitu dasar pemikiran Amirza. Jika pemikiran itu di- +jadikan proposal skripsi mahasiswa tingkat akhir, pasti dosen +pembimbing akan mengangguk tanpa ragu. + + Yang terjadi adalah pada satu malam hujan lebat, ante- +na di puncak pohon gayam itu disambar petir. Akibatnya, bu- +kan hanya antena itu hangus menjadi arang, melainkan juga +pohon gayam layu sebelah. Ayah Amiru yang tengah khidmat +mendengarkan lagu “Green Green Grass of Home” terpelan- +ting dari tempat duduk. Radio itu mengerang sebentar, ber­ +asap-asap, lalu pingsan. + Seorang Ayah +Bernama Markoni + +AYAH yang keras, begitu semua anaknya menganggap Mar- +koni. Markoni sadar akan hal itu, tetapi tak dapat mengu- +bahnya. Sistem militan yang diterapkannya di rumah adalah +akibat dari penyesalan paling besar dalam hidupnya, yang tak +ada hari dilaluinya tanpa menyesalinya, yaitu tidak sempat +sekolah tinggi. + + Padahal, ayahnya dulu orang mampu, dan pernah me- +ngatakan sesuatu yang semakin menambah sesak dada Mar- +koni, bahwa kalau Markoni mau sekolah, ayahnya, Tuan +Razak, yang adalah seorang Syah Bandar, bersedia membia- +yai sekolahnya sampai mana pun. + + “Kalau perlu menggadaikan rumah.” Terngiang-ngiang +dalam telinga Markoni kalimat itu. + + Tuan Razak ingin sekali Markoni mengikuti jejaknya di +bidang maritim. Markoni dinamai begitu agar menjadi seo- +rang markonis kapal. + 18 ~ Andrea Hirata + + “Markonis adalah orang terpandang, perwira di kapal. +Atasan markonis satu-satunya hanya nakhoda,” ayahnya me- +nyemangati Markoni. + + Ayahnya berlapang hati, berbesar harapan, lantaran +tahu Markoni sesungguhnya sangat cerdas. Melihat anaknya, +Tuan Razak membayangkan Marchese Guglielmo Marconi, +ilmuwan jempolan keturunan Irlandia Italia, manusia perta- +ma yang mampu menyeberangkan pesan tanpa kabel melin- +tasi Samudra Atlantik. Tak terperi jasanya bagi keselamatan +kapal, bagi umat manusia. + + Tuan Razak mengimpikan orang-orang memanggil anak +sulungnya, Spark, satu panggilan keren untuk seorang radio +­officer, perwira radio, seperti panggilan keren Kep, untuk kapten +kapal. Untuk itu, Markoni mesti masuk Sekolah Perwira Ra- +dio Pelayaran di Tasikmalaya, aih, gagahnya. Namun, sayang +seribu sayang, Markoni memilih jalan hidup sebagai bedebah. + + Baru kelas satu SMP dia sudah merokok. Lengan baju +yang sudah pendek digulung tinggi-tinggi, mending kalau +lengan berotot. Potongan rambut bersurai panjang pada +bagian belakang. Mirip ekor burung bayan. Satu ciri anak +bergajul. Bolos sekolah adalah hobinya. Semua nilai yang +dijunjung para pelopor pendidikan Indonesia dikhianatinya +terang-terangan pada siang bolong. Tak tahu apa yang me- +rasukinya, orangtua selalu dimusuhinya, pelajaran disepele- +kan, guru-guru dilawan. Adalah satu keajaiban dia bisa tamat +STM, jurusan Listrik. + Ayah ~ 19 + + Memang sempat Markoni berangkat ke Tasikmalaya +dan masuk sekolah radio itu, tetapi kerjanya berleha-leha. + + “Cuma dua tahun, bersabarlah,” kata ayahnya agar +Markoni menamatkan sekolah D-2 itu. Namun, tak ada kesa- +baran dalam diri Markoni. Dia pulang ke Belitong, bukannya +membawa ijazah, dia membawa istri. + + Tak lama kemudian ayahnya meninggal dan mulai saat +itulah Markoni kena tampar kenyataan hidup yang sebenar- +nya. Menanggung istri dan anak, tanpa dukungan orangtua, +tanpa pekerjaan, tanpa pengalaman, tanpa ijazah memadai. +Air dingin di dalam gelas macam mendidih, begitu Markoni +menggambarkan krisis hidupnya kepada seorang kawan. + + Melamar kerja di sana sini ditolak. Usaha ini gagal, usa- +ha itu merosot. Memang ada lowongan kerja di kapal, perusa- +haan pelayaran atau lowongan di bagian mekanikal elektrikal +rumah sakit daerah, tetapi memerlukan ijazah paling tidak +sarjana muda. + + Harus menyokong keluarga, Markoni tak bisa dan tak +boleh menyerah. Dibukanya warung sembako, gulung tikar, +warung makan, habis modal, bengkel motor, lebih banyak +pengeluaran ketimbang pendapatan, kaki lima, kena uber +polisi pamong praja, warung sayur, macet, jual batu satam, +kena tipu, jual bakso, kalah saingan, jual minyak tanah, kena +kurung polisi, jual kupon judi buntut, takut sama api neraka. + + Usaha rental alat musiknya berakhir secara mengerikan +karena orang-orang udik dari Belantik, yang mau belajar mu- + 20 ~ Andrea Hirata + +sik rock, memperlakukan gitar seperti dayung, drum seperti +kasur yang boleh digebuk sekuat tulang, dan organ seperti +adonan kue satu. Senar bas sampai putus, bayangkan itu! Se- +nar bas sampai putus! Barangkali itu untuk kali pertama terja- +di dalam sejarah musik internasional. Usaha rental alat musik +yang berakhir tragis itu memengaruhi kepercayaan Marko- +ni terhadap musisi dan punya perasaan tersendiri terhadap +orang-orang Belantik. + + Terlilit utang pada rentenir dan harus berurusan dengan +orang-orang yang kasar, Markoni mati kutu dan mulailah +kata-kata ayahnya dulu menjelma menjadi hantu. + + Hatinya sakit melihat kawan-kawannya yang dulu me- +nyelesaikan sekolah di Tasikmalaya telah menjadi perwira ka- +pal. Muhtadin yang waktu STM tak bisa menjawab soal ujian +jika tidak diberinya sontekan, kini sudah menjadi Kepala Di- +nas Pendidikan. Tersayat hati Markoni. Kata orang, Markoni +selalu sial lantaran kualat sama ayahnya. Hukum karma pasti +berlaku. Di pusara ayahnya, Markoni minta maaf. + + Satu-satunya harapan tinggal Abu Dhabi. Dulu kawan- +nya penah menawarinya bekerja sebagai sopir truk di negeri +yang konon kalau musim panas orang bisa menggoreng telur +di jalan aspal. Markoni tak tahan panas karena hidupnya, ha- +tinya, telinganya, kepalanya sudah cukup panas. Suhu panas +membuatnya gelisah. Namun, dia sudah terpojok, tak punya +pilihan lain. + + Tercenung Markoni di warung kopi. Matanya kuyu me- +natap anak-anak yang berduyun-duyun pulang dari sekolah. + Ayah ~ 21 + +Pedih dia membayangkan dirinya dulu sebagai anak sekolah, +selalu khianat kepada ayahnya. Wajah ayahnya terbayang- +bayang, seandainya dia bisa membalik waktu. + + Akan tetapi, melihat anak-anak sekolah itu, tiba-tiba +Markoni terpikir akan sesuatu, sesuatu yang hebat! Lekas- +lekas dia keluar dari warung kopi lalu berdiri di pinggir jalan +raya untuk mengamati dari dekat rombongan anak-anak se- +kolah itu. Satu teori pendidikan yang dahsyat terangkai dalam +kepalanya. Markoni melonjak girang. Itulah momen eureka! + + Teori pendidikan itu bermula dari asumsi bahwa sema- +ngat orang untuk beranak tak pernah surut, akibatnya murid +sekolah akan semakin banyak, otomatis guru akan semakin +banyak. Dari kacamata bisnis, semua itu hanya berarti satu +hal, yakni permintaan kertas, buku-buku, dan segala hal +berbentuk cetakan, kartu, formulir, poster, selebaran pasti +meningkat. Dilihatnya anaknya sendiri, masih SD, tetapi pa- +ling tidak punya empat puluh buku. Usaha percetakan akan +b­ ooming. + + Markoni melompat-lompat girang. Dia ingin terlibat +dalam upaya pemerintah mencerdaskan kehidupan bangsa. +Keesokannya dia langsung menjual alat-alat musik yang telah +diperlakukan dengan semena-mena oleh para musisi Belantik +itu. Hasil penjualan itu langsung dipakainya untuk memulai +usaha baru: percetakan batako. + Volare + +SAMBARAN petir itu tidak hanya menghanguskan antena +radio di puncak pohon gayam, tetapi juga membuat radio itu +rusak. + + Amirza tak mau ketinggalan sandiwara radio Menantu +Durhaka, yang saban malam diudarakan radio lokal. Sandiwa- +ra radio itu juga acara kesayangan Amiru dan ibunya. Maka, +segera Amirza membawa radio itu ke kios reparasi elektronik +Gaya Baru di kawasan pasar ikan. Pemilik kios itu, tak lain tak +bukan, satu dan hanya satu-satunya, Syarif Miskin. + + Dari Syarif Miskin-lah kemudian Amirza mendapat pe- +ngetahuan yang lebih bisa dipertanggungjawabkan tentang +cara kerja antena. Kawan, mohon kata “bisa dipertanggung- +jawabkan” itu disikapi secara bijaksana. + + Syarif Miskin dulu berprofesi sebagai asisten operator +alat berat. Heavy Duty, orang-orang berhelm kuning nan ga- +gah dengan mesin-mesin raksasa, excavator, kendaraan dobel + Ayah ~ 23 + +gardan, delapan belas roda, itulah permainannya sehari-hari. +Semuanya tiarap saat PN Timah gulung tikar. Syarif bergan- +ti profesi menjadi juru rias pengantin. Bosan di bidang itu, +sekonyong-konyong, seakan mendapat mukjizat dari langit, +dia menjelma menjadi montir radio. Mengenai bonus nama +“Miskin” di belakang namanya itu, kiranya tak perlu lagi di- +uraikan. + + Kepada Amirza, Syarif bersabda, bahwasanya siaran +radio akan lebih mudah ditangkap jika ujung kawat yang diu- +lur dari antenanya ditautkan ke kumparan logam yang lebar. + + Kumparan adalah makhluk ningrat yang hanya mun- +cul di buku yang biasa dipegang orang-orang pintar. Adapun +pembicaraan Amirza sehari-hari adalah pukat, semprong +lampu petromaks, sabun colek, sandal jepit putus, kutu be- +ras, minyak jelantah, perigi, tali rafia, obat nyamuk, aspirin, +kerokan, batu baterai, dan atap bocor. Maka, ketika Syarif +mengucapkan kata “kumparan”, Amirza, yang hanya tamat +SD dan buruh pabrik sandal jepit, bertekuk lutut di haribaan +kecerdasan lelaki Melayu sok tahu itu. + + Sampai di rumah, Amirza hilir mudik dan berkali-kali +menarik napas panjang. Wajahnya tegang, kepalanya dipe- +nuhi oleh pertimbangan-pertimbangan ilmiah tingkat uni- +versitas. Dia berusaha keras menerjemahkan kata-kata dari +Syarif soal kumparan logam yang lebar. + + Tiba-tiba dia tersenyum. Sesuatu memantik dalam ke- +palanya. Diulurnya kawat dari ujung antena radio menuju +belakang rumah, tepatnya ke kandang bebek. Rupanya Amir- + 24 ~ Andrea Hirata + +za telah menemukan definisi kumparan logam yang lebar itu, yaitu +jalinan kawat ram yang menjadi kandang bebek. + + Amiru menyaksikan tingkah laku ayahnya sambil ber- +usaha keras menahan tawa. Dia adalah murid yang cerdas. +Nilai IPA di rapornya tak kurang dari 8,5. Dia tahu apa yang +dilakukan ayahnya itu konyol dan tak berguna. Diam-diam +dia selalu melakukan analisis atas eksperimen-eksperimen +ayahnya. Jika eksperimen kandang bebek ini gagal, berarti +ayahnya telah gagal membuat siaran radio lebih baik seba- +nyak enam belas kali. + + Menurut Amiru, menautkan kawat antena ke kandang +bebek pasti membuat siaran radio semakin buruk karena bisa +terjadi induksi. Bisa juga terjadi satu korslet yang berbahaya +karena frekuensi radio saling bertabrakan, belum menghitung +radiasi sinar matahari, ultraviolet, serta risiko atas reaksi me- +dan listrik yang berkolaborasi dengan medan magnetik (sebe- +narnya apa, sih, yang sedang kita bicarakan ini?). + + Akan tetapi, Amiru diam saja. Tak mau dia mengecilkan +hati ayahnya yang sedang dilanda awan-awan ilmiah. Lebih- +lebih karena dia tahu makna radio itu bagi ayahnya. Serius +dia menonton aksi ayahnya. Melihat anaknya memandang- +nya dengan penuh kagum, Amirza semakin gesit. + + Antena selesai ditautkan. Amirza meminta Amiru meng- +ambil batu baterai yang sedang dijemur di atap rumah. Sege- +ra Amiru melaksanakan perintah itu. + + Empat batu baterai dimasukkan ke radio. Tegang wa- +jah Amirza ketika memutar tombol volume yang sekaligus + Ayah ~ 25 + +tombol on-off. Amiru cepat-cepat menutup telinga dengan ta- +ngan karena tahu eksperimen itu akan gagal dan radio akan +menguing. Benar saja. Dia tersenyum sebab teorinya benar. +Amirza kecewa, diputar-putarnya tombol tuning, srasak, srosok, +srasak, srosok, bbbrbrbtttt ... brrrhhh .... Diputarnya lagi, ngiiiiiinggg +... bunyi berdenging panjang, nyaring, dan sangat menggang- +gu. Diputarnya lagi, srosok, bbrbrbttttbhhh ... brrrhhhbbb ... ngu­ +iiiiiiiiinggg, gagal total. Amirza terhenyak pasrah di atas kursi +rotan. Amiru terpingkal-pingkal di dalam hati, tetapi seko- +nyong-konyong terdengar musik yang rancak dan lagu yang +indah volareee ... o ... o ... volare o o o ... gembira, lantang, tanpa +kemerosok sedikit pun. Tak pernah sebelumnya terdengar su- +ara sebersih itu dari radio tua itu. + + Amirza terpana, ditatapnya radio itu seperti menatap +benda ajaib. Ibu Amiru yang tengah berbaring di kamar +bangkit karena mendengar sebuah lagu melantun dengan jer- +nih. Apakah Amirza baru membeli tape? katanya dalam hati. Dia +melangkah menuju ruang tengah, dari ambang pintu kamar +dilihatnya Amirza dan Amiru terpaku di depan radio. Mu- +lut Amirza komat-kamit, diputarnya lehernya pelan-pelan ke +arah Amiru, yang berdiri tertegun di situ macam orang kena +tenung. + Masih Berlaku + +HANYA mereka yang diberkahi Yang Mahatinggi dengan +kecerdasan istimewa yang dapat melihat hubungan antara +anak-anak yang berduyun-duyun pulang sekolah dengan usa- +ha percetakan batako. Salah satu dari orang yang diberkahi +itu adalah Markoni. + + Karena banyak anak sekolah, tentu pemerintah perlu +membangun sekolah. Pembangunan sekolah tentu perlu bata- +ko. Begitulah skenario genius Markoni. Dengan cepat, usaha +percetakan batakonya mengalami kemajuan. + + Markoni adalah orang yang kenyang pengalaman seka- +ligus orang yang traumatis. Masa lalu yang pahit membuat- +nya tak ingin pengalamannya dialami anak-anaknya. Kepada +mereka, Markoni selalu mengatakan sesuatu yang dikatakan +ayahnya kepadanya dulu, bahwa jika anaknya mau sekolah, +akan disekolahkannya sampai kapan pun, ke mana pun. Dia +siap berkorban apa saja. + Ayah ~ 27 + + “Kalau perlu menggadaikan rumah.” + Akan tetapi, hukum karma tetap berlaku dan masih ber- +laku. Dua anak lelakinya, seperti dirinya dulu, menempuh ja- +lan hidup sebagai bedebah. + Anak ketiganya perempuan, pendiam, dan penuh bisa. +Baru kelas dua SMP anak itu sudah disambar seorang lelaki +berpembawaan kalem. Yang kalau diajak bicara banyak me- +nunduk. Lantaran dilanda kekecewaan yang besar atas tak +becusnya tiga anaknya, Markoni menaruh harapan terbesar +kepada si bungsu. Namun sial lagi, di balik wajah manis si +bungsu itu, tersimpan jiwa pemberontak. + Si bungsu telah menunjukkan tanda-tanda berandal se- +jak SD. Disuruh belajar sama susahnya dengan menyuruh +kambing berkokok. Dimarahi, dianggapnya angin lalu saja. +Diperingatkan, tak mempan. Diancam, tak gentar. Dinasi- +hati, melawan. Satu patah kata ayahnya, dua patah kata dia. +Dihardik supaya rajin belajar biar nanti bisa sekolah tinggi, +dipulangkannya kata-kata ayahnya, bahwa ayahnya sendiri +dulu drop out. Markoni panas telinga, tetapi mati kutu. + Markoni bertanya kepada istrinya, mengapa si bung- +su keras begitu. Istrinya berkata, lihatlah siapa yang bicara +itu. Berkali-kali si bungsu hampir tak naik kelas. Kritis. Yang +membuat Markoni sangat jengkel adalah kata guru-guru, si +bungsu itu sesungguhnya sangat pintar. Sekarang Markoni +dapat merasakan betapa pedih hati ayahnya dulu sebab dia +dulu juga sebenarnya murid yang pintar. + 28 ~ Andrea Hirata + + Kata guru, kalau mau, dengan mudah si bungsu bisa da- +pat rengking. Namun, karena wataknya yang keras, si bungsu +seakan menyabotase dirinya sendiri. Mungkin itu bentuk pro- +tes terselubung kepada ayahnya yang otoriter. + + Melihat tabiat si bungsu yang makin kacau, Markoni +muntab lalu mengancam, “Kalau kau tak lulus ujian masuk +SMA negeri, tak usah sekolah sekalian!” + + Ancaman berikutnya gawat, “Kau akan kukawinkan +saja!” + + Kawan ayahnya, seorang pengusaha kopra dari Kari- +mun, memang disebut-sebut melirik si bungsu yang manis +berlesung pipit itu. Si bungsu gemetar. + + Si bungsu telah melihat betapa runyamnya kawin muda +seperti yang dialami kakaknya. Setiap kali berjumpa, wajah +kakaknya kusut masai macam pukat diterjang hiu. Tak ada +hal lain yang keluar dari mulutnya selain keluhan. Dia pun +tak mau terlempar ke Karimun, tak ada kawan dan saudara di +sana. Si bungsu ciut karena tahu ancaman ayahnya tak main- +main. Lagi pula, perjodohan masih sangat biasa di Kelumbi. + + Sekonyong-konyong dia rajin belajar agar bisa lolos dari +ancaman yang mengerikan itu. Namun, semuanya telah ter- +lambat karena ujian masuk SMA negeri sudah terlalu dekat. +Ketinggalan pelajarannya begitu banyak, tak dapat dikebut +dengan belajar semalam dua malam saja. + + Ujian itu diikutinya dengan cemas, tak percaya diri. Ni- +lai rata-rata untuk lulus adalah 6,5. Hampir mustahil diraih + Ayah ~ 29 + +si bungsu mengingat soal-soal yang sangat sulit dan saingan +yang ketat. + + Setiap hari dia gelisah menunggu pengumuman hasil +ujian itu. Ancaman ayahnya menghantuinya sehingga dia +susah tidur. Belum-belum dia telah membayangkan tinggal +di kampung terpencil, kawin dengan lelaki yang tak dicintai­ +nya, bahkan tak dikenalnya. Dia menyesal tak pernah serius +belajar. Kini ancaman yang besar merundungnya. Dia ingin +seseorang menyelamatkannya, tetapi orang itu tak ada. Dia +mengadu kepada ibunya, bahkan ibunya tak mampu mela- +wan kemauan ayahnya. + Bunga Ilalang + +DI kampung lain, Belantik, Sabari juga gelisah menunggu +hasil ujian itu, bukan hanya karena dia ragu bisa diterima di +SMA negeri, melainkan lebih karena perempuan misterius +yang telah memberinya pensil dan membuat badannya panas +dingin. Layaknya orang yang kena sambar cinta pertama, dia +serbasalah, susah tidur. Miring ke kiri salah, ke kanan salah. +Telentang, dia malu, karena cicak-cicak mengejeknya. + + Sekarang dia memaklumi perasaan Ukun kepada Ha- +nifa, Sita, Mawar, Anisa, Laila, Nurmala, Aini, Indra, Deli, +Lili, Mumun, Nizam, Latifah, Salamah, Fatimah, Hasanah, +Sasha, Zasa, Zaza, dan Shasya, serta perasaan Tamat kepada +Amoi, Zarina, A Yun, Minar, A Mung, Nuri, Rifa, Umi kam- +pung seberang, dan Umi anak Pak RT, block, copy, paste. + + Bertemu dengan Ukun dan Tamat, meski mereka tak +tahu rahasia hatinya, Sabari merasa malu dan tak tahu ba- +gaimana cara memulangkan kata-katanya sendiri soal perem- + Ayah ~ 31 + +puan kepada kawan-kawannya itu. Karena, dia telah menjadi +orang yang dulu dicemoohnya. + + Sabari melamun. Apakah aku kelihatan seperti orang yang se- +dang memendam sebuah rahasia? Apakah Ukun dan Tamat tahu rahasia +hatiku? Bahwa aku sedang jatuh cinta? Perlukah kukabari mereka bah- +wa aku sedang jatuh cinta? Kukabari sedikit mungkin, jangan banyak- +banyak, tapi jangan ah, aku malu. Oh, apakah gerangan yang kualami +ini? Mengapa kebingungan bisa menjadi begitu indah? + + Ukun dan Tamat sendiri jengkel karena Sabari tak mau +lagi diajak ke danau tambang untuk berenang. Diajak me- +ngejar layangan di padang, dia menggeleng. Diajak meng- +gantungkan sepeda guru ngaji di dahan pohon bantan, dia tak +berminat. Padahal, dulu dialah biangnya. Diajak melempar +buah sagu, dengan sungkan dia berangkat. Namun, tingkah- +nya aneh. Dia memasukkan bajunya. Ukun jengkel. + + “Boi! Kau ini mau menghadap Pak Camat atau mau ke +hutan?!” + + Dibongkarnya baju Sabari. Diam-diam Sabari mema- +sukkannya lagi. + + Sekonyong-konyong, Sabari bukan Sabari yang dulu +lagi. Dia lebih kalem, lebih sering mandi, dan tak mau me- +ngenakan baju bernoda getah buah hutan. + + Saban malam dia rindu kepada perempuan yang me- +rampas kertas jawabannya itu. Mata anak itu lekat dalam +kepalanya. Di dinding kamarnya dia menulis; Purnama kedua +belas, siapakah dirimu? + 32 ~ Andrea Hirata + + Dulu, di antara kawan-kawannya, Sabari paling terlam- +bat pandai naik sepeda. Dia juga terakhir pandai mengaji, +pandai menulis dan membaca, semua itu lantaran kesabar- +annya. Namun, kali ini dia tak dapat bersabar. Sebab, dia tak +tahan memegang pensil sepanjang malam. Dia lelah melihat +bunga-bunga ilalang beterbangan dalam kamarnya. Dia ha- +rus tahu siapa anak perempuan itu dalam tempo sesingkat- +singkatnya. Untuk itu, satu-satunya cara adalah dengan me- +nunggu anak itu di MPB, pas hari pengumuman hasil ujian +masuk SMA nanti. + + Sabari mengarungi hari demi hari bak mengarungi +samudra waktu. Akhirnya, tibalah hari pengumuman yang +mendebarkan itu. Sejak siang Sabari sudah bercokol di peka- +rangan Gedung MPB. Belum pernah dia merasa waktu ber- +jalan begitu lambat sekaligus cepat. Cepat sekaligus lambat. +Membingungkan. + + Agar sasaran tak lolos, Sabari mengambil posisi di ping- +gir selasar. Siapa pun yang ingin melihat pengumuman harus +melalui selasar panjang itu. + + Petugas menempelkan lembar pengumuman, anak-anak +mulai berdatangan. Lekat Sabari menatap setiap anak perem- +puan, jantungnya mau copot. Teriakan anak-anak yang lulus +membuatnya makin gugup. Dia sendiri tak peduli akan hasil +ujiannya karena pikirannya terfokus kepada perempuan ber- +mata indah seperti purnama kedua belas itu. + + Tiba-tiba anak perempuan itu berbelok di ujung selasar. +Sabari terpana. Anak itu melangkah dengan cepat, wajahnya + Ayah ~ 33 + +seperti mau menangis. Dia tak tahu Sabari menatapnya ma- +cam bayi menatap kelereng karena dia cemas tak lulus lalu +dikawinkan ayahnya dengan lelaki dari Karimun. + + Makin dekat ke papan pengumuman, si bungsu semakin +gugup. Apalagi, dilihatnya anak-anak yang tak lulus mena- +ngis. Dipanjatkannya doa agar nilai rata-ratanya paling tidak +6,5. Itu batas minimum kelulusan. Sampai di muka papan +pengumuman, dia langsung menyelinap di antara kerumum- +an. Karena kecemasan yang memuncak, susah dia menemu- +kan namanya di antara ratusan nama siswa. Berulang-ulang +mencoba, akhirnya dia lihat namanya, MARLENA. + + Sejarah: 7 + IPS: 7 + PMP: 7 + Pendidikan Jasmani: 7 + Biologi: 6 + Matematika: 5 + Fisika: 5 + Bahasa Inggris: 5 + Bahasa Indonesia: 9,5 + Rata-rata: 6,5 + LULUS. + Dia bersorak dan melompat-lompat, matanya terbelalak +melihat nilai Bahasa Indonesia-nya yang fantastis, 9,5, hampir +sempurna 10. Tak pernah seumur hidupnya mendapat nilai +setinggi itu dan nyata-nyata nilai itu telah menyelamatkannya + 34 ~ Andrea Hirata + +sehingga dia lulus. Marlena merasa sangat lega karena berha- +sil lolos dari ancaman ayahnya. Dia ingin segera pulang untuk +memberi tahu ibunya hasil ujian itu. + + Sementara itu, nun di pojok selasar itu, Sabari yang be- +lum sadar dari pukau saat Lena datang tadi, kembali diserbu +pesona yang seluruh dirinya tak dapat menanggungnya. Di- +lihatnya Lena berjalan seakan-akan melayang-layang, lebih +memesona daripada saat dia datang tadi, sebab sekarang dia +tersenyum berbunga-bunga. Sabari berpegangan kuat-kuat +pada tiang untuk meredakan tubuhnya yang berguncang +macam dilanda angin ribut. Lena melewatinya, sepintas dili- +hatnya anak lelaki berwajah aneh, dengan mulut ternganga, +menatapnya tak berkedip sambil memeluk tiang. Siapakah anak +itu? Rasanya aku kenal? + SMA + +DALAM peri kehidupan manusia, sebelum nasib sial meng- +hantam bertubi-tubi, menganggur, tak lolos audisi, kena +PHK, kena tipu, utang membelit, prahara rumah tangga, +ekonomi sulit, berupa-rupa penyakit, tiada jeda menghantam +sampai napas tersangkut di tenggorokan, lalu mati, nasib me- +manjakan manusia dengan satu masa yang hebat: SMA. + + Sabari mengawali langkah pertama di SMA dengan se- +nyum terlebar yang dia miliki. Satu senyum dari telinga ke +telinga. Kawan-kawan baru, guru-guru baru, ilmu-ilmu baru, +dan terutama, yang paling mendebarkan: seseorang bernama +Marlena. + + Ingin Ukun membelah kepala Sabari untuk melihat apa +yang terjadi di dalamnya. Karena melihat Lena berkelebat +sedikit saja, dia macam kena penyakit angin duduk. Sebalik- +nya, Lena benci. Sabari tak hirau. Filosofi hidupnya adalah +mencintai seseorang merupakah hal yang fantastis, meskipun + 36 ~ Andrea Hirata + +orang yang dicintai itu merasa muak. Itu soal lain, tidak re- +levan. + + Tak ada hari dilewatkannya tanpa memandangi foto +Lena, berukuran 3 x 4 hitam putih, yang dia dapatkan dengan +cara menggelapkannya, melalui satu konspirasi dengan petu- +gas tata usaha SMA. Tiada jeda puisi dan surat dikirimnya. + + Tahu-tahu dia punya pekerjaan usai jam sekolah, yaitu +menghambabudakkan dirinya kepada tukang sampah di Pa- +sar Belantik, demi sedikit upah yang dipakainya untuk mem- +beli kartu request—selembar lima ratus perak—di radio lokal +AM Suara Cinta. Saban petang mengudaralah lagu dan sa- +lam untuk Lena di Kelumbi, dari DYSMJDB. Tak jelas apa +maksud singkatan itu. + + Sering Ukun, Tamat, dan Toharun menggoda Sabari +dengan mengatakan bahwa mereka baru saja melihat Lena. +Itu tipuan, Sabari muntab. Namun, sesungguhnya tak perlulah +mereka memberi tahu di mana Lena, sebab khusus untuk ga- +dis Kelumbi itu, Sabari telah bermutasi menjadi lumba-lum- +ba. Dia punya semacam kemampuan ecolocation. Kepala lon- +jong buah kemirinya dapat memancarkan sonar yang akan +dipantulkan oleh dinding sekolah, pohon-pohon bungur, pa- +gar berduri, dan tiang bendera sehingga Sabari dapat menen- +tukan satu koordinat di mana Lena bercokol. Satu bukti nyata +bahwa cinta sebelah mata bisa meningkatkan kapasitas otak. + + Jika Lena berada di kantin, Sabari pasti berada dekat +rumpun-rumpun beluntas di muka perpustakaan. Berpura- +pura melihat-lihat sarang burung prenjak, padahal matanya + Ayah ~ 37 + +mencuri pandang. Jika Lena ada di tempat parkir sepeda, +Sabari gelisah menunggunya melewati gerbang. Kalau Lena +main pingpong, Sabari rajin sekali menyapu ruang olahraga, +meski bukan giliran piketnya. Kalau Lena main kasti, tak tahu +siapa yang menyuruhnya, Sabari sigap sekali latihan baris- +berbaris di lapangan sekolah, sendirian. + + Akan tetapi, rupanya, cinta, meski sebelah mata mau- +pun buta, selalu saja berbuah kebaikan. Nilai rapor semester +1 Sabari jauh lebih baik daripada nilai Ukun dan Tamat, apa- +lagi Toharun. Mungkin karena Toharun hanya tertarik pada +pelajaran Pendidikan Jasmani dan Seni Suara. Dia gemar se- +kali bernyanyi lagu India. + + Pelajaran kesayangan Sabari adalah Bahasa Indonesia. +Bakat ayahnya sebagai guru Bahasa Indonesia SD nyata-nya- +ta menurun kepadanya. Kelihaiannya membuat puisi diakui +semua pihak: kawan-kawan, kepala sekolah, guru-guru, mau- +pun penjaga sekolah. + + Bakat puisinya terendus waktu para siswa diberi tugas +menulis puisi. Puisi Sabari berjudul Adalah, sebagai berikut. + + Cinta adalah mahkota puisi + Musim adalah giwang puisi + Hujan adalah kalung puisi + Bulan adalah gelang puisi + Cincin adalah perhiasan + 38 ~ Andrea Hirata + + Bergetar tak keruan hati Ibu Norma, guru Bahasa Indo- +nesia, sekaligus wali kelas, demi membaca puisi itu. Selama +lima belas tahun mengajar, sejak tamat SPG (sekolah pendi- +dikan guru), belum pernah dia menemukan murid SMA yang +dipenuhi anak-anak kuli timah, menulis puisi seperti itu. Apa- +lagi, siswa itu berasal dari Belantik, kampung tambang yang +hidup segan mati tak mau itu. Maaf, Kampung Belantik yang +dikenalnya disesaki orang-orang udik yang berkeringat kalau +makan, tetapi kalau bekerja tidak. Pernah dia bersuamikan +orang Belantik, cukup sekali! + + Lama Bu Norma menelaah puisi itu. Cinta adalah mahkota +puisi, bukankah kalimat yang spektakuler? Bagaimana anak +udik cengengesan itu mendapat kalimat itu? Soal cincin ada- +lah perhiasan, pastilah, pikir Bu Norma, Sabari mencoba me- +masukkan unsur realitas dalam puisinya yang metaforis. + + Bu Norma terkenal galak, suka berterus terang, tetapi +tulus dan disenangi. Dia tidak menjelekkan atau memuji di +belakang. Karena itu, dia dihormati. Dipanggilnya Sabari, di- +katakannya bahwa dia berbakat di bidang puisi. Sabari terse- +nyum. Dia sendiri tak tahu arti kata metaforis. Yang dia tahu +semuanya digerakkan oleh cintanya kepada Lena, cinta yang +bahkan telah membuatnya melihat WC umum di pasar ikan +Belantik, yang baunya dapat membuat bola mata meloncat, +indah tak terperi. + Izmi + +KARENA tak ingin melihat kawan menggantang asap, tak +sampai hati melihatnya ditolak Lena hari Senin, Selasa, Rabu, +Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu, sampai Senin lagi. Ditolak +pagi, siang, dan malam, full time, berkali-kali Ukun, Tamat, +dan Toharun mengingatkan Sabari agar melupakan Lena. + + “Dia melirikmu? Sama dengan ayam mengeong, musta- +hil,” kata Tamat. + + “Mending kau bergeser ke arah Shasya,” saran Ukun. + “Berdasarkan perhitunganku, rasa sayang Lena padamu +lebih kecil daripada rasa bencinya. Kita tahu dalam Matema- +tika, nilai yang lebih kecil dikurangkan dengan nilai yang le- +bih besar, hasilnya nol. Maka nol persen, itulah peluangmu,” +kata Toharun. Wajar nilai Matematika-nya 2. + Sabari tak terpengaruh oleh suara-suara yang mengecil- +kan hati itu. Baginya itu bunyi distorsi radio, menguing-ngu- + 40 ~ Andrea Hirata + +inglah sesuka kalian. Dia fokus kepada Lena. Dia tak mau dan +tak dapat pindah ke frekuensi lain. + + Untuk keperluan itu dia punya mata-mata, yaitu salah +seorang kawan terdekat Lena, Zuraida, yang senang saja diso- +gok Sabari dengan buah nangka hasil kebun sendiri. + + Di bawah pohon urisan, di belakang sekolah, sambil si- +buk memamah biak nangka, Zuraida berkisah bahwa Lena +suka main kasti. Kasti? Berdebar dada Sabari. + + Sabari yang tak pernah suka olahraga, yang badannya +seperti mau patah kalau ditiup angin barat, bulan berikutnya +terpilih masuk tim inti kasti SMA. Lain waktu Zuraida ber- +kata bahwa Lena suka lompat jauh. Tak ada angin tak ada +hujan, tahu-tahu Sabari menggondol juara pertama lompat +jauh tingkat SMA. Gayanya melompat macam belalang sem- +bah. Izmi bertepuk tangan. + + Izmi, kawan sekelas Zurai, dianggap siswa lain mirip +Ukun, Tamat, Toharun, dan Sabari sendiri, yakni sama-sama +orang yang tidak keren, para pecundang. Wajahnya tak me- +narik. Nilai rapornya buruk karena dia harus bekerja. Alasan- +nya klasik, ekonomi. Usai jam sekolah, dia bekerja mencuci +dan menyetrika pakaian tetangga sampai malam. Profesi itu +sudah dijalaninya sejak kelas dua SMP. Jika berkaca, sering +Izmi benci kepada dirinya sendiri karena tak ada yang dapat +dibanggakan dalam dirinya. Dia selalu merasa dirinya sial. + + Keluarga Izmi tadinya kaya, tetapi mendadak miskin. +Waktu Izmi kelas satu SMP, ayahnya ditangkap polisi lantaran + Ayah ~ 41 + +korupsi. Semua harta benda disita. Keluarga itu kocar-kacir. +Untuk bertahan, ibu Izmi berjualan kue. Izmi, anak tertua, +menjadi tukang cuci dan setrika. Gara-gara musibah itu, Izmi +yang bercita-cita ingin menjadi dokter hewan mengubur cita- +citanya dalam-dalam. + + Jumlah angka merah di rapor Izmi pada semester 1 ti- +dak tanggung-tanggung, delapan. Yang biru hanya Pendidik- +an Keterampilan Keluarga, yang merupakan kejahatan jika +sampai seorang siswa dapat angka merah. Kata wali kelasnya, +Izmi pasti takkan naik ke kelas dua. + + Izmi berkecil hati dan bermaksud berhenti dari sekolah. +Tak ada gunanya belajar, mending bekerja, dapat membantu +keluarga. Namun, nasib berkata lain. Saat berada dalam per- +timbangan yang putus asa itu, dia mendengar cerita Zuraida +soal kerasnya perjuangan Sabari untuk mendapatkan Lena. + + Izmi bukanlah kawan Sabari—mereka bahkan tak per- +nah bertegur sapa—tetapi ajaib, kisah konyol Sabari mem- +buat Izmi terinspirasi. Sabari membuatnya merasa dia bukan +satu-satunya orang yang malang di dunia ini. + + Kata Zurai, Lena suka menulis indah. Minggu depannya +Sabari sudah menjadi ahli kaligrafi. Dia bisa menulis nama +Marlena binti Markoni dengan huruf-huruf berupa burung +merak. Semangat belajar Izmi pelan-pelan bangkit. + + Kata Zurai, Lena suka melihat laki-laki pakai baju se- +ragam. Agustus berikutnya, Sabari yang suka bolos upacara, +terpilih masuk tim Paskibra SMA. Terpana Izmi melihat Sa- +bari berbaris macam siswa sekolah militer. + 42 ~ Andrea Hirata + + Sabari masuk band SMA demi mendengar kabar angin +Lena suka sama pemain gitar band itu. Karena tak bisa main +musik, Sabari menjadi tukang gulung kabel yang berdedikasi +tinggi. + + Tak seperti para pemain band yang berantakan, Sabari +rapi jali. Tak bisa dia melihat kabel centang-perenang tak ke- +ruan, pasti digulungnya. Kerap dia dimarahi lantaran meng- +gulung kabel di atas pentas tak peduli pertunjukan sedang +berlangsung. Terpingkal-pingkal Izmi melihatnya repot seka- +li menggulung kabel di antara anak-anak band yang tengah +berjingkrak-jingkrak membawakan lagu “The Final Count- +down”. + + Akhirnya, Sabari kena pecat ketua band, yang juga gitaris +cakap yang ditaksir Lena itu. Sabari tak terima. Dia protes +di muka ketua OSIS, katanya tak pernah band itu sebersih +dan serapi sejak dia bergabung sebagai pembantu band, dan +bahwa kabel-kabel yang tak tertib dapat menyebabkan orang +kena sambar listrik, bahwa betapa dia mencintai musik dan +menyukai pekerjaannya, meskipun menjadi jongos kawan- +kawannya sendiri. Ketua OSIS tak berdaya karena yang me- +mecat Sabari kemudian bukan hanya ketua band, melainkan +juga seluruh anggota band. Apa boleh buat. + + Kata Zurai, Lena punya hobi sahabat pena. Sering dia +berkirim surat kepada sahabat pena di Sumatra. Sabari me- +ngirim surat kepada Patrick Confident Mwana di Zimbabwe. + Ayah ~ 43 + + Dear Mister Patrick Confident Mwana + My name is Sabari, from Belitong Island, Indonesia. + I am high school student. + I see photo you in the Sahabat Pena Magasin, very very good. + I want friend with you. + I am sorry my english language very very bad, 4 in my report, very +very red. + But let no english good, I write a poem for you. + + I have a friend + My friend from Africa + I love my girlfriend + Her name is Marlena + + What you think, Mister Confident? + + Thank you very very much. + If you want write letter for me, my address on envelope. + Sincerely yours. + Very very happy. + Sabari + + Malangnya, seluruh prestasi Sabari yang fenomenal itu +membuat Lena malah semakin brutal menolaknya. Jika dulu +dia sekadar tidak membalas surat Sabari, sekarang surat-surat +itu dirobeknya kecil-kecil lalu dihamburkan di tempat parkir. + 44 ~ Andrea Hirata + +Jika dulu dia hanya mengatakan tak usah ya jika dikirimi Sa- +bari nangka hasil kebun sendiri, disertai satu kartu ucapan +yang manis, “Purnama Kedua Belas, silakan menikmati semua keba- +ikan dari buah nangka”, kini dibantingnya nangka hasil kebun +sendiri itu sambil ngomel-ngomel. + + Adakah kemudian Sabari membenturkan kepalanya ke +pohon nangka? Tidak. Adakah dia mengumpankan lehernya +ke gergaji mesin? Tidak. Adakah dia mengikat tangan dan +kakinya sendiri lalu memplester mulutnya? Tak tahu bagaimana +caranya, sebab bukankah tadi tangannya terikat? Lalu, mencebur- +kan diri ke Sungai Lenggang agar ditelan buaya muara bu- +lat-bulat? Tidak. Ataukah dia menggunakan cara-cara yang +picik, bahkan anarkis, untuk menarik perhatian Lena? Maaf, +Sabari tak punya sifat-sifat obsesif semacam itu. Halo? + Intervensi + +“KARENA siaran radio kita sudah jernih, kalau nanti ada +siaran Lady Diana, undanglah tetangga, Miru, biar bisa men- +dengar radio di rumah kita. Lebih jelas suaranya.” + + “Iya, Ayah,” kata Amiru. Sementara itu, dia penasaran, +bagaimana kandang bebek bisa menyebabkan penangkapan +siaran radio menjadi lebih baik? + + Dalam pelajaran IPA di kelas, dia menanyakan soal itu +kepada guru, tetapi tak mendapat jawaban yang memuaskan. +Didorong perasaan ingin tahu, dan minat belajar yang selalu +tinggi, jauh-jauh dia bersepeda ke perpustakaan daerah un- +tuk membaca buku-buku soal radio. Sayangnya buku-buku +semacam itu amat terbatas. Tak ditemukannya penjelasan +yang khusus soal itu. Akhirnya, Amiru merasa satu-satunya +orang yang dapat menerangkannya—meski dia malas ber- +jumpa dengannya—adalah Syarif Miskin. + 46 ~ Andrea Hirata + + Pulang sekolah siang itu, Amiru ke kios elektronik Gaya +Baru dan langsung bertanya soal antena radio itu. Syarif ma- +lah menjawab dengan pertanyaan. + + “Kelas berapa kau?” + “Kelas lima, Bang.” + “SD?” Syarif tersenyum meremehkan. “Seperti kau ke- +tahui, Amiru, tapi mungkin juga kau belum tahu ....” + Amiru jengkel. + “Gelombang radio itu bergentayangan di udara, dia +hinggap sesuka hatinya, tak tampak oleh mata. Semua yang +tak tampak, tapi ada akibatnya adalah misteri, contohnya se- +tan! Dapatkah kau melihat setan?” + “Tidak, Pak Cik.” + “Dapatkah kau melihat angin?” + “Jadi, maksud Pak Cik?” + “Maksudku, jangan kau arahkan pikiranmu pada hal- +hal yang tak kasatmata. Itu mistik. Gelombang radio adalah +hal yang gaib. Bisa gila kau nanti.” + Tentu saja Amiru yang cerdas tak bisa menerima pen- +dapat yang sembarangan itu. Dikatakannya, dia hanya mau +bertanya soal penerimaan radio yang buruk di rumahnya dan +mengapa masalah itu bisa dibereskan oleh kandang bebek. +Merasa didesak, Syarif tak suka. + “Kalau kujelaskan padamu, kau tak akan mengerti! Mi- +salnya, mengapa siaran radio bisa muncul pada kelipatan fre- +kuensinya, tak ada ilmu yang dapat menjelaskannya. Menga- +pa? Karena semua itu adalah perbuatan iblis!” + Ayah ~ 47 + + “Tak apa-apa, Pak Cik, jelaskan saja sekarang. Aku pasti +mengerti.” + + “Baiklah, kujelaskan padamu! Penerimaan sinyal radio +di rumahmu buruk karena terlalu dekat dengan menara mas- +jid, maka terjadilah intervensi.” + + Ha, Intervensi? pekik Amiru dalam hati. Di perpustaka- +an daerah dia pernah membaca buku pengantar elektronika, +pastilah yang dimaksud Syarif itu interferensi, sok tahu! + + Berpanjanglebarlah Syarif soal intervensi itu. Amiru +mengangguk-angguk saja lalu minta diri. + + “Nanti kalau kau sudah SMP, sudah belajar soal gelom- +bang radio, baru ke sini lagi!” + + Pulang dari kios Gaya Baru, Amiru belajar dengan te- +kun. Dia mau segera masuk SMP. Dia bertekad untuk meng- +hadapi Syarif Miskin lagi. + Surat + +SABARI patah hati, tetapi dia tak patah harapan. Perasaan- +nya kepada Lena sama seperti saat Lena merampas kertas ja- +wabannya pada hari keramat itu. Lagi pula, ayahnya sering +mengatakan bahwa Tuhan selalu menghitung, dan suatu keti- +ka, Tuhan akan berhenti menghitung. + + Benar saja, hari itu, setelah dua tahun terus-menerus di- +tolak Lena, Tuhan berhenti menghitung. + + “Kun! Ukun!” + Ukun menoleh. + “Marlena membuat puisi untukku!” Wajah Sabari pu- +cat. Ukun tersenyum remeh. + “Di majalah dinding!” + “Benar?” + “Benar!” + “Kau tak sedang mabuk air legen, kan?” + “Tidak!” + Ayah ~ 49 + + “Kau tak salah lihat?!” + “Dua bola mata, yang kiri dan kanan, aku tak salah li- +hat!” + “Puisi menyumpah-nyumpah biar kau dicakar iblis atau +dilindas truk timah atau puisi baik-baik?” + “Bolehlah disebut puisi cinta!” + “Serius?” + Tenganga mulut Ukun. Mungkinkah Lena berubah pi- +kiran lantaran Sabari baru menang lomba menulis puisi ting- +kat SMA? Atau karena mau libur Lebaran, saat semua orang +tiba-tiba menjadi baik? Lena menulis puisi untuk Sabari? Sa- +ngat mustahil! + Bergegas Ukun menuju majalah dinding dengan kesan +siap mendaratkan satu sepakan Bruce Lee ke selangkang Sa- +bari kalau dia berani-berani berbohong. Namun, di sana dia +tertegun. Tak percaya dia melihat puisi diketik rapi itu. + + Untuk kau yang bernama S + Terima kasih untuk surat dan puisi-puisimu + Maaf, aku selalu tak sempat membalasnya + Tapi biar kau tahu, aku membaca semuanya, kalimat demi kali- + mat, kata demi kata + Lagu yang kau kirimkan lewat radio, aih, aku suka + L + + Ukun menatap Sabari. + “Kau yakin S itu maksudnya kau, Ri?” + 50 ~ Andrea Hirata + + “Siapa lagi?” + “Tahukah kau berapa banyak siswa bernama depan S? +Sulaiman, Syahrir, Salim, Silam, Salam, Sabarudin, Syam- +sudin, Sardin, Setegar, Setabah, Sahari, Samalam. Banyak +nama orang Melayu berawal S, bagaimana kau bisa yakin?” + “Indra keenam.” + “Indra keenam apanya? Indra keenam itu untuk orang +melihat iblis, bukan untuk melihat surat!” + “Suka-suka kaulah,” Sabari berkeras. + “Lantas dari mana kau bisa pasti L itu Lena. Bisa saja +Lina, Lia, Lisa, Lita, Liana, Ling-Ling.” + “Intuisi.” + “Intuisi dari mana?” + “Siapa yang suka mengirimi Lena puisi? Siapa yang +suka mengiriminya lagu lewat radio? Aku.” + “Memangnya orang lain yang mengirimi Lena lagu +akan memberi tahu kepala desa melalui surat, lalu suratnya +ditembuskan kepadamu dan rumah sakit jiwa?!” + “Puisi itu jelas untukku,” Sabari berkeras. + “Bukan! Dan, itu bukan puisi! Itu surat biasa, apa kau +tak bisa membedakan puisi dan surat biasa?!” + “Ai, sejak kapan kau tahu soal puisi? Ujian Geografi saja +kau menyontek jawabanku!” + “Cabut kata-katamu! Jangan kau ungkit-ungkit soal itu, +Geografi bukan ukuran kecerdasan! Apa susahnya untuk tahu +Lee Kuan Yew adalah Presiden Filipina!” + Barang Antik + +SEJAK pagi Amiru mengharapkan hujan turun karena dia +suka bunyi hujan, dia suka gemuruh sesekali menggelegar di +antara bunyi kecil rintik-rintik. Bukankah sebuah komposisi +musik yang dramatis? + + Akhirnya, hujan turun, menghantam atap seng. Amiru +memejamkan mata, lama, lambat laun dia mendengar sebu- +ah irama. Dia tersenyum. Dia tersenyum karena ingin seperti +ayahnya, yakni dapat menjadi senang karena hal-hal yang ke- +cil. Seni menyenangi hal-hal yang biasa saja, begitu istilah ayahnya +yang hanya tamat SMP itu. Amiru ingin menguasai seni itu +sampai tingkat ayahnya telah menguasainya sehingga men- +jadi orang yang dapat menertawakan kesusahan. Itulah ilmu +tertinggi seni menyenangi hal-hal kecil. Itulah sabuk hitam- +nya. + + Maka, Amiru paham benar arti radio Phillip tua itu bagi +ayahnya. Radio tak sekadar kotak elektronik yang pandai + 52 ~ Andrea Hirata + +mengeluarkan suara, tetapi juga kisah tentang seorang lelaki +yang bersusaha tetap senang dalam kepungan kesulitan. Ka- +rena itu, meski sebenarnya jengkel kepada Syarif, kejengkelan +itu lindap ketika melihat ayahnya tersenyum simpul di depan +radio itu. Amiru ingin menghadap Syarif. + + Tentu Syarif kaget melihat Amiru yang telah dimarahi- +nya berani datang lagi ke kiosnya. + + “Mau apa lagi kau, Bujang?!” + Amiru berterus terang bahwa dia mau belajar lebih ba- +nyak soal radio sebab dia senang pengetahuan listrik dan elek- +tronika. + “Apa katamu? Coba kau ulangi lagi.” + “Aku mau belajar ilmu radio.” + “Ulangi lagi.” + “Aku mau belajar ilmu radio dari Pak Cik.” + “Hmmm ....” + “Pak Cik Syarif Miskin.” + Syarif senang dan serta-merta menjelaskan beragam te- +ori tentang intervensi siaran radio. + Di rumah, Amiru sering menemani ayahnya mendengar +radio sambil membicarakan pelajaran yang didapatnya dari +Syarif Miskin. Ayahnya makin bergairah, apalagi telah bere- +dar kabar di kampung bahwa akan ada siaran yang tak boleh +dilewatkan. + Hari silih berganti. Amiru naik ke kelas enam. Amir- +ta, naik ke kelas empat. Si bungsu Amirna masuk kelas satu. + Ayah ~ 53 + +Amirza kesulitan mengatasi biaya sekolah, dan kali ini situasi +gawat karena dia juga memerlukan biaya sebab istrinya harus +dirawat di rumah sakit. + + Istrinya dirawat di rumah sakit di kabupaten. Besar bia- +yanya jauh dari kemampuan Amirza. Dengan panik dia men- +jual apa pun yang bisa dijual termasuk sebidang tanah. Ha- +sil penjualan itu dengan cepat habis. Dia masih perlu sedikit +uang dan sedapat-dapatnya tak mau berutang. Amirza habis +akal, tetapi kemudian dia teringat Syarif Miskin pernah me- +ngatakan bahwa radio Phillip itu tergolong barang antik yang +langka, harganya mahal. Dengan berat hati Amirza mem- +bungkus radio itu dengan taplak mejanya sekalian dan tergo- +poh-gopoh ke ibu kota kabupaten untuk menggadaikannya. + + Amiru tak tahu ayahnya telah menggadaikan radio itu. +Pulang dari sekolah dia terkejut melihat radio itu tak ada lagi +di tempatnya. Dari menggadaikan radio itu, Amirza bisa +membawa istrinya pulang setelah beberapa waktu dirawat di +rumah sakit. + + Malamnya Amiru mengintip ayahnya dari celah dinding +papan kamar. Dia selalu melihat ayahnya mendengar radio, +memutar-mutar tombol tuning, kini ayahnya hanya duduk ter- +mangu di kursi rotan itu. + + Malam beranjak, Amiru tak dapat tidur karena dia te- +lah terbiasa mendengar bunyi radio itu sejak masih kecil. Tak +pernah dia mengalami malam sesenyap dan sepahit malam +itu. + Perlambang + +SABARI menyesal telah mendebat Ukun soal surat itu, lebih- +lebih telah mengungkit-ungkit soal Geografi. Setelah ditela- +ahnya lebih lanjut, dia memang keterlaluan. Mengidentikkan +dirinya dengan satu huruf S saja dan Lena dengan satu huruf +L adalah satu perbuatan amatir yang tidak masuk akal. + + Dengan lapang dada dia melakukan semacam rekonsi- +liasi dengan mentraktir Ukun, Tamat, dan Toharun minum +kopi di warung kopi Kutunggu Jandamu. + + “Sudahlah, Ri, semua itu hanya harapan palsu. Kasih- +an aku melihatmu. Masih banyak perempuan di Belantik ni,” +kata Tamat. + + “Aku gagal mendekati Shasya, dia muak padaku, siapa +tahu kau berhasil, Boi. Kudegar tren zaman sekarang ini ba- +nyak perempuan cantik suka sama lelaki yang dungu, siapa +tahu,” saran Ukun. + + Sabari mengangguk-angguk. Tampak benar minatnya +untuk mempertimbangkan saran itu. + Ayah ~ 55 + + “Di dunia ini hanya ada dua macam laki-laki, yang gagal +dan yang sukses.” Ini teori Toharun. + + “Delapan puluh persen laki-laki sukses, sisanya, tiga pu- +luh persen, gagal. Nah, tak perlu kujelaskan lebih lanjut, kau +tahu sendiri di mana kau berada.” + + Sabari berterima kasih atas wejangan dan nasihat ka- +wan-kawan dekatnya itu. Dia sadar bahwa sudah saatnya +bersikap rasional soal Lena. + + “Menyesal aku harus bertengkar dengan kalian gara- +gara Lena, gara-gara huruf S dan L. Maafkan aku, Boi.” Ke- +empat sahabat itu bersalaman dengan takzim. Sabari terharu. + + “Ah, apa jadinya aku ini tanpa kalian? Sahabat-Saha- +bat Terbaikku, sehidup semati, sejak dari susuan, dalam susah +dan senang, makan sepinggan tidur sebantal.” + + Bersusah payah Ukun membujuk agar Sabari tak ma- +cam pelem India. Namun, nasib berkata lain, di majalah din- +ding kembali terpasang surat yang terketik rapi. + + Untuk kau yang bernama S, dengan dua huruf A + Usahlah jemu mengirimiku surat dan puisi + Puisimu adalah hiburan bagi sepiku di Kelumbi yang penuh de- + ngan orang-orang udik ini + Wahai S dengan dua huruf A + Sudilah menerima maafku, karena aku belum sempat membalas + puisimu + Telah kucoba menulis puisi, namun rupanya hanyalah mereka yang + disayangi Tuhan yang mampu menulis puisi + Puisi-puisimu akan menjadi utang asmaraku untukmu + 56 ~ Andrea Hirata + + Yang akan kubayar nanti, lunas, sen demi sennya + Kulihat sesekali kau melintas di muka rumahku, mencuri pandang + Aku tahu, tak dekat jarak rumahmu ke rumahku + 188 tiang listrik paling tidak + Namun, mana ada Romeo yang tak berkorban? + Julietmu, Lena + + “Buka mata kalian lebar-lebar!” Sabari membentak +Ukun, Tamat, dan Toharun. Sama sekali tak mencerminkan +kata lemah lembutnya kemarin, sahabat sehidup semati, sejak +dari susuan, dalam susah dan senang, makan sepinggan tidur +sebantal kemarin. + + “S dengan dua huruf A, es a sa beh a ba er i ri! Sabari! +Lihat baik-baik, siapa yang benar sekarang!? Aku apa kalian?!” + + “Tap, tap ...,” Ukun tergagap-gagap. + “Tapi apa?” + “Pasti kau mau bertanya soal tiang listrik itu, bukan? Ja- +ngan cemas, sudah kuhitung, tepat 188 tiang listrik!” + “Tapi, di Jalan Padat Karya, kan, belum ada listrik?” +sanggah Ukun. Jalan Padat Karya adalah lokasi rumah Sa- +bari. + “Benar, tapi hitung saja, jarak antartiang listrik rata-rata +60 meter. 60 kali 188 hasilnya 11.280, dibulatkan jadi 12.000, +dijadikan kilometer menjadi 12 kilometer, persis jarak antara +rumahku dan rumah Lena. Maaf, Boi, ini puisi, bukan berita +koran. Orang-orang kampungan yang tak bisa membaca per- + Ayah ~ 57 + +lambang macam kalian-kalian ini, takkan memahami puisi! +Ini urusan orang pintar, Boi. Pakai imajinasi!” + + Ukun dan Toharun ternganga. Tamat tak terima. + “Waspada, Ri. Kalau ternyata surat ini untuk orang lain, +kau bisa senewen.” + “Benar! Hati-hati kau. Ada istilah untuk orang macam +kau ni,” sambung Toharun. + “Apa?” + “Opsesip kumulatip!” + “Nama depan S dan dua huruf A belum tentu kau, Boi! +Kemungkinan masih sangat luas!” kata Ukun. + “Boleh jadi, boleh jadi ....” Sabari menjawab dengan te- +nang, penuh perhitungan. + “Tapi, semua sudah kuperiksa. Mari kita tinjau. Saba­ +rudin, huruf S dan dua huruf A adalah petugas kebersihan +sekolah sekaligus ustaz, tak mungkin ada main sama Lena. +Syahrani, tata usaha sekolah, perempuan. Sahari, penjaga +kantin sekolah, juga perempuan. Sya’ban, mantan suami Ha- +sanah, bekerja di pejagalan, sudah kawin lagi sama Martun. +Safarudin, guru Kimia, sudah pensiun. Syamsiar, guru Bio- +logi, galak minta ampun, tapi setia sama istri. Sahani, guru +Pendidikan Moral Pancasila, adalah umat manusia berakhlak +mulia yang mustahil main api sama murid. Safani, adik Saha- +ni, mandor pabrik sepatu sirat. Burhanadin, guru Seni Suara, +ada dua huruf A, tapi tak ada huruf S. Senyorita, nama an- +jing penjaga sekolah. + 58 ~ Andrea Hirata + + “Woeri guru Seni Lukis, lima puluh tahun umurnya, +patah hati sejak SMP, tak mau pacaran lagi. Samura, guru +Pengantar Ilmu Komputer, sudah pindah ke Kundur, cut, +paste. Mas’ud, tetangga Samura, sudah meninggal, ctrl strip +alt strip del. Sinatra, nama burung murai batu Samura, sudah +mati keracunan dedak, shut down. Abdalla Syahbana Salam, +bertaburan huruf S dan A, ketua OSIS angkatan pertama +SMA ini. Itu masa lampau, waktu Biologi masih bernama +Ilmu Hayat, Matematika masih bernama Berhitung, Fisika +masih bernama Ilmu Pasti, Geografi masih bernama Ilmu +Bumi, Kimia bernama Ilmu Zat-Zat. Tentu banyak siswa lain +bernama depan S dengan dua huruf A, dari kelas satu sampai +kelas tiga, semua sudah kuhitung, enam puluh delapan orang, +tapi semuanya bergajul! Tak bisa bikin puisi!” + + Siapa yang mengatakan Sabari obsesif ? Siapa? Itu adalah tuduh- +an yang tahu adat! + + Sabari meninggalkan Ukun, Tamat, dan Toharun yang +berdiri terpaku. Dihampirinya majalah dinding, dicopotnya +tulisan Lena itu, dilipatnya dengan tenang, lalu dibawanya +pergi. Langkahnya seperti langkah Julius Caesar usai meng- +hancurkan pasukan Germania. Satu langkah kemenangan gi- +lang-gemilang, kemenangan bagi mereka yang sabar, pantang +menyerah, berani bermimpi. + Enam + +IZMI juga melangkah dengan gagah usai menerima kembali +kertas ulangan dari guru Matematika. Ibu Guru tersenyum. +Dari tadi Bu Guru terus-menerus tersenyum untuk Izmi. Ber- +kali-kali ulangan, nilai Izmi sangat buruk kalau tak mau dise- +but memalukan sehingga dia pernah disemprot guru habis- +habisan di depan kelas. + + Jika tak benar-benar keterlaluan, Ibu Guru Matematika +sebenarnya tak gampang muntab. Wajar saja dia panas hati pa- +nas kepala melihat nilai ulangan Izmi selalu 2, paling tinggi 3. +Padahal, dia telah bersusah payah membimbing Izmi dengan +pelan dan sabar. Menghadapi Izmi, guru yang paling sabar +sekalipun pasti akan jengkel. + + “Beb ... beb ....” Hampir saja minggu lalu kata yang bi- +asa dipakai orang di geladak kapal itu dilontarkan Bu Guru +kepada Izmi. Sore itu Bu Guru diantar suaminya ke klinik. +Dia pening karena tensinya naik. + 60 ~ Andrea Hirata + + Kini Bu Guru menyesal telah menyemprot Izmi. + “Aku terlalu memerehkanmu, Izmi. Maafkan aku, Boi.” + Izmi tersenyum. + Di tempat duduknya Izmi berdebar membuka lagi lipat­ +an kertas ulangan itu. Berkali-kali diyakinkan dirinya sendiri +bahwa angka kecil yang melingkar, berperut gendut macam +cacing hamil itu adalah angka 6. Angka 6, bulat dan genap, +untuk geometri. Ah, tidaklah terlalu buruk keadaannya. + Pulang sekolah, sebagaimana biasa, Izmi berangkat ke +rumah seorang tauke, untuk mencuci dan menyetrika segu- +nung pakaian. Tak mudah mengurus pakaian tauke yang pu- +nya anak lima beserta ibu-bapak dari pihak suami dan istri. +Sebelas orang semuanya. Namun, tiba-tiba pekerjaan itu tak +terasa terlalu berat lagi bagi Izmi. Dirogohnya saku, diam- +bilnya kertas ulangan itu, diamatinya lagi, lalu dia bekerja +dengan gesit karena ingin cepat pulang, ingin segera belajar. + Kertas ulangan Matematika itu ditempel Izmi di dinding +kamar, dekat kaca. Di sampingnya ditulis nama Sabari, lalu +dia berkaca dan tersenyum. Diamatinya wajahnya, rasanya +telah lama sekali dia tak berani berkaca. + Merayu Awan + +INSYAFI, ayah Sabari, adalah pensiunan guru SD, bidang +studi Bahasa Indonesia. Dipilihnya bidang itu lantaran gemar +akan puisi. Dia memberi nama anak-anaknya dengan satu +kata sifat yang mulia dan menambahi huruf i di belakang +nama itu, agar terdengar lebih sastrawi. + + Anak pertamanya, laki-laki, dinamai Berkahi. Anak ke- +dua, perempuan, dinamai Pasrahi. Setelah lama menunggu, +terus berusaha dan berdoa, akhirnya lahirlah si bungsu, lang- +sung dinamai Sabari. + + Si bungsu itu sempat mau dinamai Tobati, tetapi nama +itu keburu diambil sepupu ibu Sabari untuk menamai anak- +nya yang baru lahir di Kampung Kelapa Lutung. Satu hal +yang kemudian disyukuri Insyafi karena sesudah besar, Tobati +itu tak berhenti berurusan dengan polisi. + + Jarak yang jauh dari abang sulung dan kakaknya, bung- +su pula, membuat Sabari menjadi anak emas. Saban malam + 62 ~ Andrea Hirata + +ayahnya bercerita untuk menidurkannya. Bukan karena Sa- +bari merengek, melainkan memang karena ayahnya senang +bercerita. Sesekali ayahnya mengucapkan kata yang tak biasa +didengar Sabari kecil, tetapi terasa indah. Sabari bertanya, +apakah yang diucapkan ayahnya itu? + + “Itulah puisi, Boi.” + “Apakah puisi itu?” + “Puisi adalah salah satu temuan manusia yang paling +indah.” + Merona-rona Sabari menatap ayahnya bergaya memba- +ca puisi. Ingin sekali dia pandai membuat puisi seperti ayah- +nya. Insyafi bahagia dapat membesarkan anaknya dengan pu- +isi dan gembira dapat menurunkan hobinya kepada anaknya. +Suatu ketika Sabari dan ayahnya duduk di beranda. + “Tahukah kau, Boi, langit adalah sebuah keluarga. Li- +hat awan yang berarak-arak itu, tak terpisahkan dari angin. +Coba, bagaimana kau dapat memisahkan awan dari angin?” +Sabari terpesona pada pertanyaan itu. + “Awan dan angin tak terpisahkan karena mereka sauda- +ra kandung. Ibu mereka adalah bulan, ayah mereka mataha- +ri. Setiap sore angin menerbangkan awan ke barat, matahari +memeluk anak-anaknya dan dunia mendapat senja yang me- +gah.” + Sabari terpukau. + “Awan adalah anak perempuan penyedih, gampang me- +nangis. Jika awan menangis, turunlah hujan. Namun, kalau +kau pandai membujuknya, ia takkan menangis.” + Ayah ~ 63 + + “Bagaimana cara membujuk awan, Ayah?” + “Nyanyikan puisi untuknya, namanya puisi merayu +awan.” Ayahnya bersenandung. + + Wahai awan + Kalau bersedih + Jangan menangis + Janganlah turunkan hujan + Karena aku mau pulang + Untukmu awan + Kan kuterbangkan layang-layang .... + + Sejak saat itu, setiap menjelang tidur, tak jemu-jemu Sa- +bari meminta ayahnya bercerita tentang keluarga langit dan +melantunkan nyanyian untuk merayu awan. Tak lama kemu- +dian Sabari kecil sudah bisa menyanyikan lagu itu. Awan sisik +Januari yang berarak-arak di atas rumah beratap rumbia itu, +diam menyimak seorang bocah bernyanyi untuknya. + +Insyafi sering sakit. Penyebabnya antara lain usia tua. Dia per- +nah kena stroke ringan. Setelah itu, dia memakai kursi roda. + + Sabari senang mengajak ayahnya jalan-jalan. Dia se- +nang mendorong kursi roda ayahnya keliling kampung, ke +pinggir padang bahkan sampai pasar, bantaran Sungai Leng- + 64 ~ Andrea Hirata + +gang, dan dermaga. Ayahnya gembira, daripada sepanjang +hari hanya diam di rumah. + + Sepanjang jalan Insyafi berkisah ini-itu, sesekali berpu- +isi. Bagi Sabari, itulah bagian paling istimewa dari ayahnya, +yakni bagian puitisnya. Banyak orang yang makin tua ma- +kin cerewet, makin temperamental, makin genit, makin ke- +kanakan. Ayah Sabari, makin puitis. + + Insyafi sendiri melihat perubahan yang aneh pada diri +Sabari beberapa waktu terakhir itu—yang dia tak tahu bahwa +semuanya bersangkut paut dengan surat untuk Sabari dari Ju- +liet-mu, Lena itu. Sore itu Sabari mendorong kursi roda ayah- +nya melintasi padang ilalang. Dia berhenti dan memandangi +ilalang yang meliuk-liuk ditiup angin. Sabari tersenyum. +Ayahnya menatap dan langsung tahu bahwa anaknya sedang +dilanda cinta. + + Tak ada lagi yang perlu diceritakan. Sabari telah diajari +ayahnya untuk membaca tanda-tanda, sebagai bagian dari +istimewanya puisi, bahwa apa yang diceritakan mata lebih te- +rang daripada apa yang diucapkan mulut. Ayahnya menatap +angkasa lalu berkata: + + Waktu dikejar + Waktu menunggu + Waktu berlari + Waktu bersembunyi + Biarkan aku mencintaimu + Dan biarkan waktu menguji + Ayah ~ 65 + + Kena singgung secara puitis, Sabari tersipu, sekaligus +kagum kepada ayahnya yang gampang terinspirasi oleh apa +saja, sekejap kemudian mencipta puisi, begitu gampang, se­ +akan ada peternakan puisi dalam mulutnya. + + Mereka sampai di pasar, melihat orang naik sepeda mo- +tor secara bergajul, tiga orang satu motor, pontang-panting +diuber polisi, ayahnya berfilosofi: + + “Segala hal dalam hidup ini terjadi tiga kali, Boi. Per- +tama lahir, kedua hidup, ketiga mati. Pertama lapar, kedua +kenyang, ketiga mati. Pertama jahat, kedua baik, ketiga mati. +Pertama benci, kedua cinta, ketiga mati. Jangan lupa mati, +Boi.” + + Anak dan ayah itu menuju dermaga, untuk menyaksikan +matahari terbenam nun di muara Sungai Lenggang. + Sayap Kecil +yang Sempat Tumbuh +Lalu Patah Lagi + +BOLEHLAH orang membuat lagu karena tak suka Senin. +Namun, Sabari tidak termasuk dalam golongan orang-orang +itu. Dia suka Senin. Senin adalah langkah awal menuju se- +gala-galanya. Senin mengandung semua kebaikan dari hari- +hari. Senin buah manis dari pohon Minggu. Senin adalah +hari yang disayangi Tuhan dan dibenci iblis, dan Senin ini +akan menjadi hari paling indah dalam hidupnya. + + Karena dia melihat surat Lena untuknya di majalah din- +ding hari Kamis, Jumat dan Sabtu dia tidak masuk sekolah +lantaran shock akibat terlalu bahagia, akhirnya Senin ini dia +akan memanen cinta dari benih yang telah lama ditaburnya. +Siapa pun, silakan iri. + + Bukan hanya itu, Sabari menjadi sangat gembira se- +hingga tubuhnya menggigil membayangkan betapa bola telah +bergulir ke arahnya sehingga dia bisa membasmi habis-habis- + Ayah ~ 67 + +an para pecundang tengik itu: Ukun, Tamat, dan si gunung +Toharun. Rasakan! + + Sabari telah berdiri tegak menunggu Lena di bawah po- +hon akasia, dekat gerbang sekolah, sejak masih gelap. Bah- +kan, penjaga sekolah belum bangun. Dia melihat matahari +terbit, mendengar anjing menggonggong dan ayam berkokok +menjelang pagi. + + Hampir dua jam menunggu, satu per satu siswa mulai +datang, lalu berbondong-bondong. Sabari gelisah sebab Lena +tak kunjung muncul. Akhirnya, lonceng masuk berdentang, +pada saat yang sama datanglah Lena, mengebut naik sepeda +menuju sekolah. Sabari berdebar-debar. + + Lima meter lebih kurang jaraknya dengan Lena, satu +jarak sopan yang dijaganya dengan teliti, di samping Sabari, +Senyorita, anjing penjaga sekolah, melakukan tindakan tak +senonoh number two. Sekilas mereka beradu pandang, semua­ +nya seperti dalam gerak lambat, tetapi Lena seakan melihat +angin saja. Seakan Sabari tak ada di situ. Sikapnya sama se- +kali tak mencerminkan kata-kata romansa dalam suratnya. +Sabari terpana, Senyorita juga. + + Jangankan Sabari, bahkan Ukun, Tamat, dan Toharun +tak habis mengerti melihat sikap Lena. Ingat benar Ukun kata +manis Lena untuk Sabari, Romeo, Juliet-mu. Namun nyatanya, +Lena masih tetaplah Lena. Boro-boro senang sama Sabari, +melirik pun tidak. + + “Jangan-jangan dia kena penyakit kepribadian ganda, +bisolar!” kata Toharun. + 68 ~ Andrea Hirata + + Sabari tersenyum pahit. Ukun menjadi iba. + “Usahlah kau risaukan, Boi,” bujuknya. + “Perempuan cantik memang suka plinplan, itu merupa- +kan bagian dari kecantikan mereka. Aku sendiri punya penga- +laman yang sama denganmu. Jadi, aku mengerti perasaanmu. +Kita senasib.” + “Pengalaman dengan siapa, Kun?” + “Siapa lagi? Shasya!” + “Pengalaman bagaimana?” + “Ya, aku bingung karena Shasya selalu plinplan. Hari +ini dia bilang tak suka padaku, esoknya bilang benci, esoknya +lagi bilang muak. Sungguh tak punya pendirian. Yang benar +yang mana?!” + +Tak tahu kopiah siapa yang pernah dilangkahi Sabari, kar- +manya lekat, sialnya bertubi-tubi. Belum usai satu kemalang- +an, disambut kemalangan lain. Waktu berjalan ke tempat +parkir sepeda, tiba-tiba seorang siswa mengadangnya. Siswa +itu tersenyum tengik sambil mencium-cium saputangan. Sa- +bari terpana karena detik itu dia langsung tahu Marlena binti +Markoni sudah diraup Bogel Leboi. + + Sabari tahu saputangan itu punya Lena, dibelinya di +kaki lima Uda Syam Robet. Sering dilihatnya saputangan itu +dipakai Lena melapisi sadel sepeda, seperti kebiasaan anak +perempuan Melayu lainnya. + Ayah ~ 69 + + Sabari pun tahu Lena pernah dikabarkan dekat dengan +Hasan, Halim, Arsya, Syamsul, Sya’ban, Wahab, Mursyid, Ju- +naidi, Munaf, Kholil, Zulfan, Razak, Ilham, Madan, Khai­rul, +Zainal, Zainul, tapi Bogel Leboi? Wahai Yang Mahatinggi, +mengapa wanita cantik senang sekali dengan lelaki bertabiat +macam setan? Sabari melihat seakan satu sepeda rebah lalu +merebahkan ratusan sepeda lainnya. Dipandanginya Lena. +Dia merasa pedih. Lena menghancurkan hatinya, Bogel Le- +boi meremukkannya. + + Sabari demam lagi, kali ini tiga hari. Dia masuk sekolah +sehari, lalu demam lagi enam hari. Lalu, terdengarlah kabar +yang mengerikan itu, bahwa Sabari mau men-dropout-kan di- +rinya sendiri. + + Kabar itu sampai ke telinga Ibu Norma. Mendidih hati- +nya, apalagi didengarnya desas-desus bahwa masalah Sabari +bersangkut paut dengan Ukun, Tamat, Toharun, dan Bogel +Leboi. Memang sudah lama dia mau menggasak para cecu- +nguk itu sekaligus. Sekali tepuk, lima nyamuk rontok. + + Mereka dipanggil Bu Norma. Di bangku panjang di ru- +ang guru mereka duduk berjajar. + + “Raskal 1, Raskal 2, Raskal 3, Raskal 4, Raskal 5,” kata +Bu Norma menunjuk mereka satu per satu. + + “Ri, kudengar kau mau keluar dari sekolah? Rencana +macam apa itu?! Kau adalah atlet yang tangguh sekaligus +pencipta puisi jempolan, satu kombinasi yang langka. Jangan- +jangan di dunia ini hanya kau yang punya kombinasi itu. Kau + 70 ~ Andrea Hirata + +siswa penuh harapan, amat berbeda dengan Ukun, Tamat, +Toharun, dan Bogel ini! Mereka ini tukang bikin onar saja!” + + Ketiga cecunguk itu mengerut. + “Coba, mana pernah aku ngasih angka sembilan untuk +Bahasa Indonesia, mana pernah!? Kecuali untuk kau, Ri!” + “Terima kasih, Bu.” + “Sebenarnya, aku ingin sekali memberimu nilai sepuluh, +Ri, tapi aku sadar, mustahil manusia mendapat angka sepuluh +untuk bahasa.” + “Terima kasih, Bu.” + “Lalu, mana pernah aku ngasih angka empat kecuali un- +tuk Ukun, Tamat, dan Toharun amit-amit ini?! Saban malam +nongkrong di warung kopi! Berleha-leha macam orang de- +wasa. Jangan-jangan sudah merokok dan minum cap monyet +segala! Tak masuk kalau dinasihati. Istilah orang Melayu, bo- +doh tak menurut, pintar tak mengajar. Orang macam itulah +kau itu, Kun! Nilai Bahasa Indonesia saja merah macam buah +saga! Patutnya kau ini dideportasi!” + Ukun menunduk. + “Kau, Mat! Susah payah ayahmu menghidupi tiga istri, +kau sangka gampang?! Seenaknya saja kau bolos. Durhaka!” + Tamat menyesal. Bu Norma menatap Bogel. + “Tak ada kerusakan di sekolah ini yang kau tak terlibat. +Corat-coret sana sini, merokok di dalam WC, merusak pot- +pot bunga, aku tahu, kau pelakunya! Brutal! Kau ini Hitler +dalam bentuk pelajar!” + Ayah ~ 71 + + Toharun membetulkan posisinya, siap disemprot Bu +Norma. + + “Kau, Run! Di mana ada dangdut, di situ ada kau! Lalu, +kau pikir ini sekolah olahraga?! Ini SMA! Kalau mau belajar +olahraga, jangan masuk sekolah, masuk tambang timah sana! +Pikullah pipa sekehendak hatimu!” + + “Tapi, Bu, nilai Matematika-ku sedikit lebih baik daripa- +da Sabari,” Toharun membela diri. + + “Nilai Pengetahuan Umum-ku juga lebih baik daripada +Sabari,” Tamat ikut-ikutan. + + “Apa katamu, Run?! Coba kutes! Kalau seratus adalah +sepuluh persennya seribu, maka seratus itu berapa persennya +empat ratus?!” + + Toharun tergagap-gagap. + “Kalau kau pintar, harusnya kau bisa menjawab dengan +cepat!” + Toharun panik, dia mencoba menghitung dengan jari- +jarinya, mulutnya komat-kamit, keringatnya bertimbulan. Sa- +bari tak tega, dia ingin membantu, tetapi tak berani. Empat +puluh lima persen! Aih, bodoh sekali! Empat puluh lima persen! + “Macam mana, Run!? Kau bilang kau pintar Matemati- +ka? Persoalan sederhana saja kau tak becus! Itulah kalau ma- +sih kecil kebanyakan diminumi air tajin!” Toharun menyerah. +Diempaskan tubuh tegapnya ke sandaran bangku. Keringat- +nya bercucuran. + “Tiga puluh persen! Itulah jawabannya kalau kau mau +tahu!” Bu Norma tersenyum puas. + 72 ~ Andrea Hirata + + Sabari bernapas lega, Untung tadi aku tak memberitahumu, +Run. + + “Sekarang kau, Mat, kau bilang Pengetahuan Umum- +mu bagus?” + + Berbeda dengan Toharun, Tamat tenang sekali. Sebab, +dia memang hobi membaca buku HPU (Himpunan Pengetahuan +Umum). + + “Terkhusus soal nama-nama kantor berita, presiden dan +perdana menteri, serta bandar-bandar udara seluruh dunia, +bolehlah kalau mau dicoba.” + + Jengkel sekali Bu Norma mendengarnya. + “O, begitu rupanya! Baiklah!” Bu Norma berpikir untuk +menemukan pertanyaan yang dapat memukul Tamat. + “Baiklah, ini pertanyaanku, Mat, siapa nama istri dikta- +tor Uganda Idi Amin?” + Senyum tengik Tamat mendadak lenyap. Dia hafal ba- +nyak nama pemimpin negara, tetapi tak pernah terpikir akan +ada orang yang menanyakan nama istri mereka. Merosot tu- +buh Tamat di bangku itu. Meski mencoba berpikir, dia tak +tahu jawabannya. + “Tak tahulah aku, Bu. Idi Aminah mungkin ...,” jawab- +nya pelan, tak yakin. + Semua Kebaikan +dari Saputangan + +MESKI sudah dinasihati Bu Norma panjang lebar, Sabari +tetap membolos. Dia tak sanggup mengatasi sakit hati kare- +na perlakuan Bogel Leboi, terutama karena perlakuan Lena. +Bagaimana dia bisa ke sekolah kalau sekolah telah menjadi +neraka? Dia bertekad meninggalkan sekolah. Bahkan, ayah- +nya tak bisa membujuknya. + + Mungkin bagi banyak orang hal itu absurd. Hanya kare- +na cinta? Namun, mengingat banyak orang di dunia ini men- +jerat leher mereka sendiri karena cinta, bolehlah tindakan +Sabari disebut konyol, tetapi tidak luar biasa. + + Ukun, Tamat, dan Toharun bermuram durja. Pedih +mereka membayangkan tak ada Sabari di sekolah. Mereka +merasa timpang. Tanpa Sabari mereka merasa tak lengkap. +Karena Ukun adalah si tukang cari gara-gara, Tamat si bi- +jaksana, Toharun si pintar pengakuan sendiri, Sabari si ko- +nyol dan lugu minta ampun, secara aneh perkongsian mereka + 74 ~ Andrea Hirata + +telah menimbulkan kombinasi perkawanan yang unik, yakni +satu orang bergantung dengan orang lainnya. Mereka seperti +empat sekawan bertualang ke pulau kaum nudis (adakah kisah +seperti itu?). + + Ukun berharap terjadi keajaiban sehingga Sabari me- +ngurungkan niatnya berhenti sekolah, dan keajaiban itu ter- +jadi. Pontang-panting Ukun naik sepeda ke rumah Sabari. +Sampai di sana napasnya tersengal-sengal. + + “Boi, cepat ke sekolah! Ada lagi surat Lena untukmu!” + Sabari yang tergeletak lemah tak berdaya di atas tempat +tidur sontak melompat. Jika tak diingatkan Ukun, hampir saja +dia ke sekolah hanya dengan celana pendek dan kaus singlet. + Di depan majalah dinding, Sabari berdiri terpaku de- +ngan wajah haru. Matanya berkaca-kaca. Berulang-ulang di- +bacanya surat itu. + + Hai kau yang bernama awal huruf S, lalu huruf A, sesudah itu +B, sesudah itu A lagi, sesudah itu R, akhirnya I. Tak ada huruf M. + + Bolehlah kita ini miskin, bodoh, jelek, pesek, tak punya dagu, te- +linga lambing, mata sayu, kening lutung, gigi tupai, kepala bola bekel, +tapi janganlah kita pernah berhenti dari sekolah. Apalah artinya kita ini +tanpa sekolah? Tak berarti, meaningless, hopeless, apes, itulah arti kita +tanpa sekolah, men sana in corpore sano, di dalam badan yang sehat +terdapat jiwa yang sehat, tetap semangat! + + Always, L + Ayah ~ 75 + + Keesokannya, pagi-pagi sekali, sebelum siswa lain da- +tang, tampak Sabari menyapu ruang olahraga dengan gesit, +meski hari itu bukan jadwal piketnya. Setelah itu, dia membu- +ka baju lalu berlari mengelilingi lapangan upacara. + + Pada pertandingan antarkelas di akhir semester, Sabari +menjadi juara maraton. + + “Men sana in corpore sano! Di dalam badan yang sehat ter- +dapat jiwa yang sehat!” pekiknya sambil mengangkat tropi +tinggi-tinggi. Tepuk tangan membahana untuknya. Yang ber- +tepuk tangan paling keras adalah Izmi. + + Hari yang menyenangkan, pulang dari sekolah, Sabari +mampir di kaki lima Uda Syam Robet dan membeli tiga sa- +putangan. Dikirimkannya kepada Lena melalui Zuraida, di- +sertai satu kartu ucapan kecil. + + Purnama Kedua Belas alias Always, L + Selamat menikmati semua kebaikan dari saputangan. + Tertanda + Satu S, dua huruf A, ada B, R, dan I + + Sabari sulit mengendalikan tangannya sendiri yang mau +menulis Romeo-mu, Sabari, sebagai penutup ucapan itu, tetapi +dia ingat kembali bahwa perempuan tak suka diburu-buru. + + Surat terakhir Lena membuat Sabari terlahir kembali. +Dihitungnya surat dari Lena untuknya, dan dia terbelalak. + 76 ~ Andrea Hirata + +Benar kata ayahnya, segala hal dalam hidup ini terjadi dalam +tiga babak! + + Sabari semakin yakin bahwa Lena bukan hanya cin- +tanya, tetapi juga nasibnya. Perempuan Kelumbi bermata +aduhai itu diturunkan dari langit memang untuknya. Itulah +hukum hidupnya, begitukah secara de jure, secara de facto, Lena +lengket sama Bogel Leboi macam nyawa lekat di badan ke- +coa. Ke sana kemari selalu berdua. Jika ngobrol, dunia punya +mereka, yang lain ngontrak. Mereka sekelas, bahkan duduk +berdekatan. Kalau tak ada yang melihat, berani mereka ber- +gandeng tangan, bayangkan itu! + + Zuraida bersabda, “Lena sendiri yang meminta pada +wali kelas agar dipindahkan ke kelas Bogel. Ada saja alasan- +nya.” + + Sabari tersenyum pahit. + “Belum pernah kulihat Lena sekasmaran itu.” + Sabari merasa seakan disiram air es. + “Tak ada omongan selain soal Bogel.” + Sabari komat-kamit. + “Kata Lena, Bogel adalah cinta pertamanya.” + Sabari panas dingin. + “Tamat SMA mereka mau ke Jakarta. Kalau orangtua +tak setuju, mereka mau kawin lari.” + Sabari menggigil. + Akan tetapi, Sabari tak surut semangat sebab dia selalu +berpegang teguh pada pesan ayahnya bahwa Tuhan selalu + Ayah ~ 77 + +menghitung, dan suatu ketika, Tuhan akan berhenti meng- +hitung. + + Malah Sabari makin rajin belajar. Apalagi, sejak kelas +Lena bersebelahan dengan kelasnya. Murid-murid lain ngan- +tuk, Sabari duduk dengan tegak, mirip prajurit mau ditanya +jatah beras oleh komandan. Telinga lambingnya berdiri, jari- +nya gesit, tak tahu apa yang dicatatnya. Tanpa diminta, bah- +kan guru belum begitu selesai mencatat, dan bukan giliran pi- +ketnya, melihat papan tulis penuh, Sabari serta-merta bangkit +untuk menghapusnya. + + Tak ada yang menunjuknya menjadi ketua kelas, dia me- +nunjuk dirinya sendiri. Tujuannya, agar dia seolah-olah men- +jadi penting. Kalau dia penting, mungkin Lena akan sedikit +melirik kepadanya. Sedikit saja, cukuplah. + + Jika guru bertanya, meski pertanyaan itu bukan untuk- +nya, tanpa peduli salah atau benar, Sabari langsung menja- +wab. Jawabannya sangat keras sehingga siswa lain yang se- +dang tidur terperanjat. Tentu semua itu dimaksudkan agar +Lena mendengarnya dari kelas sebelah. Bangunan sekolah +kampung yang hanya berdinding papan menyebabkan suara +tembus antarkelas. + + Saat itu di kelas Lena sedang pelajaran Bahasa Indone- +sia. Bu Norma melemparkan pertanyaan. + + “Kalimat majemuk!” teriak Sabari. + “Cerdas!” kata Bu Norma, tanpa menyadari bahwa ja- +waban berasal dari kelas sebelah yang tengah belajar Biologi. + 78 ~ Andrea Hirata + +Sampai usai pelajaran, Sabari disuruh guru Biologi berdiri +dengan kaki sebelah di pojok kelas, sambil menjewer telinga- +nya sendiri. Seisi keras terpingkal-pingkal melihatnya. + + Begitu juga jika bertanya. Kerap pertanyaan Sabari tak +masuk akal, tak berhubungan dengan pelajaran, pokoknya +bertanya. Semuanya agar didengar Lena. Waktu itu guru +Fisika menjelaskan teori sifat bayangan pada cermin datar, +cekung, dan cembung serta segala hitungan runyam sudut- +sudut pantul, yang membuat siswa tampak hilang dalam tem- +pat dan waktu. Semakin dalam guru menjelaskan, semakin +banyak murid yang bingung, termasuk Sabari, tetapi di te- +ngah kebingungan itu dia menunjuk. + + “Saya mau bertanya, Pak!” Lantang sekali suara Sabari. + “Silakan, Ri.” + “Apakah Bapak pernah menonton pelem Perempuan Beram- +but Api?!” + Dan, terdengarlah auman yang dahsyat. + “Keluaaaaaarrr!!!” + Rahasia + +BERBISIK Izmi di telinga Zuraida, yang dibisikkannya +adalah sebuah rahasia untuk disampaikan kepada Sabari. +Namun, tak semudah itu, kata Izmi, yaitu Sabari tak boleh +tahu bahwa informasi itu berasal darinya. Zuraida diam me- +nyimak. Rahasia itu ternyata soal Izmi tahu siapa yang suka +mengikat rantai sepeda Sabari dengan tali rafia. Dia juga +tahu siapa yang menyangkutkan sepeda Sabari di puncak ti- +ang bendera tempo hari, dan tahu siapa yang menulis Sabari +gigi tupai, Sabari majenun, Sabari monyet di dinding toilet sekolah. + + “Bogel Leboi!” bisik Izmi serius. Zuraida biasa saja. Izmi +heran. + + “Mengapa kau tak terkejut, Rai? Harusnya kau terkejut! +Kecewa aku!” + + Dengan tenang Zuraida berkata bahwa tanpa diberi +tahu pun, Sabari sudah tahu bahwa semua itu kelakuan Bogel +Leboi dan sekongkol-sekongkolnya. + 80 ~ Andrea Hirata + + Bogel sering mengejek puisi-puisi Sabari, sambil me- +main-mainkan korek gas Zippo, dipanggilnya Sabari majenun +alias gila. Bogel jengkel karena Sabari tak pernah terpancing. +Ditariknya kerah baju Sabari, ditantangnya berkelahi. Sabari +tak melawan, hanya tersenyum, karena dia takkan meren- +dahkan dirinya sendiri dengan menggunakan mulutnya un- +tuk memaki dan takkan menghinakan dirinya sendiri dengan +menggunakan tangannya untuk memukul. Bagi Sabari, Bogel +dan kawan-kawan hanya sedang menjadi anak SMA. Sama +sekali tak dihiraukannya hal yang tak penting itu. + + Pernah Bogel menggemboskan ban sepedanya sehing- +ga dia harus pulang menuntun sepeda itu, padahal jarak dari +sekolah ke rumahnya hampir dua puluh kilometer. Dilewati­ +nya padang ilalang yang tengah berbunga. Warna putih ter- +bentang bak hamparan kabut. Sabari masuk ke padang ila- +lang yang meliuk-liuk ditiup angin. Dipejamkannya mata, +dibentangkannya tangan, lalu dia meliuk-liukkan tubuhnya +mengikuti gelombang ilalang. Terbayang wajah seorang anak +perempuan yang merampas lembar jawaban ujian Bahasa +Indonesia-­nya itu, Sabari merasa terbang. + + Izmi kagum kepada Sabari karena tak pernah membalas +Bogel. Dia makin kagum ketika membandingkan keduanya. +Bogel punya segalanya, keluarga mampu, kawan banyak, ber- +wajah menarik, flamboyan, populer, trendi, lumayan pintar. +Banyak siswa ingin sepertinya, tetapi di mata Izmi, Bogel tam- +pak selalu ingin menjadi orang lain. Sabari adalah kebalikan + Ayah ~ 81 + +dari semua kelebihan Bogel, dan tampak bangga menjadi di- +rinya sendiri. + + “Boi, coba kau tanyakan pada Sabari, apa cita-citanya?” + “Baiklah.” + Zuraida kemudian menyampaikan kepada Izmi bahwa +Sabari mau menjadi guru Bahasa Indonesia seperti ayahnya. +Izmi tercenung, dia ingat akan cita-citanya dulu ingin menja- +di dokter hewan, tetapi sejak ayahnya diciduk polisi gara-gara +korupsi, cita-citanya pingsan. + “Guru Sabari, pantas nian kedengarannya,” kata Ukun +di warung kopi Usah Kau Kenang Lagi. + “Kau? Apa cita-citamu, Mat?” tanya Ukun. + “Aku mau menjadi pilot.” + “Kau sendiri, Kun?” + “Aku mau menjadi dokter.” Jawaban yang mantap. + “Kau, Run?” + “Aku mau menjadi Menteri Olahraga Republik Indone- +sia!” jawab Toharun. + +Izmi ingin mengatakan cita-citanya kepada siapa saja, tetapi +ada belasan siswa yang diperkirakan tidak naik ke kelas dua, +salah satunya dia. + + Maka, saat pembagian rapor kenaikan kelas, dia gugup +bukan main. Memang sudah lumayan kemajuannya dalam + 82 ~ Andrea Hirata + +ulangan, tetapi rapor semester 1-nya sangat jatuh. Terperosok +nun jauh ke dasar sana. Angka merahnya ada delapan. Ka- +laupun angka merah itu berkurang setengah, menjadi empat, +dia tetap takkan naik kelas. Karena batas minimum untuk +naik kelas adalah tiga angka merah. Dan, rasanya mustahil +bisa mengurangi delapan angka merah menjadi tiga. Sering +Izmi melamun, seandainya dia mengenal Sabari lebih awal, +tentu keadaannya takkan segawat sekarang. Mengapa orang- +orang yang tepat selalu datang terlambat? + + Wali kelas membagikan rapor, sesekali tajam menatap +Izmi. Firasat buruk melanda pelajar sekaligus pembantu ru- +mah tangga paruh waktu itu. Nama dipanggil satu per satu, +kawan-kawannya menerima rapor, keluar dari kelas lalu ber- +sorak gembira. Dada Izmi sesak. + + Izmi tak langsung membuka rapornya. Dia menunggu +seluruh siswa pulang. Dia sudah punya rencana, jika angka +merah di rapornya ada empat atau lebih, yang berarti dia +tak naik kelas, dia akan langsung pulang, sampai di jembatan +akan dilemparkan rapor itu ke Sungai Lenggang. Keesokan- +nya dia takkan kembali ke sekolah. + + Izmi menyingkir ke bawah pohon bantan. Dilihatnya se- +keliling, tak ada siapa-siapa, dibukanya rapor itu pelan-pelan, +jantungnya berdebar. Matanya dengan cepat mendeteksi ang- +ka merah dan dia terkejut. Memang ada angka merah, teta- +pi hanya tiga, Matematika 3, Fisika 3, Kimia 3,5. Izmi naik +kelas. + Geometri + +SESEKALI, jika dilanda rindu, Sabari memanfaatkan satu- +satunya kesempatan untuk menemui Lena, yaitu usai jam se- +kolah. Semua siswa sudah pulang, diam-diam dia masuk ke +kelas sebelah dan berjumpa dengan Lena, walaupun hanya +dalam bentuk bangkunya yang kosong. Sabari duduk di bang- +ku itu dan tertegun dilanda perasaan indah tak terperi. Dia +melamun, merenung, berkhayal, tersenyum, tertawa, semua- +nya sendirian. + + Suatu ketika, saat duduk di bangku itu dan menunduk +untuk membetulkan tali sepatu, dia terkejut melihat rumus +matematika berderet di bagian bawah laci meja Lena dan laci +meja Bogel Leboi di sebelahnya. Kedua sejoli itu pasti telah +bersekongkol untuk menyontek pada ujian antarsemester se- +bentar lagi. Sungguh romantis. Sabari cemburu. + + Soal Lena tukang sontek kelas kakap sudah menjadi ra- +hasia umum di SMA. Sabari sendiri punya pengalaman pri- + 84 ~ Andrea Hirata + +badi atas sepak terjangnya saat ujian masuk SMA dulu. Na- +mun, karena itulah dia menemukan Lena, sesuatu yang tak +pernah berhenti disyukurinya. + + Sabari tersenyum geli lagi melihat rumus sontekan volu- +me kerucut itu. Dia tak terlalu pintar Matematika, tetapi dia +tahu ada yang salah dengan rumus itu. Seingat Sabari notasi +tinggi atau t dalam rumus itu harusnya dipangkatkan dua. + + Keesokannya dia bertanya kepada Toharun, yang ni- +lai Matematika-nya memang selalu lebih baik daripadanya. +Toharun membenarkan pendapat Sabari. Usai jam sekolah, +Sabari menyelinap lagi ke dalam kelas Lena. Ditambahinya +angka dua di atas notasi t sehingga rumus itu menjadi benar. +Sebelum pulang, diusap-usapnya rumus itu disertai harapan +semoga Lena dan Bogel Leboi sukses dalam ujian nanti. + +Ujian semester 5 adalah ujian yang penting sebab itulah uji- +an semester kedua terakhir sebelum siswa mengkhatamkan +SMA. Dan, tak terbilang girangnya Sabari sebab sebagian +besar soal geometri adalah tentang kerucut dan berbagai im- +plikasi rumusnya. Begitu soal dibagikan, sebagian murid ber- +teriak, bahkan histeris, karena tak menduga soal akan begitu. +Kerucut adalah topik kelas dua dulu. Yang terkecoh itu ter- +masuk Ukun, Tamat, dan Toharun. + + Sabari sendiri bersiul-siul tanpa suara. Dia bahagia bu- +kan hanya karena telah mendalami rumus kerucut—dan itu + Ayah ~ 85 + +terinspirasi sontekan Lena—Ah, Always, L, dan seluruh kebaikan +yang dibawanya—melainkan juga senang karena telah mem- +perbaiki rumus volume kerucut sontekan Lena itu. Satu perto- +longan kecil penuh rahasia yang mengandung nilai romansa. + + Dibayangkannya betapa sentosanya Lena dan Bogel Le- +boi di kelas sebelah menyontek rumus volume kerucut yang +benar itu. Sejahteralah mereka. Dibayangkannya kedua sejoli +itu terkikik mesra. Dia cemburu, tetapi bahagia untuk me­ +reka. + + Akan tetapi, di tengah kegembiraan itu, saat menulis ru- +mus volume kerucut di kertas jawabannya sendiri, Sabari ter- +cenung lalu panik karena mendadak dia sadar bahwa notasi +t pada rumus volume kerucut memang tidak dipangkatkan +dua. Dengan kata lain, rumus sontekan Lena itu sesungguh- +nya sudah benar, dibetulkannya malah menjadi salah. + + Ingin Sabari melompat lalu berlari ke kelas sebelah un- +tuk memberi tahu Lena, tetapi semuanya telah terlambat. +Apalagi, kemudian beberapa siswa dari kelas sebelah, terma- +suk Lena dan Bogel, telah keluar sambil tertawa-tawa karena +telah selesai mengerjakan soal dengan sukses. Sabari berkeri- +ngat dingin. + + Alhasil, ketika hasil ujian geometri diumumkan, nilai +Lena bebek berenang, atau 2. Nilai Ali Mahmud alias Bogel +Leboi juga bebek berenang. Nilai Ukun, bangku terbalik. Ni- +lai Tamat, bangku terbalik alias 4 koma bebek berenang. Nilai +Toharun, bebek berenang koma bebek berenang. + Amiru +dan Sepedanya + +AMIRU melamun menatap kantor pegadaian. Dadanya se- +sak membayangkan Mister Phillip, radio ayahnya, berada di +dalam kantor itu. Dia gundah mendengar orang bergunjing +bahwa acara yang mereka tunggu-tunggu itu, dan pasti di- +tunggu ayahnya juga, akan segera mengudara. + + “Tunggu saja, tak tahu esok, tak tahu lusa, minggu de- +pan atau bulan depan, pasang antena tinggi-tinggi, kunci ge- +lombang di RRI, jangan digeser, apa pun yang terjadi,” kata +Syarif Miskin. + + Saban malam Amiru susah tidur karena kesepian, tak +ada lagi bunyi kemerosok gelombang radio. Dia sedih kare- +na ayahnya telah kehilangan hiburan satu-satunya. Otaknya +berputar cepat dan sekonyong-konyong semangatnya mele- +tup. Dia seakan baru menemukan resolusi hidupnya, yaitu dia +ingin bekerja keras untuk mencari uang. Uang yang didapat- +nya bukan hanya untuk menebus radio ayahnya, melainkan + Ayah ~ 87 + +juga agar ibunya mendapat perawatan kesehatan yang lebih +baik. Diam-diam dia melihat kuitansi pegadaian yang diletak- +kan ayahnya di atas meja. Satu juta enam ratus ribu, itulah nilai +gadai Mister Phillip. + + Pulang dari sekolah esoknya, tak ambil tempo, naik se- +peda, Amiru segera berangkat ke pabrik tali rami. Dia masuk +kantor dan langsung bilang mau kerja. + + “Kerja apa?” tanya mandor. + “Apa saja, Pak.” + “Berapa umurmu?” + “Sepuluh, masuk sebelas tahun.” + “Masih sekolah?” + “Masih.” + “SD?” + “Ya.” + “Mengapa kau mau bekerja?” + “Untuk dapat uang agar dapat menebus radio ayahku di +kantor gadai dan untuk biaya ibuku berobat.” + Setelah setengah jam diceramahi mandor, Amiru disu- +ruh pulang. + Sesungguhnya, meski masih kecil, keadaan yang sulit +membuat Amiru tak asing dengan pekerjaan berat. Libur se- +kolah dia biasa bekerja musiman di perkebunan karet, kopi, +atau kepala sawit. Namun, dia harus mendapatkan uang de- +ngan cepat sebab dia mengejar siaran radio yang jadwalnya +semakin dekat. + 88 ~ Andrea Hirata + + “Saya mampu bekerja keras, Bu, sama seperti orang de- +wasa,” kata Amiru waktu melamar di pabrik obat nyamuk. + + “Risiko besar, Bujang, tak baik untuk anak kecil. Pekerja- +an itu berurusan dengan bahan kimia berbahaya.” + + “Aku sanggup menanggung risiko, Bu.” + “Aku tahu kau sanggup, tapi aku tidak sanggup.” + Ibu memberi Amiru ongkos pulang, Amiru menolak de- +ngan sopan. + Ternyata, tak mudah mencari pekerjaan meski hanya +ingin menjadi kuli. Amiru gelisah, kurang dari 47 hari dia ha- +rus sudah mengumpulkan uang minimal satu juta enam ratus +ribu rupiah untuk menebus radio ayahnya di kantor gadai, +kalau tidak, ayahnya akan melewatkan siaran radio itu. + Dicarinya pekerjaan yang orang hanya peduli pada te- +naga. Ditemukannya jabatan itu, kuli panggul di pasar. Na- +mun sayang, orang lebih suka kuli panggul berbadan besar. +Jika Amiru menawarkan diri, orang-orang tak tega melihat +tubuhnya yang kecil dan kurus. Akibatnya, Amiru tak laku. +Siaran radio itu tinggal 38 hari. + Amiru mutasi ke tugas kebersihan pasar karena upahnya +berdasarkan banyaknya pekerjaan, tetapi segera dia berhenti, +bukan karena pekerjaan itu keras dan jorok atau karena ha- +rus memikul keranjang sampah, melainkan karena berdasar- +kan perhitungannya, upah harian itu takkan mencapai sejuta +enam ratus ribu sampai batas waktu siaran radio. + Gelisah, hampir putus asa, ke sana kemari anak kecil itu +menawarkan diri, tetapi pintu tertutup untuknya. Dalam ke- + Ayah ~ 89 + +kecewaan yang dalam, dia berdoa dan terkabul. Di dinding +kantor dinas pasar dilihatnya pengumuman lomba balap se- +peda di ibu kota kabupaten. + + Amiru melonjak melihat hadiah ketiga untuk tingkat +remaja saja masing-masing lima juta rupiah. Itu jauh lebih +besar daripada yang diperlukannya untuk menebus radio, +bahkan tersisa banyak untuk biaya pengobatan ibunya. Ma- +laikat-malaikat turun untuk melihat niat yang baik, begitu +ayahnya selalu berkata. Perkataan itu benar. Amiru terharu. + + Hal lain yang membuat Amiru girang bukan hanya jum- +lah hadiahnya, melainkan dia juga yakin akan menang, pa- +ling tidak juara ketiga di tangan. Alasannya masuk akal, dia +terbiasa bekerja keras karena itu tenaganya jauh lebih besar +daripada rata-rata anak berusia sebelas tahun. Dia terbiasa +membantu ayahnya, mencari lalu membonceng kayu bakar, +paling tidak tiga puluh kilogram beratnya. Libur sekolah dia +bekerja menggerus pohon karet, bersepeda enam puluh ki- +lometer dari rumahnya, berarti 120 kilometer pergi pulang, +setiap hari. Dalam balap sepeda sesama anak kampung, dia +selalu meninggalkan kawan-kawannya jauh di belakang. Ba- +lap sepeda bukan barang baru baginya. + + Setiap hari Amiru berlatih keras, tak kenal lelah. Dia +menaiki tanjakan sambil membonceng kedua adiknya sekali- +gus. Amirta dan Amirna bersorak-sorak menyemangati sang +abang. Lain waktu Amiru membonceng ayah dan kedua adik- +nya. Ayah di boncengan belakang, si bungsu Amirna digen- +dong Ayah, si tengah Amirta duduk di bagian tengah sepeda. + 90 ~ Andrea Hirata + + Orang-orang di pasar sering terkejut melihat anak kecil +bersepeda dengan sangat cepat, bersiut-siut secepat angin se- +latan. Begitu cepat sehingga lepas kancing-kancing bajunya. +Bajunya berkibar-kibar. + +Pada hari perlombaan, Amiru minta izin kepada ayah dan +ibunya untuk mengajak adik-adiknya jalan-jalan ke ibu kota +kabupaten. Sebelum berangkat, dia mencium tangan ibunya +lama sekali. + + “Usahlah risau, Ibu, aku akan segera mengirim Ibu un- +tuk berobat di rumah sakit terbaik di ibu kota provinsi. Ada +dokter dan perawat khusus untuk Ibu. Setiap tiga puluh menit +perawat datang untuk melihat keadaan Ibu.” Ibunya tergelak +melihat Amiru bertingkah meniru suster dengan menempel- +kan tangan di kening ibunya. + + “Suhu, pernapasan, detak jantung, semua diperiksa. Ka- +mar Ibu nanti tidak panas karena ada AC. Ada juga meja de- +ngan vas bunga di samping tempat tidur Ibu nanti. Bunganya +akan kuganti setiap hari. Bunga ros, kan? Bunga kesayangan +Ibu, segar berair-air. Tak banyak orang di dalam kamar itu, +hanya Ibu sendiri. Tak ada orang membawa tikar, selimut, +termos, obat nyamuk, dan rantang macam kita lihat di rumah +sakit dulu. Ibu tenang saja, tunggu aku pulang, nanti malam +kita akan mendengar sandiwara radio Menantu Durhaka. Oke?” + Ayah ~ 91 + +Amiru tersenyum lebar, ibunya mengernyitkan dahi. Dia tak +paham sedikit pun apa yang dibicarakan anak lelakinya itu. + + Amiru minta diri lalu membonceng kedua adiknya naik +sepeda. Mereka bersepeda dengan riang gembira. Adik-adik +perempuannya berkicau-kicau, Amiru bernyanyi-nyanyi. Ini +adalah hari yang sangat menyenangkan. Kepada adik-adiknya +Amiru mengatakan bahwa dia akan ikut lomba balap sepeda. + + Mereka sampai di pusat kota. Dekat garis finis ada tem- +pat-tempat duduk. Amiru meminta adik-adiknya menunggu- +nya di situ. Amirta sudah bisa menjaga adiknya. Amiru mem- +beli bendera kecil. Amirta dan Amirna siap dengan bendera +kecil yang akan dikibar-kibarkan jika abangnya menjadi juara +nanti. + + Jika semuanya berjalan dengan baik, rencana Amiru +adalah, segera setelah menerima hadiah uang itu, dia akan +mengajak adik-adiknya menebus radio ke kantor gadai yang +tak jauh dari situ, setelah itu, sisa uang hadiah akan dipakai- +nya untuk membelikan adik-adiknya buku-buku dan mainan, +sisanya yang masih banyak untuk biaya pengobatan ibunya. +Dia pun akan pulang membawa kejutan untuk ayahnya. Be- +tapa manisnya rencana itu. Tak sabar Amiru mau memacu +sepedanya agar segera memenangkan lomba. + + Dia menuju garis start. Lima belas kilometer dari garis +finis tadi. Sampai di sana dia terkejut melihat begitu banyak +orang telah berkumpul di lokasi start. Ratusan pembalap re- +maja dan dewasa ada di sana, berwarna-warni meriah. Mere- + 92 ~ Andrea Hirata + +ka berkacamata, mengenakan helm khusus, mengenakan sa- +rung tangan, sepatu khusus juga, dan kostum pas badan yang +mentereng. + + Sepeda mereka adalah sepeda balap modern. Amiru se- +gera sadar bahwa dia hanya mengenakan sandal dan kemeja +biasa, dan sepedanya adalah sepeda kampung karatan yang +biasa dipakai untuk membawa kayu bakar. + + Amiru melihat sekeliling. Hanya dia sendiri yang berse- +peda seperti itu. Tibalah gilirannya, tetapi dia ragu mendekat +ke meja pendaftaran. Pembalap lain ingin cepat-cepat, dia +minggir. + + Amiru menatap para pembalap yang mengambil nomor +lomba. Setelah agak sepi, dia memberanikan diri untuk men- +daftar karena dia harus menebus radio ayahnya, dia memer- +lukan biaya untuk ibunya, lagi pula adik-adiknya menunggu- +nya di garis finis. + + Akan tetapi, yang dicemaskannya terjadi. Panitia tak +mengizinkannya ikut lomba sebab dia tak memenuhi syarat. +Amiru menuntun sepedanya, menjauh dari meja pendaftar- +an. Dia tersandar lesu di bawah pohon akasia sambil meme- +gangi sepedanya. Dalam pemikirannya, lomba balap sepeda +adalah lomba paling cepat naik sepeda. Siapa yang paling +cepat, selama sepedanya tidak pakai mesin, dialah juara. Na- +mun, rupanya dalam zaman modern ini, perlombaan olahra- +ga tidaklah sesederhana itu. + + Amiru terperanjat mendengar bunyi letusan. Dilihatnya +ratusan pembalap berlomba-lomba. Sejurus kemudian mere- + Ayah ~ 93 + +ka berkelebat dengan cepat, bak warna-warni yang disembur- +kan. Semangat Amiru meletup, ingin sekali dia berlomba me- +lawan mereka. Dia telah berlatih dengan keras, dia lebih dari +siap untuk bertarung. Namun, panitia tak membolehkannya. +Kakinya gemetar menahan perasaannya. + + Dalam waktu singkat lokasi start menjadi sepi. Orang- +orang bergegas menuju pusat kota untuk melihat para juara. +Amiru teringat kepada adik-adiknya. Dia pun berangkat ke +pusat kota. Dari jauh dia melihat adik-adiknya duduk me- +nunggu. Temangu-mangu memegangi bendera. + + Amiru menaikkan adik-adiknya ke boncengan sepeda. +Mereka pulang. Sepanjang jalan Amirta dan Amirna mengi- +bar-ngibarkan bendera kecil itu. Mereka melewati kantor pe- +gadaian. Pintu-pintunya sudah ditutup. + Terima Kasih + +KEPADA Ukun, Sabari bilang betapa dia menyesal atas insi- +den rumus kerucut itu. Dari cara mengatakannya, Ukun tahu +Sabari benar-benar menyesal. + + “Aku mau menebus kesalahanku.” + “Pada Lena dan Bogel?” + “Ya.” + “Bogel juga?!” + “Ya.” + “Ri! Kalau kau minta maaf sama Lena, aku maklum, +tapi sama Bogel?! Dia adalah manusia paling kejam padamu +di dunia ini!” + “Tapi, ini kesalahanku, Boi.” + Ukun mengaduk-aduk rambutnya. + Sabari mau minta maaf secara langsung kepada Lena, +tetapi takut kena semprot, Maaf ?! Enak saja kau bilang maaf, bi- + Ayah ~ 95 + +cara murah! Mulut tak nyewa! Yang tak lulus aku! Bukan kau! Ma- +jenun! Belum menghitung muntab-nya Bogel. + + “Bisa-bisa kau dibumihanguskan Leboi pakai korek gas +Zippo-nya,” kata Tamat. + + Mereka membicarakan hal itu di warung kopi Kutunggu +Jandamu. Saat itu radio di warung kopi sedang seru menyiar- +kan acara baru yang sangat diminati pendengar, yaitu pertun- +jukan organ tunggal langsung dari stasiun radio. + + Pemilik radio lokal itu paham budaya bahwa orang Me- +layu kampung umumnya berjiwa seni, selalu ingin tampil, +tetapi banyak yang malu-malu. Maka, jika ada kesempatan +memperdengarkan kebolehan pada dunia, tanpa harus de- +mam panggung atau dilempari penonton pakai sandal, itu +adalah kesempatan emas. + + Maka, setiap malam Minggu ramai orang antre di sta- +siun radio. Pria, wanita, tua, muda, penganggur, PNS, guru, +siswa, semua ingin bernyanyi lagu apa saja, lagu Melayu, +dangdut, rock, pop, lagu Barat, lagu India, kasidah, sambil +berkirim salam untuk kawan, kenalan, dan sanak saudara. +Betapa menyenangkan. Pakaian mereka necis seperti mau +naik panggung meski tak ada penontonnya, itulah kesempat- +an menjadi artis! + + Ukun menyarankan agar Sabari minta maaf kepada +Lena dan Bogel secara terbuka sekaligus mempersembahkan +sebuah lagu untuk Lena melalui acara organ tunggal live show +radio itu. + 96 ~ Andrea Hirata + + “Ide yang brilian!” kata Toharun. Sebab, dia pernah ikut +acara itu. Lagu pilihannya adalah lagu India. Gara-gara itu +dia dapat kenalan seorang perempuan hitam manis dari Gual. + + “Dan, aku tahu lagu kesayangan Lena, ‘Truly’ by Lionel +Ritchie, sedang top sekarang!” Tamat menyemangati. + + Sabari terperanjat. + “Yang benar saja, kau tahu aku tak bisa bernyanyi. Ber- +puisi mungkin aku bisa, tapi bernyanyi? Tak mungkin itu, bi- +cara saja aku sumbang.” + “Di situlah seninya,” kata Ukun. + “Aku pun tahu lagu ‘Truly’ itu, aduh, nadanya tinggi se- +kali, lebih tinggi daripada tiang bendera di kantor bupati!” + “Di situlah seninya,” kata Ukun lagi. + “Permohonan maaf secara terbuka adalah sikap yang +gentleman. Bahwa kau tak bisa bernyanyi, semua orang tahu +itu. Bicara saja kau sumbang, apalagi bernyanyi. Namun, kau +yang tak bisa bernyanyi, berusaha keras untuk bernyanyi de- +ngan baik, meski suaramu macam radio rusak, dan semua itu +demi minta maaf pada Lena, betapa tulus dan manisnya. Pas- +ti Lena terkesan!” Tamat meyakinkan. + Demi mendengar kata Lena terkesan, membawakan lagu +yang biasa dibawakan Luciano Pavarotti sekalipun Sabari +siap. + “Cerdas sekali pandangan saudara kita Tamat ini,” kata +Ukun. + Sabari menjadi yakin, ditambah lagi pengalaman kesuk- +sesan Toharun. Tamat belum selesai. + Ayah ~ 97 + + “Lagi pula, dengarlah liriknya, Ri, and forever I will be your +lover, dan selamanya aku akan menjadi kekasihmu ..., amboi.” + + Wajah Sabari merona-rona, blushed, istilah masa kini. + +Sebulan penuh Sabari berlatih. Agar tak mengganggu tetang- +ga, dia berlatih di pinggir laut. Lolongannya lindap ditelan +debur ombak Laut Jawa. + + Akhirnya, tibalah malam Minggu yang ditunggu-tunggu +itu. Tak mau kalah dengan peserta lain, Sabari berdandan +seronok. Dia mengantre di stasiun radio sejak pukul 19.30, +setelah lima belas peserta, tibalah gilirannya. Prime time. + + Penyiar memintanya bersiap-siap. Sabari mendekatkan +mulut ke mik. Dia gugup karena tahu seisi kampung akan +mendengar suaranya. + + “Siap?” + “Insya Allah, Bang.” + Ngeng, lampu merah bertulisan on air menyala. Penyiar +menyapa pendengar lalu menyapa Sabari. + “Jangan lupa kata kuncinya,” kata penyiar. + “DYSMDB.” + Grrr, tawa berderai dari sound effect. + “Ah, bukan itu maksudnya.” + “Oh, maaf, Bang, Radio Suara Cinta, ya suaranya, ya +cintanya.” + 98 ~ Andrea Hirata + + Grrr, ditambah efek tepuk tangan dan suitan. + “Ngomong-ngomong, apakah DYSMDB itu?” + “Itu nama sandiku, Bang.” + “Artinya? Kalau boleh tahu.” + “Dia yang selalu menunggu dengan berdebar-debar.” + Grrr. + “Nama Saudara, kalau boleh tahu?” + “Sabari, Bang.” + Lena yang sedang bersisir terpana. Dia selalu mendapat +kiriman lagu dari DYSMDB, dan selalu bertanya-tanya, sia- +pakah DYSMDB itu? Ternyata, Sabari gigi tupai! + “Kepada siapa lagu Bung akan dikirimkan? Kalau boleh +tahu.” + “Terkhusus untuk Saudari Marlena di Kelumbi dan +Saudara Bogel Leboi disertai satu permintaan maaf.” + “Oh, mengapa minta maaf ?” + “Karena satu kesalahan, Bang. Waktu itu aku membe- +tulkan sontekan rumus matematika Saudari Marlena dan +Saudara Bogel yang mereka tulis di bawah meja, ternyata ku- +betulkan malah salah, jadi Saudari Marlena mendapat nilai +dua.” + Grrrrrr, Lena terperangah, dibanting sisir di tangannya. +Bu Norma ternganga, guru Matematika terbelalak. + “Bagaimana dengan nilai Saudara Bogel Leboi, kalau +boleh tahu?” + “Dua juga.” + Ayah ~ 99 + + Grrrrrrrrr. Bogel membanting rokok. “Majenun!” + “Ojeh, ojeh, jadi Bung akan menyanyikan lagu ‘Truly’?” + “Benar, Bang.” + “Maksud Bung, ‘Truly’ dari Lionel Ritchie?” Penyiar +mengamati Sabari. Dia ragu karena tak ada sedikit pun bagi- +an dari Sabari yang cocok dengan bahasa Inggris. + “Tak lebih tak kurang, Bang.” + “Yakin?” + “Yakin.” + “Apakah Bung sudah berlatih? Kalau boleh tahu.” + “Sudah, Bang.” + “Berapa lama Bung berlatih? Mungkin para Pujangga +Cinta di seluruh penjuru Belitong ingin tahu.” + Pujangga Cinta, begitu panggilan untuk para pendengar. + “Hampir dua bulan.” + “Oh, cukup lama, tentu Bung sudah lihai membawakan- +nya.” + “Sila dicoba, Bang.” + Ukun, Tamat, Toharun, Zuraida, dan Izmi bertepuk ta- +ngan. + “Bagaimana, Bung organ tunggal, siap?” + Pemain organ tunggal memberi kode siap dengan jari- +nya. + “Ojeh, Ojeh, Pujangga Cinta, di mana pun Anda ber­ +ada, sambutlah suara emas Sabariii ....” + Satu, dua, tiga, empat, pemain organ tunggal menghi- +tung, berdenting bunyi piano, lalu masuklah suara Sabari, + 100 ~ Andrea Hirata + +agak terlambat, tetapi tak apa-apa. Lagu itu amat syahdu di +bagian depan, Sabari menyanyikannya dengan gaya campur- +an orang berdoa, menggerutu, dan beserdawa. + + Lolos dari bagian depan, Sabari bersiap-siap masuk ke +bagian yang paling dramatis, reffrain. Diambilnya ancang- +ancang, digenggamnya tangannya kuat-kuat, lalu dilolong- +kannya trulyyy .... Suaranya berubah dari orang menggerutu +menjadi anjing melolong melihat iblis. Dia begitu terpaku +pada usaha kerasnya mencapai nada tinggi, yang kenyataan- +nya dia tak sampai, yang berakibat nyanyiannya kacau balau. +Musik ke selatan, suaranya ke utara. Para pendengar terpana +kalau tak tertawa. Tukang nasi goreng menghentikan goreng- +annya, penjaga malam ternganga mulutnya, para penjaga +toko prihatin, para pengunjung warung kopi terpingkal-ping- +kal. + + Celaka bagi Sabari sebab lagu “Truly” mengandung +dua tingkat reffrain, modulasi, tingkat kedua lebih tinggi lagi. +Kejam sekali. Tak tahu apa yang ada dalam pikiran Mister +Ritchie. Menghadapi tingkat kedua itu, Sabari mengumpul- +kan tenaga dalam lalu ngegas sejadi-jadinya. Suara anjing +melolong berubah menjadi kucing kena cekik. Peserta lain +yang tengah mengantre dan para pendengar, termasuk Ukun, +Tamat, Toharun, Zuraida, dan Izmi, terbahak-bahak sambil +memegangi perut mereka. + + Tanpa tahu bagaimana lagu itu telah dimulai, tahu-tahu +lagu itu sudah selesai. Sabari bernyanyi dengan awal seolah + Ayah ~ 101 + +tak sengaja, lalu mengakhirinya dengan sukarela. Namun, +tanpa peduli bagaimana penampilan Sabari, operator radio +tetap mengudarakan efek tawa yang meriah grrrrrr disertai ge- +legar tepuk tangan dan suitan-suitan panjang. + + Sabari tersenyum puas dan bertepuk tangan, untuk diri- +nya sendiri. Ditatapnya penyiar lalu dikeluarkannya sepucuk +kertas dari sakunya. + + “Maaf, Bang, bolehkah aku menyampaikan sedikit +ucapan terima kasih kepada beberapa pihak yang telah berja- +sa dan akan berjasa dalam hidupku? Jarang-jarang aku men- +dapat kesempatan ini.” + + “Oh, sudah barang tentu, Bung, silakan.” + “Terima kasih banyak, Bang.” + Sabari mendekatkan mulutnya ke mik, dibukanya lipat­an +kertas tadi lalu diucapkannya ribuan terima kasih pada peme- +rintah, pemilik radio, penyiar, operator, dan para pendengar +yang budiman di mana pun berada, terutama kepada Lena +dan Bogel Leboi serta mereka yang selalu mendukungnya, +yaitu ayahnya tercinta, ibunya yang penyayang dan sedang +sakit—teriring ucapan agar cepat sembuh—saudara-saudara +kandung, bibi, paman, ipar, para sepupu, dua pupu, saudara +tiri, keponakan, tetangga, dan tentu Ukun, Tamat, Toharun, +dan Zuraida. + Ribuan terima kasih juga ditujukan kepada wali kelas, +Bu Norma, segenap gurunya, mulai dari SD sampai SMA, se- +genap kawan sekelas, ketua OSIS, orangtua-orangtua murid, + 102 ~ Andrea Hirata + +penjaga sekolah dan anjingnya, Senyorita, semua pedagang +kaki lima, utamanya Bang Syam Robet, seluruh pegawai Di- +nas Kebersihan, penyuluh keluarga berencana, seluruh PNS +dan pegawai honorer di Belitong, para ajudan bupati, pemilik +dan para pegawai warung kopi Kutunggu Jandamu dan wa- +rung kopi Usah Kau Kenang Lagi, seluruh pegawai warung +kopi di mana pun Anda berada, juga kepada pedagang sa- +yur dan sembako, jaga malam, suster, bidan, mantri, dokter, +bapak polisi, banpol, pak pos, mualim, kelasi, nakhoda, mar- +konis, penggali kubur, pandai besi, tukang satai, pendulang +timah, penjual timah, pembeli timah, tukang solder, anggo- +ta penggemar motor lawas, filatelis, pemimpin redaksi dan +wartawan koran lokal, para pemangku adat, para dukun dan +pawang, guru mengaji, kepala polisi pamong praja dan anak- +anak buahnya, kepala semua desa di Belitong, para juru tulis +kantor desa, para penjaga pintu air, anggota orkes Melayu, +juru taksir kantor gadai, penjual kupon judi buntut, teriring +salam semoga segera tobat, syahbandar, para penggemar dan +pencipta puisi di seluruh pelosok Tanah Air, ketua pasar ikan +dan koordinator pasar pagi, doktorandus dan doktoranda, +karyawan karyawati, pramugara pramugari, peragawan pera- +gawati, seniman seniwati, wartawan wartawati, olahragawan +olahragawati, orang Belitong yang telah tamat universitas atau +yang sedang membuat skripsi, para pemulung sampah, pemu- +lung besi, politisi, juru parkir, kuli bangunan, tukang bakso, +kuli serabutan, nelayan, sipir, mereka yang sedang mendekam + Ayah ~ 103 + +di dalam bui, sopir mobil omprengan, para kernet, keamanan +pasar, kuli panggul, tukang ojek, calo, rentenir, pemimpin dan +kader parpol, ketua KUA, ketua BKKBN, modin, penghulu, +juru sunat, bendahara RT, ketua dewan kemakmuran Masjid +Al-Hikmah, ketua kantor gadai, kapolsek, ketua karang taru- +na, ketua dan anggota Dharma Wanita semua instansi. + + Ucapan terima kasih ditutup dengan permohonan maaf +jika ada pihak yang tak sempat disebut namanya, karena ke- +terbatasan waktu. Sabari membolak-balik kertasnya. + + “Maaf, Bang, apa tadi aku sudah menyebut para pemain +organ tunggal?” + + “Belum.” + “Terima kasih tak terhingga untuk para pemain organ +tunggal di mana pun Anda berada, serta para biduan dan +biduanitanya, salam Yamaha elektun!” + Grrr .... + “Tentu terima kasih saya juga untuk penemu organ Ya- +maha elektun. Tak terkira besar jasa orang itu dalam membu- +ka lapangan kerja. Teriring doa semoga penemu organ Yama- +ha elektun masuk surga.” + Efek tepuk tangan dan suitan membahana. + “Oh, oh, hampir aku lupa, maaf, ada satu lagi, Bang!” + “Silakan, Bung, delapan puluh lima lagi juga tak apa- +apa.” + Grrrrrr. + “Tentu akan kualat kalau aku tak mencium tangan dari +jauh sembari meng-hatur terima kasih tiada terperi kepada + 104 ~ Andrea Hirata + +Mister Lionel Ritchie. Terima kasih, Mister Lionel, di mana +pun Mister berada.” + + Grrrrrr .... + Sabari tersenyum berbunga-bunga. Penyiar heran dan +bertanya, “Mengapa Bung begitu gembira dan bersemangat +malam ini? Kalau boleh tahu.” + “Sebab, tadinya saya perkirakan akan gagal membawa- +kan lagu ‘Truly’ itu. Saya sudah pesimis. Saya tahu lagu itu +sangat sulit, bahkan penyanyi sesungguhnya belum tentu bisa +membawakannya. Saya terharu karena ternyata saya bisa, ba- +gus lagi! Oh, saya tak menduga bisa bernyanyi sebagus itu!” + Grrrrrrrrrrrr .... + Cita-Cita Izmi +dan Amiru + +IZMI gembira, Amiru sedih. + Guru-guru juga gembira, bahkan takjub melihat nilai- + +nilai di rapor semester 5 Izmi. Untuk kali pertama selama +sekolah di SMA itu, Izmi berhasil memerdekakan dirinya +dari angka merah. Nilai-nilai mata pelajaran pokok, misal- +nya PMP, biru macam langit di pantai barat bulan Februari. +Bidang Olahraga dan Kesehatan: 6,6. Kualitas kepribadian, +kerajinan: sangat baik, kebersihan: sangat baik, budi pekerti: sa- +ngat baik. + + Matematika, maaf, 6,5. Fisika, silakan iri, 6. Kimia, +hmmm, 6. Biologi, melingkar indah angka 8. Izmi memang +memperhatikan Biologi secara khusus sebab ilmu itu bersang- +kut paut dengan cita-citanya. + + “Apa sih cita-citamu, Izmi?” tanya Bu Norma. Izmi ter- +cenung, tampak agak kesulitan menguasai dirinya. + + “Aku mau menjadi dokter hewan, Bu,” katanya pelan +dan hati-hati. + 106 ~ Andrea Hirata + + Dia sedikit limbung sebab telah enam tahun cita-citanya +itu pingsan. Dia mau menjadi dokter hewan sejak kelas enam +SD, sejak melihat seorang dokter hewan membantu sapi ber- +anak dalam buku komik. Waktu itu ayahnya masih berjaya. +Selama enam tahun itu, baru kali ini dia berani mengata- +kan lagi bahwa dia mau menjadi dokter hewan. Dia berani +mengatakannya karena Sabari mengatakan bahwa dia mau +menjadi guru Bahasa Indonesia. Tanpa diketahui Sabari, dia +telah membangkitkan lagi cita-cita Izmi. + + “Cita-citamu apa, Bujang?” tanya gurunya kepada +Amiru. + + Amiru juga tercenung. Dia sedih karena teringat akan +radio ayahnya di kantor gadai. + + “Aku ingin menjadi pencipta radio, Bu.” + “Maksudmu?” + “Aku ingin menciptakan radio yang hebat, radio yang +bisa menangkap siaran gelombang pendek dari seluruh du- +nia, dengan suara yang jernih.” + Sambil terbaring lelah setelah mencuci segunung cucian +di rumah tauke, Izmi memandangi rapornya. Rasa bahagia +menyelinap dalam hatinya. Angka-angka biru beruntai-untai, +berkilauan bak butir-butir mutiara. Memesona bak bait-bait +puisi Sabari. Pujangga kampung yang hebat itu, apakah yang sedang +dilakukannya? Apakah dia sedang menulis puisi? Apakah dia sedang me- +rindukan Marlena? Izmi teringat akan Sabari dan teringat akan +ayahnya yang telah bertahun-tahun di penjara. + Pahlawan + +AKHIRNYA, mereka menamatkan SMA. Sabari, Ukun, +Tamat, Toharun, Zuraida, Izmi, Lena, dan Bogel, semuanya +lulus. Usailah tiga tahun kiprah mereka di SMA. Acara per- +pisahan sekaligus penyerahan ijazah digelar Sabtu pagi. Izmi +datang bersama ibu dan adik-adiknya. Ayahnya tak bisa ikut +karena masih mendekam di penjara. Izmi sengaja datang le- +bih pagi karena ingin melihat Sabari. + + Ibu dan adik-adiknya telah duduk di bangku undangan. +Izmi berdiri sendiri di bawah pohon akasia, dekat gerbang +sekolah, tempat Sabari biasa menunggu Lena. Matanya tak +lepas memandang ke jalan raya di depan sana. Para siswa dan +keluarga mulai berdatangan. Semakin lama semakin ramai. +Semua gembira. + + Izmi tersenyum melihat sebuah mobil pikap. Baknya +yang terbuka disesaki siswa-siswa dari Belantik. Di antara me- +reka ada Sabari dan ayahnya. Sopir dan para siswa memban- + 108 ~ Andrea Hirata + +tu Sabari mengangkat kursi roda sekalian dengan ayahnya. +Sedih bercampur bangga Izmi melihat Sabari mendorong +kursi roda ayahnya menuju sekolah. + + Izmi kembali ke tempat duduk, bergabung lagi dengan +ibu dan adik-adiknya. Nama siswa mulai dipanggil satu per +satu untuk menerima ijazah di atas panggung. Izmi tak ber- +henti tersenyum, tetapi tak berhenti pula menghapus air mata. + + Namanya dipanggil. Melihat siswa yang paling terharu +itu, Bu Norma yang mau menyerahkan ijazahnya bertanya, +“Mengapa kau menangis, Mi?” + + Izmi diam saja. + “Mengapa?” + Izmi tersenyum. + “Tak tahulah aku, Bu.” + “Adakah yang ingin kau sampaikan?” Bu Norma me- +nunjuk mik di podium. + Izmi menggeleng. Sebenarnya, dia ingin sekali menga- +takan pada setiap orang bahwa Sabari adalah pahlawannya, +inspirasi terbesarnya. Orang yang diam-diam memberinya +kekuatan. Tanpa Sabari tak mungkin dia dapat menyelesai- +kan SMA. Sabari sendiri tak pernah tahu hal itu. + Izmi kembali ke tempat duduk. Tak lama kemudian +nama Sabari dipanggil dan riuhlah tepuk tangan untuknya. +Rupanya selama tiga tahun di SMA itu, Sabari cukup popu- +ler. Tak jelas karena apa, yang jelas bukan dari prestasi di bi- +dang pelajaran. + Ayah ~ 109 + + Sebelum naik panggung, Sabari mencium tangan ayah- +nya, satu tindakan yang kemudian mendapat tepuk tangan +yang riuh lagi. + + Sabari menerima ijazah dari Bu Norma. Ibu menyalami­ +nya kuat-kuat sambil tersenyum lebar. Melihat mik mengang- +gur di podium, Sabari sedikit berbisik kepada Bu Norma: + + “Bisa bicara sedikit, Bu?” + “Sila, Raskal 1.” + “Bolehkah kusampaikan sesuatu untuk kawan-kawan +pakai mik itu?” + Bu Norma, yang tahu kecenderungan dramatis Sabari, +ingat kejadian Sabari dengan guru Fisika saat dia mau ber- +henti sekolah tempo hari. Sabari di depan mik. Gawat. Segala +sesuatu bisa terjadi. Dia curiga. + “Menyampaikan apa, Ri?” + “Semacam puisi perpisahan.” + “Puisi perpisahan? Hanya puisi perpisahan?!” Bu Nor- +ma berbisik keras. + “Tentu, Bu.” + “Sungguh?! Jangan kau main-main, Ri, ini acara resmi! +Banyak tamu penting, Wakil Bupati, Kepala Dinas Pendidik- +an, Kepala Polisi Pamong Praja, Ketua KUA, Ketua BKK- +BN, jangan kau bikin teater dadakan, berpidato yang bukan- +bukan, awas kau, Boi!” + “Tenanglah, Bu, ini puisi perpisahan saja.” + Bu Norma menimbang-nimbang sebentar, sulit dia +mengambil keputusan, tetapi akhirnya dengan waswas dia + 110 ~ Andrea Hirata + +berjalan menghampiri mik, mengambilnya lalu menyerah- +kannya kepada Sabari. + + Sabari melangkah dengan tenang ke tengah panggung. +Mereka yang mengenalnya segera paham, pasti dia mau ber- +aksi dengan puisinya. Mereka bertepuk tangan. Sabari me- +nyapu pandang hadirin. Bu Norma tegang menunggu apa +yang akan terjadi. Sabari menghentikan pandangannya ke +arah pukul 4.00, tempat Lena berada. Bu Norma gemetar +dan langsung menyesal telah memberikan mik itu kepada Sa- +bari. Celaka! Tadi aku sudah curiga! Raskal! Dan, semuanya ter- +lambat sebab suara Sabari telah menggelegar. + + Datangkan seribu serdadu untuk membekukku! + Bidikkan seribu senapan, tepat ke ulu hatiku! + Langit menjadi saksiku bahwa aku di sini, untuk mencintaimu! + + Tiba-tiba Sabari diam, suasana senyap, sepi, hening, Sa- +bari menutup puisinya dengan syahdu. + + Dan biarkan aku mati dalam keharuman cintamu .... + + Gegap gempitalah acara perpisahan nan khidmat itu. +Hadirin berdiri dan bertepuk tangan panjang untuk Sabari. +Sabari tersenyum lebar. Lena menunduk dan menggeleng- +geleng. Bu Norma menutup wajahnya dengan tangan. Ayah +Sabari tak henti-henti bertepuk tangan untuk anaknya. + Tanjong Pandan + +SABARI telah mengawali SMA dengan sebuah puisi untuk +Lena, dan mengakhirinya dengan sebuah puisi, juga untuk +Lena. + + Dia melamun di bawah pohon akasia dekat gerbang se- +kolah, tempat dia biasa menunggu Lena dan kecanduan akan +kelebat ajaib perempuan itu naik sepeda. Lima detik tak le- +bih, lalu segala hal sepanjang hari itu akan berlinang madu. + + Senyorita mendekat ke pohon akasia untuk melakukan +ritual number two, satu tindakan teritorial tak senonoh, sama +sekali tak peduli bahwa Sabari sedang dilanda awan-awan +puisi. Sabari memandangi sekolah dan menoleh ke masa lalu +selama tiga tahun, sarat akan pengalaman berharga. Dalam +masa itu dia telah melambung setinggi langit dan terjerembap +karena cinta. Dia telah mengenal kawan-kawan yang baik, dia +telah menulis puisi yang dia sendiri tak tahu dari mana men- +dapat kata-katanya dan dia telah mengalami hal yang mus- + 112 ~ Andrea Hirata + +tahil, yakni menjadi seorang penyanyi, yang menurut peng- +akuannya sendiri, sangat sukses, tetapi menurut pengakuan +orang lain, jika mendengar Sabari menyanyikan lagu “Truly” +itu, Mister Lionel Ritchie pasti menyesal telah mengedarkan +kasetnya di Indonesia. + + Tanjong Pandan, ibu kota kabupaten, adalah babak +baru hidup Sabari. + + “Janganlah cemas, Ayahanda, aku akan pulang seming- +gu sekali, untuk mendorong kursi roda Ayah.” + + “Kau akan tinggal di mana?” + “Banyak kamar kontrakan. Aku akan tinggal dengan +Ukun dan Tamat. Semuanya Ayah kenal.” + “Mau apa kau di sana?” + “Seperti orang lainnya, mencari pekerjaan, aku bukan +anak-anak lagi. Aku harus merantau, malu aku bergantung +pada orangtua.” + Ayahnya sedih. + “Mengapa bersedih, Ayah?” + “Maaf, Ri, aku tak bisa menyekolahkanmu ke Jawa.” + “Aih, usahlah risau, SMA saja sudah ketinggian untuk- +ku. Orang sekolah untuk bekerja. Aku akan langsung bekerja +di Tanjong.” Bersusah payah Sabari membesarkan hati ayah- +nya. + Untuk membuat cerita panjang menjadi pendek, tak +lama kemudian Ukun, Tamat, dan Sabari sudah bekerja +di Tanjong Pandan. Ukun yang bercita-cita menjadi dok- + Ayah ~ 113 + +ter, mendapat pekerjaan sebagai tukang gulung dinamo di +bengkel listrik CV Pijar Jaya Abadi. Tamat yang bercita-cita +menjadi pilot diterima bekerja sebagai tukang kipas satai di +warung satai kambing muda Afrika. Adapun Sabari yang ber- +cita-cita menjadi guru Bahasa Indonesia SD diterima bekerja +di pabrik es. + + Toharun berpamitan kepada mereka, tetapi tak mem- +beri tahu mau merantau ke mana. Mungkin ke Bangka, Pa- +lembang, atau Jakarta untuk mengejar cita-citanya menjadi +Menteri Olahraga Republik Indonesia. Setelah berpamitan, +lelaki yang besar seperti lemari itu tak ada kabar beritanya. + + Sebenarnya, Sabari diterima bekerja sebagai penjaga +toko furnitur dan penjaga air mineral isi ulang, tetapi dia tak +mau. Dia mau kerja berat membanting tulang. Dia mau tu- +buhnya hancur setiap pulang kerja, lalu jatuh tertidur lupa +diri. Bangun tidur dan bekerja keras lagi. Semua itu karena +dia mulai bertekad untuk melupakan Lena. Ini kemajuan. Ba- +rangkali semakin dewasa dia semakin bijak. + + Dia makin bertekad karena mendengar kabar Lena se- +makin binal. Buncai, tukang kredit sekaligus biang gosip dari +pintu ke pintu itu mengatakan bahwa Lena sudah pacaran +dengan semua lelaki di kantor pelabuhan. Tak jelas apakah +Buncai, yang sudah punya anak empat, bergunjing begitu +lantaran dia naksir Lena dan pernah kena tampar perempu- +an itu di muka kantor camat, sebab bicara seenak jambulnya +di muka umum. + 114 ~ Andrea Hirata + + Maka, bekerjalah Sabari sebagai kuli bangunan dan +sungguh tinggi dedikasinya. Tak kenal lelah dia. Kuli lain +mencuri-curi waktu agar bisa bermalas-malasan, dia sebalik- +nya. Yang tak disuruh dikerjakannya, apalagi yang disuruh. +Orang lain minta libur, dia minta masuk kerja. Kerap mandor +menyetopnya karena terlalu banyak mengaduk semen, me- +maku sesuatu yang seharusnya tak dipaku, memasang yang +bukan untuk dipasang, dan mengangkat yang seharusnya tak +diangkat. + + Jika diperintah, dengan sigap dia menjawab, “Beres, +Dor!” bahkan sebelum mandor selesai bicara. + + Pulang kerja, tubuhnya remuk redam seakan telah di- +hantam seribu gada. Sendi-sendinya nyeri, tulang-tulangnya +ngilu. Dilewatkannya malam dengan duduk sendiri sambil +memegang pensil dan memandangi ilalang yang berkilauan +disinari bulan. Angin selatan berembus pelan, senyap dan +sepi. Air mata lelaki kuli yang lugu itu mengalir pelan. Dia +rindu kepada Marlena. + +Bangunan yang dikerjakan Sabari sudah selesai. Sabari me- +ngatakan kepada mandor bahwa jika ada proyek lagi, dia mau +ikut. Mandor tersenyum dan mengangguk dengan seribu kata +tidak dalam dadanya. + + Tunggu punya tunggu, mandor tak memanggil, Sabari +mencari kerja lain. Kalau dia mau, sebenarnya dia diterima + Ayah ~ 115 + +di bagian cleaning service SMEA atau jaga malam di gudang +milik tauke beras. Namun, dia tetap mencari pekerjaan yang +lebih berat. Agar dapat menipu badan dan pikirannya untuk +terlepas dari bayangan Lena selalu, jadilah dia kuli di pab­- +rik es. + + “Ri, sebenarnya ada cara untuk melupakan perempu- +an,” kata Ukun. + + “Yaitu?” + “Melalui gerak badan, olahraga.” + “Benarkah?” + “Nah, sebentar lagi ada lomba maraton Piala Kemerde- +kaan, ikut saja.” + “Mengapa maraton dapat membuat lupa pada perem- +puan?” + “Karena maraton adalah olahraga yang sangat spiritu- +al,” kata Tamat. + “Maksudnya?” + “Maraton menyediakan waktu yang sangat lama bagi se- +orang atlet untuk merenung. Sambil maraton kau dapat me- +renungkan wajahmu yang mengharukan, nasibmu yang sial, +dan hidupmu yang tak berguna itu. Lihatlah, pelari maraton +jika berlari seperti sedang memikirkan sesuatu, wajah mere- +ka tak pernah hampa. Kepala mereka penuh pikiran tentang +masa lalu, masa depan, keberhasilan, kegagalan, utang piu- +tang, kebajikan, dan kejahatan yang pernah mereka perbuat, +dan dari seluruh persoalan yang menjepit mereka itu, mereka + 116 ~ Andrea Hirata + +tetap harus berjuang untuk mengalahkan lawan dan menca- +pai finis. Semua itu sangat spiritual!” + + “Oh, Mat, tak kusangka kau secerdas itu!” Ukun kagum. + “Kalau ditengok secara rengking, kau dulu memang jauh +di bawahku, Kun.” + “Baiklah, Mat.” + Sekadar catatan, waktu kelas tiga SMA, di kelas mereka +ada 47 siswa. Bu Norma pernah mengurutkan rengking-nya. +Tamat rengking 45, Toharun 46, Ukun 47 alias juru kunci. Me- +reka selalu bertengkar, yang paling sengit selalu Ukun, tetapi +dia mati kutu jika Tamat mengungkit-ungkit soal rengking. Itu- +lah senjata pamungkas Tamat. + “Waktu SMA dulu kau pernah jadi juara maraton, kau +adalah seorang pelari, peluangmu besar, Ri! Selain itu, ba- +nyak hadiahnya!” Ukun mencoba mengalihkan pembicaraan +dari soal rengking. + “Juara pertama akan mendapat radio transistor, termos, +mangkuk selusin, pinggan setengah lusin, jam beker yang +ada alarmnya, bibit kelapa hibrida, dua kaleng biskuit Khing +Khong, almanak, semprong lampu petromaks, lampu petro- +maksnya juga, sajadah, kaus kaki!” + Ukun berusaha mengingat-ingat. + Sabari terpana. Dia tak begitu mengerti maksud Tamat +soal spiritualitas maraton, tetapi hadiah-hadiah itu memberi- +nya sebuah inspirasi. + Keesokannya, usai shalat Shubuh, Sabari langsung ber- +lari menuju lapangan balai kota, berbalik arah ke kantor pos, + Ayah ~ 117 + +lalu menerabas ilalang di pekarangan perumnas, tersembul +dia di samping warung bakso, masuk ke kompleks polisi, ber- +belok lagi lalu meliuk-liuk di antara nisan kuburan Tionghoa, +lalu masuk lagi ke jalan dan menantang belasan ekor anjing +gelandangan di pasar pagi. + + Sambil berlari terpontal-pontal dikejar anjing, dia me- +nengadah ke langit dan bertanya kepada Tuhan, mengapa +Tuhan menciptakan satu manusia bernama Marlena di dunia +ini dan mengapa dia harus menanggung rindu yang pahit ke- +pada perempuan itu. Pertanyaan yang tak terjawab itu mem- +buatnya berlari macam orang sakit ingatan. + + Akhirnya, dia sampai di dermaga. Laut, hanya laut yang +dapat menghentikannya. Demikian saban pagi dia latihan. +meski hujan lebat, meski angin ribut, dia tak pernah berhenti +berlari. Karena Lena dan satu rencana manis dengan hadiah- +hadiah itu, Sabari merasa tenaganya tak terbatas. + + Pada saat perlombaan, Sabari mendapat nomor dada +1231. Dia terkejut. Karena jumlah hari sejak kali pertama dia +melihat Lena saat ujian masuk SMA sampai dia ikut lomba +itu lebih kurang 1231 hari, alias hampir empat tahun. Saat itu +Sabari langsung tahu bahwa dia takkan mudah dikalahkan. + + Benar saja. Sejak start Sabari langsung memelesat. Dia +berlari sejadi-jadinya. Kecepatannya empat puluh kilometer +per jam, melebihi kecepatan musang yang paling sehat seka- +lipun. Dia tak memperhatikan ratusan pelari lain yang ber- +lomba-lomba. Yang dia tahu adalah semakin lama semakin + 118 ~ Andrea Hirata + +banyak penonton di pinggir jalan dan semakin riuh orang +bertepuk tangan untuknya. Tahu-tahu dia sudah menerabas +pita di garis finis. Dilihatnya sekeliling, tak ada pelari lain. +Dinamut, pelari legendaris, yang dijagokan dalam lomba itu, +juara bertahan yang dicurigai banyak pihak punya ilmu pe- +landuk, tak tampak batang hidungnya. Sabari juara. + + Dinamut sangat terpukul akan kekalahan yang tak di- +duganya dari seorang kuli pabrik es. Dengan wajah sembap +dipukulnya dadanya sendiri berulang-ulang, matanya basah, +susah payah bupati membujuknya. + + Ukun dan Tamat kewalahan membawa pulang hadiah +yang banyak. Apalagi, tahun ini ada hadiah bonus, yakni dua +kaleng susu kental manis, pacul, dan alat pembunuh nyamuk +pakai listrik, kejam sekali. + + Sabari tak terlalu peduli dengan namanya yang tiba-tiba +tenar dan fotonya yang terpampang di koran lokal. Dia ha- +nya memikirkan rencana manisnya untuk mengikuti lomba +itu, yaitu mempersembahkan piala dan hadiah-hadiahnya +untuk Lena. + + Dengan menumpang truk, sesuai kemauan Sabari, +Ukun dan Tamat membawa piala dan hadiah-hadiah itu ke- +pada Lena. Bukan main repotnya mereka. Beragam hadiah +bergelantungan di tubuh mereka sehingga mereka mirip pi- +nang yang dipanjat dalam lomba peringatan kemerdekaan. + + Sampailah mereka ke rumah Lena. + “Marlena ...,” kata Ukun baik-baik kepada Lena yang +curiga. + Ayah ~ 119 + + “Sudahkah kau lihat surat kabar?” + “Surat kabar apa?” + “Tak tahukah kau? Sabari sudah jadi orang tenar! Orang +besar! Dia juara maraton!” + “Apa peduliku!? Dia mau jadi juara maraton, mau jadi +juara menulis indah, tak ada urusan denganku!” + “Baiklah, dan Sabari ingin mempersembahkan hadiah- +hadiah ini untukmu. Begitu amanahnya.” + Yang terjadi adalah Lena marah-marah. Diliriknya ha- +diah-hadiah itu, segala lampu petromaks, rantang, gelas, pi- +ring, jam dinding. Tak sudi dia menerimanya. + “Bawa pulang sana! Jangan lupa kau sampaikan pada +Sabari! Teriakkan di telinga wajannya itu keras-keras! Dia itu +sudah majenun!” + Keesokannya Ukun dan Tamat kembali ke Tanjong +Pandan. Mereka mengembalikan semua hadiah itu kepada +Sabari sambil mengatakan bahwa Marlena tak mau mene- +rimanya. Lalu, Ukun bangkit dan bersorak sekeras-kerasnya +dekat telinga Sabari, “Lena berpesan pula agar aku tak lupa +meneriakkan di telinga wajanmu! Bahwa kau sudah ma- +jenun!” + +Berakhirlah bab maraton dalam hidup Sabari. Kejayaan itu +tiba begitu cepat, lalu lenyap sekedip mata. Bak bintang jatuh, + 120 ~ Andrea Hirata + +tanpa dia benar-benar sempat menyelami spiritualitas lari ja- +rak jauh itu. Namun, tak sedikit pun surut semangatnya untuk +melupakan Lena, sekuat semangatnya untuk mendapatkan- +nya. Cinta memang sangat membingungkan. + + Semula Ukun menduga apa yang terjadi dengan Sabari +dulu hanyalah euforia anak SMA, tetapi seiring waktu, Sabari +semakin terpaku kepada Lena. Inikah yang disebut orang cin- +ta sejati? + + Sabari kerap melihat dirinya di depan kaca lalu me- +ngumpulkan seluruh tenaga alam semesta, dan dia berkata +dari dalam perutnya bahwa mulai hari itu dia takkan lagi +memikirkan Lena. Namun, baru saja berjanji kepada diri- +nya sendiri, jika dia mendengar sedikit saja Ukun atau Tamat +menyebut nama Marlena atau sesuatu yang berbunyi seperti +Marlena, misalnya terlena, terkena, berkelana, terpana, bercelana, me- +lamar, markisa, periksa, penyuluhan, pegadaian, pembangunan, telinga +lambing Sabari langsung berdiri, gerak geriknya seperti dia +ketinggalan sesuatu di sebuah tempat. + + Jika Ukun salah bicara sedikit saja soal Marlena, dia ter- +singgung dan menjadi dramatis. + + “Aku tadi melihat Marlena, lagi antre minyak solar.” + “Siapa katamu, Kun? Marlena? Di mana?” Sabari me- +lompat dari bangku, bergegas mau menyambar sepeda. + “Ai, maaf, Ri, maksudku Mahmudin, bukan Marlena.” +Sabari berbalik. + Ayah ~ 121 + + “Hati-hati kalau bicara, Kun! Banyak orang masuk pen- +jara gara-gara saksi salah menyebut nama! Lain waktu teliti +dulu baru bicara!” + + “Baiklah, Ri, nanti kuperiksa dulu.” + “Apa katamu? Marlena?” + Setiap Sabtu sore Sabari menghabiskan waktu di taman +balai kota karena kata orang Sabtu sore Marlena dan sekong- +kol-sekongkolnya suka nongkrong di taman balai kota. Se- +perti ketika masih SMA dulu, Ukun dan Tamat gemas, benci +sekaligus kasihan dengan Sabari. Adakalanya Ukun mengan- +cam, “Jiwamu sudah dikecoh cinta. Waspada, Ri, bisa-bisa +kau kena gangguan jiwa, masuk Panti Amanah pimpinan +Doktoranda Ida Nuraini!” + Sabari pucat. Itulah yang paling ditakutkannya. + “Mau?!” + “Tidak mau, Kun.” + “Maka, perbaiki dirimu! Lihatlah, Lena telah membuat- +mu opsedon!” + Barangkali maksudnya up side down, jungkir balik. + “Baiklah, Kun.” + “Kalau masih kau sebut-sebut nama perempuan itu, ku- +laporkan kau sama Doktoranda Ida Nuraini!” + “Jangan, Kun.” + “Mulai sekarang hapus nama perempuan itu!” Sabari +ragu, Ukun geram. + “Hapus nama perempuan itu!” Ukun tak main-main. + 122 ~ Andrea Hirata + + “Akan kuhapus, Kun.” + “Tekadkan niatmu!” + “Aku bertekad, Kun.” + “Janji?!” + “Janji, Kun.” + Sabari tampak muak kepada dirinya sendiri, wajahnya +penuh tekad. Dia ingin menyudahi dominasi Marlena dalam +hidupnya. + “Buang puisi-puisi konyol itu!” + “Akan kubuang!” + “Hancurkan fotonya!” + “Akan kubumihanguskan!” + “Jangan biarkan seorang perempuan membuatmu ter- +lena!” + Sabari terpaku. + “Apa katamu? Marlena ...?” + Puisi + +MESKI tak henti-henti mencemooh Sabari, kisah cinta Ukun +dan Tamat juga sesungguhnya tak seindah kisah cinta dalam +sandiwara radio. + + Sejak dulu Ukun menyukai banyak perempuan. Namun, +perempuan yang tidak menyukainya lebih banyak lagi. Waktu +masih SD, dia suka sama Sita, Mawar, Anisa, Laila, Nurma- +la, Aini, Indra, Deli, Lili, Mumun, Nizam, Latifah, Salamah, +Fatimah, Hasanah, Sasha, Zasa, Zaza, dan Shasya. Sampai +sekarang pun dia masih suka, dan hanya dia yang suka, orang +lain tidak. + + Ukun melirik Mbak Yu, tukang jamu gendong yang suka +berjualan jamu di muka bank BRI. Sayangnya Mbak Yu ku- +rang respons. Jika berbicara dengannya, Ukun komat-kamit +sendiri. Mbak Yu sibuk mencampur jamu. + + Ukun beralih ke Yuyun, penjaga kebun binatang. Te- +rang-terangan Yuyun bilang bahwa dia tak mau pacaran de- + 124 ~ Andrea Hirata + +ngan lelaki yang wajahnya macam penjahat dalam pelem Si +Buta dari Gua Hantu. + + “Aku mengerti perasaanmu, Yun,” Ukun pasrah. + Ukun melirik lagi seorang perempuan yang suka duduk +sendiri di taman balai kota. Perempuan itu berparas lumayan, +kulitnya bersih. Rambutnya lebat. Pakaiannya seperti sera- +gam pegawai PDAM. Dia pendiam, tetapi selalu tersenyum. +Ukun tak jadi mendekatinya karena curiga. + Soal Tamat adalah pelik. Dia dinamai Tamat oleh ayah- +nya dengan satu maksud agar menamatkan perguruan tinggi +dulu baru berkenalan dengan perempuan. Kesulitan ekono- +mi membuatnya tidak bisa kuliah dan sekarang ayahnya te- +lah meninggal sehingga tak bisa dimintai pendapat. Dia mau +menganulir pesan ayahnya, tetapi takut kualat. Tamat serba- +salah. Yang bisa dilakukannya hanya menunggu wangsit atau +tanda-tanda yang menunjukkan bahwa ayahnya memberi +restu kepadanya untuk pacaran. + Ukun tak patah semangat. Berbagai cara sudah dicoba, +tetapi cinta belum berpihak. Usia bertambah, dia gelisah. +Kata orang, untuk melipur sial asmara, dia harus ke pantai +barat pada Februari untuk melihat saat langit menjadi biru. Ko- +non, jika bisa menahan napas selama langit menjadi biru itu, jo- +doh akan enteng. Ukun tak pernah percaya dengan dongeng +kampung itu. + Ayah ~ 125 + +Tiada jeda dirundung derita cinta sebelah mata, Sabari mulai +suka bicara sendiri. Ukun dan Tamat cemas. + + “Terlalu sentimental.” Begitu pendapat Tamat tentang +Sabari. + + “Sikapmu itu merupakan kombinasi antara gizi buruk +dan terlalu banyak membaca novel, berbahaya, bisa berla- +rut-larut. Untuk menyelesaikannya harus ditempuh satu cara +yang ekstrem, yaitu berkenalan dengan perempuan lain.” + + Ukun menggeleng-geleng kagum sambil menatap Ta- +mat. + + “Mengapa kau bisa begitu cerdas, Boi? Padahal, waktu +kita kecil dulu kau bebal minta ampun.” + + “Aku pun tak tahu apa yang terjadi denganku, Kun, seti- +ap bangun pagi aku merasa semakin cerdas!” + + Ngomong-ngomong, berkenalan dengan perempuan lain +sangat dihindari Sabari. Memandang artis India di baliho +film di Bioskop Serodja saja sering membuatnya merasa telah +mengkhianati Lena (siapa bilang Sabari obsesif ?). + + “Diam-diam, kau sudah kukenalkan dengan tukang +jamu gendong yang suka berjualan di muka bank BRI, ber- +minatkah kau, Ri?” + + Sabari menggeleng. + “Kuceritakan soal kau padanya. Kubilang jangan terke- +jut kalau berjumpa denganmu, sebab kau jelek sekali. Tapi, +kubilang juga hatimu baik, pintar membuat puisi, dan sudah +punya pekerjaan tetap di pabrik es. Dia tersenyum, Ri! Dia +putar-putar cincinnya!” + 126 ~ Andrea Hirata + + Sabari menggeleng. + “Mbak Yu, kataku,” Ukun menggambarkan pembicara- +annya dengan Mbak Yu, “selama lampu PLN masih sering +mati, lelaki tampan dan jelek tak ada bedanya! Dia tertawa, +Ri! Ai, berderai-derai tawanya, Boi!” + Ukun pun tertawa, Tamat tertawa, Sabari menggeleng. + “Dari gerak lakunya, aku tahu dia tertarik!” + Sabari menggeleng-geleng. + “Kau tahu artinya kalau perempuan memutar-mutar +cincinnya?” tanya Tamat. Sabari menggeleng. + “Itu artinya dia ingin tahu!” + “Begitukah?” + “Ya.” + “Kau tahu artinya kalau pria memutar-mutar cincin- +nya?” tanya Tamat lagi. + “Tidak.” + “Artinya tunggulah kehadiran pria itu di pegadaian.” + Ukun tertawa, Tamat tertawa, Sabari menggeleng. + Dan, berkenalanlah Sabari dengan Mbak Yu. Namun, +hanya sebentar sebab hampir muka Sabari kena siram jamu +kuat lelaki rasa jahe lantaran berulang-ulang memanggil tu- +kang jamu itu Marlena, padahal namanya Suminem. Kalau +diselidiki secara saksama melalui ilmu linguistik, memang su- +sah melihat kemiripan antara dua nama itu. Dalam kaitan itu, +ke-muntab-an Mbak Yu sangatlah bisa dimaklumi. + Melalui Ukun juga, Sabari berkenalan lagi dengan Yu- +yun, penjaga kebun binatang kabupaten di bagian hewan + Ayah ~ 127 + +merayap. Yuyun juga jengkel sebab Sabari tak henti-henti +bercerita bahwa Lena punya tas plastik bermotif kulit buaya. +Mereka putus. Pada atasannya, Nuraini, dia minta dipindah +ke bagian unggas. + + Akhirnya, Ukun mengenalkan Sabari dengan seorang +perempuan yang suka duduk sendiri di taman balai kota, ber- +pakaian rapi seperti mau ke kantor, jarang bicara, tetapi sela- +lu tersenyum. Sabari menemui perempuan itu. Hampir dua +jam Sabari bercakap terus, mulai soal musim sampai soal cara +menambal ban sepeda dengan getah pohon karet. Perempu- +an itu tak bicara sepatah kata pun, tidak mengiyakan, tidak +menidakkan, tidak membantah, tidak juga setuju, tidak benci, +tidak juga suka. Dia hanya tersenyum-senyum. Sabari curiga. + +Saban hari Sabari menanti keajaiban. Misalnya, ada seseo- +rang dari Belantik tergopoh-gopoh datang kepadanya dan +berkata bahwa Lena rindu kepadanya. Sampai tak bisa tidur +gara-gara rindu itu. Atau datang sepucuk surat dari Lena, da- +lam surat itu Lena menulis bahwa setelah sekian lama waktu +berlalu baru dia teringat akan kejadian waktu ujian masuk +SMA dulu, dan betapa dia berterima kasih serta jatuh hati +kepada pemuda tampan yang membuat nilai ujian Bahasa +Indonesia­-nya 10 itu, sehingga dia diterima di SMA. + + Akan tetapi, surat-surat semacam itu tak pernah datang. +Karena itu, Sabari menulis surat yang indah, memasukkan- + 128 ~ Andrea Hirata + +nya ke amplop, membawanya ke kantor pos, menempelinya +prangko kilat, dan mengirimkannya, kepada dirinya sendiri. +Ukun tahu kelakuan sinting Sabari itu. + + “Mengapa, Ri? Mengapa Lena? Mengapa seakan tak +ada perempuan lain di dunia ini?” + + “Aku pun tak tahu, Boi. Kalau melihat Lena, aku merasa +seakan sayap-sayap tumbuh di bawah ketiakku.” + + Karena sikap Sabari yang keras kepala, Ukun dan Ta- +mat jengkel. Mereka tak mau mendengar soal Sabari dan +Lena. Tanpa tempat mengadu, Sabari hanya mengadu pada +puisi. Jika dia rindu kepada Lena, berlembar-lembar puisi di- +tulisnya. + + Rindu yang kutitipkan melalui kawan + Rindu yang kutinggalkan di bangku taman + Rindu yang kulayangkan ke awan-awan + Rindu yang kutambatkan di pelabuhan + Rindu yang kuletakkan di atas nampan + Rindu yang kuratapi dengan tangisan + Rindu yang kulirikkan dalam nyanyian + Rindu yang kusembunyikan dalam lukisan + Rindu yang kusiratkan dalam tulisan + Sudahkah kau temukan? + Amiru +dan Kantor Gadai + +AMIRU telah menghabiskan waktu yang berharga untuk +balap sepeda itu. Dia yakin akan menang, paling tidak juara +ketiga, tetapi mendaftar lomba saja tak boleh. Dia semakin +gelisah karena hanya tinggal tiga minggu siaran radio yang +ditunggu ayahnya itu akan mengudara. Pedih hatinya meng- +hitung jumlah uang yang ada padanya. Meski telah bekerja +keras, jumlahnya jauh dari sejuta enam ratus ribu. + + Amiru tak mau menyerah demi ayah dan ibunya. Dia +meminta pekerjaan apa saja, dari siapa saja, di mana saja, +bahkan pekerjaan yang orang dewasa sendiri berat menger- +jakannya, misalnya menggali sumur atau menjadi kuli harian +menambal jalan raya. + + Sabtu itu, pagi-pagi benar dia ke pasar. Kabut belum +beranjak dari pucuk ilalang. Dalam hati dia berdoa mudah- +mudahan mendapat banyak pekerjaan hari itu. Mudah- +mudahan banyak orang berbelanja dan memerlukan ban- + 130 ~ Andrea Hirata + +tuannya untuk memanggul belanjaan. Namun, hingga siang +berdiri menunggu, tak seorang pun memerlukan bantuannya. + + Hampir tengah hari, panas, Amiru haus dan lapar. Bu- +nyi trompet tukang es membuatnya semakin haus. Nun di +sana dilihatnya bus mini berhenti di depan sebuah toko. Dari +bus itu keluar gadis-gadis muda bertopi lebar, berkacamata +hitam, berkaus tipis, bercelana pendek. Mereka adalah turis, +dan mendadak Amiru terpikir akan sesuatu. + + Dia pergi ke toko itu. Kakak-kakak penjaga toko suvenir +itu telah dikenalnya. Kata mereka, juragan toko itu menerima +siapa pun yang mau bekerja membuat suvenir. Upahnya ber- +dasarkan jumlah suvenir yang dibuat. + + Amiru melonjak. Dia telah menemukan pekerjaan yang +ditunggu-tunggunya. Siang itu pula dia langsung bekerja. Da- +lam satu jam dia bisa membuat dua puluh gantungan kunci, +padahal pegawai yang sudah lama bekerja di situ jarang da- +pat membuat lebih dari sepuluh. + + Amiru pulang mengayuh sepeda sambil bersiul-siul. Se- +nin nanti sekolahnya mulai libur, dia dapat bekerja seharian. +Benar kata ayahnya, malaikat-malaikat turun untuk melihat niat +yang baik. + + Amiru menghitung, jika dalam sehari dia bisa membuat +tiga ratus gantungan kunci, jumlah upahnya tepat pada hari +siaran radio yang ditunggu ayahnya nanti, akan cukup untuk +menebus radio ayahnya di kantor gadai. + + Amiru bekerja dengan kecepatan yang membuat jura- +gannya tercengang. Tak pernah ada orang bekerja sekeras + Ayah ~ 131 + +Amiru. Pada hari pertama dia tak bisa mencapai angka tiga +ratus, tetapi hari-hari berikutnya dia melampauinya. + + Membuat gantungan kunci meliputi pekerjaan memo- +tong, mengikir, melubangi, dan mengasah berbagai benda, +mulai dari tempurung kelapa sampai pelat besi. Amiru me- +ngerjakan semuanya dengan cepat dan teliti. Jari-jarinya me- +lepuh. Tangannya penuh balutan plester. + + Pada hari siaran radio itu, diam-diam Amiru mengambil +kuitansi gadai. Usai bekerja sepanjang siang dan menerima +upah terakhir, langsung dia ngebut bersepeda ke ibu kota ka- +bupaten. + + Angin kencang melawan laju sepeda sehingga kancing- +kancing bajunya terlepas. Berkali-kali dipegangnya tas yang +disandangnya, untuk memastikan uang hasil kerja kerasnya +masih ada di situ. Senyumnya tak henti mengembang karena +membayangkan apa yang akan dialami ayahnya nanti ma- +lam. + + Akhirnya, dia sampai ke kantor gadai. Diparkirnya sepe- +da lalu berjalan menuju pintu masuk. Kasir terkejut melihat +uang-uang kertas yang kumal dan segunung uang logam di- +tumpahkan anak kecil itu ke atas meja. + + “Maaf, Ibu, kalau aku tak salah hitung, semuanya sejuta +enam ratus ribu rupiah, jika kurang, kabari aku, jika lebih, +biarlah, kelebihannya kusumbangkan pada negara.” Amiru +tersenyum sambil menyerahkan kuitansi gadai. + + Ibu kasir terpana melihat jari-jarinya terbalut plester. +Diamatinya lengan Amiru yang keras, urat-uratnya bertim- + 132 ~ Andrea Hirata + +bulan. Lengan itu seharusnya bukan lengan anak kecil, itu +lengan orang dewasa, kuli kasar. + + “Kau mau menebus radio?” + “Iya, Bu, radio ayahku.” + Ibu kasir segera tahu apa yang telah dialami anak kecil +di depannya, untuk menebus radio ayahnya. + “Ayahmu senang mendengar radiokah, Bujang?” + “Senang sekali, Bu.” + “Kau bekerja untuk menebus radio ayahmu, ya?” + Amiru tersenyum. + “Bekerja apa?” + Amiru tersenyum lagi. + “Aku pun senang mendengar radio.” Ibu kasir terharu. +Mungkin dia punya anak seusia Amiru. Dibawanya kuitan- +si itu ke ruang di belakang. Tak lama kemudian dia kembali +membawa sebuah radio. Amiru gemetar. + Ibu menyerahkan radio itu, Amiru langsung menyam- +bar dan memeluk radio itu. Tak hirau dia akan orang-orang +yang heran. Ibu terhenyak karena haru. + Amiru bergegas ke tempat parkir. Diikatnya radio itu +di boncengan sepeda lalu dikayuhnya sepeda dengan cepat. +Sepeda meluncur melewati pasar dan jajaran panjang para +pedagang kaki lima. Amiru tak mau menoleh ke belakang. + Dilewatinya kampung demi kampung dan tibalah dia di +jalan yang panjang. Sepi, hanya padang di kiri-kanan jalan. +Amiru melepaskan tangan dari setang sepeda dan memben- + Ayah ~ 133 + +tangkan tangannya lebar-lebar. Angin menerpa wajahnya. +Dia menoleh ke belakang dan tersenyum melihat radio itu. +Radio itu pun tersenyum kepadanya. + + “Maafkan aku, Mister Phillip, lama sekali baru menjemputmu.” + “Ah, tak apa-apa, Amiru.” + “Mencari pekerjaan susah, hanya orang sekolah tinggi yang dapat +pekerjaan.” + “Aku mengerti, tapi aku tahu, kau pasti datang menjemputku.” + Malam itu, azan Isya sambung-menyambung dari surau +ke surau, setelah itu tak terdengar lagi suara. Kampung sepi, +lalu senyap. + Malam merayap, semakin senyap. Amiru terbaring me- +natap langit-langit kamar, tergeletak lemah dan lelah, seakan +tulang belulangnya telah patah, tetapi telinganya terpasang. +Tegang dia menunggu pukul 9.00 malam tiba. Itulah saat si- +aran yang sangat ditunggu ayahnya. + Tak berkedip Amiru menatap detak jarum panjang di +jam dinding, setiap detik bak sehari. Akhirnya, pukul 9.00 +malam tiba. Terdengar langkah ayahnya menuju radio. Be- +berapa saat lenyap lalu perlahan menguar bunyi kemerosok. +Oh, betapa Amiru merindukan bunyi itu. + Melalui celah dinding papan, Amiru melihat ayahnya +memutar-mutar tombol tuning lalu hinggap di siaran RRI. +Lagu Kebangsaan “Indonesia Raya” berkumandang. Amiru +tersenyum melihat ayahnya bangkit dan berdiri tegak. + 134 ~ Andrea Hirata + + Amiru kembali berbaring. Setelah Lagu Kebangsaan, +akan mengudara siaran yang ditunggu ayahnya itu. Berde- +bar-debar dada Amiru menunggu detik-detik siaran. Tak +lama kemudian terdengar suara penyiar: + + Para pendengar yang budiman, di mana pun Anda berada di se- +luruh pesolok Tanah Air, sekali merdeka, tetap merdeka, inilah Radio +Republik Indonesia brrrhhhbbb ... nguing ... pukul sepuluh pagi waktu +setempat, pukul ... nguing ... berebhhh ... dengan bangga kami udarakan +kunjungan Lady Diana ... nguing ... Nepal ... nguinggg ... oh anggun +sekali, memakai ... di ... dunia ... srok ... para pemimpin negara ... anak- +anak melambai ... taaa ... nguing ... Lady Diana ... srok tersenyum ... oh +... nguingg ... nginggg ... nguiiiiiing .... + Saat Langit +Menjadi Biru + +SETELAH hujan lebat, matahari bersinar lagi. Bersama +angin yang tenang, ombak terlempar ke pesisir dalam ben- +tuk gulungan-gulungan kecil, semakin lama, semakin pelan, +semakin lemah, laksana armada yang lelah bertempur di te- +ngah samudra, kalah, lalu pulang. + + Batu-batu granit sebesar rumah, yang telah tertanam di +pesisir sejak masa jura—berarti paling tidak 150 juta tahun— +termangu-mangu. Di punggungnya hinggap beberapa ekor +burung camar, gesit mematuki teritip, ribut berebut sisa-sisa +makanan dan bermain-main dengan bungkus plastik yang +ditinggalkan turis lokal. Sesekali menjerit, nyaring, panjang, +dan sepi. + + Perahu-perahu nelayan yang ditambatkan di dermaga +dimain-mainkan ombak, bunyi mereka saling terantuk me- +nambah sepi. Pohon ketapang menunduk saja. Angin, sang + 136 ~ Andrea Hirata + +laksamana, bahkan tak dapat menggerakkan selembar pun +daunnya. + + Sepasang burung terakup yang tadi kehujanan berteng- +ger malas di dahan pohon santigi. Burung yang berpembawa- +an murung itu tampak semakin melankolis karena sayapnya +basah. Para pegawai warung duduk menatap laut dengan +wajah kuyu, mengutuki hujan dalam hati, bosan seharian me- +nunggu pembeli es kelapa muda yang datang satu-dua, dan +mereka, burung camar dan terakup tadi, serta siapa pun yang +berada di pantai, sama sekali tak menduga sesuatu yang luar +biasa akan terjadi. + + Tiba-tiba langit berubah menjadi biru, pantai menjadi +biru, pasir dan batu-batu menjadi biru. Bahkan, kambing- +kambing di padang dekat pesisir menjadi biru, rumputnya +juga, gembalanya juga. Semuanya biru, megah, memesona, +misterius. + + Sesekali keajaiban alam yang menakjubkan itu terjadi +di pantai barat Belitong. Namun, hanya sekitar Februari dan +hanya sekejap, tak lebih dari satu menit. Menurut para ahli, +fenomena itu—mereka menyebutnya blue moment—terjadi ka- +rena posisi matahari, rotasi bumi, lapisan uap air di udara +setelah hujan, temperatur, pembiasan cahaya, dan hal-hal +yang semakin kujelaskan, kau akan semakin bingung, Kawan, +sebab sebenarnya aku tak begitu mengerti. + + Orang kampung menyebutnya saat langit menjadi biru, +konon telah berusia lebih tua daripada usia umat manusia + Ayah ~ 137 + +dan di dunia ini hanya terjadi di pantai barat itu. Terbitlah +kepercayaan, jika saat langit menjadi biru itu muncul, tahun itu +akan menjadi tahun yang baik. Musim hujan takkan berke- +panjangan, musim kemarau takkan keterlaluan. Timah akan +lebih mudah didapat, ikan lebih gampang dipukat, lada ber- +buah lebat. Dan, ini yang seru, barang siapa yang mampu +menahan napas selama saat langit menjadi biru itu berlangsung, +berarti paling tidak enam puluh detik, akan gampang dapat +jodoh. + + Karena itu, Februari adalah bulan yang paling mende- +barkan bagi para bujang lapuk di kampung kami. Jika Feb- +ruari tiba, berbondong-bondonglah mereka ke pantai barat. + + Sabari tak pernah percaya, tetapi tahun ini dia berniat +ke pantai barat. + + “Apa? Kau juga mau ikut-ikutan ke pantai?” Ukun men- +cibir. + + “Ya, dan harusnya kau dan Tamat juga ikut.” + “Tak sudi!” kata Tamat. “Mengapa kau percaya sama +dongeng?” + “Tapi, ada buktinya.” + “Bukti apa?” + “Karena sering ke pantai barat, Muharam dapat istri +PNS.” + “Itu bukan karena langit menjadi biru, itu karena perempu- +an itu kena tipu Muharam!” + “Mereka yang ke pantai itu adalah orang-orang yang tak +laku!” bentak Ukun. + 138 ~ Andrea Hirata + + “Lihatlah kita-kita ini,” tangkis Sabari. + “Orang-orang yang putus asa karena cinta!” Ukun me- +mihak Tamat. + “Lihatlah kita-kita ini.” + Sahut-menyahut Ukun dan Tamat mencemooh Sabari. + Subuh keesokannya, Sabari menyelam ke dalam tong +berisi air sambil membawa jeriken kosong lima liter. Dia tak +muncul sebelum jeriken itu penuh. Dia melatih diri untuk me- +nahan napas sebab legenda mengatakan, jika ingin harapan +terkabul, harus mampu menahan napas paling tidak enam +puluh detik selama langit menjadi biru berlangsung. + Tentu tiap hari dia jadi bulan-bulanan Ukun dan Tamat. +Sabari tak hirau, tetap tekun berlatih. Setelah berminggu- +minggu dia bisa mengisi jeriken minyak tanah sepuluh liter, +artinya dia mampu tak bernapas hampir selama 150 detik! +Hampir tiga menit, fantastis. Sedikit lagi dia bisa mengalah- +kan anak buaya muara. + Pendamba Cinta + +TANGGAL 1 Februari, pulang kerja, Sabari langsung berse- +peda ke pantai barat. + + Bukan main terkejutnya dia melihat keramaian di sana. +Orang-orang datang dari berbagai penjuru kampung, bahkan +ada yang datang dari pulau-pulau sekitar Belitong. Mereka +datang naik perahu, naik sepeda, naik motor, dan menyewa +bus. + + Merekalah para pendamba cinta, pria maupun wanita. +Ada yang telah diperlakukan dengan buruk oleh cinta, ada +yang memupuk harapan untuk memulai babak baru dalam +hidupnya, dan yang mengais semangat untuk mencoba ke- +sempatan kedua. Semuanya berharap jodoh, tetapi Sabari +hanya mau jodoh yang khusus, yaitu Lena. Hanya Lena. + + Sayangnya saat langit menjadi biru tidaklah terjadi setiap +tahun. Sebulan penuh selama Februari, setiap sore Sabari ke +pantai barat, tak terjadi apa-apa di sana. Pada hari terakhir + 140 ~ Andrea Hirata + +Februari dia melihat senja yang megah. Warna merah dan +jingga pecah di angkasa. + + Malam pertama Maret, Sabari tak bisa tidur. Semua +upaya untuk mendapatkan dan melupakan Lena telah gagal. +Akankah nasibnya berakhir seperti nasib Florentino Ariza? +Harus menunggu 52 tahun baru mendapat cinta Fermina +Daza. Sabari miris. Marlena telanjur lekat dalam benaknya +seperti nyawa lekat pada tubuhnya. Dipertimbangkannya se- +buah rencana terakhir, akankah gagal lagi? + + Malam kian larut. Sabari memegang pensil. Dadanya +sesak. Dia rindu kepada Lena. + +Setelah menimbang segala hal, akhirnya Sabari memutuskan +untuk menempuh rencana terakhir itu. Orang-orang bisa +menduga dia mau bunuh diri karena tak sanggup menang- +gung durjana cinta, oh, tidak, tidak ada sifat-sifat berkecil hati +seperti itu dalam diri tokoh kita. + + Rencana terakhir itu adalah dia akan pulang ke Belan- +tik lalu melamar kerja di pabrik percetakan batako punya +Markoni, ayah Marlena, yang dia tahu pabrik itu berada di +samping rumah keluarga Markoni. Maksudnya, meski hanya +melihat sandal jepit Lena yang sudah putus, jauh lebih baik +ketimbang dia tinggal jauh di Tanjong Pandan dan menderi- + Ayah ~ 141 + +ta setiap hari disiksa rindu. Sudah kukatakan kepadamu, Ka- +wan, tak ada sifat-sifat berkecil hati dalam diri Sabari. + + Sabari senang bekerja di pabrik es. Juragan dan kawan- +kawan sesama kuli sudah seperti saudara baginya. Maka, +secara bersungguh-sungguh, sebagai satu sikap hormat dan +sayang kepada mereka, dia membuat tiga lembar surat peng- +unduran diri, yang bolehlah dikatakan amat puitis. + + Meski tak sekolah + Tapi kambing bangun pagi + Sapi bangun lebih pagi lagi + Dengan penuh kerendahan hati + Aku Sabari bin Insyafi + Menulis surat ini untuk mohon diri + + Begitu perihal dalam suratnya. Dikatakannya pula da- +lam surat itu bahwasanya pekerjaan di pabrik es telah mem- +berinya pencerahan dan satu cara pandang yang berbeda me- +ngenai manusia sebagai ciptaan Tuhan yang Agung. + + Bahwa es bukanlah sekadar benda biasa, tetapi juga ber- +jasa dalam mengurangi penderitaan ikan-ikan yang meregang +nyawa dengan mata memelotot di pasar ikan sana. Bahwa es +sudah ada dalam peri kehidupan manusia sejak mula pera- +daban. Bahwa es bukanlah sekadar benda mati yang dingin +jika disentuh, melainkan sebuah benda besar faedah yang ba- +nyak sekali membuka lapangan kerja bagi orang susah. Bah- + 142 ~ Andrea Hirata + +wa tak terbilang banyaknya kebaikan, prestasi, dan pemikiran +cemerlang umat manusia dihasilkan saat sedang duduk sendi- +ri sambil minum teh. + + Dan tahukah kau, Kawan, apa yang ada dalam teh itu? + + Sabari bertanya secara retorik dalam suratnya. + + Tahukah? + Es. + Itulah benda yang ada di dalam gelas teh itu. + Es, tak lain tak bukan, es. + Oleh karena itu, menurut hematku, para pemilik pabrik es dan +karyawannya adalah orang-orang yang disayangi Tuhan. + + Sabari mengakhiri surat dengan satu puisi. + + Persahabatan kita indah tak terperi, sehingga rembulan menjadi iri + Salam tangan memeluk badan (karena dinginnya gudang es) + Dalam dekapan rindu, kawanmu selalu, + S, dan A, B, R, dan I + + Tentu berat juragan melepas pegawai yang berseni ting- +gi, pintar berpuisi, jujur, rajin, dan penyabar. + + “Mengapa harus berhenti, Ri?” + “Karena saya ingin memulai hidup baru, Nya.” + Ayah ~ 143 + + “Oh, mau menikah?” + Sabari tersipu. + “Kurang lebih begitulah, Nya.” + “Susah mencari pegawai macam kau, Boi, tapi kalau +mau menempuh hidup baru, apa hendak dikata. Itu lingkar- +an nasib, tak dapat dihalangi, takdir, aku maklum, maklum +sekali.” + “Terima kasih, Nya.” + “Siapakah perempuan yang berbahagia itu?” + “Beruntung, Nya.” + Nyonya agak bingung. + “Maksudnya?” + “Saya yang berbahagia, dia yang beruntung.” + “Oh, ojeh, maksudku, siapakah perempuan yang berun- +tung itu?” + Sabari tersipu lagi. + “Namanya Marlena, Nya.” + Wawancara + +HANYA sehari setelah mengundurkan diri dari pabrik es di +Tanjong Pandan, Sabari telah berada di Kelumbi, tepatnya +di kantor Markoni. Bukan satu-dua orang yang mengingat- +kan tokoh kita itu soal watak Markoni, bahwa dia memang +orang jujur, tetapi berkepala batu, pemberang bukan buatan. +Kalau bicara sekehendak mulutnya. Ungkapan bahwa kata- +kata tidak meminjam, cuma-cuma, dan barang siapa yang +banyak bicara akan selamat dapat dilihat dalam diri Marko- +ni. Namun, Sabari tak gentar. Kiranya satu batalion tentara +Napoleon pun tak dapat menghalangi langkahnya menuju +Marlena. Menghadapi Markoni, Sabari sadar betul bahwa +dia memasukkan kepala bola bekelnya itu ke mulut singa. + + “Apa maksud kedatangan Saudara?!” tanya Markoni. + “Mencari kerja, Bang.” + “Pertama-tama!” Tak ada angin tak ada ombak, Marko- +ni langsung naik tensi. “Saudara datang ke sini mencari kerja, + Ayah ~ 145 + +jangan pernah lupakan itu! Bahwasanya, bukan saya, Marko- +ni, yang mengajak Saudara bekerja! Tapi, Saudara sendiri, +yang kampungan ini, menunduk-nunduk datang kepada saya +untuk mencari kerja! Camkan itu! Digarisbawahi itu! Jangan +pernah Saudara lupa, bahwa Saudara yang datang pada saya! +Markoni! Bukan saya yang datang pada Saudara!” + + “Ya, Bang.” + “Kedua!” Suara Markoni makin tinggi. “Saya bukan +abangmu! Saya tidak pernah dilahirkan ibumu! Ibu saya tak +pernah menikah dengan ayahmu, sehingga saya adalah abang +tirimu. Kalaupun itu terjadi, saya tak sudi menjadi abang dari +orang tengik macam Saudara ni!” + “Iya, Ba ... Ba ....” + “Pak! Itulah panggilan sopan santun orang di sebuah +perusahaan yang modern!” + “Iya, Pak.” + Sekarang terungkap mengapa Markoni tadi muntab. + “Nama Saudara?!” + “Sabari bin Insyafi.” + “Kalau menjawab, tegas! Jangan seperti orang kurang +vitamin E begitu!” + “Sabari bin Insyafi!” + “Mencetak batako perlu ketegasan! Sikap pasti, teliti, ce- +pat, waspada, bijaksana, tidak ragu! Orang-orang yang ber- +jiwa lemah dan tidak punya pandangan jauh ke depan tidak +bisa bekerja mencetak batako!” + 146 ~ Andrea Hirata + + “Baik, Pak.” + “Apakah Saudara pernah mendengar kata opportunity?!” + “Belum pernah, Pak.” + “Opportunity! Artinya, kesempatan emas! Batako saya di- +pakai untuk membangun sekolah. Maka, ini adalah kesempat- +an emas bagi Saudara untuk membuat hidup Saudara yang +tak berguna itu menjadi berguna. Bekerja di pabrik saya ber- +arti membantu pemerintah mencerdaskan kehidupan bangsa. +Jangan Saudara sepelekan itu! Apakah Saudara mengerti apa +yang saya bicarakan ini?!” + “Mengerti, Pak.” + “Asal Saudara?!” + “Belantik.” + “Oh, Belantik!?” Markoni muntab lagi karena teringat +usaha rental alat-alat musiknya yang diperlakukan semena- +mena oleh para musisi amatir dari Belantik. + “Apakah Saudara seorang pemain musik?!” + “Bukan, Pak.” + Markoni tenang sedikit. + “Saudara tahu lagu-lagu?” + “Lumayan, Pak.” + “Lagu apa yang hafal?” + “‘Terajana’, Pak.” + “Saya juga hafal lagu itu. Hafal lagu ‘Minar Com­ +blangku’?” + “Tidak, Pak.” + Ayah ~ 147 + + “Pernah sekolah?” + “Pernah.” + “Ijazah terakhir?” + “SMA.” + “Nilai Matematika di ijazah terakhir?” + “Enam.” + “Saya dulu delapan.” + Siapa yang bertanya? + “Bisa bahasa Inggris?” + “Sedikit.” + “Apa benar kudengar kabar orang Belantik kalau makan +berkeringat kalau bekerja tidak?” + “Benar, Pak.” + “Punya hobi?” + “Punya, Pak” + “Apa?” + “Membuat puisi.” + “Hobi macam apa itu?!” + Sabari tersenyum. + “Kalau melihat muka Saudara, sebenarnya saya tidak +mau menerima Saudara. Tertekan batin saya melihat muka +Saudara.” + Sabari tersenyum lagi. + Sejak itu bekerjalah Sabari di pabrik Markoni. + Kue Satu + +NUN terpojok di Pasar Manggar, di kios jahit Serasi, meneri- +ma jahitan baju lelaki, perempuan, anak-anak, dewasa, baju +tradisi, baju masa kini, Izmi, sang pemilik kios, tahu sepak +terjang Sabari di Tanjong Pandan, dan tahu bahwa dia telah +kembali ke Belantik, demi cinta sebelah tangannya kepada +Lena. + + Setelah Tamat dari SMA, Izmi tak pernah mening- +galkan Belantik. Cita-citanya untuk menjadi dokter hewan +belum mati, hanya pingsan lagi. Namun, dia tetap optimis. +Untuk sementara dia menjadi tukang jahit. Sabari terus men- +jadi inspirasinya. Dia belajar dengan tekun untuk menjadi +penjahit jempolan. Dalam waktu singkat dia menjadi sangat +terampil. Dia adalah Isaac Newton dalam bidang menjahit. + + Tak pernah Izmi berbicara dengan Sabari, bahkan tak +pernah bertegur sapa. Namun, baginya Sabari telah mengu- + Ayah ~ 149 + +capkan banyak hal untuknya, tanpa harus membuka mulut +dan memperlihatkan gigi tupainya itu. + + Sesekali Izmi mengunjungi Zuraida, yang dulu bercita- +cita menjadi pramugari dan sekarang menjadi tukang kue +satu. Selalu ditanyakannya kabar Sabari dan terpana Izmi +mendengar kisah hidup lelaki bak sandiwara radio itu. Kalau +ada orang di dunia ini yang dapat membuatnya menjadi dok- +ter hewan, orang itu adalah Sabari. + + Adapun Sabari sendiri riang sentosa di pabrik batako +Markoni. Dia bekerja sambil bersiul-siul dan bersisir setiap +ada kesempatan. Pekerjaan berat, ringan saja baginya. Si- +kapnya yang polos, periang, auranya yang sangat positif, dan +tingkahnya yang agak eksentrik, telah membawa suasana +baru di dalam pabrik sehingga dengan cepat dia disenangi +rekan-rekan sesama kuli. Kehadirannya membuat pabrik per- +cetakan batako meriah. + + Sabari begitu gembira, apakah lantaran dia menerima +upah yang besar? Tidak juga. Apakah lantaran dia tiba-tiba +menjadi tampan? Mustahil. Semuanya tak lain tak bukan ka- +rena Lena. Yaitu, sesuai dengan apa yang dibayangkannya +sebelum bekerja di pabrik itu, di sela-sela pekerjaannya, se- +kali-sekali, meski hanya berkelebat sepintas, macam tikus +diuber meong, dia bisa melihat Lena, dan hal itu lebih dari +cukup untuk membuatnya berangkat tidur dalam keadaan +tersenyum simpul, tidur dalam keadaan tersenyum lebar, dan +bangun tertawa. Sebaliknya, Lena yang kemudian tahu Sa- + 150 ~ Andrea Hirata + +bari bekerja di pabrik ayahnya di samping rumah mereka, +dan tahu strategi udang di balik batu yang tengah diluncur- +kannya, memuncak bencinya kepada si Gigi Tupai itu. + + Dalam waktu singkat, Sabari segera hafal sepak terjang +Lena, misalnya pukul berapa dia keluar rumah, pukul berapa +dia pulang, hari apa dia tidak pulang, serta lelaki mana saja +yang mengantarnya pulang. Sabari juga tahu bahwa hanya +berselang sebentar setelah Lena sampai di rumah, pasti me- +letus pertengkaran sengit antara dia dan ayahnya. Teriakan- +teriakan mereka terdengar sampai ke pabrik dan rumah- +rumah tetangga. Semula Sabari terkejut, tetapi karena hal itu +selalu terjadi, lama-lama dia terbiasa. + + Kata Sabari kepada Ukun dan Tamat, setiap pukul 5.00 +sore, dia bersiap-siap di pekarangan pabrik. + + “Rupanya telah terjalin hubungan batin antara aku dan +Lena.” + + “Maksudmu?” + “Kalau kudengar bunyi motor dari jauh, kutempelkan +telingaku ke tanah dan aku tahu berapa motor yang meng- +antar Lena pulang. Aku juga tahu Lena membonceng motor +siapa.” + “Yang benar?” Alis Tamat naik. + “Ya, dengan menempelkan telingaku di tanah aku pun +tahu merek motor yang memboncengkan Lena. Senin, Lena +diantar pria naik motor Honda bebek Super Cub. Selasa, Ya- +maha L2G. Rabu, Kawasaki Binter. Kamis, Honda CG 100. +Jumat, Vespa VX150. Sabtu, sepeda keranjang.” + Ayah ~ 151 + + “Minggu?” tanya Ukun. + “Aku tak tahu.” + “Mengapa tak tahu?” + “Karena aku libur.” + “Oh.” + “Bahkan, aku tahu warna baju yang sedang dipakai +Lena.” + “Hanya dengan menempelkan telinga wajanmu itu ke +tanah?” Tamat mulai jengkel. + “Ya.” + “Mungkin kau bisa tahu berapa liter bensin yang ada da- +lam tangki-tangki motor itu, Ri! Atau kau tahu jumlah uang +dalam dompet Lena.” Tak tahan Tamat mendengar omong +kosong itu. + “Yang jelas lebih banyak daripada jumlah uang dalam +dompetmu, Mat.” + Tamat panas. + “Dapatkah kau tahu bahwa Dra. Ida Nuraini sedang me- +nuju arahmu untuk membawamu ke panti rehab kejiwaan?!” + Sabari tak berkutik. + Biru +Karena Rindu + +LIHAINYA waktu menipu. Tak terasa setahun cincai. Sabari +telah bekerja di pabrik Markoni. Pulang kerja, dia senang +karena kembali ke kebiasaan lama, yaitu mendorong kursi +roda ayahnya, keliling kampung, saling berkisah, menyitir pu- +isi sambil memandangi matahari terbenam di muara Sungai +Lenggang. + + Ayahnya yang berjiwa seni, melihat apa pun selalu terin- +spirasi. Kawanan burung punai melintas menyerbu bakung, +ayahnya berseru: + + Wahai warna-warni yang berkelebat! + Tak sudikah singgah sebentar? + Hinggap di hatiku yang biru + Mengharu biru karena rindu + Ayah ~ 153 + + Sabari tersipu, dia tahu, ayahnya menyindirnya melalui +puisi, direka-rekanya puisi balasan: + + Wahai Punai yang berkelabat + Terbang-terbanglah terus ke barat + Karena aku sedang ingin sendiri + Sendiri, rindu, indah terperi + + Sabari mensyukuri keputusannya pulang ke Belantik. +Dia merasa jauh lebih gembira ketimbang tinggal di Tanjong +Pandan. Dia senang bisa dekat dengan ayah dan ibunya dan +bahagia bisa melihat Lena, meski Lena selalu bersama orang +lain. Sesungguhnya tak banyak yang diminta lelaki lugu itu +dari hidup ini. + + Sabari menambah kesibukan dengan memelihara kam- +bing. Kambing-kambing itu adalah bantuan pemerintah +untuk orang melarat. Jadilah dia peternak kecil. Ternyata, +Sabari tak hanya punya bakat terpendam di bidang menulis +puisi, tetapi juga di bidang memelihara kambing. + + Berbeda dari kambing orang lain, kambing dalam na- +ungan, bimbingan, dan pengayoman lelaki penyabar itu lebih +sehat dan cepat hamil. Petugas dari Departemen Peternakan +pusat datang meninjau dan memuji Sabari habis-habisan se- +hingga Sabari merasa celananya kekecilan. Peternak kambing +teladan, kata mereka menjuluki Sabari. Penyuluh tersenyum, +Sabari tersenyum, Menteri Pertanian tersenyum, kambing- + 154 ~ Andrea Hirata + +kambing juga tersenyum. Orang-orang bertanya kepada Sa- +bari bagaimana kambingnya bisa hamil dengan cepat. Ada +saja teorinya, sebagian besar tak masuk akal dan mencakup +hal-hal yang tidak sopan jika ditulis dalam sebuah novel. + + Maka, ironi kembali terjadi dalam hidup Sabari. Dia +yang mengalami paceklik berkepanjangan, kemarau kering +kerontang, dalam hal cinta, tiba-tiba menjadi konsultan as- +mara bagi kaum kambing. Dan, dia sangat menikmati pro- +fesi sampingan itu. Rela dia mendatangi kampung yang jauh +demi membantu seorang peternak. Kenyataannya, setelah +ditanganinya, dia menyebutnya terapi puisi kambing, embek- +embek itu pada hamil. + +Adapun Markoni merasa beruntung telah menerima orang +yang sempat dipandangnya sebelah mata, tetapi ternyata dia +keliru. Sabari ternyata sangat rajin dan berdisiplin. Setiap ta- +hun CV Nuansa Harmoni, punya Markoni, yang bergerak +di bidang konstruksi, khususnya penyedia bahan bangunan, +terkhusus lagi batako berkualitas tinggi, mengadakan acara +penganugerahan penghargaan bagi karyawan teladan. Ta- +hun ini Sabari terpilih. + + Acara digelar di dalam pabrik. Telah disediakan podi- +um di situ. Markoni menghadapi mik. Mik menguik sedikit. +Diberinya kode dengan tangan, sekretaris mendekatinya dan + Ayah ~ 155 + +menyerahkan sebuah map. Pasti berisi naskah pidato. Gaya +Markoni mirip inspektur upacara. + + Markoni meminta Sabari berdiri di sampingnya. + “Seperti telah Saudara-Saudara maklumi, saya Mar- +koni, ayah saya Razak, istri saya Maryati, anak saya empat, +adalah pemilik, sekaligus komisaris, sekaligus direktur utama, +sekaligus direktur operasi, sekaligus mandor kawat di pabrik +ini.” + Puluhan karyawan tertib menyimak. + “Kalau boleh saya minta tepuk tangannya?” + Meriahlah tepuk tangan. Kemudian, semua karyawan +sudah tahu karena selalu terjadi setiap tahun, yakni Markoni +akan berpidato panjang lebar soal perjuangan masa lalunya, +kesialan yang dialaminya akibat durhaka kepada ayahnya, se- +runya dia diuber-uber polisi pamong praja waktu masih jadi +pedagang kaki lima, lalu wajahnya akan terharu mengenang +bahwa di puncak penderitaan hidupnya, dia mendapat ilham +dari melihat anak-anak pulang dari sekolah, kemudian dia +punya pabrik batako, bolehlah disebut sebagai pabrik yang +terpandang di Belitong. Tak lupa bahwa dia telah mendapat +penghargaan dari Dinas Koperasi Daerah sebagai wiraswas- +tawan panutan. + Tak tampak Markoni membaca naskah pidato yang di- +serahkan sekretaris tadi. Maka, tak jelas kertas apakah yang +ada di depannya itu. Pidato setengah jam itu sesekali diselingi +kalimat, “Kalau boleh saya minta tepuk tangannya?”. + 156 ~ Andrea Hirata + + Tepuk tangan meriah lagi. + “Kesimpulannya, pertama, dengar baik-baik nasihat +ayahmu. Kedua, pabrik batako kita ini adalah tulang pung­ +gung pembangunan sekolah. Maka, buatlah batako yang kuat, +liat, tangguh, macam kawan kita kuli mentah Sabari ini.” + Sabari tersenyum bangga. + “Ketiga, juga seperti Sabari, jujur! Jangan kau kurangi +takaran semen jika mencetak batako. Batako kita harus ta- +han gempa bumi minimal tujuh skala Richter. Kalau kau cu- +rang, akibatnya bisa fatal. Sekolah bisa roboh, murid-murid +dan guru-guru yang mulia bisa celaka. Biarlah orang-orang di +luar sana makmur sentosa karena mencuri, kita jangan! Meski +susah, kita harus jujur.” + Tepuk tangan bergema lagi. Markoni terkenal keras, +tetapi sangat adil kepada karyawannya, karena itu dia amat +dicintai. + “Cerdik cendekia berkata, kejujuran bermula dari pela- +jaran di sekolah, mereka tak keliru, tapi kurasa perlu ditam- +bah bahwa kejujuran bermula dari kejujuran membangun +sekolah. Apakah kalian para kuli setuju?” + Teriakan setuju gegap gempita. + Markoni memberi kode lagi, sekretaris mendekati dan +menyerahkan sebuah medali. Jauh-jauh di Pangkal Pinang, +Markoni memesan medali besar dengan sepuhan warna ku- +ning, demi mengapresiasi karyawan terbaiknya. + Ayah ~ 157 + + Sabari menunduk takzim waktu Markoni mengalungi- +nya medali. Dia merasa seperti atlet Olimpiade peraih medali +emas cabang loncat indah. Tepuk tangan tak henti-henti un- +tuk tokoh kita itu. + Medali Keemasan + +SEMANGAT Sabari melambung gara-gara penghargaan itu. +Sebagaimana biasa, fokusnya tetaplah Lena. Dengan berba- +gai cara, dia berupaya agar Lena tahu bahwa dia telah terpi- +lih sebagai karyawan teladan. + + Kepada sekretaris Markoni, seandainya sempat ngobrol +dengan Lena, Sabari berpesan supaya membawa-bawa bica- +ra soal karyawan teladan tahun ini. Jika lewat di depan ru- +mah Lena, Sabari memakai medali yang besar itu. Melirik +pun Lena tidak. + + Melalui Zuraida, Sabari minta tolong disampaikan ke- +pada Lena bahwa dia adalah karyawan teladan dan telah +mendapat medali yang hebat. + + “Rai, tolong bilang padanya betapa tak mudahnya, be- +tapa ketat persaingan untuk mendapat medali itu. Aku pun +tak menyangka bisa terpilih.” + Ayah ~ 159 + + “Ojeh, Boi.” + “Bilang juga, kalau dia mau melihat medali itu, silakan +saja, dengan senang hati akan kutunjukkan padanya. Tak ada +keberatan sama sekali.” + “Ojeh, Boi.” + Berikutnya, Zuraida pening karena Sabari bertanya te- +rus bagaimana tanggapan Lena soal medalinya itu. + “Belum ada jawaban!” Zuraida jengkel. “Kalau ada ja- +waban, nanti kusampaikan padamu, tunggu saja!” + Seminggu kemudian Zuraida tersenyum kepada Sabari. +Tergopoh-gopoh Sabari menghampirinya. + “Pasti Lena sudah menjawab, ya.” + “Sudah.” + Sabari gugup. + “Apa jawabannya, Boi?” + “Jawabannya, no comment!” + Tak habis akal, Sabari menempuh jalan yang pasti ber- +hasil menarik perhatian belahan jiwanya itu, yaitu, dia sudah +tahu Lena suka lewat jalan sebelah mana di pekarangan ru- +mahnya, dia pun sudah hafal jadwalnya. Diletakkannya me- +dali itu di tengah jalan, seolah-olah telah terjatuh dari saku- +nya. + Sabari bersembunyi di balik pohon mengkudu, berde- +bar-debar menunggu Lena lewat. Namun, yang lewat ter- +bungkuk-bungkuk adalah nenek Lena. Dilihatnya medali itu, +dipungutnya. Bingung dia melihat benda berkilauan, kalau + 160 ~ Andrea Hirata + +tak buru-buru dicegah Sabari, hampir saja nenek melempar- +kan medali itu ke dalam parit. + + Berbagai upaya untuk menarik perhatian Lena soal me- +dali itu telah gagal. Namun, Sabari tak berkecil hati. Tahun +depan dia ingin menjadi karyawan teladan lagi, begitu pula +tahun depannya, dan tahun depannya lagi. Kalau dia bisa +menjadi karyawan teladan selama tujuh tahun berturut-turut, +tak mungkin Lena tak tahu. + +Selebihnya, semua berlangsung seperti sediakala. Sabari +bangun subuh, mengurus kambing, bekerja, merasa berun- +tung jika sekilas saja dapat melihat Lena, pulang, mengurus +kambing lagi, ngobrol dengan ibunya, mendorong kursi roda +ayahnya ke dermaga, saling bercerita dan berbalas puisi sam- +bil menyaksikan matahari terbenam di muara, malamnya du- +duk di beranda, menyaksikan cahaya bulan jatuh di padang +ilalang. Dia merindukan Lena hingga jatuh tertidur sambil +menggenggam pensil. Keesokannya terbangun, dia masih +menggenggam pensil itu. + + Hari berganti minggu, minggu menjadi bulan, lancar +dan tenteram, tak terjadi hal luar biasa sampai suatu hari +Markoni dibisiki Buncai di warung kopi Kutunggu Jandamu, +tentang siapa sebenarnya lelaki buruk rupa, berkening lutung, +bergigi tupai, bernama Sabari itu. + Ayah ~ 161 + + “Waspada, Pak Cik, berbahaya!” + “Maksudmu?” + “Sabari itu leboi cap belacan!” + “Leboi?” + “Istilah masa kini, artinya laki-laki mata keranjang! Tiap +tikungan dia punya pacar! Tak terbilang banyak korbannya!” + “Yang benar kau, Cai.” + “Shasya sampai mau bunuh diri, menceburkan diri di +bendungan, dibuatnya. A Moi hampir minum air aki, untung +ketahuan Baba Liong.” + Terperanjat Markoni. + “Maksud Sabari bekerja di pabrik Pak Cik, sebenarnya +dia mengincar anak bungsu Pak Cik.” + Berdiri bulu tengkuk Markoni. + “Lena?” + “Kecuali Pak Cik punya anak bungsu di tempat lain.” + “Jangan kau sembarang bicara, Cai! Istriku Maryati dan +hanya Maryati. Satu pun aku repot mengurusinya!” + “Tentu Lena, siapa lagi?” + Buncai mendekatkan bangkunya ke Markoni dan berbi- +sik, “Sabari biasa merayu lewat puisi, itulah modalnya. Lihai +sekali dia memakai puisi untuk melampiaskan nafsu hewani- +nya! Dia itu penyalah guna puisi! Waspada, Pak Cik, puisinya +penuh racun!” + Markoni memukul meja. + “Sialan!” + 162 ~ Andrea Hirata + +Tak ambil tempo, keesokannya Markoni langsung mengon- +frontasi Sabari. + + “Ri! Apakah kau tahu maksudku memanggilmu?!” + Kena labrak pagi-pagi, bahkan belum sempat ngopi, Sa- +bari kalang kabut. + “Ti ... tidak, Pak.” + “Apakah kau merasa ada yang salah?!” + Sabari mengamati dirinya sendiri, dari atas ke bawah, +lalu memasukkan bajunya. + “Ini bukan soal baju kulimu itu!” + “Baiklah, Pak.” + “Jadi, kau tak tahu mengapa aku memanggilmu?!” + “Tidak, Pak.” + “Aku memanggilmu karena Lena!” + Sabari kaget. + “Mengapa Lena, Pak?” + “Jangan kura-kura dalam perahu!” + “Baiklah, Pak.” + “Kau suka sama Lena, ya?!” + Sabari kaget lagi, tetapi dengan cepat menguasai diri. + “Ya, Pak.” + “Nah, ketahuan belangmu!” + “Ya, Pak.” + Ayah ~ 163 + + “Kau bekerja di sini karena mau bertemu dengan +Lena?!” + + “Ya, Pak.” + “Tertangkap basah kau!” + “Ya, Pak.” + “Aih, licin sekali muslihatmu ya, sampai terpilih menja- +di karyawan teladan segala. Kau itu serigala berbulu domba, +lihai macam intel Melayu, tapi aku adalah mata-mata KGB! +Aku lebih lihai daripada kau! Kau sangka bisa mengelabuiku, +Boi?!” + “Tidak bisa, Pak.” + “Apa benar kau sering merayu Lena pakai puisi racun- +mu itu?!” + “Aku memang banyak membuat puisi untuk dia, Pak.” + Peringatan Buncai ternyata bukan isapan jempol, Mar- +koni naik pitam. + “Begitu, ya?! Kalau begitu, akan kuusulkan pada peme- +rintah agar membuat kantor yang mengeluarkan izin orang +berpuisi! Lalu, kumintakan tanda tangan penduduk seluruh +Belitong ini agar kantor itu tidak mengeluarkan sertifikat ber- +puisi untuk kau! Agar orang bejat macam kau dapat dihenti- +kan!” + “Ya, Pak.” + Turun-naik dada Markoni karena muntab. Matanya me- +rah macam buah saga, urat-urat leher betonnya bertimbulan, +dan dia heran melihat Sabari yang pasrah saja. + 164 ~ Andrea Hirata + + “Mengapa kau tidak membela diri?! Ayo, Boi! Kita ber- +tengkar! Aku sedang ingin bertengkar! Mana puisi pembela- +anmu?!” + + Sabari menunduk. + “Sebelum minum kopi aku tak bisa membuat puisi, Pak.” + “Oh, ini kopiku!” Markoni mengambil gelas kopi di me- +janya, diberikannya kepada Sabari. “Minum! Minum!” + Sabari mengambil gelas itu dan minum, wajahnya me- +ngerut. “Telalu pahit, Pak.” + Markoni menggeleng-geleng. “Maksudmu, kau tak bisa +membuat puisi karena kopi itu terlalu pahit?!” + Sabari mengangguk. + Markoni mengempaskan tubuhnya ke tempat duduk. +Lama ditatapnya Sabari yang menunduk saja. Dia segera sa- +dar orang seperti apa yang ada di depannya itu. + “Boi, sudah berapa lama kau suka sama Lena?” Nada +suara Markoni turun dua oktaf. + Sabari melirik jam bulat yang tertempel di dinding. + “11 tahun, 5 bulan, 4 hari, 3 jam ... 4 menit, Pak.” + Markoni terpana. + “Apakah Marlena suka sama kau, Boi?” + Sabari tersenyum-senyum simpul. + “Wajar-wajar! Kalau kutinjau-tinjau, wajahmu memang +agak berat, Boi. Muka bulat tak punya dagu, bibir macam +dilemparkan sekehendak hati saja oleh seseorang sambil naik +sepeda, lalu mendarat di bawah hidungmu yang bentuknya + Ayah ~ 165 + +macam tatakan kue kembang itu. Mata sayu menimbulkan +rasa kasihan. Telinga macam telinga wajan, gigi tupai. Maaf, +Boi, semua itu adalah unsur-unsur yang paling dihindari pe- +rempuan dewasa ini.” + + Sabari tersenyum lagi. Hidup ini memang dipenuhi orang- +orang yang kita inginkan, tetapi tak menginginkan kita, dan sebaliknya, +dan Sabari tetap tersenyum. + Konfigurasi + +ADA yang berbeda hari-hari itu, yaitu saban malam Sabari +bermimpi aneh. Dia sedang menyabit rumput di tengah pa- +dang, tahu-tahu dia mendengar suara. + + “Apa kabar, Bang!” + Sabari menoleh ke sekeliling, tak ada siapa-siapa, kecuali +kambing-kambingnya. Ah, dalam hatinya, terlalu banyak me- +lamunkan Lena membuatnya mendengar suara-suara. + “Apakah Abang sehat-sehat saja?!” + Sabari terkejut tak kepalang karena yang menanyakan +kabarnya itu adalah kambing di depannya. Kambing terse- +nyum. Sabari terbangun, bersimbah keringat. + Malam keesokannya dia bermimpi serupa. Namun, kali +ini dia berkawan dengan kambing yang supel itu. Mereka +berkenalan secara baik-baik dan saling bertanya soal keada- +an kawan dan handai tolan. Keesokan malamnya lagi mereka +berdiskusi panjang lebar soal stabilitas politik dalam negeri. + Ayah ~ 167 + + Tak ayal, Sabari berpikir mengapa dia dilanda mimpi- +mimpi yang ganjil itu. Satu firasat yang tak bisa dipastikan- +nya, apakah buruk, ataukah baik, melandanya. + + Adapun keadaan di pabrik biasa saja, di rumah Lena +juga rutin saja, yaitu hampir setiap hari terdengar pertempur- +an sengit Lena versus Markoni. Namun, pertengkaran sore itu +berbeda, yakni disertai bunyi benda-benda pecah. Hal itu tak +pernah terjadi sebelumnya. + + Sabari suka malas berkaca karena sering heran sendi- +ri melihat telinganya yang lebar macam telinga wajan. Hari +ini dia mengerti, untuk keperluan siang inilah mengapa nasib +memberinya bentuk telinga seperti itu. + + Waktu pertengkaran itu meletus, jarak Sabari dengan +TKP kira-kira 75 meter, cukup jauh, tetapi dia tahu Markoni +muntab luar biasa lantaran Lena dengan segala jambalaya as- +maranya akhirnya mengalami semacam peristiwa di luar rencana +dan situasi itu harus segera diatasi sebab nama baik Markoni +dipertaruhkan. Sabari tegang, otaknya berputar cepat, jan- +tungnya berdegup-degup. + + Keributan itu berlangsung berhari-hari karena keputus- +an harus segera diambil. Dan Lena, karena satu dan lain hal +yang kurang sopan dibahas di dalam novel, bingung menetap- +kan keputusan. Ditanyai Markoni, dia disorientasi. Semuanya +begitu gampang diduga, yaitu diperlukan seseorang untuk +menyelamatkan situasi. Selama berhari-hari itu pula Sabari +tak bisa tidur, ketar-ketir dia mengantisipasi apa yang akan + 168 ~ Andrea Hirata + +terjadi. Sekarang dia paham makna mimpi kambing pandai +bicara itu. Tuhan selalu menghitung, dan suatu ketika, Tuhan +akan berhenti menghitung. Inilah saatnya suatu ketika itu. + + Apakah kemudian Sabari ditumbalkan Markoni? Be- +gitukah drama ini berlangsung? Segampang itukah kejadi- +annya? Tidak, sama sekali tidak. Yang terjadi adalah Sabari +menumbalkan dirinya sendiri. Dengan perasaan waswas dia +mendekati seseorang bernama Tabrani. + + “Ni, katakan pada Rosmala, kalau Markoni memerlu- +kan bantuanku, untuk mengawinkan kambing misalnya, aku +siap sedia, seratus persen, jiwa dan raga.” + + Berkerut kening Tabrani. + “Apa maksudmu, Ri? Setahuku, Markoni tak punya +kambing, bantuan apa? Tak paham aku.” + “Aih, janganlah kau panjang tanya. Sampaikan saja, +nanti Rosmala pasti tahu maksudnya.” + Sebelum menemui Tabrani, Sabari sudah bicara dengan +Rosmala. + “Kak, kalau Kakak menerima kabar dari Tabrani, pin- +dah tangankan kabar itu pada Syamsir.” + Sudah barang tentu Rosmala heran. + “Kabar apa, Ri?” + “Aih, janganlah Kakak ni banyak tanya lagi. Sampaikan +saja pada Syamsir. Sebelum dan sesudahnya kuucapkan teri- +ma kasih.” + Ayah ~ 169 + + Sebelum menemui Rosmala, Sabari rupanya juga te- +lah menemui Syamsir dan Safar. Syamsir adalah saudara +tiri Safar. Safar bekerja di kios minyak tanah milik seseorang +bernama Pardi Lihai. Pardi Lihai adalah saudara dua pupu +seseorang bernama Salamah. Salamah tak lain ketua arisan +beras yang berkongsi dengan Mia. Mia berkongsi dengan A +Mung, A Mung berkongsi dengan Jalal, Jalal ada main sama +Narti, Narti berkongsi dengan Arbi, Arbi berkongsi dengan +Mainap. Nah, Mainap ini tak lain saudara sepupu Marko- +ni. Setiap orang itu masing-masing telah diberi amanah oleh +Sabari seperti amanahnya kepada Rosmala. Sasaran tembak +Sabari yang sesungguhnya adalah Markoni. Mengapa Sabari +menggunakan konfigurasi komunikasi yang sangat rumit dan +tidak masuk akal semacam itu? Misteri. Kemungkinan besar +karena dia ingin menyembunyikan taktiknya. + + Ajaib, akhirnya pesan itu sampai ke telinga Markoni. + “Ni,” kata Mainap. + “Apa, Nap,” jawab Markoni. + “Kalau kau mau kawin lagi, Sabari siap menyumbang +kambing untukmu, katanya dia siap seratus persen, siap sedia +jiwa dan raga.” + Karena melalui banyak tangan, boleh jadi pesan itu te- +lah terkorupsi. Dan, bukan main jengkelnya Markoni karena +dia tahu akal bulus Sabari. Dia juga jengkel karena dihadap- +kan pada pilihan yang sulit. Dipalingkan wajahnya ke luar +jendela. Nun di situ, di tengah pekarangan rumah, tanpa sedi- + 170 ~ Andrea Hirata + +kit pun berusaha melindungi diri dari guyuran hujan yang le- +bat, berdirilah lelaki yang telah diabaikan cinta selama sebelas +tahun itu. Dialah pilihan yang sulit itu. + + Siang itu Markoni memanggil Sabari dan menawari- +nya untuk menikahi Lena. Lena ada di situ, duduk membatu +menghadapi meja. Markoni meninggalkan mereka. Sabari +gemetar. Sinar matahari menembus celah tirai keong, terpan- +tul di atas dulang tembaga di tengah meja, tempias menampar +wajah Lena. Tak berkedip Lena menatap lelaki buruk rupa +yang dengan gagah berani telah menumbalkan diri untuknya. + + Si sulung angin mengarak si bungsu awan ke timur. +Awan mengambang dan mengintip ke dapur rumah Marko- +ni melalui terali jendela. Awan takjub melihat seorang lelaki +yang mencintai perempuan di seberang meja itu lebih dari +apa pun di dunia ini, sedangkan perempuan itu membenci +lelaki itu, lebih dari apa pun di dunia ini, dan mereka akan +segera menikah. Cinta sungguh, sungguh ajaib. + Stadium 3 + +WAKTU penghulu membimbing Sabari untuk akad nikah, +baru satu-dua kata penghulu bersabda langsung disambar Sa- +bari. Cepat sekali, macam tukang dadu cangkir menyambar +duit seribu. Sabari mengucap akad sekali saja, cerdas, fasih, +lancar, bahkan lebih lancar daripada penghulu. Ukun terpa- +na dan bertanya bagaimana Sabari bisa begitu hebat. + + “Aku sudah hafal ucapan nikahku pada Lena sejak kelas +tiga SMP,” jawab Sabari dengan tenang. + + Bulu kuduk Ukun merinding. + Sabari bersanding dengan Marlena adalah pemandang- +an paling mustahil yang pernah dilihat Ukun dan Tamat. Se- +mua yang hadir dalam perhelatan yang amat sederhana itu +kiranya sependapat dengan mereka. Acara itu semakin seder- +hana karena hanya sedikit yang datang. Orang-orang yang di- +undang menyangka undangan dari mulut ke mulut itu hanya +kelakar. Hanya bagian dari lelucon yang sudah kerap mereka + 172 ~ Andrea Hirata + +dengar soal cinta sebelah tangan Sabari dan Lena. Maka, me- +reka tak datang. + + Ukun dan Tamat duduk bersanding di bawah hiasan +daun-daun kelapa. Sabari tepat di depan mereka, posisi pukul +12.00. Sulit mereka memahami apa yang terjadi dalam waktu +yang amat singkat. Berkali-kali mereka mengucek mata dan +meyakinkan diri bahwa lelaki berwajah berantakan itu adalah +Sabari, dan perempuan manis bermata indah, berlesung pi- +pit nan dalam macam sumur di kantor polisi lama itu adalah +Marlena. Sebuah anomali, enigma, utopia. + + Sabari gagah dalam baju pengantin Melayu tradisional. +Dia tersenyum terus seolah ada peternakan senyum dalam +mulutnya. Marlena berbaju pengantin sederhana saja. Dia +menunduk, sesekali memandang lurus, kaku, dan dingin, mi- +rip patung Lenin. + + Ukun dan Tamat telah memberondong Sabari dengan +bermacam teori, pandangan, saran, kebijakan, petuah, con- +toh, dan cemooh selama bertahun-tahun, dan semua itu +patah, patah bingkas jadi dua di pelaminan itu. Mereka me- +mandang sekeliling dan tiba-tiba merasa gamang, miris lebih +tepatnya. Hampir tiga puluh tahun usia keduanya, segera ma- +suk bujang lapuk stadium tiga dalam ukuran orang Melayu +udik, seorang pun kenalan perempuan mereka tak punya. + + Kian miris keduanya melihat ke arah pukul 5.00, Ibu +Woeri dan Pak Roeslan Tadjoedin yang duduk berdampingan +di situ adalah guru SMA mereka dulu. Mereka memutuskan + Ayah ~ 173 + +hidup sendiri lantaran prahara cinta masa muda, kini mereka +bujang lapuk stadium empat, lanjut. Tak jauh dari kedua pen- +siunan guru itu ada Wak Doelmasin yang telah membujang +sejak masa Republik Indonesia Serikat. Situasinya sekarang +bujang lapuk stadium terminal. Ulu hati Ukun dan Tamat +ngilu macam disundul-sundul membayangkan nasib mereka +akan berakhir seperti Wak Doelmasin, yang duduk sendiri +saja di bawah untaian janur kuning itu, bersusah payah me- +naklukkan dendeng sapi. + Juru Puisi + +MESTINYA pukul 4.00 sore, Ukun dan Tamat sudah datang. +Jumat puisi, begitu Sabari menyebut pertemuan mereka se- +tiap Jumat sore di warung kopi Solider. Biasanya Sabari me- +nyitir puisi, sekadar menghibur kawan-kawannya, para kuli +tambang, usai seharian membanting tulang. + + Bergabung pula orang-orang kecil lainnya: para peda- +gang kaki lima, tukang reparasi jam, tukang reparasi elek- +tronik, tukang semir sepatu, serta mereka yang menyenangi +puisi. Mereka suka melihat Sabari beraksi. Sesekali mereka +pun membaca puisi. Sabari-lah yang memulai kebiasaan unik +itu. Mereka yang suka obrolan cinta datang ke warung kopi +Usah Kau Kenang Lagi. Yang suka obrolan sepak bola ke wa- +rung kopi Tarmizi dan Anak-Anaknya, sejak 1947. Yang suka +obrolan politik ke warung kopi Respek dan Demokrasi. Yang +suka puisi, ke warung kopi Solider. + Ayah ~ 175 + + Sebenarnya, Tamat ingin segera ke warung kopi, tetapi +dia disemprot majikannya. Belakangan, tepatnya sejak Sabari +kawin, dia sering melamun saat mengipasi satai. Akibatnya, +satai hangus. Dia kena SP 1 (surat peringatan 1). Hal itu da- +patlah disebut skandal sebab Tamat adalah pegawai bermutu +tinggi. Majikan tak habis mengerti apa yang terjadi padanya. +Namun, Tamat mengerti apa yang terjadi padanya, yaitu dia +mau seperti Sabari, dia mau punya istri, itulah penyebab satai +menjadi arang. + + Hal serupa ternyata dialami Ukun. Beberapa pelanggan +mengeluh, kapasitor pompa air mereka meletus gara-gara +voltase dinamo terlalu tinggi. Yang menggulung dinamo itu +Ukun. + + Ukun juga pegawai andalan dengan pengalaman ta- +hunan. Dia tekun, terampil, tak pernah memeleset. Boleh +jadi di seluruh Provinsi Sumatra Selatan dialah yang paling +jago menggulung dinamo. Juragan bertanya dengan lembut +kepada karyawan kesayangannya itu, mengapa pekerjaannya +tidak seperti biasanya. + + “Tegangan dinamo tinggi karena tegangan saya sendiri +tinggi, Pak, sebab saya mau punya bini, Pak,” jawab Ukun. + + Alhasil, Tamat dan Ukun tahu kepada siapa mereka ha- +rus menumpahkan kekesalan atas hidup mereka yang tadinya +tenteram, lalu mendadak kacau balau. + + “Terus terang,” kata Tamat, “dunia ini tak pernah adil!” + 176 ~ Andrea Hirata + + “Setuju!” teriak Ukun. Perlahan-lahan pengunjung wa- +rung kopi merapatkan bangku ke arah mereka. + + “Tengoklah, Kawan-Kawan, nyata-nyata aku dan Ta- +mat lebih tampan daripada Sabari, nyata macam matahari +bulan Juni. Namun, yang dapat istri dia, kami gigit jari, ka- +rena itu aku tersinggung!” seru Tamat disambut gelak tawa. + + “Dari segi pekerjaan, kami tak kalah,” kata Ukun. + “Dari segi upah, apalagi!” + “Apa yang kau bisa dan aku tak bisa, Ri? Apa?!” + Sabari menunduk. + “Semua yang kau bisa, aku bisa, dua kali lebih baik da- +ripada kau!” + “Semua yang aku bisa, belum tentu kau bisa! Coba kude- +ngar, apa yang akan kau katakan sekarang?!” bentak Tamat. + Dipermalukan di muka umum, Sabari menunduk se- +makin dalam. Betapa tega, padahal Ukun dan Tamat ada- +lah sahabat terdekatnya. Namun, kemudian pelan-pelan dia +mengangkat wajahnya. + “Februari sebentar lagi, mungkin sebaiknya kalian ke +pantai barat sana, siapa tahu dapat jodoh!” + Berderai-derailah tawa. + Subuh keesokannya, seperti dilakukan Sabari dulu, +Ukun dan Tamat menenggelamkan diri ke dalam tong berisi +air dingin dengan membawa jeriken kosong. Mereka mela- +kukan sesuatu yang tempo hari bertubi-tubi mereka cemooh, +dan mereka segera timbul dengan bola mata seperti mau me- +loncat. + Ayah ~ 177 + + Sabari mampu menyelam sampai penuh jeriken sepuluh +liter. Nyawa Ukun dan Tamat rupanya lebih pendek. Setelah +berhari-hari berlatih, Ukun hanya bisa mengisi botol kecap. +Tamat hanya bisa mengisi botol kecil minyak wangi sinyong- +nyong. + Ayah +yang Bersembunyi + +RUMAH tangga Sabari dimulai dengan sangat unik. Yaitu +Lena tetap tinggal di rumah orangtuanya dan Sabari di ru- +mah orangtuanya juga. Tak pernah meski hanya sehari, apa- +lagi semalam, Lena tinggal dengan Sabari. + + Tentu Sabari berharap Lena tinggal dengannya, untuk +itu dia membangun rumah sederhana di Jalan Padat Karya, +dekat rumah orangtuanya. Selama bekerja, sejak menjadi kuli +pabrik es di Tanjong Pandan, dia telah menabung. Tabungan +sedikit itulah yang dipakainya untuk membangun rumah. + + Berbulan-bulan Sabari membangun rumah itu dengan +tangannya sendiri. Rumahnya khas Melayu kampung. Sebu- +ah rumah panggung yang rendah, berdinding papan, beratap +rumbia, tetapi istimewa, ada beranda. + + Beranda itu tak sekadar beranda, tetapi sebuah rencana. +Rencana yang manis berlinang madu. Dibayangkannya sete- + Ayah ~ 179 + +lah Lena melahirkan, mereka akan tinggal di rumah itu. Di +beranda rumah itu Sabari akan menggendong si bayi mungil, +mengayunnya dalam pelukan. Jika teringat akan hal itu, mes- +ki tengah malam, dia bergegas ke rumah yang belum jadi itu. +Dikerjakannya apa pun yang bisa dikerjakannya agar rumah +itu cepat selesai. + + Setelah beberapa bulan, rumah kecil itu rampung. Sa- +bari pindah dari rumah orangtuanya ke rumah itu dan tinggal +sendiri. Setiap sore dia duduk di beranda rumahnya sambil +memandangi padang ilalang dan mereka-reka nama anaknya +yang akan segera lahir. + + Jika anaknya lelaki, dia sudah punya pilihan nama: Ta- +bahi, Tekuni, Ta’ati, atau Jujuri. Dicoba-cobanya kepantasan +nama-nama itu. + + “Jujuri, siapakah yang menceburkan sepeda Ayah ke da- +lam sumur?” + + “Aku, Ayah.” + “Oh, tak percuma kau kuberi nama Jujuri, Boi.” + Sabari melihat kiri-kanan, kalau-kalau ada orang meli- +hatnya bicara sendiri. + “Tabahi, apakah kau merasa sedih tidak naik kelas?” + “Tidak, Ayah.” + “Oh, kagum sekali Ayah akan ketabahan hatimu, Boi.” + Kalau anaknya perempuan, Sabari sudah pasti dengan +satu nama saja: Kemasi. Dia ingin anaknya rajin berkemas- +kemas. + 180 ~ Andrea Hirata + +Barangkali, perasaan yang mustahil dilukiskan dengan kata- +kata adalah perasaan orang menunggu kelahiran anak. Sa- +bari disergap perasaan senang yang aneh selama membangun +rumah kecilnya itu sambil menunggu Lena melahirkan. Pera- +saan senang itu kemudian terwujud dalam bentuk lebih tekun +bekerja, lebih menghargai dan lebih sayang pada apa pun. + + Oleh karena itu, dia terpilih lagi sebagai karyawan pab- +rik teladan. Tepuk tangan gemuruh waktu Markoni, untuk +kali kedua, mengalunginya medali. Sabari tersenyum, antara +lain karena tak perlu mengumpulkan tujuh medali untuk me- +narik perhatian Lena, sebab Lena sudah jadi istrinya. Mau +meledak dada Sabari mengenang semua itu. + + Di tengah kegembiraan itulah, sore Minggu itu Sabari +terperanjat melihat ibu mertuanya tergopoh-gopoh menda- +tanginya. Sabari menyongsongnya. Kata ibu mertuanya, di +rumah sedang tak ada siapa-siapa dan Lena harus segera di- +bawa ke klinik karena sakit perut. + + Sabari terpaku macam patung, lalu mendadak dia berla- +ri pontang-panting ke rumah Lena. Sampai di sana disambar- +nya sepeda yang ada. Direngkuhnya Lena, dinaikkannya ke +boncengan seperti menaikkan karung beras enam puluh kilo, +lalu dilarikannya perempuan hamil tua itu dengan cara me- +nuntun sepeda tanpa menyadari bahwa dia akan lebih cepat +jika sepeda itu dinaikinya. Seorang lelaki dengan wajah pa- + Ayah ~ 181 + +nik menuntun sepeda dan seorang perempuan dengan perut +yang besar duduk di boncengannya, terpontal-pontal di atas +jalan berbatu-batu, membuat orang-orang yang melihatnya +terpingkal-pingkal. Apalagi, mereka tahu itu Sabari, yang se- +lalu menjadi bahan tertawaan mereka. + + Sore itu pula, saat angin barat Oktober bertiup kencang +dan matahari menghamburkan cahaya jingga nan bergelo- +ra, pecah di atas langit Belitong, lahirlah bayi lelaki mungil +disertai satu lengkingan hebat bernada F, mirip lengkingan +Soprano Kiri Te Kanawa dalam lagu “I Dreamed a Dream”. +Tak lama kemudian lengkingan itu reda dan makhluk mungil +itu menggerung-gerung macam anak kucing. + + Sabari melirik bayi itu. Napasnya tertahan melihat pipi +dan kening berair-air, hidung mungil dan mulut lembut bak ke- +lopak mawar. Bayi itu bak sebongkah cahaya. Sabari gemetar +karena melihat bayi itu dia menemukan seseorang yang selama +ini bersembunyi di dalam dirinya. Orang itu adalah ayah. + +Akhirnya, semua yang diidamkan Sabari satu per satu men- +jadi kenyataan. Lena dan bayi lucu itu pindah dari rumah +Markoni ke rumah yang baru dibangunnya. Keluarga kecil, +rumah kecil, kebahagiaan besar, begitu perasaan Sabari. + + Sayangnya perasaan Lena berbeda dengan Sabari. Dia +segera kembali ke hobi lamanya. Mulanya dia pergi sebentar, + 182 ~ Andrea Hirata + +lalu pergi lama, lalu menginap, lalu tak pulang-pulang. Untuk +membuat cerita panjang menjadi pendek. Dia tak bahagia. +Jiwanya terlalu rebelious, penuh pemberontakan, untuk terikat +kepada seorang suami dan anak. Apalagi, suami itu tak pernah +diinginkannya. Baginya, tak ada hal yang lebih mengerikan di +dunia ini selain terjebak dalam pernikahan yang tak bahagia. + + Sabari tak pernah ribut-ribut, apalagi semua hal rasanya +beres jika dia melihat bayi yang tumbuh dengan cepat dan +merona-rona itu. Matanya selalu berbinar, mulutnya selalu +tersenyum. Dia selalu rindu kepada Lena, tetapi Zorro telah +menjadi pengganti Lena, dengan kegembiraan yang berlipat- +lipat. + + Sabari membelikan anak itu boneka Zorro. Si kecil +menggenggamnya, tak pernah mau melepaskannya. Jadilah +Sabari menamainya Zorro. Jika mendengar Sabari menyebut +Zorro, anak itu menoleh-noleh mencari sumber suara, lalu +tergelak-gelak. Di telinga Sabari tawanya seperti air hujan +yang berjatuhan di danau. + + Dari wajah anak kecil itu setiap orang dapat menduga +apa yang telah terjadi. Wajah anak itu lonjong macam biji +buah tandong. Wajah Sabari macam bola bekel. Telinganya +macam pucuk daun sirih. Telinga Sabari macam telinga +wajan. Anak itu tampak sangat cerdas. Sabari tampak jauh, +asing, terpencil dari sesuatu yang berbau ilmu dan sekolah. + + Persamaannya dengan Sabari hanya satu, yaitu sama- +sama murah senyum. Kata para tetangga, si kecil yang meng- + Ayah ~ 183 + +gemaskan itu berkarisma. Jika dia menangis, tangisnya keras +bukan kepalang sehingga kayu-kayu yang menopang atap +rumbia menggeletar. Paku-pakunya mau copot. Jika dia men- +jerit mau minum susu, tikus-tikus kabur ketakutan. Namun, +jika dia tertawa, tikus-tikus ngerem mendadak, ingin menyi- +mak tawanya yang lucu. Burung kutilang di sekitar rumah +seakan ikut tertawa. Zorro menatap langit-langit, dengan +matanya yang berkilau macam kelereng, mulutnya berbunyi +ba ... ba ... ba ... sambil menunjuk cicak. Cicak berkerumun +memperhatikannya. + + Betapa Sabari menyayangi Zorro. Ingin dia memeluk- +nya sepanjang waktu. Dia terpesona melihat makhluk kecil +yang sangat indah dan seluruh kebaikan yang terpancar da- +rinya. Diciuminya anak itu dari kepala sampai ke jari jemari +kakinya yang mungil. Kalau malam, Sabari susah tidur lan- +taran membayangkan bermacam rencana yang akan dia la- +lui dengan anaknya jika besar nanti. Dia ingin mengajaknya +melihat pawai 17 Agustus, mengunjungi pasar malam, mem- +belikannya mainan, menggandengnya ke masjid, mengajari- +nya berpuasa dan mengaji, dan memboncengnya naik sepeda +saban sore ke taman balai kota. + + Sabari terjerumus ke dalam dunia baru yang membuat- +nya terpukau setiap hari. Satu dunia yang dulu sering diba- +yangkannya, tetapi dalam kenyataan ternyata jauh berlipat- +lipat pesonanya. Ayah di dalam dirinya melonjak-lonjak, tak +sabar ingin memperlihatkan diri pada dunia. + 184 ~ Andrea Hirata + + Sabari adalah ayah sekaligus ibu bagi Zorro, full time. Dia +menyuapi Zorro dan meminuminya susu. Dia terjaga sepan- +jang malam jika anak itu sakit. Dia telah mengalami saat-saat +panik waktu si kecil demam. Dia membawanya ke puskesmas +seperti layaknya dilakukan seorang ibu. Dia tahu perkara gizi +balita, vaksin, dan obat anak-anak. Bahkan, dia sering mem- +beri tahu ibu-ibu lainnya soal itu. Pesan Sabari, bayi jangan +terlalu sering diminumi air tajin, kalau terlalu sering, nanti +jika besar tak bisa matematika macam Toharun, Ukun, dan +Tamat. + + Selayaknya orang mengurus bayi, dia harus selalu bera- +da dekat anaknya itu, 24 jam. Oleh karena itu, dengan berat +hati, dia menulis sepucuk surat. + + Ke hadapan: + Yth. Bapak Markoni bin Razak + Pimpinan CV Nuansa Harmoni + di tempat + Perihal: Permohonan perkenan pengundurkan diri se- + bagai karyawan atas nama Sabari bin Insyafi + Ayah ~ 185 + + Aku, waktu, dan kawan-kawanku. + + Kulihat kawan-kawanku di laut + Kulihat kawan-kawanku di lubang-lubang tambang + Kulihat kawan-kawanku di sudut-sudut pasar + Kulihat kawan-kawanku di pabrik-pabrik + “Hai, tahukah kau?” Kawanku bertanya + “Kawanmu sudah pergi.” + Kulihat waktu telah memberiku semuanya + Kulihat waktu mengambil semuanya + “Tidakkah kau bersedih, Kawan?” tanya kawanku + Tidak, karena waktu juga kawanku + + Markoni duduk sendiri, dekat jendela warung kopi, +membaca tiga lembar surat pengunduran diri Sabari. Terha- +ru dia membaca puisi perpisahan sebagai pembuka surat dari +lelaki yang lugu itu. + + Sebagai pemimpin pabrik, merasa terhormat dia mem- +baca bahwa Sabari sangat mencintai pekerjaan dan rekan- +rekan kerjanya, dan bahwa dia telah bertekad untuk menjadi +pegawai teladan paling tidak tujuh kali berturut-turut. + + Sebagai mertua Sabari sekaligus kakek dari anak kecil +itu, tersentuh dia membaca bahwa Sabari mengundurkan diri +dari pekerjaan karena harus mengurus anaknya, dan betapa + 186 ~ Andrea Hirata + +dia merasa dirinya diberkahi karena mendapat kesempatan +itu. + + Sebagai seorang ayah, membaca surat Sabari, dia sendi- +ri merasa bangga menjadi seorang ayah. + + Kata Sabari: + + Janganlah bersedih, waktu mengambil seorang sahabat, dan waktu +akan menggantikannya dengan sahabat yang lain. Berdamailah dengan +waktu, karena waktu akan menumbuhkan dan menyembuhkan. + + Demikianlah kiranya surat pengunduran diri ini saya tulis. Atas +perkenan, perhatian, dan pengertian dari Bapak, saya haturkan ribuan +terima kasih. + + Dengan hormat seribu takzim, + Sabari bin Insyafi + + Tembusan; + 1. Yth. Kepala Desa Belantik, untuk perhatian: Yth. Juru Tulis + + Kantor Desa + 2. Yth. Ketua Dewan Kemakmuran Masjid Al-Hikmah + 3. Yth. Kepala Polisi Pamong Praja + 4. Yth. Pengurus Karang Taruna Belantik + 5. Segenap pimpinan dan karyawan radio AM Suara Cinta, + + untuk perhatian: Yth. Penyiar Acara Tembang Buluh Perindu. + 6. Pertinggal + Aya + +FEBRUARI yang ditunggu-tunggu Ukun dan Tamat akhir- +nya tiba. Hari pertama Februari, pulang kerja, keduanya ber- +gegas naik sepeda ke pantai barat. Semangat mereka meletup, +apalagi mereka telah berlatih menahan napas. Di pantai me- +reka berjumpa dengan begitu banyak orang seperti mereka, +yang mau mengubah nasib cinta yang gelap. + + Setiap sore, tak pernah absen, kedua sahabat itu ke pan- +tai barat, tetapi sampai hari terakhir Februari, langit tak kun- +jung menjadi biru. + + Adapun Sabari, setelah mengundurkan diri bekerja di +pabrik Markoni, membuka warung sembako di rumahnya. +Pekerjaan di warung dan memelihara kambing memungkin- +kannya untuk selalu berada dekat Zorro. Semuanya sangat +menyenangkan, apalagi sejak ada Zorro, keajaiban terjadi se- +tiap hari di rumah Sabari. + 188 ~ Andrea Hirata + + Ukun dan Tamat sering ke Belantik karena mereka pun +telah jatuh hati kepada anak itu. + + “Ini Pak Cik Ukun,” Sabari mengenalkan Ukun kepada +Zorro. + + “Om Ukun,” kata Ukun mengoreksi. + Sabari menoleh kepada Tamat. “Om Tamat.” + Dengan bersemangat Sabari bercerita bahwa pada +umur lima bulan anaknya sudah bisa duduk, umur enam bu- +lan sudah bisa merangkak. + “Bagaimana logikanya?” tanya Tamat. + “Anak kecil duduk dulu, baru merangkak.” + “Bisa saja, bagaimana dia mau beristirahat kalau dia le- +lah merangkak, tentu dia akan duduk,” bantah Sabari. Benar +juga. + “Tidak mungkin itu.” Ukun memihak Tamat. + “Kalau anak kecil lelah waktu merangkak, ya dia akan +diam saja, diam di tempat seperti kambing parkir.” Masuk +akal. + Sabari tak terima. “Yang punya anak aku, bukan kalian! +Yang tahu aku. Bagaimana kalian bisa tahu, pacar saja tidak +punya, membaca novel tidak pernah!” + “Cabut kata-katamu, Boi! Apa hubungannya anak bisa +duduk dengan novel?!” Ukun panas. + Sebagaimana biasa, meletuslah debat kusir. Ukun pasti +memihak Tamat. Dua lawan satu. + Ayah ~ 189 + + “Tentu ada hubungannya. Tak ada orang yang suka +membaca novel yang tidak pintar. Cari kalau ada, tak ada! +Kuperkirakan nanti Zorro sudah bisa berjalan umur sembi- +lan bulan, jarang ada anak kecil macam itu, aku yakin umur +sebelas bulan dia sudah bisa bicara.” + + “Mungkin umur dua belas bulan, Zorro sudah bisa bica- +ra bahasa Indonesia dengan ejaan yang disempurnakan, Ri!” +Ukun kesal. + + “Yang pasti kalau SMA nilai Bahasa Indonesia-nya akan +lebih baik daripada nilaimu.” + + Ukun mati kutu. + “Kau sendiri bagaimana, Kun? Waktu kecil kau bisa me- +rangkak dulu atau duduk dulu?” tanya Tamat. + “Oh, oh, aku anak normal, semua urutannya benar. +Pertama tidur-tiduran, bisanya merengek saja, lalu aku bisa +duduk, lalu merangkak, lalu berdiri, lalu berjalan sambil ber- +pegangan, lalu berjalan tanpa berpegangan, lalu berlari, lalu +bercakap, lalu bernyanyi, lalu mengaji, lalu naik sepeda roda +tiga, lalu naik sepeda roda dua, lalu naik motor, sebentar lagi +aku naik mobil.” Padahal, seumur-umur dia naik sepeda bu- +tut. + “Kau, Ri?” + “Oh, seusia Ukun bisa merangkak itu, aku sudah bisa +bernyanyi.” Sabari tak mau kalah. + “Kau sendiri?” Sabari bertanya kepada Tamat. + 190 ~ Andrea Hirata + + “Oh, oh, seusia kau bisa merangkak, aku sudah bisa +membaca!” + + Ukun tak mau kalah. + “Oh, waktu kau baru bisa duduk, aku sudah hafal Pem- +bukaan Undang-Undang!” + Debat kusir yang tadi sudah reda meletus lagi. + Marlena sendiri, ibu dari anak yang sedang diperdebat- +kan itu, tak tahu di mana rimbanya. Sudah berbulan-bulan +dia tak pulang. Markoni angkat tangan tinggi-tinggi meng- +hadapi anaknya yang susah diurus itu. Lagi pula, Lena sudah +punya suami, urusan rumah tangga Lena bukanlah urusan- +nya. + Macam-macam gosip tentang Lena telah didengar Sa- +bari. Bahwa Lena dekat dengan si ini dan si itu, bahwa Lena +lengket lagi dengan cinta pertamanya waktu SMA, Bogel +Leboi, dan mereka diam-diam suka ke Jakarta. Sabari tutup +mata tutup telinga. Perasaannya kepada Lena tak pernah ber- +ubah, pasti dan tetap. Dia selalu merindukannya seperti baru +mengenalnya dulu. Jika Lena pulang, Sabari memperhatikan +semua keperluannya, sayangnya Lena jarang pulang. + “Kau tunggu Lena? Sama dengan menunggu pepesan +kosong, menunggu jerat tak bertali, pungguk merindu bulan. +Kau pandai bahasa, tentu kau mengerti maksudku, Ri,” kata +Ukun. + “Perlukah kujelaskan?” kata Tamat. + Ayah ~ 191 + + “Aih, Kawan, apa yang kualami ini belum apa-apa. Ka- +lian tahu? Florentino Ariza menunggu cinta Fermina Daza +hampir 52 tahun! Aku, Sabari bin Insyafi mencintai Marlena +binti Markoni baru sebentar saja, belumlah seberapa.” + + “Siapa kau bilang?! Florintino Hamzah?” tanya Tamat. + “Florentino Ariza, bacalah buku sastra, Mat, novel, +Marquez!” + “Itulah masalah kau, Ri, teladanmu hal yang konyol, ki- +sah novel adalah fiksi, khayal, sama dengan dongeng!” + “Namun, bukankah fakta lebih aneh daripada fiksi?” Sa- +bari berkilah, pertengkaran meletus. + Beberapa minggu kemudian ada desas-desus Lena mau +menceraikan Sabari. Banyak orang memang sudah mendu- +ga kisah rumah tangga Sabari akan berakhir tak ubahnya +sandiwara radio Putri Limau Manis, tetapi dengan segenap +kenaifa­ nnya. Sabari tak percaya. Walau begitu, tak ayal dia +gelisah. + Sejak kabar itu beredar, Zorro tak pernah lepas dari +pandangannya. Jika Zorro tidur siang, dia menutup jendela +dan pintu rapat-rapat. Hatinya lega jika melihat Zorro masih +ada di situ, tidur melengkung di dipan. Zorro dapat merasa- +kan kecemasan ayahnya. Dia tak mau tidur jika tak dipeluk +ayahnya. Semua itu semakin menghancurkan hati Sabari. + Gosip perceraian itu kian hari kian gencar. Sabari tak ke- +ruan. Dia berharap semua itu hanya kabar burung. Di tengah + 192 ~ Andrea Hirata + +kekalutan itu, saat Sabari mau menidurkan Zorro, Zorro me- +natap ayahnya, lalu dari mulut mungilnya terdengar bunyi. + + “Aya, aya.” + Sabari tertegun. Itulah kata pertama yang diucapkan +anaknya. Perasaan Sabari melambung. Dipeluknya anaknya +rapat-rapat. + Semua +Telah Membeku +di dalam Waktu + +ULAR dan belut nyaris sama. Kambing dan domba serupa. +Bodoh dan dungu setali tiga uang. Tabib dan dukun sering +tertukar. Orkes dan band hanya soal istilah. Namun, tak ada +persamaan sama sekali antara Makmur Manikam dan JonPi- +jareli. + + Drs. Makmur Manikam adalah pegawai pemerintah di +Bengkulu, dengan pangkat III/c, Penata Muda. Adapun Jon- +Pijareli seorang musisi. Asli Pekanbaru, berkiprah di Medan. +Dia pemimpin band Setia Nada, satu band Top 40, artinya band +yang khusus membawakan empat puluh lagu yang sedang +top. + + Manikam pendiam, selalu menyembunyikan perasaan- +nya dan merupakan seorang yang berbakat menjadi pegawai +negeri sipil. Jon flamboyan, ekspresif, dan gitaris kelas satu. +Jarinya cepat. Dia bisa membawakan lagu “Terajana” dengan +bermain gitar sendiri saja, tetapi mencakup bunyi bas, ritem, + 194 ~ Andrea Hirata + +dan melodi. Minta ampun lihainya. Suaranya bagus. Kalau +dibawakannya lagu “Besame Mucho”, sambil meliuk-liukkan +gitarnya dan sesekali menyibakkan rambut gondrong Kenny +G-nya, beberapa perempuan tampak macam diserang de- +mam yang aneh. + + Jon banyak kawan, Manikam tidak. Kawannya hanya +tiga: Drs. Zulkarnain, Drs. Zulkifli, dan Drs. Zulham, dan +mereka menjadi kawan lantaran hubungan kerja. Secara ke- +tampanan, Manikam tak bisa dikatakan tampan, tetapi sikap +kalemnya membuat dia seakan-akan ganteng. Jon bolehlah +disebut—seperti kebanyakan gitaris—cakap. Wajahnya di +atas lumayan. + + Manikam tinggal di kawasan perumahan terpandang di +pinggir Kota Bengkulu. Mobilnya tipikal mobil kelas mene- +ngah untuk pegawai tetap yang selalu naik gaji secara ber- +kala sesuai peraturan gaji pegawai pemerintah. Dengan satu +istilah, Manikam dan keluarganya aman secara ekonomi. Jon +dan keluarganya selalu berpindah-pindah, bergantung ba- +nyaknya job. Ekonominya naik-turun bak gelombang sinus. +Kendaraannya motor antik BSA, meneguhkan kesan artistik- +nya. + + Di antara kawan-kawan kerjanya, Manikam selalu me- +ngatakan bahwa mereka adalah pegawai yang digaji dengan +uang rakyat, penerima amanah yang tak boleh sembarangan +saja bertabiat. Oleh karena itu, banyak yang tak betah bekerja +dengannya. + Ayah ~ 195 + + Adapun Boros Akinmusire, pemain trompet dalam band +Setia Nada berkata, “Repot sekali kalau ada Bang Jon, ngo- +mel saja kerjanya. Tapi, kalau tak ada, kami rindu. Tak man- +tap rasanya kalau tak ada dia.” + + Komentar itu diaminkan Obet Glasper, pada kibod—sa- +lah satu pemain kibod terbaik Sumatra, asli Binjai—Gandrik +Hoj, pada bas, Kris Dep, pada drum, Markus Stiklan, pada +saksofon, dan Palawijaya, pada gitar pengiring. + + “Bang Jon! Bang Jon!” seru siapa saja di pinggir jalan +kalau Jon melewati Jalan M. Yamin dengan sepeda motor- +nya yang gagah. Dia adalah selebritas lokal. Jon melambai +sambil tersenyum lebar. Rambut gondrongnya berkibar-kibar +diterpa angin, keren sekali. Jika Manikam lewat, orang-orang +hanya mengangguk pelan untuk menyapanya, hormat, men- +jaga, dan formal. + + Apa lagi? Semuanya berbeda antara Manikam dan Jon, +yang sama hanya satu, keduanya sedang mengalami krisis ru- +mah tangga tingkat gawat, yaitu digugat cerai istri masing- +masing karena alasan yang sama, istri tak lagi bahagia. + + Tak ada informasi lebih lengkap soal tidak bahagia itu. +Ada gosip Manikam dan Jon diam-diam mata keranjang. +Ada yang bilang bersangkut paut dengan politik kantor un- +tuk Manikam dan politik panggung untuk Jon. Ada pula yang +berspekulasi mungkin istri Manikam bosan pada kemapanan, +sedangkan istri Jon bosan dengan ketidakmapanan. Ironi dan +paradoks, memang selalu menjadi bagian paling memesona +dari cinta. + 196 ~ Andrea Hirata + +Kamis, Manikam menerima surat panggilan dari pengadilan +agama. Dia tak terkejut karena sudah tahu cepat atau lambat +surat itu akan datang. Dia pun tak langsung membukanya. + + Jumat pagi dia menyiapkan diri untuk berangkat ke +kantor sebagaimana biasa. Tak ada yang berbeda, rutin saja. +Apa-apa disiapkannya sendiri karena istri dan kedua anaknya +sudah beberapa waktu tinggal bersama mertua. + + Batik, pakaian dinas setiap Jumat, disetrikanya dengan +rapi. Dia berkaca bersisir. Semua dilakukannya dengan sa- +ngat tenang, bahkan lebih tenang daripada sebelum dia me- +nerima surat panggilan pengadilan. Sedikit pun dia tak ter- +pengaruh. + + Dibukanya koper untuk mengecek isinya. Pulpen Parker, +notes, kalkulator, kacamata baca, kacamata gaya, saputangan, +sisir jarang antirontok rambut, minyak kayu putih, minyak +wangi Quando Quando, minyak rambut El Confido, obat +pening kepala, sikat gigi, pasta gigi—ukuran hotel melati— +permen yang dapat menghindarkan mulut dari bau macam +tempat sampah, kaus kaki cadangan untuk mengganti jika +kaus kaki sudah berbau macam ban sepeda, gunting kuku, +brosur kartu kredit dengan hadiah langsung rice cooker dan li- +buran dua malam ke Nagoya (bukan Nagoya Jepang, melain- +kan Nagoya Batam), obat tetes mata, dipakai jika kebanyakan +melihat layar komputer, buku 15 Cara Gampang Membangun + Ayah ~ 197 + +Hubungan Lestari. Buklet laporan realisasi anggaran dari anak +buahnya yang dibacanya semalam dan harus didisposisinya +hari ini, foto istri dan anak-anaknya, semua sudah pada tem- +patnya. + + Manikam menutup koper, mengacak nomor kombinasi, +berjalan melintasi ruang tengah, dan tersenyum melihat foto +prewed-nya di dinding. + + Fotografer yang kreatif itu mengarahkan mereka berpo- +se di depan gudang peninggalan Belanda di sebuah perkebun- +an kopi. Calon istrinya duduk dengan wajah diarahkan untuk +sedikit cemas. Manikam berdiri di belakangnya, memanggul +sepucuk senapan antik. Makna foto itu tentu Manikam siap +jiwa dan raga melindungi istrinya nanti dari ancaman apa +pun di dunia ini, dan begitulah Manikam selalu berjanji ke- +pada istri dan dirinya sendiri. Tak diragukan, foto prewed itu +sarat akan makna. + + Dipanaskannya mobil, lalu dia meluncur. Karena masih +pagi, jalanan sepi. Anak-anak sekolah baru tampak satu-dua, +berjalan kaki atau bersepeda dengan rambut yang masih ba- +sah habis mandi dan terburu-buru ke sekolah. Yang berangkat +pagi-pagi itu pasti yang kena giliran piket di kelas. Manikam +kembali tersenyum. Dia senang melihat anak-anak berang- +kat ke sekolah masih pagi, membuat dia terkenang masa ke- +cil di Talang Betutu, lalu dia teringat pertemuan pertamanya +dengan istrinya di MTs di sana. Kini semuanya seakan telah +membeku di dalam waktu. + 198 ~ Andrea Hirata + + Mobil terus meluncur, di depan Manikam terbentang +Jalan Seruni yang panjang dan senyap. Kabut tipis mengam- +bang di pucuk trembesi yang berjajar di pinggir jalan. Tiba- +tiba Manikam merasa tak ada siapa-siapa di dunia ini selain +dirinya sendiri. Anak-anak yang berlari di pinggir jalan dan +berteriak memanggil kawan-kawannya seakan bergerak-gerak +dalam kebisuan. Manikam merasa pahit karena luput untuk +mengetahui bahwa selama ini istrinya tak bahagia. Ketidak- +bahagiaan bak musuh tersembunyi yang pandai menyerang +secara bergerilya, tersamar, diam-diam, mematikan. Enam +belas tahun pernikahannya, 44 tahun usianya. Manikam ga- +mang membayangkan apa yang akan terjadi di pengadilan +agama nanti dan miris membayangkan apa yang akan terjadi +setelah itu. + +Jon dan band-nya sedang mencoba-coba lagu ciptaan Jon +sendiri yang berjudul “Aku Berlari”, satu lagu dengan nuan- +sa reggaedut (reggae dangdut), saat seseorang berpakaian orang +kantoran mendatangi Jon dan menyerahkan sepucuk surat. + + Karena pembawaan yang selalu positif, Jon tersenyum +lebar menerima surat itu. Pikirnya, dan itu sudah sering terja- +di, surat itu adalah undangan alias job tampil. Namun, begitu +menyadari maksud surat itu, senyum Jon mendadak terisap +dari mukanya, secepat sedotan WC pesawat Merpati. + Ayah ~ 199 + + Dia panik. Ditinggalkannya latihan itu begitu saja. + “Mau ke mana kau?” tanya Boros Akinmusire. + Jon tak menjawab. Bergegas dia ke tempat parkir. Di- +engkolnya motor, siap meluncur, hampir saja dia lupa menge- +nakan helm. Lalu, memelesatlah dia dengan kecepatan ting- +gi. Berbelok dia ke arah Jalan Putri Hijau. Lampu merah di +muka kantor pos diterjangnya dengan semena-mena, padahal +kereta mau lewat, lalu di-geber-nya motor sejadi-jadinya me- +ngelilingi Lapangan Merdeka. + Yang mengenalnya heran melihat tingkahnya. Mereka +memanggil-manggilnya, tetapi Jon tak membalas sapa mere- +ka seperti biasanya. Bukan baru sekali istrinya minggat. Se- +lama bertahun-tahun sering pula istrinya mengancam akan +mengkhatamkan hubungan mereka, tetapi baru kali ini istri- +nya benar-benar serius. JonPijareli kalut. + +Nun jauh di pojok paling selatan Sumatra, di Pulau Belitong, +Sabari juga menerima surat panggilan dari pengadilan aga- +ma. Seorang lelaki berbaju safari—tersemat lambang Korps +Pegawai Republik Indonesia di atas saku kanan—dan berko- +piah mendatanginya. + + “Saudara Sabari bin Insyafi?” + “Saya, Pak, saya sendiri.” + “Apakah ada kesalahan dengan nama dan alamat ini?” + 200 ~ Andrea Hirata + + Sabari melongok, membaca nama dan alamat penerima +surat di tangan orang itu. + + “Kurasa tidak, Pak.” + “Saudara harus yakin sebab ini bukan surat biasa, ini +bukan surat tagihan iuran televisi, ini bukan surat imbauan +untuk bergotong royong Minggu pagi, ini bukan surat dari +sahabat pena atau surat gita cinta dari SMA, ini adalah surat +panggilan dari pengadilan, pengadilan negara, saya teguhkan +sekali lagi, apakah Saudara mengerti?” + “Mengerti, Pak.” + “Kesalahan penyampaian surat bisa punya akibat hu- +kum, bisa merugikan pihak penggugat atau tergugat. Kesalah- +an sepele bisa menyebabkan hukum sulit untuk ditegakkan. +Kita tidak bicara obrolan sehari-hari di sini, tapi kita bicara +kalimat-kalimat hukum. Oleh karena itu, tak jemu-jemu saya +teguhkan, apakah Saudara mengerti?” + “Mengerti, Pak.” + “Yakin?” + Sabari ragu. + “Apakah Saudara mengerti maksud saya?” + “Mengerti bagian mana maksud Bapak?” + “Semuanya, terutama bagian akibat hukum itu.” + Mirip karakter JonPijareli, Sabari selalu melihat sisi baik +dari segala hal. Panggilan dari pengadilan itu dalam pema- +hamannya mungkin bersangkut paut dengan penegasan sta- +tusnya sebagai ayah Zorro yang sering dipergunjingkan orang, + Ayah ~ 201 + +atau soal akta kelahiran Zorro, yang pernah ditanyakannya ke +kantor desa dan kades bilang bahwa itu urusan pengadilan +agama. Begitulah pemikiran Sabari soal kedatangan lelaki +berbaju safari empat saku itu. Tak ayal tokoh kita bertanya, +“Kalau boleh tahu, apakah isi surat itu, Pak?” + + “Maaf, saya adalah juru antar surat, penyampai amanah +yang diutus panitera pengadilan agama, saya tak berhak dan +tak boleh membicarakan isi surat yang saya sampaikan.” + + “Mengerti, Pak.” + “Baiklah, kalau begitu saya ulangi, apakah benar nama +Saudara adalah Sabari bin Insyafi, dengan alamat ini, bahwa +tak ada orang lain bernama sama di kampung ini? Bahwa +nama ini hanya Saudara, Saudara melulu, dan satu-satunya +Saudara?” + Sabari tercenung. Namanya dan seluruh niat di balik +nama yang diberikan ayahnya itu, agar dia menjadi orang +yang sabar, adalah hal yang sederhana, tetapi di mata hukum +ternyata bisa menjadi runyam. + “Setahu saya memang ada empat nama Sabari di Be- +lantik ini, Pak. Sabari tukang las, dia pegawai PN Timah, lo- +los PHK, dia dipindahkan meskapai ke Kundur, jadi sudah tak +di sini. Yang kedua, Sabari bin Sampani, bukan bin Insyafi. +Yang satu lagi tidak mungkin menerima surat panggilan se- +bab dia sudah dipanggil sendiri oleh Yang Mahatinggi karena +disambar petir tempo hari. Singkat kata, singkat cerita, surat +ini pasti untuk saya, Pak.” + 202 ~ Andrea Hirata + + Sabari tersenyum lebar untuk mencairkan suasana yang +membeku itu. Petugas tak terpengaruh. Baginya semua itu +tidak lucu, tetapi tragis. Sabari menghentikan senyumnya de- +ngan cara pahit. + + “Baiklah.” Juru antar membuka koper kecil model lama +dan mengeluarkan sebuah buku ekspedisi, persis buku utang +di warung Sabari. + + “Sila saudara terima surat ini dan tolong tanda tangan +di sini.” Juru antar menunjuk satu lokasi Sabari harus men- +cantumkan nama lengkap, tanggal, dan tanda tangan. Sabari +melakukannya dengan gesit. Senyumnya bersemi lagi. Petu- +gas heran. + + “Kalau boleh saya bertanya, mengapa Saudara senang +menerima surat panggilan dari pengadilan?” + + Sabari menatap petugas. + “Karena baru kali ini seumur hidup saya menerima +surat, Pak. Memang dulu sering juga saya menerima surat +untuk disampaikan kepada ayah saya, tapi itu surat pembe- +ritahuan agar melunasi tunggakan iuran sekolah. Jadi, baru +kali ini saya benar-benar menerima surat. Apalagi, surat ini +dikirim oleh instansi pemerintah! Untuk saya, Sabari, bangga +sekali saya, Pak.” + Juru antar ternganga sedikit mulutnya. Sabari menerima +surat dengan takzim. Diamati amplopnya, cokelat, tebal dan +kaku, nama dan alamat penerima diketik rapi. Zorro sedang + Ayah ~ 203 + +bermain dengan Abu Meong dan Marleni di bawah pohon +delima. + + “Lihat Zorro, Ayah menerima surat dari pemerintah!” +Sabari mengangkat surat itu tinggi-tinggi. + + Juru antar telah berpengalaman melihat berbagai intrik +rumah tangga, perbuatan culas untuk menguntungkan diri +sendiri, menelikung orang, mengakali aturan, tetapi hari ini +ditemukannya keluguan tak terbatas dari seorang lelaki sete- +ngah baya yang bahkan tak tahu prahara sedang menunggu- +nya di pengadilan nanti. + + Juru antar memandangi Zorro disertai pikiran getir yang +berkecamuk dalam kepalanya, tetapi dia berada di sana tidak +untuk menilai. Dia hanya seorang penyampai pesan, dan sore +ini akan menjadi salah satu sore yang tak terlupakan selama +dia mengabdi pada negara. + + “Itu anak saya, Pak, namanya Zorro.” + “Anak yang lucu.” + “Terima kasih, Pak. Kalau boleh bertanya, apakah Ba- +pak sudah punya anak?” + Juru antar tersenyum. + “Saya ayah untuk tiga anak.” Cara mengatakannya ter- +kesan dia tak sabar ingin menyelesaikan tugasnya, lalu pulang +dan memeluk anak-anaknya. Sabari mengerti perasaan itu. +Juru antar minta diri. + “Tunggu, Pak, tunggu sebentar.” Sabari bergegas masuk +ke rumah dan kembali dengan sesisir pisang. Diserahkannya + 204 ~ Andrea Hirata + +kepada juru antar. “Sekali lagi, terima kasih, Pak, ini oleh- +oleh untuk anak-anak Bapak, teriring salam dari saya dan +anak saya.” + + Sabari terkejut karena juru antar mengangkat kedua ta- +ngannya dan membuka jarinya lebar-lebar, mirip teller Bank of +America kena todong John Dillinger. + + “Maaf, saya tidak bisa menerima pemberian Saudara. +Saya ini aparat pemerintah. Apakah Saudara pernah mende- +ngar istilah gratifikasi?” + + Sabari berpikir sejenak. + “Gaya tarik bumi? Hukum pertama Tuan Newton? Me- +mang nilai Fisika saya selalu merah, tapi waktu SMA saya +pernah mendengar istilah itu.” + Juru antar tersenyum, menyalami Sabari, lalu melang- +kah pergi. + Sabari memandangi juru antar dengan kagum. Dia ka- +gum akan cara orang itu bertugas, dengan caranya melang- +kah, caranya menenteng koper, dan caranya mengatakan +bahwa dia seorang ayah bagi anak-anaknya. Sabari juga ka- +gum pada sepeda motor tua Yamaha bebek V 80-nya, yang +baru hidup setelah lebih kurang enam belas kali diengkol. + +Sepeninggal juru antar, Sabari langsung membaca surat +panggilan itu, tetapi sampai berulang-ulang membacanya tak + Ayah ~ 205 + +benar-benar memahami maksudnya. Surat itu mengandung +istilah yang asing baginya, misalnya juru sita pengganti, pe- +mohon, termohon, dan lain-lain. Seingatnya, dia tak pernah +mengajukan permohonan untuk dinyatakan sebagai rakyat +di bawah miskin pada negara. Dia tahu banyak tetangganya +membuat permohonan seperti itu melalui kantor desa, lalu +diberi stiker untuk ditempel di pintu, selanjutnya menerima +bantuan ini dan itu. Sabari miskin, tetapi merasa masih mam- +pu mandiri. + + Dibacanya lagi surat itu pelan-pelan macam anak kelas +dua SD baru pandai membaca, masih tak paham juga. Na- +mun, meski tak paham, setiap kali habis membaca, dia mera- +sa seakan sebilah belati menusuk dadanya. + + Malamnya Sabari tak bisa tidur. Keesokannya disampai- +kannya pesan kepada orang yang mau ke Tanjong Pandan +agar mampir ke warung satai kambing muda Afrika. Sabari +memerlukan bantuan Tamat dan Ukun. Sore itu pula, surat +itu sudah berada di tangan Ukun. + + “Ini adalah surat panggilan dari pengadilan agama kare- +na kau akan dimejahijaukan oleh Lena.” + + “Maksudnya?” + “Kau diseret Lena ke pengadilan.” + Sudah barang tentu Sabari tak terima. + “Ini dokumen negara! Jangan kau sembarang bicara, +Boi!” + 206 ~ Andrea Hirata + + “Baca ini, surat panggilan pihak-pihak yang beperkara, +dalam kurung, relaas, nomor 4352, garis miring, pdgt setrip +rhsjy setrip hdgu, garis miring BLTG, telah memanggil Mar- +lena binti Markoni dan Sabari bin Insyafi.” + + “Jadi?” + “Kau kena gugat!” Tamat gemas. + “Gugat apa?” + “Gugat cerai!” + Mulut Sabari ternganga. + “Siapa yang menggugatku cerai?” + “Ajudan bupati. Ya, Lena!” Ukun pun tak sabar. + “Tidak mungkin!” + “Mengapa tak mungkin?” + Sabari mengalihkan pandangan ke padang ilalang. + “Itu tak mungkin,” kata Sabari pelan. Matanya berkaca- +kaca. + Ukun dan Tamat tahu Sabari tak sanggup menerima +kenyataan. Oleh karena itu, dia tak mau memahami maksud +surat itu. + Ruang Sidang III + +“MENERIMA, Yang Mulia.” + Drs. Makmur Manikam menjawab waktu hakim ketua + +bertanya. Sebab, siapa pun yang terlibat dalam perkara itu +tahu bahwa masalah ketidakbahagiaan sebagai alasan perce- +raian bukanlah baru terjadi sehari-dua hari, sudah menahun, +berlarut-larut. + + Semua prosedur untuk menyelamatkan bahtera telah +ditempuh. Mereka sudah menghadap penasihat perkawinan. +Kiranya hukum besi rumah tangga, yakni kau tetap berada +di situ, berdiri tegak dan tersenyum, apa pun yang terjadi, +bahagia atau tidak bukanlah soal, sudah tak berlaku lagi bagi +istri Manikam. Baginya ingin bahagia adalah esensi hidup ini +dan hak manusia yang paling asasi. Perempuan itu tak mau +lagi berdiri dan berpura-pura tersenyum. PBB pun sulit men- +damaikan hati istri Manikam itu. + 208 ~ Andrea Hirata + + JonPijareli mengucapkan menerima hampir tak terdengar, +padahal kalau di panggung dialah orangnya. + + Sebenarnya, di mata hukum siapa pun bisa melakukan +pikir-pikir, lalu banding, lalu kasasi, lalu peninjauan kembali. +Istilah yang lazim dipakai tergugat umpama tak menerima +putusan adalah pikir-pikir. Namun, Jon mengikuti saran peng- +acara pro bono yang mendampinginya. Bahwa meski NATO +turun tangan, kisruh antara Jon dan istrinya sulit ditengahi. +Istrinya adalah seorang asisten apoteker, mungkin lama-lama +agak susah untuk seiring dengan pola pikir seorang musisi. + + Dalam keadaan bingung dan gundah, Sabari menerima +saran dari Tamat bahwa satu-satunya hal yang bisa dilaku- +kannya adalah berpakaian serapi mungkin di hadapan ma- +jelis hakim. + + “Lihatlah, penjahat seberengsek apa pun, jika meng- +hadapi Pak Hakim jadi macam anak baru masuk SD. Licin, +pakai kopiah, tanpa dosa. Berpakaian rapi bukan hanya soal +penghormatan pada hukum, pengadilan, dan majelis hakim, +melainkan juga soal simpati.” Ukun menatap Tamat. Tak ha- +bis pikir dia, bagaimana Tamat kian hari kian cerdas saja. + + Ukun dan Tamat mendampingi Sabari. Ketiga sahabat +itu ke pengadilan agama macam orang mau kondangan. + + Sabari memasuki ruang tunggu dan terkejut melihat ba- +nyak orang, tua muda, pria wanita, tampak kaya dan melarat, +duduk di bangku-bangku panjang menanti giliran dipanggil. +Macam-macam ekspresi mereka, ada yang sedih, ada yang + Ayah ~ 209 + +memandang kosong, banyak yang diam menunduk, ada pula +yang tersenyum-senyum. + + Seperti dirinya, setiap orang memang berusaha berpa- +kaian sebagus mungkin. Getir hati Sabari mendapati bahwa +di tempat orang akan mengalami hal yang pahit, orang-orang +justru berpakaian bagus seperti Lebaran. Dan, tak tega dia +melihat anak-anak kecil yang dibawa orangtuanya ke ruang +tunggu itu. Mereka menangis, kepanasan, ingin menyusu, +minta pulang, minta ini dan itu. Jeritan mereka merisaukan. +Anak-anak kecil itu lalu digendong bergantian oleh ayah dan +ibunya yang mau bercerai. + + Sabari teringat akan Zorro, sendi-sendi tubuhnya lum- +puh. Dia duduk terkulai. Di ruang tunggu pengadilan, Sabari +merasa betapa kejam hidup ini. Dia ingin segera pulang, ingin +cepat-cepat memeluk anaknya. + + Ukun dan Tamat lebih tertarik akan dandanan mereka +ketimbang apa yang akan dialami Sabari. Keduanya sibuk +membetulkan jambul dan memandang-mandang sekeliling. +Terutama memandangi wanita-wanita muda. Bagi mereka, +kunjungan ke pengadilan agama bak piknik yang menye- +nangkan. + + Tamat menunjuk satu arah. Di sana, Marlena datang +dengan seorang lelaki yang tampak sangat terpelajar dan +berpakaian seperti seorang direktur. Lengkap dengan koper +kecilnya. Lena segera menarik perhatian sebab dia memang +elok. Berbaju bagus untuk sidang membuatnya semakin me- + 210 ~ Andrea Hirata + +mesona. Harus diakui, amat tak sepadan dengan lelaki norak +dan gugup yang akan diceraikannya, yang duduk terpojok di +ujung sana. + + Semakin siang, suara panggilan untuk pasangan-pasang- +an yang beperkara semakin gencar. Akhirnya, terdengar .... + + “Sabari bin Insyafi, Marlena binti Markoni, Ruang Si- +dang Tiga. Kami ulangi ....” + + Di dalam ruang sidang, Sabari demikian gugup sehingga +tidak sepenuhnya memahami apa yang terjadi. Berbagai kata +asing membuat kepalanya pening. Pikirannya hanya tertuju +kepada Zorro. Yang dia tahu di depannya ada orang-orang +berpakaian aneh dengan jubah panjang, berwajah bijaksana, +berhati-hati jika bicara dan tampak paham benar setiap kata +yang mereka ucapkan. + + Di sebelah sana ada Lena dan pria terpelajar itu. Orang +itu berbicara panjang lebar soal pertikaian antara Sabari +dan Lena yang kian hari kian meruncing, perbedaan yang +fundamental dari berbagai aspek kehidupan pemohon dan +termohon, yang akan berakibat lebih banyak mudarat dari- +pada manfaat jika mereka tetap berumah tangga. Semua itu +membuat Sabari cukup heran sebab selama berumah tang- +ga dengan Marlena, tak habis jumlah jari sebelah tangan dia +pernah berjumpa dengan istrinya itu. Jika berjumpa pun se- +bentar sekali. Sebab, Lena pulang sebentar lalu pergi lagi. + + Fakta demi fakta dibeberkan secara lengkap, sistematis, +dan masuk akal. Berbagai upaya untuk memperbaiki keadaan + Ayah ~ 211 + +sudah ditempuh, tetapi gagal, maka sudah saatnya berlayar +menuju dermaga yang berbeda-beda. + + Sesekali Lena angkat bicara, tangkas, tinggi, dan sengit. +Sabari bahkan tak berani menoleh ke arahnya. Di belakang- +nya, di tempat duduk untuk pengunjung sidang, Tamat dan +Ukun mengangguk-angguk penuh gaya. + + Sabari tenggelam dalam berupa-rupa delik, pasal demi +pasal Undang-Undang Perkawinan, kata menimbang, mengi- +ngat, memutuskan ini dan itu. Dia mengangguk-angguk mes- +ki tak tahu mengangguk untuk apa. Tahu-tahu dia terperan- +jat mendengar Yang Mulia Hakim bertanya kepadanya. + + “Adakah yang ingin Saudara sampaikan?” + Sabari tergagap-gagap. Dia menoleh ke arah Ukun dan +Tamat. Kedua sahabatnya itu malah menoleh ke arah gam- +bar burung Garuda Pancasila. Sabari semakin gugup. Demi- +kian berwibawa ruang sidang itu baginya, demikian hebat +orang-orang yang ada di sekelilingnya sehingga apa pun yang +dituduhkan dia akan mengaku saja. + Sabari menatap Yang Mulia. Sebenarnya, ingin sekali +dia mengatakan bahwa silakan majelis memutuskan apa saja +asal tidak memutuskan hubungannya dengan Zorro. Namun, +dilihatnya Marlena memelotot ke arahnya, matanya besar +macam buah mentega, mulutnya siap menyemburkan api. +Sabari tak dapat berkata-kata. + “Jadi, apakah Saudara menerima putusan?” + 212 ~ Andrea Hirata + + Sabari menoleh lagi ke belakang, Tamat merendahkan +badannya, dengan maksud apa yang akan dikatakannya tidak +dilihat orang, dia berbisik keras sambil melindungi mulutnya +dengan tangan. + + “Pikir-pikir!” + Belum sempat Sabari menyitir kata-kata itu untuk dilon- +tarkan kembali pada majelis, Marlena bangkit. + “Pikir-pikir apa?! Jangan percaya, Yang Mulia, aku kenal +tiga orang itu! Mereka itu satu komplotan, tukang bikin onar! +Lihatlah dandanannya itu!” + Tentu saja tindakan Lena yang tidak normatif itu lang- +sung ditertibkan oleh hakim melalui beberapa ketukan palu, +sekaligus Tamat diperingatkan bahwa dia hanya boleh me- +nyaksikan sidang, bukan untuk memberi satu pandangan hu- +kum. Tamat meminta maaf dan menunduk takzim di muka +Yang Mulia, macam orang mau dipancung lehernya. + Persidangan tak berlangsung lama. Hati Sabari seper- +ti digunting melihat panitera pengadilan menggunting buku +nikahnya dan buku nikah Lena. Yang Mulia mengetuk palu. +Majelis menutup sidang. + Majelis hakim meninggalkan ruangan. Lelaki terpelajar +tadi mengemasi berkas-berkasnya, memasukkannya ke koper, +lalu cepat-cepat pergi bersama Lena. Disusul Ukun dan Ta- +mat. Sabari masih duduk sendiri. + Terdengar panggilan bagi pasangan lain untuk mema- +suki Ruang Sidang III. Seorang petugas meminta Sabari + Ayah ~ 213 + +keluar. Sabari bangkit, berjalan keluar menyusul Ukun dan +Tamat. Dia sempat menoleh ke belakang, melihat tempat +Lena duduk tadi. Begitu cepat semuanya berlangsung, lalu +dia merasa kosong. Di dunia nan fana ini, cinta bersemi dan +terempas tiada jeda. + + Dari tempat parkir sepeda motor, juru antar melihat tiga +orang berdandan aneh berjalan melintasi pekarangan gedung +pengadilan agama. Dia mengenal salah seorang dari mereka. + + Juru antar sedih melihat Sabari, tetapi tak ada waktu +untuk bersedih-sedih sebab banyak surat panggilan beper- +kara yang harus diantar. Masih menumpuk. Untuk ukuran +kabupaten, angka perceraian di Belitong termasuk yang ter- +tinggi. Juru antar sibuk macam madu angin. Puluhan kali dia +mengengkol motornya, tak juga hidup mesinnya. Dia meng- +ambil napas lalu mengengkol lagi, berkali-kali, tetap gagal. +Mungkin karena sebagian hatinya tak ingin mesin motornya +menyala. + Menyukai +Travelling + +JONPIJARELI terpukul lebih keras atas perceraian dengan +istrinya ketimbang Makmur Manikam. Manikam masih bisa +bekerja dengan normal, tak pernah bolos, tak pernah telat +senam kesegaran jasmani. Dia juga berusaha secara positif +untuk menemukan cara rujuk dengan mantan istrinya. Upaya +itu baru berakhir setelah istrinya menikah lagi dengan kekasih +pertamanya waktu mereka masih SMA dulu. Klasik, klasik +sekali. + + Setelah itu, Manikam menutup pintu hatinya untuk pe- +rempuan. Pengalaman dengan istrinya telah membuatnya +kapok dan ingin berkonsentrasi pada pekerjaan saja, serta +mendidik anak-anaknya yang tinggal bergantian antara dia +dan istrinya. + + Jon mendadak jadi pendiam, lalu pemurung. Dia mulai +malas-malasan mengurus band-nya. Padahal, band itu sedang +naik daun dan tengah mengumpulkan materi untuk mencoba + Ayah ~ 215 + +merekam lagu-lagu mereka, termasuk lagu “Aku Berlari” cip- +taan Jon itu. Bagi orang-orang tertentu, nasib sial selalu da- +tang pada saat yang tidak tepat, begitu pula nasib baik. Teori +ini agak membingungkan memang. + + Minggu menjadi bulan, bulan menjadi tahun, satu ta- +hun menjadi dua tahun. Sudah selama itulah sejak Manikam +dan Jon bergabung dengan satu armada besar kaum duda. +Drs. Zulkifli, alias Zul, kawan baik Manikam, berkali-kali me- +nyarankan agar Manikam menikah lagi karena itu baik untuk +anak-anaknya. Manikam masih trauma. + + Zul mengenalkan beberapa perempuan, Manikam tak +acuh. Adakalanya Manikam seperti berminat, bersemangat, +tetapi kemudian dengan cepat membeku kembali, macam +lava yang tumpah dari Gunung Kilauea lalu tercebur ke Laut +Hawaii yang dingin. Jika Zul memperlihatkan foto perempu- +an, foto itu dilungsurkan Manikam kembali kepadanya. + + Alkisah, Zul punya sepupu yang tinggal di Toboali dan +mengenal seorang perempuan pegawai loket wesel di kantor +pos. Pegawai loket itu mengenal seorang pengantar telegram +di kantor Telkom. Pegawai Telkom itu mengenal pegawai +kursus komputer yang bersedia dikenalkan dengan seorang +pria baik-baik, usia matang, sehat badan dan pikiran, suka +membaca buku, tidak merokok, tidak minum minuman keras, +tidak suka mengunyah-ngunyah permen karet secara kam- +pungan, kalau makan tidak berbunyi, dan yang terpenting: +menyukai travelling. + 216 ~ Andrea Hirata + + Zul berhenti membaca surat dari saudaranya di bagian +menyukai travelling itu, lalu melanjutkan membaca syarat-sya- +rat lainnya. + + Yaitu, pria yang diinginkan harus pula suka kepada +anak-anak, tidak suka kebut-kebutan, tidak banyak bicara, +tidak pernah terlibat dalam satu tindakan pidana, pintar me- +nyelesaikan kerusakan-kerusakan kecil di rumah di bidang +listrik, elektronik, atap, atau ledeng. Lebih senang mengena- +kan kemeja daripada kaus, sebaiknya tidak suka mengenakan +celana jins dan akan lebih baik jika selalu mengenakan ikat +pinggang, berpendidikan minimal D-3 di bidang Manajemen +kalau bisa, bidang Peternakan dan Perikanan juga disukai, +perjaka atau duda boleh saja, jumlah anak (kalau duda) ti- +daklah masalah, tetapi harus punya pekerjaan tetap (bergaji +bulanan), berperangai tidak grusa-grusu, menyukai masakan +rumah, senang mendengarkan musik pop masa kini, senang +mendengar radio, dan senang menonton sinetron. + + Zul memperlihatkan foto perempuan yang tak banyak +menuntut itu kepada Manikam disertai satu perasaan pesi- +mis yang menjengkelkan bahwa jangankan 37 syarat, kepada +perempuan yang tak menyebut satu syarat pun Manikam tak +pernah tertarik. + + Manikam melirik foto itu, mulanya sambil lalu saja, te- +tapi kemudian dimintanya Zul memperlihatkannya kembali. +Zul terkejut. Dari belasan, atau mungkin puluhan, foto pe- +rempuan yang diperlihatkannya, baru kali ini Manikam ter- +tarik. + Ayah ~ 217 + + Di rumah, Manikam mengamati foto itu dengan tenang +sambil minum teh sore dan mengumpulkan sebanyak mung- +kin kebijakan dalam dirinya. Dia berbicara dengan dirinya +sendiri bahwa ada sesuatu dalam perempuan di foto itu. De- +retan syarat yang sangat cerewet itu justru baginya sebuah +daya tarik. Orang yang menetapkan banyak syarat merupa- +kan pertanda orang yang bertanggung jawab. Satu kualitas +yang cocok untuknya. Cara berpikir orang pintar memang +berbeda dari kita-kita. Seminggu kemudian Manikam mulai +berkirim-kirim surat dengan perempuan di Toboali itu. + + Adapun JonPijareli kian tenggelam dalam kesedihan. +Dia tak lagi mengajar privat, bahkan sudah jarang main gitar. +Lelaki itu ditinggalkan cinta dan bersama cinta yang pergi, +terangkut pula jati dirinya sebagai musisi. Dia jarang tam- +pil. Hidupnya disokong oleh abangnya. Band-nya mendapat +undangan untuk tampil di festival musik di Bengkulu. Atas +desakan anggota band lainnya, Jon bersedia tampil. Namun, +katanya penampilan di Bengkulu akan menjadi penampilan +terakhirnya. Setelah itu, dia akan mengundurkan diri dari +band. Berakhirlah kiprahnya setelah hampir dua puluh tahun +malang melintang di panggung musik daerah. Jon tak menya- +dari sama sekali, penampilan terakhirnya di Bengkulu nanti +akan membuat hidup jungkir balik, memelesat ke arah yang +tak diduganya. + Rabun + +SABARI tahu bahwa dia sudah bercerai dengan Lena. Dia +melihat dengan mata kepalanya sendiri panitera pengadilan +agama menggunting buku nikahnya dan buku nikah Lena. +Paspor untuk berangkat ke negeri bahagia untuk selama- +lamanya itu telah dianulir oleh negara. Maka, secara resmi +hubungannya dengan Lena, khatam. Namun, kombinasi dari +hatinya yang lapang, keluguan yang tak tanggung-tanggung, +dan kenyataan yang sulit diterima, membuat matanya rabun +melihat konsekuensi hukum dari perceraian itu. Dia tak sadar +bahaya yang besar sedang menunggunya. + + Yang diketahuinya adalah baru tiga hari sejak putusan +pengadilan, sudah beredar kabar Lena dekat dengan seorang +dealer motor vespa. Buncai bersabda, “Mereka mau menikah, +Marlena dan Zorro akan diboyong orang itu ke Pangkal Pi- +nang.” + Ayah ~ 219 + + Sabari menggigil. Tak ada yang paling ditakutkannya +selain Zorro diambil darinya. Namun, Sabari membujuk diri- +nya sendiri dengan mengatakan bahwa Buncai adalah pem- +bual kelas satu. + + Bual Buncai lagi, Lena akan mengambil Zorro kapan +pun atau di mana pun dia mau, kalau dia sudah sempat, kalau +semua urusannya dengan dealer vespa itu sudah beres. Dia tak +perlu memberi tahu Sabari sebab Sabari tak punya hak apa- +apa atas bocah itu. + + “Hati-hati, Boi,” Buncai mengingatkan Sabari. + “Ini masalah hukum. Kata Lena, kalau kau macam- +macam, kau akan dilaporkan kepada pulisi, bisa kena kurung +kau!” + Di depan Ukun dan Tamat, Sabari mempertahankan +posisinya dengan dalih bahwa tak ada orang yang lebih dekat +dan lebih sayang di dunia ini kepada Zorro selain dirinya. + “Setuju,” kata Tamat dengan tenang. + Bahwa Zorro sudah ada dengannya sejak masih merah. + “Setuju.” + “Bilang sama Lena, Kun,” pesan lelaki lugu itu. + “Dia boleh kawin dengan dealer vespa, dengan pengge- +mar vespa, dengan pemilik bengkel vespa, dengan pembalap +vespa, dengan pencuri vespa, dengan orang yang pernah di- +tabrak vespa, bahkan dengan penemu vespa. Dia juga boleh +mengambil tanahku, rumahku, warungku, sepedaku, kam- + 220 ~ Andrea Hirata + +bing-kambingku, radioku, baju-bajuku, sarungku, sepatuku, +semuanya, asal dia tidak mengambil Zorro.” + + Di pelabuhan Tanjong Pandan, seorang tukang ojek ka- +wan Ukun melihat Lena mau naik kapal tak tahu ke mana. +Orang itu memberi tahu Ukun. Pontang-panting Ukun ber- +lari ke pelabuhan. + + “Boi! Aku mau menyampaikan pesan Sabari untukmu.” + “Pesan apa?” + “Begini ....” Panjang lebar Ukun bicara. Malas-malasan +Lena mendengarnya dan tiba-tiba dia muntab. + “Bilang sama Sabari! Aku tak perlu rumah reyotnya! +Sepeda bututnya! Dan, kambing-kambing baunya itu! Ma- +jenun!” + “Baiklah, Boi.” + Ukun menghadap Sabari. + “Aku disuruh Marlena menyampaikan pesan ini kepada- +mu, Ri.” Sabari menyimak. + “Katanya, dia tidak mau rumah reyotmu, warung ba- +nyak utangmu, radio busukmu, baju-baju kampunganmu, se- +peda bututmu, gigi tupaimu, alis jarangmu, telinga wajanmu, +jidat monyetmu, dan bahwa kau lebih bau daripada kambing- +kambingmu! Majenun!” + Sabari tersandar pasrah. + “Maka, dengan ini amanah dari kedua belah pihak telah +kusampaikan.” + “Terima kasih, Boi.” + Ayah ~ 221 + +Sabari berusaha mengalihkan pikirannya dari hal-hal yang +pahit. Setiap sore, usai menutup warung dan mengandang- +kan kambing-kambingnya, dia membonceng Zorro naik se- +peda. Zorro duduk di keranjang rotan yang ditautkan di se- +tang. Sepanjang jalan mulut Zorro tak berhenti berkicau. Dia +melambai kepada siapa saja dan apa saja. Alo, alo sapanya. +Dia menyapa orang-orang yang duduk di beranda meski tak +kenal. Dia menyapa pedagang kaki lima, orang gila, polisi lalu +lintas, orang-orang yang berlalu-lalang. Dia juga menyapa +pohon kelapa, mobil parkir, sepeda motor, kucing, ayam, dan +bunga-bunga. + + Oleh karena itu, Zorro menjadi tenar. Jika dia lewat, +orang-orang senang memanggil anak yang menggemaskan +itu. Setiap kali anaknya disapa, perasaan Sabari melambung. + + Karena hujan, suatu ketika Sabari minggir untuk berte- +duh di emper toko. Di sana ada seekor kucing kecil, kehujan- +an dan lemah. Kucing itu mengeong-ngeong serak, habis sua- +ranya karena kebanyakan menangis. Zorro menghampirinya, +langsung mengambil dan menggendongnya. Kucing itu nanti +menjadi Abu Meong. + + Beberapa hari setelah itu, Sabari terkejut melihat Zorro +menghampirinya sambil menggendong seekor kucing. Mung- + 222 ~ Andrea Hirata + +kin kucing itu dibuang di pinggir jalan lalu dipungut Zorro. +Kucing itu nanti menjadi Marleni. + + Sabari membuat ayunan yang ditambatkan di dahan +pohon delima di samping rumah. Di bawah pohon itu mere- +ka banyak menghabiskan waktu. Sabari, Zorro, Abu Meong, +Marleni, delima, semuanya begitu sempurna. + + Saban malam Sabari tidur sambil memeluk Zorro. Ka- +lau terlintas dalam pikirannya anaknya akan dibawa pergi +jauh ke Pulau Bangka, tubuhnya gemetar. Jika terbangun ce- +pat-cepat dilihatnya Zorro, kalau-kalau sudah tak ada. Zorro +pun semakin tak terpisahkan dari ayahnya. Bocah kecil da- +pat merasakan apa yang terjadi. Dia selalu minta digendong +ayahnya. + +Sabari merasa sangat beruntung telah dibesarkan ayahnya +dengan puisi. Dia bersyukur dikenalkan ayahnya pada salah +satu keindahan tertinggi karya manusia sejak usia dini. Kini +dia ingin membesarkan anaknya sendiri dengan puisi. + + Sebagai pengantar tidur, dia selalu menyitir puisi. Zorro +senang melihat gerak gerik ayahnya, kedua tangan diangkat +ke atas, lalu dibekapkan di dada. Mata meredup lalu terpe- +jam. Suara keras, lalu pelan, lalu berbisik di telinganya. Zorro +tergelak-gelak. + Ayah ~ 223 + + Tentu dia tak memahami sebagian besar puisi ayahnya, +tetapi dia dapat merasakan bahwa ayahnya sedang berusaha +menyampaikan keindahan. Dia terpesona. Matanya berbinar +menunggu kata-kata ajaib diucapkan ayahnya. + + Dua pohon yang menyendiri + Dua pohon di tepi sungai yang mengalir sepi + Berdiri tegak, muda dan tumbuh + Mereka ingin mengatakan sesuatu + Namun, mereka tetap diam + + “Itu puisi dari negeri yang jauh, Boi, Turki,” kata Sabari +sambil membuka-buka lembar buku yang dihadiahkan ayah- +nya: Puisi-Puisi Ahmet Munip Diranas. + + “Kalau kau sudah masuk sekolah nanti akan Ayah ce- +ritakan kisah yang hebat dari negeri yang lebih jauh lagi, +Cartagena, Kolombia, itulah kisah Florentino Ariza.” + + Sabari tergelak mendengar Zorro meniru ucapannya, +yoyenyio yayiya! yoyenyio yayiya! + + Kisah tetap Sabari untuk mengantar Zorro tidur adalah +kisah istimewa karya ayahnya, yakni Kisah Keluarga Langit dan +Nyanyi Puisi Merayu Awan. Dengan sukacita Sabari menurun- +kan kisah itu kepada anaknya. + + “Tahukah kau, Zorro? Awan dapat dirayu agar tak me- +nurunkan hujan, nyanyikanlah puisi untuk awan.” + 224 ~ Andrea Hirata + + Sabari bersenandung pelan, seperti senandung ayahnya +dulu. + + Wahai awan + Kalau bersedih + Jangan menangis + Janganlah turunkan hujan + Karena aku mau pulang + Untukmu awan + Kan kuterbangkan layang-layang .... + + Zorro terpana. Setiap malam dia selalu meminta ayah- +nya untuk menyanyikan puisi rayuan awan itu. Setelah bebe- +rapa waktu, dia sendiri mulai pandai menyanyikannya, meski +terbata-bata. + + Zorro senang mendengar cerita dan Sabari senang +bercerita. Sabari menceritakan kisah favoritnya, yaitu Cinta +pada Masa Wabah Kolera dengan menganggap dirinya sebagai +Florentino Ariza. Zorro terbuai kisah dari negeri yang jauh, +Amerika Selatan. + + Dalam salah satu kisah-kisah ninabobo itu, secara tak +sengaja Sabari menyinggung soal makanan. Zorro senang. +Mungkin nama makanan terdengar lucu baginya. Keesokan- +nya Sabari berkongkalikong dengan tukang parkir di depan +Restoran Bundo Kanduang. Malamnya dia berkisah tentang +petualangan pendekar ayam pop sambil mengepak-ngepak- + Ayah ~ 225 + +kan tangan dan berkokok-kokok. Zorro tertawa sampai berair +matanya. Sayangnya restoran padang itu hanya restoran ke- +cil, menunya terbatas sehingga dengan cepat Sabari kehabis- +an kisah. + + Beruntung, ada restoran yang baru buka di Tanjong +Pandan. Restoran Modern, begitu namanya. Sabari menitip- +kan Zorro kepada tetangga dan langsung ngebut mengayuh +sepeda, seratus kilometer ke Tanjong Pandan. + + Di muka restoran itu Sabari berteduh di bawah naungan +pohon kersen. Sekujur tubuhnya berkeringat karena perjalan- +an yang jauh. Dia berpura-pura membetulkan rantai sepeda. +Di dalam restoran orang-orang berpakaian bagus sedang ma- +kan. Mobil-mobil berdatangan. + + Lama menunggu, akhirnya kesempatan itu tiba, seorang +pegawai, perempuan setengah baya, ke luar, mungkin giliran- +nya beristirahat. + + “Kakak, Kakak!” + Perempuan itu menoleh. Sabari menghampirinya. + “Ada apa, Pak Cik?” + “Maaf, tentu Kakak bekerja di restoran ini.” + “Aok.” + “Restoran apakah ini?” + “Restoran masakan modern, Pak Cik.” + “Maksudnya?” + “Semua masakannya model negara Barat.” + “Model negara Barat?” + 226 ~ Andrea Hirata + + “Aok.” + Melambunglah semangat Sabari karena membayang- +kan hebatnya kisah yang akan diceritakannya kepada Zorro. + “Maaf, Kak, bolehkah aku meminta daftar menunya?” + “Maksudnya?” + “Aku memerlukan daftar menunya.” + “Untuk apa?” + Sabari berkisah apa adanya. Bahwa dia memerlukan +daftar menu itu untuk meninabobokan anaknya. Ternganga +lebar mulut kakak itu. Lama diamatinya Sabari. + “Berapa umur anak Pak Cik?” + “Oktober nanti, pas tiga tahun, Kak.” + Kakak itu tersenyum. + “Anakku juga mau tiga tahun.” + “Laki-laki, perempuan?” + “Laki-laki, Pak Cik.” + “Anakku juga laki-laki.” + Kakak itu masuk kembali ke restoran lalu keluar mem- +bawa daftar menu. + Malam itu Zorro tergelak-gelak mendengar nama ma- +sakan nasi goreng luar negeri dan ikan bakar luar negeri. Sa- +bari senang meski dia sedih karena begitu miskin sehingga tak +dapat membelikan Zorro makanan di dalam daftar menu itu. +Dalam hati dia berjanji suatu hari nanti akan membelikan +anaknya makanan-makanan itu. Sementara ini, biar cerita +menu saja dulu. + Ayah ~ 227 + + Sabari terpikir untuk mencoba restoran lain. Melalui +kawannya, anak buah kapal feri Bangka–Belitong, dia men- +dapat menu Restoran Copa Cabana, Pangkal Pinang. Sabari +menitipkan ongkos kepada kawannya, anak buah kapal ba- +rang Manggar–Sunda Kelapa. + + Tak lama kemudian segepok menu restoran Tiongkok +dan Jepang sudah ada di tangan Sabari. Tak tahu bagaimana +cara anak buah kapal itu menggelapkannya. Mata Zorro tak +berkedip, wajahnya tegang melihat ayahnya bersilat-silat me- +niru jurus pendekar Yakiniku membasmi penjahat di Negeri +Teriyaki. Akhirnya, pendekar jagoannya menang, Zorro ber- +sorak-sorak girang, Sabari meraihnya lalu mengangkat anak- +nya tinggi-tinggi. + + Konon, hari paling penting dalam hidup manusia ada- +lah hari saat manusia itu tahu untuk apa dia dilahirkan. +Sekarang Sabari tahu bahwa dia dilahirkan untuk menjadi +seorang ayah. Seorang ayah bagi Zorro. Anaknya telah meng- +urai semua misteri tentangnya. Bahwa wajahnya tidak tam- +pan agar dia tidak menjadi orang seperti Bogel Leboi. Karena +dia seorang Sabari maka Tuhan memberinya Zorro. Bahwa +tangannya yang kasar dan kuat seperti besi adalah agar dia +tak gampang lelah menggendong Zorro. Bahwa dia gemar +berpuisi dan berkisah adalah agar dapat membesarkan anak- +nya dengan puisi. Sabari memeluk anaknya yang telah jatuh +tertidur, serasa memeluk awan. + 228 ~ Andrea Hirata + +Seperti biasa, setiap sore, Sabari mengajak Zorro ke taman +balai kota. Masuk September, hujan hampir setiap hari. Se- +belum berangkat, disiapkannya tas punggung kecil kesayang- +an anaknya, yang kemudian dipakai Zorro dengan gagah. Di +dalam tas itu ada topi, jas hujan, sarung tangan, baju ganti. +Sabari pun memasukkan kemeja ganti untuknya sendiri ka- +lau-kalau nanti kehujanan. + + Seperti kebiasaannya, Zorro menyapa apa pun dan si- +apa pun sepanjang jalan. Di dalam boncengan rotan yang +disematkan di setang sepeda dia tak berhenti berkicau-kicau. +Orang-orang pun selalu memanggilnya. + + Sampai di taman balai kota, kedua anak-beranak itu du- +duk di bangku taman. Zorro sibuk mengunyah kembang gula +berwarna pink, makanan aneh yang kribo itu. Sabari bangkit +dan berjalan untuk membeli balon gas yang jaraknya hanya +beberapa langkah dari tempat duduk mereka. Usai membe- +li balon gas, begitu berbalik dilihatnya beberapa orang telah +mengelilingi Zorro. Orang-orang itu adalah Lena, lelaki ter- +pelajar yang dilihatnya di pengadilan agama itu, dan dua le- +laki lainnya. + + Lena meraih Zorro, langsung menggendongnya dan +bergegas pergi. Zorro meronta. Sabari mendekat, dua pria +tadi menghalanginya. Lena bergegas pergi. Zorro memberon- +tak dan memanggil-manggil, Aya! Aya! Tangannya mengga- + Ayah ~ 229 + +pai-gapai. Semuanya terjadi dengan sangat cepat. Tahu-tahu +Lena dan Zorro telah berada di seberang jalan, lalu masuk ke +mobil dan langsung meluncur. + + Sabari tahu apa yang paling ditakutkannya telah terjadi. +Dia berdiri gemetar di pinggir taman balai kota sambil me- +megang balon gas. Zorro, Zorro, panggilnya dalam hati. + + Lama dia berdiri memandangi persimpangan jalan di +ujung sana, tempat dia terakhir melihat Zorro. Sendi-sendi +tubuhnya lumpuh. Dia bahkan tak mampu memegang tali +balon gas. Balon-balon itu terlepas, terbang menyedihkan ke +angkasa. + + Ramai orang di taman balai kota, hiruk pikuk anak- +anak. Orang-orang berbicara dan memanggil-manggil, peda- +gang kaki lima bersaing keras suara menawarkan dagangan, +mainan balon yang dipencet anak-anak melengking-lengking. +Klakson sahut-menyahut dari kendaraan yang ingin cepat- +cepat sebab langit sudah gelap, hujan segera tumpah. Peluit +yang disemprit polisi membuat susana makin bising, tetapi +Sabari tak mendengar suara-suara itu. Dia merasa berdiri +sendiri di tengah padang pasir. Tak ada siapa-siapa kecuali +dirinya sendiri. Tak pernah dialaminya rasa sepi sehebat itu. + + Di muka toko kain Pakistan itu juru antar bersusah pa- +yah mengengkol sepeda motornya, yang tadi baik-baik saja, +meluncur dengan syahdu melewati taman balai kota, lalu +tiba-tiba mogok. Dia melongok ke langit, titik-titik air mulai +berjatuhan. + 230 ~ Andrea Hirata + + Orang-orang berlarian untuk berteduh di emper-emper +toko. Tinggallah Sabari berdiri sendiri. Hujan rintik-rintik +mulai menimpanya. Dia berjalan pelan menuju tempat parkir +sepeda. Dipandanginya keranjang rotan tempat duduk Zorro +tadi, kosong. Hatinya pedih. Dia selalu mengajak Zorro ke ta- +man balai kota dan sore ini dia akan pulang sendiri, anaknya +tak ada lagi. + + Sabari mencoba menaiki sepeda, tetapi tak mampu ka- +rena tenaganya telah sirna. Maka, dituntunnya saja sepeda +itu. Dia lewat dekat juru antar. Mereka tak saling menyapa +karena juru antar tak melihat Sabari. Dia terlalu sibuk meng­ +engkol motornya. Dan, Sabari tak melihatnya sebab dia me- +nuntun sepeda di tengah padang pasir, tak ada siapa-siapa di +sana. + + Hujan pun turun dengan lebat. Sabari tak berteduh. Dia +terus menuntun sepedanya sambil menangis tersedu-sedu. + 37 Syarat + +GEGABAH, bukanlah tipikal Manikam. Dia itu teliti, meto- +dikal, dan sistematis. Dia memiliki kepribadian seorang pe- +nerjun payung. + + Oleh karena itu, perlu waktu hampir setahun dan pu- +luhan surat dari dan untuk perempuan di Toboali itu sampai +akhirnya dia memutuskan untuk meningkatkan hubungan +mereka ke tahap lebih lanjut. + + Manikam telah melakukan semacam analisis versinya +sendiri, sampai mencakup telaah tulisan tangan. Satu kenya- +taan yang tak dapat dimungkiri, tersirat beberapa soal krusial +dalam tulisan tangan perempuan itu. Yakni, menurut buku +Memahami Tulisan Tangan yang dipedomaninya, ada bagian +yang gelap dari perempuan itu. + + Bahwa mereka yang menulis huruf tertentu dengan ben- +tuk seperti anggota badan, umpama bentuk huruf K macam + 232 ~ Andrea Hirata + +tangan manusia—bagaimanakah bentuk huruf K macam tangan ma- +nusia? Kawan, janganlah kau ributkan soal itu, baca saja—mengin- +dikasikan satu problem psikologis, yaitu orang itu tak banyak +pikir-pikir, pembosan, informal, antikemapanan. + + Maka, tak dapat dimungkiri pula, Manikam sedikit ce- +mas karena merasa ada bagian misterius dari perempuan +Toboali itu, dan dia bingung sebab hasil analisis tulisan ta- +ngannya kontradiktif dengan sebagian dari 37 syarat yang +ditetapkannya. Di sisi lain, Manikam yang berjiwa amtenaar +bukanlah seorang player. Dia tak pernah berspekulasi, apalagi +soal perempuan. Semua risiko haruslah calculated risk, satu risi- +ko yang telah diperhitungkan. + + Begitu di atas kertas, tetapi jika melihat lagi foto perem- +puan itu, segala teorinya lindap, segala kebijaksanaan lenyap. +Begitu kuat tenaga gambar, wajar orang berbondong-bon- +dong menonton sinetron. Perempuan di foto itu membuat +Manikam merasa menemukan semacam sense of purpose, istilah +kerennya, menemukan alasan dan tujuan hidupnya, dan foto +itu mengabarkan bahwa kedamaian telah tercipta di muka +bumi ini. Kupu-kupu beterbangan, burung-burung berkicau. + + Foto itu jelas tidak diutak-utik dengan komputer, yang +bisa membuat orang berwajah macam helm habis dibentur- +kan ke tembok menjadi licin cantik sekali. Foto itu menunjuk- +kan perempuan dengan kecantikan natural. Segala hal ten- +tangnya original, genuine, asli, tidak dibuat-buat. Dia pun tidak +bergaya, tidak berdandan, tidak pula mengenakan baju yang + Ayah ~ 233 + +bagus. Dia memandang sesuatu yang menyenangkan di sebe- +lah sana, tersenyum, lalu seseorang memotretnya, candid. + + Akhirnya, Manikam menyerah pada pesona perempuan +misterius itu, fotonya lebih tepatnya. Untuk menunjukkan ik- +tikadnya dia mengirim sejumlah uang kepada perempuan itu +untuk membiayai perjalanannya dari Toboali ke Bengkulu, +meski perempuan itu tak pernah memintanya. + + Sabtu pagi itu menjadi amat istimewa bagi Manikam. +Bersama kedua anaknya yang masih duduk di sekolah dasar, +dia ke Terminal Bus Arga Makmur. Tegak dia berdiri di plat- +form kedatangan, teliti menatap para penumpang yang ke- +luar dari bus malam. Perempuan itu telah mengatakan akan +bepergian dari Bangka, lalu ke Lampung, lalu ke Bengkulu +naik bus dari Tanjung Karang. Berulang-ulang dilihatnya foto +di tangannya untuk dicocokkan dengan wajah perempuan- +perempuan muda yang keluar dari bus. Kedua anaknya du- +duk dengan wajah cemberut. + + Pukul 10.00 lewat sedikit, sebuah bus besar dari Tan- +jung Karang menikung masuk melalui gerbang kedatangan +disertai klakson yang membuat dada Manikam berdentum- +dentum. + + Pintu bus terbuka, penumpang keluar satu per satu, dan +muncullah perempuan dan seorang bocah. Jika tidak meng- +ingat dirinya PNS golongan III/c, Manikam mau melompat +karena apa yang dibayangkannya selama ini tak memeleset, +bahkan jauh lebih baik. Perempuan itu manis minta ampun. + 234 ~ Andrea Hirata + +Durian runtuh. Dia berlari kecil menyongsong perempuan +itu. Mereka berhadapan. + + “Manikam?” tanya perempuan itu. + “Saya, saya Manikam,” Mantap, perempuan itu menju- +lurkan tangannya. + “Marlena.” + “Ini pasti Zorro,” kata Manikam sambil menunjuk bo- +cah tadi. Dengan pedang plastiknya, Zorro melukis huruf Z. + +Sudah barang tentu sidang pembaca bertanya, apa yang ter- +jadi dengan dealer motor vespa itu? Alkisah, hanya beberapa +bulan berumah tangga dengan pria itu, Lena minta cerai. Se- +bab musababnya adalah semua yang dibayangkannya, tepat- +nya dijanjikan oleh lelaki itu, berbeda dalam praktik. + + Hal sepele, Lena suka musik, lelaki itu tak bisa membe- +dakan musik dangdut dan musik reggae. Lena senang bepergi- +an, dia ingin melihat dunia, lelaki itu senang melihat burung +perkututnya. Lena tak mau menghabiskan sisa hidupnya de- +ngan lelaki yang maunya tinggal di rumah saja. + + Kepribadian Lena yang tak suka ambil pusing membu- +atnya mudah saja memutuskan bercerai dan oleh karena itu +Markoni muntab luar biasa. Dia bilang dalam suratnya kepada +Lena bahwa Lena tak berpikir panjang soal anaknya, menyia- +nyiakan seorang lelaki, yang punya keterampilan di bidang +motor dan menyia-nyiakan Sabari. + Ayah ~ 235 + + Sabari memang buruk rupa, aku pun suka kasihan melihat muka- +nya itu, tapi hatinya baik! Hatinya mulia!!! + + Begitu tepatnya Markoni menulis suratnya. Paling tidak +ada enam belas tanda seru dalam surat yang menyalak-nyalak +itu. + + Lantas, Markoni bilang bahwa kesabarannya sudah ha- +bis karena Lena suka meraupkan abu ke mukanya, satu ung- +kapan betapa malunya orang Melayu. Bahwa dia tak mau +lagi menerima Lena kecuali anaknya itu sudah tobat. + + Merasa kena usir, Lena yang tak kalah keras kepala +dengan ayahnya tersinggung berat. Api dilawan api. Patah +arang dia dengan ayahnya. Diremasnya surat ayahnya sekuat +genggamannya, lalu dibantingnya tanpa ampun. Dia berjanji +kepada dirinya sendiri untuk takkan pernah kembali ke Beli- +tong. Wassalam. + +Zorro sendiri macam bola bekel dibuat nasib. Anak kecil itu +terombang-ambing dalam berbagai kepentingan orang dewa- +sa. Dia yang tak tahu apa-apa itu bak ekor badai, terbanting- +banting akibat kemelut rumah tangga. + + Selama hidup bersama dealer vespa itu dia selalu rewel. +Saban malam dia susah tidur lantaran tak ada orang yang +bercerita kepadanya kisah makanan dan tak ada yang mem- +bacakannya puisi. Dia merengek-rengek sambil bernyanyi tak + 236 ~ Andrea Hirata + +jelas. Sebenarnya, dia menyanyikan puisi merayu awan dan +dia menginginkan ayahnya, tetapi Lena tak mengerti. Diberi +mobil-mobilan dia menolak, diberi gula-gula dia minta balon, +dikasih balon dia minta balon gas, dikasih balon gas dia min- +ta gula-gula. Tak dikasih apa-apa, dia minta mobil-mobilan. +Diberi mobil-mobilan dan balon, dia minta balon gas. Diberi +mobil-mobilan, gula-gula, balon, dan balon gas, dia tak minta +apa-apa. + + “Apa sebenarnya maumu, Boi?!” Lena jengkel. + Zorro menangis. + Dalam kejengkelan yang memuncak lantaran tak tahu +cara menenangkan Zorro, Lena melihat tas punggung kecil +yang selalu dipakainya. Dibukanya tas itu dan ditemukannya +kemeja Sabari. Diberikannya kemeja itu kepada Zorro. Zorro +terpana lalu menjulurkan tangannya menerima kemeja itu. +Diciumi dan dipeluknya kemeja itu. Perlahan-lahan tangisnya +reda menjadi isakan sehingga tubuhnya tersentak-sentak. Aya, +aya, katanya. Tak lama kemudian dia tertidur. + Satire +Akhir Tahun + +SABARI takkan pernah lupa, hujan lebat, September, saat +itulah Lena mengambil Zorro darinya. Dua minggu setelah +itu ibunya meninggal. Hanya berselang tiga minggu setelah +itu, ayahnya meninggal. November, Marleni hilang. Tetangga +melihat kucing itu kabur bersama seekor kucing garong. + + Sabari mengalami situasi sudah jatuh tertimpa tangga, +lalu menginjak paku dan pakunya karatan, mengandung ba- +haya tetanus. Semua orang telah pergi naik kapal Nabi Nuh, +dia ditinggal sendiri, tak diajak. Yang tertinggal hanya dua +orang, dia dan sepi. + + Tengoklah apa yang tersisa sekarang, tak ada, selain ma- +lam yang senyap dan kafilah-kafilah angin yang datang dari +selatan, menampar-nampar atap rumbia, menyelisik daun- +daun kenanga, menjatuhkan buah kenari, menyapu pucuk- +pucuk ilalang, menepis permukaan Danau Merantik, lalu ter- +lontar jauh, jauh ke utara. Sesekali burung pipit yang tidur di + 238 ~ Andrea Hirata + +gulma-gulma terbangun, bercuit-cuit sebentar, berebut tem- +pat tidur lagi, lalu senyap lagi. + + Sabari duduk sendiri di beranda, mengamati garis-garis +nasib di telapak tangan kirinya, yang tampak nyata di bawah +sinar purnama kedua belas. Dia rindu kepada Zorro, Marle- +na, ayahnya, ibunya, dan Marleni. Sabari yang sentimental, +lembut, dan perasa. Air mata berjatuhan di telapak tangan +kirinya itu. Tangan kanannya teguh menggenggam pensil. + + Abu Meong kembali dari dapur dengan gaya berjalan +seperti orang habis melemparkan bola boling, lalu meloncat +lagi ke pangkuan Sabari. Mereka duduk memandangi purna- +ma kedua belas hingga rembulan tersembunyi di balik awan- +awan sisik Januari. + + Sabari sadar bahwa segala hal yang dia lakukan selama +ini, semangat yang tumbuh di sendi-sendi tubuhnya, setiap +tarikan napasnya, adalah demi anaknya, si kecil yang mu- +rah senyum itu. Tak bisa dialihkannya pikirannya dari Zor- +ro. Hampir tiga tahun, tak pernah walau hanya sehari dia +terpisah dari anaknya itu, tiba-tiba anaknya tak ada. Sering +dia melakukan rutinitasnya, bangun subuh, cepat-cepat men- +jerang air untuk membuat susu. Tergesa-gesa karena bangun +agak terlambat. Aduk ini, aduk itu, masukkan ke botol susu. +Bergegas ke kamar lagi, tetapi terkejut karena Zorro tak ada. +Sabari tersandar di dinding, tubuhnya lunglai. Dia bersimpuh +di lantai, tersedu-sedu tangisnya. + + Setiap hari Sabari dicekik kerinduan sekaligus kecemas- +an akan keadaan anaknya. Oleh karena itu, dalam waktu sing- + Ayah ~ 239 + +kat hidupnya merosot. Warungnya tak terurus, mismanagement. +Nama Buncai menghiasi buku utang hampir setiap halaman. +Nama Budimat dan Abdut muncul di buku itu sesering kata +barang siapa muncul di dalam Kitab Undang-Undang Hukum +Pidana. Nama Salamah tak pernah absen. Sesudah Salamah +selalu ada Jamot dan Mainap. Seisi kampung tahu ketiga pe- +rempuan itu saling bersaing dalam hal apa pun, ternyata juga +dalam hal berutang. Sabari membolak-balik buku utangnya +dan terkejut mendapati hampir setengah umat yang berada di +Jalan Padat Karya telah berutang di warungnya. Warungnya +kolaps. Karena patah semangat, Sabari juga tak mengurusi +kambing-kambingnya. Dengan harga murah kambing-kam- +bing itu dilegonya. Partikelir, itulah situasi Sabari sekarang. + Surat-Surat +Lena + +DAN, menikahlah Marlena dengan Manikam dan hiduplah +Zorro dengan dua saudara tiri yang terus-menerus memusuhi­ +nya. + + Untuk kali pertama dalam hidupnya, Lena mendapat +ketenangan di haribaan seorang pria berpendidikan tinggi, +berperangai baik, berkarier bagus, dan bergaji besar. Sejak +dapat bini baru, Manikam pun makin tegap langkahnya. Di +kantor dia makin berprestasi sehingga segera naik pangkat. + + Di rumah, kerap dia berkisah tentang foto yang dulu di- +kirim Lena dan betapa matanya yang indah serta lesung pipit- +nya membuat perasaannya tak keruan. + + Kata Lena foto itu diambil oleh kawan kerjanya, Laila, +di kursus komputer di Toboali. Yang mengirim foto itu juga +Laila. Kata Lena, mengutip ucapan Laila, jika mengirim foto +jangan yang lebih cantik daripada keadaan sebenarnya kare- + Ayah ~ 241 + +na masalah runyam bisa timbul belakang hari. Agaknya Laila +sudah tahu seni mengirim foto. + + Manikam mengatakan bahwa dia tertarik untuk me- +ngenal Lena lebih jauh karena 37 syarat yang ditetapkannya. +Lena tertawa. Katanya bukan dia yang menetapkan syarat- +syarat itu, melainkan semuanya karangan Laila, yang sudah +empat kali kawin cerai dan menganggap semua lelaki di dunia +tak lain selain buaya darat. + + Betapa Manikam pegawai negeri sipil terperanjat. Ber- +bulan-bulan dia terpesona dengan syarat-syarat itu. + + “Jadi, bukan kau yang membuat 37 syarat itu?” + “Bukan,” jawab Lena santai sambil membetulkan ikat +rambutnya. Tiba-tiba Manikam menjadi gugup. + Bulan demi bulan berlalu, genap empat tahun usia +Zorro dan hampir setahun Lena bersama Manikam. Setiap +malam Zorro hanya bisa tidur jika mencium kemeja itu. Dia +terkucil di rumah besar, yang semuanya berkilap, dingin, dan +asing. Sahabatnya hanya sebuah pedang plastik dan selembar +kemeja. Jika diperlakukan dengan kasar oleh saudara-saudara +tirinya, dia bersembunyi di pojok ruangan, dan dengan me- +nutupkan kemeja itu ke tubuhnya, dia merasa terlindungi. + Kerap Zorro memandangi kemeja itu, kemeja siapakah +itu? Ketika dipisahkan dari ayahnya, usianya belum tiga ta- +hun, saraf-saraf ingatannya belum terjalin dengan baik. Yang +menempel samar di benaknya hanya bau kemeja itu berhu- +bungan dengan seseorang yang dipanggilnya aya, selalu terse- + 242 ~ Andrea Hirata + +nyum kepadanya, selalu bercerita menjelang dia tidur, selalu +memeluknya, tetapi kian hari bayangan itu kian pudar. + + Zorro bertanya kepada ibunya tentang kemeja itu. Lena +bilang bahwa kemeja itu dibelinya di kaki lima pasar dalam +Tanjong Pandan, sepuluh ribu tiga! Jangan tanya-tanya lagi +soal kemeja kampungan itu! + +Sejak masih SD, Lena punya hobi bersahabat pena, dan sesa- +ma sahabat pena mereka telah berjanji untuk tetap berkirim- +kirim surat sampai tua nanti. Tiap bulan dia ke kantor pos +untuk mengirim surat. Lama-lama sekali dia juga mengirim +surat ke Belitong, kepada sahabatnya sejak SMA, Zuraida. +Maksudnya jika terjadi sesuatu, ada yang tahu di mana dia +dan Zorro berada. Namun, sehubungan dengan pecah kongsi +antara Lena dan ayahnya, semuanya harus dirahasiakan. Se- +cara diam-diam Zuraida akan memberi tahu ibu Lena bahwa +Lena dan Zorro baik-baik saja. + + Lama tak menerima surat dari Lena, akhir Maret itu, +Zuraida tercenung membaca kalimat terakhir dalam surat +Lena. + + Semuanya ada di sini. Zorro senang, aku senang, dan aku merasa +sangat bosan. + + Jika seseorang punya sifat pembosan di satu sisi dan di +sisi lain tidak punya respek terhadap lembaga-lembaga yang + Ayah ~ 243 + +telah bersusah payah diciptakan oleh pemerintah agar warga +negara Republik Indonesia bisa hidup lebih tenteram—lem- +baga itu misalnya KUA—kombinasi sifat semacam itu akan +membuat orang tersebut tak pernah berhenti mencari dirinya +sendiri. Zuraida kenal benar dengan Lena, dia tak terkejut +waktu bulan berikutnya menerima surat dari Lena bahwa dia +mau bercerai dari Manikam. + + Tentu saja Lena sudah cukup dewasa untuk memahami +bahwa bahtera rumah tangga tidak boleh pecah hanya lantar- +an salah satu pihak merasa bosan. Lambat laun Lena merasa +ada perbedaan karakter yang besar antara dia dan Manikam, +yang menyebabkan dia akan bersikap semakin tak adil kepa- +da Manikam jika terus melanjutkan rumah tangga. Inilah ri- +siko membangun rumah tangga melalui foto. + + Manikam berusaha membujuk Lena untuk tidak per- +gi, tetapi Lena bukanlah orang yang gampang ditaklukkan. +Bersusah payah Manikam minta izin dari kantor untuk per- +ceraian keduanya. Akhirnya, Manikam-Marlena tutup buku. +Mereka berpisah tanpa ribut-ribut. + + Lena memutuskan untuk hidup mandiri bersama Zorro +dan tetap tinggal di Bengkulu. Dia telah punya kawan-kawan +dan senang berada di kota yang memesona itu. Dia mau men- +cari kerja. Dia memang berjiwa pemberontak dan berwatak +keras seperti ayahnya, tetapi dia bukanlah orang yang tidak +pintar. + + Di Pangkal Pinang dulu, waktu masih menjadi istri dealer +motor vespa itu, dia ikut kursus komputer. Masa kini, siapa + 244 ~ Andrea Hirata + +yang berdaya menolak seorang sekretaris pintar berwajah +manis, yang lesung pipitnya pernah membuyarkan konsentra- +si pengatur lalu lintas sehingga simpang lima Kota Tanjong +Pandan macet total? + + Lena percaya diri dan cepat belajar, bisa komputer pula, +bahasa Inggris-nya lumayan. Ke mana pun dia melamar ker- +ja, asal ada wawancara dan orang sempat melihat penam- +pilannya, pasti dia diterima. Maka, Lena diterima bekerja di +sebuah perusahaan jasa ekspedisi yang mengirim furnitur an- +tarpulau. Distibutor susu kuda liar sampai memohon-mohon +agar perempuan manis itu mau bekerja dengannya. + + Tak mudah berjuang, tinggal di rumah petak yang kecil, +begitu Lena mengaku kepada Zuraida soal hidup mandirinya +bersama Zorro. Amat berbeda dengan hidupnya yang berke- +cukupan dengan Manikam. Namun, dia lebih senang keada- +an morat-marit ketimbang hidup dengan orang mapan yang +semua yang akan terjadi dengan mudah dapat diramalkan. + + Dapat mengambil keputusan sendiri adalah kemerdekaan yang in- +dah. Ada perasaan lega yang tak dapat kulukiskan dengan kata-kata. Ke- +jutan yang menyenangkan terjadi setiap hari. Aku tak tahu apa lagi yang +akan terjadi dalam hidupku, Zurai, cinta adalah sahabat yang licik, tapi +aku siap menerima tantangan baru. + + Jiwa manusia memang lebih rumit daripada konstelasi +bintang gemintang di angkasa. Lena pun bercerita bahwa dia + Ayah ~ 245 + +sering bepergian dengan Zorro. Mereka pergi ke mana pun +mereka suka, dan katanya, Zorro menuruni sifatnya, senang +berkelana. Zuraida membalas. + + Berkirim suratlah terus, Boi, aku suka membaca kisah-kisahmu. +Dari segenap perjalananmu itu, apakah kau terpikir untuk pergi ke Ban- +da Aceh? Kalau iya, aduh, beruntungnya kau dapat melihat kota yang +hebat itu. Kota tua bersejarah, dan Masjid Baiturach­man. Aku hanya +bisa melihat masjid megah itu dari almanak 78, tak pernah kuganti +bagian itu. Lena. Kalau kau sempat ke sana, berfotolah di muka masjid +itu, kirimkan kepadaku fotonya. + +Lena tak pernah tahu betapa surat-suratnya telah memenga- +ruhi Zuraida, perempuan penyendiri pembuat kue satu itu. +Seperti Izmi yang diam-diam terinspirasi oleh Sabari, diam- +diam Zurai merasa dikuatkan oleh surat-surat Lena. Dia ka- +gum akan pendirian Lena, betapa sahabatnya itu telah ber- +kelana dan tak pernah ragu untuk menjadi dirinya sendiri, +seseorang yang berani berdiri tegak untuk mengatakan apa +yang diinginkan dan tak diinginkannya, seseorang yang da- +pat memerdekakan diri dari kebergantungan atas apa pun, +termasuk atas rasa malu yang tak beralasan. Seseorang selalu +tersenyum meski kesulitan mengimpit dan melangkah lagi un- +tuk melihat kemungkinan baru. + 246 ~ Andrea Hirata + + Tak pernah sebelumnya Zuraida berani mengunjungi +pasar malam sendiri. Di depan kaca, dikuatkannya hatinya +bahwa tak perlu menunggu punya pasangan hanya sekadar +untuk naik komidi putar yang disukainya, menyaksikan aksi +tipu daya tukang dadu cangkir, melihat para pembalap tong +setan dari Mojokerto, sambil menikmati kembang gula. + + Tak sedikit yang berbisik-bisik dan memandangnya de- +ngan aneh. Zuraida melangkah dengan tenang, sendiri di +tengah hiruk pikuk pasar malam. Dia menyaksikan apa pun +yang disukainya, membeli apa pun yang diinginkannya, dia +tersenyum, tertawa, dan bertepuk tangan, sesuatu yang tak +pernah berani dilakukan sebelumnya. Surat-surat Lena telah +membuatnya menemukan seseorang yang baru dalam diri- +nya, seseorang yang lebih gembira dan bernyali. Di sebelah +sana, Izmi sibuk mengokang senapan mainan, lalu membidik +bebek yang lewat dengan cepat. Dia menembak dan memele- +set, berderailah tawanya, sendirian. Telah lama Zuraida dan +Izmi tak merasa gembira seperti malam itu. + “Besame Mucho” + +HAMPIR setahun Marlena hidup berdua saja dengan Zorro +sebagai—istilah populer masa kini—single mother. Lena gem- +bira karena semakin dekat dengan Zorro, yang telah berusia +lima tahun, semakin cerdas, dan semakin tampan. + + Zorro masih selalu bertanya, siapakah pemilik keme- +ja yang dia tak bisa tidur jika tak menciumnya? Lena selalu +mengalihkan pembicaraan. Setiap malam, Zorro dininabo- +bokan bau dan kenangan berkabut yang menguar dari ke- +meja itu. Setiap malam pula Lena membaringkan satu sosok +pemberontak yang bersembunyi dalam dirinya. + + Pada Sabtu sore itu, Marlena mengajak Zorro ke alun- +alun Rajo Malim Paduko untuk menonton festival musik. +Festival yang meriah. Ada beberapa panggung pertunjukan. +Di salah satu panggung, sepasang MC mengumumkan—se- +telah melakukan gerakan tangan secara seragam dan secara +bersama mengucapkan hal yang sama—melalui festival seni kita + 248 ~ Andrea Hirata + +tingkatkan bla ... bla ... bla—bahwa di panggung itu akan segera +tampil sebuah band legendaris dari Medan. Lena dan Zorro +melangkah ke arah panggung itu, satu langkah nasib. + + Akhirnya, muncullah band dari Medan itu. Rata-rata +pemain musiknya berambut panjang. Intro berkumandang, +seorang lelaki mendekati mik dan mulai bernyanyi. + + Setelah itu, tak ada, tak ada yang bisa disalahkan sela- +in lagu “Besame Mucho”. Mulanya Lena merasa biasa saja. +Seperti anak Melayu yang umumnya tumbuh dalam budaya +radio, dia tahu banyak tentang lagu dan tahu penyanyi yang +masuk akal bertingkah laku di depan mik. Dia dapat membe- +dakan antara bernyanyi dan ngomel-ngomel, khotbah, atau +melolong sekehendak hati diiringi bunyi-bunyian. Singkat ce- +rita, tak mudah membuatnya terkesan melalui musik, tetapi +lelaki di atas panggung itu dalam waktu singkat langsung me- +nyita perhatiannya. + + Alunan suaranya, denting gitarnya, sinar matahari sore +yang menyinarinya dari samping, dan angin lembut dari arah +Sungai Bantai yang mengibarkan rambutnya, membuat hati +Lena tak keruan. + + “Besame Mucho” berakhir, langsung disambut entakan +drum yang khas, Marlena langsung tahu intro itu. + + “Ruby! Ruby!” pekiknya dalam hati. + Penyanyi itu tersenyum dan bernyanyi lagi. + Lena hafal lagu country lama yang lincah itu. Dia ikut +bernyanyi. Penyanyi pun senang melihat salah seorang pe- + Ayah ~ 249 + +nonton mengikuti lagunya. Petikan gitarnya membuat Mar- +lena mengajak Zorro menari. Zorro berputar-putar riang +mengikuti tangannya yang diputar-putarkan ibunya. Marlena +terus bernyanyi oh, Ruby, don’t take your love to town .... Zorro +tertawa riang. + + Dari atas panggung, penyanyi melihat para penonton +bergerak lambat, lalu membentuk lingkaran dan menari me- +ngelilingi seorang perempuan cantik dan anak lelakinya yang +menari canggung sambil tersipu malu. + + “Ruby” selesai bersama riuh tepuk tangan penonton. +Penyanyi melambaikan tangan kepada Marlena dan Zorro. +Marlena tak membalas karena tertegun menatap lelaki yang +indah itu. Dia dilanda pikiran tentang betapa besar kebaha- +giaan dapat diberikan sebuah lagu dan betapa besar seorang +penyanyi dapat membuatnya terpukau. Zorro heran melihat +tingkah ibunya. + + “Ada apa, Ibunda?” + Lena menatapnya dan tersenyum lebar. + “Siap-siap, Boi, kita akan berangkat ke Medan!” + +Pedih hati Ukun mengetahui Mbak Yu sudah digaet pega- +wai PDAM. Yuyun pun sudah digondol anak buah kapal feri +Samudera Jaya. Bahkan, perempuan yang tak banyak bicara +tetapi banyak tersenyum, yang suka duduk di bangku taman +balai kota itu, sudah serius dengan seseorang. + 250 ~ Andrea Hirata + + Mereka bosan terjebak dalam hal yang itu-itu saja, ba- +ngun tidur, bekerja, nongkrong di warung kopi, pulang, tidur +lagi, bangun lagi, bekerja lagi, nongkrong lagi, pulang lagi, +tidur lagi. SSDD, same sh$#different day. Kebosanan itu kejam, +tetapi kesepian lebih biadab daripada kebosanan. Kesepian +adalah salah satu penderitaan manusia yang paling pedih. + + Tidak hanya konyol, tetapi juga riskan mengharapkan +nasib berubah dari melihat saat-saat mistik ketika langit menjadi +biru di pantai barat sana. Kejadian itu belum tentu setahun +sekali. Tindakan yang lebih kongkret harus diambil, yakni ko- +lom jodoh di koran lokal, halaman tujuh. + + Pagi-pagi pada hari Minggu, Ukun dan Tamat sudah +berada di warung kopi Solider dan langsung menyambar ko- +ran lokal. Tak keruan hati mereka melihat propaganda ten- +tang mereka sendiri di kolom jodoh. + + UK, Pria (32), perjaka, suku Melayu, ramah, bertanggung ja- + wab, ijazah SMA, punya pekerjaan tetap di bidang mekanika dan + elektronika, sehat badan & pikiran, tak berminat pacaran, serius, + langsung menikah. Mencari wanita, belum pernah menikah, pega- + wai negeri, sehat, berpenampilan menarik, usia selaras. Peminat + silakan hubungi redaktur dengan kode UK32/per658/90. + + Sebenarnya, dalam kolom pekerjaan Ukun mau me- +nambahkan, khususnya untuk produk berteknologi digital dari Jepang. + Ayah ~ 251 + + Redaktur bertanya, “Pekerjaan Abang sebenarnya apa, +sih?” + + “Tukang gulung dinamo, Pak.” + Redaktur segera menyuruh Ukun tutup mulut. + Propaganda Tamat lebih kurang sama. Pada bagian +pekerjaan dia agak sungkan menyebut profesinya sebagai tu- +kang kipas satai di restoran kambing muda Afrika. Digantinya +secara diplomatis: aktif di bisnis kuliner, dan selain meminati +pegawai negeri, dia menambah sedikit, kalau bisa guru. + Perempuan para pegawai warung kopi yang merubung +koran Minggu mencibir iklan Ukun dan Tamat, banyak tingkah! +kata mereka. + Redaktur sependapat. + “Tentu saja tak ada respons, Boi, karena syarat kalian +berat sekali. Mana ada pegawai negeri mencari jodoh lewat +kolom jodoh.” + Ukun dan Tamat sepakat mengurangi syarat, menjadi +cukup belum pernah menikah, berpenampilan menarik, dan usia sela- +ras. Respons tetap nihil. Syarat dikurangi lagi menjadi: siapa +saja, asalkan perempuan yang serius mau menikah. Tetap tak ada res- +pons, mungkin karena para pegawai warung kopi itu saling +mengingatkan agar jangan pernah berhubungan dengan pria +yang putus asa. + Sebaliknya, Ukun dan Tamat kerap menanggapi wanita +yang memasang profilnya di kolom jodoh itu. Namun, usai + 252 ~ Andrea Hirata + +sekali bertemu, mereka tak pernah dihubungi lagi oleh wanita +itu. Tak ada follow up istilahnya. + + Lantaran jengkel, sudah enam bulan Ukun bersurat- +surat dengan seorang perempuan yang juga dikenalnya lewat +kolom jodoh. Berkali-kali perempuan dari Sekunyit itu meng- +ajaknya kopi darat, Ukun selalu menghindar. Karena, dia tahu +semuanya akan gagal setelah wanita itu melihatnya. + Kisah +Keluarga Langit + +ADA bentuk-bentuk gembira kecil, misalnya waktu tukang +cat menemukan duit dua ribu perak dibungkus plastik dalam +kaleng cat tembok, atau jika Jumat tanggal merah. Atau, saat +mendengar pramugari berkata bahwa sebentar lagi pesawat +akan segera mendarat, atau secara tak sengaja sandal kita +tertukar dengan sandal orang lain, yang lebih bagus. Atau, +saat pelukis menempelkan label sold pada lukisannya, tetapi +nilai gembira yang dirasakan JonPijareli setara dengan semua +gembira kecil tadi diakarkan, lalu dipangkatkan enam, hasil- +nya dipangkatkan enam lagi (mengapa harus repot-repot diakarkan +dulu? Misteri.). + + Dari orang yang suntuk, mumet, dan sumpek, setelah +berkenalan dengan Lena, sekonyong-konyong Jon jadi ceria. + + “Biarlah kita jatuh cinta dan biarlah waktu mengujinya.” +Bukan main kata-katanya itu. Lain waktu dia berkata betapa +dia bersyukur telah berjumpa dengan Lena. + 254 ~ Andrea Hirata + + “Waktu kau datang, aku sedang sakit. Tahukah kau, +Lena?” + + Demam? + “Orang yang datang membawa cinta kepada orang yang +sedang sakit, dia membawa kesembuhan.” + Bicara apa orang ini? + “Ah, indah sekali!” Jon memuji kata-katanya sendiri. +“Bolehkah kupakai untuk lirik lagu ciptaanku?” + Kata-katamu sendiri, suka-sukamulah, aih, satu lelaki, seribu ce- +rita. + Menggelikan, sebelum berangkat ke festival di Bengku- +lu, lantaran merana, Jon berkata kepada siapa saja bahwa dia +akan pensiun. Bahwa band-nya akan dilungsurkannya kepada +Boros Akinmusire, pemain trompet nan jempolan itu. Lena +telah mengubah segalanya. + Perkawinan Jon dengan Lena adalah perkawinan ketiga +dan dengan segera sang musisi menganggap angka tiga se- +bagai angka keramat. Dari perkawinan sebelumnya, Jon tak +pernah punya anak karena itu dia senang sekali kepada Zor- +ro. Lagi pula, siapa yang tak jatuh hati kepada bocah tampan +yang pintar itu? Zorro membuat Jon menjadi seseorang yang +diam-diam, jauh dan getir di dalam hati, selalu diinginkan- +nya: ayah. + “Siapa namamu, Anak Muda?” tanya Ibu Basaria, siap +mengisi formulir pendaftaran kelas satu SD. Dengan tangan- +nya, Zorro melukis huruf Z di udara. + Ayah ~ 255 + + “Zorro!” pekiknya. + Bu Basaria tergelak. “Oh, Zorro macam di pelem itu?” + Zorro mengangguk. + “Maaf, Bu, itu nama panggilannya.” Lena kemudian +menyebut nama asli anaknya. + “Nama yang bagus, berawalan huruf A. Tapi, nama +berawal A suka dipanggil kali pertama oleh guru-guru, untuk +menjawab pertanyaan, untuk bernyanyi. Apakah kau siap, +Anak Muda?” + Zorro berdiri dan dengan sengit melukis lagi huruf Z. + Saban hari Jon mengantar Zorro ke sekolah dan men- +jemputnya. Jon senang melakukannya, Zorro pun senang +dibonceng naik motor BSA. Dipeluknya kuat-kuat pinggang +ayahnya dari belakang. Dadanya berdentam-dentam seirama +dentum knalpot motor besar itu. Kata guru-guru Zorro ada- +lah murid yang istimewa. + “Cerdas dan banyak kali tahu kata-kata, jauh di atas +rata-rata anak-anak seusianya. Apakah dia diajari kata-kata +di rumah?” + Jon dan Lena menggeleng sambil tersenyum geli. + Zorro naik ke kelas dua menduduki peringkat pertama. +Nilai-nilainya jauh meninggalkan Imelda di peringkat kedua. + Lena tercenung melihat rapor anaknya. Zorro telah ter- +tidur sambil mencium kemeja itu. Dari kaca jendela Lena me- +lihat jalan raya M. Yamin yang panjang, dipagari tiang-tiang +lampu jalan. Kantor pos, kantor Telkom, rel kereta tampak di + 256 ~ Andrea Hirata + +ujung sana. Cahaya kuning yang terang sambut-menyambut +menerangi jalan. Sesekali melintas orang-orang mendorong +gerobak sambil memukuli kuali. Dari jauh terdengar bunyi +kereta terakhir melintas, sesudah itu senyap. Makin senyap +Jon memainkan lagu yang pelan dengan gitarnya. Lena rindu +pada Belitong, keluarga, dan kawan-kawannya. Diambilnya +kertas dan pulpen, ditulisnya surat. + +Ke hadapan kawanku, Zuraida, di Belantik, + +Halo Boi, apa kabarmu? + Semoga kau dalam keadaan baik dan sehat. Maafkan sudah lama + +aku tidak memberimu kabar. Bukannya aku telah melupakanmu, melain- +kan di Medan banyak hal yang terjadi sehingga aku menunggu saat yang +tepat untuk menulis surat. + + Aku menulis surat ini dalam keadaan sedih sekaligus gembira. Se- +dih kalau teringat masa lalu, gembira karena keadaanku sekarang. Hidup +selalu menghadapkan kita pada pertukaran, pertukaran antara apa yang +kita dapatkan dan apa yang kita korbankan, pertukaran antara prinsip +yang kita pegang dan nama baik yang kita pertaruhkan. Adakalanya +pertukaran itu sulit, yaitu antara apa yang kita anggap benar dan orang +lain menganggap apa yang kita anggap benar itu salah (kurasa itulah +yang telah terjadi antara aku dan ayahku). Dalam pertukaran itu setiap +hari kita membuat pilihan dan keputusan, dan masing-masing punya +risikonya sendiri-sendiri. + Ayah ~ 257 + + Kubayangkan hidupku jika dari dulu selalu patuh akan nasihat +ayahku. Namun, mungkin jalan pahit yang berliku-liku inilah yang harus +kutempuh. + + Aku tak menyangkal bahwa banyak peristiwa masa lalu yang ku- +sesali sekarang. Karena waktu itu aku muda, bodoh, dan marah. Namun, +bukankah kita tidak benar-benar hidup jika kita hidup tanpa penyesalan? + + Aku telah mengambil pilihan yang sulit sampai akhirnya bertemu +dengan pemusik ini. (Kuharap kau tertawa, Boi, karena di sini aku terse- +nyum, lihatlah dia sedang memainkan gitarnya di situ. Kuharap dia tak +membawakan lagu “Hotel California”!) + + Dan kuharap kau pun segera menemukan cinta sejatimu. Karena +cinta sejati akan melemparkanmu pada sebuah tempat yang dari situ kau +dapat melihat segala sesuatu dalam hidupmu dengan jernih. Aku selalu +merasa Bogel Leboi adalah cinta pertamaku, rupanya aku keliru. Cinta +pertamaku, setelah malang melintang berkenalan dengan banyak orang +dan tiga kali kawin cerai, adalah JonPijareli, gitaris Medan, percayakah +kau? + + Salam rindu. Zurai, ciumlah tangan ibuku untukku. + Sahabatmu selalu, + Lena + +Anak yang sehat, baik budi, dan pintar, suami musisi berbakat +yang dicintai setengah mati, tak ada lagi yang diminta Lena +dari hidup ini. Namun, rapor Zorro pada semester 1 kelas + 258 ~ Andrea Hirata + +dua jatuh. Dia hanya menempati urutan kedua. Saingan be- +ratnya, Imelda, berjaya di posisi teratas. Lena dan Jon mena- +nyakan kepadanya apa yang terjadi. Jawaban Zorro membu- +at mereka tercengang. Kata Zorro dia sengaja menurunkan +nilainya, sengaja tak menjawab beberapa soal dalam ujian, +sengaja membuat dirinya kehabisan waktu dalam ujian ka- +rena kasihan kepada Imelda yang sangat ingin menjadi juara +pertama. Bagaimana anak kelas dua SD bisa berpikir seperti +itu? Bayangan Sabari berkelebat dalam kepala Lena. + + Lena dan Jon membiarkan apa yang terjadi. Mental +lebih penting daripada akal, barangkali itu prinsip mereka. +Zorro pun biasa saja. Menempati urutan kedua malah mem- +buatnya semakin ceria dan semakin mudah berkawan dengan +Imelda. Suatu hari, menjelang kenaikan kelas, karena teram- +pil berbahasa, Zorro diikutkan lomba bercerita tingkat anak- +anak. Cerita haruslah karangan anak-anak sendiri. + + Banyak sekali penonton lomba itu. Guru-guru, para sis- +wa, orangtua murid, dan penonton lainnya. Jon dan Lena du- +duk di deretan bangku paling depan. Zorro naik panggung, +meraih mik, dan mulai bercerita: + +Tahukah dirimu, Kawan? Langit adalah sebuah keluarga. Anaknya ada +dua, Angin dan Awan. Ayahnya adalah Matahari. Ibunya Bulan. + + Angin senang berkeliaran sesukanya, memelesat ke selatan, meng- +goda ilalang, berputar di atas ombak, terlambung tinggi ke angkasa, lalu +berpencar ke delapan penjuru. Jika sore, ayahnya, Matahari, memang- + Ayah ~ 259 + +gilnya dan kita mendapat senja yang indah. Jika malam, Angin tak ber- +embus karena Bulan memeluk anak bungsunya. + + Awan adalah anak perempuan yang suka bersedih. Oleh karena +itu, manusia bisa mengajak Awan bercakap-cakap. Jika awan gelap dan +manusia tidak menginginkan hujan, Awan bisa dibujuk. Berhentilah se- +jenak di mana pun kau berada, tataplah Awan dan berbicaralah dengan- +nya agar dia menunggu sebentar saja sampai engkau sampai di rumah. + + Akan tetapi, kau hanya bisa membujuk Awan dengan puisi dan +puisi itu harus kau nyanyikan. Seperti ini nyanyiannya .... + + Wahai Awan + Aku ingin sekolah, janganlah dulu kau turunkan hujan + Ajaklah Angin, untuk menerbangkanmu ke selatan + Wahai Awan + Janganlah dulu kau turunkan hujan + Wahai Awan, kuterbangkan layang-layang untukmu + + Penonton terpana mendengar anak kelas dua SD dapat +bercerita seperti itu. Jon ternganga, Lena menggenggam ta- +ngannya kuat-kuat. Tadinya mereka pikir akan mendengar +cerita Zorro, seperti cerita anak-anak lainnya, tentang kucing, +kancil, petualangan ke rumah bibi selama libur sekolah mere- +ka. Namun, cerita Zorro sangat berbeda. + + Mata Lena berkaca-kaca. Dari seluruh prahara yang te- +rus-menerus menderanya, selama bertahun-tahun, untuk kali +pertama, di muka panggung lomba cerita itu, dia menangis. +Benar kata orang, sekuat apa pun halangan, setinggi apa pun + 260 ~ Andrea Hirata + +tembok menjulang, tak ada yang tak dapat diluruhkan seo- +rang anak. + + Bu Basaria berdiri dan bertepuk tangan, diikuti tepuk +tangan riuh penonton lainnya. Dia menoleh sekeliling seakan +memberi tahu setiap orang bahwa Zorro adalah muridnya. + + Zorro menjadi juara lomba. Di rumah Lena bertanya, +bagaimana dia bisa mengarang kisah keluarga langit itu? Zor- +ro menatap ibunya. Dia tak bisa menjawab karena dia sendiri +heran bagaimana dia bisa bercerita seperti itu. + Sketsa + +FEBRUARI menjelang. Meski tahun demi tahun tak pernah +melihat langit menjadi biru, Ukun dan Tamat tetap datang ke +pantai barat. Lebih mudah mendapat kenalan ketika semua +pendamba cinta berkumpul pada satu tempat, seperti pasar +jodoh. Itukah sesungguhnya maksud mitos saat langit menjadi +biru? Yakni kebijakan budaya saja agar orang-orang gampang +menemukan pasangan. Barangkali tak ada hubungannya de- +ngan fenomena alam. + + Usailah musim barat dan usailah masa pancaroba. +Anak-anak punai yang selamat dari ganasnya musim hujan +mulai belajar terbang labuh, terbang sebentar, lalu berlabuh +di dahan-dahan rendah. Kepompong telah bersayap menjadi +kupu-kupu. Abu Meong memanggil-manggil Marleni yang +telah pergi. Sabari kian merana. + + Sejak ditinggalkan Marleni, Abu Meong mengeong- +ngeong parau sepanjang malam, sampai habis suaranya. Iba + 262 ~ Andrea Hirata + +Sabari melihatnya. Marleni tiba-tiba hilang. Kata tetangga, +betina itu kabur bersama seekor kucing garong yang diduga +berasal dari pasar. + + Maka, saban sore Sabari menggendong Abu Meong dan +membawanya ke pasar. Di gang-gang pasar yang sempit, Sa- +bari memanggil-manggil. + + “Leni, Leni, miau ... miau ....” Sahut-menyahut dengan +panggilan pilu Abu Meong. Suara mereka menyelusuri re- +lung-relung pasar yang sepi. + + Leni tak juga muncul. Seperti Zorro, Leni telah hilang +tak tahu rimbanya. Dalam banyak hal Sabari melihat nasib- +nya serupa dengan nasib Abu Meong. Mereka sama-sama di- +tinggalkan istri. Sabari bertekad menemukan Leni. + + Di dalam film yang pernah ditontonnya, Sabari pernah +melihat orang mencari kucing hilang dengan menempelkan +foto kucing itu di tiang-tiang listrik dan di tempat-tempat +umum disertai tulisan ke mana harus menghubungi jika me- +lihat kucing itu. Sabari ingin melakukannya, tetapi tak punya +foto Marleni. Dia berpikir, jika tak ada fotonya mungkin bisa +pakai sketsanya saja. Untuk itu dia tahu siapa yang harus di- +hubungi, yaitu guru Seni Rupa SMA dulu. + + Bu Woeri sudah pensiun dan hidup sendiri. Dia terke- +jut sekaligus senang menerima kedatangan Sabari, muridnya +dulu. Setelah berbasa-basi, Ibu berkata, “Kudengar bini kau +sudah diambil orang ya, Boi?” + + “Iya, Bu.” + Ayah ~ 263 + + “Siapa yang mengambil binimu?” + “Dealer motor vespa, Bu.” + “Jadi, kau diceraikan binimu.” + “Iya, Bu.” + “Anak kecil yang suka sama kau itu juga diambil bini- +mu?” + Sabari menunduk. + “Orang-orang bilang kau kehilangan sekali akan anak- +mu itu ya, Ri?” + Sabari menunduk semakin dalam. + “Kalau kita punya, yang kita punya bisa diambil orang, +kalau kita tak punya, tak ada yang bisa diambil orang.” + Bu Woeri yang memutuskan hidup sendiri, membekap- +kan tangan di dada sambil melihat sekeliling rumahnya yang +sederhana. Seseorang pernah mengambil sesuatu darinya, +sekarang dia tenang karena tak punya apa-apa lagi untuk di- +ambil. + “Maka, lebih baik jika kita tak punya.” + “Iya, Bu.” + “Anakmu itu bernama Zorro, bukan?” Bu Woeri kenal +dengan Zorro. Dulu di taman balai kota Sabari pernah me- +ngenalkan anaknya kepadanya. + “Anak yang tampan. Begitu tampan, sampai aku masih +ingat wajahnya.” + Sabari menyampaikan maksud kedatangannya bahwa +kucingnya hilang dan sketsa Marleni yang dibuat Bu Woeri + 264 ~ Andrea Hirata + +nanti akan diperbanyaknya, lalu ditempelkannya di mana- +mana. + + “Oh, cerdas sekali, Boi.” Ibu bersemangat dan cepat- +cepat mengambil kertas gambar dan pensil-pensil berwarna. +Dipasangnya kertas di dudukan lukisan, pensil di tangan. Sa- +bari duduk di sampingnya. + + “Ojeh, Boi, sila ceritakan dengan teliti bagaimana ben- +tuk muka kucing itu, warnanya, pola belangnya, bentuk muka- +nya, matanya, telinganya, hidungnya, mulutnya, semuanya.” +Sabari menatap Bu Woeri lalu melemparkan pandangannya +ke luar jendela. + + “Mukanya ...,” katanya pelan. + “Mukanya agak lonjong.” + Bu Woeri segera menggoreskan pensil dan menggambar +satu bentuk muka kucing. + “Maaf, pipi dan dagunya tidak seperti itu, Bu, agak se- +perti ini.” Sabari menggambarkan bentuk dengan kedua ta- +ngannya. Bu Woeri membuat penyesuaian dan tak suka kare- +na bentuk muka itu mirip muka manusia, bukan muka kucing. +Namun, didiamkannya, biarlah diperbaiki kemudian. + “Telinganya, Boi?” + “Telinganya kecil.” + Ibu menggambar dua telinga. + “Hidungnya?” + “Hidungnya juga kecil, tapi panjang.” + Lincah tangan Ibu menggaris gambar hidung. + Ayah ~ 265 + + “Mulutnya?” + “Bibir atasnya seperti dua bukit yang bertemu, bibir +bawahnya seperti lengkung perahu, mulutnya selalu terse- +nyum.” Ibu berusaha menggambar sebaik mungkin sesuai +keterangan Sabari. + “Matanya, Boi?” + “Bulu matanya lentik, Bu, matanya indah sekali, seperti +mata ibunya. Bola matanya cokelat dan bening. Bentuk mata- +nya seperti buah kenari muda.” + Ibu melukis semuanya dan takjub melihat yang dilukis- +nya bukan wajah seekor kucing, melainkan wajah seorang +bocah, bocah yang tampan, yang mengingatkannya kepada +anak kecil yang pernah dikenalnya, Zorro. + Kota yang Pandai +Berpuisi + +SEMUANYA tampak sempurna, sayangnya tak berlangsung +lama. + + Lena mengetahui Jon tak setia, yang menurut banyak +orang juga menjadi penyebab dua perceraiannya sebelumnya. + + Lena bukanlah tipe lampu hijau, lampu kuning, lampu +merah. Dia hanya akan memperingatkan sekali, setelah itu +tiada maaf, khatam, tamat, the end, finito, game over. Pesannya +untuk kawan-kawannya dan dirinya sendiri terutama, jika +menghadapi pasangan yang selingkuh: get out, don’t look back. +Berkali-kali Jon membujuk Lena dan minta ampun macam +orang Lebaran, tetapi Lena adalah perempuan besi dengan +pendirian yang lebih tegak dari pada tiang bendera di La- +pangan Merdeka. + + Bagi Lena, hidup ini terlalu singkat untuk dilewatkan +dengan orang yang tak setia. Penyelewengan adalah penyakit +kambuhan yang harus dibasmi dengan sekali bidik. Selingkuh + Ayah ~ 267 + +ibarat ular yang menggigit ekornya sendiri, takkan berkesu- +dahan. Dulu dia memang punya banyak pacar, tetapi dia tak +pernah menjalin hubungan dengan lebih dari satu orang da- +lam waktu yang sama. Dalam suratnya kepada Zuraida, Lena +berkata, manusia bisa berada di tempat yang sama dalam +waktu yang berbeda, tetapi tak bisa berada di tempat yang +berbeda dalam waktu yang sama, semua itu karena pencipta +manusia mau agar manusia setia. Kata-kata Lena itu macam +teori lorong waktu, aneh, ganjil, tetapi hebat. + + Dalam surat itu Lena juga menulis bahwa sesungguhnya +ada dua orang yang amat dicintainya di dunia ini—sekaligus +dibencinya—yaitu JonPijareli dan ayahnya. + + Lena dan Zorro mengemasi tas dan meninggalkan Me- +dan yang mereka cintai. Lena merasa pahit. Tak pernah dia +begitu sedih putus hubungan dengan seseorang seperti dia +putus hubungan dengan Jon. Terseok-seok dia membawa tas +yang besar. Zorro kecil juga menyandang tas dan tas pung- +gungnya, berlari-lari limbung mengikuti ibunya. Lena me- +nguatkan dirinya. Aku Marlena, anak ayahku, Markoni, berpantang +menangis. Ibu dan anak itu duduk rapat-rapat di Terminal Pi- +nang Baris, tak tahu mau ke mana. + +Lena merasa telah mengambil putusan terbaik ketika meni- +kah dengan Jon, tetapi kini baginya bagaikan putusan terbu- + 268 ~ Andrea Hirata + +ruk dalam hidupnya. Terpukul hebat akibat perpisahan itu +di satu sisi dan berjiwa pemberontak di sisi lain, Lena beling- +satan. Satu tempat tak pernah dapat memadamkan kecewa, +sedih, sesal, dan marah kepada Jon, terutama kepada dirinya +sendiri. Mulailah Lena dan Zorro hidup berpindah-pindah +seperti kaum nomaden. Zorro tergopoh-gopoh mengejar ibu- +nya. + + Zorro besar di jalan, terbiasa menempuh perjalanan +jauh, naik bus antarkota, naik kereta, dan kapal feri. Dia men- +jalani hidup yang tak sepatutnya dijalani anak kecil. Dalam +perjalanan yang tak henti-henti itu sering dia dan Lena tidur +di stasiun kereta, pelabuhan, atau bangku-bangku terminal. +Tak jarang mereka berhadapan dengan orang-orang yang +kasar. + + Pernah suatu malam tempat tinggal Zorro didatangi po- +lisi. Sirene bertalu-talu. Lena dibawa polisi. Ketar-ketir hati +Zorro menunggu di pekarangan kantor polisi. Tak tahu apa +yang terjadi dengan ibunya di dalam sana. Dadanya sesak +menahan tangis. Waktu ibunya keluar, dia berlari tergopoh- +gopoh menyongsongnya. + + “Apa yang terjadi, Ibunda?” + Ibunya tak menjawab. + Berkali-kali, tanpa alasan jelas, ibunya membangunkan- +nya tengah malam, mereka berlari pontang-panting hanya +membawa barang-barang yang bisa disambar dengan cepat, +lalu terdengar suara orang berteriak-teriak. Zorro tak tahu + Ayah ~ 269 + +dengan siapa dan untuk urusan apa ibunya terlibat. Adakala- +nya Lena meninggalkannya selama berhari-hari. + + Zorro berusaha memahami ibunya, dan baginya adalah +kewajiban seorang anak untuk memahami orangtua. Maka, +meski hidup mereka kocar-kacir, Zorro dan ibunya kompak +saja. Mereka adalah ibu dan anak, tetapi sering bak kawan +dekat. Zorro tahu ibunya tengah mengalami saat-saat yang +sulit. Dia ada di sana untuk ibunya. Dia selalu berusaha mem- +besarkan hati ibunya, melindunginya, sekuat kemampuannya. + + Cobaan yang bertubi-tubi membuat Zorro menjadi bo- +cah yang tangguh. Pikirannya jauh lebih dewasa daripada usia-­ +nya. Apa yang tak mampu membunuhmu akan membuatmu +semakin kuat. Ungkapan itu berlaku untuk Zorro. Jika kea- +daan memburuk, dia mengucilkan diri dan mencium kemeja +itu dan mengenang satu masa yang indah, saat seorang lelaki +menyayanginya, memeluknya menjelang tidur, selalu melin- +dunginya. + + Dalam masa yang gelap itu, kerap Sabari terbangun ka- +rena mimpi yang buruk. Dalam mimpinya dia melihat seekor +anak kucing terpincang-pincang karena dilempari orang de- +ngan batu. Sampai pagi dia tak bisa tidur. Dia tahu sesuatu +yang buruk sedang menimpa Zorro. + + Sesekali Lena dan Zorro tinggal di panti asuhan atau +tempat-tempat milik yayasan. Jika berada di sebuah kota, +Lena bekerja apa saja, menjadi pegawai pabrik, menjadi pe- +gawai tukang jahit, pelayan restoran, penjaga toko, sales girl, + 270 ~ Andrea Hirata + +pengasuh anak, pengasuh orang tua, atau pembantu rumah +tangga. Namun, tak pernah berlangsung lama. Sekolah Zorro +tak keruan karena dalam satu semester bisa pindah sampai +tiga kali. + + Setiap kali pindah, Zorro selalu mengenang kota yang +telah mereka singgahi dengan menulis puisi kecil. + + Yang kan kukenang hingga akhir nanti + Takkan habis jumlah jari jemari + Salah satunya engkau, Batanghari + + Berdiri aku di tepi sungaimu + Terpana aku melihat sejarah mengalir di situ + Siak, Siak + Kenanglah aku + Seperti aku kan selalu mengenangmu + + Bulan lebih rendah + Bintang-bintang dapat dijangkau + Matahari lebih hangat + Karena ingin melihat Rengat dari dekat + + Kulihat rumah berbaris-baris + Di pekarangan bersenda gadis-gadis + Tiada pantun yang lebih manis + Selain pantun dari Bengkalis + Ayah ~ 271 + + Bagai sampan terikat pada bengawan + Bagai ikan terikat pada lautan + Bagai angin terikat pada awan + Begitulah hatiku terikat pada Pariaman + + Kawanku Indragiri Hulu + Apalah dayaku melawan waktu + Kalau tiba saatnya nanti kutinggalkanmu + Bujuklah aku, agar tak menangisimu + + Setelah beberapa waktu tinggal di Indragiri Hulu, Zorro +yang telanjur jatuh hati pada kota nan elok itu harus pindah +lagi ke Bagansiapiapi. + + “Kata orang bandar pelabuhan sedang ramai, saatnya +mencari kerja di sana,” ujar Lena. + + Bus ekonomi Sigula-Gula meluncur pelan meninggalkan +kota. Zorro membaca lagi puisi itu. Tak sanggup dia mena- +han air mata, meski Indragiri Hulu berkali-kali membujuknya +agar tak menangis. + + Anakku, hapuslah air matamu + Suatu hari nanti + Waktu akan membawamu kembali + Indragiri Hulu akan memelukmu lagi + 272 ~ Andrea Hirata + +Zorro lega karena akhirnya menyelesaikan kelas empat SD +di Bagansiapiapi. Nilai-nilai rapornya ciamik. Baginya itu +istimewa mengingat hidupnya yang kacau balau. Dia selalu +belajar meski keadaan tak mendukung. Dia membaca buku +di terminal, di stasiun, dalam bus, kereta, dan kapal feri. Dia +belajar saat menunggu ibunya pulang dari bekerja menjaga +toko. Dia membuat PR sambil menunggui dagangan kue ber- +sama ibunya. + + Ke mana pun dia pergi, di mana pun dia berada, Zorro +gampang menyesuaikan diri dan selalu disukai kawan-kawan +dan guru-gurunya. Karena semakin besar semakin nyata dia +mewarisi kecerdasan dan keelokan paras ibunya dan di sisi +lain dia mewarisi kelembutan dan kesabaran Sabari. Tak ter- +bayangkan malangnya nasib bocah itu jika kombinasi itu ter- +tukar. + + Guru-guru di Bagansiapiapi tak henti-henti membicara- +kan pandainya murid baru itu. Nilai Bahasa Indonesia Zorro, +hmmm, 9,5. Hampir sempurna. Mungkin karena manusia +tak mungkin mendapat nilai bahasa yang sempurna seperti +kata Bu Norma, gurunya menahan diri untuk tidak membe- +rinya angka 10. + + Suatu ketika guru Kesenian memintanya bernyanyi di +depan kelas. Zorro menawar, bolehkah nyanyian digantinya +dengan puisi? Guru tak berkeberatan. + Ayah ~ 273 + + Kalau kau dapat melihat ke dalam jiwaku + Kau akan melihat sungai mengalir + Anak-anak sungai itu berhilir di mataku + Dan bermuara di hatimu + + Terpana seisi kelas. + “Puisi siapakah itu?” tanya gurunya. + “Puisiku sendiri, Ibu Guru.” + “Benarkah?” + “Iya, Ibu Guru.” + “Apakah itu puisi cinta?” + Zorro tersenyum. + “Apakah kau sedang jatuh cinta?” + Kelas tertawa. + Hari-hari di Bagansiapiapi berlangsung dengan menye- +nangkan. Lena bekerja di pabrik pengepakan ikan asin dekat +pelabuhan. Namun, baru dua minggu di kelas lima, waktu itu +Zorro sedang membaca, ibunya duduk menghadapi meja, di +pojok rumah petak kontrakan mereka, melamun, sedih. Ta- +ngan ibunya mengetuk-ngetuk pinggir cangkir kopi. Sudah +berhari-hari ibunya melamun. Iba Zorro jadinya. + Zorro menutup buku, lalu membereskan semua buku, +alat-alat sekolah, pakaian, dan memasukkannya ke tas. Dia +menoleh kepada ibunya dan tersenyum. Ibunya pun terse- +nyum. Malam itu Zorro menulis puisi. + 274 ~ Andrea Hirata + + Wahai Bagansiapiapi + Kau tahu, dengan satu puisi, aku dapat menaklukkanmu + Namun, kerling senjamu malah membuatku cemburu + Bagan, dan cinta pada laut yang kau ajarkan kepadaku + Bagan, rindu akan debur ombak yang kau nyanyikan untukku + Siapiapi, di bawah pesonamu, aku minta diri + Siapiapi, tibalah saatnya aku pergi + Namun, kalau aku tak lagi di sini + Kuingin kau pun tahu, Siapiapi + Bahwa hatiku, telah kau curi + + Keesokannya Lena dan Zorro sudah ada di Tanjung Pi- +nang. + +Setiap kota yang pernah dia tinggali telah memberinya ke- +san tersendiri. Ingin Zorro menulis seribu puisi tentang Ba- +tanghari, Siak, Rengat, Bengkalis, Pariaman, Indragiri Hulu, +dan Bagansiapiapi. Puisi tentang penganan khasnya, sungai- +sungainya, gunung-gunungnya, senyum perempuan tua pen- +jaja sirih di pasar tradisionalnya, keriut bunyi roda pedatinya, +hikayat dari para pemangku adatnya, kelakar para pemang- +kas rambut di bawah pohon asam, acara-acara radio lokal- +nya, anak-anak perempuan dengan jilbab indahnya, lantunan +merdu azan muazinnya dan pilar-pilar masjidnya, kemudian +dia terdampar di Tanjung Pinang, satu kota paling bersemi + Ayah ~ 275 + +yang pernah ditemuinya, tempat, bahkan guru Matematika, +lihai berbalas pantun. + + Anak-anak liar puisi Zorro menemukan lapangan untuk +berlari-lari di sekolah di Tanjung Pinang. Berangkat sekolah +dia tersenyum, pulang sekolah, tertawa, mengerjakan PR, +bersiul-siul. + + “Kelas berapa kau sekarang, Boi?” tanya ibunya. + Zorro tersenyum karena dia tahu sebenarnya ibunya +tahu dia kelas berapa. + “Berapa sih, umurmu, Boi?” + Zorro tersenyum lagi, ibunya pun tahu persis berapa +umurnya. Namun, minggu itu saja sudah tiga kali ibunya ber- +tanya begitu. Zorro sendiri senang ditanya hal yang sama. + Sesungguhnya Lena tak mengharapkan jawaban. Dia +bertanya karena kagum akan Zorro yang dapat dengan te- +nang, tak pernah mengeluh, menghadapi situasi yang sulit. +Dia merasa bersalah. + “Maafkan Ibu, Zorro, keadaan kita tak menentu begi- +ni.” Mata Lena berkaca-kaca. + “Ih, tak apa-apa, Ibunda, tak apa-apa, janganlah berse- +dih.” + Ibunya berusaha menahan air mata. + “Jadi, apakah kita akan pindah lagi?” kata Zorro sambil +berpura-pura gesit membereskan buku-bukunya. Dia meng- +goda ibunya, untuk menghiburnya. Ibunya tertawa sambil +menangis. + 276 ~ Andrea Hirata + + Lena mendapat pekerjaan di travel agent. Menerima gaji +pertama dia langsung ke kota, ingin membeli hadiah untuk +Zorro karena nilai rapornya sangat bagus. + + Di tengah kota, dilihatnya kios penyewaan buku. Lena +senang membaca. Dia mampir untuk melihat-lihat kalau- +kalau ada novel yang ingin dibacanya. Waktu melihat-lihat +matanya terpaku melihat sebuah novel. Dia teringat dulu Zu- +raida pernah menyinggung soal novel itu. + + Pemilik kios tak menjual novel itu, tetapi menyerah pas- +rah waktu melihat Lena mengipas-ngipaskan duit disertai se- +nyum berlesung pipit dalam macam sumur di kantor polisi +lama itu. Belum menghitung mata indahnya macam purna- +ma kedua belas. Pemilik kios sewa buku yang berkacamata +tebal itu terkapar. + + Lena juga membeli kamus tebal bahasa Inggris-Indone- +sia. Dibungkus dengan kertas kado yang menawan bersama +novel itu, Zorro bersukacita menerimanya. Langsung dibu- +kanya kertas kado dan terbelalak melihat sebuah novel dalam +bahasa Inggris dan kamus yang tebal. Belum-belum dia sudah +terpana membaca judul novel itu: Love in the Time of Cholera. + + “Oh, terima kasih, Ibunda.” + “Sama-sama, Boi.” + Sepanjang sore tak ada hal lain yang dikerjakan Zorro +selain mencari setiap kata dalam novel itu di dalam kamus +Inggris-Indonesia. Waktu membalik-balik lembar novel kar- +ya agung Marquez itu dia terkejut melihat tulisan Florentino + Ayah ~ 277 + +Ariza. Dia tercenung, nama itu tak asing baginya. Di manakah +pernah kudengar nama itu? Ah, tak mungkin aku pernah mendengarnya. + + Akhirnya, dengan pengucapan bahasa Inggris seadanya, +terbata-bata Zorro berkisah kepada ibunya. + + “It was inevitable: the scent of bitter almonds always reminded him +of the fate of unrequited love.” + + Lena menahan tawa. + “Tak terhindarkan, bau buah-buah almond yang pahit se- +lalu mengingatkannya pada cinta yang tak terbalas.” + Lena tertawa. + “Begitukah kira-kira, Ibunda?” + “Cerdas sekali, Boi!” + Lena meminta Zorro terus membaca novel itu meski +Zorro mengucapkan kata-kata Inggris dengan pengucapan +huruf-huruf seperti dalam bahasa Indonesia. Zorro pun se- +nang melakukannya. + Sejak membeli novel di kios itu, Lena terbayang terus +akan Zuraidia. Sudah lama dia tak menulis surat kepadanya, +pun untuk sahabat-sahabat penanya. Prahara rumah tangga, +hidup terbirit-birit ke sana kemari, dan sifatnya yang tak suka +mengeluh membuatnya merasa belum menemukan saat yang +tepat untuk menulis surat. Saat itu akhirnya tiba. Diambilnya +pulpen dan kertas. + +Ke hadapan kawanku, Zuraida. +Tentu kau terkejut menerima surat dariku. + 278 ~ Andrea Hirata + + Tulisan Lena terhenti karena dia teringat akan sesuatu, +dipandanginya Zorro. Dulu di Medan sering dia menulis su- +rat diiringi denting gitar Jon, kini diiringi anaknya membaca +novel dalam bahasa Inggris, terbata-bata. + + Kalau kau berjumpa dengan anakku, kau akan terkejut, Zurai. +Zorro sudah besar, sudah kelas empat dan sangat pintar. + + Zorro membaca dengan penuh semangat, dia berdiri +dan mengucapkan kata-kata Inggris satu demi satu seper- +ti orang membaca puisi, meski tak satu pun dimengertinya +kata-kata itu. + + Zorro memberiku alasan untuk terus berjuang. Dia dapat membuat +beban berat jadi ringan, marah jadi senang, tangis jadi senyuman. Ah, +beruntungnya aku punya Zorro. + + Tanjung Pinang adalah kota tua yang indah. Tak tahu aku apa +yang akan terjadi selanjutnya, tetapi aku selalu merasa perjalanan ini +belum selesai. Rasanya aku masih akan pindah lagi .... + + Lena termenung. Dicobanya menulis lagi, tetapi pikiran- +nya buntu. Minggu lalu seorang lelaki membeli tiket kapal di +kantor travel agent tempat dia bekerja. Lelaki itu bilang bahwa +akan ke kantornya lagi untuk membeli tiket lagi esok. Lena +berdebar-debar. + Ayah ~ 279 + +Nun jauh di Medan, tanpa diketahui Lena, Jon pun terpukul +hebat akibat perpisahannya dengan Lena dan Zorro. Rasa se- +salnya jauh lebih besar daripada perceraiannya dengan istri- +istri sebelumnya. Kesedihan karena perpisahan dengan istri- +istrinya dulu adalah hujan rintik-rintik. Dengan Lena, puting +beliung. Perpisahan dengan istri-istrinya dulu, futsal. Dengan +Lena, sepak bola. Dengan istri-istrinya dulu, FTV. Dengan +Lena, film kolosal layar lebar. + + Persis seperti dialami Sabari, dalam waktu singkat hidup +Jon merosot. Dia tak hanya mengundurkan diri dari band Se- +tia Nada, tetapi juga membubarkan band itu. Dia marah kepa- +da diri sendiri karena perbuatan isengnya main mata dengan +perempuan lain, sesuatu yang disesalinya hingga membentur- +kan kepala ke tiang. Boros Akinmusire dan kawan-kawan ke- +hilangan band, Jon kehilangan cinta, dunia musik kehilangan +seorang gitaris berbakat. + + Jon menjadi mudah tersinggung karena frustrasi berke- +lanjutan. Akibatnya, dia ditinggalkan kawan-kawan dan sau- +dara-saudaranya. Dia tinggal sendiri di dalam rumah yang +pintu dan jendelanya selalu tertutup. Kata orang, JonPijareli +stres. + Delapan Tahun +Kegilaan + +KATA orang pula, Sabari linglung. + Tahun pertama setelah ditinggal Lena dan Zorro, dia + +masih tinggal di rumah. Tak punya lagi warung dan kambing, +dia menghidupi diri dengan bekerja menggembala ternak te- +tangga. Ukun dan Tamat suka mengantarinya beras. + + Kalau malam dia menonton televisi umum, di peka- +rangan balai desa. Dia duduk sendiri di pojok sana, di bagian +yang agak gelap. Orang-orang lain tertawa menonton acara +“Srimulat” di TVRI, Sabari tersenyum sedikit. Orang-orang +bersedih menonton acara drama dari TVRI Palembang, Sa- +bari juga bersedih. Orang-orang kecewa menonton bola bun- +dar berwarna-warni disertai bunyi berdenging karena siaran +mengalami gangguan teknis, Sabari juga kecewa. Orang- +orang ngomel-ngomel melihat layar televisi berbintik-bintik +disertai bunyi seperti hujan lebat, Sabari juga ngomel-ngo- +mel. + Ayah ~ 281 + + Selebihnya, Sabari hanya melamun sendiri di beranda, +lama memandang ke satu arah. Kalau ada layangan putus +yang mendarat di pekarangan rumahnya, dipungutnya. Di- +kumpulkannya tali layangan-layangan putus itu, disambung- +sambungnya sampai panjang, ditulisnya di secarik kertas: +Zorro, pulanglah, Ayah menunggumu. Disematkannya kertas itu di +teraju layangan. Layangan dinaikkan tinggi-tinggi dengan tali +yang panjang itu, lalu setelah tali habis diulur, dengan sengaja +layangan itu diputuskannya. Dibayangkannya layangan putus +itu akan hinggap di Sumatra, lalu ditemukan Zorro. + + Pernah pula seorang nelayan mendapat seekor penyu +yang besar. Sabari memintanya. Dia tahu penyu dapat ber- +umur lebih tua daripada manusia dan suka menjelajah lintas +samudra. Dengan ujung paku yang tajam, ditulisnya pesan +dalam bahasa Inggris semampunya di sekeping aluminium +seukuran telapak tangan. Dilubanginya lempeng aluminium +itu, lalu diikatkannya ke kaki penyu dengan akar bahar yang +tahan air laut. Penyu itu dilepaskannya kembali ke laut. Da- +lam pikirannya yang sudah tak beres, seseorang tak tahu di +negeri mana akan menemukan penyu itu, menerima pesan- +nya, lalu menyampaikannya kepada Lena dan Zorro. + + Tahun kedua, Sabari masih tinggal di rumah. Dia meng- +gembala kambing dan sapi, lalu pulang. Setiap malam Jumat +dia menonton televisi di balai desa, tetap duduk sendiri di ba- +gian yang agak gelap, nun di pojok sana. Orang-orang terta- +wa menonton “Srimulat”, Sabari tidak. Orang-orang berse- + 282 ~ Andrea Hirata + +dih menonton drama dari TVRI Palembang, Sabari tidak. +Orang-orang kecewa menonton bola bundar berwarna-warni +disertai bunyi berdenging, Sabari tidak. Orang-orang ngo- +mel-ngomel melihat layar televisi berbintik-bintik dan berbu- +nyi seperti hujan lebat, Sabari tidak. + + Tahun ketiga, orang-orang tertawa menonton “Srimu- +lat”, Sabari menangis. Orang-orang bersedih menonton dra- +ma dari TVRI Palembang, Sabari tertawa. Orang-orang ke- +cewa menonton bola bundar berwarna-warni disertai bunyi +berdenging, Sabari tersenyum. Orang-orang ngomel-ngomel +melihat layar televisi berbintik-bintik dan berbunyi seperti hu- +jan lebat, Sabari tertawa. + + Tahun keempat, Sabari tak bisa tidur memikirkan bagai- +mana orang bisa berada di dalam televisi. + + Tahun kelima, Sabari melihat-lihat bagian belakang TV +Sanyo hitam putih empat belas inci itu, jangan-jangan ada +para pemain “Srimulat” kecil-kecil di dalam televisi itu. + + Tahun keenam, Sabari tak lagi menonton televisi di ba- +lai desa karena takut pada manusia-manusia kecil di dalam +televisi. + + Tahun ketujuh, terjadi keributan besar di pasar karena +pasar diserbu kambing, sapi, dan kerbau, ratusan jumlahnya. +Hewan yang biasanya berada di padang yang luas dan sepi +menjadi panik melihat orang banyak, kendaraan lalu-lalang, +dan mendengar hiruk pikuk pasar. Mereka semburat tak ke- +ruan, berteriak-teriak, menerjang para pedagang kaki lima, + Ayah ~ 283 + +menyeruduk gerobak, menguasai jalan. Pasar kacau balau. +Sabari berdiri di tengah kekacauan itu. Berdiri mematung +tanpa dosa, bingung. Usut punya usut, menurut keterangan +para saksi, gembala ternak yang bernama Sabari bin Insya- +fi itu, di pertigaan di ujung kampung, harusnya menggiring +ternaknya ke kiri, tetapi mungkin dia melamun, ternak malah +digiringnya ke kanan, langsung menuju pasar. + + Sabari berurusan dengan polisi. Namun, demi melihat +gembala yang duduk dengan lesu, pasrah, dan hanya melihat +kosong ke satu arah, Ajun Inspektur Agung Novrianto sege- +ra tahu bahwa tak banyak yang bisa dilakukan dengan lelaki +yang telah bertahun-tahun dilanda penderitaan yang tak ter- +perikan. Sabari dilepas kembali dalam waktu kurang dari satu +kali 24 jam. + + Tahun kedelapan, tak ada lagi yang melihat Sabari di +rumahnya. Atap rumbia yang jatuh akibat sapuan angin sela­ +tan dan tetap tergeletak di beranda, menandakan tak ada lagi +umat manusia di rumah itu. Rupanya Sabari sudah meming- +gatkan diri sendiri dari rumah. Dia hidup menggelandang di +platform pasar ikan bersama Abu Meong dan puluhan kucing +pasar dan anjing kurap di sana. Pasar selalu menjadi tempat +orang membuang anak-anak kucing dan anjing yang tak di- +inginkan. Sabari pun merasa terbuang, tak diinginkan oleh +cinta. Dia pun merasa nasibnya tak ubahnya nasib Florentino +Ariza. + + Sabari makan dari belas kasihan para pemilik warung +nasi di seputar pasar. Kalau tak sedang ingin melamun, sese- + 284 ~ Andrea Hirata + +kali dia membantu mencuci piring. Pegawai warung membe- +rinya kopi. + + “Terima’ kase, Kak,” langsung diminumnya. + “Aduh, enaknya teh ini.” + Dikasih teh, dia berkata, “Terima’ kase, Kak, tak pernah +aku merasa air putih seenak ini.” + Dikasih air putih dia bertanya, “Kakak, mengapa teh ini +tak ada rasanya?” + Dari sore sampai malam, Sabari adalah satu-satunya +manusia di platform pasar ikan. Dia berjalan melalui relung- +relung gang pasar yang sepi sambil menggendong Abu Me- +ong dan memanggil-manggil Marleni. Kerap pula memanggil +Marlena dan Zorro. Langkahnya diikuti belasan kucing pasar. +Jika ada penertiban gelandangan dan orang gila, kerap Sa- +bari dinaikkan ke bak mobil pikap polisi pamong praja, tetapi +tak lama kemudian dia akan kembali lagi ke pasar ikan. + Suatu ketika Zuraida melihat Sabari berkelebat di pasar +ikan, langsung jalannya dipotong Zurai. + “Boi! Apa-apaan kau ini?! Kalau mau sinting bilang- +bilang! Jangan raib begitu saja!” + Sabari menunduk dalam. + “Lihatlah kau kurus sekali!” + Sabari mengangkat wajahnya. + “Biarkan aku kurus, Rai, biar aku bisa bersembunyi di +balik ilalang.” + “Puisi gila itu lagi! Majenun! Puisi sudah tak musim!” + Ayah ~ 285 + + Zuraida melihat map terapit di ketiak Sabari. + “Map apa itu?” + Sabari tak menjawab. + “Apa, Boi?” + Zuraida merampas map itu dan membukanya. Terkejut +dia melihat berlembar-lembar daftar menu restoran. + “Untuk apa ini?!” + Sabari diam saja sambil menjulurkan tangan agar Zurai- +da mengembalikan map itu. + “Pulanglah, mandi sana, cukur rambut, nonton layar +tancap, lihat pasar malam, goda-goda perempuan di Pantai +Tanjong Pendam, macam orang laki lainnya, kembalikan hi- +dupmu! Jangan sinting begini.” + Sabari tak acuh. + “Ada lagi lomba maraton piala kemerdekaan. Ikut saja, +Ri, seperti dulu. Kau pelari hebat. Berlarilah, kau pasti jadi +juara lagi.” + Sabari memalingkan wajahnya. + “Jangankan berlari, Rai, berjalan pun aku tak sanggup.” + Sabari berlalu, Zuraida mengerti maksudnya. Sedih dia +melihat Sabari berjalan dengan langkah berat, seakan-akan +kakinya ditambati batu. + Nun di tepi jalan sana, juru antar surat dari pengadilan +agama bersusah payah mengengkol motornya. + Genap + +TENTU saja Ukun dan Tamat tahu keadaan Sabari. Mereka +mencari-carinya, tetapi dia sudah hilang. Sabari sendiri tahu +dia dicari kawan-kawannya. Dia merasa malu, dia tak mau +bertemu dengan siapa pun. + + “Banyak orang suka angka delapan. Karena kalau un- +tung, tak berkesudahan, tapi begitu juga kalau senewen, se- +newennya takkan selesai-selesai. Sudah saatnya kita berbuat +sesuatu yang spektakuler untuk Sabari,” kata Tamat kepada +Ukun. + + “Ojeh, Boi.” + Maka, mereka mengadakan rapat mendadak di warung +kopi Solider. Tiga jam mereka saling bertukar pikiran. Tandas +masing-masing lima gelas kopi, dan tumpas masing-masing +mi rebus 34 (tiga mi empat telur). Setelah mempertimbang- +kan berbagai aspek, mereka memutuskan untuk mencari +Lena dan Zorro ke Sumatra dan membawa keduanya pulang + Ayah ~ 287 + +ke Belitong. Masalahnya, tak ada yang tahu di mana Lena +berada. Namun, Tamat sudah punya akal. Sore itu pula me- +reka mendatangi Zuraida. + + “Apa kabarmu, Zurai?” Ukun bertanya. + “Tambah manis saja,” goda Tamat. + Zuraida jengkel. + Sejak SMA, dulu mereka sering bertengkar hingga men- +jelang tua sekarang mereka tak pernah cocok. + “Jangan sampai kuganti kopi kalian dengan air aki, kata- +kan cepat apa mau kalian?!” + “Mengapa, Boi, kau tak punya waktu?” Ukun bertanya. + “Aku pengangguran, punya banyak waktu untuk apa +pun. Tapi, tak punya waktu untuk raskal macam kalian!” + “Aih, makin marah, makin manis,” Tamat tak tahu adat. + “Kuhitung sampai tiga,” ancam Zurai. + “Tunggu, tunggu, janganlah menghitung dulu, macam +granat mau meletus saja.” + “Katakan!” + “Ojeh.” Tamat menegakkan tubuhnya. + “Di mana Lena dan Zorro?” + Terperanjat bukan main Zurai. Dia langsung mau meng- +elak, tetapi Tamat menyalak, menyaru suara Zurai sendiri. + “Jangan kau katakan, mengapa kalian bertanya kepada- +ku soal Lena? Jangan kau bilang, apa hubungannya dengan- +ku? Aku tak tahu-menahu soal Lena, memang aku ini ibunya? +Jangan, Boi, sama sekali jangan, itu adalah jawaban yang tak +bermutu!” + 288 ~ Andrea Hirata + + Zurai terpana karena dia memang mau mengatakan se- +mua itu. Tamat menembak lagi. + + “Begini-begini, aku ini pernah jadi relawan penyuluh +KB, Boi, jadi aku tahu cara menjawab, dan tahu cara berta- +nya.” Apa hubungan semua itu? + + Bagaimana Tamat bisa menduga dia tahu soal Lena? +Dia dan Lena telah membuat janji besi untuk merahasiakan +keberadaan Lena. Yang tahu hanya Zurai, Lena sendiri, Tu- +han Yang Maha Esa, dan seseorang berkopiah, tetapi dia ber- +ada di dalam prangko surat-surat Lena. + + Dengan seringai menyebalkan, Tamat menyalak lagi. + “Tentu kau mau bertanya dari mana aku tahu bahwa +kau tahu soal Lena, bukan?” + “Iya, Boi.” Zurai tak berkutik karena semua hal yang +ada dalam kepalanya terbaca oleh Tamat. + “Baiklah, kujelaskan kepadamu.” Tamat menghirup +kopi, lalu berkisah. + “Begini, aku punya pak cik, dia nelayan di Selat Nasik, +tukang cari ketam tuli tepatnya. Dia punya istri orang Gual, +namanya Dinot. Akibat hubungan dengan pak cik-ku itu, ten- +tu istrinya itu bisa kupanggil Mak Cik Dinot. Mak Cik Di- +not itu adik bungsu dari Ngamot. Mereka hanya dua sauda- +ra. Karena Mak Cik Dinot kawin dengan pak cik-ku, maka +bolehlah kupanggil Ngamot dengan panggilan Mak Long +Ngamot. Sebab Ngamot adalah anak tertua. Tentu karena +Dinot dan Ngamot hanya dua saudara, bukan? Maka, yang + Ayah ~ 289 + +ada hanya si sulung dan si bungsu. Mak Long Ngamot punya +suami orang Batu Belida, tukang bikin taoco, namanya Ma­ +hanip. Maka, boleh juga dia kupanggil Pak Long Mahanip. +Di Kampong Burong Kedidi aku juga punya pak nga, karena +dia anak tengah, namanya Pak Nga Syaram. Pak Cik dan Pak +Nga itu adalah adik-adik ibuku. Pak Nga Syaram orangnya +memang seram. Pekerjaannya bikin rusip. Dia kawin dengan +orang Kampung Lutung Tenteram bernama Hanum. Maka, +bolehlah istrinya kupanggil Mak Nga Hanum. Mereka punya +delapan anak, Zainap, Sinap, Mainap, Tatap, Rangkap, Inap, +Mantap, dan Genap. Nah, si Genap itu punya anak yang ber- +nama Harap. Harap sekolah di SMK jurusan Tata Boga alias +masak-memasak. Setiap libur Lebaran, kantor pos menerima +siswa magang. Tugas mereka menyortir surat dan kartu Le- +baran. Tahun lalu, Harap bin Genap ikut magang di kantor +pos dan bercerita kepada ayahnya bahwa dia pernah melihat +surat untukmu. Katanya, di sampul surat itu ada tulisan, ke +hadapan Siti Zamia Zuraida binti Alim Makruf Kabarudin, +Kampung Belantik, Belitong, kode pos 33462. Nama si pengi- +rim: Marlena binti Markoni, di satu tempat di Kota Medan. +Tak ada nama seelok namamu di Belitong ini, Rai, dari hulu +Sungai Lenggang sampai ke Padang Buang Anak. Ayah Ha- +rap, yaitu si Genap itu, bercerita kepadaku soal surat itu. Mau +apa kau sekarang, Boi? Kena kau!” + Bahasa Indonesia + +ZURAIDA serbasalah. Dia harus memegang janji besinya +dengan Lena, tetapi dia cemas karena sejak menerima surat +dari Medan, Lena tak lagi memberi kabar. Ibu Lena sendi- +ri sudah tua, sakit-sakitan, dan semakin sering menanyakan +Lena. Maka, jika ada yang mau mencari Lena, dia setuju. +Akhirnya, diserahkannya surat-surat Lena kepada Ukun dan +Tamat. Melalui surat-surat itulah mereka akan menyelusuri +jejak Lena. + + “Kupastikan surat-surat ini memang dari Lena. Caranya +menulis Masjid Baiturachman di beberapa surat ini tetap, tak +berubah. Artinya surat-surat ini memang ditulis orang yang +sama dan orang itu adalah Marlena bin Markoni, tak lain tak +bukan.” + + Memangnya siapa lagi? Nyata-nyata surat-surat itu dikirim Mar- +lena untuk Zuraida! Namun, Ukun hanya berani mengatakan + Ayah ~ 291 + +itu dalam hati. Sebab, dia takut dipermalukan Tamat soal +rengking-nya dulu di depan Zurai. + + “Dari surat-surat ini aku tahu sepak terjang Lena. Dia +tinggal di Pangkal Pinang sampai cintanya dengan pemilik +deal­ er motor Vespa itu khatam, lalu dia telah menjelajah ham- +pir seluruh Sumatra!” + + Tamat tak dapat menyembunyikan rasa kagumnya. + “Kurasa Lena pernah pula ke Singapura, atau boleh jadi +Penang. Sangat mungkin Lena menemukan suami orang In- +dia dan sekarang bermukim di Mumbai. Ingat, setelah Kuala +Lumpur, naik ke Thailand, belok ke kanan Hongkong, belok +ke kiri India, lurus terus ke Jeddah, jazirah Arab, semuanya +bisa lewat jalan darat!” + Mengernyit dahi Zuraida sebab tak ada sedikit pun ka- +bar dari Lena mengindikasikan hal itu. + +Kata Tamat, untuk bepergian jauh mereka harus mengurus +dokumen-dokumen perjalanan. Lantaran rengking Tamat di +SMA adalah 43 dari 47 siswa, dan rengking Ukun di bawahnya, +Ukun melihat Tamat sebagai junjungan. + + Mereka menghadap Pak RT untuk mendapat surat ke- +terangan tingkah laku, surat itu disahkan dengan senang oleh +kepala desa. Tamat dan Ukun memang suka nongkrong sam- +pai malam di warung kopi Solider, suka nonton organ tung- + 292 ~ Andrea Hirata + +gal, sesekali menyerobot naik panggung, berduet menyanyi- +kan lagu “Terajana”, kerap pula menggoda-goda biduanita, +tetapi tak ada pasal-pasal yang mereka langgar. Mereka ada- +lah warga republik yang produktif. + + Dengan senang hati pula Pak Camat memberi catatan +yang baik tentang mereka. Surat keterangan dari Pak RT, Ke- +pala Desa, dan Pak Camat diperlukan sebagai lampiran untuk +membuat SKKB (surat keterangan kelakuan baik) dari pihak +yang berwenang mengawasi kelakuan warga. Ajun Inspektur +Agung Novrianto meneken SKKB mereka tanpa ragu. + + Usai membuat SKKB, Tamat terpikir untuk sekalian +membuat KK (kartu keluarga). Sehingga, jika terjadi apa-apa +di jalan nanti, identitas mereka jelas bahwa mereka anak dari +ayah dan ibu siapa, adik dan abang dari siapa saja. Lalu, dia +terpikir lagi untuk membuat surat wasiat. Sebuah usul yang +sempat dipertanyakan Ukun. + + “Nasib manusia siapa tahu! Kalau ada apa-apa di jalan, +kau dan aku tewas, atau hilang, tenggelam, menjadi korban +kejahatan, diculik, mati kelaparan. Bagaimana nasib harta- +benda kita?! Boleh jadi peninggalan kita menimbulkan keri- +butan yang berlarut-larut dalam keluarga karena mereka be- +rebut! Risiko besar keluarga pecah kongsi bisa terjadi hanya +lantaran kau malas membuat selembar surat wasiat!” + + Untuk kali kesekian, Ukun mati kutu disekak Tamat. Dia +tak berkutik sebab rengking Tamat memang lebih tinggi dari- +pada rengking-nya. + Ayah ~ 293 + + Akan tetapi, terjadi sedikit masalah soal surat wasiat itu. +Yaitu, ketika Kades menanyakan harta benda apa saja yang +mereka miliki dan kepada siapa saja akan diwariskan, ternya- +ta benda paling berharga punya Tamat hanya sebuah sepeda +Simking butut made in China, yang mungkin diproduksi zaman +Dinasti Tang. + + Sepeda itu pernah menabrak truk timah yang tengah +parkir sehingga garpu depannya melesot. Jika dinaiki sepeda +itu selalu mengajak pengendaranya belok ke kiri. Mirip ke- +cenderungan kiri pemiliknya. + + Adapun setelah ditelaah secara mendalam, harta paling +berharga Ukun hanya jam tangan Rado. Merek yang pres- +tisius memang, satu jam tangan yang sering dikenakan para +petinggi eselon 3 paling tidak, tetapi arloji Rado punya Ukun +agak aneh, jika diamati lebih dekat, tulisan Rado di dalam +jam itu mirip tulisan Ridho. + + Alhasil, proses pembuatan surat wasiat itu ditunda. + Rencana perjalanan mereka semakin matang. Di wa- +rung kopi Solider, Tamat berkata, “Delemot menjadi saksi, +kau kutunjuk sebagai juru bicara dalam perjalanan kita nanti. +Aku sendiri adalah pemimpin ekspedisi.” + Tamat menunjuk Ukun dan menunjuk dirinya sendiri. +Delemot, pegawai warung kopi, mengangguk. + “Ojeh, Mat.” + “Masalahnya, bagaimana mau jadi juru bicara, bahasa +Indonesia pun kau tak becus!” + 294 ~ Andrea Hirata + + Ukun tersinggung. + “Ah, kau pun tak lancar bahasa Indonesia.” + Tamat tak terima. + “Tak ada hormat, mari kita coba!” + “Apa bahasa Indonesia-nya gelaning?” Ukun menjajal Ta- +mat. Gelaning satu kata kuno dalam bahasa Belitong. + “Aih, gampang, artinya ‘bersih, rapi’.” + Delemot bertepuk tangan, Ukun tersenyum pahit. + “Ayo, apa lagi.” + “Hademat.” Kata Belitong yang lebih kuno lagi. Bahkan, +orang Belitong sendiri belum tentu tahu. + “Oh, gampaaaaaang .... Artinya ‘bunyi yang sangat be- +sar, menggelegar, misalnya gunung meletus’.” Jawaban itu +benar. + Delemot bertepuk tangan lagi. + “Giliranku!” bentak Tamat. + Ukun gugup. + “Apa bahasa Indonesia-nya ngayau?” + “Jalan-jalan!” jawab Ukun tangkas. + Delemot bertepuk tangan untuk Ukun. + Tamat jengkel. “Apa bahasa Indonesia-nya ketumbi?” + Ketumbi adalah satu kata yang cantik, sayangnya sudah +jarang dipakai orang Belitong. Artinya ‘tertinggal paling bela- +kang’, dalam perjalanan atau perlombaan. + Ukun tergagap-gagap. Dia tak mampu mengungkap arti +kata ketumbi dalam bahasa Indonesia. Keringat bertimbulan di + Ayah ~ 295 + +dahinya. Dia menoleh kepada Delemot, Delemot mengang- +kat bahu gemuknya. Tamat mencibirnya. + + Ukun jengkel. Dia berpikir keras, tetapi tiba-tiba terse- +nyum lebar karena dia tahu jawabannya. Kalau ngayau bahasa +Indonesia-nya jalan-jalan, boleh jadi ketumbi bahasa Indonesia- +nya .... “Tumbi-tumbi!” jawabnya lantang. + +Komunikasi dianggap penting oleh Tamat sebab nanti mere- +ka akan bertemu dengan orang-orang dari berbagai daerah. +Oleh karena itu, kemampuan berbahasa Indonesia Ukun ha- +rus ditingkatkan. Mereka menghadap Bu Norma, guru Baha- +sa Indonesia sekaligus wali kelas mereka di SMA dulu, yang +galak tetapi disayangi. + + “Jadi, kalian mau mencari Lena dan Zorro, agar Sabari +tidak jadi orang sinting? Itu baru namanya kawan, sungguh +mulia!” + + Bu Norma senang bukan kepalang karena Ukun mau +belajar bahasa Indonesia. Bersemangat dia. + + “Terdapat puluhan ribu bahasa daerah. Puluhan ribu, +dapatkah kau bayangkan itu! Barangkali bahasa terbanyak +di dunia ini ada di Indonesia. Konon, di beberapa daerah di +Sumatra, di kampung yang bersebelahan saja, orang bisa tak +mengerti bahasa masing-masing. Lihat betapa kayanya baha- +sa di negeri kita ini. Jelajahi Sumatra, Boi, simak orang berbi- +cara, kau akan bergelimang kesenangan kata-kata.” + 296 ~ Andrea Hirata + + “Jadi, apa yang harus kami lakukan, Bu?” + “Cukup dengan berbahasa Indonesia secara baik dan +baku, kau akan terbebas dari sikap tidak sopan, akan lancar +berbicara dengan orang dari daerah mana pun!” + “Maksud Ibu?” + “Misalnya, kau mau duduk di depan orang-orang lain, +dalam bahasa Belitong, ringkas saja, kuang ke aku dudok de sinek? +Dalam bahasa Indonesia, dapatlah kau katakan, ‘Bapak atau +Ibu, berkenankah seandainya saya duduk di sini?’ Hmmm, +elok, bukan?” + “Elok nian, Bu.” + “Jangan sungkan berpantun, berpepatah. Pantun adalah +madu bahasa, pepatah adalah harta bahasa. Pakailah kata- +kata seperti wahai, kiranya, seandainya, bilamana, manakala, sudi- +kah, berkenankah, sediakala, gerangan, semua itu perbendaharaan +bahasa Indonesia yang megah dan bermutu tinggi. Kata-kata +itu mencerminkan kualitas watak orang yang mengucapkan- +nya!” + Bu Norma masuk ke kamar lalu kembali membawa +buku yang sangat tebal. Begitu tebal sehingga kalau menimpa +anak kecil, mungkin anak itu bisa pingsan. + “Pakailah ini, kalian akan selamat,” kata Bu Norma +sambil menyerahkan buku itu kepada Ukun. + Ukun membaca judulnya. Kamus Umum Bahasa Indonesia. +Milik Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Tidak diperdagangkan. +Berdasarkan Instruksi Presiden No.7 Tahun 1983. + Ayah ~ 297 + + “Terima kasih, Ibunda Guru.” Ukun mencium tangan +Bu Norma dengan takzim. + + “Sama-sama, Raskal 2.” + Sejak itu, kamus tebal itu selalu berada di dalam tas +kecampang Ukun, dibawanya ke mana pun dia pergi. Di sela +pekerjaannya menggulung dinamo, dibukanya kamus dan di- +temukannya kata-kata baru bagaikan jendela yang terbuka, +lalu di dalam jendela itu ada jendela lagi. Rajin dia membuat +catatan sembari berbicara sendiri mempraktikkan apa yang +telah dipelajarinya, lalu dia tersenyum. Ukun tenggelam da- +lam labirin bahasa dan berusaha menemukan jalan keluar de- +ngan mengikuti jejak kata-kata. Sekonyong-konyong dia jatuh +hati pada bahasa Indonesia. + Pada sore nan syahdu itu, Ukun duduk berhadap-hadap- +an dengan Tamat di warung kopi Solider. Setelah beberapa +waktu berbincang, melihat kopi di dalam gelasnya hampir +habis, Ukun memberi kode agar pegawai warung mendekat. +Ditatapnya pegawai itu dengan penuh hormat. + “Wahai Kakanda Delemot yang berbudi mulia, sudikah +kiranya Kakanda Delemot mengisi gelas kopi saya ini dengan +air kopi manakala kopi di dalamnya sudah tiada lagi?” + Tertegunlah Tamat. Dipandanginya Ukun, dadanya di- +landa keharuan yang mendalam sebab dia tahu, Ukun telah +belajar bahasa Indoensia dengan sepenuh hati dan sekarang +siap menempuh perjalanan yang tak terperikan untuk men- +jelajah Sumatra. + Kapal Ternak + +SORE itu, sehari sebelum berangkat, Ukun, Tamat, dan +Zuraida mencari Sabari di platform pasar ikan. Mereka me- +nyusuri lorong pasar yang sempit dan berliku-liku. Sepi, ku- +cing-kucing pasar mengeong panjang dan anjing-anjing pa- +sar menyalak. Mereka ngeri membayangkan setiap malam +Sabari tidur di sana. + + “Sabari, Sabari!” Berkali-kali mereka memanggil, Sa- +bari tak muncul-muncul. + + Sebenarnya, sejak mereka masuk gerbang pasar ikan +tadi Sabari telah melihat mereka dari kejauhan. Cepat-cepat +dia bersembunyi di balik peti es. + + “Boi, kemarilah. Aku dan Tamat mau pamit.” + Pamit? Mau ke mana? Sabari keluar dari persembunyian +dan berjalan ke arah Ukun, Tamat, dan Zuraida. + Alangkah terkejut mereka melihat Sabari. Sepintas me- +reka tak lagi mengenalinya. Badannya kurus melengkung + Ayah ~ 299 + +karena kurang makan. Rambutnya panjang awut-awutan +macam rambut Lenny Kravitz sebelum di-rebonding tempo +hari. Jenggotnya panjang macam jenggot pertapa Kapuchin. +Kumisnya simpang siur. Mukanya kumal jarang dibasuh. Se- +pasang mata yang liar melirik-lirik dengan cepat. Tipikal pan- +dangan mata orang sakit ingatan. + + “Astaga, apa yang terjadi kepadamu, Boi?” tanya Tamat. + “Lihatlah, rupamu macam iblis.” Zuraida terperangah. + Sabari tersenyum pahit, lalu menunduk. + Tamat mengatakan bahwa esok sore mereka akan ke +Sumatra untuk mencari Lena dan Zorro. Jika berjumpa, me- +reka akan membujuknya agar pulang ke Belitong. Sabari tak +berkata-kata. + “Karena itu, Boi,” kata Ukun, “tolong jangan gila dulu. +Biarlah kami mencari Lena dan Zorro dulu. Kalau kami ga- +gal, silakan nanti kalau kau mau menjadi gila, tak ada ke- +beratan dariku dan Tamat sebagai kawan-kawanmu. Untuk +sementara ini, tahan dulu.” + Sabari diam saja. Diam macam kuburan. + +Keesokannya, Jumat sore, berbondong-bondong orang ke +dermaga untuk mengantar Tamat dan Ukun. Banyak seka- +li, mereka datang karena bersimpati pada dua sahabat yang +ingin mencari Lena dan Zorro, demi sahabat lainnya. + 300 ~ Andrea Hirata + + Bu Norma bangga melihat Ukun menyandang tas besar +dan menenteng plastik kresek berisi Kamus Umum Bahasa Indo- +nesia yang tebal. Dia terharu membayangkan mereka akan +menjelajah Sumatra, tempat asing yang sama sekali tak per- +nah mereka tempuh, tak tentu arah tujuan, demi memperte- +mukan seorang ayah dengan anaknya. + + Ukun dan Tamat akan menumpang kapal ternak Mona- +lisa, yang nakhodanya telah mereka kenal dengan baik. Kapal +itu akan berlayar dari Pelabuhan Tanjong Pandan ke Pela- +buhan Kayu Arang, Bangka. + + Bersama serombongan besar kambing, Ukun dan Ta- +mat naik ke kapal. Tak lama kemudian sirene kapal berku- +mandang. + + Sabari bersandar di balik peti es. Dia tahu apa yang ter- +jadi di dermaga yang tak jauh dari pasar ikan. Dia terharu +membayangkan Ukun dan Tamat telah naik ke kapal untuk +menjemput Lena dan Zorro. + Juliet-mu + +TABIAT-TABIAT buruk yang dulu tak pernah tampak dalam +diri JonPijareli, kini muncul. Karena dia telah naik jabatan +satu setrip, dari orang stres menjadi orang depresi. + + Dia tak cocok dengan siapa saja, gampang emosi. Se- +mua orang tak becus, yang pintar dia saja. Sanak saudaranya +dipelototinya, tetangga didiamkannya, tamu tak dibukainya +pintu, presiden dan menteri-menteri, satu kabinet, habis di- +kata-katainya. + + Layaknya orang depresi, yang tak bisa menalar dengan +sehat, Jon tak bisa berhenti memikirkan kemungkinan yang +terjadi jika dia tak berjumpa dengan wanita lain di toko obat +itu, yang akhirnya menyebabkan dia pecah kongsi dengan +Lena. Berkali-kali dia membayangkan jika sore itu dia tidak +sakit kepala dan meluncur ke toko obat untuk membeli aspi- +rin, lalu bertemu dengan wanita semlohai yang membuatnya +lupa daratan itu. + 302 ~ Andrea Hirata + + Sering dia berpikir motor BSA-nya rusak, bensinnya ha- +bis, bannya kempes sehingga dia tak pergi ke toko obat itu, +dan sekarang masih berleha-leha bersama Lena dan Zorro. +Oh, Zorro, betapa Jon rindu kepada anak tirinya yang tam- +pan, pintar, dan amat baik itu. + + Atau, boleh pula motor BSA yang sangat hebat itu dicuri +orang sekalian sehingga sore itu dia tak pergi ke toko obat, +atau perusahaan yang membuat aspirin gulung tikar sehingga +di dunia ini tidak ada lagi aspirin. Atau, sakit pening kepala +telah punah, macam sakit cacar. Manusia tidak lagi menga- +lami pening. Dengan begitu Jon tak pernah berjumpa dengan +wanita bohai itu. Namun, yang terjadi adalah dia ke toko obat +dan tahu-tahu sekarang tak punya bini. + + Berupa-rupa skenario tentang toko obat, aspirin, dan +motor BSA berputar-putar dalam kepala Jon, menyiksanya +pagi, siang, sore, dan malam. Tidak realistis tentu saja. Jon +mendekam dalam rumah kotor dengan lampu yang remang, +pintu dan jendela tak pernah dibuka. Tak tahu apa yang dila- +kukannya di dalam rumah. Tragis, seseorang yang amat po- +puler, flamboyan, selebritas lokal yang bangga akan kawan +yang banyak, menjadi seseorang yang hidup sendiri hanya +berkawan sepi. Jika mendengar suara anak-anak tetangga ri- +but sedikit saja, Jon berteriak: + + “Jangan ribuuuuuut!!! Pergi sana!” + “Hantuuuuuu ...,” jerit anak-anak itu semburat kabur +ketakutan. + Ayah ~ 303 + + Kalau ada tamu berkunjung, mengetuk pintu, Jon +muntab. + + “Tak terima tamu!!!” Karena, Jon malas berjumpa de- +ngan manusia. + +Setelah merapat di Pelabuhan Kayu Arang, Bangka, nakhoda +kapal ternak yang ditumpangi Tamat dan Ukun bertanya tu- +juan mereka berikutnya. + + “Aceh, Pak,” jawab Tamat. + Ukun terkejut. “Baiklah, Kawan, selamat jalan.” Mere- +ka bersalaman. “Setahuku tujuan kita adalah Medan, sesuai +surat terakhir Lena.” + “Ikut saja.” + “Ikut apanya?! Aceh tak ada dalam rencana kita! Tak +pernah ada surat Lena dari Aceh!” Ukun jengkel. + “Aku ketua perjalanan ini, aku tahu apa yang kulakukan. +Lena bisa saja ada di Tanjung Karang, Palembang, Bengkulu, +Medan. Lebih baik kita ke utara dulu baru turun ke selatan +karena turun lebih gampang daripada naik. Ingat, aku navi- +gator, kau juru bicara, tapi sekarang tutup mulutmu, tumbi- +tumbi!” + Maka, dari Pelabuhan Kayu Arang mereka naik kapal +kayu menuju Pelabuhan Tangga Buntung di Palembang, dari + 304 ~ Andrea Hirata + +sana mereka naik kapal kayu lagi, langsung ke Pelabuhan +Ulee Lheu, Aceh. + + Perjalanan itu begitu menakjubkan bagi mereka. Di ka- +pal, Ukun rajin mempraktikkan bahasa Indonesia dan senang +mendapat banyak kenalan baru. Tiga hari kemudian orang- +orang kampung itu sudah berdiri tertegun dengan napas ter- +tahan di haribaan Masjid Baiturachman. + + “Inilah tujuan kita ke Aceh, Boi,” kata Tamat sambil +memeluk pundak Ukun. + + “Alangkah megahnya, Boi, jauh lebih megah daripada +yang kulihat di almanak. Alangkah beruntungnya kita pernah +melihat langsung masjid yang hebat ini.” Mata Ukun basah. +Dia memang lebih sentimental daripada Tamat. + + “Aku seperti merasa berada dalam kisah seribu satu ma- +lam.” + + Tamat mengeluarkan sepucuk surat dari dalam tasnya +dan memperlihatkan surat Lena yang membicarakan keingin- +an Zuraida mendapat foto Lena di depan masjid itu. Mereka +difoto oleh tukang foto langsung jadi di sana. + + Seminggu kemudian Zuraida menerima sepucuk surat. +Tak percaya Zurai akan pandangan matanya sendiri melihat +Tamat dan Ukun bergaya di depan Masjid Baiturachman. +Tak keruan perasaannya membaca surat itu. + + Besarnya mungkin dua puluh kali lebih besar daripada Masjid Al- +Hikmah di kampung kita, Rai. Lantainya dingin, pilar-pilarnya gagah, + Ayah ~ 305 + +seakan dapat memanggul gunung. Kalau kau memandang langit-langit- +nya, rasanya angkasa terbelah dan kau berubah menjadi sebutir pasir. + + Begitulah kata Ukun. Tamat menyambung, + + Suasana shalat Jumat di masjid ini tak dapat dilukiskan dengan +kata-kata. Saat engkau shalat rasanya ribuan malaikat menungguimu. +Suara muazin merdu sekali. + + Begitu megah, begitu agung masjid ini sehingga kuakui semua do- +saku, yang terkecil sekalipun. + + Zuraida terharu. + Sabari juga mendapat kiriman surat dari Ukun dan Ta- +mat, disertai foto dan sebuah pengakuan bahwa surat-surat +dari Juliet-mu untuk Sabari di majalah dinding SMA dulu se- +benarnya bukan buatan Lena, melainkan buatan Ukun dan +Tamat sendiri, pakai mesin tik Olympic yang mereka pinjam +dari juru tulis kantor desa. Begitu pula lagu “Truly” yang di- +nyanyikan Sabari di radio seperti kucing kena cekik itu. Se- +sungguhnya lagu itu bukan lagu kesayangan Lena, semuanya +rekayasa Ukun dan Tamat. + Ilmu Bumi + +JONPIJARELI jengkel sekali karena sejak pagi dia telah +mengalami hal yang paling dibencinya, yaitu mendengar +orang mengetuk pintu. Dia tak mau berjumpa dengan manu- +sia karena baginya manusia adalah makhluk jahat yang hanya +memikirkan diri sendiri. + + Dia makin jengkel karena orang yang mengetuk pintu +itu ternyata orang pintar yang dikirim abangnya untuk meng- +obatinya. + + “Apa kau sangka aku ini sudah gila?!” + “Maaf, Bang, aku datang ke sini untuk membekam +Abang ....” + “Apa katamu?! Membekam aku?! Mulutmu yang kube- +kam nanti!” + “Maaf, Bang, aku hanya disuruh Bang ....” + “Hanya apa?! Enyah sana!” Jon mengayun-ayunkan +sapu di tangannya. + Ayah ~ 307 + + Orang itu cepat-cepat mengemasi alat-alat bekamnya, +lalu kabur terbirit-birit. + + Sial, masih naik-turun dada Jon karena marah akibat +kedatangan tabib itu, tahu-tahu pintu rumahnya diketuk lagi. + + “Siapa?!” + “Selamat siang, kami petugas sensus, Pak.” + Melalui kaca pintu, Jon melihat dua orang berseragam +pemerintah. + “Bolehkah kami masuk, untuk bertanya dan mengisi for- +mulir ini?” + “Tidak boleh!” + “Tapi, Pak ....” + “Tidak ada tapi-tapi! Tolong tulis saja di formulirmu itu, +JonPijareli, sampah masyarakat!” + “Tapi, Pak ....” + “Angkat kaki!” + Kedua petugas itu kabur. + Sungguh hari yang benar-benar sial. Setelah petugas +sensus itu, ada lagi yang mengetuk pintu. Darah mengalir de- +ras ke kepala Jon. Diambilnya senapan angin, diisinya peluru, +dipompanya tujuh kali. + “Siapa itu?!” + Terdengar bisik-bisik di luar. + “Siapa?!” + Tak ada jawaban. + 308 ~ Andrea Hirata + + “Jawab! Kalau tidak, peluru senapan angin akan berde- +sing-desing.” + + Bisik-bisik lagi di luar, lalu diam lagi. + “Kuhitung sampai tiga!” + Di luar terdengar orang bertengkar. + “Satu!” + Tak ada respons. + “Dua!” + Jon siap keluar dari balik lemari, lalu menembak ber- +tubi-tubi. Situasi kritis, tetapi tiba-tiba terdengar suara yang +lembut. + “Wahai Saudara JonPijareli, pertama-tama, atas perke- +nan Saudara, sudilah kiranya menerima perkenalan dari saya. +Nama saya Ukun, saya bertandang ke sini bersama mitra +saya. Manakala Saudara berkenan, saya bermaksud menge- +nalkan nama mitra saya ini.” + Jon terpana. Tak pernah dia mendengar orang bicara +seajaib itu. Siapakah orang-orang itu? Namun, suara itu bersaha- +bat sehingga Jon menurunkan moncong senapan. + “Apakah kalian dari asuransi?!” + Terdengar pertengkaran kecil lagi di luar. Jon mengintip. +Dari kaca yang buram dia melihat bayangan dua orang, salah +seorangnya membuka-buka buku yang tebal. + “Maaf, dengan perkenan Saudara, bukan, kami bukan- +lah dari daerah sini.” + Jon bingung. + Ayah ~ 309 + + “Apakah kalian dari partai politik?!” + “Kiranya bukan.” + “Apakah petugas?!” + “Kiranya bukan.” + “Apakah kalian penjual minyak wangi?” + “Maafkan telah mengecewakan Saudara, kami datang +bukan untuk berdagang berniaga.” + “Tukang tagih?!” + “Oh, maafkan kami mengecewakan hati Saudara lagi.” + “Apakah kalian orang jahat?!” + Tamat membuka tas, mengeluarkan map, mengambil +dua lembar kertas, menyerahkan selembar untuk Ukun. Se- +rentak mereka menempelkan kertas itu di kaca pintu. + “Bilamana Saudara merasa sangsi, kiranya Saudara +berkenan melihat ini, kami punya surat keterangan kelakuan +baik yang dikeluarkan pihak Kepolisian Republik Indonesia.” + Jon takjub atas peristiwa ganjil itu. Dia semakin penasar- +an, siapakah manusia-manusia ajaib itu? Jon mendekati pintu +dan mengamati SKKB itu. Di celah-celah surat itu, Jon meli- +hat dua orang berpakaian mencolok seperti biduan orkes Me- +layu mau naik panggung. Kedua orang itu tersenyum lebar. + Tanpa benar-benar menyadarinya, Jon memutar kunci, +memegang hendel, lalu membuka pintu. Itu tindakan berse- +jarah sebab itulah untuk kali pertama sejak dia ditinggalkan +Lena dan Zorro setahun yang lalu dia membuka pintu untuk +tamu. + 310 ~ Andrea Hirata + + Jon menatap Ukun dan Tamat dari bawah ke atas bo- +lak-balik. Bau harum menguar. Jon teringat terakhir menci- +um bau minyak wangi sinyong-nyong waktu minyak itu dipakai +kakeknya, yang telah meninggal 25 tahun yang lalu. + + Jon adalah orang panggung jadi sudah sering melihat +orang berpenampilan norak, tetapi tak pernah dia melihat +orang berpenampilan senorak dua pria di depannya. + + Rambut Ukun bergaya belah samping, jambulnya dite- +guhkan dengan minyak rambut Tancho hijau sehingga gempa +bumi 6,5 skala Richter takkan mampu menggoyangnya. Dia +berkacamata netral yang dibelinya di kaki lima dekat Masjid +Baiturachman, Banda Aceh. Senyumnya kalem. Dari leher +ke atas dia tampak seperti Spiderman saat sedang menjadi +orang biasa. + + Kemejanya ketat lengan panjang berwarna metalik. Ikat +pinggangnya besar, sebesar selempang putri kecantikan, ber- +manik-manik pula. Celananya cutbrai, yang jika empat orang +mengenakannya dan berjalan beriringan di Pasar Manggar, +para pegawai Dinas Kebersihan Kota Kabupaten Belitong +Timur bisa dirumahkan. Sepatunya jenggel hitam berkilat, ber- +hak agak tinggi dan mancung, dari plastik. Cincin batu akik +bertebaran di jarinya. + + Dandanan Tamat mirip Ukun. Mereka seperti anak +kembar yang diberi pakaian sama oleh orangtuanya. + + Jon menampar-nampar pipinya sendiri, untuk memasti- +kan bahwa dia tidak sedang bermimpi. + Ayah ~ 311 + + “Kudengar ilmuwan tak menemukan makhluk selain +di Bumi, rupanya mereka keliru, dari planet manakah kalian +ini? Halo? Ini planet Bumi.” + + Jon mempersilakan mereka masuk dan duduk. Dia kem- +bali terpana melihat Kamus Umum Bahasa Indonesia yang diba- +wa Ukun serta koper besar aluminium yang ditenteng Tamat. +Ukun dan Tamat menyampaikan maksud kedatangan mere- +ka. Jon terperangah. + + “Jadi, kalian dari Pulau Belitong?” + “Ya.” + “Jauh-jauh ke Medan, mau mencari Lena dan Zorro?” + “Begitu kiranya.” + “Tunggu-tunggu.” Susah bagi Jon mencerna semua itu. + “Terangkan kepadaku seolah-olah aku ini hanya tamat +SMP.” Padahal, SD pun Jon tak tamat. + Ukun dan Tamat bergantian menjelaskan. + “Bagaimana kelean bisa sampai ke sini?” + “Oh, itu karena keahlian seseorang bernama Tamat.” + “Siapakah Tamat itu?” + “Kiranya saya sendiri, Bang.” + Jon menggeleng-geleng. + “Jadi kau tukang gulung dinamo?” + Ukun mengangguk. + “Dan, kau tukang kipas satai?” + “Di restoran satai kambing muda Afrika, Tanjong Pan- +dan.” Tamat memperjelas jabatannya. + 312 ~ Andrea Hirata + + “Dan, kalian memecahkan tabungan dari susah payah +bekerja bertahun-tahun, untuk perjalanan mencari Lena dan +Zorro, demi kawan kalian yang bernama Sabar Menanti itu?” + + “Ya, Bang,” jawab Tamat ringan, seakan semua itu bu- +kanlah masalah. Jon tercenung. Dia takjub di satu sisi dan ter- +haru di sisi lain. + + “Maaf, kiranya berkenan saya bertanya, pernahkah +Saudara JonPijareli ke Belitong? Manakala pernah, bilama- +nakah?” Ukun bertanya. + + “Oh, tentu, aku pernah main musik di Pangkal Pinang.” + Tamat dan Ukun saling pandang, Ukun bicara. + “Maaf Saudara Jon, kiranya Pangkal Pinang berada di +Pulau Bangka. Kalau kita telaah peta secara saksama, akan +tampaklah bahwa Pulau Bangka bertetangga dengan Pulau +Belitong. Namun, usahlah risau, tak terbilang banyaknya +orang yang menyangka telah ke Pulau Belitong, tapi sesung- +guhnya mereka ke Pulau Bangka. Karena, kedua pulau itu +sama-sama memiliki pantai-pantai nan elok. Mereka ke Pan- +tai Parai, mereka sebut ke Belitong, padahal pantai itu di +Bangka. Pantai Tanjong Tinggi nan indah tak terperi, itu ada +di Pulau Belitong. Maaf beribu ampun, boleh jadi waktu SD +dulu, nilai rapor Saudara Jon untuk Ilmu Bumi dapat 4. Aih, +janganlah berkecil hati, nilai Ilmu Bumi saya pun sering 4, +paling pol 5. Sama merahnya dengan Saudara Jon. Daripada +saya pun, sampai sekarang masih sering terkacaukan antara + Ayah ~ 313 + +Pulau Kalimantan dan Pulau Irian, tapi janganlah karena hal +semacam itu membuat kita berkecil hati.” + + “Terima kasih, Bung.” + “Sama-sama, Saudara Jon.” + Indonesia +Lonely Man + +PERSIS Izmi yang diam-diam terinspirasi oleh Sabari, Jon- +Pijareli pun diam-diam tergugah oleh Ukun dan Tamat. Dia +kagum akan ketulusan dua lelaki Belitong itu dan merasa +malu akan sikapnya yang selalu mengasihani diri sendiri. + + Jon melamun memikirkan masa depannya. Tiba-tiba dia +dapat melihat semuanya dengan jernih. Semuanya gara-gara +kehadiran Ukun dan Tamat. Maka, baginya kedua orang itu +adalah kiriman dari langit. Jon merasa terlahir kembali. + + Mereka segera menjadi sahabat baik. Sifat-sifat buruk +Jon lenyap, sifat-sifat baiknya kembali. Dia mulai bertegur +sapa dengan tetangga dan kawan-kawannya. + + “Ngomong-ngomong, bolehkah aku ke pasar sebentar? +Aku mau membeli air raksa, akan kukeraskan kalian berdua +ini, lalu kutempel di dinding. Karena, orang macam kalian +ini sudah tak ada lagi di dunia ini.” Jon berkelakar, terurailah +tawa gembira di ruang tamu yang tadinya kelam itu. + Ayah ~ 315 + + Hari itu juga Jon menurunkan gitar kosongnya yang +hampir setahun tergantung di dinding. Dengan lembut di- +lapnya debu, lalu dipeluknya gitar itu dengan syahdu. Tamat +duduk di sana, di bangku, menghadap ke jendela, memperha- +tikan merpati yang hinggap di kawat telepon, silih berganti. +Ukun tak lepas memandang Jon. + + Lalu, terdengar petikan gitar. Ukun terpana. Benar kata +orang bahwa Jon berbakat. Ukun tak tahu banyak soal musik, +dia pun lupa-lupa ingat lagu yang dibawakan Jon itu, teta- +pi caranya bernyanyi dan bermain gitar membuatnya mera- +sa indah. Tamat memandang jauh ke luar jendela. Kakinya +menge­ ntak-entak lantai dengan halus mengikuti lagu. + + Dilanda semangat baru, Jon kembali mengumpulkan +anggota band-nya dan mereka mulai tampil. Dia pun berse- +mangat untuk menyelesaikan lagu ciptaannya yang berkali- +kali tertunda. Lagu berjudul “Aku Berlari” itu semula ingin +dibuatnya dengan irama reggaedut alias reggae dangdut. + + “Kupikir harus lebih bersemangat, Bung! Rock lebih co- +cok. Kalian tahu lagu Bon Jovi, ‘You Give Love a Bad Name’? +Kurasa harus macam lagu itu. Intronya drum mengentak- +entak, kemudian masuk vokal, vokal dan drum saja. Setuju?” + + Sulit bagi Ukun dan Tamat untuk mengangguk sebab +mereka tak tahu. + 316 ~ Andrea Hirata + +Sementara itu, nun jauh di belahan dunia yang lain, terpi- +sahkan oleh samudra, tepatnya di Darwin, Australia Utara, +Brothe­r Niel Wuruninga, seorang nelayan Aborigin, heran +melihat seekor penyu tersangkut di pukatnya. Penyu itu sa- +ngat besar, itu hal biasa, dia tak heran. Yang membuatnya +heran adalah sepotong aluminium yang terikat di kaki penyu +itu. + + Dia tahu para ahli biologi maritim sering menempelkan +label semacam itu pada penyu untuk tujuan penelitian, tetapi +aluminium itu berbeda, tak seperti pekerjaan peneliti. + + Dinaikkannya penyu itu ke perahu, dipotongnya akar +bahar yang mengikat aluminium ke kaki penyu. Sejurus ke- +mudian dia tertawa membaca bahasa Inggris tak keruan dari +tulisan yang digerus pada lempeng aluminium itu. + + Belitong, 2 Desember, 1990. + This from Sabari, please help for information where my son Zor- + ro and the woman Marlena binti Markoni. Loss, no clear where. + Marlena my X wife, Zorro no X son, he my son always, to be + continue, forever. + Happy news for give to Sabari, Belantik Village, close SD Inpres + (the president instruction school basic), east Belitong Island, Indo- + nesia. SOS, mei dei, help, urgent, emergency, danger, your good will + give back to you again by God, sorry before and after, thank you no + limit. Sincerely yours, + very very sad, Indonesia lonely man, Sabari. + Sahabat Pena +dan Hikayat +6 Kota + +DENGAN sedih, kepada Ukun dan Tamat, Jon berkisah soal +rumah tangganya yang berakhir tak menyenangkan dengan +Lena. Bahwa Lena kecewa sehingga tak mau memberi tahu +Jon ke mana dia akan pergi. + + “Kalau kalian menemukan Lena dan Zorro, kabari +aku,” kata Jon sedih. “Dan, bilang sama mereka, aku selalu +rindu.” Matanya berkaca-kaca. + + “Usah khawatir, Saudara Jon,” bujuk Ukun. + “Segera setelah kami menemukan mereka, akan kami +kabari Saudara Jon dalam tempo sesingkat-singkatnya.” + Meski berat, Jon harus berpisah dengan Ukun dan Ta- +mat. Orang-orang Belitong itu harus melanjutkan perjalanan +untuk mencari Lena dan Zorro. Perasaan sedih, tentu tak per- +lu dibicarakan lagi karena sudah pasti. + 318 ~ Andrea Hirata + + Untuk memudahkan pencarian, Jon memberi mereka +selembar foto. Ada Lena, Zorro, dan Jon sendiri dalam foto +keluarga yang manis bertabur senyum itu. + + Berpedoman pada surat-surat Lena, tujuan Ukun dan +Tamat berikutnya adalah Bengkulu. Setelah dua hari dua ma- +lam di dalam bus, mereka memasuki Bengkulu dan terkejut +melihat umbul-umbul serta iring-iringan besar orang memu- +kul-mukul beduk. Semakin dalam masuk ke kota, semakin +meriah. + + Tamat teringat akan cerita Lena dalam suratnya kepada +Zuraida. Inikah yang dimaksud Lena dengan Festival Tabot? +Sebuah festival Islami, festival terbesar di Bengkulu, diada- +kan setiap tahun selama sepuluh hari untuk memperingati +wafatnya Imam Hussain, cucu Rasulullah di Padang Karbe- +la. Seperti melihat Masjid Baiturachman, Tamat dan Ukun +merasa beruntung tiba di Bengkulu saat Festival Tabot yang +memesona. + + Kemudian, mereka berjumpa dengan seorang tokoh +bernama Manikam, yang berkata bahwa dia juga selalu ingin +tahu di mana Lena dan Zorro berada. + + “Memang pernah Lena meneleponku, tapi sekadar me- +nanyakan kabarku, apakah aku baik-baik saja. Waktu itu dia +bilang dia di Tanjung Karang, tak memberi alamat jelas.” + + Manikam bersimpati pada upaya Ukun dan Tamat +mencari Lena dan Zorro demi Sabari. Dia ingin membantu +sedapat-dapatnya. Dia juga menyukai Ukun yang baik tutur + Ayah ~ 319 + +katanya, yang selalu mengucapkan kami haturkan terima kasih +tak terkira. + + “Mungkin Lena ada di Tanjung Karang, Palembang, +Jambi, Padang, Bukittinggi, atau Singkep karena kawan- +kawan penanya ada di sana. Tapi, tak mungkin Singkep, ter- +lalu jauh, harus menyeberangi laut, apalagi Lena bepergian +dengan anak kecil.” + + Ukun membuka Kamus Umum Bahasa Indonesia, lalu ber- +tanya dengan mantap: + + “Gerangan apa yang membuat Kakanda Manikam me- +ngetahui daripada semua keadaan itu?” + + “Mungkin karena saya pernah menjadi suaminya.” + Manikam bilang, Lena senang bepergian, senang berka- +wan, senang berkorespondensi. Sahabat penanya tersebar di +banyak daerah. Beberapa surat dari sahabat penanya masih +datang ke alamat rumah Manikam. + Tamat gembira mendengar informasi itu sekaligus getir. +Sebab, dia tahu mencari Lena dan Zorro akan sangat sulit, tak +semudah dibayangkan. Dulu waktu masih di Belitong mereka +pikir paling jauh Lena hanya akan sampai ke Medan, lalu me- +reka akan membujuknya agar pulang sebab Sabari mau gila. +Seumpama Lena tak mau pulang, silakan, tak apa-apa, paling +tidak Zorro bisa diajak pulang. Kalau keduanya tak mau pu- +lang, silakan, tak apa-apa juga. Toh, negeri ini sudah merdeka +lebih dari lima puluh tahun, orang bebas menentukan pilih- +an. Yang penting mereka telah berusaha menemukan Lena + 320 ~ Andrea Hirata + +dan Zorro. Itu kewajiban seorang kawan. Kalau nanti mereka +pulang tidak membawa Lena atau Zorro dan Sabari menjadi +gila, silakan juga, tak apa-apa. + + Kenyataan sungguh berbeda. Begitu gampang mende- +ngar Manikam menyebut enam kota tadi, tetapi sesungguhnya +kota-kota itu terpisah ribuan kilometer, sedangkan satu-satu- +nya pedoman untuk mencari Lena hanyalah dari surat-surat +sahabat penanya yang masih tertinggal di rumah Manikam. +Hanya itu, tak ada cara lain. Tamat curiga, jangan-jangan +Marlena sudah menikah lagi dengan salah seorang sahabat +penanya. + + Manikam tak mau memberi harapan kosong kepada +orang-orang kampung yang naif itu. Sungguh sulit mencari +seseorang hanya lewat sahabat pena. + + “Sebaiknya, kalian pulang saja ke Belitong.” + “Terima kasih atas saran Abang, tapi seisi Kampung Be- +lantik telah mengantar kami di Pelabuhan Tanjong Pandan. +Tak mungkin kami pulang begitu saja, lagi pula, tak terba- +yangkan apa yang akan kukatakan kepada Sabari. Kami akan +mendatangi sahabat-sahabat pena itu, apa pun yang akan ter- +jadi,” kata Tamat. + Ukun tercenung, lalu bersabda, “Sauh telah diangkat, +layar telah terkembang, ayam jantan telah berkokok, ayam +betina telah berkotek, bebek telah ber-kwek-kwek, bintang telah +bersinar, bulan juga, takkanlah kiranya kami putar haluan.” + Ayah ~ 321 + +Berhari-hari mereka terbanting-banting dalam bus kelas eko- +nomi, akhirnya sampai di Terminal Bus Raja Basa, Tanjung +Karang. + + Mereka mendatangi alamat sahabat pena Lena di Krui. +Orang itu adalah lelaki setengah baya, beranak empat, be- +kerja sebagai pencari getah damar, istrinya perajin kain tapis. +Sayangnya, dia tak tahu di mana Lena. Katanya setelah me- +nerima surat Lena dari Medan, Lena tak pernah lagi memba- +las suratnya. Kata orang itu, dia telah berkawan pena dengan +Lena sejak mereka masih kelas empat SD. + + “Bersahabat pena kian sedikit peminatnya. Ini hobi in- +dah yang semakin kesepian. Sahabat pena akan segera pu- +nah, mirip telegram.” + + Sahabat pena di Metro dan Tulang Bawang memberi +informasi yang sama soal Lena. Meski kecewa, di Lampung- +lah Ukun menemukan berliannya wejangan Bu Norma ten- +tang kekayaan bahasa. Penjelajahan mereka dari Krui ke Tu- +lang Bawang meliputi wilayah Lampung pesisir, Pubian, dan +Abung dengan perbendaharaan kata yang berbeda. Ukun +merasa berwisata bahasa. + + Dari Stasiun Pasar Bawah mereka naik kereta dengan +tujuan akhir Stasiun Kertapati, Palembang. + + Ada tiga sahabat pena Lena di sana, yakni pedagang ca- +bai keriting di pasar induk, penjaga toko kelontong di Bom + 322 ~ Andrea Hirata + +Baru, dan dosen di Universitas Sriwijaya, Bukit Besar. Semua +mengatakan menerima surat terakhir dari Lena waktu dia +masih di Medan. + + Ukun dan Tamat senang berjumpa dengan sahabat +pena karena mereka punya kepribadian yang sama, yakni +ramah, penolong, amat menghargai persahabatan, dan lihai +berbahasa. Para sahabat pena memahami bahwa terdapat +seni yang indah dalam surat-menyurat. + + Mereka selalu menawari untuk tinggal, tetapi Ukun dan +Tamat tak bisa beristirahat sebelum menemukan Lena dan +Zorro. Mereka menemukan kesan yang amat baik tentang +sahabat pena, mengapa dewasa ini tak ada lagi orang bersa- +habat pena? + + Meninggalkan Palembang dengan kecewa, mereka ke +Jambi. Karena persediaan uang menipis, mereka berhemat +dengan naik bus kelas ekonomi dari kota ke kota. Jika kema- +laman, mereka tidur di terminal. Adakalanya mereka me- +numpang truk. Mereka mulai menerapkan strategi makan +sehari sekali, di warung nasi termurah. Tak lama kemudian +strategi itu meningkat menjadi makan dua hari sekali. + + Perjalanan yang berat, tidur melingkar seperti tupai di +sembarang tempat, jarang makan dan mandi, Ukun dan Ta- +mat compang-camping. Dalam waktu singkat mereka tampak +macam gelandangan, tak lebih bagus daripada keadaan Sa- +bari di Belitong. + Ayah ~ 323 + + Jambul Tamat ala James Dean yang masih tampak wak- +tu di Medan, telah lenyap dari pandangan mata. Bau minyak +sinyong-nyong berganti menjadi bau matahari, bau pakaian +yang jarang diganti, dan bau orang miskin. + + Kemeja lengan panjang mereka sudah luntur warnanya. +Ikat pinggang besar bermanik-manik itu telah diganti menja- +di tali rafia yang diikat kencang, simpul mati, karena celana +cutbrai menjadi kebesaran sebab keduanya telah kurus ku- +rang makan. + + Sisir telah rontok gigi-giginya, saputangan telah berubah +menjadi lap montir motor untuk mengelap busi. Sepatu jenggel +ala biduan orkes Melayu yang mengilap dan mendebarkan +itu telah berubah menjadi sandal jepit Daimatu. Yang masih +tampak gagah hanya koper aluminium yang kuncinya juga +sudah minggat sehingga koper itu harus diikat tali rami. + + Meski kusut masai, berantakan, kurang makan, dan bau +tengik, Ukun tak pernah kehilangan keanggunannya dalam +berbahasa. Ditunjukkannya foto kepada sopir bus malam, +sambil membuka Kamus Umum Bahasa Indonesia yang tebal itu. + + “Dalam pada melintasi kota demi kota, adakah kiranya +Kakanda Sopir pernah melihat perempuan manis berlesung +pipit dalam foto ini?” + + Kepada Pak Pos Kantor Pos Muaro Bungo, Ukun ber- +tanya, “Dalam pada mengemban tugas mengantarkan ama- +nah, adakah Kakanda pernah melihat orang-orang dalam +foto ini?” + 324 ~ Andrea Hirata + + Pak Pos menatap Ukun. “Tiadalah saya pernah meli- +hatnya. Namun, seumpama saya melihatnya, tentulah tersirat +dalam hati saya untuk menyampaikan pada pihak-pihak yang +ada di dalam foto itu, bahwasanya dua orang pemuda dari +negeri seberang samudra nan bergelora sedang mencari me- +reka, oh, dada saya berdebar-debar dibuatnya.” + + “Tak terperikan rasa terima kasihku, Kakanda.” Ukun +memeluk Kamus Umum Bahasa Indonesia kuat-kuat. + + Masih di Jambi, di sebuah kios pangkas rambut, Ukun +bertanya sambil memperlihatkan foto itu. + + “Aku kenal orang ini!” kata orang itu. + Ukun dan Tamat terperanjat. + “Ini JonPijareli, bukan?! Gitaris dari Medan!” + Tukang pangkas rambut lainnya merubung foto itu. + “‘La Bamba’!” teriak salah seorangnya sambil menyanyi- +kan lagu yang liriknya dapat membuat mulut kusut itu. Yang +lain ikut menari dan menyanyikan lagu runyam itu, meski tak +jelas apa yang mereka ucapkan. Rupanya Jon pernah memu- +kau publik Jambi dengan lagu itu. + “Kalian kenal dengan JonPijareli?” tanya orang tadi. + “Oh, dia kawan kami,” jawab Ukun bangga. + “Benarkah?” + Sayangnya tak seorang pun mengenali Lena dan Zorro. +Namun, paling tidak sejak itu Ukun dan Tamat mengenal sisi +lain JonPijareli, yaitu ternyata dia masyhur seantero Sumatra. +Dia adalah selebritas Sumatra. + Ayah ~ 325 + +Benar kata Bu Norma, tak terbilang besarnya manfaat bagi +Ukun dan Tamat karena menggunakan bahasa Indonesia +sebaik-baiknya. Meski banyak salahnya, tetapi mereka selalu +diterima dan ditolong siapa pun sepanjang jalan karena ber- +bahasa seperti itu memberi kesan yang baik tentang mereka. + + Pasti sering tidak praktis, tetapi Ukun telah pandai ber- +siasat. Dalam situasi darurat, Kakanda disingkatnya menjadi +Kanda. Diperlihatkannya foto itu kepada sopir bus ALS yang +bergegas mau berangkat. + + “Kiranya Kanda pernah melihat perempuan nan padat +ini?” Ringkas, padat, dan tetap anggun. + + Sayangnya semua usaha masih tak menghasilkan apa +pun. Sebenarnya, sudah pintar cara mereka mencari Lena. +Mereka selalu bertanya kepada pak pos karena pak pos men- +jalani jalan antar yang tetap, setiap hari selama bertahun- +tahun. Maka, mereka tahu warga lama dan baru. Mereka +tahu anak yang baru lahir dan orang yang baru meninggal. +Tugas mereka yang mulia membuat mereka dicintai dan sa- +ling kenal dengan semua orang. + + Mereka juga memperlihatkan foto kepada penjual tiket +bus, kereta, kapal, dan lokasi-lokasi wisata sebab Marlena se- +nang berwisata. Mereka mengunjungi KUA di setiap kota, +untuk bertanya kalau-kalau ada data nikah Marlena. + 326 ~ Andrea Hirata + + Lena dan Zorro masih tak tahu rimbanya. Raib macam +ditelan bumi. Keadaan Ukun dan Tamat semakin menyedih- +kan. Orang-orang udik itu macam mesin yang terlalu berat +bekerja. Mereka selalu lelah, haus, dan lapar. Tamat melihat- +lihat lagi alamat sahabat pena Lena. Pesimis dia melihat tiga +tempat yang harus mereka kunjungi, yaitu Padang, Bukitting- +gi, dan Singkep. Masihkah mereka sanggup menempuh per- +jalanan itu? + + Sahabat pena terakhir yang mereka kunjungi di Jambi +adalah pengusaha percetakan kecil. Untuk mengenang perke- +nalan yang singkat dan manis, orang itu bermaksud mencetak +kartu nama untuk Ukun dan Tamat. + + Orang-orang kampung yang bahkan tak pernah terpikir +akan punya kartu nama itu merasa takjub. + + “Kartu nama kiranya diperuntukkan kepada golongan +orang pintar, para pejabat negara, orang politik, para peda- +gang peniaga, para pemborong, dan kaum amtenar. Boleh- +kah khalayak awam semacam saya dan mitra saya ini punya +daripada kartu nama?” Ukun bertanya. + + “Tentu, Bang, boleh saja, kartu nama untuk semua +orang, segala usia.” + + “Bagaimana isi kartu nama itu nanti, Bang?” tanya Ta- +mat. + + “Ah, macam biasalah, macam orang-orang lain tu, ada +nama, alamat, jabatan.” + + “Jabatan?” + Ayah ~ 327 + + “Tentu, misalnya direktur, asisten apoteker, kepala bagi- +an ini dan itu, profesi, apa saja.” + + “Atas perkenan Abang, tugas sehari-hari saya adalah +menggulung dinamo, adapun daripada mitra di sebelah saya +ini, adalah tukang kipas satai di restoran satai kambing muda +Afrika,” Ukun menjelaskan. + + Orang itu merenung. + “Kurasa tak perlulah itu ada di kartu nama, cukup nama +dan alamat saja. Silakan tulis nama dan alamat jelas.” Orang +itu menyerahkan kertas dan pulpen. + Ukun dan Tamat menyingkir ke meja sebelah sana. Gu- +gup mereka waktu bermusyawarah. Kertas dan pulpen dise- +rahkan kembali ke orang tadi. Orang itu membacanya dan +tersenyum. Dia pergi. + Tak lama kemudian dia kembali membawa dua kotak +berisi kartu nama. Ukun dan Tamat menerimanya dengan +takzim dan mengucapkan ribuan terima kasih. Itulah akhir +pencarian Ukun dan Tamat di Jambi. + Dalam perjalanan naik bus ke Padang, Ukun dan Tamat +terpesona mengamati kartu nama mereka. Tak pernah mere- +ka membayangkan dalam hidup mereka sebagai tukang gu- +lung dinamo dan tukang kipas satai suatu ketika akan punya +kartu nama. Mungkin dalam profesi itu hanya mereka di du- +nia yang punya kartu nama. Berulang-ulang Ukun membaca +kartu nama itu: Maulana Hasan Magribi (Ukun), kawan JonPijare- +li, gitaris top dari Medan. + Stolen Generation + +PATRICK Mundara memberi tahu Larissa bahwa ayahnya +hilang. + + “Gone, just like that, gone!” kata sepupunya itu gusar. + Larissa berusaha tenang. Bukan baru sekali-dua kali, jika +bertengkar dengan ibunya, ayahnya pergi ke rumah saudara- +saudaranya, tak bilang-bilang. Larissa telah melihat ayahnya +berubah akhir-akhir ini. Dia menjadi pendiam dan sering +melamun. Larissa cemas. Dia tak masuk kuliah berikutnya, +mahasiswi Biologi di Charles Darwin University itu pulang. + Di rumah, dilihatnya wajah ibunya tegang. + “Your oldman,” katanya jengkel. + “Sudah di Alice Spring!” + Oh, jauhnya? + “Ini gara-gara bertengkarkah?” + Mommy menggeleng. + “Jadi, mengapa Ayah jauh-jauh ke sana?” + Ayah ~ 329 + + “Tanyalah sendiri.” + Larissa menelepon bibinya di Alice Spring, yang mem- +benarkan bahwa Pak Tua Niel sudah bercokol di rumahnya. + “Macam orang linglung keadaannya,” kata bibinya. + “Kasihkan telepon kepadanya.” + Niel tak mau menerima telepon. + “Kalau begitu, tanya dia, mengapa dia kabur, bikin kelu- +arga cemas saja, cepat pulang, jangan macam-macam, sudah +tua, nanti repot semua orang.” + Terdengar gerung-gerung suara bibi Larissa bicara de- +ngan Niel. + “Riss, katanya dia tak mau pulang.” + “Mengapa?” + Terdengar lagi gerung-gerung suara. + “Katanya, dia mau mencari orang Indonesia, sebelum +ketemu, katanya, dia tak mau pulang.” + Sekarang Larissa yang linglung. Ibunya berdiri tegak di +sampingnya, menguping semua pembicaraan tadi. Larissa +menutup telepon. + “Mom, ada soal apa dengan Indonesia ini?” + Ibu Larissa berkisah soal pesan yang dibawa seekor pe- +nyu dan ditemukan Niel. Mulut Larissa ternganga. Mommy +menyimpan kisah itu dari anak-anaknya karena malu akan +sikap konyol Niel yang menganggap serius penyu itu. + “Itu perbuatan orang-orang iseng saja, barangkali yang +membuat pesan itu sedang terkekeh-kekeh di Indonesia sana, + 330 ~ Andrea Hirata + +atau boleh jadi dari mana saja. Namun, ayahnya mengang- +gap, dari miliaran manusia di bumi ini, dirinya telah terpilih +untuk menerima pesan itu, dia merasa diberi tugas dari langit +untuk mencari orang-orang Indonesia itu. Tiba-tiba dia me- +rasa bagaikan seorang nabi, dapatkah kau bayangkan itu?” + + Mulut Larissa ternganga makin lebar waktu ibunya +memperlihatkan pelat aluminium bertulisan pesan itu dan +melihat tanggalnya. Kata ibunya, Niel telah membawa pelat +itu ke sana kemari dan bertanya kepada orang-orang apakah +mereka mengenal orang Indonesia bernama Zorro dan Mar- +lena. Dia bertanya ke kantor pos, ke polisi, ke keluarga-kelu- +arga Indonesia, bahkan ke kantor imigrasi. + + “Memalukan sekali, bukan?” + “Kapan Ayah menemukan pesan ini?” + “Minggu lalu.” + Larissa menatap ibunya. + “Sadarkah Mommy, pesan ini sudah berumur hampir +tujuh tahun!” + Hari itu pula Larissa berangkat ke Alice Spring untuk +menjemput ayahnya. + +Tentu saja kisah Niel, seekor penyu, dan upaya konyolnya +mencari orang-orang Indonesia itu langsung menjadi komedi + Ayah ~ 331 + +yang menyegarkan di komunitas Aborigin Hodgson Cove. Ja- +dilah dia bulan-bulanan. + + Gayle Rifkin, Annie Brown, Matthew Tarrti adalah ka- +wan-kawan kental Niel sejak kecil, mereka biasa berkumpul di +James Pardy’s Pub setiap Sabtu sore. Sejak Niel menemukan +penyu itu, dia tak lagi berkumpul dengan mereka. Kawan- +kawannya menertawakan Niel sepanjang sore. Dongeng Pak +Tua Niel, Zorro, dan Penyu Ajaib, begitu kelakar mereka. Jika +berjumpa dengan Niel di dermaga, mereka melukis huruf Z +di udara, lalu tertawa terpingkal-pingkal. Kian hari kian ba- +nyak orang yang mengolok Pak Tua Niel. + + Larissa sendiri jadi mengerti mengapa dalam minggu- +minggu terakhir itu ayahnya jadi pendiam dan banyak mela- +mun. Di satu sisi, ayahnya pasti merasa terbebani oleh pesan +yang dianggapnya tak main-main, di sisi lain, dia malu diper- +olok masyarakat. Usai melaut, Niel tinggal di rumah saja. + + Larissa, satu-satunya anak perempuan dalam keluarga +itu, sangat dekat dengan ayahnya. Ditepuk-tepuknya pundak +ayahnya, diyakinkannya bahwa penyu itu tak bisa dianggap +serius. Bahwa di laut adalah hal biasa para nelayan menemu- +kan benda-benda yang aneh. Bahwa ayahnya telah menjadi +bahan olok-olok dan dia iba melihat ayahnya diperlakukan +seperti itu. Ayahnya menatapnya. + + “Penyu itu telah berkelana hampir tujuh tahun, ia bisa +ke mana saja, ke Samudra Atlantik, Samudra Pasifik, ia bisa +ke Amerika Selatan, ia bisa ke Hawaii, bahkan Antartika. Ia + 332 ~ Andrea Hirata + +bisa mati karena usia tua, ia bisa saja digempur kawanan hiu, +bisa dilahap buaya muara. Ribuan nelayan ada di sepanjang +pesisir benua ini, mengapa ia tersangkut di pukat si Tua Niel +ini? Membawa pesan dari Indonesia? Kau tahu, Riss, semua +hal terjadi untuk sebuah alasan. Orang-orang Indonesia yang +hilang itu pasti ada di utara Australia.” + + Niel memperlihatkan lagi pelat aluminium itu. + “Bacalah ini baik-baik, Sabari ini benar-benar sedang +mencari anaknya.” + Larissa membacanya lagi. Ayahnya benar, meski dalam +bahasa Inggris yang rusak, tetapi jika tulisan di pelat itu di- +baca berulang-ulang, memang terasa seperti ratapan seorang +ayah kehilangan anaknya. + +Pukul 10.00 pagi itu, Niel sudah berdandan rapi. Dandanan +yang membuat Larissa dan Mommy terperangah. Niel me- +ngenakan pakaian terbaiknya, dari bawah sampai ke atas. Se- +patu mengilap, berdasi besar berwarna megah, mengenakan +jas, tak peduli udara panas. Belum tentu setahun sekali Niel +tua berdandan seperti itu. Biasanya untuk acara-acara yang +sangat penting saja. Ketika ditanya mau ke mana, dia hanya +tersenyum, tak menjawab. Diambilnya topi pandora-nya, lalu +ditentengnya koper kecil, tak tahu isinya apa. + Ayah ~ 333 + + Mommy dihinggapi perasaan yang pahit, jangan-jangan +soal penyu itu telah membuat suaminya sakit ingatan. Melalui +kaca jendela, Larissa dan Mommy melihat Niel tua berjalan +menuju barat, ke arah pusat Kota Darwin. + + Pikiran Larissa tak jauh dari pikiran ibunya, segera dia +mengganti pakaian, lalu menyambar kunci mobil. Tak lama +kemudian dia sudah berada di dalam mobil sedan Datsun bu- +tut, PL411, 1967. + + Pelan-pelan Larissa meluncur, dari jauh dilihatnya ayah- +nya berjalan di trotoar. Dia ingin membuntuti ayahnya, ingin +tahu apa yang akan dilakukannya. Setelah beberapa lama, di- +lihatnya ayahnya menyeberangi jalan, berjalan lagi dan ber- +henti di depan pagar yang tinggi. Tampak ayahnya berbicara +dengan seseorang, lalu masuk ke pekarangan sebuah gedung. +Larissa melaju pelan melewati bangunan itu dan terkejut me- +ngetahui gedung itu adalah Gedung Perwakilan Indonesia. +Ayahnya pasti bertanya tentang orang-orang Indonesia yang +hilang itu. + + Larissa menunggu ayahnya di seberang jalan di muka +gedung itu. Tak lama kemudian ayahnya keluar dan berjalan +melalui jalan dia datang tadi. Larissa mengikutinya. + + “Pop, Pop!” panggilnya. + Niel terkejut. + “Masuk ke mobil, ayo pulang.” + Niel terus berjalan. + “Ayo, masuklah.” + 334 ~ Andrea Hirata + + “Kau tak percaya,” kata ayahnya. + “Ya, aku tak percaya, tapi masuklah.” + Niel menolak. Dia terus melangkah. Beberapa orang +melambai kepada Niel dan menanyakan soal penyu itu. La- +rissa tahu mereka meledek ayahnya. + “Ayolah, Pop, masuk ke mobil, kita pulang.” + Niel terus berjalan. + Sampai di rumah, Mommy yang menganggap Niel su- +dah keterlaluan, langsung menggempur Pak Tua. Kesabar- +annya habis karena dia tak tahan mendengar gunjingan te- +tangga bahwa suaminya sudah sinting. Dia malu jadi bahan +tertawaan. Pak Tua malah berkata takkan berhenti mencari +anak yang hilang bernama Zorro itu meski seluruh Australia +menertawakannya. Mommy membanting pintu. + Malam itu Larissa terjebak kesenyapan. Senyap yang +menyakitkan karena pertengkaran ayah dan ibunya tadi si- +ang. Sepanjang sore, belum ada perdamaian. Mommy tak +mau bicara dengan Pak Tua. + Malam beranjak. Gerung burung hantu menambah se- +nyap suasana. Larissa masuk ke kamar untuk melihat ayah- +nya. Ayahnya sudah jatuh tertidur. Di dekatnya ada foto. +Ayahnya pasti memeluk bingkai foto itu sebelum tidur, kini +terlepas dari pelukannya dan tergeletak di sampingnya. + Larissa sudah sering melihat foto itu karena telah lama +tergantung di dinding. Foto itu adalah foto lama keluarga, hi- +tam putih, di dalam foto itu ada ayah ayahnya, ibu ayahnya, + Ayah ~ 335 + +kakak sulung ayahnya, dan ayahnya sendiri. Waktu foto itu +diambil, Niel baru berusia lima tahun dan abangnya, Jerome +Wuruninga, berusia delapan tahun. + + Larissa mengamati foto itu dan tiba-tiba sesuatu seakan +menyambarnya. Dia teringat akan salah satu tragedi kema- +nusiaan terbesar di Australia, yakni saat pemerintah Australia +memisahkan secara paksa anak-anak Aborigin dari orangtua +mereka. Anak-anak itu kemudian disebut stolen generation, ge- +nerasi yang dicuri. Hingga saat ini ayahnya tak tahu di mana +abangnya itu dan tak tahu ke mana harus mencarinya. + Musibah + +UANG hampir habis. Perjalanan makin berat bagi Ukun dan +Tamat. Namun ajaib, mencantumkan keterangan di kartu +nama bahwa JonPijareli adalah kawan mereka, sedikit banyak +membuat mereka terbantu. Satpam membolehkan mereka +tidur di terminal, kernet bus tersenyum menerima bayaran +ongkos semampu mereka, penjaga masjid membolehkan +menginap, warung-warung nasi memberi diskon. + + Tiga sahabat pena Lena di Padang, yaitu seorang polisi, +ibu rumah tangga, dan wasit sepak bola, tak dapat memberi +jalan terang soal Lena. Begitu pula sahabat-sahabat pena di +Bukittinggi. + + Sambil menatap Jam Gadang, Tamat mengempaskan +koper aluminium itu. Mereka memeluk diri sendiri untuk +mengatasi dingin Bukittinggi. Persis Sabari yang luntang-lan- +tung awut-awutan di Belitong, keadaan Ukun dan Tamat mo- +rat-marit menyedihkan. Dulu mereka menduga akan menje- + Ayah ~ 337 + +lajah Sumatra paling lama sebulan, nyatanya sudah lebih dari +dua bulan. Harapan satu-satunya tinggal Singkep. + + Karena lelah dan gagal bertubi-tubi, Singkep menge- +cilkan hati mereka. Apalagi, teringat kata Manikam bahwa +Lena tak mungkin ke Singkep sebab jauh dan harus menyebe- +rangi laut, belum menghitung dia membawa anak kecil. + + “Tapi, kita harus ke sana, Boi,” kata Ukun menyema- +ngati Tamat, menyemangati dirinya sendiri sebenarnya. + + “Kita harus menyelesaikan apa yang telah kita mulai. +Kalau gagal di sana, baru kita pulang.” + + Getir Tamat mendengar kata gagal. Ngeri dia memba- +yangkan Sabari berjalan hilir mudik di Pasar Belantik tanpa +menyadari bahwa dirinya tak bercelana. Namun, situasi me- +reka runyam. Persoalannya bukan hanya harapan yang kecil +untuk menemukan Lena dan Zorro di Singkep, melainkan +ada soal pelik lain, yaitu duit sudah habis. Neraca keuangan +mereka bolehlah disebut defisit tingkat gawat. Namun, takkan +mereka menyerah demi kawan mereka, Sabari. Mereka men- +cari kerja di kawasan Pasar Aur Kuningan Bukittinggi. + + Menggulung dinamo memerlukan keterampilan khusus +yang tak sembarang orang bisa. Perlu pengalaman bertahun- +tahun untuk bisa ahli. Di sisi lain banyak orang perlu tukang +gulung dinamo. Oleh karena itu, dengan mudah Ukun men- +dapat pekerjaan. Adapun Tamat, dengan menerapkan prin- +sip bersedia bekerja apa saja asal diberi makan, tak terlalu +susah pula mendapat pekerjaan. + 338 ~ Andrea Hirata + + Rupiah demi rupiah mereka kumpulkan untuk dapat +berlayar ke Singkep serta membiayai ongkos pulang ke Beli- +tong dari Singkep nanti. Akhirnya, jumlah yang mereka per- +lukan terkumpul. + +Sambil tersenyum lebar, Larissa membuka pintu sedan Dat- +sun 1967-nya, yang pedal gasnya harus diperlakukan dengan +tingkat membelai pacar baru sebab jika terlalu kasar mene- +kannya, mobil biru mentah itu pandai terbatuk-batuk. Niel +masuk ke mobil, lalu mereka meluncur ke Koolpinyah, untuk +mencari informasi soal Lena dan Zorro. + + Di sana mereka mengunjungi rumah keluarga paman +Larissa dari pihak ibunya, yang menerima mereka dengan +sikap menahan tawa. Mereka kemudian bertanya tentang +Lena dan Zorro pada beberapa keluarga Indonesia, dengan +asumsi, di kota kecil seperti Koolpinyah, orang asing sebangsa +biasanya saling kenal. Sayangnya tak ada yang kenal. + + Sesuai perjanjian antara Larissa dan ayahnya, mereka +akan mencari informasi tentang Lena dan Zorro di kota-kota +di northern teritory saja. Karena begitulah tanda yang dibaca oleh +Pak Tua Niel lewat pesan yang dibawa penyu itu. Sementara +itu, antarsanak saudara saling menelepon untuk mengantisi- +pasi kedatangan mereka, lalu berjanji untuk bertukar cerita +konyol soal pencarian orang Indonesia itu sehingga mereka +bisa terbahak-bahak. + Ayah ~ 339 + + Larissa dan ayahnya mencari informasi mulai dari Lud- +milla di barat, sampai ke Humpty Doo di timur, lalu ke Ho- +ward Springs di utara, sampai ke ujung selatan, Mandorah. +Mereka bertanya ke kantor pemerintah dan keluarga-keluar- +ga Indonesia. Nihil hasilnya, tentu saja. + + Larissa tahu apa yang mereka lakukan akan sia-sia dan +dia tahu bahwa dia sedang diperolok. Namun, rasa sayang +kepada ayahnya, dan apa yang dirasakan ayahnya akibat ke- +hilangan saudara, membuatnya membutakan mata dan me- +nulikan telinga. + + Setelah hampir tiga minggu berkelana mencari Marlena +dan Zorro, Niel dan Larissa pulang ke Darwin. + + “Karena yang kalian cari adalah khayalan, kalian takkan +menemukannya. Orang-orang yang ada dalam pesan itu ada- +lah tokoh-tokoh komik, mereka hanya ada dalam kepala Pak +Tua Niel yang pikun. Penyu yang membawa pesan itu juga +sudah tua, sama pikunnya dengan Niel.” Begitu pendapat Pa- +man Matthew Tarrti, yang tak lain adik ibu Larissa sendiri. + + Meledaklah tawa keluarga dan tetangga. + “Kau kan mahasiswi, bukankah kau yang seharusnya +lebih rasional dalam hal ini?” Gayle Rifkin menohok Larissa. + Sepupu-sepupu Larissa menyarankan agar Niel me- +nangkap lagi penyu, lalu mengikat pesan di kakinya, menga- +barkan pencarian mereka yang gagal. Tawa meledak lagi. + Niel sendiri merasa lebih tenang karena telah melakukan +sesuatu untuk mencari seorang anak yang hilang. Kegagalan + 340 ~ Andrea Hirata + +yang pahit adalah lebih baik daripada hanya berpangku ta- +ngan. Dimintanya Larissa menulis surat untuk Sabari. Sebu- +ah surat yang mengabarkan bahwa dia telah mencoba men- +cari Lena dan Zorro sekuat kemampuannya, seantero northern +teritory, tetapi tak berhasil. Oleh karena itu, dia minta maaf, +dan semoga suatu hari nanti Sabari menemukan anaknya. + + Larissa melihat alamat seadanya yang tertulis di pelat +aluminium itu, dia berkecil hati. Tak mungkin surat bisa sam- +pai dengan alamat seperti itu, tetapi sekali lagi, dia tak mau +melukai hati ayahnya. Surat dikirim ke Indonesia. Jawaban +tak kunjung muncul. Niel dan Larissa semakin menjadi bu- +lan-bulanan. + +Adapun Ukun dan Tamat, setelah menempuh perjalanan se- +lama dua hari dua malam, akhirnya tiba di Singkep. + + Langsung mereka menuju alamat sahabat pena Lena di +sebuah kampung di daerah Dabo. Jauhnya kampung itu, me- +reka naik beragam kendaraan, mulai dari bus mini, angkutan +desa, mobil bak pengangkut sayur, truk tambang, dan akhir- +nya berjalan kaki belasan kilometer. + + Menjelang sore mereka sampai di kampung itu, tetapi +merasa heran karena kampung itu sangat sepi, seperti kam- +pung yang telah ditinggalkan manusia. + Ayah ~ 341 + + Mereka berjalan menyusuri jalan yang panjang. Rumah- +rumah tipikal permukiman buruh tambang berhadap-hadap- +an. Terdengar bunyi radio atau televisi dari rumah-rumah +yang tertutup. Warung-warung juga tutup. Sesekali orang +melintas cepat naik sepeda dengan wajah cemas. Begitu se- +dih suasana, sampai kambing-kambing yang diikat di pagar +rumah tampak murung. Ayam-ayam yang berkeliaran tak +banyak ribut. Anjing duduk termangu-mangu, jangankan +menyalak, menggerung saja tidak. Terasa benar kampung itu +sedang dilanda duka yang mendalam. + + Ukun mau bertanya apa yang terjadi, tetapi tak ada si- +apa-siapa. Tiba-tiba melintas sesorang perempuan menyebe- +rangi jalan, ingin ke rumah tetangganya. Ukun menghampiri­ +nya. + + “Maaf, Kakanda, gerangan apa yang sedang terjadi? +Mengapa sepi sekali?” Mata perempuan itu merah karena +habis menangis. + + “Mengapa bersedih?” tanya Tamat. + Perempuan itu heran menatap Ukun dan Tamat. + “Tak tahukah kalian ada musibah?” + Tamat terkejut. + “Musibah apa, Kak?” + “Lady Diana meninggal!” + 25 Km/Jam + +SABARI yang tengah berjalan, tiba-tiba pak pos menikung +di depannya, menyerahkan sepucuk surat dan langsung me- +luncur lagi. + + Sabari langsung membaca surat itu. Tanpa Yth. ini-itu, +tanpa menanyakan kabar, keadaan musim atau harga-harga +di pasar, surat itu singkat saja. + + Ri, kami sudah menemukan Lena dan Zorro. + Kami akan membawa Zorro pulang naik kapal kayu dari Pelabuh- +an Dabo dan akan merapat di Tanjong Pandan, sore, 7 September 1997. +Demikian, supaya maklum. + Seumpama Kakanda .... + + Sabari menggigil. + Begitu saja, tangkas dan ringkas. Sabari agak bingung +membaca kata seumpama Kakanda ... yang tak selesai dan terco- + Ayah ~ 343 + +ret-coret setelahnya. Pasti Ukun mau menambahkan satu-dua +kalimat, tetapi surat itu dirampas Tamat dan langsung dikirim. + + Hari itu juga, waktu bersepeda dengan santai menuju +pasar, Zuraida terperanjat karena seorang pria tiba-tiba te- +lah berada di sampingnya, berlari mengikuti kecepatan sepe- +danya. Pria itu berambut pendek model tentara. Rambut di +atas telinga kiri dan kanannya dicukur habis, yang tertinggal +hanya rambut di bagian atas sehingga kepala orang itu ma- +cam ditudungi tempurung kelapa. Dia tak berkumis, tak pula +berjenggot, wajahnya klimis licin macam mangkuk Tiongkok. + + Zurai merasa kenal dengan orang itu. Dia berpikir ke- +ras, Siapakah orang itu? Orang itu tersenyum lebar. + + “Sabari!” Zurai menjerit. + Senyum Sabari semakin lebar. Larinya semakin kencang +sehingga melewati Zurai. + “Ri, kaukah itu, Boi?!” + Sabari tak menjawab, dia terus berlari sambil tersenyum. + Zurai terpana karena baru kemarin melihat Sabari awut- +awutan macam hantu akar baru keluar dari pohon aren. + “Kejadian apa lagi, Ri?” Zurai curiga akhirnya Sabari +menjadi gila, tetapi sebagian dirinya senang melihat Sabari +mendadak berubah. + “Ri, kau tidak gila lagi, ya?!” + Sabari malah menambah kecepatan. Maka, tampaklah +perlombaan orang berlari melawan orang bersepeda. Zurai +memanggil-manggil. + 344 ~ Andrea Hirata + + Mereka melewati orang-orang yang berjalan, mendo- +rong gerobak, bersepeda, dan naik motor. Perlombaan aneh +itu ditontoni orang dari pinggir jalan. Saat itu juru antar surat +pengadilan agama sedang meluncur dengan syahdu naik mo- +tor bebek lawasnya. Dia pun heran melihat orang bersorak- +sorai di pinggir jalan, dan terkejut melihat seorang pria berlari +dan seorang perempuan bersepeda berkelebat hanya sehasta +darinya, dekat sekali sehingga dia merasa angin dari dua so- +sok yang memelesat itu. + + Tak tahu apa yang merasukinya, kontan juru antar su- +rat terpancing. Sudah lama ditunggunya kesempatan untuk +menguji kemampuan motor bebek tuanya itu, kesempatan +emas itu akhirnya tiba. Langsung di-geber-nya gas motornya +untuk mengejar Sabari dan Zurai. Motor kuno itu menjerit- +jerit. + + Melihat ada pesaing baru, Sabari dan Zurai terbakar. +Para penonton di pinggir jalan semakin riuh. Ada yang me- +nyemangati Sabari, ada yang berpihak kepada Zurai, yang +paling banyak adalah pendukung juru antar. + + Menjelang kawasan pasar, perlombaan makin seru. Sa- +bari masih di depan, Zurai lekat di belakangnya, pontang- +panting mengayuh sepeda yang juga butut, krontang-krontang +bunyinya. Keringatnya bercucuran, jilbabnya berkibar-kibar +tak keruan. Di sampingnya, juru antar memacu sepeda motor +sambil menundukkan badan bak pembalap motor GP. Na- +mun sayang, meski telah memutar gas sampai tak dapat lagi + Ayah ~ 345 + +diputar, dia kecewa melihat spidometer, kecepatannya hanya +mampu mencapai 25 kilometer per jam. + + Akhirnya, ketiga pembalap liar itu memasuki kawasan +pasar. Sabari telah mencapai akselerasi yang sempurna. Zu- +rai tersenyum kalah. Dilihatnya dari jauh Sabari memelesat +macam kijang. Tak lama kemudian Zurai mendengar bunyi +motor terbatuk-batuk. Nun di belakang sana dilihatnya seo- +rang pengendara motor bebek berhelm bulat meminggirkan +motornya yang mogok. + Api Neraka + +Surat dari Tamat membuat Sabari yang hampir senewen +sekonyong-konyong menjadi waras kembali, bahkan lebih +waras daripada orang yang paling waras. Senyum yang te- +lah terkunci selama delapan tahun dalam mulutnya, tiba-tiba +melompat-lompat keluar macam anak-anak tupai berlomba +keluar dari liangnya. + + Tak lagi tampak lelaki linglung hilir mudik macam orang +hilang uang di kawasan pasar ikan karena Sabari sudah pu- +lang, mencukur rambut, jenggot, dan kumisnya, mandi dan +menggosok gigi. Seperti JonPijareli yang merasa terlahir kem- +bali setelah kedatangan Tamat dan Ukun, Sabari pun terlahir +kembali gara-gara surat Tamat. + + Bertahun-tahun Sabari telah meninggalkan rumahnya +karena dia tak tahan akan kenangan di rumah itu. Kini dia +kembali. + Ayah ~ 347 + + Diamatinya pekarangan, rumput berlomba tinggi de- +ngan ilalang. Pohon delima, yang di bawahnya dulu Zorro, +Abu Meong, dan Marleni senang bermain, telah tumbuh +tinggi. Ayunan yang dibuat Sabari untuk Zorro dan ditautkan +di dahan delima itu talinya telah putus, terkulai menyedihkan. + + Pohon gayam di belakang rumah pasti sudah didiami +bangsa-bangsa hantu. Atap rumah telah menjadi sarang- +sarang burung kinantan, tokek dan cicak berebut kuasa. Siku- +siku tiang didiami tupai. Beberapa ekor bengkarung gendut +pasti suka menggunakan rumah yang diabaikan itu untuk satu +pesta yang tak senonoh. Mendengar langkah Sabari di be- +randa, berhamburan mereka dari dalam rumah, menyusup di +bawah pintu dan meloncat melalui celah jendela. Hewan itu, +elok rupanya, cabul jiwanya. + + Senang tak terkira Sabari bertemu kembali dengan +radion­ya yang telah berdebu. Yang pertama dilakukannya +adalah berutang batu baterai di warung tetangga. Radio itu +masih berfungsi dengan baik. Siang itu pas siaran musik pele- +pas lelah. Lagu dangdut berdenyut-denyut. Sabari memutar +tombol volume sehingga kandas, lalu semua hal, dia sendiri, +radio itu, hewan-hewan, termasuk rumah reyotnya, seolah +bergoyang-goyang. + + Diiringi dentum musik, Sabari membetulkan atap. Te- +lur-telur burung kinantan yang belum menetas, beserta sa- +rangnya, dipindahkannya ke pohon delima. Rumput yang +tinggi dibabat. Dinding papan yang terlepas dipaku kembali. +Sepeda yang telah lama tersandar merana, diperbaiki. + 348 ~ Andrea Hirata + + Sabari dilanda perasaan senang yang tak mampu dilu- +kiskannya dengan kata-kata ketika membereskan tempat ti- +dur Zorro. Diciuminya bantal dan selimut yang dulu dipakai +anaknya itu. + + Segala hal disapu, dibersihkan, disikat. Rumah yang di- +tinggalkan, lalu dikuasai hewan liar, kini didudukinya kem- +bali. Jika lelah, dibacanya lagi surat Tamat itu, semangatnya +meletup lagi. + + Telah lama Sabari tak duduk sendiri di bangku di beran- +da rumahnya. Satu hal yang dulu sering dilakukannya untuk +merenungkan nasib. Malam itu dia duduk di situ. Abu Meong +berbaring malas di pangkuannya. Bahkan, malas untuk seka- +dar mengibaskan ekor. Nun di balik padang ilalang di depan +sana, Sabari melihat purnama telah bangkit. + + Malam beranjak lambat dan langit semakin terang. Be- +gitu terang sehingga Sabari dapat melihat tulisan Tamat di +surat itu, yang telah dihafalnya, kata demi kata, semua titik +dan komanya. Sabari tak tahu drama apa lagi yang akan me- +landanya, tetapi anaknya akan segera pulang. Sabari tak da- +pat menggambarkan perasaannya. + + Di pasar, Sabari minta pekerjaan apa saja dari siapa saja. +Kuli panggul hanya memanggul sekarung terigu, dia sanggup +dua karung. Dia membersihkan perahu, mengangkat peti es, +mendorong gerobak, memikul sayur-mayur, membantu ibu- +ibu berbelanja. Dia bekerja seperti tak ada lagi hari esok kare- +na dia punya rencana yang manis. + Ayah ~ 349 + + Setelah seminggu bekerja habis-habisan, Sabari berha- +sil mengumpulkan sejumlah uang. Sabtu pagi itu dia ngebut +bersepeda ke ibu kota kabupaten untuk melaksanakan renca- +nanya. + + Di dalam toko anak-anak, jantungnya berdebar mem- +baca daftar panjang barang-barang yang ingin dibelinya: tas +punggung, botol air minum, topi rajutan, kaus kaki, dan sa- +rung tangan berenda. Topi dibelinya dua sebab dalam pikir- +annya dia akan sering mengajak Zorro naik sepeda. Dia juga +membeli sandal, sepatu, berbagai mainan, celana, dan baju +yang semuanya berukuran kecil. Tak sedikit pun dia terpikir +bahwa Zorro sudah besar. + + Usai berbelanja, sambil bersiul-siul dia bersepeda me- +nuju kawasan tempat banyak restoran dan tenda penjaja ma- +kanan. Terus terang saja disampaikan kepada orang-orang di +restoran itu bahwa jika boleh dia mau meminta daftar me- +nunya sebab anaknya senang dininabobokan dengan cerita +tentang makanan. + + Orang-orang itu mulanya merasa heran, tetapi siapakah +yang dapat menolak permintaan seorang ayah demi anaknya? +Sabari takjub mendapat daftar menu yang unik zaman seka- +rang, misalnya pempek kapal tanker, bakso rudal ulang-alik, +nasi goreng dunia akhirat, pecel lele bus kota, lemper tanpa +dosa, es teh antartika, dan sambal api neraka. Sabari melon- +jak membayangkan serunya kisah yang akan diceritakannya +kepada Zorro nanti. + 350 ~ Andrea Hirata + + Setiap malam Sabari menyusun barang-barang untuk +Zorro dan daftar menu itu. Disusunnya dengan rapi di atas +meja rotan di samping tempat tidur Zorro. Adakalanya telah +rapi, dibongkarnya kembali, lalu disusunnya lagi, sambil ter- +senyum-senyum sendiri. + + Akan tetapi, tak ayal, di balik euforia yang tak tertang- +gungkan itu, Sabari merasa pahit memikirkan seandainya ka- +pal kayu itu tak jadi merapat. Dua hari sekali dia bertanya +kepada pegawai kantor syahbandar. Kalau bukan lantaran +pegawai itu telah mengenal Sabari dan tahu apa yang telah +dilalui lelaki malang itu, dan bahwa dia sedang menunggu +anaknya, dia takkan bersabar ditanyai dan menjawab hal +yang sama berulang-ulang. + + “Begitu menurut jadwal, Pak Cik, tapi Pak Cik tahu sen- +diri, musim selatan begini, bisa saja berubah. Bisa saja kapal +berteduh dulu di Kayu Arang atau menunda pelayaran dari +Dabo.” Dia bicara apa adanya karena tak mau memberi ha- +rapan palsu. + + Sabari menunduk dalam. + “Janganlah cemas, Pak Cik. Anak Pak Cik pasti pulang.” + Dua hari kemudian, Sabari datang lagi. + Piala + +TERSENYUM-SENYUM Sabari melihat pengumuman +yang tertempel di warung kopi bahwa akan ada lomba mara- +ton dalam rangka perayaan kemerdekaan. Seseorang terbetik +dalam kalbunya, Zorro, dia mau ikut lomba. + + Mulailah dia berlatih. Saban subuh dia berlari, sepan- +jang hari dia bekerja membanting tulang, sore dia berlari +lagi, malamnya dia mengarang puisi dan kisah-kisah untuk +menyambut anaknya nanti. Sabari menemukan irama hidup +yang menarik. + + Orang-orang masih ingat prestasi fenomenal Sabari +dulu, waktu dia menjadi juara maraton, menumbangkan Di- +namut, sang juara bertahan, yang dicurigai orang punya ilmu +pelanduk. Di warung-warung kopi ramai orang membicara- +kan come back-nya Sabari. Kekisruhan asmara dan prahara ru- +mah tangga yang berlarut-larut membuatnya gantung sepatu +sekian lama, akhirnya dia kembali. + 352 ~ Andrea Hirata + + Telinga Dinamut berdiri. Dia telah bertarung dengan +banyak pelari, tetapi kesumatnya adalah Sabari. Ditingkat- +kannya latihan tiga kali lebih keras daripada biasanya. Sabari +tahu Dinamut mau menggulungnya. Sabari gugup. Tak ada +pilihan lain selain berlatih keras juga. + + Waktu itu, seperti biasa, Sabari duduk di bawah pohon +kersen, di depan kios pangkas rambut Darmawan, lokasi ter- +hormat tempat para kuli serabutan selalu berkumpul sambil +memegang sabit, palu, pacul, linggis, atau sekop. Di situlah +mereka menunggu juragan toko memanggil untuk meng- +angkat ini-itu, menunggu ibu rumah tangga minta bantuan +memanggul segunung belanjaan, menunggu sopir mobil pi- +kap mengajak dua atau tiga kuli untuk merobohkan rumah +tua atau membabat rumput. Adakalanya seorang berpakaian +rapi, bermulut manis, bermata licik mengajak semua kuli, un- +tuk berdemo. Upahnya lebih bagus daripada menggali sumur. + + “Jangan menoleh!” Orang itu membentak. + Sabari terkejut melihat seseorang di belakangnya, me- +munggunginya. Sepintas tampak orang itu tinggi besar seperti +Arnold Swasanaseger dalam film Terminator. Lehernya seperti +pohon kelapa. Lengannya berbongkah-bongkah macam batu +granit di Pantai Tanjong Tinggi. + “Kataku jangan menoleh!” + Sabari ketakutan. + “Saya tak pernah ikut demo, Pak.” + “Benar kamu tak pernah ikut demo?!” + Ayah ~ 353 + + “Ya, Pak.” + “Dusta!” + “Tidak, Pak.” + “Tadi kau bilang ya, sekarang kau bilang tidak, omong +kosong!” + Sabari bingung. + “Jadi, sebenarnya ya apa tidak?!” + Sabari gemetar. + “Masih ingat suara saya?!” + Sabari mencoba mengingat. + “Coba berkata lagi.” + “Masih ingat suara saya?!” + “Kurang banyak.” + “Maksudnya?!” + “Bapak bicara kurang banyak, jadi susah saya mengi- +ngatnya.” + Tak lama kemudian terdengar nyanyian lagu India yang +lembut mendayu-dayu. Sabari terlempar ke masa lampau, +masa SMA. Dia ingat seorang sahabat yang gemar menya- +nyikan lagu itu. Sabari menoleh, orang tegap itu tersenyum +lebar. + “Toharun!” + Senyum Toharun makin lebar. + “Lama sekali tak berjumpa, Kawan.” Toharun memeluk +Sabari. + Sabari merasa seakan-akan tulang-tulangnya patah. + 354 ~ Andrea Hirata + + “Apa kabarmu, Boi?” + Mereka takjub bisa berjumpa kembali. Setor-setor cerita +rupanya selama ini Toharun berada di Karimun, mengajar +Olahraga di sebuah MTs. + “Jadi, cita-cita kau mau menjadi Menteri Olahraga su- +dah gagal, Boi?” + Toharun mengangguk. + “Tapi, tentu kau senang mengajar Olahraga karena me- +mang itu hobimu, bukan?” + “Pekerjaan terbaik seluruh dunia ini, Boi. Aku pindah +lagi ke Belitong sekarang, mau bekerja dan menetap di Be- +lantik saja. Ingin mengajar Olahraga di sekolah atau menjadi +pelatih.” + “Sudah berkeluargakah?” + “Tentu.” + Lalu, terdengar anak-anak kecil memanggil-manggil, +Ayah, Ayah, dan dari dalam kios pangkas rambut itu berlarian +tiga anak lelaki ke arah Toharun dengan potongan rambut +sama dengan potongan rambut ayah mereka. Mereka pun te- +gap-tegap seperti ayahnya. + “Tiga laki-laki, Boi. Kau, bagaimana, Kawan? Apakah +sudah punya anak?” + Sabari tersenyum bangga. + “Sebentar lagi, Run, sebentar lagi aku punya anak lagi.” + Sabari berkunjung ke rumah Toharun dan terkagum- +kagum melihat berbagai piagam penghargaan dan piala yang + Ayah ~ 355 + +pernah diraih raskal 4 itu. Dia bahkan pernah ikut PON me- +wakili Provinsi Sumatra Selatan untuk cabang jalan cepat. + + Rupanya Toharun telah menelaah bentuk-bentuk latih- +an keras yang dilakukan Dinamut. + + “Jangan cemas. Aku akan melatihmu, Boi. Kau akan ku- +buat tangguh macam pelari dari Kenya.” + + Sabari senang bukan buatan karena menemukan pela- +tih. Disalaminya Toharun kuat-kuat. Sejak itu tiap hari Sabari +kena gencet Toharun. + +“Hebat! Kau lebih cepat daripada musang yang paling sehat +sekalipun!” kata Toharun menyemangati Sabari yang ngos- +ngosan. Setelah seminggu ditekan Toharun habis-habisan, +catatan waktu Sabari cukup memuaskan. + + “Tapi, kalau mau mengalahkan Dinamut, dan menja- +di juara, harus lebih cepat lagi.” Toharun memencet-mencet +tombol stopwatch. “Kau harus berlatih lebih militan, dua kali +lebih keras daripada Dinamut!” + + Sementara di situ, Sabari berusaha mengumpul-ngum- +pulkan nyawanya. + + Diam-diam Toharun sering mengintip Dinamut ber- +latih. Dilihatnya Dinamut berlatih di dermaga, berlari sam- +bil menyeret tiga ban truk bekas yang diikat dengan tali di +pinggang. Toharun menyuruh Sabari berlari sambil menyeret +truk. + 356 ~ Andrea Hirata + + Dinamut menyeret kursi, Sabari menyeret meja. Dina- +mut menyeret meja, Sabari menyeret lemari. Dinamut me- +nyeret setandan pisang, Sabari menyeret batang pisang. Di- +namut menyeret gerobak bakso, Sabari menyeret gerobak +pemulung besi. + + Dinamut berlari sambil menggendong kambing. Meski +tak mampu, Toharun menekan Sabari agar berlari sambil +menggendong sapi, anaknya paling tidak. Dinamut berlari di +pinggir Sungai Lenggang yang banyak ular, Toharun meme- +rintahkan Sabari berlari di pinggir Sungai Buta, yang banyak +buaya, Sabari berlari terpontal-pontal. + + Juru antar surat pengadilan agama sering melihat Sabari +berlari melintasi pasar. Dia masih mengenali Sabari. Sore itu +Sabari beristirahat di jembatan setelah digojlok Toharun ber- +lari mengelilingi pasar tujuh kali. Juru antar menghampirinya. + + “Tentu Bung masih ingat denganku,” sapa juru antar +sambil menjulurkan tangan. + + Sabari menyalaminya, berusaha mengingat wajah yang +ramah itu. + + Bertahun-tahun hidup dalam kekalutan, saraf-saraf +ingatan Sabari sempat kusut. Wajah di depannya pernah +hinggap dalam kepalanya, kini dia lupa. Namun, ingatan Sa- +bari pulih melihat sepeda motor bebek tua Yamaha V-80 itu. +Sebab, tak ada lagi orang yang memakai motor seperti itu. +Beberapa bagian motor yang dicat sendiri dengan cat kuda +terbang juga tak gampang dilupakan. + Ayah ~ 357 + + Sabari tersenyum. Semuanya jelas, orang itulah dulu +yang pernah bertanya kepadanya soal gratifikasi, hukum per- +tama Tuan Newton. + + “Semua benda akan jatuh karena daya tarik bumi,” kata +Sabari. + + Mereka tertawa, lalu terurai-urailah obrolan demi obrol­ +an, sampai pada soal lomba maraton. + + “Aku ingin menjadi juara pertama, Pak,” kata Sabari +dengan tenang, tetapi suaranya mengandung tenaga dalam. + + “Aku ingin mendapat piala, piala itu akan kupersembah- +kan untuk anakku, Zorro.” + + Juru antar terharu. Dia tahu apa yang telah dialami Sa- +bari. Baginya, piala itu adalah persembahan yang indah dari +seorang ayah untuk anaknya. + +Sungguh kejam latihan dari Toharun, tetapi nyata kemajuan +yang dirasakan Sabari. Maka, dia tak pernah mengeluh, lagi +pula piala maraton itu begitu manis untuk menjadi hadiah +selamat datang bagi anaknya nanti. Karena latihan super- +keras itu, Sabari semakin yakin dia akan menggondol juara +pertama. Penat tubuhnya lenyap jika Sabari membayangkan +menyerahkan piala itu kepada Zorro di pelabuhan nanti. + + Malam itu Sabari melamun di beranda. Senyap. Daun- +daun delima gemeresik ditiup angin. Kian hari angin semakin + 358 ~ Andrea Hirata + +kencang karena musim selatan hampir sempurna. Musim se- +latan yang indah. Sabari ingat, masa kecil dulu, dia, Tamat, +dan Ukun selalu menunggu musim selatan. Karena itulah +waktu mereka bermain layangan, berlari bebas di lapangan. + + Akan tetapi, Sabari sedih karena teringat bahwa mereka +tak bisa membeli layangan atau tak mampu membeli bahan- +bahan untuk membuat layangan maka mereka menunggu +putusnya layangan yang dimainkan anak-anak lain di lapang- +an bola. Mereka menunggu di padang ilalang di utara karena +angin selatan berarti angin yang bertiup dari selatan. Hanya +dengan cara itu mereka bisa bermain layangan. Dan, kini Sa- +bari semakin sedih sebab angin kencang musim selatan selalu +membuat kapal tak berlayar, akankah 7 September nanti dia +berjumpa dengan Zorro? Dada Sabari sesak. + + Dalam kesenyapan yang pedih dan keputusasaan yang +menikam itu, nun di kejauhan Sabari mendengar kucing me- +ngeong sayup-sayup sampai. Abu Meong yang sedang tidur- +tiduran di tungku terbuka matanya. Suara kucing yang semu- +la kecil dan jauh semakin jelas karena terbawa angin. Telinga +Abu Meong berdiri. Sabari memandang ke arah suara kucing +itu. Tak lama kemudian dia terkejut melihat seekor kucing +berjalan memasuki pekarangan rumah. Kucing itu menge- +ong-ngeong lagi. Abu Meong meloncat dari tungku, lalu ber- +lari menuju beranda, di ambang pintu ia terpaku melihat ku- +cing yang baru datang itu. Sabari pun berlari menyongsong +kucing itu. + Ayah ~ 359 + + “Marleniii, oh, Marleniii .... Dari mana saja kau, Boi?” + Marleni yang telah hilang selama delapan tahun akhir- +nya pulang. Betina itu mengibas-ngibaskan ekornya dengan +manja, mata lendut tanpa dosanya mendelik-delik genit. Mau +pingsan Abu Meong dibuatnya. + Merdeka + +AKHIRNYA, perlombaan maraton yang ditunggu-tunggu +itu tiba. Ramai orang di halaman MPB (Markas Pertemuan +Buruh), di sanalah garis start. Garis finis di taman balai kota, +di ibu kota kabupaten. Jarak kedua garis terpisah hampir em- +pat puluh kilometer, sesuai jarak umum perlombaan maraton +yang ditetapkan PBB. + + Lomba lari adalah olahraga paling asyik dan paling me- +rakyat. Tidak seperti perlombaan lain yang cerewet aturan, +perlombaan lari bersifat praktis, adil, sederhana, langsung, +umum, bebas, tanpa rahasia. Inilah satu-satunya lomba yang +semua pesertanya langsung masuk final. Usia, tak terbatas. +Anak yang baru bisa berjalan, taruhlah sebelas bulan, sila +ikut. Orang tua yang sudah susah berjalan, takkan dilarang +untuk mendaftar. + + Pakaian, bebas merdeka. Boleh pakai sarung, boleh pa- +kai piama, boleh pakai kostum badut, atau seragam kerja. + Ayah ~ 361 + +Seandainya mampu menanggung malu dan siap berurusan +dengan penegak hukum, mau tidak berpakaian juga boleh. + + Mau pakai sepatu atau tidak, itu urusan rumah tangga +peserta, panitia takkan ikut campur. Yang penting berlari se- +telah bunyi tembakan pistol palsu, lalu berlarilah kau sekuat +jiwa dan ragamu. Mau berlari tanpa mengikuti jalan yang di- +tentukan panitia juga boleh, asal bersedia tidak diberi hadiah +seandainya menang. Lomba lari memperingati Hari Kemer- +dekaan adalah ekspresi paling manis dari kemerdekaan itu +sendiri. + + Maka, berbondong-bondonglah keluarga bahagia atau +berpura-pura bahagia ikut lomba lari itu. Ini hiburan sambil +gerak badan. Banyak badut dan orang berkostum aneh-aneh. +Mereka adalah pelari tanpa nomor peserta, yang setelah satu +atau dua kilometer akan berubah menjadi pejalan kaki. Tak +soal, semua gembira merayakan kemerdekaan. Bendera me- +rah putih berkibar di mana-mana. Meriah. + + Tak terhitung banyaknya pelari amatir dengan misi yang +mulia, yakni menyelesaikan lomba. Mereka sadar bahwa +mustahil jadi juara, tekad mereka hanya menaklukkan garis +finis, untuk menaklukkan mereka sendiri sesungguhnya. Se- +perti Pendidikan Moral Pancasila di sekolah, lomba lari juga +pembentuk karakter. + + Bagian yang mendebarkan adalah para pelari sesungguhnya +yang memang datang ke arena untuk melipat satu sama lain, +dengan satu tujuan, dan satu tujuan saja, yaitu meraih piala + 362 ~ Andrea Hirata + +megah berkilauan, empat tingkat, berpita merah putih, men- +julang macam Menara Eiffel. Itulah lambang supremasi olah- +ragawan Melayu. Pemenangnya, tak peduli siapa dia, pemu- +lung, geladangan, atau bramacorah, akan menjadi anak emas +kebanggaan kampung. Akan menjadi atlet mewakili Kabupa- +ten Belitong ke tingkat provinsi. Bisa petantang-petenteng ke +sana kemari dengan baju training bertulisan kontingen provinsi di +punggungnya. Jika dipakai menonton organ tunggal, dijamin +gampang dapat kenalan. Di antara mereka bercokollah Dina- +mut dan Sabari, dua musuh bebuyutan, seteru lama. + + Nomor peserta tergantung di leher mereka. Cara pema- +nasannya saja mendebarkan. Tak sekadar memutar-mutar +batang leher seperti orang-orang awam itu, mereka melaku- +kan lari di tempat secara cepat. Mereka berdesak-desakan di +bibir garis start dengan wajah serius. Tak seperti pelari pe- +lengkap penghibur tadi, cengengesan saja. + + Asap persaingan mengepul tebal. Setiap tahun jumlah +pelari sesungguhnya itu selalu meningkat. Pelari muda yang tang- +guh terus bermunculan. Tahun ini ratusan jumlahnya, jumlah +terbesar yang pernah tercatat. Tak sabar mereka ingin men- +jajal tenaga dan teknik berlari dalam jarak yang menciutkan +nyali. + + Ribuan orang hiruk pikuk. Suitan dan tepuk tangan +membahana menyambut teriakan komentator lomba yang +bertengger di anjungan nan tinggi, dikelilingi speaker TOA +yang mengarah ke empat penjuru angin. Dia mengumumkan + Ayah ~ 363 + +jadwal lomba, pesan-pesan sponsor, anak kecil yang terlepas +dari orangtua, dan nama-nama besar pelari maraton kebang- +gaan kabupaten. + + Setiap kali nama disebut, orang-orang bersorak-sorai, +terutama nama para pelari yang diunggulkan. + + “Juara bertahan kita, pelari kawakan tiada banding, Di- +namuuuttt ....” Gegap gempita tepuk tangan. + + “Pelari yang telah lama hilang tak tahu rimbanya, akhir- +nya kembali, Sabariiiiii ....” Gempar, hanya satu kata itu yang +dapat melukiskannya. Lebih gempar daripada sambutan ke- +pada Dinamut tadi. + + Dinamut menatap Sabari dengan tajam. Halilintar me- +nyambar-nyambar dalam kepalanya. + + Salah seorang penonton yang bertepuk tangan paling +keras saat nama Sabari disebut adalah juru antar surat dari +pengadilan agama. + + “Bung! Bung!” panggilnya dari pinggir jalan. + Sabari menghampirinya. + “Kutunggu Bung di garis finis!” Ditunjukkannya radio +kecil, melalui siaran radio lokal dia akan mengikuti lomba itu. +“Doaku selalu bersama Bung!” + Juru antar telah melihat kerasnya latihan Sabari di ba- +wah gemblengan Toharun. Sedikit pun dia tak ragu Sabari +akan menggondol gelar juara dan meraih piala untuk anak- +nya. + “Aku orang pertama yang akan menyalami Bung di garis +finis nanti! Kutunggu Bung di sana!” + 364 ~ Andrea Hirata + + Sabari tersenyum lebar sambil mengacungkan jempol +kepada penggemar terbesarnya itu. Juru antar bergegas ke +tempat parkir. Setelah dua belas kali diengkol, mesin motor- +nya hidup. Dia memelesat ke taman balai kota. + + Semua kegaduhan di stadion didengar Zuraida melalui +radio lokal sambil menyetrika pakaian. Dibesarkannya vo- +lume radio sebab suara penyiar, live dari lokasi start lomba, +tenggelam dalam sorak-sorai penonton, jerit anak-anak, bu- +nyi mainan, teriakan panitia melalui megafon, sempritan pe- +luit polisi menertibkan penonton, dan lagu keras di sela-sela +suara komentator. Zurai membayangkan betapa ramainya +suasana. Dia ingin ke sana, tetapi banyak pakaian yang harus +disetrika dan piring kotor yang harus dicuci. + + Izmi pun ingin ke lokasi start, tetapi banyak pesanan ja- +hitan yang harus diselesaikan. Dia juga mendengar semuanya +melalui radio yang diletakkan di atas mesin jahit. Waktu ko- +mentator menyebut nama Sabari, dia membekapkan tangan- +nya di dada dan dia terkejut mendengar bunyi letupan pistol. + + Berhamburanlah ribuan pelari, persis pedagang kaki +lima diuber polisi pamong praja. Penonton bersorak gegap +gempita sambil mengibarkan bendera merah putih. Para pe- +lari berebut mengambil posisi terdepan. Jumlah mereka yang +banyak membuat mereka beradu siku. + + Pada saat bersamaan, nun jauh di Medan, 1.200 kilome- +ter terpisah dari Pulau Belitong, JonPijareli dan band-nya siap +merekam lagu andalan mereka, “Aku Berlari”. Delapan be- + Ayah ~ 365 + +las tahun mereka telah menunggu kesempatan itu. Kris Dep +menghajar drum dengan hantaman 4/4 dan tempo paling ti- +dak 200 beat per minute, satu entakan rock masa kini yang cepat +dan keras minta ampun. Dengan satu gerakan tangkas Jon +menyambar mik lalu melolong aku berlariiiiii, aku berlariii, aku +berlariiiiii .... Suaranya lantang mengiringi ribuan pelari yang +berhamburan di Belitong. + + Sesuai arahan Toharun, Sabari harus menahan diri. +Tidak perlu terlalu bernafsu seperti rombongan besar para +pelari kemarin sore yang tak berpengalaman itu. Ini lari jarak +jauh, Bung! + + “Ingat, Ri!” pesan Toharun. “Jarak tempuh empat puluh +kilometer. Sepuluh kilometer pertama, cukuplah kau berada +di rombongan ketiga dari terdepan. Sepuluh kilometer kedua, +masuk rombongan kedua. Sepuluh kilometer ketiga, masuk +rombongan pertama. Berarti sisa tujuh setengah kilometer. +Dua setengah kilometer berikutnya kau paling tidak di urut- +an kedelapan dalam rombongan pertama itu. Satu koma dua +kilometer berikutnya kau harus menduduki urutan keenam. +Satu koma empat kilometer selanjutnya, urutan keempat. +Sisanya ....” Toharun pusing sendiri. “Pandai-pandai kaulah +membaginya, yang penting kau juara!” + + “Baiklah, Run.” + Sabari berlari dengan konsisten menjaga petuah pela- +tih. Kendaraan polisi pengawal lomba sesekali melolongkan +sirene. Sepanjang jalan orang-orang bertepuk tangan sambil + 366 ~ Andrea Hirata + +meneriakkan nama Sabari. Dia adalah pelari jempolan yang +baru come back dan masih punya penggemar sisa kejayaan +masa lampau. Sabari tak membalas sapa para penggemar- +nya, tidak pula tersenyum sebab kata Toharun tersenyum da- +pat memboroskan tenaga secara percuma. Dielu-elukan pe- +nonton, langkah Sabari menjadi ringan. Dia berlari dengan +semangat Spartan. Ah, seandainya Zorro ada di sini! + + Pertarungan di rombongan ketiga sangat ketat karena +Dinamut ada pula di sana. Sabari terus-menerus diintainya +dengan dada penuh kesumat. Bulat tekadnya untuk memper- +malukan Sabari sore ini dan mengembalikan harga dirinya +yang telah porak-poranda selama bertahun-tahun. + + Toharun bersepeda mengikuti Sabari dari sisi jalan. Se- +sekali dia memberi instruksi kepada anak didiknya. + + “Satu napas setiap empat langkah, Boi!” + Tak tahu dari mana Toharun mendapat teori aneh itu. +Teori itu gampang diucapkan, tetapi amat susah dilaksana- +kan. Risikonya tinggi. Jika salah menghitungnya, nyawa bisa +melayang. Sabari berusaha menaati perintah gurunya. + Akibatnya memang manjur, sepuluh kilometer pertama, +Sabari unggul di rombongan ketiga, meski di sana bercokol +seluruh pelari kelas satu, termasuk Dinamut. Masuk sepuluh +kilometer kedua, pelari tak berpengalaman yang tadi terlalu +bernafsu mulai rontok dan para pelari pelengkap penghibur +sudah tak tampak batang hidungnya. + Penyiar radio yang mengikuti pelari dan memberi lapor- +an pandangan mata dari bak mobil pikap berseru-seru me- + Ayah ~ 367 + +lihat para pelari di rombongan kedua melakukan semacam +sprint, yakni berlari cepat dalam jarak pendek untuk meraih +posisi terdepan. Yang membuat penyiar tegang adalah dalam +sprint itu Dinamut bersikut-sikutan dengan Sabari. Satu per- +saingan ketat penuh bara api. Penyiar berteriak lagi karena +Sabari berhasil memenangi sprint itu dan langsung memim- +pin rombongan kedua. + + Zurai melompat dari tempat duduk. Izmi mengangkat +kedua tangannya tinggi-tinggi, begitu pula juru antar yang +tengah menunggu Sabari di garis finis. Tak hanya mereka, +orang-orang yang mendengar radio di rumah-rumah, di pe- +rahu-perahu sambil memancing, di bengkel-bengkel perusa- +haan timah, orang-orang yang nongkrong di muka rumah +dan perempatan, manusia tak tahu adat yang lagi pacaran +di seberang Bendungan Pice dan membawa radio, para sipir +penjara, pasien, dokter dan perawat di rumah sakit, tukang +sortir di kantor pos, satpam-satpam, pedagang makanan pa- +kai gerobak, dan terutama orang-orang di warung-warung +kopi, bersorak gegap gempita untuk Sabari. Yang menjago- +kan Dinamut menutup wajah mereka dengan tangan. + + Sabari semakin mantap. Dia telah menemukan irama +langkahnya, mencapai akselerasinya dan berlari laksana ki- +jang, mirip lirik lagu yang dilantakkan JonPijareli nun di Me- +dan sana, dalam gemuruh distorsi gitar rock, dentaman drum +yang bertalu-talu, dan tendangan bas bertubi-tubi. Boros +Akinmusire berjingkrak-jingkrak, Obet Glasper dan JonPija- +reli serentak bersorak. + 368 ~ Andrea Hirata + + Bagaikan seekor kijang + Aku berlari di tengah padang + Tak ada yang dapat mengadang + Halangan akan kuterjang + Aku berlari kencang + Berlari kencang sehingga aku terbang + Aku berlari kencang, aku terbang + + Dinamut panas hati, panas kepala. Digenjotnya tunjang- +an kaki dan melejitlah dia melewati Sabari. Para pendukung- +nya di warung-warung kopi bersorak macam orang dirasuki +setan. Giliran pendukung Sabari tersenyum pahit. Tentu tokoh +kita tidak membiarkan begitu saja perbuatan Dinamut yang +kurang ajar itu. Dia juga menggenjot tungkainya, tetapi seperti +diungkapkan dengan agak histeris oleh penyiar radio, Sabari +gagal mendapatkan momentum dan tersuruk ke belakang. + + Sejurus kemudian Sabari bingung melihat bayangan- +bayangan berkelebat dengan cepat di sisi kiri-kanannya. De- +tik berikutnya dia mendapati dirinya telah dilewati oleh lima, +bahkan mungkin sepuluh pelari. Zuraida, Izmi, dan juru an- +tar tercengang dekat radio. + + Begitu cepat semuanya berubah, tahu-tahu penyiar me- +ngabarkan bahwa Sabari telah berada di posisi buntut rom- +bongan kedua. Toharun berteriak-teriak tak keruan. Sabari +mencoba menambah akselerasi, tetapi gagal. Dilihatnya Di- +namut dan pelari lainnya telah jauh di depan. + Ayah ~ 369 + + Selanjutnya, tak terdengar lagi penyiar radio menyebut +nama Sabari. Nama Dinamut dan pelari lain menguar di ra- +dio. Pendukung Dinamut berjingkrak-jingkrak. Zuraida ter- +henyak di tempat duduk. Izmi tersandar pasrah. Juru antar +mengecilkan volume radio dan mengantonginya. Para peng- +gemar Sabari di berbagai kantor dan tempat tadi termangu. +Mereka menunggu penyiar menyebut lagi nama Sabari, hal +itu tak pernah terjadi. + + Sabari sadar bahwa persaingan yang amat ketat menga- +kibatkan lajunya tak seimbang sejak start. Dia terlalu cepat di +awal dan bahwa strateginya hanya cocok untuk lari berjarak +paling jauh dua puluh kilometer. Dan, bahwa maraton disedi- +akan nasib untuk mereka yang muda dan punya nyawa berla- +pis-lapis. Dan, bahwa dunia sudah banyak berubah. Dia terla- +lu terfokus kepada Dinamut, padahal pelari muda jauh lebih +dahsyat. Gizi mereka lebih baik, dan bahwa mereka yang di- +besarkan dengan diminumi air tajin saja, tidaklah akan banyak +peluangnya dalam dunia yang edan ini. Masih tersisa belasan +kilometer, Sabari tak yakin dapat menyelesaikannya. + + Satu per satu pelari mengundurkan diri. Mereka ming- +gir, lalu terbaring lelah di pinggir jalan. Maraton adalah olah- +raga yang memerlukan stamina luar biasa dan tekad baja pu- +tih. Hanya atlet-atlet bermental besi yang mampu menggapai +finis. Matahari sore yang masih panas mencabik-cabik para +pelari. Bayangan kemenangan dan piala menguap dari kepa- +la Sabari. + 370 ~ Andrea Hirata + + Semakin banyak pelari berguguran, termasuk Dinamut. +Dia juga tak sanggup bersaing dengan para pelari muda. Na- +mun, Sabari tetap berlari meski tak secepat tadi. Napasnya +berat. Kakinya sakit karena tadi terlalu dipacu. Mereka yang +melihatnya menduga dia akan segera berhenti, tetapi aneh, +dia tak menyerah. Akhirnya, Sabari tak melihat lagi pelari di +depannya. Para penonton di pinggir jalan juga semakin sedi- +kit. + + “Sudahlah, Boi, berhenti saja!” perintah Toharun dari +atas sepeda. + + Sabari membelot dari perintah pelatihnya itu. Dia tetap +berlari, sendirian dan menyedihkan. + + Suasana amat berbeda di taman balai kota. Ribuan pe- +nonton bersorak-sorai menyambut enam pelari terakhir yang +berbelok anggun di belokan sebelum memasuki jalur menuju +gerbang taman balai kota. Juru antar sedih karena tak melihat +Sabari di antara enam pelari calon juara itu. + + Suara gaduh mencapai puncaknya saat seorang pelari +yang bertubuh tinggi, atletis, dan masih sangat muda mene- +rabas pita di garis finis. Dialah si kijang itu. Diangkatnya piala +empat tingkat itu tinggi-tinggi, berkilauan. + + Secepat orang-orang berkumpul di taman balai kota un- +tuk menyaksikan para juara, secepat itu pula mereka menghi- +lang. Dalam sekejap taman balai kota menjadi sepi. + + Juru antar tetap menunggu. Matanya lekat menatap be- +lokan tadi. Masih diharapnya Sabari berbelok di situ. Meski +jauh tertinggal, Sabari akan disambutnya bak seorang juara. + Ayah ~ 371 + +Akan disalaminya dengan kuat sesuai janjinya di garis start +tadi. Namun, hampir satu jam dia menunggu, Sabari tak kun- +jung muncul. Belokan itu kosong melompong seperti perasa- +an juru antar. + + Dengan lesu juru antar berjalan ke tempat parkir. Di- +engkolnya motor bututnya. Karena sudah kebiasaan, dia se- +ring bertaruh dengan motornya sendiri, berapa kali motor- +nya diengkol baru hidup. Setelah diengkol delapan belas kali, +motor tua itu hidup. Dia sedih bukan hanya karena Sabari +tak mampu mencapai finis, melainkan juga karena kalah ber- +taruh dengan motornya. Tadi dia memasang angka delapan +kali engkol, motornya bilang di atas itu. Motor menang. + + Juru antar pulang melewati Jalan Sriwijaya, Tanjong +Pandan. Tak ada lagi harapan untuk Sabari, tetapi dia tak +mematikan radio kecil di saku bajunya. Dia berharap ada ka- +bar lagi soal Sabari meski hal itu mustahil sebab radio pun tak +lagi menyiarkan lomba itu. Yang disiarkan kini adalah prog­ +ram rohani Islam, anak-anak kecil mengaji Al-Quran, acara +rutin menjelang magrib. + + Juru antar melewati jajaran kantor pemerintah. Kantor +DPRD dan kantor bupati, teringat akan Sabari yang bersusah +payah latihan demi mempersembahkan piala untuk anaknya, +lalu dia teringat akan ayahnya sendiri. + + Dulu ayahnya pernah bekerja di kantor semacam itu +dan menjadi orang yang sangat tak disukai karena tak pernah +mau diajak curang. Ayahnya yang jujur malah sering kena + 372 ~ Andrea Hirata + +fitnah. Ayahnya mengundurkan diri, lalu bekerja sebagai tu- +kang reparasi radio dan televisi dari rumah ke rumah. Begitu +miskin sehingga tak mampu punya kios sendiri. Ayahnya su- +dah meninggal. + + Motor juru antar meluncur pelan, sesekali terbatuk- +batuk. Anak kecil mengaji terdengar di radio di sakunya. Dia +teringat selalu mencium tangan ayahnya usai diajari ayahnya +mengaji. Dia rindu ingin mencium tangan ayahnya lagi. + + Tanpa diketahui juru antar, nun belasan kilometer dari +garis finis, Sabari masih terus berlari. + + “Berhenti saja, Ri!” perintah Toharun. “Tak ada guna- +nya lagi!” + + “Oi, mau ke mana kau, Boi? Lomba sudah selesai. Pa- +nitianya saja sudah pulang!” teriak penonton di pinggir jalan, +disambut gelak tawa penonton lainnya. + + “Mengapa kau terus berlari macam orang gila, Ri?” te- +riak orang lainnya disambut gelak tawa lagi. + + Akan tetapi, meski berlari semakin pelan sebab kakinya +semakin sakit, meski diejek-ejek, Sabari menolak untuk ber- +henti. Karena, dia teringat akan anaknya. Yang tak tahan die- +jek malah Toharun. Dibelokkannya sepeda, minggat. + + Matahari masih membara. Sabari memasuki jalan raya +yang panjang seakan tak berujung. Fatamorgana menari-nari +di atas aspal yang panas, mengejek dan mematahkan se- +mangat Sabari untuk berhenti. Sabari tetap berlari. Sepatu +murah yang dipakainya membuat kakinya semakin sakit. Di- +bukanya sepatu, dilemparkannya ke pinggir jalan. Dia tahu + Ayah ~ 373 + +tindakan itu bisa fatal sebab untuk mencapai finis paling tidak +dia masih harus berlari lima belas kilometer. Sabari tak punya +pilihan lain, sepatu itu menggigit kakinya setiap kali dia me- +langkah. + + Kendaraan berlalu-lalang di dekatnya. Ditinggalkan +pelatihnya, ditinggalkan siapa saja, Sabari berlari sendiri. +Orang-orang di pinggir jalan heran melihat seorang pelari +masih tetap melanjutkan lomba. Nomor peserta tergantung di +lehernya. Pastilah dia bukan sembarang pelari. Mereka yang +tak mengenal Sabari bertanya-tanya, siapakah pelari itu? + + Matahari mengendap. Malam menjelang. Telapak kaki +Sabari melepuh, lalu berdarah. Bercak-bercak darah terting- +gal di aspal. Meski kakinya perih dan napasnya tersengal- +sengal, meski sampai finis malam nanti, Sabari bertekad un- +tuk terus berlari karena dia teringat akan anaknya. Dia tak +mau menyerah demi Zorro. Seorang ayah, tak boleh menyerah demi +anaknya, begitu kata hati Sabari. + + Akhirnya, malam turun. Sabari berlari di antara kenda- +raan yang berlalu-lalang. Bayangan Zorro berkelebat-kelebat. +Bayangan saat dia bercerita meninabobokan anaknya, saat +anaknya kali pertama memanggilnya Aya dan saat anaknya +diambil darinya. + + Berjam-jam Sabari berlari tertatih-tatih karena me- +nahan perih kakinya, akhirnya nun jauh di sana dilihatnya +kerlap-kerlip lampu gerbang Kota Tanjong Pandan. Orang- +orang di pinggir jalan semakin banyak memperhatikannya. + 374 ~ Andrea Hirata + + Usai membantu anaknya mengerjakan PR, juru antar +kembali menghidupkan radio. Disimaknya berita tentang tin- +dak pidana korupsi, tiba-tiba penyiar radio lokal memotong +siaran dengan semacam breaking news, yaitu soal seorang pe- +lari maraton yang terus melanjutkan berlari, menolak untuk +menyerah meski lomba sudah selesai dan para juara sudah +ditentukan. Penyiar menyebut nomor peserta pelari itu. Juru +antar terpana. + + “Bung Sabari!” Tanpa ambil tempo, dia bergegas me- +nyambar kunci motor bebeknya. Berita yang sama juga di­ +dengar oleh Izmi. + + Juru antar berdoa agar motornya tidak rewel. Doanya +terkabul, sekali engkol motornya langsung melengking. Dia +ngebut macam orang dikejar iblis. Kecepatannya sangat men- +cemaskan, 25 kilometer per jam. + + Izmi terpana di depan radio. Betapa dia kagum akan +semangat Sabari. Lalu, dia teringat pernah melihat di tele- +visi para juara maraton diselimuti bendera negara. Baginya +Sabari adalah juara. Bergegas dia mengambil bendera, lalu +disambarnya sepeda. + + Di taman balai kota, orang-orang ramai berkumpul ka- +rena kabar tentang pelari yang bertekad menaklukkan garis +finis itu telah menyebar. Radio lokal kembali melakukan si- +aran pandangan mata. Suasana tak kalah meriah dari saat +menunggu juara tadi sore. + Ayah ~ 375 + + Juru antar kembali ke posisi tadi sore tempat dia me- +nunggu Sabari. Matanya tak lepas menatap belokan terakhir +itu dan kali ini dia takkan kecewa. Tak lama kemudian terde- +ngar gemuruh tepuk tangan dan sorak-sorai, lalu muncullah +Sabari berlari terseok-seok di belokan itu. Orang-orang ber- +lari mengikutinya di belakang. Juru antar terpaku melihat Sa- +bari berlari dengan menyeret kaki kirinya yang berdarah, wa- +jahnya pucat, keadaannya compang-camping. Tepuk tangan +tak henti-henti untuk Sabari. Izmi berlari mendekati Sabari +dan menyelimutinya dengan bendera merah putih. Sabari +meliriknya. Dia lelah dan kesakitan, tetapi dia tersenyum. + + Menjelang garis finis, Sabari berlari semakin cepat sam- +bil mengangkat bendera di atas kepalanya. Bendera merah +putih berkibar-kibar. Orang-orang berteriak menyambutnya +Merdeka! Merdeka! + Biru + +JIKA ada orang yang tak menjadi juara, tetapi lebih terkenal +daripada sang juara, orang itu adalah Sabari. Di mana-mana +orang-orang menyalaminya, bahkan seteru lamanya, Dina- +mut, menyalaminya dengan erat. Di warung-warung kopi tak +jeda-jeda Toharun membanggakan Sabari. + + “Juara sejati, anak didikku itu. Juara sejati!” katanya. + Pamor Sabari sebagai kuli serabutan melambung sedi- +kit. Dia tak ambil pusing soal itu. Fokusnya tetap pada ka- +pal kayu dari Pelabuhan Dabo yang akan membawa Zorro +pulang. Semakin dekat dengan Hari H, semakin tak keruan +perasaannya. + Tak lagi memusingkan pegawai kantor syahbandar kare- +na ditanyai pertanyaan yang sama berkali-kali, tiga hari men- +jelang jadwal merapatnya kapal kayu itu, Sabari tak lagi ber- +tanya. Sebab, dia tak sanggup mendengar kabar yang akan +mengecilkan hatinya. + Ayah ~ 377 + + Selama tiga hari itu dia susah tidur. Mau makan tak la- +par, mau minum tak haus. Mau tak makan, lapar, mau tak mi- +num, haus. Mau berjalan, tetapi juga mau duduk saja. Mau +duduk, tetapi mau berjalan. Lelah berbaring, tetapi hanya +bisa tergeletak di atas dipan. + + Adakalanya Sabari merasa Zorro sudah berada di dalam +kamar, lalu dia membaca kisah tentang keluarga langit dan +puisi merayu awan. Begitu dilihatnya tempat tidur itu kosong, +dia menutup wajahnya dengan tangan. Sungguh repot kea- +daannya sehingga para tetangga cemas. Dugaan mereka, jika +kapal itu tak jadi merapat, Sabari mungkin akan lebih gila +daripada orang yang paling gila di dunia ini. + + Sabtu yang mendebarkan, yang seakan telah ditunggu +Sabari seumur hidupnya itu akhirnya tiba. Sabari bangun +lebih pagi daripada makhluk mana pun sebab semalam dia +memang tak bisa tidur. + + Pagi-pagi sekali juru antar datang ke rumah Sabari dan +membawa hadiah yang istimewa, yaitu sebuah piala kecil. Pi- +ala itu dibelinya di pasar. + + “Terima kasih banyak, Pak,” kata Sabari. + “Hanya piala kecil, Bung, tapi bagiku Bung adalah jua- +ra. Bung adalah ayah paling hebat yang pernah kukenal da- +lam hidupku.” + Kapal itu baru akan merapat nanti sore, tetapi sejak +pagi Sabari telah bersiap-siap. Disetrikanya baju dan celana +terbaiknya, disemirnya sepatu. Boncengan dari rotan sudah + 378 ~ Andrea Hirata + +disematkan di setang sepeda. Dulu untuk membonceng Zor- +ro, kini untuk membonceng Abu Meong yang juga akan ikut +menjemput Zorro. Balon-balon gas, yang berwarna sama de- +ngan balon gas yang dipegang Zorro delapan tahun yang lalu, +saat dia dibawa Lena dari taman balai kota, diikat di setang +sepeda. Terakhir, dikalungkannya dua medali penghargaan +karyawan terbaik dari pabrik Markoni. + + Tengah hari, Sabari berangkat ke dermaga dengan me- +nyandang tas plastik berisi piala dan berkalung dua medali. +Abu Meong duduk di keranjang rotan. Tak berhenti menge- +ong karena dia memang paling suka kalau diajak jalan-jalan. +Balon-balon gas berkibar-kibar. Meriah. + + Udara cerah, angin bertiup pelan. Jantung Sabari ber- +dentum setiap kali dia mengayuh sepeda. Tak pernah dia +merasa segugup itu. Dilintasinya padang ilalang yang tengah +berbunga, bak buih di tengah samudra. Namun, nun di langit +barat sana awan gelap mengapung rendah. + + Pegawai kantor syahbandar mengatakan bahwa bisa +saja kapal kayu itu tak merapat jika cuaca buruk. Sabari ce- +mas karena di tengah suhu yang panas itu sesekali berembus +angin yang dingin, berasal dari barat, satu tanda hujan lebat +akan turun, boleh jadi menjadi badai. + + Sabari mengucap seribu doa, dia sangat ingin berjum- +pa dengan anaknya. Awan di barat semakin gelap, semakin +rendah. Dia ingat puisi merayu awan yang pernah diajarkan + Ayah ~ 379 + +ayahnya, disenandungkannya puisi itu pelan-pelan. Ajaib, +perlahan-lahan awan gelap beranjak ke selatan. + + Sabari sampai di pelabuhan. Masih pukul 3.00 sore dan +masih sangat panas. Tegak dia berdiri di samping sepedanya. +Piala telah dikeluarkan dari dalam tas dan dipegangnya de- +ngan gagah. Dia telah gagal mempersembahkan piala besar +juara lomba maraton untuk anaknya, piala kecil itu dianggap- +nya cukup mewakili perasaannya. Dua medali besar, berkilau- +an, tergantung di leher. Balon-balon gas yang terikat di setang +sepeda, berwarna-warni, menyundul-nyundul angin dengan +lucu. Sabari hanya sendiri, sebab, kalaupun jadi, kapal kayu +itu baru akan merapat pukul 5.00 sore nanti. + + Sabari memandang ke arah semenanjung karena jika +ada kapal datang pasti langsung tampak di semenanjung itu. +Keringatnya bercucuran, bajunya basah, dia tak peduli. Dia +tak ingin berteduh. Dia akan berdiri menunggu sampai kapal +itu tiba. Abu Meong juga tetap duduk di boncengan rotan, +memandang ke semenanjung seakan tahu tuannya sedang +menunggu kapal itu. + + Satu jam lebih Sabari menunggu. Dia cemas karena truk +yang biasa datang ke dermaga untuk mengangkut kayu tak +juga muncul. Dia membujuk diri dengan mengatakan kepa- +da dirinya sendiri bahwa mungkin kapal itu tidak membawa +kayu dari Dabo, tetapi akan membawa kayu dari Belitong. +Sehingga, truk-truk itu tak datang. Walau begitu, dia mulai + 380 ~ Andrea Hirata + +dihinggapi perasaan pahit. Kemudian, datanglah beberapa +orang yang sepertinya juga menunggu kapal kayu itu. + + Semakin sore makin banyak orang ke dermaga. Diam- +diam juru antar juga datang. Diparkirnya motor dekat para +tukang ojek di pojok sana. Dari jauh dilihatnya Sabari berdiri +di samping sepeda sambil memegang piala. Dia telah mende- +ngar dari Sabari bahwa dia cemas kapal itu tak merapat. + + Hampir dua jam Sabari berdiri tegak, tak ada tanda-tan- +da kapal akan tiba. Dia lelah karena gugup berkepanjangan, +tetapi dia akan terus menunggu meski sampai malam nanti. +Juru antar sedih melihat harapan besar Sabari yang mungkin +akan terempas lagi sore ini. Dia khawatir membayangkan apa +yang akan terjadi pada lelaki malang itu jika tak berjumpa +dengan anaknya. + + Keadaan semakin menyedihkan karena satu per satu +orang mulai pulang. Juru antar mendengar obrolan yang ter- +lontar dari mereka bahwa kapal itu takkan datang. Dengan +hampa ditatapnya orang-orang yang berjalan meninggalkan +dermaga. Namun, tiba-tiba dia terkejut mendengar sirene +kapal. Orang-orang yang beranjak pulang itu berbalik dan +berlarian kembali ke dermaga. Juru antar melihat wajah Sa- +bari berdiri dengan tegang, tubuhnya tegak macam tentara +bersiap. + + Dada Sabari berdegup melihat sebuah kapal berbelok +di semenanjung sana. Dia terpana sehingga tak menyadari +kapal itu memasuki pelabuhan dan tahu-tahu sudah dekat se- + Ayah ~ 381 + +kali dengannya. Dia telah menunggu semua ini terjadi selama +delapan tahun dan ketika semuanya benar-benar terjadi di +depannya, tubuhnya gemetar. + + Anak buah kapal melemparkan tambang yang disambut +seorang kuli pelabuhan. Tambang diikatkan di tambatan ka- +pal. Pintu lambung kapal terbuka. Kuli pelabuhan tadi men- +julurkan keping-keping papan yang akan menjadi titian para +penumpang dari kapal ke dermaga. + + Tak lepas Sabari menatap penumpang yang keluar satu +per satu melalui pintu itu. Umumnya mereka orang-orang de- +wasa, lelaki dan perempuan. Tak lama kemudian dilihatnya +seorang anak melangkah ke luar. Dia terpana karena lang- +sung mengenali kemeja yang dikenakan anak itu. Sabari me- +rasa kakinya tak menginjak bumi. + + Amiru pun langsung mengenali laki-laki yang berdiri di +samping sepeda sambil memegang piala itu. Dia berlari me- +nyongsongnya, Aya! Aya! panggilnya. + + Zorro, Zorro! panggil Sabari, tetapi tak ada suara yang da- +pat keluar dari mulutnya. + + Amiru memeluk ayahnya erat-erat. Dia mencium bau +yang selalu menjadi misteri baginya, bau yang selalu menya- +yangi dan melindunginya. Kini dia tahu, bau itu adalah bau +ayahnya. Dipeluknya ayahnya semakin erat. Air mata anak +dan ayah itu berlinang-linang. + + Juru antar terharu melihat Sabari memeluk anaknya se- +akan tak mau melepasnya lagi. Dia tersenyum melihat Sabari + 382 ~ Andrea Hirata + +berusaha mengangkat anaknya tinggi-tinggi, tetapi anaknya +sudah besar sehingga dia terhuyung-huyung. Sabari menye- +rahkan piala kecil dan balon gas kepada Amiru. Abu Meong +berputar-putar mengelilingi mereka. Sesekali terlontar sua- +ra aya, aya dan kucing mengeong. Tamat dan Ukun meniti +jembatan papan tadi dengan langkah penuh kemenangan. +Bergantian mereka memeluk Sabari. Pada masing-masing ka- +wannya itu, Sabari mengalungkan medali keemasan. + + Juru antar bersyukur semuanya telah berlangsung de- +ngan baik. Dia kembali ke motornya. Diengkolnya motor itu +berkali-kali, gagal. Dia ingin memeriksa busi, tetapi terkejut +melihat tangannya telah berubah menjadi biru. Sepeda mo- +tornya juga. Dia menoleh sekeliling dan terpana karena se- +mua hal: sungai, semenanjung, dermaga, bangunan, kapal, +perahu, bakau, sepeda, semuanya berwarna biru. Orang- +orang menunjuk ke atas. Juru antar takjub melihat seluruh +langit telah berubah menjadi biru. + Janji Lama + +SALAH satu hal pertama yang dilakukan Sabari adalah +mengajak Amiru ke Restoran Modern. Dipesannya makanan +dari menu yang dulu diceritakannya untuk pengantar tidur +anaknya itu, nasi goreng luar negeri terutama. Beban berat +terlepas dari pundaknya karena janji lamanya kepada Zorro +telah tunai. + + Marlena mengizinkan Amiru tinggal bersama Sabari. +Setiap waktu Sabari mensyukuri hal itu. Ayah dan anak itu +langsung tak terpisahkan seperti dulu. Mereka pun kembali +ke kebiasaan lama, Sabari bercerita dan berpuisi menjelang +Zorro tidur. Bedanya, sekarang Amiru juga bisa bercerita dan +berpuisi untuk ayahnya. + + Terharu Sabari mendengar anaknya menyitir puisi-puisi +karyanya sendiri. Seperti ayahnya, Amiru pun punya buku +puisinya sendiri. Terkejut Sabari melihat beruntai-untai puisi +yang telah ditulis Zorro sejak kelas dua SD. Si kecil itu amat + 384 ~ Andrea Hirata + +terampil dengan kata-kata, lebih terampil daripada dirinya +sendiri. Jika dia berkata, matanya bersinar memancarkan ke- +cerdasan berbahasa. Setiap malam dibacanya puisi tentang +tempat-tempat yang pernah disinggahinya, guru-guru dan +kawan-kawan yang pernah dikenalnya. + + Sabari terlempar ke tempat-tempat yang jauh: Pang- +kal Pinang, Toboali, Bengkulu, Medan, Batanghari, Siak, +Rengat, Bengkalis, Pariaman, Indragiri Hulu, Bagan Siapi- +api, Tanjung Pinang, Singkep, Dabo. Takjub dia akan per- +jalanan anaknya dan terpukau akan puisi-puisi perjalanan- +nya. Kalimat berhias ditaburkan Zorro, dilekak-lekuk setiap +kata tumbuhlah sayap, lalu beterbangan seantero rumah bak +kupu-kupu. + + Sebuah puisi telah ditulis Zorro untuk ayahnya. Ayah, ju- +dul puisi itu. + + Kulalui sungai yang berliku + Jalan panjang sejauh pandang + Debur ombak yang menerjang + Kukejar bayangan sayap elang + Di situlah kutemukan jejak-jejak untuk pulang + Ayahku, kini aku telah datang + Ayahku, lihatlah, aku sudah pulang + + Sepanjang Amiru berpuisi, Sabari terharu karena bang- +ga melihat betapa besar anaknya melihat dirinya sendiri da- + Ayah ~ 385 + +lam diri Sabari, dan betapa besar dia melihat mendiang ayah- +nya di dalam diri Zorro. Sabari rindu berbalas puisi dengan +ayahnya. Namun, kini dia senang karena dapat pula berbalas +puisi dengan anaknya. + + Kebiasaan lama lainnya yang mereka ulangi adalah se- +tiap Sabtu sore Sabari membonceng Amiru naik sepeda ke +taman balai kota. Kebiasaan sederhana yang amat indah. + + Persis kebiasaan Sabari dan mendiang ayahnya. Sabari +dan Amiru pantang diberi umpan. Sepatah kalimat puisi +ayah, langsung disambar anaknya, begitu pun sebaliknya. + + Jalan menanjak, Amiru ingin turun karena ayahnya ke- +sulitan memboncengnya. Dia bukanlah anak kecil lagi. + + “Jangan, Nak, jangan turun, Ayah sanggup.” + Sepeda terseok-seok, tambah berat lantaran melawan +angin. + “Sudahlah, Ayah, aku turun saja.” + “Jangan, Boi, sebentar lagi.” Keringat Sabari bercucur- +an, tetapi dia berhasil menaklukkan tanjakan. Sepeda melun- +cur turun tanpa dikayuh. Amiru memeluk pinggang ayahnya. +Sabari merasa seperti dipeluk awan. Dadanya mengembang, +senyumnya berbunga-bunga. Sepeda melewati jembatan, Sa- +bari memandangi permukaan sungai yang tenang. + Dalam diam, riakmu tertawan, katanya pelan. + Amiru tersenyum. Karena bahagia yang tak dapat kau sembu- +nyikan, balas Amiru. + Sabari menyambung: + 386 ~ Andrea Hirata + + Engkaukah itu sungai? + Yang berbicara kepadaku + Bersekutu dengan waktu + Membuatku malu? + + Amiru menyambut: + + Aku adalah sungai + Aku adalah anak belibis + Aku adalah awan-awan sisik Januari + Tak ada, tak ada + Meski kau tenggelamkan aku di dasarmu + Tak ada bahagia yang dapat kau sembunyikan dariku + Sweet + +PULANG dari petualangan epik mereka di Sumatra, Tamat +kembali menjadi tukang kipas di warung satai kambing muda +Afrika. Ukun juga kembali menjadi tukang gulung dinamo, +dan Sabari kembali menjadi kuli serabutan yang penuh integ­ +ritas di Pasar Belantik. + + Akhirnya, Tamat dan Ukun menemukan jodoh setelah +berkenalan dengan perempuan di pantai barat pada Februari. +Mereka sering menghabiskan waktu di warung kopi Solider +dan selalu dengan seru berkisah tentang perjalanan mereka +menjelajahi Sumatra, pengalaman mereka melihat Masjid +Baiturachman di Banda Aceh, pertemuan yang amat menge- +sankan dengan para sahabat pena, penemuan kampung unik +yang penduduknya penggemar Lady Diana dan terutama +persahabatan dengan JonPijareli, gitaris top dari Medan. Je- +maah pendengar tetapnya adalah juru antar surat pengadilan +agama dan Toharun, yang meski tua, tetap gagah seperti Ar- + 388 ~ Andrea Hirata + +nold Swasanaseger dalam film Terminator III: Kebangkitan Me- +sin-Mesin. + + Amiru segera menjadi cucu kesayangan Markoni dan +istrinya. Kepada orang-orang, Markoni selalu berkata bahwa +kecerdasan Amiru berasal mula darinya. Amiru hampir tamat +SMP ketika datang sepucuk surat yang aneh untuk Sabari. + + Sabari tak kenal pengirim surat itu, tak kenal prangko- +nya, amplopnya juga lain dari yang biasa dilihatnya dan ada +bahasa Inggris-nya. Surat itu mungkin berasal dari luar nege- +ri. Diserahkannya surat itu kepada Amiru, biarlah anaknya +yang mengerti bahasa Inggris membacanya. Amiru menga- +mati amplop surat. + + From: Larissa Sweet Wuruninga + 374 Hodgson Cove, Darwin + Northtern Territory + Australia + + To: Indonesia Lonely Man, Sabari + SD Inpres (President instruction school basic) + Belantik Village, Belitong Island + Indonesia + + Amiru menatap ayahnya. + “Apakah Ayah punya sahabat pena di Australia?” + Sabari menggeleng. + Ayah ~ 389 + + Sepanjang sore, dengan bantuan kamus bahasa Inggris +yang dulu dibelikan ibunya di Tanjung Pinang, Amiru meng- +artikan kata demi kata dalam surat itu. Dia terpana membaca +kisah tentang seorang ayah yang mencari anaknya dengan +mengirim pesan melalui seekor penyu. Setelah tujuh tahun +penyu itu mengelana samudra, akhirnya nun jauh di Austra- +lia seseorang menemukannya. Dia pun terperangah memba- +ca bahwa ayah Larissa percaya bahwa Zorro dan ibunya ada +di Darwin. Oleh karena itu, dia mencari Zorro dan ibunya di +berbagai kota di wilayah utara Australia. Namun, Zorro dan +Lena tak ditemukan di sana, untuk itu ayahnya minta maaf +dan berharap semoga Sabari dan Zorro dapat bertemu lagi. +Di dalam surat itu juga ada kalimat-kalimat yang digarisba- +wahi yaitu pertanyaan dari Larissa sendiri, apakah benar ada +orang bernama Sabari, Marlena, dan Zorro. + + Amiru bertanya kepada ayahnya soal penyu itu. Sabari +membenarkan semuanya. Bahwa memang dia yang mengi- +rim pesan itu. Mereka memutuskan untuk membalas surat. +Amiru menulis surat semampunya dalam bahasa Inggris. Su- +rat dikirim disertai foto Amiru dan ayahnya. + +Dua bulan kemudian, Larissa terkejut menerima surat dari +Indonesia. Matanya terbelalak melihat nama pengirim surat +itu. Tiga hari kemudian dia mengundang makan malam selu- + 390 ~ Andrea Hirata + +ruh anggota keluarga dan kawan-kawan dekat ayahnya. Ang- +gota keluarga berdatangan dari seputar Darwin. + + Usai makan malam, di tengah keriuhan, Larissa menge- +tuk gelas dengan sendok, meminta suasana tenang. Dia berdi- +ri dan mengatakan bahwa dia ingin membaca sepucuk surat. + + Semua telah tenang, Larissa mengeluarkan sepucuk su- +rat dari saku bajunya. Dibukanya surat itu pelan-pelan. Di- +pandanginya ayahnya yang duduk sendiri di pojok situ. Laris- +sa mulai membaca. + + Dear Larissa Sweet Wuruninga, + My name is Zorro, I am the son of Indonesia Lonely Man, Sabari. + + Semua yang hadir terperanjat dan saling pandang. Pa- +man Matthew Tarrti yang paling tak percaya Sabari benar +ada, ternganga mulutnya. Ibu Larissa menutup mulut dengan +tangan. Gayle Rifkin, Annie Brown, dan David Pwominga +yang selalu menertawakan Brother Niel soal penyu dan Zor- +ro, yang menganggapnya sudah pikun, berdiri terpaku. + + Me and my father would like to say thank you because you and your + father look for me. After live separated for 8 years, 20 days, now I + am with my father again and I am happy. + I would like to say many words but I still study English, I hope + next time I can write letter with more words for you and your father. + Maybe when I study at senior high school and I understand tenses. + Ayah ~ 391 + + Larissa berhenti membaca karena terharu. + + For now, I just would like to say thank you very much. + Sincerely yours, + Very very happy, son Zorro and father Sabari. + + Larissa memperlihatkan foto Zorro saling memeluk +pundak dengan Sabari, tersenyum lebar. Orang-orang me- +lihat foto itu dengan pandangan tak percaya. Brother Niel +Wuruninga yang duduk di pojok situ juga tersenyum kepada +orang-orang yang terpana. Sesekali dipandangnya foto masa +kecilnya bersama saudara sulungnya, Jerome Wuruninga. + Purnama +Kedua Belas + +AMIRU tetap tinggal di Belitong bersama Sabari sampai +menamatkan SMA. Setelah itu, dia merantau ke Bogor un- +tuk mengikuti kursus elektronika. Aku bekerja di kantor pos +Bogor sebagai tukang sortir dan sering menemukan surat de- +ngan alamat kampung halamanku sendiri, Belantik, Belitong. +Surat itu dikirim Amiru untuk ayahnya. Dari situlah aku ber- +kenalan dengan Amiru. + + Bersahabat dengan Amiru sangat mengesankan. Dia +pintar dan berhati baik. Dia lulus terbaik dari kursus itu. Tiga +lulusan terbaik akan langsung diterima bekerja di sebuah per- +usahaan elektronik terkenal di Jakarta, tetapi Amiru ingin se- +gera pulang untuk mengurus ayahnya. + + Tampak benar dia merasa beruntung menjadi seorang +anak yang mendapat kesempatan untuk mengurus orangtua. +Dari Amiru aku belajar bahwa tak semua orang mendapat +berkah untuk mengabdi kepada orangtua. Karena Amiru, ke + Ayah ~ 393 + +mana pun aku merantau, setiap ada kesempatan, sesingkat +apa pun, aku pulang untuk melihat ayah dan ibuku. + + “Apa yang akan kau kerjakan di Belitong, Miru?” tanya- +ku. + + “Aku mau membuka kios reparasi elektronik, seperti kios +Bang Syarif Miskin,” katanya sambil tersenyum. “Apalagi, +sekarang aku sudah tahu cara kerja gelombang radio.” Dia +tersenyum lagi. + + Sesuai dengan rencananya, Amiru membuka kios repa- +rasi elektronik di Pasar Belantik. Nama kiosnya pun sama de- +ngan nama kios Syarif Miskin, Gaya Baru. Setiap hari Sabari +membantunya di kios itu. Tekun dia menyolder, membuka, +atau menguatkan baut-baut, mengelap apa pun yang bisa di- +lap dan tentu saja menggulung kabel-kabel. Tak bisa dia me- +lihat kabel yang centang perenang. + + Setelah lama saling berkirim surat, pada 2011, Larissa +dan ayahnya, Brother Niel Wuruninga, mengunjungi Bali. +Setelah itu, mereka mengunjungi Sabari dan Amiru di Be- +litong. Mereka adalah orang asing pertama yang mengun- +jungi Kampung Belantik. Oleh karena itu sambutan untuk +mereka luar biasa. Rumah Sabari ramai. Tetangga berebut +melihat penduduk asli Australia itu melalui jendela dan terpe- +sona menyaksikan Brother Niel meniup didgeridoo, alat musik +tradisional Aborigin yang kemudian ditinggalnya sebagai ke- +nang-kenangan. Sabari pun memberi Brother Niel gendang +kelinang. Gendang musik Melayu kuno yang hampir punah. + 394 ~ Andrea Hirata + +Setiap tahun, jika kemarau datang dan ilalang berbunga, +Sabari selalu pergi ke padang di pinggir kampung. Lama di- +pandanginya ilalang yang meliuk-liuk ditiup angin selatan. +Berpuluh tahun telah berlalu, kerinduan kepada Lena masih +tergenang dalam dadanya. + + Sering Amiru menemani ayahnya berjalan-jalan sore. +Begitu dekat hubungan mereka sehingga Amiru tak sungkan +bertanya apakah ayahnya masih mencintai ibunya? + + “Ingat, Boi, dalam hidup ini semuanya terjadi tiga kali. +Pertama aku mencintai ibumu, kedua aku mencintai ibumu, +ketiga aku mencintai ibumu.” + + Selama April, Sabari selalu duduk sendiri di bangku di +beranda hingga jauh malam. Dilihatnya telapak tangan kiri- +nya. Sinar purnama kedua belas menerangi telapak tangan- +nya, menerangi hatinya. Tangan kanannya erat menggeng- +gam pensil. Dia merindukan Lena, sangat rindu sehingga dia +sulit bernapas. Sering Amiru melihat ayahnya tidur sambil +menggenggam pensil itu. + + Hanya dengan Lena, Sabari pernah menikah. Itulah +pernikahan pertama dan terakhirnya. Dalam pernikahan itu +hanya empat kali dia pernah berjumpa dengan Lena, tetapi +dia tetap mencintai Lena, hanya Lena, hingga akhir hayat- +nya. Pertengahan 2013, Sabari meninggal dunia. + Ayah ~ 395 + + Makam Sabari sering dilihat orang karena di pusaranya +ada puisi Biarkan aku mati dalam keharuman cintamu. Orang-orang +yang berziarah selalu mampir ke makamnya. Amiru-lah yang +meminta pembuat pusara untuk mengukir puisi ayahnya itu. + + Amiru kerap mengunjungi tiga orang lain yang pernah +menjadi ayahnya, yang mencintainya dengan cara mereka +masing-masing, yaitu Manikam, JonPijareli, dan Amirza. Dia +pun selalu berkomunikasi dengan kedua adik tirinya, Amirta +dan Amirna. + + Marlena sempat pulang ke Belitong dan berjumpa lagi +dengan ayah, ibu, dan saudara-saudaranya. Beberapa waktu +setelah berjumpa dengan Lena, Markoni meninggal. + + Sampai tua Lena masih rajin berkirim surat kepada sa- +habat-sahabat penanya. Mereka telah berkenalan sejak masih +SD dan SMP. Barangkali Marlena dan para sahabat penanya +adalah generasi terakhir manusia menjalin persahabatan me- +lalui surat. + + Lena tetap berumah tangga dengan Amirza dan tinggal +di Dabo hingga tutup usia akhir 2014. Sebelum meninggal, +dalam sakitnya Lena berpesan untuk dimakamkan di Belan- +tik. + + “Dekat makam Sabari,” katanya kepada Amiru. + “Kalau tak dapat di sampingnya, tak apa-apa, tapi di +dekatnya.” Amiru tercenung dalam kesedihan. Mungkin ter­ +inspirasi oleh puisi di makam Sabari, sambil tersenyum malu +Lena meminta Amiru menulis sesuatu juga di pusaranya. + 396 ~ Andrea Hirata + + “Tulisan apa, Ibunda?” + “Di bawah namaku, tulislah, purnama kedua belas.” + Amiru terhenyak, dia tahu begitulah ayahnya dulu sela- +lu memanggil ibunya ketika mereka baru berjumpa. Amiru +menggenggam tangan ibunya kuat-kuat. + Baru-baru ini seorang kawan bertanya kepadaku, apa +benar kata orang ada makam bertulisan purnama kedua belas +di Belantik? Kujawab ya, aku sendiri pernah melihatnya. Dia +bertanya lagi, makam siapakah itu? Bagaimana riwayatnya? +Aku tak dapat berkata-kata. Meski berusaha, aku tak dapat +menemukan satu kata pun untuk memulai kisah cinta Sabari +dan Marlena, kisah cinta paling hebat yang pernah kuketahui +seumur hidupku. + Katalog Karya +Andrea Hirata + Dapatkan karya-karya Andrea Hirata + edisi bahasa Indonesia + Tetralogi Laskar Pelangi + +“Laskar Pelangi, salah satu dari 45 buku yang mempengaruhi +Indonesia.” +—45 Buku yang Mempengaruhi Indonesia, Media Indonesia + “Tidak pernah ada yang bisa mengalahkan kekuatan cinta yang +murni dan tulus. Cinta yang mendalam menebarkan energi po- +sitif yang tidak hanya mengubah hidup seseorang, tetapi juga +menerangi kehidupan orang banyak.” + +—Kompas + Dapatkan koleksi berharga Laskar Pelangi +edisi internasional. Semua novel tersedia + + di amazon.com + + Germany edition-Publisher: Hanser Berlin + Germany edition-Publisher: Hanser Berlin + +“Novel Laskar Pelangi versi bahasa Jerman menarik perhatian +publik Swiss. Malah untuk pinjam di perpustakaan saja, pem- +baca harus masuk waiting list. Di toko buku tertentu juga keha- +bisan stok, untuk meminjam versi cakram padat (compact disc) +yang di Swiss dikenal sebagai hoerbuch, karya Andrea Hirata +ini harus dipesan jauh-jauh hari. ‘Novelnya masih dipinjam +orang,’ kata salah seorang petugas di perpustakaan Lucerne.” +—Koran Sindo, 24 November 2013 + Laskar Pelangi- + International Bestseller + +Turkey edition-Publisher: butik Yayincilik + “This fine story about strength and resilience against the odds, +and the power of hope … seems only a matter of time before a +director brings this story to cinemas in the West.” +—The Economist + Turkey edition-Publisher: butik Yayincilik + +“Andrea Hirata has written an endearing, simple and conversa- +tional prose … inspiring story.” +—The Guardian UK + “Andrea Hirata’s closely autobiographical debut novel [...] pro- +mises to captivate audiences across the globe. This is classic +storytelling in the spirit of Khaled Hosseini’s The Kite Runner: +an engrossing depiction of a milieu we have never encountered +before, bursting with charm and verve.” +—Farrar, Straus and Giroux (FSG), New York + “Inspiring and closely autobiographical tale … Ikal and his +band of plucky cohorts face obstacles large and small, and the +reader can’t help but root for them to get the education-and +life-they deserve. The setting is as compelling and memorable +as the characters, and a rare window into a world we know +little about.” +—Harper Collins + “Incredibly moving and full of hope, Rainbow Troops swept In- +donesia off its feet, selling over five million copies and becoming +the highest-selling book in its history. It will sweep you away +too.” +—Penguin + Novel Laskar Pelangi edisi internasional tersedia + di www.amazon.com + + Info: www.andrea-hirata.com + Dapatkan Audio Book Laskar Pelangi + Edisi Australia dan Jerman + +The Rainbow Troops – Audio Die Regenbogentruppe – Audio +books books +Publisher : Bolinda, Sidney, Publisher : Hörbuch Hamburg + Read by : Sebastian Rudolph, + Australia. +Read by : Kenneth Moraleda, German actor. + The Lion King, + + War House musical + actor. + Karya-karya Andrea Hirata lainnya + Dapatkan novel kedua Andrea Hirata + edisi internasional, The Dreamer + +“Electrifying, a brilliant author.” +—Lesley Ann Wheeler, American author and poet + diff --git a/storage/app/books/hijrah.pdf b/storage/app/books/hijrah.pdf new file mode 100755 index 0000000..9ff642e --- /dev/null +++ b/storage/app/books/hijrah.pdf @@ -0,0 +1 @@ + diff --git a/storage/app/books/ipas.pdf b/storage/app/books/ipas.pdf new file mode 100755 index 0000000..76ba610 --- /dev/null +++ b/storage/app/books/ipas.pdf @@ -0,0 +1,2403 @@ +Lampiran 1 Modul Ajar +A. Modul Ajar Siklus I + + MODUL AJAR KURIKULUM MERDEKA 2024 + IPAS SD KELAS 4 SIKLUS I + +INFORMASI UMUM + +A. IDENTITAS MODUL + +Penyusun : Alifia Navrielda Putri +Instansi : SDN Patihan +Tahun Penyusunan : Tahun 2024 +Jenjang Sekolah : SD +Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial +Fase/Kelas : B / 4A +Bab/Tema : 6. Indonesiaku Kaya Budaya +Materi Pembelajaran : Keberagaman Budaya Indonesia +Alokasi Waktu : 1 kali pertemuan/ 3x35 menit + +B. CAPAIAN PEMBELAJARAN (CP) + + Peserta didik mengenal keragaman budaya, kearifan lokal, sejarah (baik + tokoh maupun periodisasinya) di Indonesia serta menghubungkan dengan + konteks kehidupan saat ini. + +C. PROFIL PELAJAR PANCASILA + +  Beriman, bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia. +  Berkebhinnekaan global. +  Mandiri +  Gotong royong. +  Kreatif +  Bernalar kritis. + +D. SARANA DAN PRASARANA + +  Sumber Belajar + + 1. Buku Guru (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Dan + Teknologi Republik Indonesia, 2021 Ilmu Pengetahuan Alam dan + Sosial untuk Sekolah Dasar Kelas IV, Penulis: Amalis Fitri, dkk) + + 2. Buku Siswa (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Dan + Teknologi Republik Indonesia, 2021 Ilmu Pengetahuan Alam dan + Sosial untuk Sekolah Dasar Kelas IV, Penulis: Amalis Fitri, dkk) + + 96 + 97 + + Alat dan Bahan + 1. Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) + 2. Laptop + 3. Proyektor + 4. LCD + +E. TARGET PESERTA DIDIK + +  Peserta didik reguler/tipikal: umum, tidak ada kesulitan dalam mencerna + dan memahami materi ajar. + +  Peserta didik dengan pencapaian tinggi: mencerna dan memahami dengan + cepat, mampu mencapai keterampilan berfikir aras tinggi (HOTS), dan + memiliki keterampilan memimpin. + +F. JUMLAH PESERTA DIDIK + + Peserta didik berjumlah 16 orang. + +G. MODEL/METODE/MEDIA/PENDEKATAN PEMBELAJARAN + + Model Pembelajaran : Project Based Learning + + Metode : Demonstrasi, diskusi, tanya jawab dan penugasan + + Media Pembelajaran : Video Pembelajaran + + Pendekatan : Saintific, TPACK + +KOMPONEN INTI + +A. TUJUAN KEGIATAN PEMBELAJARAN + +  Tujuan Pembelajaran + 1. Peserta didik dapat menginterpretasikan keberagaman budaya + yang ada di Indonesia melalui pengamatan video dengan tepat. + 2. Peserta didik dapat menganalisis keberagaman budaya yang ada + di Indonesia melalui tayangan video dengan baol.. + 3. Peserta didik dapat mengevaluasi keberagaman budaya yang ada di + Indonesia melalui kegiatan diskusi kelompok dengan benar. + 4. Peserta didik dapat membuat peta keberagaman budaya yang ada di + Indonesia melalui pengamatan contoh dengan tepat. + +B. PEMAHAMAN BERMAKNA + +Meningkatkan pemahaman peserta didik untuk mengetahui keberagaman +budaya yang ada di Indonesia. + +C. PERTANYAAN PEMANTIK + 1. Dari tayangan video yang kalian amati tadi, apa yang ada dipikiran + kalian? + 2. Apa manfaat keberagaman budaya? + 3. Sebagai pelajar, cara apa yang bisa kalian lakukan agar dapat membantu + melestarikan keberagaman di Indonesia? + 98 + +D. KEGIATAN PEMBELAJARAN + + Kegiatan Pendahuluan (10 menit) + 1. Guru memberikan salam dan secara acak memberikan kesempatan + + kepada salah satu peserta didik untuk memimpin berdoa bersama sesuai + dengan agama dan kepercayaanya masing-masing sebelum pembelajaran + dilaksanakan. + 2. Peserta didik bersama guru menyanyikan lagu nasional (Garuda + Pancasila). + 3. Guru menyapa dan mengecek kehadiran peserta didik. (communication) + 4. Guru bertanya jawab dengan peserta didik terkait materi yang akan + disampaikan hari ini. (apersepsi) + 5. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran. + + Kegiatan Inti (85 menit) + Tahap 1. Penentuan Pertanyaan/Permasalahan Mendasar + 1. Guru memberikan pertanyaan terbuka “kalian lebih suka menarikan + + tarian tradisional daerah atau tari modern?” dan guru juga + mempertanyakan “mengapa banyak orang yang lebih menyukai tarian + modern?” (menanya) + 2. Guru menjelaskan sedikit mengenai keberagaman budaya. Peserta didik + mendengarkan. + 3. Guru memberikan stimulus dengan menayangkan video, peserta didik + mengamati video tersebut tentang keberagaman budaya. (mengamati, + TPACK) + 4. Peserta didik diminta menyimak sedikit penjelasan yang berhubungan + dengan video yang telah diamati. + 5. Peserta didik diarahkan untuk mengemukakan pendapat atau pertanyaan + berkaitan dengan apa yang disampaikan guru. (communication, Critical + Thinking Skills) + + Tahap 2. Mendesain Perencanaan Proyek + 6. Peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari 4 + + siswa. + 7. Guru membagikan LKPD. + 8. Peserta didik mendengarkan penjelasan proyek tentang kegiatan peserta + + didik yang akan dilakukan dalam LKPD. (communication) + 9. Guru memberikan kesempatan untuk menanyakan hal yang belum + + dipahami siswa. + + Tahap 3. Menyusun Jadwal + 10. Guru menjelaskan cara kerja dan bahan apa saja yang dibutuhkan untuk + + menyelesaikan proyek peta keberagaman. (mengamati) + 99 + +11. Guru meminta peserta didik dalam kegiatan pembelajaran dengan + bekerjasama dalam kelompoknya. Peserta didik berdiskusi menyusun + rencana pembuatan proyek. + +12. Guru dan peserta didik menyepakati waktu penyelesaian. +Tahap 4. Memonitoring Peserta Didik dan Kemajuan Proyek +13. Guru memantau keaktifan peserta didik selama melaksanakan proyek dan + + realisasi kemajuan proyek. +14. Peserta didik diberi kesempatan untuk bertanya atau berkonsultasi kepada + + guru apabila mengalami kesulitan. (communication, Critical Thinking + Skills) +15. Peserta didik diminta melanjutkan kegiatan penyelesaian proyek yang + akan didiskusikan dan menyelesaikan tugas sesuai arahan yang sudah + dituangkan dalam LKPD. (Creativity and Innovation, collaboration, + Critical Thinking Skills) + +Tahap 5. Menguji Hasil +16. Peserta didik menyusun bahan laporan untuk presentasi kelompok. + + (communication) +17. Guru memantau keterlibatan peserta didik dan mengukur ketercapaian + + standar. + +Tahap 6. Evaluasi Pengalaman Belajar +18. Peserta didik dibimbing tentang bagaimana cara memaparkan hasil + + proyek di depan kelas. +19. Masing-masing kelompok diminta untuk mempresentasikan hasil proyek. +20. Peserta didik dan kelompok lain memberikan tanggapan/umpan balik + + mengenai hasil presentasi. (communication, Critical Thinking Skills) +21. Guru melakukan kegiatan ice breaking untuk mengembalikan semangat + + belajar. +22. Guru memberikan penguatan hasil presentasi yang telah dilakukan. +23. Guru memberikan apresiasi kepada setiap kelompok dan penghargaan + + bagi kelompok belajar yang paling aktif dan hasil diskusi yang paling + baik. +24. Guru memberikan soal tes kemampuan berpikir kritis kepada siswa untuk + dikerjakan secara individu. + +Kegiatan Penutup (10 menit) +1. Guru bersama peserta didik melakukan refleksi pembelajaran mengenai + + materi pembelajaran pada pertemuan ini. +2. Peserta didik diminta untuk menyampaikan perasaannya selama + + mengikuti pelajaran. (communication) + 100 + +3. Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk + menyampaikan kesimpulan yang didapat dari keberagaman budaya di + Indonesia. + +4. Guru menutup pelajaran dan secara bergantian memberikan + + kesempatan kepada peserta didik lain untuk memimpin berdoa bersama + setelah selesai pembelajaran. + + Mengetahui, Madiun, 22 Mei 2024 + Guru Kelas 4A Mahasiswa + +DEWI NOVITA SARI, S.Pd. ALIFIA NAVRIELDA PUTRI +NIP. 19891117 202221 2 014 NIM. 2002101147 + +E. REFLEKSI + + TABEL REFLEKSI UNTUK PESERTA DIDIK + +N No Pertanyaan Jawaban + 1. Bagaimana materi yang kalian rasa paling + 2. sulit? + 3. Apa yang kalian lakukan untuk dapat lebih + 4. memahami materi ini? + Apakah kalian memiliki cara sendiri untuk + 5. memahami materi ini? + Kepada siapa kalian akan meminta bantuan + untuk memahami materi ini? + Jika kalian diminta memberikan bintamg 1 + sampai 5, berapa bintang yang akan kalian + berikan pada usaha yang kalian lakukan untuk + memahami materi ini? + + TABEL REFLEKSI UNTUK GURU + +N No Pertanyaan Jawaban + 1. Apakah 100% peserta didik mencapai tujuan + pembelajaran? Jika tidak. Berapa persen kira- + 2. kira peserta didik yang mencapi pembelajaran? + Apa kesulitan yang dialami peserta didik + sehingga tidak mencapi tujuan pembelajaran? + Apa yang akan anda lakukan untuk membantu + peserta didik? + 101 + + Apakah terdapat peserta didik yang tidak +3. fokus? Bagaimana cara guru agar mereka bisa + + fokus pada kegiatan berikutnya? + +F. ASESMEN/PENILAIAN + Penilaian dapat dilihat melalui tabel berikut ini. + +No. Aspek Bentuk Waktu Pelaksanaan Instrumen + + Setelah Lembar Tes + +1. Pengetahuan Tes pembelajaran (terlampir) + + selesai + + Pada saat Lembar + +2. Keterampilan Pengamatan pembelajaran Pengamatan + + (terlampir) + +G. KEGIATAN PENGAYAAN DAN REMEDIAL + +Pengayaan +Peserta didik dengan nilai rata-rata dan nilai di atas rata-rata mengikuti +pembelajaran dengan mengerjakan soal pengayaan untuk memaksimalkan hasil +yang didapatkan. + +Remedial +Peserta didik yang belum menguasai CP akan melakukan pengulangan materi +dengan pendampingan baik secara individu maupun kelompok. Pendampingan +dapat dilakukan oleh guru atau dengan menerapkan pembelajaran teman sebaya +dan memberikan tugas tambahan untuk memperbaiki hasil belajar. + 102 + +LAMPIRAN +A. BAHAN BACAAN GURU & PESERTA DIDIK + + Kekayaan Budaya Indonesia +A. Keberagaman Budaya + + Indonesia merupakan negara kepulauan. Masing-masing pulau tersebut +didiami oleh suku bangsa tersendiri. Indonesia memiliki banyak susku bangsa +dan adat istiadat yang berbeda-beda, maka Indonesia disebut negara yang +memilik banyak keberagaman. Bangsa Indonesia dibangun dari sejumlah +perbedaan atau keberagaman. Keberagaman Indonesia meliputi suku bangsa, +agama, budaya, dan adat istiadat. Keragaman budaya di Indonesia meliputi, +rumah adat, pakaian tradisonal, tarian adat, upacara adat, alat musik dan lagu +daerah, senjata adat, dan makanan tradisional khas daerah. + + Bentuk keragaman budaya Indonesia antara lain sebagai berikut. +1. Upacara Adat + + Upacara adat merupakan upacara yang berhubungan dengan adat + istiadat masyarakat. Upacara adat dilestarikan secara turun temurun dari + generasi ke generasi. Contoh upacara adat adalah, upacara belian yang + dilakukan suku dayak dari kalimatan dan pasola yang dilakukan oleh + masyarakat Nusa Tenggara Timur. + +2. Rumah Adat + Rumah adat merupakan bangunan tempat tinggal yang menjadi ciri + + khas suatu daerah. Rumah adata masing-masing daerah memiliki keunikan + dan kekhasan yang mengandung filosofi luhur budaya setempat. Contoh + 103 + + rumah adat antara lain, rumah gadang dari Sumatera Barat, rumah + tongkonan dari Sulawesi Selatan, rumah honai dari Papua. + +3. Pakaian Adat + Setiap suku bangsa di Indonesia memiliki gaya busana dan corak + + yang berbeda, baik yang dari segi bentuk, bahan, model maupun warnanya. + Pakaian adat biasanya digunakan saat upacara adat seperti upacara + perkawinan dan pertunjukan seni tradisional. Contoh pakaian adat, yaitu + baju cele dari Maluku, paksian dari Bangka Belitung. + +4. Tarian Adat + Tarian daerah merupakan tarian yang tumbuh dan berkembang di + + suatu daerah. Gerakan tarian daerah menunjukkan kearifan daerah + setempat. Contoh tarian adat antara lain seudati dari Nangru Aceh + Darussalam, lenso dari Maluku, dan maengket dari Sulawesi Utara. + 104 + +5. Makanan Khas Daerah + Indonesia memiliki kuliner beraneka ragam yang berupa makanan + + khas daerah yang beraneka rupa dan rasa. Contoh makanan khas daerah + adalah gudeg dari Yogyakarta, papeda dari Papua, dan es slendang mayang + dari Jakarta. + +B. MEDIA + Video Pembelajaran Animasi + Link Youtube: https://youtu.be/xqeN3CqufNA?si=B8t-ZgGsId7E2Oos + +C. INSTRUMEN PENILAIAN +1. SOAL +a. Pengetahuan + + Terlampir + 105 + +b. Keterampilan + + Anggota Kelompok: + + 1. 3. + + 2. 4. + + Bacalah petunjuk pengerjakan tugas proyek peta keberagaman bersama + + kelompokmu! + + 1. Siapkan alat dan bahan berikut untuk mengerjakan tugas proyek! + + a) Gunting d) Atlas + + b) Lem e) Buku/koran/majalah + + c) Pensil warna + + 2. Baca atlas atau buku literatur lainnya dan cari tahu provinsi yang ada + di pulau pilihan kelompok kalian! + + 3. Gambarlah pulau yang telah kalian dapatkan! + 4. Setelah itu, ambilah gambar-gambar mengenai keberagaman budaya + + (rumah adat, pakaian adat, makanan tradisional) yang ada di pulau + tersebut. + 5. Setelah digunting, tempelkan gambar-gambar tersebut di pulau pilihan + kalian! + 6. Jika sudah selesai, gabungkan dengan kelompok lain sehingga menjadi + peta keragaman Indonesia yang utuh. +Setiap kelompok mempresentasikan pulaunya dengan ragam budayanya! + +2. PEDOMAN PENILAIAN + +a. Penilaian Pengetahuan (Sumatif) + +Kelas : IV + +Pelajaran/BAB: IPAS/ 6. Indonesia Kaya Budaya + +Topik : B. Kekayaan Budaya Indonesia + +Bentuk Soal : Uraian + + Nomor Soal Jumlah + Skor +No Nama 1 2 + + ab c d e abc d e + +1. ARK +2. AIF +3. ER +4. IAPS +5. JRFP +6. KDS +7. RDM +8. SYC +9. TFS +10. VNF +11. VPRS + 106 + +12. ZZL +13. MAFH +14. AAD +15. FMA +16. FGCS + + RUBRIK SKOR PENILAIAN TES KEMAMPUAN + + BERPIKIR KRITIS SISWA + + Indikator Nomor Keterangan Skor + Kemampuan Soal +Berpikir Kritis + +Interpretation  Tidak menjawab 0 +(Interpretasi) 1. a  Menjawab tetapi tidak tepat 1 + 2. a  Menjawab tetapi kurang 2 + 3 + tepat +  Menjawab dengan tepat + +Analysis  Tidak menjawab 0 +(Analisis) 1 + 1. b  Menjawab tetapi salah 2 + 2. b semua 3 + +  Hanya menyebutkan 1 + +  Menyebutkan lebih dari 1 + +Evaluation  Tidak menjawab 0 +(Evaluasi) 1 + 1. c  Menjawab tetapi tidak tepat 2 + 2. c  Menjawab tetapi kurang 3 + + tepat + +  Menjawab dengan tepat + +Inference 1. d  Tidak menjawab 0 + +(Kesimpulan) 1. e  Menjawab tetapi tidak tepat 1 + + 2. d  Hanya menyebutkan 1 benar 2 + + 2. e  Menyebutkan 3 benar semua 3 + +Skor maksimal : 30 + +Penilaian : ℎ ℎ × 100 + ℎ + +Panduan Konversi Nilai: Predikat Klasifikasi + + Konversi Nilai A SB (Sangat Baik) + (skala 0-100) B B (Baik) + C C (Cukup) + 90-100 D K (Kurang) + 80-89 + 70-79 + 0-69 + 107 + +b. Penilaian Keterampilan (Formatif) + + LEMBAR PENILAIAN PENGAMATAN HASIL PROYEK + +N No Nama Siswa dapat Kriteria Siswa dapat Total + Menggambar menempelkan Skor + 1. ARK Pulau dengan Siswa dapat Seluruh + 2. AIF menggunting gambar + 3. ER tepat keberagaman + 4. IAPS pulau sesuai dengan + 5. JRFP SB B C K provinsinya + 6. KDS SB B C K SB B C K + 7. RDM + 8. SYC + 9. TFS + 10. VNF + 11. VPRS + 12. ZZL + 13. MAFH + 14. AAD + 15. FMA + 16. FGCS + + RUBRIK PENILAIAN PENGAMATAN + +No. Kriteria Sangat Baik Cukup Perlu + Baik Bimbingan +1. Kesesuaian 3 2 + Menggam- 4 Dapat Kurang 1 + bar Pulau Dapat menggam- dapat Belum + menggam- bar dengan menggambar mampu + bar pulau benar, dan dengan benar menggambar + dan jelas. dan jelas. pulau dan + memberi memberi + warna warna perlu + dengan bimbingan + benar, guru atau + jelas, dan orang tua. + tepat. + 108 + +2. Kemam- Dapat Dapat Kurang Belum + +puan menggun- menggun- dapat mampu + +menggun- ting ting menggun- menggunting + +ting keragaman keragaman ting keragaman + +keragaman budaya budaya keragaman budaya + +budaya dengan dengan dengan dengan + + benar, rapi benar. benar, jelas benar, jelas + + dan tepat. dan tepat. dan tepat. + +3. Kemam- Dapat Dapat Kurang Belum + +puan menempel- menempel dapat mampu + +menempel- kan kan beberapa menempel menempel + +kan gambar seluruh gambar kan seluruh kan seluruh + +keberaga- gambar keberagaman gambar gambar + +man sesuai keberaga- sesuai keberagaman keberagaman + +dengan man sesuai dengan sesuai sesuai + +provinsi- dengan provinsi atau dengan dengan + +nya provinsi pulaunya provinsi atau provinsi atau + + atau dengan tepat. pulaunya pulaunya + + pulaunya dengan tepat. dengan tepat. + + dengan + + tepat dan + + jelas. + +Skor maksimal : 12 + + () = × 100 + + +Panduan Konversi Nilai: + + Konversi Nilai Predikat Klasifikasi + (skala 0-100) + A SB (Sangat Baik) + 90-100 B B (Baik) + 80-89 C C (Cukup) + 70-79 D K (Kurang) + 0-69 + +D. GLOSARIUM + +Budaya +Pikiran, akal, budi, hasil, adat istiadat, atau sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan +yang suka diubah-ubah. + +Capaian pembelajaran + +Adalah kemampuan yang diperoleh melalui internalisasi pengetahuan, sikap, +keterampilan, kompetensi, dan akumulasi pengalaman belajar peserta didik. + 109 + +Daerah +Wilayah (kekuasaan, pemerintahan, pengawasan, dan sebagainya). +Indonesia +Negara dengan berbagai suku bangsa yang mendiami kepulauan. +Kearifan Lokal +Nilai-nilai luhur yang berlaku dalam tata kehidupan masyarakat untuk melindungi +dan mengolah lingkungan hidup secara lestari. +Keberagaman +Perbedaan-perbedaan yang ada dalam kehidupan bermasyarakat. +Kebudayaan +Keseluruhan hasil cipta, rasa, karsa dalam bentuk bahasa, seni, ekonomi, teknologi, +ekspresi beragama, cara kerja, dan sistem. +Metode pembelajaran +Merupakan cara yang dilakukan guru untuk mewujudkan suasana belajar dan proses +pembelajaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat +indikator yang telah ditetapkan. +Model pembelajaran +Merupakan kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam +mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. +Nasionalisme +Paham tentang bangsa yang mengandung kesadaran tentang cinta dan semangat +tanah air, memiliki rasa kebanggan sebagai bangsa dan memelihara kehormatan +bangsa. +Pelajar Pancasila +Perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki +kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dengan enam +ciri utama: beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, +berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif. +Pengayaan +Adalah kegiatan yang diberikan kepada peserta didik kelompok cepat agar mereka +dapat mengembangkan potensinya secara optimal dengan memanfaatkan sisa waktu +yang dimilikinya. +Penilaian +Proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil +belajar peserta didik. +Peserta didik +Anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses +pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu. +Rumah Adat +Bangunan tempat tinggal yang menjadi ciri khas suatu daerah. +Refleksi +Aktifitas pikir dan rasa dalam rangka menilasi situasi diri atau situasi lingkungan +untuk menumbuhkan kesadaran yang lebih baik dalam mengaktualisasikan diri. + 110 + + Suku bangsa + Kesatuan hidup atau sekelompok manusia yanga memiliki kesamaan sistem + interaksi, sistem norma, dan identitas yang sama yang menyatukan. + Tujuan pembelajaran + Merupakan gambaran proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta + didik sesuai dengan capaian pembelajaran. + Upacara Adat + Kegiatan sacral yang berhubungan dengan adat istiadat masyarakat + +E. DAFTAR PUSTAKA + +Amalia Fitri, dkk. 2022. Buku Panduan Guru Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial untuk + SD Kelas IV. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan + Teknologi. + +Amalia Fitri, dkk. 2022. Buku Panduan Siswa Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial untuk + SD Kelas IV. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan + Teknologi. + + Mengetahui, Madiun, 22 Mei 2027 + Guru Kelas 4A Mahasiswa + +DEWI NOVITA SARI, S.Pd. ALIFIA NAVRIELDA PUTRI +NIP. 19891117 202221 2 014 NIM. 2002101147 + 111 + +B. Modul Ajar Siklus II + + MODUL AJAR KURIKULUM MERDEKA 2024 + IPAS SD KELAS 4 SIKLUS II + +INFORMASI UMUM + +A. IDENTITAS MODUL + +Penyusun : Alifia Navrielda Putri +Instansi : SDN Patihan +Tahun Penyusunan : Tahun 2024 +Jenjang Sekolah : SD +Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial +Fase/Kelas : B / 4A +Bab/Tema : 6. Indonesiaku Kaya Budaya +Materi Pembelajaran : Keberagaman Budaya Indonesia +Alokasi Waktu : 1 kali pertemuan/ 3x35 menit + +B. CAPAIAN PEMBELAJARAN (CP) + + Peserta didik mengenal keragaman budaya, kearifan lokal, sejarah (baik + tokoh maupun periodisasinya) di Indonesia serta menghubungkan dengan + konteks kehidupan saat ini. + +C. PROFIL PELAJAR PANCASILA + +  Beriman, bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia. +  Berkebhinnekaan global. +  Mandiri +  Gotong royong. +  Kreatif +  Bernalar kritis. + +D. SARANA DAN PRASARANA + +  Sumber Belajar + + 1. Buku Guru (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Dan + Teknologi Republik Indonesia, 2021 Ilmu Pengetahuan Alam dan + Sosial untuk Sekolah Dasar Kelas IV, Penulis: Amalis Fitri, dkk) + + 2. Buku Siswa (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Dan + Teknologi Republik Indonesia, 2021 Ilmu Pengetahuan Alam dan + Sosial untuk Sekolah Dasar Kelas IV, Penulis: Amalis Fitri, dkk) + + Alat dan Bahan + 1. Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) + 2. Laptop + 112 + +3. Proyektor +4. LCD + +E. TARGET PESERTA DIDIK + +  Peserta didik reguler/tipikal: umum, tidak ada kesulitan dalam mencerna + dan memahami materi ajar. + +  Peserta didik dengan pencapaian tinggi: mencerna dan memahami dengan + cepat, mampu mencapai keterampilan berfikir aras tinggi (HOTS), dan + memiliki keterampilan memimpin. + +F. JUMLAH PESERTA DIDIK + + Peserta didik berjumlah 16 orang. + +G. MODEL/METODE/MEDIA/PENDEKATAN PEMBELAJARAN + + Model Pembelajaran : Project Based Learning + + Metode : Demonstrasi, diskusi, tanya jawab dan penugasan + + Media Pembelajaran : Video Pembelajaran + + Pendekatan : Saintific, TPACK + +KOMPONEN INTI + +H. TUJUAN KEGIATAN PEMBELAJARAN + +  Tujuan Pembelajaran + 1. Peserta didik dapat menginterpretasikan keberagaman budaya + yang ada di Indonesia melalui pengamatan video dengan tepat. + 2. Peserta didik dapat menganalisis keberagaman budaya dan cara + melestarikannya melalui tayangan video dengan baik. + 3. Peserta didik dapat mengevaluasi keberagaman budaya dan cara + melestarikannya melalui kegiatan diskusi kelompok dengan + benar. + 4. Peserta didik dapat membuat komik keberagaman budaya dan cara + melestarikannya melalui pengamatan contoh dengan tepat. + +I. PEMAHAMAN BERMAKNA + +Meningkatkan pemahaman peserta didik untuk mengetahui keberagaman +budaya yang ada di Indonesia. + +J. PERTANYAAN PEMANTIK + 1. Dari tayangan video yang kalian amati tadi, apa yang ada dipikiran + kalian? + 2. Apa manfaat keberagaman budaya? + 3. Sebagai pelajar, cara apa yang bisa kalian lakukan agar dapat membantu + melestarikan keberagaman di Indonesia? + +K. KEGIATAN PEMBELAJARAN + +Kegiatan Pendahuluan (10 menit) + 113 + +1. Guru memberikan salam dan secara acak memberikan kesempatan + kepada salah satu peserta didik untuk memimpin berdoa bersama sesuai + dengan agama dan kepercayaanya masing-masing sebelum pembelajaran + dilaksanakan. + +2. Peserta didik bersama guru menyanyikan lagu nasional (Garuda + Pancasila). + +3. Guru menyapa dan mengecek kehadiran peserta didik. (communication) +4. Guru bertanya jawab dengan peserta didik terkait materi yang akan + + disampaikan hari ini. (apersepsi) +5. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran. + +Kegiatan Inti (85 menit) +Tahap 1. Penentuan Pertanyaan/Permasalahan Mendasar +1. Guru memberikan pertanyaan terbuka “mengapa sekarang ketika + + peringatan hari besar seperti hari Kartini, hari pendidikan kita harus + menggunakan pakaian adat?” dan guru juga mempertanyakan “apa + pentingnya melestarikan keberagaman budaya?” (menanya) +2. Guru menjelaskan sedikit mengenai keberagaman budaya. Peserta didik + mendengarkan. +3. Guru memberikan stimulus dengan menayangkan video, peserta didik + mengamati video tersebut tentang cara melestarikan dan pentingnya + keberagaman budaya. (mengamati, TPACK) +4. Peserta didik diminta menyimak sedikit penjelasan yang berhubungan + dengan video yang telah diamati. +5. Peserta didik diarahkan untuk mengemukakan pendapat atau pertanyaan + berkaitan dengan apa yang disampaikan guru. (communication, Critical + Thinking Skills) + +Tahap 2. Mendesain Perencanaan Proyek +6. Peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari 4 + + siswa. +7. Guru membagikan LKPD. +8. Peserta didik mendengarkan penjelasan proyek tentang kegiatan peserta + + didik yang akan dilakukan dalam LKPD. (communication) +9. Guru memberikan kesempatan untuk menanyakan hal yang belum + + dipahami siswa. + +Tahap 3. Menyusun Jadwal +10. Guru menjelaskan cara kerja dan bahan apa saja yang dibutuhkan untuk + + menyelesaikan proyek peta keberagaman. (mengamati) +11. Guru meminta peserta didik dalam kegiatan pembelajaran dengan + + bekerjasama dalam kelompoknya. Peserta didik berdiskusi menyusun + rencana pembuatan proyek. +12. Guru dan peserta didik menyepakati waktu penyelesaian. + 114 + +Tahap 4. Memonitoring Peserta Didik dan Kemajuan Proyek +13. Guru memantau keaktifan peserta didik selama melaksanakan proyek dan + + realisasi kemajuan proyek. +14. Peserta didik diberi kesempatan untuk bertanya atau berkonsultasi kepada + + guru apabila mengalami kesulitan. (communication, Critical Thinking + Skills) +15. Peserta didik diminta melanjutkan kegiatan penyelesaian proyek yang + akan didiskusikan dan menyelesaikan tugas sesuai arahan yang sudah + dituangkan dalam LKPD. (Creativity and Innovation, collaboration, + Critical Thinking Skills) + +Tahap 5. Menguji Hasil +16. Peserta didik menyusun bahan laporan untuk presentasi kelompok. + + (communication) +17. Guru memantau keterlibatan peserta didik dan mengukur ketercapaian + + standar. + +Tahap 6. Evaluasi Pengalaman Belajar +18. Peserta didik dibimbing tentang bagaimana cara memaparkan hasil + + proyek di depan kelas. +19. Masing-masing kelompok diminta untuk mempresentasikan hasil proyek. +20. Peserta didik dan kelompok lain memberikan tanggapan/umpan balik + + mengenai hasil presentasi. (communication, Critical Thinking Skills) +21. Guru melakukan kegiatan ice breaking untuk mengembalikan semangat + + belajar. +22. Guru memberikan penguatan hasil presentasi yang telah dilakukan. +23. Guru memberikan apresiasi kepada setiap kelompok dan penghargaan + + bagi kelompok belajar yang paling aktif dan hasil diskusi yang paling + baik. +24. Guru memberikan soal tes kemampuan berpikir kritis kepada siswa untuk + dikerjakan secara individu. + +Kegiatan Penutup (10 menit) +1. Guru bersama peserta didik melakukan refleksi pembelajaran mengenai + + materi pembelajaran pada pertemuan ini. +2. Peserta didik diminta untuk menyampaikan perasaannya selama + + mengikuti pelajaran. (communication) +3. Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk + + menyampaikan kesimpulan yang didapat dari keberagaman budaya di + Indonesia dan cara melestarikannya. + 115 + +4. Guru menutup pelajaran dan secara bergantian memberikan + + kesempatan kepada peserta didik lain untuk memimpin berdoa bersama + setelah selesai pembelajaran. + + Mengetahui, Madiun, 29 Mei 2027 + Guru Kelas 4A Mahasiswa + +DEWI NOVITA SARI, S.Pd. ALIFIA NAVRIELDA PUTRI +NIP. 19891117 202221 2 014 NIM. 2002101147 + +L. REFLEKSI + + TABEL REFLEKSI UNTUK PESERTA DIDIK + +N No Pertanyaan Jawaban + 1. Bagaimana materi yang kalian rasa paling + 2. sulit? + 3. Apa yang kalian lakukan untuk dapat lebih + 4. memahami materi ini? + Apakah kalian memiliki cara sendiri untuk + 5. memahami materi ini? + Kepada siapa kalian akan meminta bantuan + untuk memahami materi ini? + Jika kalian diminta memberikan bintamg 1 + sampai 5, berapa bintang yang akan kalian + berikan pada usaha yang kalian lakukan untuk + memahami materi ini? + + TABEL REFLEKSI UNTUK GURU + +N No Pertanyaan Jawaban + 1. Apakah 100% peserta didik mencapai tujuan + 2. pembelajaran? Jika tidak. Berapa persen kira- + 3. kira peserta didik yang mencapi pembelajaran? + Apa kesulitan yang dialami peserta didik + sehingga tidak mencapi tujuan pembelajaran? + Apa yang akan anda lakukan untuk membantu + peserta didik? + Apakah terdapat peserta didik yang tidak + fokus? Bagaimana cara guru agar mereka bisa + fokus pada kegiatan berikutnya? + 116 + +M. ASESMEN/PENILAIAN + Penilaian dapat dilihat melalui tabel berikut ini. + +No. Aspek Bentuk Waktu Pelaksanaan Instrumen + + Setelah Lembar Tes + +1. Pengetahuan Tes pembelajaran (terlampir) + + selesai + + Pada saat Lembar + +2. Keterampilan Pengamatan pembelajaran Pengamatan + + (terlampir) + +N. KEGIATAN PENGAYAAN DAN REMEDIAL + +Pengayaan +Peserta didik dengan nilai rata-rata dan nilai di atas rata-rata mengikuti +pembelajaran dengan mengerjakan soal pengayaan untuk memaksimalkan hasil +yang didapatkan. + +Remedial +Peserta didik yang belum menguasai CP akan melakukan pengulangan materi +dengan pendampingan baik secara individu maupun kelompok. Pendampingan +dapat dilakukan oleh guru atau dengan menerapkan pembelajaran teman sebaya +dan memberikan tugas tambahan untuk memperbaiki hasil belajar. + 117 + +LAMPIRAN +A. BAHAN BACAAN GURU & PESERTA DIDIK + + Kekayaan Budaya Indonesia +A. Keberagaman Budaya + + Indonesia merupakan negara kepulauan. Masing-masing pulau tersebut +didiami oleh suku bangsa tersendiri. Indonesia memiliki banyak susku bangsa +dan adat istiadat yang berbeda-beda, maka Indonesia disebut negara yang +memilik banyak keberagaman. Bangsa Indonesia dibangun dari sejumlah +perbedaan atau keberagaman. Keberagaman Indonesia meliputi suku bangsa, +agama, budaya, dan adat istiadat. Keragaman budaya di Indonesia meliputi, +rumah adat, pakaian tradisonal, tarian adat, upacara adat, alat musik dan lagu +daerah, senjata adat, dan makanan tradisional khas daerah. Bentuk keragaman +budaya Indonesia antara lain sebagai berikut. +1. Upacara Adat + + Upacara adat merupakan upacara yang berhubungan dengan adat + istiadat masyarakat. Upacara adat dilestarikan secara turun temurun dari + generasi ke generasi. Contoh upacara adat adalah, upacara belian yang + dilakukan suku dayak dari kalimatan dan pasola yang dilakukan oleh + masyarakat Nusa Tenggara Timur. + +2. Rumah Adat + Rumah adat merupakan bangunan tempat tinggal yang menjadi ciri + + khas suatu daerah. Rumah adata masing-masing daerah memiliki keunikan + dan kekhasan yang mengandung filosofi luhur budaya setempat. Contoh + rumah adat antara lain, rumah gadang dari Sumatera Barat, rumah + tongkonan dari Sulawesi Selatan, rumah honai dari Papua. + +3. Pakaian Adat + Setiap suku bangsa di Indonesia memiliki gaya busana dan corak + + yang berbeda, baik yang dari segi bentuk, bahan, model maupun warnanya. + Pakaian adat biasanya digunakan saat upacara adat seperti upacara + perkawinan dan pertunjukan seni tradisional. Contoh pakaian adat, yaitu + baju cele dari Maluku, paksian dari Bangka Belitung. + 118 + +4. Alat Musik Daerah + Alat musik daerah merupakan alat musik khas yang biasa dibunyikan + + saat mengiringi lagu atau tarian tradisional setempat. Alat musik daerah + memiliki ciri khas masing-masing sesuai keadaan alam setiap daerah. + Contoh alat musik daerah Antara lain angklung dari Jawa Barat dan sasando + dari Nusa Tenggara Timur + +5. Tarian Adat + Tarian daerah merupakan tarian yang tumbuh dan berkembang di + + suatu daerah. Gerakan tarian daerah menunjukkan kearifan daerah + setempat. Contoh tarian adat antara lain seudati dari Nangru Aceh + Darussalam, lenso dari Maluku, dan maengket dari Sulawesi Utara. + +6. Senjata Tradisional + Beberapa daerah mempunyai senjata tradisional sebagai pelengkap + + dalam acara adat tertentu. Senjata tradisional juga digunakan sebagai + properti tari daerah. Contoh senjata tradisional antara lain, keris dari Jawa + Tengah, Mandau dari Kalimantan Barat, dan celurit dari Jawa Timur. + 119 + +7. Makanan Khas Daerah + Indonesia memiliki kuliner beraneka ragam yang berupa makanan + + khas daerah yang beraneka rupa dan rasa. Contoh makanan khas daerah + adalah gudeg dari Yogyakarta, papeda dari Papua, dan es slendang mayang + dari Jakarta. + +B. Cara Melestarikan Kebudayaan Daerah + Keberagaman budaya daerah agar tidak punah harus dilestarikan dan + + dipertahankan. Berikut cara melestarikan kebudayaan daerah. + 1. Mempelajari dan mengembangkan budaya daerah. + 2. Menonton festival tarian budaya daerah. + 3. Menggunakan pakaian adat ketika hari besar. + 4. Menggunakan bahasa daerah di lingkungan rumah. + 5. Mengadakan dan turut serta dalam kegiatan lomba atau pentas seni di + + daerah sekitar. + 6. Memasukkan dan mempelajari kebudayaan lokal dalam mata pelajaran + + muatan lokal di sekolah. + 7. Mengenalkan produk budaya ke kancah tradisional melalui jejaring sosial + + dengan menggugah foto atau video di media sosial. + 8. Mengekspor dan mempromosikan kebudayaan lokal melalui produk + + kesenian ke luar negeri. +B. MEDIA + + Video Pembelajaran Animasi + Link Youtube: https://youtu.be/cm0Kv7q9u5s?feature=shared + 120 + +C. INSTRUMEN PENILAIAN + +1. SOAL + +a. Pengetahuan + +Terlampir + +b. Keterampilan + +Anggota Kelompok: + +1. 3. + +2. 4. + +Bacalah petunjuk pengerjakan tugas proyek peta keberagaman bersama + +kelompokmu! + +1. Siapkan alat dan bahan berikut untuk mengerjakan tugas proyek! + + a) Gunting c) Pensil warna + + b) Lem d) Atlas + + 2. Potonglah gambar siswa, balon percakapan, dan gambar keberagaman + suatu daerah bersama kelompokmu! + + 3. Setelah digunting, urutkanlah gambar orang dan dialognya agar menjadi + komik kemudian tempelkan pada kertas yang telah disediakan! + + 4. Kemudian tempelkan pada kertas yang telah disediakan!. + 5. Jika sudah selesai, presentasikanlah hasil kerja kelompokmu di depan + + kelas! + +2. PEDOMAN PENILAIAN + +a. Penilaian Pengetahuan (Sumatif) + +Kelas : IV + +Pelajaran/BAB: IPAS/ 6. Indonesia Kaya Budaya + +Topik : B. Kekayaan Budaya Indonesia + +Bentuk Soal : Uraian + + Nomor Soal Jumlah + Skor +No Nama 1 2 + + ab c d e abc d e + +1. ARK +2. AIF +3. ER +4. IAPS +5. JRFP +6. KDS +7. RDM +8. SYC +9. TFS +10. VNF +11. VPRS + 121 + +12. ZZL +13. MAFH +14. AAD +15. FMA +16. FGCS + + RUBRIK SKOR PENILAIAN TES KEMAMPUAN + + BERPIKIR KRITIS SISWA + + Indikator Nomor Keterangan Skor + Kemampuan Soal +Berpikir Kritis + +Interpretation  Tidak menjawab 0 +(Interpretasi) 1.a  Menjawab tetapi tidak tepat 1 + 2. a  Menjawab tetapi kurang 2 + 3 + tepat +  Menjawab dengan tepat + +Analysis 1. b  Tidak menjawab 0 +(Analisis) 2. b  Menjawab tetapi salah 1 + 2 + semua 3 +  Hanya menyebutkan 1 +  Menyebutkan lebih dari 1 + +Evaluation  Tidak menjawab 0 +(Evaluasi) 1 + 1. c  Menjawab tetapi tidak tepat 2 + 2. c  Menjawab tetapi kurang 3 + + tepat + +  Menjawab dengan tepat + +Inference 1. d  Tidak menjawab 0 + +(Kesimpulan) 1. e  Menjawab tetapi tidak tepat 1 + + 2. d  Hanya menyebutkan 1 benar 2 + + 2. e  Menyebutkan 3 benar semua 3 + +Skor maksimal : 30 + +Penilaian : ℎ ℎ × 100 + ℎ + +Panduan Konversi Nilai: + +Konversi Nilai Predikat Klasifikasi + (skala 0-100) + A SB (Sangat Baik) + 90-100 B B (Baik) + 80-89 C C (Cukup) + 70-79 D K (Kurang) + 0-69 + 122 + +b. Penilaian Keterampilan (Formatif) + + LEMBAR PENILAIAN PENGAMATAN HASIL PROYEK + +N No Nama Siswa dapat Kriteria Siswa dapat Total + Mengurutkan menempelkan Skor + 1. ARK percakapan Siswa dapat Seluruh + 2. AIF dengan tepat menggunting gambar + 3. ER keragaman percakapan + 4. IAPS SB B C K + 5. JRFP budaya dan + 6. KDS keragaman + 7. RDM SB B C K + 8. SYC budaya + 9. TFS SB B C K + 10. VNF + 11. VPRS + 12. ZZL + 13. MAFH + 14. AAD + 15. FMA + 16. FGCS + + RUBRIK PENILAIAN PENGAMATAN + + Sangat Baik Cukup Perlu + Bimbingan +No. Kriteria Baik 3 2 + Dapat Kurang 1 + 4 mengurut- dapat Belum + kan gambar mengurut- mampu +1. Kesesuaian Dapat dan kan gambar mengurut- + percaka-pan dan percaka- kan gambar + mengurut- mengurut- dan percaka- + + kan gambar kan + + dan gambar + + percakapan dan + 123 + + percaka- dengan pan ggambar pan perlu + + pan benar, dan dengan bimbingan + + dengan jelas. benar dan guru atau + + benar, jelas. orang tua. + + jelas, dan + + tepat. + +2. Kemam-puan Dapat Dapat Kurang Belum + +menggun- menggun- menggun- dapat mampu + +ting ting ting menggun- menggunting + +keragaman keragaman keragaman ting keragaman + +budaya budaya budaya keragaman budaya + + dengan dengan dengan dengan + + benar, rapi benar. benar, jelas benar, jelas + + dan tepat. dan tepat. dan tepat. + +3. Kemam-puan Dapat Dapat Kurang Belum + +menempel- menempel- menempel dapat mampu + +kan gambar kan kan menempel menempel + +percakapan seluruh beberapa kan seluruh kan seluruh + +dan keberaga- gambar gambar gambar gambar + +man menjadi menjadi menjadi menjadi + +budayanya komik komik komik komik + + beserta beserta beserta beserta + + gambar gambar gambar gambar + + keberaga- keberaga- keberaga- keberaga- + + man man budaya budaya budaya + + budaya dengan dengan dengan tepat. + + dengan tepat. tepat. + + tepat dan + + jelas. + +Skor maksimal : 12 + + () = × 100 + + +Panduan Konversi Nilai: Predikat Klasifikasi + + Konversi Nilai A SB (Sangat Baik) + (skala 0-100) B B (Baik) + C C (Cukup) + 90-100 D K (Kurang) + 80-89 + 70-79 + 0-69 + 124 + +D. GLOSARIUM + + Budaya + Pikiran, akal, budi, hasil, adat istiadat, atau sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan + yang suka diubah-ubah. + Capaian pembelajaran + Adalah kemampuan yang diperoleh melalui internalisasi pengetahuan, sikap, + keterampilan, kompetensi, dan akumulasi pengalaman belajar peserta didik. + Daerah + Wilayah (kekuasaan, pemerintahan, pengawasan, dan sebagainya). + Gotong royong + Kerja bersama untuk kepentingan bersama atau sebagai bentuk tolong menolong + yang dilakukan secara sukarela. + Indonesia + Negara dengan berbagai suku bangsa yang mendiami kepulauan. + Kearifan Lokal + Nilai-nilai luhur yang berlaku dalam tata kehidupan masyarakat untuk melindungi + dan mengolah lingkungan hidup secara lestari. + Keberagaman + Perbedaan-perbedaan yang ada dalam kehidupan bermasyarakat. + Kebudayaan + Keseluruhan hasil cipta, rasa, karsa dalam bentuk bahasa, seni, ekonomi, teknologi, + ekspresi beragama, cara kerja, dan sistem. + Metode pembelajaran + Merupakan cara yang dilakukan guru untuk mewujudkan suasana belajar dan proses + pembelajaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat + indikator yang telah ditetapkan. + Model pembelajaran + Merupakan kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam + mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. + Pelajar Pancasila + Perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki + kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dengan enam + ciri utama: beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, + berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif. + Pengayaan + Adalah kegiatan yang diberikan kepada peserta didik kelompok cepat agar mereka + dapat mengembangkan potensinya secara optimal dengan memanfaatkan sisa waktu + yang dimilikinya. + Penilaian + Proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil + belajar peserta didik. + 125 + + Peserta didik + Anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses + pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu. + Rumah Adat + Bangunan tempat tinggal yang menjadi ciri khas suatu daerah. + Refleksi + Aktifitas pikir dan rasa dalam rangka menilasi situasi diri atau situasi lingkungan + untuk menumbuhkan kesadaran yang lebih baik dalam mengaktualisasikan diri. + Suku bangsa + Kesatuan hidup atau sekelompok manusia yanga memiliki kesamaan sistem + interaksi, sistem norma, dan identitas yang sama yang menyatukan. + Tujuan pembelajaran + Merupakan gambaran proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta + didik sesuai dengan capaian pembelajaran. + Upacara Adat + Kegiatan sacral yang berhubungan dengan adat istiadat masyarakat + +E. DAFTAR PUSTAKA + +Amalia Fitri, dkk. 2022. Buku Panduan Guru Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial untuk + SD Kelas IV. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan + Teknologi. + +Amalia Fitri, dkk. 2022. Buku Panduan Siswa Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial untuk + SD Kelas IV. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan + Teknologi. + + Mengetahui, Madiun, 29 Mei 2027 + Guru Kelas 4A Mahasiswa + +DEWI NOVITA SARI, S.Pd. ALIFIA NAVRIELDA PUTRI +NIP. 19891117 202221 2 014 NIM. 2002101147 + Lampiran 2 Instrumen +A. Perencanaan + + 1) Validasi Modul Ajar Siklus I + + 126 + 127 + 128 + 129 + 130 + 131 + 132 +2) Validasi Modul Ajar Siklus I + 133 + 134 + 135 + 136 + 137 + 138 + +B. Pelaksanaan +1) Lembar Hasil Observasi Proses Pembelajaran Siklus I + +LEMBAR OBSERVASI PROSES PEMBELAJARAN IPAS DENGAN +MODEL PROJECT BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN + + KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA + PTK SIKLUS I + +Nama Sekolah : SDN Patihan +Mata Pelajaran : IPAS +Kelas :4 + +Berilah tanda centang (√) pada salah satu kolom “Ya” atau “Tidak” berdasarkan + +observasi keterlaksanaan pembelajaran. + + Penilaian + +No Hal yang diamati Pengamatan Keterangan + + Ya Tidak + + Kegiatan Pendahuluan + + Guru memberikan salam dan secara + + acak memberikan kesempatan + + kepada salah satu siswa untuk Sudah + terlaksana +1. memimpin berdoa bersama sesuai √ + Sudah + dengan agama dan kepercayaanya terlaksana + + masing-masing sebelum Sudah + terlaksana + pembelajaran dilaksanakan. + Sudah + Guru bersama siswa menyanyikan terlaksana, +2. lagu nasional. √ namun hanya + beberapa siswa +3. Guru menyapa dan mengecek √ + kehadiran siswa. yang + menjawab + Guru bertanya jawab dengan siswa +4. terkait materi yang akan √ Sudah + terlaksana + disampaikan hari ini. + +5. Guru menyampaikan tujuan √ + pembelajaran. + + Kegiatan Inti + + PENENTUAN + PERTANYAAN/PERMASALA- + HAN MENDASAR + 139 + + Penilaian + +No Hal yang diamati Pengamatan Keterangan + + Ya Tidak + + Guru memberikan pertanyaan Sudah + terbuka “kalian lebih suka terlaksana + menarikan tarian tradisional daerah +6. atau tari modern?” dan guru juga √ Sudah + mempertanyakan “mengapa banyak terlaksana + orang yang lebih menyukai tarian namun hanya + modern?” sebagian siswa + mendengarkan + Guru menjelaskan sedikit mengenai +7. keberagaman budaya. Siswa √ Sudah + terlaksana + mendengarkan. + Sudah + Guru memberikan stimulus dengan terlaksana + +8. menayangkan video, siswa √ Sudah + mengamati video tersebut tentang terlaksana + namun hanya + keberagaman budaya. beberapa siswa + + Guru memberikan sedikit yang + mengemuka- +9. penjelasan mengenai keberagaman √ kan pendapat + budaya siswa menyimak penjelasan + + tersebut. + + Guru mengarahkan siswa untuk +10. mengemukakan pendapat tentang √ + + apa yang disampaikan oleh guru. + + MENDESAIN PERENCANAAN + PRODUK + + Guru membagi siswa menjadi Sudah +11. beberapa kelompok yang terdiri dari √ terlaksana + + 4 orang siswa. Sudah + Guru memberikan LKPD dan guru terlaksana +12. menjelaskan tugas proyek dan siswa √ + mendengarkan penjelasan tersebut. Sudah + Guru memberikan kesempatan terlaksana +13. untuk menanyakan hal yang belum √ + dipahami siswa, + MENYUSUN JADWAL + 140 + + Penilaian + +No Hal yang diamati Pengamatan Keterangan + + Ya Tidak Sudah + terlaksana + Guru menjelaskan cara kerja dan + Sudah +14. bahan apa saja yang dibutuhkan √ terlaksana + untuk menyelesaikan proyek peta + Sudah + keberagaman. terlaksana + + Guru meminta siswa dalam kegiatan + + pembelajaran dengan bekerjasama + +15. dalam kelompoknya. Siswa √ + + berdiskusi menyusun rencana + + pembuatan proyek. + +16. Guru dan siswa menyepakati waktu √ + penyelesaian. + + MEMONITORING SISWA DAN + KEMAJUAN PROYEK + + Guru memantau keaktifan siswa Sudah +17. selama melaksanakan proyek dan √ terlaksana + namun belum + realisasi kemajuan proyek. + optimal + Siswa diberi kesempatan untuk Sudah +18. bertanya atau berkonsultasi kepada √ terlaksana + + guru apabila mengalami kesulitan. Sudah + terlaksana + Guru meminta siswa melanjutkan + Sudah + kegiatan penyelesaian proyek yang terlaksana + +19. akan didiskusikan dan √ Sudah + terlaksana + menyelesaikan tugas sesuai arahan namun belum + + yang sudah dituangkan dalam optimal + + LKPD. Sudah + terlaksana + MENGUJI HASIL + Guru meminta siswa untuk +20. menyusun bahan laporan presentasi √ + kelompok. + + Guru memantau keterlibatan peserta +21. didik dan mengukur ketercapaian √ + + standar. + + EVALUASI PENGALAMAN + BELAJAR + Guru membimbing siswa tentang +22. bagaimana cara memaparkan hasil √ + proyek di depan kelas. + 141 + + Penilaian + +No Hal yang diamati Pengamatan Keterangan + + Ya Tidak + + Guru meminta siswa Sudah + terlaksana +23. mempresentasikan hasil kerja √ namun belum + + kelompok di depan kelas. optimal + Sudah + Guru memberikan kesempatan pada terlaksana + namun hanya +24. kelompok lain untuk menanggapi √ satu kelompok + dan memberikan masukan mengenai saja yang + memberikan + hasil kelompok yang presentasi. tanggapan + Sudah + Guru melakukan kegiatan ice terlaksana, +25. breaking untuk mengembalikan √ namun kurang + semangat + semangat belajar. Sudah + terlaksana +26. Guru memberikan penguatan hasil √ namun belum + presentasi yang telah dilakukan. optimal + + Guru memberikan apresiasi kepada Sudah + terlaksana + setiap kelompok dan penghargaan + Sudah +27. bagi kelompok belajar yang paling √ terlaksana + + aktif dan hasil diskusi yang paling Sudah + terlaksana + baik. namun belum + + Guru memberikan soal tes optimal + +28. kemampuan berpikir kritis kepada √ Sudah + siswa untuk dikerjakan secara terlaksana + + individu. Sudah + terlaksana + Kegiatan Penutup namun hanya + beberapa siswa + Guru bersama siswa melakukan yang mau + + refleksi pembelajaran mengenai +29. materi pembelajaran pada √ + + pertemuan ini. + + Guru meminta siswa untuk + +30. menyampaikan perasaannya √ + + selama mengikuti pelajaran. + + Guru memberikan kesempatan + + kepada peserta didik untuk + +31. menyampaikan kesimpulan yang √ + + didapat dari keberagaman budaya + + di Indonesia. + 142 + +No Hal yang diamati Penilaian Keterangan + Pengamatan + + Ya Tidak + + menyampaikan + kesimpulan + + Guru menutup pelajaran dan √ Sudah + secara bergantian memberikan terlaksana +32. kesempatan kepada siswa lain + untuk memimpin berdoa bersama + setelah selesai pembelajaran. + 143 + +2) Lembar Hasil Observasi Proses Pembelajaran Siklus II + + LEMBAR OBSERVASI PROSES PEMBELAJARAN IPAS DENGAN + MODEL PROJECT BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN + + KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA + PTK SIKLUS II + +Nama Sekolah : SDN Patihan +Mata Pelajaran : IPAS +Kelas :4 + +Berilah tanda centang (√) pada salah satu kolom “Ya” atau “Tidak” berdasarkan + +observasi keterlaksanaan pembelajaran. + + Penilaian + +No. Hal yang diamati Pengamatan Keterangan + + Ya Tidak + + Kegiatan Pendahuluan + + Guru memberikan salam dan secara + + acak memberikan kesempatan kepada + +1. salah satu siswa untuk memimpin √ Sudah + berdoa bersama sesuai dengan agama terlaksana + + dan kepercayaanya masing-masing Sudah + terlaksana + sebelum pembelajaran dilaksanakan. + Sudah + Guru bersama siswa menyanyikan lagu √ terlaksana +2. nasional. + Sudah +3. Guru menyapa dan mengecek √ terlaksana + kehadiran siswa. + Sudah + Guru bertanya jawab dengan siswa terlaksana +4. terkait materi yang akan disampaikan √ + + hari ini. + +5. Guru menyampaikan tujuan √ + pembelajaran. + + Kegiatan Inti Sudah + terlaksana + PENENTUAN + PERTANYAAN/PERMASALA- + HAN MENDASAR + + Guru memberikan pertanyaan terbuka + “mengapa sekarang ketika peringatan + hari besar seperti hari Kartini, hari +6. pendidikan kita harus menggunakan √ + pakaian adat?” dan guru juga + mempertanyakan “apa pentingnya + melestarikan keberagaman budaya?” + 144 + + Penilaian + +No. Hal yang diamati Pengamatan Keterangan + + Ya Tidak Sudah + terlaksana + Guru menjelaskan sedikit mengenai +7. keberagaman budaya. Siswa √ Sudah + terlaksana + mendengarkan. + Guru memberikan stimulus dengan Sudah + menayangkan video, siswa mengamati terlaksana +8. video tersebut tentang cara √ + melestarikan dan pentingnya Sudah + keberagaman budaya. terlaksana + + Guru memberikan sedikit penjelasan Sudah +9. mengenai keberagaman budaya siswa √ terlaksana + + menyimak penjelasan tersebut. Sudah + terlaksana + Guru mengarahkan siswa untuk +10. mengemukakan pendapat tentang apa √ Sudah + terlaksana + yang disampaikan oleh guru. + Sudah + MENDESAIN PERENCANAAN terlaksana + PRODUK + Sudah + Guru membagi siswa menjadi beberapa terlaksana +11. kelompok yang terdiri dari 4 orang √ + Sudah + siswa. terlaksana + + Guru memberikan LKPD dan guru Sudah +12. menjelaskan tugas proyek dan siswa √ terlaksana + + mendengarkan penjelasan tersebut. + + Guru memberikan kesempatan untuk +13. menanyakan hal yang belum dipahami √ + + siswa, + + MENYUSUN JADWAL + + Guru menjelaskan cara kerja dan bahan + +14. apa saja yang dibutuhkan untuk √ + menyelesaikan proyek komik + + keberagaman. + + Guru meminta siswa dalam kegiatan + +15. pembelajaran dengan bekerjasama √ + dalam kelompoknya. Siswa berdiskusi + + menyusun rencana pembuatan proyek. + +16. Guru dan siswa menyepakati waktu √ + penyelesaian. + + MEMONITORING SISWA DAN + KEMAJUAN PROYEK + + Guru memantau keaktifan siswa selama +17. melaksanakan proyek dan realisasi √ + + kemajuan proyek. + 145 + + Penilaian + +No. Hal yang diamati Pengamatan Keterangan + + Ya Tidak Sudah + terlaksana + Siswa diberi kesempatan untuk +18. bertanya atau berkonsultasi kepada √ Sudah + terlaksana + guru apabila mengalami kesulitan. + Sudah + Guru meminta siswa melanjutkan terlaksana + kegiatan penyelesaian proyek yang +19. akan didiskusikan dan menyelesaikan √ Sudah + tugas sesuai arahan yang sudah terlaksana + dituangkan dalam LKPD. + MENGUJI HASIL Sudah + terlaksana +20. Guru meminta siswa untuk menyusun √ + bahan laporan presentasi kelompok. Sudah + terlaksana + Guru memantau keterlibatan peserta +21. didik dan mengukur ketercapaian √ Sudah + terlaksana + standar. + Sudah + EVALUASI PENGALAMAN terlaksana + BELAJAR + Sudah + Guru membimbing siswa tentang terlaksana +22. bagaimana cara memaparkan hasil √ + Sudah + proyek di depan kelas. terlaksana + + Guru meminta siswa Sudah + terlaksana +23. mempresentasikan hasil kerja √ + kelompok di depan kelas. + + Guru memberikan kesempatan pada + + kelompok lain untuk menanggapi dan +24. memberikan masukan mengenai hasil √ + + kelompok yang presentasi. + + Guru melakukan kegiatan ice breaking + +25. untuk mengembalikan semangat √ + belajar. + + Guru memberikan penguatan hasil + +26. presentasi yang telah dilakukan. √ + + Guru memberikan apresiasi kepada + setiap kelompok dan penghargaan bagi +27. kelompok belajar yang paling aktif dan √ + hasil diskusi yang paling baik. + + Guru memberikan soal tes kemampuan +28. berpikir kritis kepada siswa untuk √ + + dikerjakan secara individu. + 146 + +No. Hal yang diamati Penilaian Keterangan + Pengamatan + + Ya Tidak + + Kegiatan Penutup + + Guru bersama siswa melakukan + +29. refleksi pembelajaran mengenai √ Sudah + materi pembelajaran pada pertemuan terlaksana + + ini. + + Guru meminta siswa untuk √ Sudah +30. menyampaikan perasaannya selama terlaksana + + mengikuti pelajaran. √ Sudah + terlaksana + Guru memberikan kesempatan + kepada peserta didik untuk +31. menyampaikan kesimpulan yang + didapat dari keberagaman budaya di + Indonesia. + + Guru menutup pelajaran dan secara √ Sudah + bergantian memberikan kesempatan terlaksana +32. kepada siswa lain untuk memimpin + berdoa bersama setelah selesai + pembelajaran. + 147 + +C. Hasil + +1) Soal Tes Siklus I + + SOAL TES SIKLUS I + +Pelajaran/BAB: IPAS/ Indonesia Kaya Budaya Nama : + +Topik : B. Kekayaan Budaya Indonesia No. Abs : + +Hari, tanggal : Nilai : + +Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan benar! +1. Bacalah cerita di bawah ini untuk menjawab pertanyaan dari abjad a-e! + + Di suatu hari terdapat seorang anak SD bernama Eva sedang + menghampiri teman-temannya yang bermain di taman. Ia memakai baju + sabrina dengan rok selutut yang dilengkapi juga menggunakan sepatu sneakers. + Ketika berpergian, Eva sering melihat orang-orang memakai baju kekurangan + bahan dan brand-brand dari luar negeri. Ia pun tertarik untuk menggunakan + budaya luar tersebut sehingga sekarang dia langsung memakai dan meniru gaya + berpakaian budaya luar tanpa disaring atau pikir ulang. Ketika Eva sampai di + taman, teman-temannya yang melihat merasa gaya berpakaian Eva terlalu + dewasa dan kurang cocok dipakainya. + + Jawablah pertanyaan di bawah ini sesuai dengan bacaan di atas! + + a) Menurut Anda bagaimana penampilan Eva? + b) Dari cerita di atas apabila hal tersebut terus dilakukan, menurut Anda + + apakah yang akan terjadi? + c) Upaya apa yang dapat Anda lakukan agar Eva dapat menghindari + + pemakaian budaya luar negeri tersebut? Berikan contohnya! + d) Bagaimanakah tanggapan Anda mengenai masih adanya siswa yang + + menggunakan budaya daerah di Indonesia? + e) Apa saja pakaian daerah di Indonesia dan berasal dari mana sajakah + + asalnya? + +2. Bacalah percakapan di bawah ini untuk menjawab pertanyaan dari abjad a-e! + Michelle : “Eh Putri kamu tadi lagi ngapain sih?” + +Putri : “Aku baru aja selesai menari jaipong.” +Michelle : “Apaan tuh tari jaipong? Kok terlihat jadul.” +Putri : “Tari jaipong itu adalah tarian tradisional yang berasal dari + + jawa Barat. Ini gak jadul kok, malah terlihat indah gemulai.” + 148 + +Michelle “Tapi kok lebih bagusan tarian modern aku lhoh, terlihat +Putri keren dan energik.” +Michelle +Putri : “Iya, tapi tari tradisional juga memiliki arti lhoh.” + +Michelle : “Masak sih?” +Putri : “Iya tari jaipong ini menceritakan tentang sifat wanita Sunda + +Michelle yang memiliki berbagai kelebihan, seperti pantang +Putri menyerah, dan energik, berani, ramah, lincah, mandiri dan + bertanggung jawab, namun tetap santun.” +Michelle +Putri : “Oh, tapi tarian aku ini berasal dari luar negeri lhoh, keren + kan.” + + : “Iya tapi alangkah baiknya kalau kita juga melestarikan + budaya lokal sebagai orang Indonesia agar budaya tersebut + tidak punah.” + + : “Begitu ya?” + + : “Iya makannya kamu harus banyak cari pengetahuan tentang + budaya yang ada di Indonesia terlebih budaya daerah atau + tradisional.” + + : “Oke deh nanti aku akan belajar tentang budaya Indonesia + lebih banyak.” + + : “Oke semangat!” + +Jawablah pertanyaan di bawah ini sesuai dengan isi percakapan di atas! + +a) Menurut Anda, bagaimanakah sikap Michelle? +b) Dari cerita di atas apabila Michelle tidak mau mempelajari budaya daerah + + Indonesia, menurut Anda apakah yang akan terjadi? +c) Bagaimana cara Anda membujuk Michelle agar tertarik mempelajari + + budaya daerah Indonesia? +d) Bagaimanakah tanggapan Anda mengenai sikap Putri? +e) Apa saja tarian daerah yang ada di Indonesia dan dari mana asalnya? + 149 + + Kunci Jawaban +1. Jawaban abjad a-e sebagai berikut: + + a) Pakaian yang digunakan Eva tidak sopan dan kurang cocok dipakai untuk + anak usia SD karena terlalu dewasa. + + b) Anak usia SD lebih mengenal budaya luar negeri yang semakin + berkembang dan menjadi tidak mengenal budaya daerah. + + c) Upaya yang harus dilakukan Eva untuk menghindari pemakaian budaya + luar negeri: +  Memberikan contoh dengan cara mengajaknya berpakaian sopan sesuai + di Indonesia. +  Mengenalkan pakaian-pakaian adat dengan mengajak ke pameran + budaya atau menonton video keberagaman. +  Mengajak memakai pakaian adat ketika peringatan hari besar, seperti + hari Kartini. + + d) Bagus dan sopan karena mau melestarikan budaya daerah. + e) Pakaian daerah di Indonesia : + +  Kebaya = Jawa Timur +  Ule Balang = Aceh +  Koto Gadang = Sumatera Barat + +2. Jawaban abjad a-e sebagai berikut: + a) Michelle anak yang mau menang sendiri dan bangga akan budaya luar + negeri. + b) Menjadi tidak tahu mengenai bahasa daerah sehingga budaya daerah akan + punah dan budaya luar negeri makin berkembang. + c) Cara membujuk Michelle agar tertarik mempelajari budaya daerah + Indonesia: +  Memberikan contoh dengan mengajaknya menonton tarian daerah. +  Mengajar ke festival pameran budaya. +  Memberi pembelajaran tentang kebudayaan daerah. + d) Sikap Putri baik mau menghargai dan melestarikan budaya daerah. + e) Tarian daerah yang ada di Indonesia : +  Tari Remo = Jawa Timur +  Tari Topeng = Jawa Barat +  Tari Serimpi = Jawa Tengah + 150 +2) Validasi Soal Tes Siklus I + 151 + 152 + +3) Soal Tes Siklus II + + SOAL TES SIKLUS II + +Pelajaran/BAB: IPAS/ Indonesia Kaya Budaya Nama : + +Topik : B. Kekayaan Budaya Indonesia No. Abs : + +Hari, tanggal : Nilai : + +Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan benar! +1. Bacalah cerita di bawah ini untuk menjawab pertanyaan abjad a-e! + + Di suatu Hari SDN 1 Manisrejo mengadakan pameran festival budaya + Indonesia. Pameran ini berisikan berbagai macam keberagaman budaya daerah + di Indonesia yang mana setiap kelasnya dari pulau yang berbeda-beda. Setiap + anak memakai pakaian adat daerah sesuai provinsi yang telah ditentukan dan + memerkan berbagai macam alat musik tradisional, makanan khas daerah dan + gambar-gambar atau lukisan rumah adat. Namun di kelas 4A terdapat 5 siswa + yang tidak mau menggunakan pakaian adat daerah. Mereka hanya + menggunakan celana pensil, rok, dan baju seadanya. Ke lima anak tersebut + berjalan santai menuju tempat puncak acara. Mereka tidak mau mengunjungi + setiap bilik yang berisikan keberagaman budaya daerah. Mereka berpikir itu + adalah hal kuno yang tidak perlu dipamerkan di zaman yang serba modern + seperti sekarang. Padahal keberagaman budaya daerah penting untuk + dilestarikan agar kita sebagai generasi penerus bangsa tidak lupa akan budaya + daerah dan dapat memberikan penghormatan terhadap leluhur kita serta + sebagai penguat identitas lokal. + Jawablah pertanyaan di bawah ini sesuai dengan bacaan di atas! + a. Menurut Anda, bagaimanakah sikap ke lima anak yang tidak mau memakai + + pakaian adat tersebut? + b. Menurut Anda, apa yang akan terjadi apabila kita tidak bisa menghargai + + kebudayaan daerah? + c. Bagaimana cara Anda membujuk ke lima anak tersebut agar mau ikut serta + + melestarikan budaya daerah di Indonesia? + d. Bagaimanakah tanggapan Anda mengenai pentingnya melestarikan + + keberagaman budaya daerah? + e. Sebutkan 3 saja keberagaman budaya yang ada di provinsi Sumatera Barat! + +2. Bacalah percakapan di bawah ini untuk menjawab pertanyaan dari abjad a-e! + +Ibu : “Ndok arep nangdi?” + 153 + +Siti : “Kula badhe medhal teng toko buku Bu, kalihan rencang kula +Ibu Shinta.” +Siti +Siti : “Oalah yowes ati-ati ya Sit, muleh e aja sore-sore.” +Chika : “Nggih Bu.” +Siti +Chika “Ayo Chik.” +Siti : “Sit kamu ngomong apa tadi? Bahasa daerah ya?” + : “Iya Chik, aku kalau ngomong sama orang yang lebih tua +Chika +Siti memakai basa jawa. + : “Kenapa begitu? Kan pakai bahasa Indonesia tidak masalah.” +Chika : “Aku dari kecil sudah diajarkan seperti itu Chik, selain untuk +Siti + menghormati orang yang lebih tua, kita juga dapat +Chika mempertahankan bahasa daerah kita agar tidak hilang.” + : “Iya tapikan sekarang udah modern bahasanya juga udah gaul- + gaul tau.” + : “Alangkah baiknya kita sebagai generasi penerus bangsa mau + tetap melestarikan bahasa dan budaya daerah di Indonesia + Chik, kita tidak boleh lupa dengan peninggalan sejarah ini. + Kalau bukan kita yang melestarikan mau siapa lagi?” + : “Ya itu sih kamu aja Sit, aku enggak ah gak ngerti.” + : “Nah kalau gak ngerti ayo kita belajar bareng melestarikan + budaya daerah dari yang gmpang-gampang seperti + menggunakan bahasa daerah.” + : “Udahlah Sit, zamannya udah beda realistis aja saat ini + bagaimana.” + +Jawablah pertanyaan di bawah ini sesuai dengan isi percakapan di atas! + +a. Menurut Anda, bagaimanakah sikap Chika? +b. Menurut Anda, apa yang akan terjadi apabila kita tidak bisa + + mempertahankan kebudayaan daerah? +c. Bagaimana cara Anda membujuk Chika agar mau ikut serta melestarikan + + budaya daerah di Indonesia? +d. Bagaimanakah tanggapan Anda mengenai sikap Siti yang masih mau + + menggunakan bahasa daerah? +e. Sebutkan 3 saja keberagaman budaya yang ada di provinsi Jawa Tengah? + 154 + + Kunci Jawaban +1. Jawaban abjad a-e sebagai berikut: + + a) Sikap kelima anak tersebut egois, mau menang sendiri, dan kurang + menghargai kebudayaan daerah. + + b) Budaya asing yang masuk akan terus berkembang sedangkan budaya + daerah Indonesia semakin hilang. + + c) Cara membujuk ke lima anak tersebut agar mau ikut serta melestarikan + budaya daerah di Indonesia: +  Tetap mengajak ke pameran budaya atau menonton video + keberagaman budaya. +  Mengajak memakai pakaian adat ketika peringatan hari besar, seperti + hari Kartini. +  Memberi tahu pentingnya melestarikan budaya daerah. + + d) Melestarikan kebudayaan daerah penting karena dilestarikan agar kita + sebagai generasi penerus bangsa tidak lupa akan budaya daerah dan dapat + memberikan penghormatan terhadap leluhur kita serta sebagai penguat + identitas lokal. + + e) Keberagaman budaya yang ada di provinsi Sumatera Barat: +  Pakaian koto gadang +  Makanan rendang +  Tari piring + +2. Jawaban abjad a-e sebagai berikut: + a) Sikap Chika yaitu tidak peduli, tidak mau tahu dan tidak mengahargai + Bahasa daerah. + b) Budaya asing yang masuk akan terus berkembang sedangkan budaya + daerah Indonesia semakin hilang. + c) Cara membujuk Chika agar mau ikut serta melestarikan budaya daerah di + Indonesia: +  Memberikan contoh dengan mengajaknya menonton tarian daerah. +  Mengajar ke festival pameran budaya. +  Memberi pembelajaran tentang kebudayaan daerah. + d) Sikap Siti baik, sopan dan santu karena mau menghargai dan + melestarikan budaya daerah. + e) Keberagaman budaya yang ada di provinsi Jawa Tengah: +  Pakaian kebaya jangkep +  Makanan tempe mendoan +  Tari Serimpi + 155 +4) Validasi Soal Tes Siklus II + 156 + Lampiran 3 Data Penelitian +A. Daftar Nilai Siswa Pra siklus + + DAFTAR NILAI SISWA SEBELUM PENERAPAN MODEL + + PROJECT BASED LEARNING + +No. Nama Nilai Keterangan (KKM 75) + 63 Tidak Tuntas +1. ARK 57 Tidak Tuntas + 77 Tuntas +2. AIF 60 Tidak Tuntas + 63 Tidak Tuntas +3. ER 77 Tuntas + 77 Tuntas +4. IAPS 53 Tidak Tuntas + 57 Tidak Tuntas +5. JRFP 90 Tuntas + 60 Tidak Tuntas +6. KDS 57 Tidak Tuntas + 60 Tidak Tuntas +7. RDM 77 Tuntas + 63 Tidak Tuntas +8. SYC 77 Tuntas + 1068 +9. TFS 67 + 6 +10. VNF 37,5 + 10 +11. VPRS + 62,5% +12. ZZL 37,5 + +13. MAFH + +14. AAD + +15. FMA + +16. FGCS + + Jumlah Nilai + + Rata-Rata + + Siswa Tuntas + + Presentase Tuntas + + Siswa Tidak Tuntas + +Presentase Tidak Tuntas + + Ketuntasan Klasikal + + 157 + 158 + +B. Daftar Nilai Siswa Siklus I + +DATA HASIL TES KEMAPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA SIKLUS I + +No Nama Nilai Keterangan (KKM 75) + 87 Tuntas +1. ARK 67 + 80 Tidak Tuntas +2. AIF 63 Tuntas + 67 +3. ER 80 Tidak Tuntas + 77 Tidak Tuntas +4. IAPS 70 + 80 Tuntas +5. JRFP 93 Tuntas + 60 Tidak Tuntas +6. KDS 80 Tuntas + 77 Tuntas +7. RDM 83 Tidak Tuntas + 67 Tuntas +8. SYC 90 Tuntas + 93 Tuntas +9. TFS 60 Tidak Tuntas + 76 Tuntas +10. VNF 10 + +11. VPRS 62,5% + 6 +12. ZZL + 37,5% +13. MAFH 62,5% + +14. AAD + +15. FMA + +16. FGCS + + Nilai Tertinggi + + Nilai Terendah + + Rata-Rata + + Siswa Tuntas + + Presentase Tuntas + + Siswa Tidak Tuntas + +Presentase Tidak Tuntas + + Ketuntasan Klasikal + 159 + +C. Daftar Nilai Siswa Siklus II + +DATA HASIL TES KEMAPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA SIKLUS II + +No Nama Nilai Keterangan (KKM 75) + 90 Tuntas +1. ARK 67 + 83 Tidak Tuntas +2. AIF 80 Tuntas + 87 Tuntas +3. ER 93 Tuntas + 87 Tuntas +4. IAPS 73 Tuntas + 83 +5. JRFP 93 Tidak Tuntas + 80 Tuntas +6. KDS 87 Tuntas + 77 Tuntas +7. RDM 87 Tuntas + 77 Tuntas +8. SYC 93 Tuntas + 93 Tuntas +9. TFS 67 Tuntas + 82 +10. VNF 14 + +11. VPRS 87,5% + 2 +12. ZZL + 12,5% +13. MAFH 87,5% + +14. AAD + +15. FMA + +16. FGCS + + Nilai Tertinggi + + Nilai Terendah + + Rata-Rata + + Siswa Tuntas + + Presentase Tuntas + + Siswa Tidak Tuntas + +Presentase Tidak Tuntas + + Ketuntasan Klasikal + Lampiran 4 Dokumentasi +A. Dokumentasi Siklus I + + Kegiatan perencanaan pembelajaran siklus I + + Kegiatan pelaksanaan pembelajaran siklus I + 160 + 161 +Siswa Mengerjakan Soal Tes Siklus I + + Lembar Jawaban Siswa Siklus I + 162 +B. Dokumentasi Siklus II + + Kegiatan perencanaan pembelajaran siklus II + + Kegiatan Pelaksanaan Pembelajaran Siklus II + 163 +Siswa Mengerjakan Soal Tes Siklus II + + Lembar Jawaban Siswa Siklus II + Lampiran 5 Surat +A. Surat Izin Penelitian + + 164 + 165 +B. Surat Balasan + Lampiran 6 Lembar Persetujuan Judul Skripsi + 166 + Lampiran 7 Lembar Persetujuan Ujian Skripsi + 167 + Lampiran 8 Berita acara dan Validasi Pustaka + 168 + 169 + 170 + 171 + 172 + 173 + 174 + 175 + 176 + Lampiran 9 Daftar Riwayat Hidup + Riwayat Hidup + + Penulis bernama lengkap Alifia Navrielda Putri. Lahir di Kota Madiun +pada tanggal 14 November 2001. Penulis merupakan anak pertama dari 3 +bersaudara. Penulis beralamat di Jalan Indra Manis IV/18, Kec Taman, Kota +Madiun. Penulis memulai pendidikannnya di SDN 03 Manisrejo kemudian +pendidikan selanjutnya di SMPN 4 Madiun lalu ke jenjang SMAN 5 Madiun. Saat +ini penulis sedang menempuh pendidikan S1 jurusan Pendidikan Guru Sekolah +Dasar di Universitas PGRI Madiun angkatan 2020. Pengalaman organisasi yang +diikuti penulis adalah pramuka di Universitas PGRI Madiun. Penulis pernah +mengikuti Seminar Karya Ilmiah dasar sebagai pemakalah pada tahun 2024. Sekian +dari penulis semoga skripsi berjudul Penerapan Model Project Based Learning +untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa kelas 4 SDN Patihan +bermanfaat untuk pembaca. + + 177 + diff --git a/storage/app/books/mtk.pdf b/storage/app/books/mtk.pdf new file mode 100755 index 0000000..fa367bf --- /dev/null +++ b/storage/app/books/mtk.pdf @@ -0,0 +1,6691 @@ + MATEMATIKA MATEMATIKA DASAR + DASAR + Rahmawati Patta, Latri, Bahar Rahmawati Patta Latri Bahar + Matematika merupakan ilmu dasar yang sangat diperlukan untuk + landasan bagi teknologi dan pengetahuan modern. Apakah MATEMATIKA + matematika itu?. tentu tidak dapat dengan mudah dijawab dengan DASAR + satu kalimat begitu saja. Berbagai pendapat muncul tentang + pengertian matematika tersebut, dipandang dari pengetahuan dan + pengalaman masing-masing yang berbeda. Para pakar matematika + memberi definisi atau pengertian tentang matematika menurut sudut + pandang masing-masing. Ada yang mengatakan bahwa matematika + adalah bahasa simbol; matematika merupakan bahasa numerik; + matematika adalah bahasa yang dapat menghilangkan sifat kabur, + majemuk, dan emosional; matematika adalah metode berpikir logis; + matematika adalah sarana berpikir; matematika adalah logika pada + masa dewasa; matematika adalah ratunya ilmu dan sekaligus menjadi + pelayannya; matematika adalah sains mengenai kuantitas dan besaran; + matematika adalah sains yang bekerja menarik kesimpulan- + kesimpulan yang perlu; matematika adalah sains formal yang murni; + matematika adalah sains yang memanipulasi simbol; matematika + adalah ilmu tentang bilangan dan ruang; matematika adalah ilmu yang + memmpelajari hubungan pola, bentuk, dan struktur; matematika + adalah ilmu yang abstrak dan deduktif, matematika adalah aktivitas + manusia. Bagian yang dijabarkan dalam buku ini diantaranya : + Pemecahan Masalah Matematika, Penalaran Matematika, Logika, + Himpunan, Relasi Dan Fungsi, Persamaan Dan Pertidaksamaan, + Trigonometri + +BADAN PENERBIT UNM + +Alamat: Gedung Perpustakaan Lt.1 Kampus UNM Gunung Sari Baru +Jl. Raya Pendidikan 90222, Kota Makassar, Sulawesi Selatan +Telp/WA +62 852-5522-0015 +62 853-9750-1407 +62 822-3292-8654 +Email: badanpenerbit@unm.ac.id | badanpenerbitunm@gmail.com +website: badanpenerbit.unm.ac.id + MATEMATIKA + DASAR + + Rahmawati Patta + Latri + Bahar + +Reviewer: Erma Suryani Sahabuddin + Matematika Dasar + + Hak Cipta @ 2021 oleh Rahmawati Patta, Latri, Bahar + + Hak cipta dilindungi undang-undang + Cetakan pertama, Oktober 2021 + + Diterbitkan oleh Badan Penerbit UNM + Gedung Perpustakaan Lt. 1 Kampus UNM Gunungsari + + Jl. Raya Pendidikan 90222 + Tlp./Fax. (0411) 865677 / (0411) 861377 + + Email: badanpenerbit@unm.ac.id & + badanpenerbitunm@gmail.com + + Website: badanpenerbit.unm.ac.id + +Layouter & Desain Cover: Muhammad Rafli Pradana, S.Ds. + (Badan Penerbit UNM) + + ANGGOTA IKAPI No. 011/SSL/2010 + ANGGOTA APPTI No. 006.063.1.10.2018 + + Dilarang memperbanyak buku ini dalam bentuk + apapun tanpa izin tertulis dari penerbit + + v, 183 hlm; 23 cm + + ISBN 978-623-387-008-5 + KATA PENGANTAR + + Puji syukur dipanjatkan kepada Illahi Rabbi Sang +Penguasa Jagat Raya, yang menciptakan segalanya dan +mengatur kehidupan makhluknya yang begitu sistematis +sehingga apapun yang terjadi di semua Alam tidak ada yang +secara kebetulan. Marilah kita sejenak mengirimkan doa +kepada para nabi Allah yang menyampaikan kebenaran +Tauhid. Kemudian terkhusus buat Rasulullah Muhammad saw +marilah kita bersalawat kepadanya semoga kita termasuk +orang yang mendapatkan syafaat di kehidupan selanjutnya. + + ”Apakah matematika itu?” tidak dapat dengan mudah +dijawab dengan satu kalimat begitu saja. Berbagai pendapat +muncul tentang pengertian matematika tersebut, dipandang +dari pengetahuan dan pengalaman masing-masing yang +berbeda. Para pakar matematika memberi definisi atau +pengertian tentang matematika menurut sudut pandang +masing-masing. Ada yang mengatakan bahwa matematika +adalah bahasa simbol; matematika merupakan bahasa +numerik; matematika adalah bahasa yang dapat +menghilangkan sifat kabur, majemuk, dan emosional; +matematika adalah metode berpikir logis; matematika adalah +sarana berpikir; matematika adalah logika pada masa dewasa; +matematika adalah ratunya ilmu dan sekaligus menjadi +pelayannya; matematika adalah sains mengenai kuantitas dan +besaran; matematika adalah sains yang bekerja menarik +kesimpulan-kesimpulan yang perlu; matematika adalah sains +formal yang murni; matematika adalah sains yang + + ( i ) Dasar Matematika + memanipulasi simbol; matematika adalah ilmu tentang +bilangan dan ruang; matematika adalah ilmu yang +memmpelajari hubungan pola, bentuk, dan struktur; +matematika adalah ilmu yang abstrak dan deduktif, +matematika adalah aktivitas manusia. + + Mahasiswa yang sedang menuntuk ilmu pengetahuan +di perguruan tinggi harus mempelajari matematika, paling +tidak matematika dasar. Untuk membantu mahasiswa maka +kami berusaha menyusun bahan ajar ini, terutama digunakan +dalam mata kuliah pengantar dasar matematika pada +semester dua. + + Penyusun menyadari bahwa baik isi maupun cara +penyusunan buku ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh +karena itu, segala saran, tegur sapa, dan kritik yang +membangun sangat penyusun harapkan. Demikianlah, +mudah-mudahan buku ini bergunan dan dapat dimanfaatkan +sebaik-baiknya. + + Makassar, September 2020 + + Penulis + + ( ii ) Dasar Matematika + DAFTAR ISI + +KATA PENGANTAR (i) + +DAFTAR ISI ( ii ) + +BAB 1 PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA (1) + +A. Pengertian Masalah (2) + +B. Masalah Rutin dan Tidak Rutin (6) + +C. Klasifikasi Masalah Matematika (11) + +D. Pembelajaran Pemecahan Masalah Matematika (13) + +E. Langkah-langkah Pemecahan Masalah (15) + +F. Rangkuman (30) + +G. Latihan (31) + +BAB 2 PENALARAN MATEMATIKA (35) + +A. Penalaran Induktif (38) + +B. Penalaran Deduktif (39) + +C. Langkah-Langkah Dalam Penalaran + +Induktif & Deduktif (41) + +D. Rangkuman (44) + +E. Latihan (45) + +BAB 3 LOGIKA (47) + +A. Pernyataan (48) + +B. Kalimat Terbuka (48) + +C. Pernyataan (48) + +D. Ingkaran dari Pernyataan (50) + +E. Pernyataan Tunggal dan Majemuk (50) + +F. Tabel Kebenaran Pernyataan (51) + + ( iii ) Dasar Matematika + G. Operasi Logika (53) + +H. Konjungsi (54) + +I. Disjungsi (55) + +J. Implikasi (56) + +K. Biimplikasi (57) + +L. Bentuk-Bentuk Pernyataan (58) + +M. Kuantor (61) + +N. Negasi Pernyataan Berkuantor (63) + +O. Penarikan Kesimpulan (64) + +P. Penerapan Logika Matematika (71) + +Q. Rangkuman (72) + +R. Latihan (73) + +BAB 4 HIMPUNAN (77) + +A. Pengertian Himpunan (78) + +B. Notasi dan Anggota Himpunan (78) + +C. Cara Menyatakan Himpunan (79) + +D. Macam-Macam Himpunan (82) + +E. Sifat-Sifat Operasi Himpunan (85) + +F. Operasi Himpunan (86) + +G. Diagram Venn (91) + +H. Kardinilitas (91) + +I. Hubungan Antara Himpunan (92) + +J. Konsep Himpunan dalam Pemecahan Masalah (95) + +K. Rangkuman (98) + +L. Latihan (99) + +BAB 5 RELASI DAN FUNGSI (103) +A. Product Cartesius (105) +B. Relasi pada Himpunan (107) +C. Sifat-sifat pada Relasi (108) +D. Hubungan Relasi dengan Fungsi (114) +E. Macam-macam Fungsi (116) +F. Sifat-sifat Fungsi (121) +G. Fungsi Komposisi (124) +H. Fungsi Invers (126) + + ( iv ) Dasar Matematika + I. Invers Fungsi Komposisi (129) +J. Rangkuman (130) +K. Latihan (131) + +BAB 6 PERSAMAAN DAN PERTIDAKSAMAAN (135) +A. Persamaan Linier (136) +B. Persamaan Kuadrat (143) +C. Pertidaksamaan Linier (146) +D. Pertidakasamaan Kuadrat (149) +E. Aplikasi Persamaan dan Pertidaksamaan Liner (151) +F. Rangkuman (154) +G. Latihan (156) + +BAB 7 TRIGONOMETRI (161) + +A. Pengertian Trigonometri (162) + +B. Satuan Sudut (162) + +C. Perbandingan Trigonometri (163) + +D. Nilai trigonometri sudut istimewa (166) + +E. Perbandingan trigonometri di berbagai kuadran (167) + +F. Identitas Trigonometri (170) + +G. Aturan Sinus dan Cosinus (172) + +H. Luas Segitiga (175) + +I. Rangkuman (177) + +J. Latihan (179) + +DAFTAR PUSTAKA (181) + + ( v ) Dasar Matematika + BAB 1 + + PEMECAHAN MASALAH + MATEMATIKA + + PENDAHULUAN + Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang +semakin cepat menuntut setiap manusia untuk mampu +meyesuaikan diri guna mengikuti perubahan-perubahan yang +terjadi, serta mampu memecahkan masalah yang dihadapinya +secara cermat, tepat dan kreatif. Tujuan belajar matematika +yang tertecantum dalam kurikulum mata pelajaran +matematika di semua jenjang pendidikan, yaitu mengarah +kepada kemampuan siswa pada pemecahan masalah yang +dihidapi dalam kehidupan sehari-hari dengan menjadikan +siswa kreatif, dam inovatif. + Masalah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari +kehidupan manusia. Setiap manusia hidup selalu berhadapan +dengan masalah. Yang berbeda adalah bagaimana mereka +menyikapi masalah itu. Ada yang menghindar dan ada yang +berusaha mencari pemecahan dari masalah itu. Orang yang +ingin selalu memecahkan masalah yang dihadapinya adalah +lebih baik dari pada orang yang selalu menghindar dari +masalah yang dihadapi, karena masalah itu tidak akan hilang +jika tidak diselesaikan. + + 1 | Pemecahan Masalah Matematika + A. PENGERTIAN MASALAH + + Suatu pertanyaan akan menjadi masalah, hanya jika +pertanyaan itu menunjukkan adanya suatu tantangan +(challenge) yang tidak dapat dipecahkan oleh suatu prosedur +rutin (routine procedure) yang sudah diketahui si pelaku, +seperti yang dinyatakan Cooney, et al. (1975: 242) berikut: “… +for a question to be a problem, it must present a challenge that +cannot be resolved by some routine procedure known to the +student.” + + Bell (1978) mengemukakan bahwa suatu situasi +dikatakan masalah bagi seseorang jika ia menyadari +keberadan situasi tersebut, mengakui bahwa situasi tersebut +memerlukan tindakan dan tidak dengan segera dapat +menemukan pemecahannya. + + Hudoyo (1990) lebih tertarik melihat masalah, dalam +kaitannya dengan prosedur yang digunakan seseorang untuk +menyelesaikannya berdasarkan kapasitas kemampuan yang +dimilikinya. Selanjutnya ditegaskan bahwa seseorang mungkin +dapat menyelesaikan suatu masalah dengan prosedur rutin, +namun orang lain dengan cara tidak rutin. + + Baroody (1993) menyatakan bahwa ”masalah” dalam +matematika adalah suatu soal yang di dalamnya tidak +terdapat prosedur rutin yang dengan cepat dapat digunakan +untuk menyelesaikan masalah dimaksud. Masalah dapat juga +berarti suatu tugas yang apabila kita membacanya, melihatnya +atau mendengarnya pada waktu tertentu, dan kita tidak +mampu untuk segera menyelesaikannya pada saat itu juga +(Gough dalam Coffey, Kolsch dan Mackinlay, 1995). + +Matematika Dasar | 2 + McGivney dan DeFranco (1995) memahami bahwa +setiap masalah dalam pembelajaran matematika +mengandung 3 unsur penting, yaitu : (1) informasi, (2) operasi +dan (3) tujuan. + + Menurut National Council of Teachers of Mathematics +(NCTM) (2000: 24) masalah mempunyai ciri: (1) nonroutine, (2) +long, (3) predicated on the high-level use of fact, concepts and +skills, (4) cast in context and (5) “focused on the students” abilities +to develop and use strategies to solve a problem. + + Menurut Charles (dalam Kaur Berinderjeet, 2008) +suatu masalah adalah tugas dimana : (1) seseorang ada +keinginan untuk menghadapi serta ada keinginan untuk +menemukan solusi, (2) seseorang tidak mempunyai prosedur +yang siap digunakan untuk menemukan solusi, dan (3) +seseorang harus berusaha untuk menemukan solusi. Dari tiga +komponen tugas pada diri seseorang tersebut mengindikasi- +kan pentingnya masalah. Pertama, suatu keinginan atau +kebutuhan pemecah masalah (solver) untuk menemukan +solusi. Kedua, solusi tersebut tidak bisa diperoleh secara +langsung atau tiba-tiba dengan hanya berdasar pada +pengetahuan. Ketiga, pemecah masalah (solver) harus +membuat suatu usaha nyata untuk tiba pada suatu solusinya. + + Berdasarkan beberapa pengertian tentang masalah +(problem) yang telah dikemukakan di atas, maka dapat +dikatakan bahwa suatu kondisi tertentu merupakan suatu +masalah bagi seseorang, tetapi belum tentu merupakan +masalah bagi orang lain. Dengan demikian, masalah +merupakan suatu kondisi yang relatif.. + + Suatu pertanyaan yang merupakan permasalahan bagi +siswa SD, mungkin bukan permasalahan bagi Anda sebagai + + 3 | Pemecahan Masalah Matematika + mahasiswa, sebab bagi siswa SD untuk menjawab pertanyaan +tersebut memerlukan proses penalaran yang rumit, +sedangkan bagi Anda untuk menjawab pertanyaan tersebut +memerlukan proses penalaran yang rutin. Sebaliknya, apabila +suatu pertanyaan merupakan permasalahan bagi Anda, +apakah pertanyaan tersebut merupakan permasalahan bagi +siswa SD? Tentu saja pertanyaan tersebut bagi siswa SD bukan +merupakan permasalahan, karena siswa SD memang belum +siap untuk mampu menjawab permasalahan Anda. Demikian +juga permasalahan yang dihadapi oleh ilmuwan, misalnya ahli +astronomi, tentunya bagi kita sebagai orang yang tidak +mempelajari permasalahan yang berkaitan dengan +keastronomian, bukan merupakan masalah. Masalah yang +sering dialami oleh sebagian besar siswa SD + +Contoh 1.1 +Berapakah jumlah dari 1 + 2 + 3 + . . . + 1000? + +Bagi siswa SD pertanyaan tersebut merupakan permasalahan, +karena siswa SD tidak mempunyai aturan/hukum tertentu +yang segera dapat dipergunakan untuk menemukan jawaban +pertanyaan tersebut. Hal ini berarti pertanyaan tersebut tidak +dapat dijawab dengan prosedur rutin, pertanyaan tersebut +meskipun dapat dimengerti, tetapi pertanyaan tersebut +merupakan tantangan untuk dijawab yang sifatnya individu +(tingkat berfikir siswa) dan pengetahuan yang telah dimiliki, +serta bergantung pada waktu. + +Contoh 1.2: +Menghitung suatu percobaan tentang melambungkan sebuah +dadu yang homogen oleh 25 siswa kelas VI secara bergantian, +frekuensi munculnya mata dadu 1 sebanyak 4 kali, mata dadu +2 sebanyak 3 kali, mata dadu 3 sebanyak 7 kali, mata dadu 4 + +Matematika Dasar | 4 + sebanyak 5 kali, mata dadu 5 sebanyak 4 kali, mata dadu 6 +sebanyak 2 kali, tentukan rataan dari data tersebut. + +Pemecahan masalah yang sering ditunjukkan oleh siswa + +berkaitan dengan kasus di atas adalah mereka menjumlahkan + +frekuensi dari data tersebut, kemudian membaginya dengan + +banyaknya peristiwa  4  3  7  5  4  2  25  4,16 . Hal +  6 6  + +ini adalah suatu masalah sebab walaupun siswa mampu + +memecahkan masalah tersebut dengan cepat, namun + +jawabannya tidak benar. Akan tetapi jika guru meluangkan + +waktu, walaupun hanya sebentar untuk menjelaskan hal + +tersebut, maka siswa pada umumnya akan mampu + +memecahkan masalah tersebut dengan baik dan benar. + +Contoh 1.3: + + Orang yang menghadapi permasalahan dalam +matematika, dapat digolongkan ke dalam empat tipe, yaitu: (1) +tipe pertama, adalah orang yang memiliki motivasi (keinginan +menyelesaikannya) kurang atau rendah dan memiliki +kompetensi (kemampuan) juga rendah, (2) tipe kedua, adalah +orang yang memiliki motivasi tinggi, akan tetapi +kompetensinya rendah, (3) tipe ketiga, adalah orang yang +memiliki motivasi rendah, akan tetapi ia sebenarnya memiliki + + 5 | Pemecahan Masalah Matematika + kompetensi tinggi, dan (4) tipe keempat, adalah orang yang +memiliki motivasi tinggi dan kompetensi yang tinggi pula. +Dari keempat tipe tersebut, tentunya tipe yang keempat +senantiasa diharapkan tidaklah mudah dilakukan, karena +perlu dibutuhkan ketelatenan, keuletan dan kesabaran. + +B. MASALAH RUTIN DAN MASALAH TIDAK RUTIN + + Suatu masalah biasanya memuat suatu situasi yang +mendorong seseorang untuk menyelesaikannya akan tetapi +tidak tahu secara langsung apa yang harus dikerjakan untuk +menyelesaikannya. + + Suatu soal dapat dipandang sebagai masalah, +merupakan hal yang sangat relatif. Suatu soal yang dianggap +sebagai masalah bagi seseorang, bagi orang lain mungkin +hanya merupakan hal yang rutin belaka. Dengan demikian, +guru perlu berhati-hati dalam menentukan soal yang akan +disajikan sebagai pemecahan masalah. Bagi sebagian besar +guru, untuk memperoleh atau menyusun soal yang benar- +benar bukan merupakan masalah yang rutin bagi siswa +termasuk pekerjaan yang sulit. Akan tetapi hal ini akan dapat +diatasi antara lain melalui pengalaman dalam menyajikan soal +yang bervariasi baik bentuk, tema masalah, tingkat kesulitan, +serta tuntutan kemampuan intelektual yang ingin dicapai atau +dikembangkan pada siswa. + + Untuk memudahkan dalam pemilihan soal, perlu +dilakukan pembedaan antara soal rutin dan soal tidak rutin. +Soal rutin biasanya mencakup aplikasi suatu prosedur +matematika yang sama atau mirip dengan hal yang baru +dipelajari. Sedangkan dalam masalah tidak rutin, untuk +sampai pada prosedur yang benar diperlukan pemikiran yang +lebih mendalam. Menurut hasil penelitian The National + +Matematika Dasar | 6 + Assessment di Amerika Serikat mengindikasikan bahwa siswa +SD pada umumnya menghadapi kesulitan dalam +mengahadapi soal tidak rutin yang memerlukan analisis dan +proses berfikir mendalam. + + Pada tingkat sekolah dasar, masalah matematika +dalam buku teks tertentu jarang menyajikan tentang +bagaimana untuk mengembangkan ketrampilan berfikir +matematika siswa. Para siswa harus diberikan masalah yang +menarik dan menantang sehingga mereka akan memperoleh +pengalaman dalam menganalisa informasi dan mengembang- +kan pandangan menjadi suatu hubungan matematis. Masalah +tidak rutin lebih kompleks daripada masalah rutin, sehingga +strategi untuk memecahkan masalah mungkin tidak bisa +muncul secara langsung, dan membutuhkan tingkat +kreativitas dan orisinalitas yang tinggi dari si pemecah +masalah (solver). Oleh karena itu tujuan terpenting dari +pembelajaran matematika seharusnya untuk membangun +kemampuan siswa kita dalam memecahkan masalah. +Meskipun sebagian guru percaya bahwa kemampuan +memecahkan masalah terbentuk secara otomatis dari +penguasaan keterampilan berhitung. Hal tersebut tidak +sepenuhnya benar. Pemecahan masalah perlu ditekankan +pada pembelajaran matematika sejak dini/ sejak awal. + + Siswa yang sedang belajar matematika dan terbiasa +dengan soal atau masalah yang tidak rutin, maka siswa +tersebut akan terlatih dengan menerapkan berbagai konsep +matematika dalam situasi baru, sehingga pada akhirnya +mereka akan mampu menggunakan berbagai konsep ilmu +yang telah mereka pelajari untuk memecahkan masalah +dalam kehidupan sehari-hari mereka. + + 7 | Pemecahan Masalah Matematika + Contoh 1.4: +Perhatikan beberapa soal berikut : + +1. 3194 6754 + 5346 8968 + 8877 7629 + + + ……… + + ……….. + +2. Pada hari Senin ada 5479 orang yang menonton film, + 3477 orang menonton pada hari Selasa dan 6399 orang + menonton pada hari Rabu. Berapa jumlah orang yang + menonton dalam tiga hari? + +3. Gunakan tiap angka 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9 paling sedikit + satu kali untuk membentuk tiga buah bilangan empat- + angka yang jumlahnya 9636! + +4. Siswa kelas V SDN “Gatotkaca” akan pergi berkemah. Ada + 46 orang penumpang yang akan ikut, yaitu terdiri dari + siswa-siswi dan guru pembimbing. Alat transportasi yang + dapat di pilih ada 2, yaitu mobil Kijang dan Colt L-300. + +Kijang Colt L-300 + +Tempat duduk: 6 orang Tempat duduk : 8 orang + +a) Apabila menggunakan mobil Kijang, berapa buah mobil + Kijang yang dibutuhkan untuk pergi berkemah? + +b) Apabila menggunakan mobil Colt L-300, berapa buah + mobil Colt L-300 yang dibutuhkan untuk pergi berkemah? + +Matematika Dasar | 8 + c) Apabila tarip carter sebuah mobil Kijang adalah Rp. + 600.000,-, dan sebuah mobil Colt L-300 adalah Rp. + 750.000,- ; berapakah tarip termurahnya? + +Panitia memutuskan ke 46 penumpang supaya membawa +semua perlengkapannya yang dimasukkan ke dalam 14 kotak +(dus) yang ukurannya sama, maka rinciannya: + +Kijang Colt L-300 + +Tempat duduk : 4 orang Tempat duduk : 6 orang +Barang : 3 kotak (dus) Barang : 2 kotak (dus) + +d) Apabila panitia memutuskan untuk mencarter mobil Colt + L-300 saja, berapa buah mobil Colt L-300 yang mereka + perlukan? Catatan: demi keselamatan dalam perjalanan, + tidak ada dus yang diletakkan di atas jok mobil. + +e) Bagaimana seandainya panitia mencarter mobil Kijang + saja, apa perbedaannya? Apa persamaannya? + + 9 | Pemecahan Masalah Matematika + Soal no (1) dan (2) merupakan contoh masalah rutin +karena permasalahan yang terkandung didalamnya +merupakan permasalahan yang berkaitan dengan operasi +hitung, yaitu penjumlahan. Meskipun soal no (2) merupakan +soal cerita, namun bagi sebagian besar anak SD, memilih +operasi hitung yang sesuai dapat mengkaitkan dengan soal no +(1) tentang penjumlahan sehingga operasi yang digunakan +untuk menyelesaikan soal no (2) adalah penjumlahan. +Sedangkan untuk soal no (3) merupakan contoh masalah tidak +rutin karena untuk memperoleh jawaban yang cepat dan +benar, siswa dituntut melakukan penghitungan untuk +berbagai kemungkinan pasangan bilangan. + + Bagi mereka yang memiliki sense of number cukup +tinggi, mungkin bisa lebih efisien dalam proses pencarian +jawaban yang tepat. Sebagai contoh, seorang anak menyadari +bahwa jumlah dari tiga bilangan-bilangan dengan ujung-ujung +1, 3 dan 5, secara bersamaan. Untuk dapat menyelesaikan +soal ini dengan baik, seoang anak tidak cukup hanya memiiki +pengetahuan prasyarat. Sedangkan untuk soal no (4) a, b, c +dapat diselesaikan dengan pengerjaan sederhana atau +menggunakan algoritma perhitungan biasa. + + Oleh karena itu, dapat kita simpulkan bahwa soal no 4. +a, b, dan c termasuk masalah rutin, untuk soal no 4. d dan e +mempunyai tingkat kesulitan yang berbeda dibandingkan soal +no 4. a, b, c. Seorang siswa yang dihadapkan dengan soal no +4. d dan e ini, harus menentukan strategi yang tepat sebelum +memulai untuk memecahkan pertanyaan tersebut. Oleh +karena itu, soal no 4. d dan e merupakan masalah tidak rutin. + +Matematika Dasar | 10 + C. KLASIFIKASI MASALAH MATEMATIKA + + Masalah di dalam matematika dapat diklasifikasi +dalam dua jenis (Pusat Kurikulum, 2002 a, b, dan c), yaitu: + a. Penemuan (Problem to find), yaitu mencari, menentukan, + + atau mendapatkan nilai atau objek tertentu yang tidak + diketahui dari soal serta memenuhi kondisi atau syarat + yang sesuai dengan soal. + b. Pembuktian (Problem to prove), yaitu prosedur untuk + menentukan apakah suatu pernyataan benar atau tidak + benar. Soal membuktikan terdiri atas bagian hipotesis + dan kesimpulan. Untuk membuktikan kita harus + membuat atau memproses pernyataan yang logis dari + hipotesis menuju kesimpulan, sedangkan untuk + membuktikan bahwa suatu pernyataan tidak benar kita + harus memberikan contoh penyangkalnya sehingga + pernyataan tersebut menjadi tidak benar. + +Contoh 1.5: +Perhatikan beberapa contoh soal berikut: + +1. Apa langkah pertama yang harus dilakukan dalam + +mengerjakan 3 1 : 5 1 ? + 24 + + 1 1 +2. Tentukan hasilnya bila x 6 : 2 ? + 4 2 + +3. Manakah yang lebih luas, kebun yang berbentuk + persegipanjang dengan panjang 314 m dan lebar 12 m + atau kolam renang yang berbentuk lingkaran dengan jari- + jari lingkaran 12 m? + +11 | Pemecahan Masalah Matematika + 4. Ani lebih tua dari Budi, Budi lebih tua daripada Chandra, + Chandra lebih muda daripada Deni. Siapakah yang paling + muda di antara mereka? + +5. Diketahui sejumlah bangun geometri datar, yaitu persegi, + persegipanjang, segitiga, lingkaran, belahketupat, + jajargenjang, laying-layang, dan trapesium. Buatlah + hubungan di antara mereka dalam bentuk diagram peta + konsep! + +6. Dengan cara bagaimana kita menunjukkan 6 dibagi 3 + adalah 2? + +7. Jelaskan mengapa 2 5 x 3 5 - 5 = 25 ? + +8. Mengapa bilangan-bilangan ganjil dikalikan dengan + bilangan genap selalu menghasilkan bilangan genap? + +9. Mengapa setiap persegi adalah pesegi panjang? + +10. Mengapa sebuah relasi belum tentu merupakan fungsi? + +Dari soal-soal di atas soal no 1-5 merupakan masalah +penemuan, sedangkan soal no 6-10 merupakan masalah +pembuktian, mengapa? + + Pada soal no 1 siswa akan menentukan langkah + +pertama untuk mendapatkan nilai dari 31 :51 + 24 + +(masalah penemuan) + + Pada soal no 2 siswa akan mencari nilai dari 1 x6 : 2 1 + 4 2 + +(masalah penemuan) + + Pada soal no 3 siswa akan menentukan mana yang lebih + +luas dengan mencari luas kebun dan kolam renang + +Matematika Dasar | 12 + dengan ukuran masing-masing yang sudah di tentukan + (masalah penemuan) + +  Pada soal no 4 siswa akan menentukan kondisi yang + sesuai soal dengan yang diberikan (masalah penemuan) + +  Pada soal no 5 siswa akan mencari, menentukan, dan + mendapatkan hubungan bangun geometri datar yang + diberikan dalam diagram peta konsep (masalah + penemuan) + +  Pada soal no 6 siswa akan menunjukkan bahwa 6 dibagi + 3 adalah 2 merupakan pernyataan yang bernilai benar + (masalah pembuktian) + +  Pada soal no 7 siswa akan menunjukkan bahwa 2 5 x + 3 5 - 5 =25 adalah benar (masalah pembuktian). + +  Pada soal no 8, 9, 10 merupakan masalah pembuktian + diserahkan kepada Anda sebagai latihan. + +D. PEMBELAJARAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA + + Belajar matematika tidaklah bermakna jika tidak +dikaitkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena dalam kegiatan +kehidupan sehari-hari sering membutuhkan bantuan ilmu +matematika, misalnya dalam jual-beli, bertani, dan lain-lain. +Karena memang matematika tumbuh dan berkembang dari +kehidupan sehari-hari manusia dengan segala aktivitasnya. +Misalnya saja dalam pekembangan bilangan, yang dimulai dari +bilangan asli, bilangan cacah, bilangan bulat, bilangan +rasional/irrasional, bilangan khayal, dan bilangan kompleks +muncul secara bertahap sesuai dengan kebutuhan manusia +terhadap bilangan. + + 13 | Pemecahan Masalah Matematika + Manusia primitif membilang dimulai dari 1, 2, 3, dan + +seterusnya (bilangan asli), tetapi setelah ditemukan angka 0 + +(nol), maka kegiatan membilang pada dasarnya dimulai dari + +tidak ada, yaitu: 0, 1, 2, 3, ...(bilangan cacah). Karena + +kehidupan manusia makin kompleks dan berkembang adanya + +hak milik, maka muncul bilangan bulat, seperi mempuanyai + +hutang sesuatu diartikan sebagai mempunyai jumlah yang + +negatif dan sebaliknya jika mempunyai sesuatu diartikan + +mempunyai jumlah yang potitif, dan antara mempunyai + +sesuatu dengan mempunyai hutang adalah tidak mempunyai + +sesuatu atau dilambangkan dengan bilangan nol. Setelah itu + +berkembang bilangan rasional dan bilangan pecah, karena + +suatu bilangan tidak selalu habis dibagi habis, seperti 1 dibagi + +1 2 +2, ditulis 2 dibagi 3, ditulis dan sebagainya. Di pihak lain +2 3 + + a + +ada bilangan yang tidak dapat dinyatakan dalam bentuk , + + b + +seperti 2, 3, 5 dan lain sebagainya. Gabungan bilangan + +rasional dan irrasional dinamakan bilangahn real (nyata). +Seterusnya muncul bilangan khayal, seperti bilangan dalam + +bentuk akar negatif (  1,  2,  4 dan sebagainya. + +Gabungan antara bilangan real dan khayal dinamakan +bilangan kompleks. + + Siswa sekolah dasar dimulai kelas satu sudah +sewajarnya dibekali dengan manfaat belajar matematika +dalam kehidupan sehari-hari, yaitu selalu mengaitkan materi +pembelajaran dengan kehidupan nyata yang terjadi dan yang +sering dialami siswa. + + Kemampuan kognitif siswa akan berkembang selaras +dengan kematangannya, dan akan berkembang dengan baik + +Matematika Dasar | 14 + dan cepat jika dalam belajarnya sering dihadapkan terhadap +permasalahan kehidupan sehari-hari. Kita sebagai guru harus +menyadari bahwa kemampuan manusia itu terbatas dan tidak +sama irama perkembangan mentalnya, maka dari itu sebagai +guru harus menyesuaikan pemberian materi pelajaran +dengan kemampuan-kemampuan siswa-siswanya, seperti +belajar dari hal-hal konkrit menuju abstrak, dari sederhana ke +kompleks, dan dari mudah ke sulit. + + Siswa diajak menyelesaikan pemecahan masalah dari +satu langkah ke penyelesaian masalah yang membutuhkan +banyak langkah yang disertai kemampuan memahami dan +menangkap lebih banyak vatiabel dan faktor dalam suatu +masalah. + + Tidak ada cara yang pasti bagai mana melatihkan +pemecahan masalah kepada siswa, namun ada petunjuk yang +dapat membantu guru dalam membelajarkan siswanya +kearah penggunaan pendekatan pemecahan masalah +matematika, agar siswa belajarnya terarah dan mendapat +hasil yang baik. + +E. LANGKAH-LANGKAH PEMECAHAN MASALAH + MATEMATIKA + + Polya (Upu, 2004) mengartikan pemecahan masalah +sebagai suatu usaha mencari jalan keluar dari suatu kesulitan +guna mencapai suatu tujuan yang tidak begitu mudah segera +dicapai. Sumarmo (Upu, 2004) menegaskan bahwa +pemecahan masalah dapat berupa menciptakan ide baru, +menemukan teknik atau produk baru. Bahkan di dalam +pembelajaran matematika, selain pemecahan masalah +mempunyai arti khusus, istilah tersebut juga mempunyai + + 15 | Pemecahan Masalah Matematika + interpreasi yang berbeda. Misalnya, menyelesaikan soal cerita +atau soal yang tidak rutin dan mengaplikasikan matematika +dalam kehidupan sehari-hari. + + Pemecahan adalah proses dalam memecahkan atau +menyelesaiakan (KBBI online 2012), kemudian pemecahan +masalah menurut Branca (Upu, 2004) menegaskan bahwa +terdapat tiga macam interpretasi mengenai pemecahan +masalah, yaitu: (1) pemecahan masalah sebagai tujuan yang +menekankan pada aspek mengapa matematika diajarkan. Hal +ini berarti bahwa pemecahan masalah bebas dari materi +khusus. Sasaran utama yang ingin dicapai adalah adalah +bagaimana cara memecahkan suatu masalah. (2) pemecahan +masalah sebagai proses diartikan sebagai kegiatan yang aktif. +Dalam hal ini penekanan utamanya terletak pada metode, +strategi atau prosedur yang digunakan oleh siswa dalam +menyelesaikan masalah hingga mereka menemukan jawaban. +(3) pemecahan masalah sebagai keterampilan menyangkut +dua hal, yaitu: (a) keterampilan umum yang harus dimiliki oleh +siswa untuk keperluan evaluasi. (b) keterampilan minimum +yangdiperlukan siswa agar dapat mengaplikasikannya dalam +kehidupan sehari-hari. + + Menurut Polya (Alimuddin, 2012), pemecahan masalah +matematika terdiri atas 4 (empat) langkah, yaitu: +1. Memahami masalah, meliputi: menemukan dengan tepat + + apa yang ditanyakan dan apa yang diketahui, menemukan + syarat-syarat apa yang sudah dipenuhi dan syarat-syarat + apa yang masih diperlukan, menuliskan soal dengan + kalimatnya sendiri, merumuskan sub-sub masalah, + +2. Merencanakan penyelesaian, meliputi: menuliskan atau + menyebutkan dengan tepat soal-soal yang pernah + dijumpai yang mirip dengan soal yang dihadapi, + +Matematika Dasar | 16 + menuliskan atau menyebutkan konsep-konsep, sifat- + sifat, prinsip-prinsip matematika yang terkait + dengan soal yang dihadapi, mengaitkan konsep- + konsep, sifat-sifat, prinsip-prinsip matematika dengan + masalah/soal yang dihadapi, merumuskan beberapa + strategi penyelesaian yang dapat digunakan dalam + menyelesaikan masalah yang dihadapi, + +3. Melakukan rencana penyelesaian, meliputi: memilih + strategi yang tepat dan mengimplementasikan strategi, + +4. Melihat kembali pekerjaan yang telah kita lakukan + meliputi: apakah jawaban sudah sesuai dengan + pertanyaan?, apakah jawaban sesuai kaedah + matematika?, apakah jawaban rasional ?. + + Sedangkan pemecahan masalah yang dimaksudkan +dalam penelitian (Bahar, 2013) terkait dengan masalah soal +cerita dengan segera dapat menemukan penyelesaiannya +melalui tahapan-tahapan sebagai berikut: +1. Memahami soal dengan menentukan apa yang diketahui + + dan apa yang ditanyakan. +2. Merencanakan penyelesaian dengan menyusun strategi + + yang dapat digunakan dalam menyelesaikan soal. +3. Mengimplementasikan penyelesaian dengan menetapkan + + atau memilih strategi yang sesuai dalam meyelesaiakan + soal dan melakukan perhitungan. +4. Verifikasi yaitu melihat kembali jawaban yang telah + lakukan apakah jawaban sudah sesuai dengan apa yang + ditanyakan. + + Sehingga beberapa keterampilan untuk meningkatkan +kemampuan memecahkan masalah antara lain adalah: (1) + + 17 | Pemecahan Masalah Matematika + memahami soal, (2) Merencanakan penyelesaian dengan +menyusun strategi, (3) Mengimplementasikan penyelesaian, +dan (4) Verifikasi. + +1) Memahami Soal + Guru memberi masalah dalam bentuk soal setiap hari, + baik dalam jam pelajaran matematika, maupan pada + mata pelajaran lain secara terpadu (karena matematika + banyak kaitannya dengan Bahasa, IPS, IPA, dan lain-lain), + dengan langkah-langkah sebagai berikut: + 1) menjelaskan kata atau ungkapan operasi hitung yang + sering digunakan, seperti sebagai berikut: + Penjumlahan: digabungkan, disatukan, dijadikan + satu wadah, dijumlahkan, dimasukan, dan + pengulangan suatu kegiatan. + + Contoh 1.6: + (1) Amin mempunyai 10 kelereng dan Andri mempunyai + + 8 kelereng, jika kelereng Amin dan Andri + digabungkan/disatukan/dijadikan satu wadah maka + jumlah kelereng mereka berjumlah ... + + (2) Kelereng Amin dalam gelas ada 5, lantas dimasukan + lagi sebanyak 4 kelereng, maka kelereng Amin dalam + gelas sekarang ada ... kelereng. + + (3) Pada hari senin Amin menyimpan uang dalam + celengan sebanyak Rp 2.000,00, pada hari selasa + sebanyak Rp 5.000,00, pada hari rabu sebanyak Rp + 3.000,00. Berapa rupiah banyak uang yang tersimpan + dalam celengan tersebut + +Matematika Dasar | 18 + Pengurangan: selisih/ beda, dikurangi/berkurang, + diambil, dipisahkan, dan dibagikan. +Contoh 1.7: +(1) Amin mempunyai uang sebesar Rp 5.000,00 + sedangkan Ani mempunyai Rp 7.000,00. Berapakah + selisih/beda uang Amin dan Ani? + +(2) Andri diberi uang jajan dalam satu minggu sebanyak + Rp 10.000,00 setalah hari ke empat uangnya + berkurang Rp 4.000,00. Berapakah sisa uang Andri + sekarang? + +(3) Pak Budi mempunyai anak ayam yang baru menetas + sebanyak 10 ekor, yang 5 ekor dipisahkan dari + induknya. Berapakah anak ayam yang ikut induknya? + +(4) Pak Budi mempunyai uang sebanyak Rp 50.000,00, + uang tersebut dibagikan kepada 2 oarng pakir miskin + sebanyak Rp 15.000,00. Berapakah rupiah sisa uang + Pak Budi sekarang? + + Perkalian: digandakan sebanyak ... kali, setiap ... + terdiri dari ..., kegiatan yang berulang-ulang (dalam + jumlah yang sama) + +Contoh 1.8: +(1) Pak Budi meminjam uang dari “Bank Keliling” + + sebanyak Rp 1.000.000,00 karena ia tak mampu + membayar dalam waktu satu tahun utangnya + digandakan sebanyak 3 kali. Berapa rupiah Pak Budi + harus membayar utangnya jika dalam satu tahun + tidak bisa membayar? + +(2) Kelurahan Munjuljaya terdiri dari 2.500 Kepala + Keluarga (KK), setiap harinya masing-masing KK + + 19 | Pemecahan Masalah Matematika + membuang sampah terdiri dari 1 kg. Berapa kg + sampah yang terkumpul dalam satu bulan? + (3) Kasir bank menghitung uang menggunakan jari- + jarinya, dalam satu kali gerakan jari-jarinya mampu + mengambil empat lembar uang. Jika dia + menggerakan jari-jarinya sebanyak 25 kali, maka + berapa lembar uang yang dia hitung? + + Pembagian: pengurangan yang berulang, dibagikan, + dipisah-pisah (dalam jumlah yang sama) + + Contoh 1:9: + (1) Amin mempunyai 100 kelereng, setiap hari + + diambilnya sebanyak 5 kelereng. Pada hari ke berapa + kelereng itu habis? + (2) Pak Budi membagikan uang zakat sebanyak Rp + 1.000.000,00 kepada 100 orang pakir miskin. Berapa + rupiah rata-rata kebagian setiap orangnya? + + (3) Pak Budi mempunyai ayam sebanyak 50 ekor, ayam + tersebut dipisahkan-pisahkan dalam 10 kandang. + Berapa ekor rata-rata isi setiap kandangnya? + + 2) menjelaskan hubungan antara penjumlahan dengan + pengurangan, perkalian dengan pembagian, + penjumlahan dengan perkalian, dan pengurangan + dengan pembagian. + + Contoh 1.10: +  Penjumlahan dengan pengurangan: + + Jika a + b = c , berlaku c – a = b atau c – b = a + +  Perkalian dengan pembagian: + +Matematika Dasar | 20 + Jika a x b = c , berlaku c : a = b atau c : b = a + + Penjumlahan dengan perkalian: + 5+5+5+5=4x5 + + Pengurangan dengan pembagian.: + 10 – 2 – 2 – 2 – 2 – 2 = 10: 2 + +3) melatih membaca pemahaman dari kalimat pendek + dan sederhana ke kalimat panjang dan kompleks. + Cobalah dengan menggunakan metode diskusi untuk + membahas soal yang diberikan dengan fokus isi + pokok kalimat. Apakah topik / tema yang dibicarakan, + informasi apa yang diberikan, apa yang ditanyakan, + dan sebagainya. + +a) Bertanya kepada siswa tentang isi kalimat yang + diberikan dalam contoh, tentang apa yang diketahui + atau data apa yang diberikan dan apa yang + ditanyakan atau apa yang akan dicari. + Dalam hal ini guru yang mengajukan pertanyaan + tentang isi kalimat yang dijadikan contoh. + +b) Pada tahap awal, pembuatan paragrap cukup terdiri + dari satu kalimat, dan jangan berbelit-belit sehingga + sulit dimengerti siswa. + +Contoh 1.11: +Kasir bank menghitung uang menggunakan jari-jarinya. +Dalam satu kali gerakan jari-jarinya mampu mengambil +empat lembar uang. Dia menggerakan jari-jarinya +sebanyak 25 kali. Berapa lembar uang yang dia hitung? + + 21 | Pemecahan Masalah Matematika + 2) Merencanakan penyelesaian dengan menyusun + strategi + + Seperti yang telah dibahas pada modul 1, pendekatan + atau strategi pemecahan masalah banyak sekali alternatif + yang harus kita pakai, hal tersebut didasarkan pada jenis + masalah atau soal. Starategi tersebut adalah: membuat + tabel, membuat gambar, menduga, mencoba, + memperbaiki, mencari pola, mengguanakan penalaran, + menggunakan variabel, membuat persamaan, + mengunakan algoritma, menggunakan sifat-sifat + bilangan, menggunakan rumus, menggunakan informasi + yang diketahui untuk mengembangkan informasi baru, + dan lain lain. + + Bagi siswa yang belum dapat berpikir abstraks + pendekatan dengan membuat gambar terlebih dahulu + akan sangat membantu. Hal tersebut dapat dilakukan + secara konkrit atau dengan gambaran obyek yang + dimaksud. Setelah itu berkembang kepada strategi- + strategi lain yang memungkinkan suatu masalah dapat + diselesaikan secara matematis, seperti membuat variabel, + membuat persamaan, menggunakan logika, dan lain-lain. + + Contoh 1.12: + + (1) Penjumlahan dan pengurangan + Pada mulanya Ani mempunyai 5 buku, kemudian + Ibunya memberi sejumlah buku sehingga buku Ani + sekarang menjadi 9 buku. Berapakah Ibu memberi + buku kepada Ani? + Jawab: + +Matematika Dasar | 22 + Lakukan secara konkrit atau dengan membuat +gambar, seperti berikut. + +Tanyakan kepada siswa ada berapa buku yang tidak +mempunyai pasangan seperti yang digambarkan di +atas dan buku yang tidak mempunyai pasangan +tersebut merupakan buku pemberian Ibu. Lantas +bimbing siswa kearah model matematika yang +terbentuk, seperti: 5 buku + .... buku = 9 buku atau 5 ++ ... = 9 +Dari gambar sudah didapat bahwa buku yang tidak +mempunyai pasangan sebanyak 4 buku, dan itu +adalah buku pemberian Ibu. Jadi kalimat matematika +yang terbentuk adalah: 5 + 4 = 9 +Jika strategi dengan pembuatan gambar telah +dikuasai, meningkatlah kepada pembuatan variabel, +boleh dengan “x, y, n, m, dll”.seperti berikut ini. +Diketahui: Ani mempunya 5 buku +Setelah diberi Ibu menjadi 9 buku +Ditanyakan: Berapakah buku pemberian Ibu? +Jawaban: +Misalkan buku pemberian Ibu = x, maka +5+ x=9 +5 + (-5) + x = 9 + (-5) + + 23 | Pemecahan Masalah Matematika + x=4 + Jadi, buku pemberian Ibu sebanyak 4 buku + (2) Perkalian dan Pembagian + Di kelas tiga ada 20 meja yang disusun secara + teratur, barisan terdepan ada 4 meja. Ada berapa + meja setiap baris ke belakang? + Jawab: + Membuat gambar + + Dalam membuat gambar lakukan membuat meja + barisan terdepan sebanyak 4 meja, lantas buatlah + gambar meja ke belakang sambil membilang sampai + 20 meja. Sehingga gambar akan seperti di atas. Meja + sebanyak 5 ke belakang merupakan jawaban dari + soal tersebut. + Model matematikanya adalah: 4 x ... = 20 atau + Misalkan setiap baris meja kebelakang = m, maka 4 x + m = 20 + Jika kedua ruas dibagi dengan 4, maka m = 5 + Jadi baris meja ke belakang ada 5 meja + +Matematika Dasar | 24 + (3) Operasi hitung campuran + Ibu belanja telur 4 kg dan terigu 3 kg, harga setiap + kilogram telur Rp 8.000,00 dan harga setiap kilogram + terigu Rp 4.000,00. Ibu membayar dengan uang Rp + 50.000,00. Berapakah sisa uang Ibu? + Jawab + Diketahui + (a) 4 kg @ Rp 8.000,00 + (b) 3 kg @ Rp 4.000,00 + (c) Ibu membayar Rp 50.000,00 + Ditanyakan berapa rupiah uang sisa (pengembalian)? + Model matematikanya: + 50.000 – [(4 x 8.000) + (3 x 4.000)] = ... + 50.000 – [ 32.000 + 12.000] = ... + 50.000 – 44.000 = 6.000 + Jadi sisa (pengembalian) uang Ibu adalah Rp. + 6.000,00 + +3) Mengimplementasikan penyelesaian + + Dalam menyelesaikan model matematika siswa dituntut + untuk terampil menggunakan pengetahuannya tentang + konsep-konsep dasar matematika beserta aturan-aturan + yang ia ketahui sewaktu mengerjakan latihan-latihan soal. + Baik dalam bentuk algoritma maupun secara aljabar + sederhana. Seperti hubungan penjumlahan dan + pengurangan, perkalian dan pembagian, pangkat dan + akar. + + 25 | Pemecahan Masalah Matematika + Dalam penyelesaian model matematika siswa telah +paham dan terampil, seperti hal-hal sebagai berikut: +(a) a + b = c, kalimat matematika ini dapat dibolak balik +sesuai dengan pola yang didapatkan dalam +menterjemahkan (mentransformasi) kedalam model +matematika, seperti menjadi c – a = b atau c – b = a + +(b) a x b = c, kalimat matematika ini dapat dibolak balik +sesuai dengan pola yang didapatkan dalam +menterjemahkan (mentransformasi) kedalam model +matematika, seperti menjadi c : a = b atau c : b = a + +(c) a2 = b, dapat diubah menjadi a = b atau b 2 = b + +(d) a  c  ad  bc atau a  c  ad  bc +b d bd b d bd + +(e) a  c  ad  bc + bd + +(f) dan lain-lain + +4) Verifikasi + + Sebelum ditafsirkan/diterjemahkan kedalam bentuk + kesimpulan, sebaiknya siswa dibiasakan untuk + memeriksa dulu, apakah jawaban hasil perhitungan itu + benar atau masih terdapat kekeliruan. Untuk ini + dibutuhkan ketelitian untuk mengecek ulang hasil + perhitung yang didapatkan. + + Menafsirkan solusi merupakan kemampuan berpikir + tingkat tinggi, karena hal tersebut merupakan penarikan + kesimpulan dari hal-hal yang telah dianalisis dengan + menggunakan berbagai srtategi dan menggunakan + berbagai opersi hitung. Menafsirkan solusi merupakan + +Matematika Dasar | 26 + menemukan jawaban dari permasalahan yang sedang +dibahas atau diuraikan. + +Contoh 1.13: +Ina disuruh Ibu membeli sebanyak 10 telur, di perjalanan +pulang telur yang dibeli tersenggol temannya, ketika +dihitung telur yang utuh tinggal 6 telur. Berapa butir telur +yang pecah? +Jawab +Diketahui : +Beli telur 10 +Sisa telur 6 +Ditanyakan: +Telur yang pecah +Jawab: +Alternatif kalimat: +(1) (Semua telur yang dibeli) - (Sisa telur yang utuh) = +(telur yang pecah) +(2) (Sisa telur yang utuh) + (telur yang pecah) = (Semua +telur yang dibeli) +(3) 10 – 6 = ... +(4) 6 + ... = 10 +Alternatif Pemecahan: +(1) Perlihatkan 10 benda (sebagai pemisalan telur) lantas + + ambil sebanyak 6, maka sisanya 4 benda +(2) Perlihatkan 10 jari lantas hitung mundur sebanyak 6 + + kali bertepatan dengan melipat jari, maka sisa jari + yang belum telipat sebanyak 4. + + 27 | Pemecahan Masalah Matematika + (3) Gambarlah 10 telur lantas pasangkan dengan + gambar 6 telur, maka 4 telus tidak mempunyai + pasangan + + (4) Enam ditambah berapa agar mnejadi sepuluh? + Hitung dimulai 6 sebanyak yang dibutuhkan sehingga + berhenti di 10, sambil mengacungkan jari. + + (5) Jika siswa telah memahami konsep penjumlahan dan + pengurangan, maka siswa langsung dibimbing ke + model matematika dan menyelesaikannya dengan + aturan-aturan tertentu. + Kesimpulan + Jadi telur yang pecah sebanyak 4 telur + + Contoh 1.14: + Suatu bak mandi mempunyai panjang dua kali lebarnya, + dan tingginya setengah dari lebarnya. Jika luas alas bak itu + 7.200 cm2 berakah liter isi bak air tersebut? + Jawab: + Diketahui: + Panjang bak 2 kali lebar + + 1 + + Tinggi bak lebar + + 2 + + Luas = 7.200 cm2 + Ditanyakan: isi bak dalam liter + Jawab: + Gambar: + + l + 2l + +Matematika Dasar | 28 + Mencari ukuran bak +2 l x l = 7200 +2 l2 = 7200 +l2 = 3600 + +l = 3600 + +l = 60 +Jadi lebar (l) = 60 cm +Karena lebar 60 cm, maka panjang (p) = 2 x 60 = 120 cm + +dan tingginya (t) adalah 1 x60  30 cm + 2 + +Rumus volum (isi) bak (yang berbentuk balok) adalah p x l +x t, yaitu: 120 cm x 60 cm x 30 cm = 216.000 cm3 +Karena yang ditanyakan adalah dalam bentuk satuan liter, +maka 216.000 cm3 = 216 dm3 = 216 liter +Jadi isi bak mandi tersebut adalah 216 liter. + +Dari proses penyelesaian soal di atas, dapat dirinci +langkah-langkah sebagai berikut: +(1) Memahami soal, seperti yang terlihat dalam + + menyederhanakan soal dalam bentuk yang diketahui + dan ditanyakan. +(2) Membuat gambar bak mandi yang mempunyai + panjang, lebar, dan tinggi. Dalam hal ini harus ingat + bahwa bentuk demikian adalah balok yang rumus + isinya adalah: p x l x t +(3) Mencari ukuran bak yang didahului dengan + menterjemahkan luas alas bak yang berbentu balok, + yaitu: panjang kali lebar dalam bentuk variabel l, + seperti: 2 l x l = 7200 +(4) Menjalankan operasi hitung, sehingga ditemukan + ukuran lebar yang dimaksud. + + 29 | Pemecahan Masalah Matematika + (5) Mengaitkan hasil operasi hitung dengan pernyataan + yang diketahui. Sepeti panjangnya dua kali lebarnya + dan tingginya setengah lebarnya. Sehingga + ditemukan ukuran panjang dan tinggi + + (6) Karena panjang, lebar, dan tinggi sudah diketahui + maka isi bak dapat diketahui dengan menjalankan + rumus isi (volumea) balok. + + (7) Volum bak sudah diketaui tetapi membutuhkan + transformasi dari bentuk cm3 ke liter melalui dm3. + + (8) Menyimpulkan isi bak air sebagai hasil proses + sebelumnya. + + Jelaslah, bahwa suatu proses penyelesaian masalah + sangatlah kompleks dan banyak hal-hal yang terkait, + sehingga membutuh daya nalar yang cukup tinggi. + +F. RANGKUMAN + + 1) Masalah dalam matematika terdiri dari masalah rutin + dan masalah tidak rutin + + 2) Klasifikasi masalah matematika terdiri dari dua yaitu: + a. Penemuan yaitu mencari, menentukan, atau + mendapatkan nilai atau objek tertentu yang tidak + diketahui dari suatu soal dan memenuhi kondisi + ataui syarat dari soal tersebut. + b. Pembuktian yaitu prosedur untuk menentukan + apakah suatu pernyataan benar atau tidak + + 3) Langkah-langkah dalam pemecahan masalah + matematika (menurut Polya) + a. Memahami masalah + b. Merencanakan penyelesaian + c. Melakukan rencana penyelesaian + d. Melihat kembali + +Matematika Dasar | 30 + G. LATIHAN + + 1. Dari beberapa pengertian masalah menurut + beberapa sumber yang telah disebutkan di atas, + menurut Anda apa sebenarnya yang dimaksud + dengan masalah? + + 2. Apa syarat suatu situasi disebut sebagai suatu + masalah? + + 3. Mengapa contoh (3) merupakan masalah bagi siswa + SD? + + 4. Berikan contoh soal yang termasuk masalah bagi + siswa SD! + + 5. Apa syarat suatu soal dapat dipandang sebagai + masalah rutin bagi siswa SD? + + 6. Apa syarat suatu soal dapat dipandang sebagai + masalah tidak rutin bagi siswa SD? + + 7. Berikan contoh masalah rutin dan masalah tidak + rutin bagi siswa SD! Jelaskan! + + 8. Apa yang dimaksud dengan masalah penemuan? + + 9. Apa yang dimaksud dengan masalah pembuktian? + + 10. Apa ciri-ciri suatu soal merupakan masalah + penemuan dan ciri-ciri suatu soal merupakan + masalah pembuktian? + + 11. Berikan contoh masalah penemuan dan masalah + pembuktian dalam matematika! Jelaskan! + + 12. Perhatikan ilustrasi-ilustrasi berikut dan tentukan + termasuk pada bilangan apa yang dimaksud? + a) Amin menghitung jumlah kambing peliharaannya + dimulai dari 2, 4, 6, 8, dan 10. + + 31 | Pemecahan Masalah Matematika + b) Ahmad membagikan 5 roti kepada 2 orang + temannya samaa banyak. + + c) Ani menghitung panjang sisi-sisi daerah segitiga + dengan menggunakan rumus: c2 = a2 + b2 + + d) Budi mempunyai meminjam uang di Bank Guna + Usaha sebanyak Rp. 10.000.000,00 + + 13. Pengetahuan apakah yang harus dimiliki oleh + seorang pemasang ubin lantai agar jumlah ubin yang + akan dipasangkan diketahui secara pasti? + + 14. Ayah telah mempunyai pagar sepanjang 40 m untuk + memagari kandang itik (berbentuk persegipanjang) di + belakang rumahnya ada tembok belakang dapat + dijadikan salah satu sisi persegi panjang. Berapakah + ukuran yang dapat dibuat agar ukuran luas persegi + panjang tersebut yang paling luas? + Dari soal tersebut di atas apa saja yang diketahui + yang menjurus kepada penyelesaian soal? + + 15. Hasil survei terhadap kelas enam yang terdiri dari 40 + siswa, 22 orang menyenangi pelajaran matematika, + 21 orang menyenangi pelajaran IPA, 20 orang + menyenangi pelajran IPS. 3 orang menyenangi + pelajaran Matematika dan IPA, 4 orang menyenangi + pelajaran IPA dan IPS, 6 orang menyenangi pelajaran + Matematika dan IPS, dan 5 orang yang menyenangi + ketiga pelajaran tersebut. Buatlah gambarnya! + + 16. Buatlah kalimat matematika dari pernyataan- + pernyataan berikut ini. + a) Bilangan yang berurutan jumlahnya 21. + b) Amin mendapat bunga bank sebesar Rp + 500.000,00 dari saldo simpanan sebesar Rp + +Matematika Dasar | 32 + 5.000.000,00. Berapa persen bunga yang diterima + Amin? +c) Harga 4 pensil dan 5 spidol sebesar Rp 35.000,00 +d) Lampu merah menyala setiap 5 detik, lampu + kuning menyala setiap 6 detik, lampu hijau + menyala setiap 8 detik, dan lampu biru menyala + setiap 12 detik. Jika ke empat lampu dinyalakan + secara bersamaan pada detik ke berapa lampu + merah dan lampu kuning menyala bersamaan + yang ke dua, ke tiga, dan ke empat. Pada detik ke + berapa lampu hijau dan lampu biru menyala + bersamaan yang ke dua, ke tiga, dan ke empat. + + 33 | Pemecahan Masalah Matematika + Matematika Dasar | 34 + BAB 2 + + PENALARAN DALAM + MATEMATIKA + + PENDAHULUAN + Dalam kehidupan ini, kita sering mengalami berbagai +peristiwa, baik itu peristiwa menyenangkan maupun peristiwa +tidak menyenangkan. Contoh peristiwa menyenangkan adalah +kita mendapat rezeki, sedangkan contoh peristiwa tidak +menyenangkan, adalah pada saat kita mendapat cobaan sakit. +Jika kita menghadapi peristiwa yang menyenangkan, kita tidak +boleh terlalu bergembira tetapi kita harus mensyukuri nikmat +Allah SWT, sebaliknya jika menghadapi peristiwa yang tidak +menyenangkan kita tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan, +tetapi kita harus berpikir positif dan mengunakan akal dan +penalaran kita. Seringkali kita berpendapat dengan +melibatkan perasaan, prasangka, dan membuat kesimpulan- +kesimpulan yang tidak berdasar. Kita sebagai manusia diberi +kelebihan oleh Allah SWT dalam bentuk akal yang kita +gunakan untuk berpikir dan bernalar. + Penalaran dapat diartikan sebagai cara berpikir, +merupakan penjelasan dalam upaya menunjukkan hubungan +antara beberap hal yang berdasarkan pada sifat-sifat atau +hukum-hukum tertentu yang diakui kebernarnnya. Secara + + 35 | Penalaran dalam Matematika + singkat, penalaran sebagai proses penarikan kesimpulan +dalam sebuah argumen. Kemampuan materi matematika +seseorang tidak dapat dilepaskan dari kemampuan penalaran. +Artinya materi matematika dapat dengan mudah dipahami +dengan adanya kemampuan bernalar yang baik. Bagaimana +seharusnya kita menggunakan penalaran yang baik? Oleh +karena itu, marilah kita membahas mengenai penalaran +tersebut. Penalaran dalam matematika ada dua jenis, yaitu: +penalaran induktif dan penalaran deduktif. + +Aktivitas Kegiatan 1: +1. Gambarlah segitiga lancip, segitiga siku-siku, dan segitiga + + tumpul! +2. Dengan menggunakan busur derajat, hitunglah besar + + sudut masing-masing segitiga tersebut! +3. Berapa derajatkah jumlah ketiga sudut masing-masing + + segitiga tersebut? +4. Apakah yang dapat anda simpulkan dari kegiatan ini? + +Kegiatan 2: +Pertandingan sepakbola di wilayah timur Indonesia diikuti +oleh 15 kesebelasan. Sistem pertandingan menggunakan +sistem kompetisi penuh (setiap kesebelasan masing-masing +bertanding 2 kali dengan kesebelasan-kesebelasan lainnya, +yaitu satu kali bertanding di daerah sendiri dan satu kali +bertanding di daerah lawan). Berapa pertandingan yang akan +terjadi jika semua dilakukan? Jika n kesebelasan berapa +pertandingan yang dilakukan? + +Matematika Dasar | 36 + 1. Lengkapilah tabel berikut: + + Banyak Pertandingan Pola operasi hitung +kesebelasan yang terjadi + 1x0 + 1 0 2x1 + 2 2 3x2 + 3 … + 4 12 … + 5 … … + … … … + 15 … … + n … … + +2. Apakah yang dapat anda simpulkan dari kegiatan tersebut? + +Kegiatan 3: +Perhatikan gambar berikut: + +1 2 + + 3 + +Gambar ke-1 terdiri dari 1 persegi kecil +Gambar ke-2 terdiri dari 4 persegi kecil +Gambar ke-3 terdiri dari 9 persegi kecil + + a. Buatlah dua gambar berikutnya (yang ke-4 dan ke-5) + b. Berapa banyak persegi kecil pada gambar ke-n? + +Dari kegiatan 1, 2 dan 3 apa yang dapat anda simpulkan? +Bagaimana dengan permasalahan berikut ini? Apa yang dapat +kalian simpulkan? + + 37 | Penalaran dalam Matematika + Tentukan pola umum (generalisasi) yang mungkin berlaku +pada deret 1 + 3 + 5 + 7 + … + (2n  1), untuk setiap bilangan +asli n. Kemudian tentukan jumlah dari 1 + 3 + 5 + 7 + … + 199. + 1 = 1 = 12 = (1+1)2 + + 2 + + 1 + 3 = 4 = 22 = (1+3)2 + + 2 + + 1 + 3 + 5 = 9 = 32 = (1+5)2 + + 2 + + 1 + 3 + 5 + 7 = … = … = (1+⋯)2 + + 2 + + 1+3+5+7+9=…=…=… + + dan seterusnya. Dengan memperhatikan pola tersebut di + atas dapat diduga bahwa untuk sembarang bilangan asli + n berlaku : + 1 + 3 + 5 + 7 + ... + (2n – 1) = ... = n2 + Dengan menggunakan pola umum yang telah diperoleh + tentukan jumlah + 1 + 3 + 5 + 7 + ... + 199 + +A. PENALARAN INDUKTIF + + Kalau hujan turun dengan lebat, biasanya kita akan +membuat kesimpulan bahwa; sebentar lagi akan terjadi banjir. +Kesimpulan seperti ini merupakan suatu dugaan. Dugaan +tersebut diambil berdasar pada pengalaman sebab biasanya +kalau turun hujan, maka dimana-mana terdapat genangan air +karena tersumbatnya saluran. Contoh seperti ini merupakan +salah satu penalaran induktif. + + Penalaran induktif adalah proses berpikir untuk +menarik suatu kesimpulan yang berlaku umum berdasarkan +atas fakta-fakta yang bersifat khusus. Penalaran induktif +digunakan oleh beberapa cabang ilmu pengetahuan seperti +fisika, kimia, biologi, dan sebagainya untuk membangun suatu + +Matematika Dasar | 38 + teori baru. Sebagai contoh dalam ilmu fisika, dalam suatu +percobaan seorang peneliti berhasil menunjukkan bahwa +besi, seng, perak, dan aluminium apabila dipanaskan akan +memuai. Berdasarkan hasil percobaan tersebut, peneliti +tersebut mengamati bahwa besi, seng, perak dan aluminium +termasuk jenis logam. Oleh karena itu kemudian ia membuat +suatu generalisasi bahwa setiap logam apabila dipanaskan +memuai. + + Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa berpikir +induktif adalah berpikir menggunakan kejadian atau +pengalaman yang sering dijumpai disimpulkan menjadi +kebenaran secara umum. + + BERPIKIR KRITIS + + n2 + n + 41 merupakan bilangan prima, untuk n + bilangan asli 1 sampai dengan 40. Apakah + diperoleh bilangan prima? Bagaimana untuk n = + 41? Apakah juga diperoleh bilangan prima? + +B. PENALARAN DEDUKTIF + Berlawanan dengan pemikiran induktif adalah berpikir + +deduktif. Penalaran deduktif yaitu proses berpikir +berdasarkan atas suatu pernyataan dasar yang berlaku umum +untuk menarik suatu kesimpulan yang bersifat khusus. +Penalaran deduktif digunakan dalam matematika. Aturan yang +berlaku secara umum tersebut, pada umumnya dibuktikan + + 39 | Penalaran dalam Matematika + terlebih dahulu kebenarannya dan setelah terbukti +kebenarannya baru diterapkan untuk kasus-kasus yang +bersifat khsusus. Sebagai contoh, diberikan aturan umum +bahwa sudut-sudut yang bertolak belakang adalah kongruen, +diketahui sudut A bertolak belakang dengan sudut B dan +ukuran sudut B adalah 60o, maka kesimpulannya ukuran +sudut A adalah 60o. + + Pada mulanya, matematika timbul karena adanya +pikiran-pikiran manusia yang berhubungan dengan ide, +proses dan penalaran. Oleh karena itu, walaupun matematika +menggunakan penalaran deduktif, namun para +matematikawan dapat menyusun atau menemukan bagian- +bagian matematika dengan menggunakan penalaran induktif. +Tetapi begitu pola umum atau generalisasi ditemukan maka +pola umum atau generalisasi tersebut harus dapat dibuktikan +kebenarannya secara deduktif. + + Penalaran deduktif berlangsung dari pernyataan yang +umum ke khusus. Proses untuk sistem penalaran dalam +matematika secara deduktif diawali dengan membuat suatu +konsep pangkal. Konsep pangkal sebagai sarana komunikasi +untuk menyusun pertanyaan-pertanyaan selanjutnya berupa +definisi, aksioma maupun teorema. + + Contoh 2.1: + Diketahui: Berdasarkan aksioma-aksioma + A1: pada R berlaku hukum komutatif perkalian + A2: pada R berlaku hukum distributive perkalian pada + penjumlahan + A3: a2 = a x a untuk setiap a ∈ R + Maka buktikan bahwa ∀, ∈ , ( + )2 = 2 + 2 + 2 + +Matematika Dasar | 40 + Bukti: karena A3 + (a + b)2 = (a + b)(a + b) karena A2 + (a + b)2 = (a + b) x a + (a + b) x b karena A1 + (a + b)2 = a x a + b x a + a x b + b x b karena A3 + (a + b)2 = a2 + 2ab + b2 + +C. LANGKAH-LANGKAH PENALARAN INDUKTIF & + DEDUKTIF + + Secara umum, langkah-langkah penalaran yang +digunakan dalam matematika sebagai berikut: + + 1. Mengamati pola-pola yang terjadi, + 2. Membuat dugaan (konjektur) tentang pola umum + + yang mugkin berlaku, + 3. Membuat generalisasi, + 4. Membuktikan generalisasi secara deduktif. + + Contoh 2.2: + + Tentukan pola umum (generalisasi) yang mungkin berlaku + + pada deret 1 + 2 + 3 + 4 + … + n, untuk setiap bilangan asli + + n. Kemudian tentukan jumlah dari 1 + 2 + 3 + 4 + … + 200. + + Pembahasan: + +1 = 1 = 1. 2 = 11  1 . + + 2 2 + +1+2 = 3 = 2. 3 = 22  1 . + + 2 2 + +1+2+3 = 6 = 3. 4 = 33  1 + + 2 2 + +. + +1+2+3+4= 10 = 4. 5 = 44 1 + + 2 2 + +. + + 41 | Penalaran dalam Matematika + 1 + 2 + 3 + 4 + 5 = 15 = 5. 6 = 55  1 . + 2 + 2 + +dan seterusnya. Dengan memperhatikan pola tersebut di + +atas dapat diduga (digeneralisasikan) bahwa untuk + +sembarang bilangan asli n berlaku : + +1+2+3+…+n = nn 1 . + + 2 + +Dengan memperhatikan hasil generalisasi tersebut di atas + +diperoleh: 200200 1 20.100. +1 + 2 + 3 + … + 200 = = + 2 + + Dalam matematika, generalisasi pada contoh 1 tidak +dibenarkan dan perlu dibuktikan secara deduktif. Namun +untuk pembelajaran di Sekolah Dasar pembuktian secara +deduktif tidak perlu dilakukan, karena pada umumnya tahap +berpikir siswa Sekolah Dasar masih dalam tahap berpikir +induktif (tahap berpikir operasi konkret). + +Contoh 2.3: +Secara induktif, tentukan generalisasi yang mungkin +berlaku apabila sembarang dua buah bilangan ganjil +dikalikan, dan kemudian secara dedutif buktikan bahwa +generalisasi tersebut benar secara matematika. + +Pembahasan: +Untuk menyelidiki pola umum yang mungkin terjadi pada +perkalian sembarang dua buah bilangan ganjil, +perhatikan tabel 1 berikut: + + 1 3 5 7 + +1 1 3 5 7 + +3 3 9 15 21 + +Matematika Dasar | 42 + 5 5 15 25 35 + +7 7 21 35 49 + +Dengan memperhatikan tabel 1, terlihat bahwa polanya +adalah bilangan ganjil apabila dikalikan dengan bilangan +ganjil hasilnya juga bilangan ganjil. Oleh karena itu dapat +diduga (digeneralisasikan) bahwa bilangan ganjil apabila +dikalikan dengan bilangan ganjil hasilnya adalah bilangan +ganjil. + +Seperti telah dikemukakan sebelumnya bahwa dalam +matematika, generalisasi tersebut tidak dibenarkan dan +perlu dibuktikan secara deduktif. Untuk membuktikan +secara deduktif, perlu pengertian bilangan genap dan +bilangan ganjil sebagai berikut : + +Definisi 1 +(1). Bilangan bulat m dikatakan bilangan genap + + apabila terdapat bilangan bulat k sehingga + berlaku m = 2k. +(2). Bilangan bulat m dikatakan bilangan ganjil + apabila terdapat bilangan bulat k sehingga + berlaku m = 2k + 1. + +Bukti generalisasi Contoh 2.3. +Ambil sembarang dua buah bilangan ganjil m dan n. Akan +dibuktikan bahwa m × n bilangan ganjil. Karena m +bilangan ganjil maka terdapat bilangan bulat k sehingga +m = 2k + 1, dan juga karena n bilangan ganjil maka +terdapat bilangan bulat p sehingga n = 2p + 1. Selanjutnya +diperoleh : + + 43 | Penalaran dalam Matematika + m × n = (2k + 1) × (2p + 1) = 4kp + 2k + 2p + 1 = 2(2kp + k + + p) + 1 = 2r + 1, dengan r = 2kp + k + p. + Karena 2, k dan p masing-masing bilangan bulat maka r = + 2kp + k + p juga bilangan bulat, sebab penjumlahan dan + perkalian pada bilangan bulat bersifat tertutup. + Jadi terdapat bilangan bulat r sehingga m × n = 2r + 1. + Dengan kata lain m × n merupakan bilangan ganjil. + + Matematika merupakan bidang ilmu yang dalam + melakukan penalaran bukan berdasarkan induktif, tetapi + bersifat deduktif sebab penurunan suatu teorema tidak + didasarkan pada observasi umum tetapi berdasarkan + definisi, aksioma, dan teorema-teorema yang telah ada + sebelumnya. Satu hal yang perlu diperhatikan bahwa pola + induktif hanya digunakan sebagai pendekatan + pembelajaran matematika untuk tingkat SD. Namun + seiring dengan perkembangan berdasarkan teori Jean + Piaget, pola berpikir anak akan secara perlahan terbentuk + secara abstrak, tidak tergantung lagi terhadap benda- + benda kongrit dalam mengembangkan konsepnya. + +D. RANGKUMAN + +1. Penalaran induktif adalah proses berpikir untuk menarik + kesimpulan yang bersifat umum melalui pernyataan- + pernyataan yang bersifat khusus. + +2. Penalaran deduktif merupakan proses berpikir untuk + menarik kesimpulan yang berlangsung dari hal yang + umum ke hal yang khusus. + +3. Langkah-langkah penalaran yang umum yaitu mengamati + pola, membuat dugaan, melakukan generalisasi dan + membuktikan dengan deduktif. + +Matematika Dasar | 44 + E. LATIHAN + +1. Diskusikan dengan teman Anda untuk menentukan + contoh penggunaan penalaran induktif dan deduktif + dalam kehidupan sehari-hari. + +2. Diskusikan dengan teman Anda, penalaran mana yang + cocok untuk diterapkan pada pembelajaran matematika + di Sekolah Dasar, penalaran induktif atau deduktif? + +3. Diskusikan dengan teman Anda untuk menentukan + contoh penggunaan penalaran induktif dalam + pembelajaran matematika di Sekolah Dasar. + +4. Secara induktif, tentukan pola umum (generalisasi) yang + mungkin berlaku pada deret 2 + 4 + 6 + 8 + … + 2n, untuk + setiap bilangan asli n. Kemudian tentukan jumlah dari 2 + + 4 + 6 + 8 + … + 200. + +5. Secara induktif, tentukan pola umum (generalisasi) yang + +mungkin berlaku pada deret + + 1  1  1  1  , untuk setiap +1.2 2.3 3.4 + nn 1 + +bilangan asli n. Kemudian tentukan jumlah dari + +1  1  1  1 . +1.2 2.3 3.4 50.51 + +6. Untuk soal 3 + 8 dengan 8 + 3 bagi siswa kelas I SD + manakah soal yang dianggap lebih mudah? Berikan + alasannya. + +7. Buktikan bahwa bilangan ganjil ditambah bilangan ganjil + adalah bilangan genap! + + 45 | Penalaran dalam Matematika + Matematika Dasar | 46 + BAB 3 + + LOGIKA MATEMATIKA + + PENDAHULUAN + Logika adalah dasar dan alat berpikir yang logis dalam +matematika dan pelajaran-pelajaran lainnya, sehingga dapat +membantu dan memberikan bekal tambahan untuk +mempelajari bidang yang lain. Dalam Logika dipelajari +metode-metode dan prinsip-prinsip yang dapat dipakai untuk +membedakan cara berpikir benar (correct) atau tidak benar +(incorrect), sehingga dapat membantu menyatakan ide-ide +tepat dan tidak mempunyai arti ganda. Jadi, dalam ilmu logika +hanya mempelajari atau memperhatikan kebenaran dan +kesalahan dari penalaran, dan penarikan kesimpulan dari +sebuah pernyataan atau lebih. + Secara teoritis belajar logika adalah tidak hanya +belajar bagaimana menalar dengan benar, melainkan juga +mengenal bentuk-bentuk penarikan kesimpulan yang absah. +Simbol-simbol dalam logika, seperti juga dalam bidang +matematika lainnya merupakan sarana yang penting untuk +melakukan penalaran. + + 47 | Logika Matematika + A. PERNYATAAN +Aktivitas: +Perhatikan kalimat-kalimat berikut: +1. Sebuah segiempat mempunyai empat sisi +2. Ibukota provinsi Jawa Tengah adalah Semarang +3. Apakah Ratih berada di rumahmu? +4. Alangkah indahnya lukisan ini! +5. Makassar adalah ibukota provinsi Sulawesi Tenggara +6. Tutuplah pintu itu! +7. Semoga anda lekas sembuh + +Dari kalimat-kalimat diatas: + a. Sebutkan jenis kalimat-kalimat tersebut! + b. Kalimat mana saja yang merupakan pernyataan + c. Bagaimana ciri-ciri kalimat yang merupakan + pernyataan. + +B. KALIMAT TERBUKA + Kalimat terbuka adalah kalimat yang belum dapat + +ditentukan nilai kebenaraanya. Ciri dasar kalimat terbuka +adalah adanya peubah atau variabel. + + Contoh 3.1: + a. 2x - 5 = 9 + b. 3 + n adalah bilangan prima + c. Kota A adalah ibukota provinsi Sulawesi Selatan + +C. PERNYATAAN + + Pernyataan adalah suatu kalimat yang mempunyai +nilai logika (kebenaran) benar saja atau salah saja dan tidak +duanya. Istilah-istilah lain dari pernyataan adalah kalimat + +Dasar Matematika | 48 + matematika tertutup, kalimat tertutup, kalimat deklaratif, +statement atau proposisi. + + Setiap pernyataan adalah sebuah kalimat, tetapi suatu +kalimat belum tentu s u at u pernyataan. Hanyalah kalimat- +kalimat yang bersifat “menerangkan sesuatu” (kalimat +deklaratif) yang dapat digolongkan sebagai pernyataan. +Akan tetapi, tidak semua kalimat yang menerangkan sesuatu +dapat digolongkan sebagai pernyataan. + +Contoh 3.2: +Suatu pernyataan dan nilai kebenarannya. +1. Bangun datar segiempat memiliki empat titik sudut. + + (benar) +2. 2 adalah bilangan prima (benar) +3. 5 – 7 = 2 (salah) +4. Segitiga sama sisi memiliki tiga sudut yang sama + + besar. (benar) + +Contoh 3.3: variabel yang +Bukan pernyataan +1. Bukalah pintu itu! + +2. x lebih besar dari 3 (xadalah + menunjukkan bilangan). + +3. Apakah ariefat sudah makan? + +Suatu pernyataan dinotasikan dengan huruf kecil seperti p, q, +r dsb. +Misalnya: + + P: Semua bilangan prima adalah ganjil + q: Jakarta ibukota Indonesia + +Ada 2 dasar untuk menentukan nilai kebenaran suatun +pernyataan yaitu : + +49 | Logika Matematika + a. Dasar empiris: jka nilai kebenaran ditentukan dengan + pengamatan pada saat tertentu. + + Contoh 3.4: + * Rambut adik panjang + * Besok pagi cuaca cerah +b. Dasar tidak empiris: jka nilai kebenaran ditentukan + menurut kaidah atau hukum tertentu. Jadi nilai mutlak + tidak terikat oleh waktu dan tempat. + + Contoh 3.5: + * Jumlah sudut dalam segitiga adalah 1800 + * Gunung Latimojong terletak di Kabupaten Enrekang + +D. INGKARAN DARI PERNYATAAN + + Ingkaran atau negasi dari suatu pernyataan adalah +pernyataan yang mengingkari pernyataan semula. Ingkaran +dari pernyataan p dinotasikan ~ p dibaca “ bukan p” atau +“tidak p”. + + Contoh 3.6: + a. p : Ibu pergi ke pasar + + ~ p : Ibu tidak pergi ke pasar + b. q : 2 + 7 < 10 + + ~ q : 2 + 7  10 + + c. r : 7 – 3 = 4 + + ~r :7–3 4 + +E. PERNYATAAN TUNGGAL DAN MAJEMUK + + Suatu kalimat selain dibedakan atas pernyataan dan +bukan pernyataan, kalimat juga dibedakan pula atas +pernyataan tunggal dan pernyataan majemuk. Pernyataan +tunggal atau pernyataan sederhana adalah pernyataan yang + +Dasar Matematika | 50 + tidak memuat pernyataan lain atau sebagai bagiannya, +sedangkan pernyataan majemuk dapat merupakan kalimat +baru yang diperoleh dengan cara menggabungkan beberapa +pernyataan tunggal. + + Dua pernyataan tunggal atau lebih dapat digabungkan +menjadi sebuah kalimat baru yang merupakan pernyataan +majemuk, sedangkan tiap pernyataan bagian dari pernyataan +majemuk disebut komponen-komponen pernyataan +majemuk. Komponen-komponen dari pernyataan majemuk +itu tidak selamanya harus pernyataan tunggal, tetapi mungkin +saja pernyataan majemuk. Namun yang terpenting adalah +bagaimana menggabungkan pernyataan-pernyataan tunggal +menjadi pernyataan majemuk. + + Untuk menggabungkan pernyataan-pernyataan +tunggal menjadi pernyataan majemuk dapat dipakai kata +gabung atau kata perangkai yang disebut operasi-operasi +logika matematika. + + Contoh 3.7: + 1. Merah putih adalah bendera negara RI + 2. 2 adalah bilangan prima yang genap + 3. Jika suatu bilangan habis dibagi dua maka bilangan itu + + genap + +F. TABEL KEBENARAN PERNYATAAN + + Tabel kebenaran adalah suatu tabel yang memuat nilai +kebenaran pernyataan-pernyataan tunggal atau pernyataan- +pernyataan majemuk. Untuk melengkapi tabel kebenaran +pernyataan, harus diketahui dulu berapa banyak pernyataan +yang termuat yang berlainan dalam tabel tersebut. Langkah + + 51 | Logika Matematika + ini diperlukan agar tidak ada kemungkinan komposisi nilai +kebenaran yang mungkin tidak tertuliskan. + +Contoh 3.8: +Jika terdapat dua pernyataan berlainan, maka +kemungkinan-nya adalah: +1. Pernyataan pertama benar, pernyataan kedua benar +2. Pernyataan pertama benar, pernyataan kedua salah +3. Pernyataan pertama salah, pernyataan kedua benar +4. Pernyataan pertama salah, pernyataan kedua salah +Berarti ada empat komposisi pernyataan jika terdiri dari +dua pernyataan yang berlainan. Dalam bentuk tabel +kebenaran sebagai berikut: + + p q + + B B + + B S + + S B + + S S + + Jika diperhatikan, ternyata dua pernyataan +mempunyai 4 kemungkinan komposisi. Jadi, banyaknya +komposisi itu tergantung pada banyaknya pernyataan yang +akan digabungkan. Secara umum berlaku jika banyaknya +pernyataan ada n, maka banyaknya komposisi adalah 2n. +Contoh 3.9: +Jika ada 3 pernyataan yang akan digabungkan maka +banyaknya pernyataan yang dapat dibuat adalah 23 = 8. Dalam +bentuk tabel kebenaran: + +p q s + +B B B + +B B S + +B S B + +B S S + +Dasar Matematika | 52 + S B B + +S B S + +S S B + +S S S + +G. OPERASI LOGIKA + + Suatu pernyataan hanyalah bisa benar saja atau salah +saja. Kebenaran atau kesalahan dari suatu pernyataan disebut +nilai kebenaran dari pernyataan itu. Untuk pernyataan yang +mempunyai nilai benar diberi tanda huruf kapital B, +sedangkan untuk pernyataan yang mempunyai nilai salah +diberi tanda huruf kapital S. Telah diuraikan sebelumnya +bahwa pernyataan terdiri dari pernyataan tunggal dan +pernyataan majemuk. Pernyataan majemuk adalah +pernyataan yang terdiri dari gabungan beberapa pernyataan +tunggal. Untuk lebih memahami bentuk pernyataan majemuk +perhatikan beberapa contoh berikut: +1. Hari ini terjadi hujan atau panas +2. 13 adalah bilangan prima dan bilangan ganjil +3. Jika malam nanti cerah maka saya akan datang ke + + rumahmu +4. Suatu segitiga adalah sama sisi jika dan hanya jika ketiga + + sudutnya sama besar. +5. Ibu membeli baju dan sepatu untuk adik + + Untuk menggabungkan pernyataan-pernyataan +tunggal menjadi pernyataan majemuk dapat dipakai kata +gabung atau kata perangkai yang disebut operasi-operasi +logika matematika. Adapun operasi-operasi yang dapat +membentuk pernyataan majemuk adalah: + 1. Negasi/ingkaran, dengan kata perangkai tidaklah benar, + + simbol “ ~ “ + 2. Konjungsi, dengan kata perangkai dan, simbol “  “ + + 53 | Logika Matematika + 3. Disjungsi, dengan kata perangkai atau, simbol “  “ +4. Implikasi, dengan kata perangkai Jika …, maka …., simbol “ + + “ +5. Biimplikasi, dengan kata perangkai ...jika dan hanya jika, + + simbol “  “ + +H. KONJUNGSI + + Suatu pernyataan majemuk yang dibentuk dengan +cara menggabungkan dua pernyataan tunggal dengan +memakai kata perangkai ”dan” disebut konjungsi. Operasi +konjungsi dilambangkan dengan “  “ + + Definisi: Sebuah konjungsi bernilai benar jika komponen- + komponennya bernilai benar, dan bernilai salah jika salah + satu dari komponennya bernilai salah +Definisi diatas dapat ditulis dalam tabel kebenaran sbb: + + p q pq + + B B B + + B S S + + S B S + + S S S + +Contoh 3.10: + +p : diagonal-diagonal persegi saling berpotongan + + tengak lurus. + +q : diagonal persegi sama panjang + +pq : diagonal-diagonal persegi saling berpotongan + + tengak lurus dan diagonal persegi sama + + panjang + +pernyataan p  q bernilai benar sebab p bernilai benar + +dan q bernilai benar. + +Dasar Matematika | 54 + I. DISJUNGSI + + Suatu pernyataan majemuk yang dibentuk dengan +cara menggabungkan dua pernyataan tunggal dengan +memakai kata perangkai atau disebut disjungsi. Operasi +disjungsi dilambangkan dengan “  “ + + Definisi: Sebuah disjungsi inklusif bernilai benar jika paling + sedikit salah satu komponennya bernilai benar, sedangkan + disjungsi eksklusif bernilai benar jika paling sedikit + komponennya bernilai benar tetapi tidak kedua-duanya. + +Definisi diatas dapat ditulis dalam tabel kebenaran sbb: + +Disjungsi Inklusif: + +p q pq + +B B B + +B S B + +S B B + +S S S + +Disjungsi Eksklusif: + +p q p q + +B B S + B +B S B + S +S B + +S S + + 55 | Logika Matematika + Contoh 3.11: +Disjungsi inklusif : seseorang yang boleh melamar CPNS +adalah warga Negara Indonesia lulus SMA atau yang +sederajat. +Disjungsi eksklusif : saya berada dirumah atau disekolah + +J. IMPLIKASI + + Suatu pernyataan majemuk yang dibentuk dengan +cara menggabungkan dua pernyataan tunggal dengan +memakai kata perangkai ”Jika Maka” disebut implikasi +disimbolkan dengan “  “ + + Definisi: Sebuah pernyataan implikasi hanya salah jika + antesedennya benar dan konsekwennya salah, dalam + kemungkinan lainnya implikasi bernilai benar. + +Pernyataan majemuk “jika p maka q” yang dibentuk dari +pernyataan p dan q disebut implikasi dan dituliskan p  q. +Pernyataan p  q dapat dibaca: + +  Jika p, maka q. +  p mengimplikasi q . +  q hanya jika q . +  q jika p. +  q asal saja p +  p adalah syarat cukup untuk q . +  q adalah syarat perlu untuk p . + +Definisi tersebut dapat ditulis dalam tabel kebenaran sbb: + +P q pq + +B B B + +B S S + +S B B + +S S B + +Dasar Matematika | 56 + Contoh 3.12: + +p : 11 adalah bilangan prima + +q : Jumlah sudut-sudut dalam segitiga 1800 + +p  q : jika 11 adalah bilangan prima maka jumlah + + sudut-sudut dalam segitiga 1800 + +K. BIIMPLIKASI + + Suatu pernyataan majemuk yang dibentuk dengan +cara menggabungkan dua pernyataan tunggal dengan +memakai kata perangkai … jika dan hanya jika... disebut +biimplikasi. Operasi biimplikasi dilambangkan dengan “  “ + + Definisi: Sebuah pernyataan biimplikasi bernilai benar jika + komponen-komponennya mempunyai nilai kebenaran sama, + dan jika komponen-komponennya mempunyai nilai + kebenaran tidak sama maka biimplikasi bernilai salah. + +Definisi diatas dapat ditulis dalam tabel kebenaran sbb: + + p q pq + + B B B + + B S S + + S B S + + S S B + +Contoh 3.13: + +p : Segitiga ABC adalah segitiga sama sisi + +q : Ketiga sisi segitiga ABC sama panjang + +p  q : Segitiga ABC adalah segitiga sama sisi jika dan + + hanya jika ketiga sisi segitiga ABC sama + + panjang + + 57 | Logika Matematika + L. BENTUK-BENTUK PERNYATAAN + +1. Tautologi, Kontradiksi, dan Kontegensi + a. Tautologi + Jika nilai kebenaran pernyataan majemuk adalah + benar dalam segala hal, tanpa memandang nilai + kebenaran komponen-komponennya. Dalam tabel + kebenaran, suatu tautologi selalu bernilai benar (B) + pada setiap barisnya. + +b. Kontradiksi + Jka suatu pernyatan majemuk dengan nilai + kebenaran pernyataannya salah dalam segala hal, + tanpa memandang komponen-komponennya. Dalam + tabel kebenaran, suatu kontradiksi selalu bernilai + salah (S) pada setiap barisnya. + +c. Kontigensi + Suatu pernyataan majemuk tidak harus mempunyai + nilai kebenaran selalu benar atau selali salah untuk + segala hal. Bisa jadi pernyataan majemuk itu + mempunyai nilai kebenaran benar pada suatu situasi + dan mempunyai nilai kebenaran salah pada situasi + yang lain. Secara umum, sebuah pernyataan + majemuk dinamakan kontigensi, jika nilai + kebenarannya merupakan kumpulan nilai benar dan + salah diluar tautologi dan kontradiksi. + +Contoh 3.14: +Selidiki pernyataan di bawah ini apakah suatu tautologi, + +kontradiksi atau kontingensi! (~p  q)  (q p) + +p q ~p ~p  q q p ( ~p  q)(q  p) + +BB S S B B + +Dasar Matematika | 58 + BS S S B B + +SB B B S B + +SS B S B B + +Karena pada tabel kebenaran di atas benar semua, maka +pernyataan di atas suatu tautologi + +2. Implikasi Logis dan Ekuivalen Logis + Suatu bentuk pernyataan implikasi yang merupakan + tautologi disebut implikasi logis. + + Contoh 3.15: + + Selidikilah apakah bentuk pernyataan majemuk [( p  + q)p] p merupakan implikasi logis atau bukan. + +p q p q (p q )  p [( p q)p] p + +BB B B B + +BS S S B + +SB B S B + +SS B S B + +Dua atau lebih pernyataan majemuk yang mempunyai nilai +kebenaran sama disebut ekwivalen logis dengan notasi “  “ +atau “  “ + +Contoh 3.16: p q +Selidikilah apakah bentuk pernyataan majemuk +ekivalen logis dengan + +(p q)  (q  p) + +p q p q p q q p (p q)  (q  p) + +BB B B B B + + 59 | Logika Matematika + BS S S B S + +SB S B S S + +SS B B B B + +Karena p q mempunyai nilai kebenaran sama dengan (p  +q)(q  p), maka kedua pernyataan majemuk di atas disebut + +ekwivalen logis. + +Jadi, p q  (p q)(q  p) + +3. Konvers, Invers dan Kontraposisi + +  Jika suatu bentuk implikasi p q diubah menjadi q  + + p disebut konvers + +  Jika suatu bentuk implikasi p q diubah menjadi ~p + ~q disebut invers + +  Jika suatu bentuk implikasi p q diubah menjadi ~q + ~p disebut kontraposisi + +Adapun skema konvers, invers dan kontraposisi dapat + +dilihat sbb: + + konvers + +p q qp + +invers kontaposisi invers + +~p ~q ~q ~p + + Konvers + +Contoh 3.17: +Carilah konvers, invers dan kontraposisi dari pernyataan: + + “ Jika binatang itu bertubuh besar maka binatang itu + disebut gajah “ + +Dasar Matematika | 60 + Konvers : Jika binatang itu disebut gajah maka binatang + Itu bertubuh besar + + Invers : Jika binatang itu tidak bertubuh besar maka + binatang itu bukan gajah + + Kontraposisi : Jika binatang itu bukan gajah maka binatang + itu tidak bertubuh besar + + Silahkan anda mencoba soal berikut untuk lebih + memahami konvers, invers dan kontraposisi: + Buatlah konvers, invers dan kontraposisi dari pernyataan + berikut dan tentukan nilai kebenarannya. + 1. Jika dua buah garis saling tegak lurus maka kedua + + garis itu membentuk sudut siku-siku + + 2 + + 2. Jika x = 3 maka x = 9 + +M. KUANTOR + + Suatu Kuantor adalah suatu ucapan yang apabila +dibubuhkan pada suatu kalimat terbuka akan mengubah +kalimat terbuka tersebut menjadi suatu kalimat tertutup atau +pernyataan. + +Kuantor dibedakan atas: +1. Kuantor Universal / Umum ( Universal Quantifier ), + + notasinya : “  ” + + Misalkan p(x) adalah suatu kalimat terbuka, dengan x + anggota himpunan semesta pembicaraan S + + Pernyataan : (x  S) p(x) atau (x) p(x) + + Dibaca “untuk setiap x, berlaku p(x)” + Penggunaaan kata “untuk setiap” pada + kuantor universal senilai dengan kata + “untuk semua”, untuk tiap-tiap”, dan + “untuk seluruhnya” + + 61 | Logika Matematika + Contoh 3.18: + + 1. Tuliskan kalimat “untuk setiap n anggota himpunan + bilangan asli N, berlaku n anggota himpunan + bilangan real R” dengan notasi matematika + + 2. Jika semesta pembicaraannya bilangan real R, + + tentukan nilai kebenaran dari (x)(x  3  6) + + Jawab: + + 1. (n) n  N  n  R + 2. (x)(x  3  6) bernilai salah. Karena ada nilai x + + yang tidak memenuhi, misalnya x = 4. Akibatnya, 4 + + 3 < 6 (bernilai salah). Dengan demikian tidak berlaku + + untuk setiap x  R + +2. Kuantor Khusus ( Kuantor ( Eksistensial Quantifier ), + + notasinya : “  “ + + Misalkan p(x) adalah suatu kalimat terbuka pada suatu + himpunan semesta pembicaraan S + + Pernyataan (x  S ) p(x) atau (x) p(x) + + Dibaca “terdapat x sehingga p(x)” + Kata “terdapat” senilai dengan kata “ada”, + “beberapa”, “untuk suatu”, dan “untuk paling + sedikit satu” + + Contoh 3.19: + Tentukan nilai kebenaran dari kalimat berkuantor + eksistensial berikut jika x dan y adalah anggota himpunan + bilangan real R. + + a. (x)(x2  6x  8  0) + b. (x)(y)(x2  2 y  3) + +Dasar Matematika | 62 + Jawab: benar. Misalnya + benar. Misalnya +a. (x)(x2  6x  8  0) bernilai + + diambil x = 2 atau x = 4 + +b. (x)(y)(x2  2 y  3) bernilai + + diambil x =1 dan y = 1 + +N. NEGASI PERNYATAAN BERKUANTOR + + Negasi pernyataan “Semua manusia akan mati” adalah +“Tidak benar bahwa semua manusia akan mati” atau “Beberapa +manusia tidak akan mati”. Negasi pernyataan “Beberapa +manusia memakai baju putih” adalah “Tidak benar bahwa +beberapa manusia memakai baju putih” atau “ Semua manusia +tidak memakai baju putih”. + +Dengan demikian, jika dituliskan secara simbolik adalah: +  x p(x) negasinya x ~ p(x) + x p(x) negasinya x ~ p(x) +  x y p(x,y) negasinya x y ~ p(x,y) + x y p(x,y) negasinya x y ~ p(x,y) + + Contoh 3.20: + 1. Negasi dari pernyataan: “ Semua mahasiswa tidak + + mengerjakan tugas “ adalah “ Ada mahasiswa yang + mengerjakan tugas “ + Jika diberikan notasi, maka pernyataan di atas + menjadi: + + x, M(x)  T( x) , negasinya  x, M(x)  T(x) + +2. Tentukan negasi dari kalimat berkuantor + + (x)(y)(x2  y 2  25) + +Jadi negasinya adalah (x)(y) ~ (x2  y 2  25) + +atau + + (x)(y)(x2  y 2  25) + + 63 | Logika Matematika + O. PENARIKAN KESIMPULAN + +1. Argumen + Argumen merupakan kumpulan pernyataan-pernyataan + yang dikelompokkan dalam dua bagian yaitu premis dan + konklusi. Premis tersusun atas pernyataan-pernyataan + yang digunakan sebagai data untuk menghasilkan + pernyataan baru berupa konklusi atau kesimpulan. + + Contoh 3.21: + 1) Jika bilangan dan logika diperlukan maka semua + + mahasiswa belajar matematika + 2) Bilangan dan logika diperlukan + + ∴ semua manusia belajar matematika + + Pernyataan (1) dan (2) merupakan premis, sedangkan ∴ + merupakan kesimpulan dari argument tersebut. + + Contoh 3.22: + Jika kita makan nasi satu piring maka perut kita kenyang, + dan jika kita minum air jeruk satu gelas maka badan kita + segar. Jadi kita makan nasi satu piring dan minum air + jeruk satu gelas maka perut kita kenyang dan badan kita + segar. + + Tentukan premis dan konklusi dari argument tersebut. + Suatu argumen dikatakan valid apabila untuk sembarang + pernyataan-pernyataan yang ada dalam premis benar + maka kesimpulannya juga benar. Sebaliknya, meskipun + semua premis benar tetapi ada kesimpulan yang salah + maka argument tersebut dikatakan tidak valid. Dengan + kata lain, penarikan kesimpulan dikatakan valid jika + kebenaran konjungsi pernyataan-pernyataan yang ada + pada premis mengakibatkan secara logic kebenaran + konklusi. + +Dasar Matematika | 64 + Bukti Keabsahan Argumen +Bukti keabsahan argumen dapat melalui: + + 1. Tabel Kebenaran + 2. Aturan Penyimpulan + +Untuk argumen sederhana atau argumen yang premis- +premisnya hanya sedikit bukti keabsahan argumen dapat +menggunakan tabel kebenaran, namun untuk argumen yang +premis-premisnya kompleks harus menggunakan aturan- +aturan yang ada pada logika diantaranya aturan penyimpulan. + +Tabel Kebenaran +Contoh 3.23: + +Buktikan keabsahan argumen + +a. 1. p q + + 2. ~ q / ~p + +b. 1. a b + 2. c d + + 3. ( ~b~d )  ( ~a~b )/ ~a ~c (latihan) + +Bukti: +menggunakan tabel kebenaran + +p q ~p ~q p q [(p q)  ~q] [(p q)  ~q] +  ~p +BB S S B S + B +BS S B S S B + B +SB B S B S B + +S S B B B B + + Karena dari tabel kebenaran di atas menunjukkan +tautologi, maka argumen sah atau valid + + 65 | Logika Matematika + Aturan Penyimpulan + +1. Modus Ponens (MP) + + p q + + p /q + +2. Modus Tolens (MT) + + p q + + ~q / ~p + +3. Hypothetical Syllogisme (HS) + + p q + q r / p r + +4. Disjunctive Syllogisme (DS) + pq + ~p /  q + +5. Constructive Dillema (CD) + + (p q )  ( r s ) + + pr / q v s + +6. Destructive Dillema (DD) + + (p q)  (r s) + + ~q~s / ~p~r + +7. Conjunction (Conj) + p + q / p  q + +8. Simplification (Simpl) + pq + p + +9. Addition ( Add) + p + pq + +Dasar Matematika | 66 + Aturan Penggantian +1. De Morgan + + a. ~( p  q )  ~ p ~q + b. ~( pq )  ~p ~q + +2. Komutatif + a. ( p  q )  ( q  p ) + b. ( p V q )  ( q V p ) + +3. Asosiatif + a. ( pq )  r  p ( qr ) + b. ( p  q )  r  p  ( q  r ) + +4. Distributif + a. ( pq )  r  ( p  r )  ( q  r ) + b. ( p  q ) r  ( pr )  ( qr ) + +5. Dobel Negasi + ~(~ p )  p + +6. Implikasi + + p q  ~pq + +7. Material Equivalen + + a. p  q  ( p q )  ( q p ) + + b. p  q  ( p  q )  ( ~ p  ~ q ) + +8. Eksportasi + + p  ( qr )  ( p  q ) r + +9. Transposisi + + p q  ~q  ~p + +10. Tautologi + a. ( pp )  p + b. ( p  p )  p + + 67 | Logika Matematika + Namun, dari aturan penyimpulan dan aturan penganti +yang sering digunakan dalam penarikan kesimpulan adalah +modus ponens, modus tollens, dan modus silogisme. +(1) Modus Ponens + + Modus ponens merupakan salah satu bentuk aturan + penyimpulan yang bentuk argumennya: + + p q + + p /q + jika dinyatakan dalam implikasi maka argumen tersebut + adalah + [( ⇒ ) ∧ ] ⇒ yang nilai kebenarannya merupakan + tautologi. + + Contoh 3.24: + 1) Jika lampunya terang, maka Aldi dapat membaca + + dengan jelas + Lampunya terang + Karena itu, Aldi dapat membaca dengan jelas + 2) Jika lampunya terang, maka Aldi dapat membaca + dengan jelas + Aldi dapat membaca dengan jelas + Karena itu, lampunya terang + 3) Jika lampunya terang, maka Aldi dapat membaca + dengan jelas + Lampunya tidak terang + Karena itu, Aldi tidak dapat membaca dengan jelas + + Dari ketiga argumen tersebut, selidiki yang mana + merupakan argumen yang valid (sah)! + +(2) Modus Tollens + Modus tollens juga merupakan salah satu bentuk dari + aturan penyimpulan yang bentuk argumennya + + p q + +Dasar Matematika | 68 + ~q / ~p + jika dinyatakan dalam bentuk implikasi maka argumen + tersebut adalah + [( ⇒ ) ∧ ¬] ⇒ ¬ yang nilai kebenarannya dalam + bentuk tautologi. + + Contoh 3.25: + 1) Jika membayar pajak tidak terlambat maka tidak + + akan kena denda + Kena denda + Berarti membayar pajak + 2) Jika membayar pajak tidak terlambat maka tidak + kena denda + Membayar pajak terlambat + Karena itu, kena denda + + Dari kedua argumen tersebut, selidiki yang mana + merupakan argumen yang valid. + +(3) Modus Silogisme + Silogisme merupakan sebuah konsep pengambilan + kesimpulan dengan menggunakan aturan rantai yaitu: + + p q + q r / p r + + bentuk implikasi dari silogisme adalah [( ⇒ ) ∧ ( ⇒ + ] ⇒ ( ⇒ ) yang merupakan tautologi. + + Contoh 3.26 + 1) Jika hari ini ibu ke pasar, maka ibu beli ikan + + ⇒ + Jika ibu beli ikan, maka ibu memasak ikan + + ⇒ + Jika ibu memasak ikan, maka ibu tidak membuat kue + + ⇒ + + 69 | Logika Matematika + Hari ini ibu ke pasar + + + Karena itu, ibu tidak membuat kue + ∴ + + Penyelesaian: + Misalkan: + (1) ⇒ + (2) ⇒ + (3) ⇒ + (4) + (5) ∴ + Dari (1) dan (2) diperoleh dengan modus silogisme + yaitu ⇒ + Dari ⇒ dengan (3) dengan modus silogisme + diperoleh ⇒ + Dari ⇒ dengan (4) dengan modus ponens diperoleh + + Jadi argumen tersebut adalah valid. + 2) Jika hari ini ibu ke pasar, maka ibu membeli ikan + + Jika ibu membeli ikan, maka ibu memasak ikan + Jika ibu memasak ikan, maka ibu tidak membuat kue + Ibu membuat kue + Karena itu, hari ini ibu tidak ke pasar. + 3) Jika hari ini ibu ke pasar, maka ibu membeli ikan + Jika ibu membeli ikan, maka ibu memasak ikan + Jika ibu memasak ikan, maka ibu tidak membuat kue + Ibu tidak membuat kue + Karena itu, hari ini ibu ke pasar + Selidiki keabsahaan argumen (2) dan (3)! + +Dasar Matematika | 70 + P. PENERAPAN LOGIKA MATEMATIKA + Logika matematika dengan nilai kebenarannya tidak + +hanya berguna untuk menetapkan besar atau salahnya +pernyataan, tetapi secara pratis banyak aplikasi dalam +kehidupan sehari-hari. Salah bentuk penerapan logika +matematika dalam rangkaian listrik. + + Secara umum rangkaian listrik yang sering kita jumpai +dalam peralatan elektronik dibedakan menjadi dua yaitu +rangkaian seri dan paralel. Pada rangkaian seri lampu akan +menyala hanya apabila misalkan saklar p dan saklar q dalam +posisi menyala (on), jika tidak lampu akan mati. Perhatikan +ilustrasi berikut: + +Rangkaian listrik seri merupakan konsep dari konjugsi ( ∧ ). +Bagaimana dengan rangkaian paralel? + + Tuliskan simbol logika dari rangkaian listrik berikut: + + 71 | Logika Matematika + Q. RANGKUMAN +1. Pernyataan adalah kalimat matematika yang sudah jelas, + + sudah pasti benarnya atau salahnya dan tidak + mempunyai dua arti. Oleh karena itu, nilai kebenaran dari + pernyataan diberi benar (B) atau (S). +2. Pernyataan terdiri dari dua yaitu pernyataan tunggal dan + pernyataan majemuk. Pernyataan majemuk adalah + pernyataan yang mengandung pernyataan lain sebagai + komponennya. Jadi, terdiri dari beberapa pernyataan. +3. Operasi logika terdiri dari konjungsi, disjungsi, implikasi + dan biimplikasi. +4. Bentuk-bentuk pernyataan terdiri dari tautologi, + kontradiksi, kontigensi, konvers, invers, kontraposisi +5. Argumen merupkan kumpulan dari pernyataan- + pernytaaan yang terdiri dari premis dan konklusi. +6. Untuk membuktikan keabsahan argumen, dalam + melakukan penarikan kesimpulan yaitu dengan + menggunakan tabel kebenaran dan aturan penyimpulan. +7. Penarikan kesimpulan yang sering digunakan adalah + modus ponens, modus tollens, dan modus silogisme. + +Dasar Matematika | 72 + R. LATIHAN + +1. Nyatakan kalimat-kalimat berikut merupakan kalimat + terbuka atau pernyataan. jika pernyataan nyatakan nilai + kebenaranya : x + 2 = x – 2 dan 2(x + 1)+ 3 = 2x +5 + +2. Tuliskan negasi dari pernyataan 2 bilangan prima + dan 2 +3 sama dengan 5 + +3. Tentukan nilai kebenaran dari 3 bilangan prima atau + 5 bilangan genap dengan disjungsi + +4. Tentukan nilai kebenaran dari 6 bilangan prima dan + 3 bilangan ganjil dengan konjungsi + +5. Tentukan nilai kebenaran jika 2 + 3 = 5, maka 4 + 5 = 7 + dengan implikasi + +6. Tentukan nilai kebenaran 2 + 2 = 4 3 + 4 = 8 + +7. Tentukan konvers, invers, dan kontraposisi dari setiap + pernyataan implikasi berikut : + a. Jika harga BBM naik, maka harga kebutuhan sehari- + hari naik + b. Jika Carli siswa yang pandai, maka ia lulus tes + c. Jika harga turun, maka permintaan naik + + d. Jika n 2 ganjil maka n ganjil + +8. Selidiki apakah pernyataan-pernyataan di bawah ini suatu + + tautologi, kontradiksi atau kontingensi! ( p v q )  ( ~ p  + + r) + + a. [( p q )  ( q p )]  ( p  q ) + b. ( p  q )  ( p  ~q ) + c. ( p  q ) p + d. ( p q )  [ ( ~ q  r )  ( r  p ) ] + e. ( pq )  ( ~p  q ) + + 73 | Logika Matematika + f. ( p  q)  q + g. q  ( p ~ q) + +9. Selidiki apakah pernyataan di bawah ini implikasi logis, + ekwivalen logis atau tidak kedua-duanya + + a. [( p  q ) r]  [( p ~q ) v r] + b. [( p q ) r]  ( pq ) + c. [p  ( q r )]  [( p  q ) r] + d. [( p q ) v r ]  [( p  ~ q )  r] + e. [ ~ ( p  q )]  ( p  q ) + +10. Buktikan keabsahan argumen di bawah ini! + + a. j k + b. ( k l ) ~( m  n ) + c. (~m  ~n)  ( o  p ) + d. (o  p)  (q  r) / ( l  k )  (r  q) + +11. Buatlah notasi untuk pernyataan berkuantor di bawah ini! + 1) Semua pedagang asongan adalah pejalan kaki ( A(x), + K(x) ) + 2) Ada mahasiswa yang tidak mengerjakan tugas ( M(x), + T(x) ) + 3) Beberapa mahasiswa lomba Porseni ( M(x), L(x) ) + +12. Jika p(x) kalimat terbuka: x + 3 > 5 maka nyatakan + kedalam bentuk simbol pernyataan kuantor universal dan + kuantir eksistensial + +13. Jika x  bilangan bulat, maka tentukan nilai kebenaran + dari pernyataan-pernyataan di bawah ini! + + 1) (  x) (  y ) ( x + 2y = 7 ) + 2) (  x) (  y) (x + 2y = x) + 3) (  x) (  y) ( x > y ) + 4) (  x) (  y) ( x.y = 1 ) + +Dasar Matematika | 74 + 14. Ubahlah kalimat di bawah ini ke dalam notasi logika! + a. Tidak semua bunga mawar berwarna merah (B(x), + M(x)) + b. Semua mahasiswa baru harus mendaftar ulang (M(x), + U(x)) + c. Ada bilangan prima yang genap (P(x), G(x)) + d. Beberapa tamu yang datang pejabat negara (T(x), P(x)) + e. Tidak semua penumpang memiliki karcis (P(x), K(x)) + +15. Gambarkan rangkaian listrik untuk pernyataan- + pernyataan berikut: + . ( ∧ ) ∨ + b. ( ∨ ) ∧ + c. ( ∨ ( ∧ )) ∨ (( ∨ ) ∧ ( ∨ )) + + 75 | Logika Matematika + Dasar Matematika | 76 + BAB 4 + + HIMPUNAN + + PENDAHULUAN + Himpunan merupakan objek dasar dari semua objek +yang dipelajari dalam matematika selain fungsi. Pada saat +sesorang belajar matematika, mulai tingkat dasar sampai +tingkat lanjut, selalu berhadapan dengan himpunan. Sebagai +contoh, jika seorang siswa belajar tentang operasi +penjumlahan bilangan bulat maka akan mempelajari tentang +himpunan bilangan bulat dimana semua prosesnya dilakukan +dalam ruang lingkup himpunan bilangan bulat. + George Cantor (1845 – 1918) adalah seorang ahli +Matematika bangsa Jerman yang pertama kali +mengembangkan teori himpunan. Pada permulaannya +konsep mengenai himpunan bertahun-tahun tidak diterima, +tetapi baru tahun 1920 pendapatnya itu dipertimbangkan oleh +para ahli matematika pada waktu itu. + Teori himpunan pertama kali diperkenalkan di sekolah +pada tahun 1960-an setelah era Sputnik. Pada tahun 1970-an +banyak orang merasa bahwa symbol-simbol yang ada pada +teori himpunan ini mengakibatkan kebingungan pada anak- +anak maupun orang dewasa, khususnya bagi mereka yang +baru mengenal symbol-simbol itu. + + 77 | Himpunan + A. PENGERTIAN HIMPUNAN + + Tidak semua konsep dalam matematika dapat +didefinisikan secara tepat. Dalam matematika, himpunan +merupakan pengertian pangkal (tidak didefinisikan, undefined +term). Untuk memahaminya, himpunan sering diartikan +sebagai kumpulan objek-objek (abstrak atau konkret) yang +didefinisikan dengan jelas (well defined), jadi keanggotaannya +harus jelas. Didefinisikan dengan jelas, berarti himpunan +dapat mengklasifikasikan objek kedalam anggota atau bukan +anggota himpunan itu. + + Contoh 4.1: Yang termasuk himpunan: +  Kumpulan hewan-hewan berkaki dua. +  Kumpulan huruf vokal +  Kumpulan nama-nama mahasiswa UNM yang berusia + + di bawah 20 tahun + + Contoh 4.2: Yang bukan merupakan himpunan: +  Kumpulan mobil yang bagus +  Kumpulan lukisan yang indah +  Kumpulan mahasiswi PGSD UNM yang cantik. + +B. NOTASI DAN ANGGOTA HIMPUNAN + + Himpunan biasanya dinyatakan dengan huruf kapital +A, B, C, D, dan seterusnya. Untuk menyatakan suatu himpunan +digunakan simbol “{….}”. Sementara untuk melambangkan +anggota (elemen) himpunan biasanya menggunakan huruf +kecil a, b, c, d, dan seterusnya. Perlu diperhatikan bahwa +penulisan anggota (elemen) dalam suatu himpunan hanya +sekali saja Jadi tidak boleh kita menuliskan himpunan sebagai +{1,a,b,8,a}. Demikian pula kita tidak boleh menyatakan + +Dasar Matematika | 78 + himpunan sebagai {bunga, kambing, sapi, kerbau, sapi, +tumbuhan}. Untuk menyatakan anggota (elemen) suatu + +himpunan digunakan lambang “” (baca: anggota / elemen) + +sedangkan untuk menyatakan bukan anggota suatu + +himpunan digunakan lambang “ ” (baca: bukan anggota + +/elemen). + + Contoh 4.3: +  Himpunan huruf vocal. V ={a, i, u, e, o} +  Himpunan bilangan asli. N = { 1, 2, 3,... } +  Himpunan bilangan bulat. Z = { ..., -2, -1, 0, 1, 2, ... } + +C. CARA MENYATAKAN HIMPUNAN + + Suatu himpunan dapat dinyatakan dengan tiga cara +sebagai berikut: +1. Dengan kata-kata. + + Dengan cara kata-kata artinya menyebutkan semua + syarat/sifat keanggotaannya. + + Contoh 4.4: +  N adalah himpunan bilangan asli yang dimulai dari 5 + + sampai 15 + Dituliskan dengan cara, N = {bilangan asli dari 5 + sampai 15} +  P adalah himpunan bilangan prima antara 10 dan 40, + Ditulikan dengan cara, P = {bilangan prima antara 10 + dan 20}. + +2. Dengan Cara mendaftar anggota-anggotanya + Dengan cara menyebutkan anggota-anggotanya, yaitu + menuliskan semua angotanya dengan menggunakan + kurung kurawal, dan anggota-anggotanya dipisahkan + dengan tanda koma. Pada contoh (1.4) tersebut dapat + + 79 | Himpunan + dituliskan dengan cara mendaftar semua anggota- +anggotannya, dapat kita lihat sebagai berikut + N = {5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15} + P = {11, 13, 17, 19} + +3. Dengan notasi pembentuk himpunan. + Dengan notasi pembentuk himpunan Sama seperti + menyatakan himpunan dengan kata-kata dan cara + mendaftar semua anggota-anggotannya, pada cara ini + disebutkan semua syarat/sifat keanggotannya. Namun, + anggota himpunan dinyatakan dengan suatu peubah. + Peubah yang biasa digunakan adalah x atau y. Adapun + beberapa penulisan dengan cara notasi namun + mempunyai makna yang sama. Kita kembali melihat + contoh (1.4) dan penjelasan penulisan himpunan dengan + cara mendaftar anggota-anggotanya pada bagian 2 akan + ditulikan dengan notasi pembentukan himpunan, dapat + kita lihat sebagai berikut: + +  N = {x | 5  x  15 , x bilangan asli} atau ditulikan + dengan notasi N  {x 5  x  15, x  N}, + + N  {x 4  x  15, x  N} , N  {x 5  x  16, x  N} + + , N  {x 4  x  16, x  N} + +  P = {x | 10  x  20 , x bilangan prima} atau dituliskan + dengan notasi P  {x 5  x  16, x  P} + +Dasar Matematika | 80 + Lab Mini +Kegiatan 1: +Dengan memperhatikan benda-benda yang terdapat di dalam +ruangan maka kalian dapat menentukan beberapa kumpulan +benda. +1. Daftarlah kumpulan benda: + + a. Benda-benda yang ada dalam ruangan + b. Benda-benda yang ada dalam ruangan yang terbuat + + dari kayu + c. Nama-nama teman dalam ruangan yang berkacamata + d. Merek-merek HP temanmu yang paling mahal + e. Nama-nama temanmu yang pandai +2. Dari kumpulan-kumpulan yang kalian daftar, tentukan + yang mana himpunan dan bukan himpunan. Berikan + alasanmu! + +Kegiatan 2: +1. Perhatikan angka-angka dan symbol-simbol yang + + terdapat di kalkulator. Apakah angka-angka dan symbol- + simbol tersebut mewakili suatu himpunan tertentu? + Berikan pendapatmu! +2. Diketahui Himpunan A adalah tujuh bilangan asli + pertama. Nyatakanlah himpunan A dengan cara: + a. Mendaftar semua anggota-angootanya + b. Menggunakan notasi himpunan + c. Mengunakan kata-kata + + 81 | Himpunan + D. MACAM-MACAM HIMPUNAN + +1. Himpunan kosong + Himpunan Kosong adalah himpunan yang tidak + mempunyai anggota atau biasa dikenal dengan + himpunan hampa, yang dinotasikan dengan { } atau  + (dinyatakan himpunan kosong). Secara teoritis, himpunan + kosong adalah himpunan bagian dari setiap himpunan. + +Contoh 4.5: + + A adalah himpunan manusia di bumi yang tingginya + +lebih dari 25 meter. Karena tidak ada manusia di bumi + +yang tingginya lebih dari 25 meter maka A = { } + + N = {x│x adalah bilangan asli kurang dari 1} + + P = { orang Indonesia yang pernah ke bulan }, maka P = + + + +Catatan: Perhatikan bahwa { 0 } tidak sama dengan { } + +atau { 0 } ≠ { }. + +{ 0 } bukan himpunan kosong, sebab mempunyai + +anggota, yaitu 0. + +{ } tidak mempunyai anggota, maka disebut + +himpunan kosong. + +2. Himpunan Semesta + Himpunan semesta adalah himpunan yang memuat + semua anggota himpunan yang dibicarakan. Himpunn + semesta disebut juga semesta pembicara atau himpunan + universal. Lambang himpunan semesta adalah S atau U. + +Dasar Matematika | 82 + Contoh 4.6: + S adalah himpunan huruf latin + + S = {a,b,c,d,e,f,g,h,i,j,k,l,m,n,o,p,q,r,s,t,u,v,w,x,y,z} + V adalah himpunan huruf vokal V = {a,i,u,e,o} + +Untuk memperjelas kedudukan sebuah himpunan dalam +himpunan semesta atau untuk menggambarkan relasi +antar himpunan, kita dapat menggunakan diagram Venn. +Berikut contoh diagram Venn yang mempresentasikan +kedudukan himpunan V (himpunan huruf vokal) dalam +himpunan semesta S (himpunan huruf latin). + +Sc df j + + yk s np + q + rt +vb z + hg x + m + l V + + w ai + + ue o + + Gambar 1 + +3. Himpunan Berhingga dan Himpunan Tak Berhingga + Himpunan dikatakan berhingga jika ia mempunyai + anggota-anggota yang banyaknya berhingga. Sedangkan + himpunan dikatakan tak berhingga jika himpunan + tersebut mempunyai anggota-anggota yang banyaknya + tak berhingga. + + Contoh 4.7: + +  R = {x x  himpunan bilangan-bilangan cacah} + + Berarti anggotanya {0, 1, 3, …..}, jadi R disebut + himpunan tak berhingga + + 83 | Himpunan +  M = {x x  himpunan bilangan-bilangan cacah kurang + + dari 5} + Berarti anggotanya {0, 1, 3, 4}, jadi M disebut + himpunan berhingga + + Perhatikan angka-angka dan symbol-simbol yang + terdapat di kalkulator. Apakah angka-angka dan + symbol-simbol tersebut mewakili suatu himpunan + tertentu? Berikan pendapatmu! + +Aktivitas: +Kegiatan 1: + +Perhatikan angka-angka dan symbol-simbol yang terdapat di +kalkulator. Apakah angka-angka dan symbol-simbol tersebut +mewakili suatu himpunan tertentu? Berikan pendapatmu! +1. Daftarlah 5 himpunan kosong yang dapat dibentuk yang + + berada di sekitarmu +2. Tuliskan himpunan yang kalian daftar menggunakan + + notasi himpunan. + +Kegiatan 2: +Jika diketahui: P = {pensil, buku} + + Q = Himpunan bilangan prima yang kurang dari + 6 + R = { x | 5 < x < 8, x ∈ bilangan cacah} +1. Tentukan masing-masing 2 himpunan semesta yang + mungkin dari himpunan P +2. Tentukan masing-masing 2 himpunan semesta yang + mungkin dari himpunan Q +3. Tentukan masing-masing 2 himpunan semesta yang + mungkin dari himpunan R + +Dasar Matematika | 84 + E. SIFAT-SIFAT OPERASI HIMPUNAN +1. Komutatif + + Diberikan himpunan A dan B. + + Maka berlaku AB = BA dan juga AB = BA + +2. Asosiatif + Diberikan himpunan A, B dan C. + + Maka berlaku (AB)C = A(BC) dan juga + (AB)C= A(BC). + +3. Idempoten + + Diberikan suatu himpunan A. Maka berlaku AA=A + dan juga AA=A + +4. Identitas + Diberikan suatu himpunan A dalam semesta S. + + Maka AS=A dan juga AS=A + +5. Distributif + + Diberikan himpunan A,B dan C. Maka A(BC) = + (AB)(AC) dan juga A(BC)=(AB)(AC) + +6. Komplementer + Diberikan suatu himpunan A dalam semesta S. Maka + + AAc = S dan AAc =  + +7. Dalil De Morgan + Diberikan himpunan A dan B. + + Maka (AB)c = Ac  Bc dan (AB)c = Ac  Bc + + 85 | Himpunan + F. OPERASI HIMPUNAN +1. Irisan (intersection) + +  Notasi : A  B = { x  x  A dan x  B } + Contoh 4.8: + (i) Jika A = {2, 4, 6, 8, 10} dan B = {4, 10, 14, 18}, + + maka A  B = {4, 10} + (ii) Jika A = { 3, 5, 9 } dan B = { -2, 6 }, maka A  B = . + + Artinya: A // B +2. Gabungan (union) + +  Notasi : A  B = { x  x  A atau x  B } + + Contoh 4.9: + (i) Jika A = { 2, 5, 8 } dan B = { 7, 5, 22 }, maka A  B = {2, + + 5, 7, 8, 22 } + (ii) (ii) A   = A + +Dasar Matematika | 86 + 3. Komplemen (complement) + + A  Notasi : = { x  x  U, x  A } + + Contoh 4.10: + Misalkan U = { 1, 2, 3, ..., 9 }, + + A (i) Jika A = {1, 3, 7, 9}, maka = {2, 4, 6, 8} + A (ii) Jika A = { x | x/2  P, x < 9 }, maka = { 1, 3, 5, 7, 9 } + + Contoh 4.11: + Misalkan: + A = himpunan semua mobil buatan dalam negeri + B = himpunan semua mobil impor + C = himpunan semua mobil yang dibuat sebelum + + tahun 1990 + D = himpunan semua mobil yang nilai jualnya + + kurang dari Rp 100 juta + E = himpunan semua mobil milik mahasiswa + + universitas tertentu + (i) “mobil mahasiswa di universitas ini produksi dalam + + negeri atau diimpor dari luar negeri”  (E  A)  (E  + B) atau E  (A  B) + (ii) “semua mobil produksi dalam negeri yang dibuat + sebelum tahun 1990 yang nilai jualnya kurang dari + Rp 100 juta”  A  C  D + + 87 | Himpunan + (iii) “semua mobil impor buatan setelah tahun 1990 + mempunyai nilai jual lebih dari Rp 100 juta”  + + CDB + +4. Selisih (difference) + + B  Notasi : A – B = { x  x  A dan x  B } = A  + + Contoh 4.12: + (i) Jika A = { 1, 2, 3, ..., 10 } dan B = { 2, 4, 6, 8, 10 }, maka + + A – B = { 1, 3, 5, 7, 9 } dan B – A =  + (ii) {1, 3, 5} – {1, 2, 3} = {5}, tetapi {1, 2, 3} – {1, 3, 5} = {2} + +5. Beda Setangkup (Symmetric Difference) +  Notasi: A  B = (A  B) – (A  B) = (A – B)  (B – A) + Contoh 4.13: + Jika A = { 2, 4, 6 } dan B = { 2, 3, 5 }, maka A  B = { 3, 4, 5, + 6} Contoh 4.14: + Misalkan : + U = himpunan mahasiswa + P = himpunan mahasiswa yang nilai ujian UTS di atas 80 + Q = himpunan mahasiswa yang nilain ujian UAS di atas 80\ + Seorang mahasiswa mendapat nilai A jika nilai UTS dan + nilai UAS keduanya di atas 80, mendapat nilai B jika salah + +Dasar Matematika | 88 + satu ujian di atas 80, dan mendapat nilai C jika kedua + ujian di bawah 80. +  “Semua mahasiswa yang mendapat nilai A” : P  Q +  “Semua mahasiswa yang mendapat nilai B” : P  Q +  “Semua mahasiswa yang mendapat nilai C” : U – (P  + + Q) + Teorema. Beda setangkup memenuhi sifat-sifat berikut: + (a) A  B = B  A (hukum komutatif) + (b) (A  B )  C = A  (B  C ) (hukum asosiatif) + +6. Perkalian Kartesian (cartesian product) +  Notasi: A  B = {(a, b)  a  A dan b  B } + Contoh 4.13: + 1) Misalkan C = { 1, 2, 3 }, dan D = { a, b }, maka C  D = { + (1, a), (1, b), (2, a), (2, b), (3, a), (3, b) } + 2) Misalkan A = B = himpunan semua bilangan riil, maka + A  B = himpunan semua titik di bidang datar + Catatan: + 1) Jika A dan B merupakan himpunan berhingga, maka: + AB=A . B. + 2) Pasangan berurutan (a, b) berbeda dengan (b, a), + dengan kata lain (a, b)  (b, a). + 3) Perkalian kartesian tidak komutatif, yaitu A  B  B  A + dengan syarat A atau B tidak kosong. + Pada Contoh 20(i) di atas, D  C = {(a, 1), (a, 2), (a, 3), + (b, 1), (b, 2), (b, 3) }  C  D. + 4) Jika A =  atau B = , maka A  B = B  A =  + + 89 | Himpunan + Contoh 4.14: + Misalkan: + A = himpunan makanan = { s = soto, g = gado-gado, n = + + nasi goreng, m = mie rebus } + B = himpunan minuman = { c = coca-cola, t = teh, d = es + + dawet } + Berapa banyak kombinasi makanan dan minuman yang + dapat disusun dari kedua himpunan di atas? + Jawab: + A  B = AB = 4  3 = 12 kombinasi dan minuman, + yaitu {(s, c), (s, t), (s, d), (g, c), (g, t), (g, d), (n, c), (n, t), (n, d), + (m, c), (m, t), (m, d)}. + Contoh 4.15: + Daftarkan semua anggota himpunan berikut: + (a) P() (b)   P() c) {} P() (d) P(P({3})) + Jawab: + (a) P() = {} + (b)   P() =  (ket: jika A =  atau B =  maka A  B = + + ) + (c) {} P() = {} {} = {(,)) + (d) P(P({3})) = P({ , {3} }) = {, {}, {{3}}, {, {3}} } + +Dasar Matematika | 90 + G. DIAGRAM VENN + +Contoh 4.16: +Misalkan U = {1, 2, …, 7, 8}, A = {1, 2, 3, 5} dan B = {2, 5, 6, +8}. +Diagram Venn: + +U AB 7 + + 12 8 + + 3 5 6 4 + +H. KARDINALITAS + + Kardinalitas Himpunan adalah bilangan yang +menyatakan banyaknya anggota dari suatu himpunan dan +dinotasikan dengan n(A)". + +  Jumlah elemen di dalam A disebut kardinal dari + himpunan A. + +  Notasi: n(A) atau A  + + Contoh 4.17: + 1. B = { x | x merupakan bilangan prima yang lebih kecil + + dari 20 }, atau B = {2, 3, 5, 7, 11, 13, 17, 19} maka B + =8 + 2. T = {kucing, a, Amir, 10, paku}, maka T = 5 + 3. A = {a, {a}, {{a}} }, maka A = 3 + + 91 | Himpunan + I. HUBUNGAN ANTAR HIMPUNAN +1. Himpunan Bagian (Subset) + + a) Himpunan A dikatakan himpunan bagian dari + himpunan B jika dan hanya jika setiap elemen A + merupakan elemen dari B. + + b) Dalam hal ini, B dikatakan superset dari A. + c) Notasi: A  B + d) Diagram Venn: + + U + + B + A + + Contoh 4.18: + 1. { 1, 2, 3}  {1, 2, 3, 4, 5} + 2. {1, 2, 3}  {1, 2, 3} + 3. N  Z  R  C + 4. Jika A = { (x, y) | x + y < 4, x , y  0 } dan B = { (x, y) | + + 2x + y < 4, x  0 dan y  0 }, maka B  A. + Teorema. Untuk sembarang himpunan A berlaku hal-hal + sebagai berikut: + (a) A adalah himpunan bagian dari A itu sendiri (yaitu, A  + + A). + (b) Himpunan kosong merupakan himpunan bagian dari + + A (   A). + (c) Jika A  B dan B  C, maka A  C + (e)   A dan A  A, maka  dan A disebut himpunan + bagian tak sebenarnya (improper subset) dari himpunan A. + +Dasar Matematika | 92 + Contoh 4.19: + A = {1, 2, 3}, maka {1, 2, 3} dan  adalah improper subset + dari A. + e) A  B berbeda dengan A  B + (i) A  B : A adalah himpunan bagian dari B tetapi A  B. + A adalah himpunan bagian sebenarnya (proper subset) + dari B. + + Contoh 4.20: + {1} dan {2, 3} adalah proper subset dari {1, 2, 3} + (ii) A  B : digunakan untuk menyatakan bahwa A adalah + + himpunan bagian (subset) dari B yang memungkinkan + A = B. + +2. Himpunan yang Sama +  A = B jika dan hanya jika setiap elemen A merupakan + elemen B dan sebaliknya setiap elemen B merupakan + elemen A. +  A = B jika A adalah himpunan bagian dari B dan B + adalah himpunan bagian dari A. Jika tidak demikian, + maka A  B. +  Notasi : A = B  A  B dan B  A + + Contoh 4.21: + (i) Jika A = { 0, 1 } dan B = { x | x (x – 1) = 0 }, maka A = B + (ii) Jika A = { 3, 5, 8, 5 } dan B = {5, 3, 8 }, maka A = B + (iii) Jika A = { 3, 5, 8, 5 } dan B = {3, 8}, maka A  B + + Untuk tiga buah himpunan, A, B, dan C berlaku aksioma + berikut: + (a) A = A, B = B, dan C = C + (b) jika A = B, maka B = A + (c) jika A = B dan B = C, maka A = C + + 93 | Himpunan + 3. Himpunan yang Ekivalen +  Himpunan A dikatakan ekivalen dengan himpunan B + jika dan hanya jika kardinal dari kedua himpunan + tersebut sama. +  Notasi : A ~ B  A = B + + Contoh 4.22: + Misalkan A = { 1, 3, 5, 7 } dan B = { a, b, c, d }, maka A ~ B + sebab A = B = 4 + +4. Himpunan Saling Lepas + Dua himpunan A dan B dikatakan saling lepas (disjoint) + jika keduanya tidak memiliki elemen yang sama. +  Notasi : A // B +  Diagram Venn: + + U + +A B + + Contoh 4.23: + Jika A = { x | x  P, x < 8 } dan B = { 10, 20, 30, ... }, maka A + // B. + +5. Himpunan Kuasa +  Himpunan kuasa (power set) dari himpunan A adalah + suatu himpunan yang elemennya merupakan semua + himpunan bagian dari A, termasuk himpunan kosong + dan himpunan A sendiri. +  Notasi : P(A) atau 2A +  Jika A = m, maka P(A) = 2m. + +Dasar Matematika | 94 + Contoh 4.24: +Jika A = { 1, 2 }, maka P(A) = { , { 1 }, { 2 }, { 1, 2 }} + +Contoh 4.25: +Himpunan kuasa dari himpunan kosong adalah P() = +{}, dan himpunan kuasa dari himpunan {} adalah +P({}) = {, {}}. + +J. KONSEP HIMPUNAN DALAM PEMECAHAN MASALAH + + Jika kalian amati masalah dalam kehidupan sehari-hari +maka banyak di antaranya dapat diselesaikan dengan konsep +himpunan. Agar dapat menyelesaikannya, kalian harus +memahami kembali mengenai konsep diagram Venn. Kalian +harus dapat menyatakan permasalahan tersebut dalam suatu +diagram Venn. Perhatikan contoh berikut: + +Contoh 4.26: +Perhatikan diagram Venn dibawah ini! + +S K T + + 6 29 + +8 + +S = himpunan siswa kelas VII A +K = himpunan siswa yang suka minum es teh +T = himpunan siswa yang suka minum jus +Setiap angka menunjukkan banyaknya siswa dalam +masing-masing kesukaannya. + + 95 | Himpunan + Tentukanlah: + a. Berapa banyak siswa yang suka minum keduanya? + b. Berapa banyak siswa yang suka minum es teh? + c. Berapa banyak siswa yang tidak suka minum + + keduanya? + d. Berapa banyak siswa kelas VII A tersebut? + + Jawab: + + a. n(K  T) = 2 + + b. n(K) = 6 + + c. n(K  T)c = 8 + d. n(S) = n(K – T) + n(T – K) + n(K  T) + n(K  T)c = 4 + 7 + 2 + + + 8 = 21 + + Contoh 4.27: + Dalam suatu kelas yang terdiri atas 40 siswa, diketahui 24 + siswa gemar bermain tenis, 23 siswa gemar sepak bola, + dan 11 siswa gemar keduaduanya. Gambarlah diagram + Venn dari keterangan tersebut, kemudian tentukan + banyaknya siswa: + a. yang hanya gemar bermain tenis; + b. yang hanya gemar bermain sepak bola; + c. yang tidak gemar kedua-duanya. + + Jawab: + Dalam menentukan banyaknya anggota masing-masing + himpunan pada diagram Venn, tentukan terlebih dahulu + banyaknya anggota yang gemar bermain tenis dan sepak + bola, yaitu 11 siswa. Diagram Venn-nya seperti gambar + berikut + +Dasar Matematika | 96 + a. Banyak siswa yang hanya gemar tenis = 24 – 11 = 13 + siswa + +b. Banyak siswa yang hanya gemar sepak bola = 23 – 11 + = 12 siswa + +c. Banyak siswa yang tidak gemar kedua-duanya = 40– + 13–11–12 = 4 siswa + + 97 | Himpunan + K. RANGKUMAN +1. Himpunan sering diartikan sebagai kumpulan objek + + (abstrak atau konkret) yang didefinisikan dengan jelas + (well defined), jadi keaggotaannya harus jelas. +2. Cara menyatakan himpunan dengan tiga cara yaitu: + dengan kata-kata, dengan mendaftrakan anggota- + anggotanya dan dengan notasi himpunan. +3. Macam-macam himpunan: + a. Himpunan kosong + b. Himpunan semesta + c. Himpunan berhingga dan tak berhingga +4. Operasi himpunan terdiri dari: + a. Irisan + b. Gabungan + c. Komplemen + d. Selisih + e. Beda setangkup + f. Perkalian cartesius +5. Hubungan antar himpunan terdiri dari: + a. Himpunan bagian + b. Himpunan yang sama + c. Himpunan ekivalen + d. Himpunan saling lepas + +Dasar Matematika | 98 + L. LATIHAN + +1. Tuliskan dengan menggunakan notasi himpunan + +a. x bukan elemen A c. A memuat B + +b. A dimuat oleh B d. A tidak memuat B + +2. Nyatakan dalam bentuk daftar himpunan berikut: + + a. A  x x2  4 c. B  x x  4  5 + +b. B  x x positif , x, negatif  + +3. Nyatakan pernyataan berikut dengan 3 cara dalam + menyatakan himpunan, lalu tentukan banyaknya masing- + masing himpunan tersebut: + a. himpunan bilangan prima yang kurang dari 20 + b. himpunan bilangan ganjil antara 10 sampai 30 + +4. Selidikilah apakah himpunan berikut kosong atau bukan! + a. himpunan bilangan prima genap + b. himpunan bilangan genap yang habis dibagi 7 + c. himpunan nama bilangan yang lamanya 32 hari tiap + bulan + + d. A = { x x  2  6, x bilangan asli} + +5. Diberikan A = {1, 2, 3, 4}, B ={2, 4, 6, 8}, dan C ={3, 4, 5, 7}. + +Tentukanlah: + +a. A  B c. B  C e. A  (B  C) + +b. A  C d.(A  B)  C + +6. Jika M  {x x  10, x bilangan bulat positif } + N  {y y  10, y bilangan bulat positif } + + 99 | Himpunan + Maka tentukanlah kardinalitas himpunan M dan N serta + apa perbedaan kardinalitas himpunan M dan himpunan + N + +7. Dari 53 bayi di PUSKESMAS, 30 bayi minum susu kaleng, + 13 bayi minum susu ASI, dan 10 bayi minum keduanya. + Berapa jumlah bayi yang hanya minum ASI? + +8. Dari 46 siswa yang gemar bahasa inggris ada 26 siswa, + gemar bahasa arab ada 32 siswa dan 14 siswa gemar + keduanya. Tentukan banyaknya siswa yang tidak gemar + keduanya! + +9. Dari sekelompok siswa yang suka tennis meja ada 26 + siswa, yang gemar bulu tangkis ada 27 siswa, yang gemar + keduanya ada 9 siswa dan yang tidak gemar keduanya + ada 4 siswa. Tentukan banyaknya siswa dalam kelompok + tersebut! + +10. Dari 500 yang ikut ujian masuk perguruan tinggi, ternyata + 329 mengikuti ujian matematika, 186 mengikuti ujian + fisika, 83 mengikuti ujian matematika dan fisika. Tentukan + jumlah siswa yang tidak mengikuti ujian matematika + maupun fisika ! + +11. Suatu himpunan bilangan asli terdiri atas 10 bilangan + yang hasbis dibagi 6, 15 bilangan yang habis dibagi 2, 10 + bilangan yang habis dibagi 3 dan satu bilangan yang tidak + habis dibagi 2 ataupun 3. Tentukan banyaknya unsur + bilangan tersebut! + +12. Jika hasil penelitian yang dilakukan terhadap 250 orang + penduduk suatu desa menyatakan bahwa. Ada 60 orang + +Dasar Matematika | 100 + pemilik sawah dan 110 orang penggarap sawah. +Disamping itu ada pula 100 orang yang bukan pemilik +maupun penggarap sawah. Maka tentukan banyaknya +orang sebagai pemilik dan penggarap sawah ! + +13. Perhatikan himpunan A, B, dan C dalam diagram Venn + berikut! + +S A C + + 7 9-x 8 + + x + 8-x 7-x + + 9 + + B + +Diberikan S = A  B  C, dan n(S) = 34, hitunglah: + +a. nilai x + +b. n(A  B  C) + + 101 | Himpunan + Dasar Matematika | 102 + BAB 5 + + RELASI DAN FUNGSI + + PENDAHULUAN + + Dalam kehidupan sehari-hari, anda tentunya sering +mendengar kata “relasi”. Relasi memiliki arti hubungan. +Misalkan teman kantor, sering kita sebut relasi atau rekan +kerja. Relasi “bersaudara dengan” (Dian bersaudara dengan +Dani, Vita bersaudara dengan Vino, dan sebagainya). Relasi +“teman” (Fahrul dengan Taufik, Wirda dengan Asmi, Jumriati +dengan Wiana, dan sebagainya). Contoh lain relasi “gemar” +(Asri gemar sepak bola, Hendra gemar Bola Volly, dan +sebagainya). Dalam matematika, relasi diartikan sebagai +hubungan antara dua himpunan. + + Telah diuraikan pada unit 3, bahwa himpunan +merupakan objek dasar dari semua objek yang dipelajari +dalam matematika. Fungsi juga merupakan objek dasar dalam +pembelajaran matematika. Apa perlunya kita mempelajari +fungsi? Fungsi memiliki banyak aplikasi dalam kehidupan +sehari-hari. Di bidang ekonomi, misalnya, mengekspresikan +kajiannya tentang analisis permintaan dan penawaran suatu +produk. Melalui grafik fungsi dapat dilihat perkembangan +fluktuasi permintaan dan penawaran dari waktu ke waktu. Di +bidang kedokteran, kondisi kesehatan jantung seseorang +dapat dipantau melalui grafik fungsi jumlah detak jantung +terhadap satuan waktu. Bidang lain yang banyak + + 103 | Relasi dan Fungsi + memanfaatkan fungsi adalah teknologi informasi dalam +mengenskripsi data. Hal ini menunjukkan funsi diperlukan +untuk melakukan deskripsi dan analisis dalam sebuah bidang +kajian. + + Sebelum masuk pada bahasan fungsi, maka terlebih +dahulu harus dipahami konsep-konsep yang mendasari +pembentukan konsep fungsi yakni perkalian himpunan dan +relasi. Jadi, fungsi merupakan bentuk khusus dari relasi. +Aktivitas +Kegiatan 1: +Gambar berikut merupakan hubungan antara kelompok siswa +dengan kelompok band favoritnya: + +Dari gambar tersebut, tanpa ada penjelasan yang lebih +terperinci apa kalian temukan? Diskusikan! +Kegiatan 2: +Dalam rangka memperingati HUT RI ke-71 di Kota Makassar, +SMA Negeri 9 Makassar akan mengirimkan siswanya untuk +mengikut pertandingan antar SMA untuk pertandingan tenis +lapangan, sepakbola, bola volley, bulu tangkis, tenis meja, dan + +104 | Matematika Dasar + catur. Terdapat 6 orang siswa (Ansar, Amri, Jaya, Arman, +Harun, dan Fahrul) yang akan mengikuti pertandingan +tersebut. Pasangkanlah siswa dengan pertandingan yang akan +diikuti dengan ketentuan berikut: +1. Ansar ikut pertandingan tenis meja dan bola volley, Amri + + ikut pertandingan badminton, Jaya ikut pertandingan + catur, Arman ikut pertandingan bola volley, Harun ikut + pertandingan tenis meja dan Fahrul ikut pertandingan + tenis meja. +2. Arman ikut pertandingan bola volley, Jaya ikut + pertandingan catur, Amri ikut pertandingan badminton, + Harun dan Fahrul ikut pertandingan bola volley. +3. Keenam siswa ikut pertandingan sepakbola +4. Tono akan mengikuti seluruh pertandingan + +A. PRODUCT CARTESIUS + + Product Cartesius dari himpunan A dan B adalah +himpunan yang elemennya semua pasangan berurutan +(ordered pairs) yang terbentuk dari komponen pertama +himpunan A dan komponen kedua himpunan B. Penulisan: A +x B = { (a, b) l a  A dan b  B } + + Contoh 5.1: + 1. Tentukan Product Cartesius dari himpunan A = {1, 2, + + 3}, dan B = {a, b} + Jawab : + Product Cartesius dari himpunan A dan B : + A x B = {(1, a), (1, b), (2, a), (2, b), (3, a), (3, b)} + + 2. Dua buah uang logam Rp. 500,- dilempar bersama- + sama, tentukan kemungkinan angka dan gambar + yang akan muncul pada kedua uang logam tersebut . + + 105 | Relasi dan Fungsi + Jawab : pada + misalkan : + a = logam pertulisan angka Rp. 500,- + g = logam yang bergambar garuda + A = {a, g} + B = {a, g} + angka dan gambar yang muncul + +pelemparan kedua uang logam : +A x B = {(a, a), (a, g), (g, a), (g, g)} + +3. Dua buah dadu dilempar bersama-sama, tentukan + kemungkinan angka-angka yang akan muncul pada + kedua dadu tersebut . + Jawab : + Kedua dadu masing-masing mempunyai angka 1, 2, 3, + 4, 5, dan 6 + A = {1, 2, 3, 4, 5, 6} + B = {1, 2, 3, 4, 5, 6} + angka-angka yang akan muncul pada kedua dadu + A x B = {(1, 1), (1, 2), (1, 3), (1, 4), (1, 5), (1, 6), + (2, 1), (2, 2), (2, 3), (2, 4), (2, 5), (2, 6), + (3, 1), (3, 2), (3, 3), (3, 4), (3, 5), (3, 6), + (4, 1), (4, 2), (4, 3), (4, 4), (4, 5), (4, 6), + (5, 1), (5, 2), (5, 3), (5, 4), (5, 5), (5, 6), + (6, 1), (6, 2), (6, 3), (6, 4), (6, 5), (6, 6)} + +4. Sebuah uang logam dan sebuah dadu dilempar + bersamaan, tentukan kemungkinan angka atau + gambar pada uang logam dan angka pada dadu + tersebut. + Jawab : + Uang logam mempunyai dua sisi yaitu angka Rp. 500,- + (a) dan gambar garuda (g) + +106 | Matematika Dasar + A = {a, g} + Dadu mempunyai enam angka yaitu 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 + B = {1, 2, 3, 4, 5, 6} + Angka atau gambar pada uang logam dan angka pada + dadu yang mungkin terjadi : + A x B = {(a, 1), (a, 2), (a, 3), (a, 4), (a, 5), (a, 6), + (g, 1), (g, 2), (g, 3), (g, 4), (g, 5), (g, 6)} + + 5. Dari kota A ke kota B ada 3 jalan yang berbeda, dari + kota B ke kota C ada 4 jalan yang berbeda. Tentukan + semua jalan yang dapat dilalui dari kota A ke kota C. + Jawab : + Dari kota A ke kota B ada 3 jalan yang berbeda + misalnya p1, p2, p3 + P = {p1, p2, p3} + Dari kota B ke kota C ada 4 jalan yang berbeda + misalnya q1, q2, q3, q4 + Q = {q1, q2, q3, q4} + Semua jalan yang dapat dilalui dari kota A ke + kota C : + P x Q = {(p1, q1), (p1, q2), (p1, q3), (p1, q4), + (p2, q1), (p2, q2), (p2, q3), (p2, q4), + (p3, q1), (p3, q2), (p3, q3), (p3, q4)} + +B. RELASI PADA HIMPUNAN + Jika P x Q adalah Product Cartesius himpunan P dan + +Q, maka relasi R dari himpunan P ke Q adalah sembarang +himpunan bagian dari Product Cartesius P x Q. + +Pada relasi R = {(x, y) I x  P  y  Q}, maka: + +  Himpunan P disebut domain. +  Himpunan Q disebut kodomain. + + 107 | Relasi dan Fungsi +  Himpunan bagian dari Q yang bersifat x R y disebut + range. + + Contoh 5.2: + 1. Relasi himpunan P = {1, 2, 3} dan Q = {p, q} + + ditentukan relasi oleh R1 , R2, R3 berikut ini : + a) R1 = {(1, p), (1, q), (2, p), (2, q), (3, p)} + b) R2 = {(1, p), (1, q), (2, p), (2, q)} + c) R3 = {(1, p), (2, p), (3, p)} + Gambarkan relasi himpunan R1, R2 dan R3 serta + tentukan domain, kodomain, dan range + Jawab: + +C. SIFAT-SIFAT RELASI + a. Refleksif + Relasi R pada himpunan A disebut refleksif jika (x, x)  R + untuk setiap x  A. + Contoh 5.3: + Himpunan A = {1, 2, 3, 4, 5}, dan relasi R didefinisikan + pada himpunan A. manakah yang bersifat reflektif pada + relasi berikut ini: + 1) R = {(1, 1), (1, 3), (1, 5), (2, 1), (2, 2), (3, 3), (4, 2), (4, 3), (4, + 4), (5, 5)} + +108 | Matematika Dasar + 2) R = {(1, 1), (1, 5), (2, 2), (2, 3), (3, 3), (4, 3), (5, 2), (5, 5)} + Jawab : + 1) Relasi R bersifat refleksif karena terdapat unsur relasi + + (x, x)  R, + yaitu (1, 1), (2, 2), (3, 3), (4, 4) dan (5, 5) + 2) Relasi R tidak bersifat refleksif karena (4, 4)  R. + +b. Simetris + Relasi R pada himpunan A disebut simetris jika untuk + semua x, y  A, jika (x, y)  R, maka (y, x)  R. Relasi R + disebut tak simetris (anti simetris) jika x, y  A, jika (x, y) +  R dan x  y , maka (y, x)  R. + + Contoh 5.4: + Himpunan A {1, 2, 3, 4, 5} dan relasi R didefinisikan pada + himpunan A. + Manakah relasi yang bersifat simetris pada relasi berikut + ini : + 1) R = {(1, 1), (1, 2), (2, 1), (2, 2), (2, 4), (3, 5), (4, 2), (4. 4), + + (5, 3) (5, 5)} + 2) R = {(1, 1), (2, 3), (2, 4), (3, 5), (4, 2), (5, 3), (5, 5)} + Jawab: + 1) Relasi R bersifat simetris karena (x, y)  R dan (y, x)  + + R, yaitu : + (1, 2)  R dan (2, 1)  R + (2, 4)  R dan (4, 2)  R + (3, 5)  R dan (5, 3)  R + 2) Relasi R bersifat tidak simetris karena (3, 2)  R + + 109 | Relasi dan Fungsi + c. Transitif + Relasi R pada himpunan A disebut transitif + (menghantar), jika (x, y)  R dan (y, z)  R, maka (x, z)  + R, untuk x, y, z  A. + + Contoh 5.5: + Manakah relasi yang bersifat transitif pada relasi berikut + ini : + 1) Diketahui A = { 1, 2, 3 }. + + Pada A didefinisikan relasi R = { (1,1) , (1,2) , (2,2) , + (2,1) , (3,3) } Relasi R tersebut bersifat transitif. + 2) Relasi R = { (1,1) , (1,2) , (2,2) , (2,3) , (3,3) , (3,2) } yang + didefinisikan pada himpunan A = {1, 2, 3 } tidak + bersifat transitif, karena terdapat (1,2)  R dan (2,3) +  R, tetapi (1,3)  R . + +d. Antisimetris jika untuk + Relasi R dikatakan bersifat antisimetris + setiap (x,y)  R dan (y,x)  R berlaku x = y. + +Contoh 5.6: +Manakah relasi yang bersifat antisimetris pada relasi +berikut ini : +1) Pada himpunan B = { 2, 4, 5 } didefinisikan relasi R = + + { (x,y)  x kelipatan y , x,y  B }. Dengan demikian R = + {(2,2),(4,4),(5,5),(4,2)}. Relasi R tersebut bersifat + antisimetris. +2) Diketahui A = { 1, 2, 3 }. + Pada A didefinisikan relasi R = { (1,1) , (1,2) , (2,2) , + (2,1) , (3,3) } + Relasi R tersebut tidak bersifat antisimetris karena + terdapat (1,2)R dan (2,1)  R5, tetapi 1  2. + +110 | Matematika Dasar + e. Relasi Ekivalen + Relasi R disebut sebagai sebuah relasi ekivalen jika + relasi tersebut bersifat refleksif, simetris dan transitif. + + Contoh 5.7: + 1) Diketahui A = { 1, 2, 3 }. + + Pada A didefinisikan relasi R = { (1,1) , (1,2) , (2,2) , (2,1) + , (3,3) } + Relasi R tersebut bersifat refleksif, simetris dan + transitif. Oleh karena itu relasi R merupakan relasi + ekivalen. + 2) Diketahui B = { 2, 4, 5 }. + Pada B didefinisikan relasi R = { (x,y)  x kelipatan y , + x,y  B }. + R = { (2,2) , (4,4) , (5,5) , (4,2) } + Relasi R tersebut tidak bersifat simetris, oleh karena itu + relasi tersebut bukan relasi ekivalen. + +f. Relasi Pengurutan Sebagian + Relasi R disebut sebagai sebuah relasi pengurutan + sebagian (partial ordering), jika relasi tersebut bersifat + refleksif, transitif dan antisimetris. + + Contoh 5.8: + 1) Diketahui A = { 1, 2, 3 }. + + Pada A didefinisikan relasi R = { (1,1) , (1,2) , (2,2) , (2,1) + , (3,3) } + Relasi R tersebut bersifat refleksif dan transitif, tetapi + tidak bersifat antisimetris. Oleh karena itu relasi + tersebut bukan merupakan relasi pengurutan + sebagian. + 2) Diketahui B = { 2, 4, 5 }. + + 111 | Relasi dan Fungsi + Pada B didefinisikan relasi R = { (x,y)  x kelipatan y , x,y +  B }. + R = { (2,2) , (4,4) , (5,5) , (4,2) } + Relasi R tersebut bersifat refleksif, antisimetris dan + transitif. Oleh karena itu relasi tersebut merupakan relasi + pengurutan sebagian. + +Aktivitas. +Kegiatan 1: + +Lima orang siswa yaitu: Wirda, Asmi, Irma, Selvi, dan Ria +merupakan sahabat yang selalu bersama-sama dalam setiap +kegiatan sekolah. Bapak Amri adalah guru matematika yang +senang persahabatan yang mereka bina karena mereka selalu +memiliki nilai paling bagus. Suatu hari bapak Amri ingin +mengetahui data-data tentang mereka. Hal ini diperlukan +sebagai bahan motivasi untuk teman-teman mereka. Data- +data yang diinginkan berupa: berapa jam rata-rata waktu +belajar mereka dalam satu hari. +1. Jika kelima sahabat itu dibuat dalam satu himpunan + + misalnya himpunan A dan lama waktu belajar dalam satu + hari adalah anggota himpunan B = {1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8}. + a. Nyatakanlah sebuah relasi yang mungkin menurut + + anda yang menggambarkan lama waktu belajar lima + sahabat itu + b. Apakah semua anggota himpunan A pasti memiliki + pasangan dengan anggota himpunan B? berikan + penjelasanmu. + c. Apakah ada dua kemungkinan bahwa anggota + himpunan A berpasangan dengan 2 atau lebih + anggota himpunan B? berikan penjelasanmu. + +112 | Matematika Dasar + d. Apakah ada dua kemungkinan bahwa anggota + himpunan A memiliki pasangan yang sama dengan + salah satu anggota himpunan B? berikan + penjelasanmu! + +2. Jika kelima sahabat itu dibuat dalam satu himpunan + misalnya himpunan C dan data tentang banyaknya + saudara mereka ada dianggota himpunan D yang + anggoyanya D = {1, 2, 3, 4}. + a. Nyatakanlah sebuah relasi yang mungkin menurut + anda yang menggambarkan banyak saudara kelima + sahabat itu. + b. Untuk semua relasi yang mungkin, apakah semua + anggota himpunan C memiliki pasangan dengan + anggota himpunan D? berikan penjelasanmu. + c. Apakah ada kemungkinan bahwa anggota himpunan + C berpasangan dengan 2 atau lebih anggota + himpunan D? berikan penjelasanmu. + d. Apakah ada kemungkianan bahwa anggota + himpunan C memiliki pasangan yang sama dengan + salah satu anggota himpunan D? berikan + penjelasanmu! + +Kegiatan 2: +Perhatikanlah relasi-relasi yang ditunjukan pada gambar +berikut: + + 113 | Relasi dan Fungsi + v + +Dari gambar tersebut uraiakan fakta-fakta apa saja yang kalian +peroleh? Apakah semuanya termasuk fungsi? Yang mana saja +merupakan fungsi? Berikan penjelasanmu? +D. Hubungan Relasi dengan Fungsi + + Relasi dari himpunan P ke himpunan Q disebut fungsi +atau pemetaan, jika dan hanya jika tiap unsur pada himpunan +P berpasangan tepat hanya dengan sebuah unsur pada +himpunan Q. + + Jika x  P dan y  Q sehingga pasangan-terurut (x, y)  + +f, maka y disebut peta atau bayangan dari x oleh fungsi f. +Adapun bagian-bagian dari fungsi adalah Domain, Kodomain, +dan Range. + + 1) Domain (daerah asal) fungsi f adalah himpunan P (Df) + 2) Kodomain (daerah kawan) fungsi f adalah himpunan Q + + (Kf) + +114 | Matematika Dasar + 3) Range (daerah hasil) fungsi f adalah himpunan semua + peta P di Q (Rf) + +Contoh 5.9: + +1. Diketahui f : A  R dan f dinyatakan oleh f (x) = x + 2 + Jika daerah asal A ditetapkan A = {xI 1  x  5, x R}, + + a. Carilah f(1), f(2), f(3), f(4) dan f(5) + b. Gambarkan grafik fungsi y = f(x) = x + 1 dalam + + bidang Cartesius + c. Carilah daerah hasil dari fungsi f + Jawab : + a) f(x) = x + 2 + + f(1) = 1 + 2 = 3 + f(2) = 2 + 2 = 4 + f(3) = 3 + 2 = 5 + f(4) = 4 + 2 = 6 + f(5) = 5 + 2 = 7 + b) Grafik fungsi y = f(x) = x + 2 + + c) Daerah hasil + + Rf = {y I 3  y  7, y  R} + + 115 | Relasi dan Fungsi + 2. Tentukan daerah asal alami (natural domain) dari tiap + +fungsi berikut ini : + + 4 +a) f(x) = + + x 1 + +b) F(x) = 9  x2 + +c) G(x) = 5 + + x2  5x  6 + +Jawab : + +a) f(x) = 4 ; supaya f(x) bernilai real maka x – 1  + x 1 + + 0 atau x  1 + Jadi, Df = {x I x  R dan x  1} + +b) F(x) = 9  x 2 ; supaya F(x) bernilai real maka + 9 – x2  0 + x2 – 9  0 + (x + 3)(x – 3)  0 – 3  x  3 + Jadi, DF = {x I – 3  x  3; x  R} + +c) G(x) = 5 ; supaya G(x) bernilai real + + x2  5x  6 + +maka + +X2 – 5x + 6 > 0 + +(x – 2)(x – 3) > 0 + +x < 2 atau x > 3 + +Jadi, DG = {xI x < 2 atau x > 3; x  R} + +E. MACAM-MACAM FUNGSI + + Ada beberapa fungsi yang mempunyai ciri spesifik di +antaranya: fungsi konstan, fungsi identitas, fungsi genap, +fungsi ganjil, fungsi modulus, dan fungsi tangga. + +116 | Matematika Dasar + 1) Fungsi Konstan + Untuk semua unsur dalam himpunan A berkaitan + hanya dengan sebuah unsur dalam himpunan B. + + Fungsi konstan ditulis f : x  k, k = konstanta, x  R. + + Grafik fungsi konstan merupakan garis yang sejajar + dengan sumbu X . + +Contoh 4.10: +Buat diagram panah dan grafik pada bidang Cartesius +untuk fungsi y = 5. +( 2  x  2 dan x  bilangan bulat) + +Jawab : Grafik pada bidang Cartesius +Diagram panah + + X Y Y + + 5 y=5 + +-2 + +-1 + 5 + +0 + +1 X + +2 -2 -1 0 1 2 + +2) Fungsi Identitas + Semua unsur dalam himpunan A berkaitan dengan + + dirinya sendiri. Grafik fungsi identitas y = x untuk x  + + R + +Contoh 5.11: +Buat diagram panah dan grafik pada bidang Cartesius +untuk fungsi y = 5, (x  3 dan x  bilangan cacah) + + 117 | Relasi dan Fungsi + Jawab : Grafik pada bidang Cartesius +Diagram panah Y + y=x +A B + +0 0 + +1 1 3 + +2 2 2 + + 1 + +3 3 X + + 0 123 + + 3) Fungsi Genap dan Fungsi Ganjil + + Fungsi f : x  y = f(x) disebut fungsi genap jika f(- x) = + + + f(x) + Grafik fungsi genap selalu simetri terhadap sumbu Y + + Fungsi f : x  y = f(x) disebut fungsi ganjil jika f(- x) = - + + f(x) + + Grafik fungsi ganjil selalu simetri terhadap titik asal O + Jika suatu fungsi y = f(x) tidak memenuhi keduanya + maka disebut fungsi tak genap dan tak ganjil + + Contoh 5.12: + Manakah yang merupakan fungsi genap atau fungsi ganjil + ? + a) f(x) = x2 + b) f(x) = x3 + c) f(x) = x3 + 1 + + Jawab : + a) f(x) = x2 + + f(– x) = (– x)2 + = x2 + +118 | Matematika Dasar + f(– x) = + f(x) + f(x) = x2 fungsi genap + +b) f(x) = x3 + f(– x) = (– x)3 + = – x3 + – f(x) = – x3 + f(– x) = – f(x) + f(x) = x3 fungsi ganjil + c) f(x) = x3 + 1 + f(– x) = (– x)3 + 1 + = – x3 + 1 + – f(x) = – (x3 + 1) + = – x3 – 1 + + f(– x)  + f(x) dan f(– x)  – f(x) + + maka f(x) = x3 – 1 bukan fungsi genap dan bukan fungsi + ganjil. + +4) Fungsi Modulus + Modulus atau nilai mutlak dari sebuah bilangan real x + +x, jika x > 0 + | x | = 0, jika x = 0 + -x , jika x < 0 + + 119 | Relasi dan Fungsi + Contoh 5.13: + +Diketahui fungsi f:x  I x I dengan x  R + +Carilah f(– 3) , f(– 2), f(–1), f(0), f(1), f(2) dan f(3) + +Jawab : +f(x) = I x I +f(– 3) = l – 3 l = 3 +f(– 2) = I – 2 I = 2 +f(–1) = I –1 I = 1 +f(0) = I 0 I = 0 +f(1) = I 1 I = 1 +f(2) = I 2 I = 2 +f(3) = l 3 l = 3 + +5) Fungsi Tangga + Fungsi Tangga atau Fungsi Nilai Bulat Terbesar dalam + perhitungan matematika sering dilakukan pembulatan + +Contoh 5.14: + +0,2; 0,3; 0,78 dan seterusnya untuk semua x  R dan 0  + +x < 1 dibulatkan ke bawah menjadi 0 + +1,1; 1,2; 1,57 dan seterusnya yang kurang x  R dan 1  x + +< 2 dibulatkan ke bawah menjadi 1. + +Suatu nilai bulat terbesar yang kurang dari x + +dilambangkan dengan [[ x ]]. + +– 2  x < –1  [[ x ]] = – 2 + +–1  x < 0  [[ x ]] = –1 +0  x<1  [[ x ]] = 0 +1  x<2  [[ x ]] = 1 + +2  x<3  [[ x ]] = 2 + +Fungsi f: x  [[ x ]] disebut fungsi nilai bulat terbesar + +Grafik fungsi y = f(x) = [[ x ]] untuk x  R + +120 | Matematika Dasar + Grafiknya menyerupai tangga maka f(x) = [[ x ]] sering +disebut fungsi tangga + +F. SIFAT-SIFAT FUNGSI + 1) Fungsi Surjektif + +  Fungsi f : A  B disebut fungsi surjektif atau fungsi + + onto atau fungsi kepada jika dan hanya jika daerah + fungsi f sama dengan himpunan B atau Rf = B + +  Fungsi f : A  B disebut fungsi into atau fungsi ke + + dalam jika dan hanya jika daerah hasil fungsi f + merupakan himpunan bagian murni dari himpunan + + B atau Rf atau Rf  B. + + Contoh 5.15: + Himpunan A = {1, 2, 3, 4, 5} dan B = {a, b, c, d} + +Fungsi f adalah fungsi onto Fungsi f adalah fungsi into +Rf = {a, b, c, d} Rf = {a, b, c} +Rf = B + Rf  B + + 121 | Relasi dan Fungsi + 2) Fungsi Injektif + + Fungsi f : A B disebut fungsi injektif atau fungsi + satu-satu jika dan hanya jika untuk tiap a1, a2  A dan + a1  a2 berlaku f(a1)  f(a2) + + Contoh 5.16: + Himpunan P = {1, 2, 3} dan Q = {p, q, r}. + + Fungsi f adalah fungsi injektif Fungsi f bukan fungsi injektif + Untuk mengetahui fungsi injektif atau bukan, dapat + dilihat melalui grafik + 1) Gambarlah grafik fungsi y = f(x) pada bidang + + Cartesius + 2) Ambillah nilai-nilai x1, x2 anggota daerah asal dan x1 + +  x2 + a) Jika f(x1)  f(x2) maka f merupakan fungsi injektif + + b) Jika f(x1) = f(x2) maka f bukan fungsi injektif + +122 | Matematika Dasar + Contoh 5.17: + +1. Manakah yang merupakan fungsi injektif di bawah + +ini: + +a) y = f(x) = x2, x  R b) y = f(x) = x3, x  R + +Jawab : + + a b + +bukan fungsi injektif fungsi injektif + +Fungsi Bijektif + +Fungsi f: A  B disebut sebagai fungsi bijektif jika + +dan hanya jika fungsi f sekaligus merupakan fungsi +surjektif dan fungsi injektif. + + Contoh 5.18: Fungsi f : A  B + + Fungsi f : A  B A = {0, 1, 2} dan B = {a, b, c, d} + +A = {0, 1, 2} dan B = {a, b, c} + +fungsi f bijektif fungsi f bukan bijektif + 123 | Relasi dan Fungsi + G. FUNGSI KOMPOSISI + Operasi komposisi dilambangkan dengan o (dibaca + komposisi) + Fungsi baru dapat dibentuk dengan operasi komposisi + a. (f o g) (x), dibaca: f komposisi g(x) atau f (g x) + b. (g o f) (x), dibaca, g komposisi f(x) atau g (f x) + + Fungsi g : A  B + Tiap x  A dipetakan ke y  B + Sehingga g : x y ditentukan dengan rumus : y = g(x) + + Fungsi f : B C. + Tiap y  B dipetakan ke z  C, sehingga f : y z + + ditentukan dengan rumus : z = f (y) + + Fungsi h : A  C. + Tiap x  A dipetakan ke z  C, sehingga h : x z + + ditentukan dengan rumus: z = h (x) + Fungsi h disebut komposisi dari fungsi f dan fungsi g. + Komposisi fungsi f dan g ditulis dengan notasi h = f o g + atau h(x) = (f o g) (x) + +124 | Matematika Dasar + Contoh 5.19: + +1. Fungsi f : R R dan g : R R ditentukan f(x) = 4x – 1 + + dan g(x) = 2x. + Tentukan : + a) (f o g) (x) + b) (g o f) (x) + Jawab : + a) f(x) = 4x – 1 + + f(g(x)) = 4.g(x) – 1 + (f o g)(x) = 4(2x) – 1 + + = 8x – 1 + b) g(x) = 2x + + g(f(x)) = 2.f(x) + (g o f) (x) = 2(4x –1) + + = 8x – 2 + +2. Fungsi-fungsi f dan g dinyatakan dengan pasangan- + terurut + f = {(-1, 4), (1, 6), (2, 3), (8, 5)} + g = {(3, 8), (4, 1), (5, –1), (6, 2)} + +Tentukan : d) (f o g) (1) +a) (f o g) e) (g o f) (1) +b) (g o f) f) (g o f) (4) +c) (f o g) (4) +Jawab : + + 125 | Relasi dan Fungsi + H. FUNGSI INVERS + + Suatu fungsi f : A  B mempunyai fungsi invers f –1 : B +A jika dan hanya jika f merupakan fungsi bijektif atau + +himpunan A dan B mempunyai korespondensi satu-satu. + +Jika fungsi f : A  B pasangan terurut f : {(a, b) I a  A dan b +B} +Maka invers fungsi f adalah f –1 : B A adalah f –1 = {(b, a)I b +B dan aA} + + Contoh 5.20: + 1. A = {– 2, –1, 0, 1} dan B = {1, 3, 4}. + + Fungsi : A  B ditentukan oleh f = {(– 2, 1), (–1, 1), (0, + + 3), (1, 4)} + Carilah invers fungsi f, kemudian selidikilah apakah + invers fungsi f itu merupakan fungsi + Jawab : + + f -1: B  A ditentukan oleh f -1 = {(1, – 2), (1, –1), (3, 0), + + (4, 1)} + +126 | Matematika Dasar + Dari gambar terlihat f –1 adalah relasi biasa (bukan + fungsi) sebab terdapat dua pasangan terurut yang + mempunyai ordinat sama yaitu (1, – 2) dan (1, –1) +2. A = {0, 2, 4} dan B = {1, 3, 5, 7}. + + Fungsi : A  B ditentukan oleh g = {(0, 1), (2, 3), (4,5)} + + Carilah invers fungsi g, kemudian selidikilah apakah + invers fungsi g itu merupakan fungsi + Jawab : + + g –1 : B  A ditentukan oleh g –1 = {(1, 0), (3, 2), (5, 4)} + + Dari gambar terlihat g –1 adalah relasi biasa (bukan + fungsi) sebab ada sebuah anggota di B yang tidak + dipetakan ke A, yaitu 7 + + 127 | Relasi dan Fungsi + 3. A = {–1, 0, 1, 2} dan B = {1, 2, 3, 5}. + + Fungsi h: A  B ditentukan oleh h = {(–1, 1), (0, 2), (1, + + 3), (2, 5)}. + Carilah invers fungsi h, kemudian selidikilah apakah + invers fungsi h itu merupakan fungsi. + Jawab : + + h –1 : B  A ditentukan oleh h –1 = {(1, –1), (2, 0), (3, 1), + + (5, 2)} + + Dari gambar tampak bahwa h –1 merupakan suatu + fungsi. + Jadi, h –1 adalah fungsi invers. + + 4. Carilah fungsi inversnya + a) f(x) = x + 1 + b) f(x) = x2 – 1 + Jawab : + a) y = x + 1 + x =y–1 + + x = f –1(y) + + f –1(y) = y – 1 + +128 | Matematika Dasar + f –1(x) = x – 1 +b) y = x2 – 1 + + x2 = y + 1 + + x = y 1 + x = f –1(y) + + f –1(y) = y  1 + f –1(x) = x  1 + +I. INVERS FUNGSI KOMPOSISI + + Misalkan fungsi f : A  B dan g : B  C . Jika h +adalah fungsi komposisi dari f dan g atau h : A  C dengan +h  g  f maka invers fungsi h adalah h1 : C  A dengan +h1  f 1  g 1 jadi jika h(x)  (g  f )(x) maka +h1 (x)  (g  f )1 (x)  ( f 1  g 1 )(x) + +Contoh 5.21: + +Diketahui h(x)  (g  f )(x) dengan f (x)  2x 1 dan + x3 + +g 1  x  4 . Tentukan h 1 (x) + +Jawab: + +Jika f (x)  2x 1  f 1(x)  2x 1 + x3 x3 + +Jika h(x)  (g  f )(x) maka + +h1 (x)  (g  f )1 (x)  ( f 1  g 1 )(x) + +h1 (x)  ( f 1  g 1 )(x)  ( f 1 (g 1 (x))  f 1 (x  4) + += 3(x  4) 1  3x 11 + (x  4)  2 x  6 + + 129 | Relasi dan Fungsi + J. RANGKUMAN + +1. Suatu relasi dapat dinyatakan dengan beberapa cara + yaitu: + a. Dengan kata-kata + b. Dengan diagram panah + c. Dengan himpunan pasangan berurutan + d. Dengan grafik. + +2. Relasi dari himpunan A ke himpunan B adalah pasangan + berurutan yang merupakan himpunan bagian dari A x B + +3. Daerah asal dari suatu relasi (domain) adalah himpunan + yang beranggotakan dari unsur-unsur yang pertama dari + pasangan berurutan itu, sedangkan daerah hasil suatu + relasi adalah himpunan yang anggotanya terdiri dari + unsur-unsur kedua dari pasangan berurutan tersebut. + +4. Suatu fungsi f adalah suatu aturan yang megkaitkan + setiap elemen x dalam suatu himpunan yang disebut + daerah asal (domain) atau daerah definisi ke sebuah nilai + tunggal f(x) dari himpunan kedua yang disebut kodomain. + Himpunan nilai yang diperoleh secara demikian disebut + daerah hasil (range). + +5. Sifat-sifat fungsi + a. Sifat bijektif + b. Sifat injektif + c. Sifat surjektif + +6. Sifat-sifat relasi + a. Sifat reflektif + b. Sifat simetris + c. Sifat transitif + +130 | Matematika Dasar + K. LATIHAN + +1. Diketahui G = { 5, 7, 11 }. Tentukan G x G dan n(G x G ). + +2. Diketahui himpunan A = {a, b} dan himpunan B = { 9 }. + +Tentukan semua relasi R : A  B yang dapat + +didefinisikan dan hitung jumlahnya. + +3. Diketahui himpunan C = {x, y}. Tentukan semua relasi R : + C  C yang dapat didefinisikan dan hitung jumlahnya. + +4. Diberikan himpunan A = {1, 2, 3, 4, 5} dan himpunan B = + {2, 3, 4, 5, 6, 8, 10, 11, 12}. Nyatakan relasi A terhadap B + dengan relasi berikut. + a. Anggota himpunan A dipasangkan dengan anggota + himpuna B dengan relasi B = A + 1 + b. Anggota himpunan A dipasangkan dengan anggota + himpunan B dengan relasi B = 2A + 2 + +Kemudian periksa apakah relasi yang terbentuk adalah +fungsi atau bukan. + +5. Jika mahasiswa direlasikan dengan tanggal kelahirannya. + Apakah relasi tersebut merupakan fungsi? Berikan + penjelasan anda! + +6. Nyatakan invers dari tiap relasi berikut : + a. R = { (x,y)  x habis dibagi oleh y, x, y Z } + b. R = { (x,y)  x  y, x, y Z } + c. R = { (x,y)  x – 4 = y, x, y Z } + +7. Diketahui D = { x  x garis lurus } + Pada D didefinisikan relasi R = { (x,y)  x sejajar y, x  D + ,yD} + Relasi R tersebut bersifat ..................................................... + + 131 | Relasi dan Fungsi + 8. Diketahui P = { x  x subset dari himpunan A } + Pada P didefinisikan relasi R = { (x,y)  x  y ,x  P , y  P } + Relasi R tersebut bersifat ..................................................... + +9. Diketahui D = { x  x garis lurus } + Pada D didefinisikan relasi R = { (x,y)  x tegak lurus y, x  + D,yD} + Relasi R tersebut bersifat ..................................................... + +10. Relasi-relasi berikut didefinisikan pada himpunan B = { 2, + 4, 5 }. + a. R = { (2,2) , (4,4) , (5,5) } + b. R = { (2,4) , (4,5) , (2,5) , (5,2) , (2,2) } + c. R = { (5,4) } + d. R = { (x,y)  x habis membagi y , x,y  B }. + Tentukan sifat yang dimiliki oleh masing-masing relasi + tersebut. + +11. Relasi-relasi berikut didefinisikan pada himpunan Z + (himpunan bilangan bulat). + a. R = { (2,2) , (4,4) , (5,5) } + b. R = { (2,4) , (4,5) , (2,5) , (2,2) } + c. R = { (5,4) } + d. R = { (x,y)  x habis membagi y }. + e. R = { (x,y)  x  y }. + Tentukan sifat yang dimiliki oleh masing-masing relasi + tersebut. + +12. Diketahui D = { x  x garis lurus }. Pada D didefinisikan + relasi + a. R = { (x,y)  x sejajar y, x  D , y  D } + b. R = { (x,y)  x tegak lurus y, x  D , y  D } + c. R = { (x,y)  x berpotongan dengan y, x  D , y  D } + +132 | Matematika Dasar + Di antara ketiga relasi tersebut, sebutkan relasi yang + merupakan relasi ekivalen dan relasi yang merupakan + relasi pengurutan sebagian. + 13. Di antara relasi-relasi berikut, relasi manakah yang + merupakan fungsi ? + +14. Fungsi-fungsi berikut didefinisikan pada himpunan + bilangan riil R. Tentukan fungsi yang merupakan fungsi + satu-satu, fungsi pada atau fungsi bijektif. + a. f(x) = x + b. f(x) = x2 + c. f(x) = x3 + d. f(x) = | x | + +15. Tentukan domain dan range dari fungsi-fungsi yang + diberikan berikut : + + a. f(x) = x + b. h(x) = 1  x + + 1 + + c. g(x) = + + x + + 133 | Relasi dan Fungsi + 16. Tentukan hasil operasi f + g, f – g, f . g, f / g, dan g / f + +beserta domain dari fungsi yang diberikan berikut ini. + +a. f(x) = 1 x dan g(x) = 1 x + + 1 x x + +b. f(x) = x dan g(x) = x  1 + +c. f(x) = x dan g(x) = x  1 + +17. Tentukan domain dan range dari f dan g + a. Selidiki apakah fungsi f o g dan g o f terdefinisi + b. Jika fungsi komposisi pada poin (b) terdefinisi, + tentukan domain dan range dari masing-masing + fungsi komposisi tesebut. + + 1) f(x) = 4x – x2 dan g(x) = x + + 2) f(x) = 1 – x2 dan g(x) = 1 + 2x + + 3) f(x) = 1  x dan g(x) = 1  x + 4) f(x) = 2x dan g(x) = 1- x2. + + 1 x +18. Tentukan invers dari fungsi f (x)  3x  4 + + 2x 1 +19. Diketahui fungsi f : R  R dengan f (x)  1  2 . + + x 1 + Jika f 1 (k)  5 maka tentukanlah nilai k + + 3 +20. Jika f (x)  1 dan g(x)  2x 1, maka tentukan + + x + ( f  g)1 (x) + +134 | Matematika Dasar + BAB 6 + + PERSAMAAN DAN + PERTIDAKSAMAAN + + PENDAHULUAN + Persamaan dan pertidaksamaan adalah materi yang +sering terkait dengan kehidupan sehari-hari, ketika kita akan +menyelesaikan suatu soal yang berbentuk cerita atau +pemecahan masalah. Misalnya tentang luas tanah seseorang +dibandingkan dengan luas tanah orang lain. Demikian pula +dengan umur seseorang berapa kalinya umur orang lain. +Konsep persamaan dan pertidaksamaan berkembang dari +konsep kesamaan dan ketidaksamaan pada system bilangan +real, sehingga menyelesaikan suatu persamaan dan +pertidaksamaan banyak menggunakan sifat-sifat kesamaan +dan ketidaksamaan bilangan real. + + 135 | Persamaan dan Pertidaksamaan + A. PERSAMAAN LINEAR + Persaman adalah kalimat terbuka yang mengandung + +hubungan (relasi) sama dengan. Sedangkan persamaan linear +adalah suatu persamaan yang pangkat tertinggi dari +variabelnya adalah satu atau berderajat satu. + +1. Persamaan Linear Satu Variabel + Persamaan linear satu variable adalah persamaan linear + yang memiliki satu variabel saja. + Bentuk umum : + + ax  b  0; a,b  R, a  0 + + a adalah koefisien dari variabel x dan b adalah konstanta + Contoh 6.1: + + a. 4x + 8 = 0 + b. 2x - 18 = 0 + + Kedua persamaan di atas akan bernilai benar jika + variabelnya berturut-turut diganti dengan -2 dan 9. + +2. Persamaan Linear Dua Variabel + + Persamaan linear dua variabel adalah persamaan yang + hanya memiliki dua variabel dan masing-masing + berpangkat satu + Bentuk umum: + + ax  by  c; a,b,c  R, a  0, b  0 + + a adalah koefisien dari variable x dan b adalah koefisien + dari variable y sedangkan c adalah konstanta. + + Contoh 6.2 + Sebutkan masing-masing variabel dari persamaan linier + dua variabel berikut + + a. 6x  3y  9 merupakan persamaan linear dua + + variabel yaitu variabel x dan variabel y + +Dasar Matematika | 136 + b. 3 p  3q  18 merupakan persamaan linear dua + + variabel yaitu variabel p dan variabel q + +3. Sifat-Sifat Persamaan Linear + +a. Nilai persamaan tidak berubah, jika : + 1) Kedua ruas ditambah atau dikurangi bilangan yang + sama. + 2) Kedua ruas dikalikan atau dibagi bilangan yang + sama. + +b. Suatu persamaan jika dipindahkan ruas, maka : + 1) Penjumlahan berubah menjadi pengurangan dan + sebaliknya. + 2) Perkalian berubah menjadi pembagian dan + sebaliknya. + +Contoh 6.3: + +1. 1 x + 3 = 12 + 3 + + 1 x + 3 – 3 = 12 – 3 (kedua ruas dikurangi 3) + 3 + + 1x =9 + 3 + + 1 x . 3 = 9.3 (kedua ruas dikali 3) + 3 + + x = 27 + +2. 4x – 7 = 2x + 9 +  4x – 7 + 7 = 2x + 9 + 7 (kedua ruas ditambah 7) +  4x = 2x + 16 +  4x – 2x = 2x – 2x + 16 (kedua ruas dikurangi 2x) +  2x = 16 + + 137 | Persamaan dan Pertidaksamaan + 1 1 + 2x . = 16 . + 22 + +x=8 + +4. Himpunan Penyelesaian Persamaan Linear + Menentukan himpunan penyelesaian persamaan linear + berarti mencari harga yang memenuhi untuk pengganti + variabel pada persamaan linear yang bersangkutan. + +Contoh 6.4: + +Tentukan himpunan penyelesaian persamaan linear + +2x 1  x 1 +5 2 + +Jawab: + +2x 1  x 1 +5 2 + + 2(2x- 1) = 5(x + 1) + + 4x – 2 = 5x + 5 + + 4x – 5x = 2 + 5 + + -x = 7 + + x = -7 + +HP = {-7} + +5. Sistem Persamaan Linear Dua Variabel + Bentuk Umum + ax + by = c + px + qy =r + a, b, c, p, q, r R + a, p = koefisien dari x + b, q = koefisien dari y + c, r = konstanta + x, y = variabel + +Dasar Matematika | 138 + 1. Penyelesaian Sistem Persamaan Linear Dua Variabel + Ada beberapa cara menyelesaikan sistem persamaan + linear dua variabel, antara lain : + + a. Cara Grafik + Langkah-langkahnya sebagai berikut : + 1) Gambarlah grafik garis lurus pada bidang + koordinat. + 2) Tentukan titik potng kedua garis tersebut. + Koordinat titik potong tersebut merupakan + pasangan penyelesaian dari system persamaan + yang dimaksud. + + b. Cara Eliminasi + Langkah-langkahnya sebagai berikut : + 1) Menyamakan koefisien salah satu variabel + dengan cara mengalikan dengan bilangan selain + nol. + 2) Menjumlahkan atau mengurangkan ruas-ruas + yang bersesuaian dari kedua persamaan linear + yang baru tersebut. + + Contoh 6.5: + Tentukan himpunan penyelesaian dari sistem + persamaan : + + 5x  3y  19 + 2x  2 y  10 dengan cara eliminasi ! + + Jawab: + Eliminir y + + 5x  3y  19 x2 10x  6 y  38 + 2x  2 y  10 x2 6x  6 y  30 + + 4x = 8 + x =2 + + 139 | Persamaan dan Pertidaksamaan + Eliminir x + + 5x  3y  19 x2 10x  6 y  38 + 2x  2 y  10 x5 10x  10y  50 + + -4y = -12 + Jadi HP = {(2,3)} y=3 + + c. Cara Substitusi + Substitusi artinya mengganti. Langkah-langkahnya + sebagai berikut : + 1) Nyatakan salah satu variabel yang memuat + variabel yang lain dari salah satu persamaan. + 2) Substitusikan hasil dari langkah 1) ke persamaan + yang lain. + +Contoh 6.6: + +Tentukan himpunan penyelesaian dari system persamaan + +: + +4x  2 y  12 dengan cara substitusi ! + + x y 9 + +Jawab: + +4x  2 y  12 …………… (1) + +x + y = 9  x = 9 – y ….. (2) +(2) substitusi ke (1) +4(9-y) – 2y = 12 + 36 – 4y – 2y = 12 + -6y = 12 - 36 + -6y = -24 + y = 4 ………………… (3) +(3) substitusi ke (2) +x=9–4 +x=5 + +Jadi HP = {(5,4)} Cara Gabungan (Eliminasi dan Substitusi) + +Dasar Matematika | 140 + Contoh 6.7: +Tentukan himpunan penyelesaian dari sistem persamaan: + + 3x  y  5 +2x  y  10 dengan cara gabungan antara eliminasi + +dan substitusi ! +Jawab: +Eliminir y +3x – y = 5 +2x + y = 10 + + + 5x = 15 + x =3 + x = 3 substitusi ke 3x – y = 5 + +  3(3) – y = 5 + 9–y=5 +  -y = 5 - 9 +  -y = -4 + + y=4 + Jadi HP = {(3,4)} + +d. Cara Determinan + Determinan adalah suatu bilangan yang berkaitan + dengan matriks bujur sangkar (persegi). + Untuk menyelesaikan dengan cara determinan dari + bentuk persamaan : + ax + by = c + px + qy = r + diubah dalam susunan bilangan sebagai berikut dan + diberi notasi : D, Dx, Dy. + + 141 | Persamaan dan Pertidaksamaan + Dengan : D= ab = aq – bp + + pq + + Dx = cb = cq – br + + rq + + Dy = ac = ar – cp + + pr + +Kemudian x dan y dapat ditentukan dengan : + + x = Dx dan y = Dy + D D + +Contoh 6.8: + +Tentukan himpunan penyelesaian dari sistem persamaan: + + 2x  3y  1 dengan cara determinan ! +  +  3x  y  5 + +Jawab: + + D= 23 = 2.1 – 3.3 = 2 – 9 = -7 + + 31 + + Dx = 13 = 1.1 – 3.5 = 1 – 15 = -14 + + 51 + + Dy = 21 = 2.5 – 1.3 = 10 – 3 = 7 + + 35 + + x = Dx = 14 = 2 + D 7 + + y = Dy = 7 = -1 + D 7 + +Jadi HP = {(2, -1)} + +Dasar Matematika | 142 + B. PERSAMAAN KUADRAT + + Persamaan kuadrat adalah persamaan berderajat dua +dalam x yang dinyatakan dengan : + + ax2 + bx + c = 0; a, b, cR ; a 0 + + a = koefisien dari x2 + b = koefisien dari x + c = konstanta + + Contoh 6.9: + x2 + 2x - 15 = 0 + x2 – 9 = 0 + +1. Penyelesaian Persamaan Kuadrat +Ada beberapa cara menyelesaikan persamaan kuadrat, antara +lain : + + a. Memfaktorkan + + Contoh 6.10: + 1) Selesaikan x2 – 5x + 6 = 0 ! + + Jawab: + x2 – 5x + 6 = 0 +  (x – 3)(x – 2)= 0 +  x – 3 = 0 atau x -2 = 0 + x = 3 atau x = 2 + Jadi HP = {3, 2} + + 2) Selesaikan x2 – 25 = 0 ! + Jawab: + x2 – 25 = 0 +  (x + 5)(x – 5)= 0 +  x + 5 = 0 atau x - 5 = 0 + x = -5 atau x = 5 + + Jadi HP = {-5, 5} + + 143 | Persamaan dan Pertidaksamaan + b. Melengkapkan Kuadrat Sempurna + +Contoh 6.11: +1) Selesaikan x2 + 10x + 21 = 0 ! + + Jawab: + x2 + 10x + 21 = 0 +  x2 + 10x = -21 +  x2 + 10x + 25 = -21 + 25 + + ( 1 koefisien x)2 + 2 + + (x + 5)2 = 4 + + x + 5 =  4  2 + + x + 5 = 2 atau x + 5 = -2 + +x = -3 atau x = -7 + +Jadi HP ={-3, -7} + +2) Selesaikan 4x2 + 8x + 3 = 0 ! + Jawab: + 4x2 + 8x + 3 = 0 +  4x2 + 8x = -3 + + 3 +  x 2 + 2x =  + + 4 + 3 + +  x 2 + 2x + 1 =  + 1 + 4 + +  (x + 1)2 = 1 + 4 + +x+1=  1 1 + 42 + +1 1 + x + 1 = atau x + 1 = - +2 2 + +Dasar Matematika | 144 + 1 3 + x = - atau x = - + 2 2 + +Jadi HP =  1 , 3 +  2  + 2  + +c. Dengan Rumus ABC + + x1,2   b  b2  4ac + 2a + +Contoh 6.12: +1) Selesaikan x2 + 6x - 16 = 0 ! + +Jawab: +a = 1, b = 6, c = -16 + +x1,2   6  62  4(1)(16) + + 2(1) + +=  6  100 + 2 + +  6 10 + += + + 2 + +x1   6 10  4  2 atau x2   6 10   16  8 + 2 2 2 2 + +Jadi HP = {2, -8} + +2. Sifat-sifat Akar persamaan Kuadrat + + Sifat-sifat akar persamaan kuadrat yang menyangkut +banyaknya akar persamaan kuadrat, ditentukan oleh nilai +diskriminannya yaitu D = b2 – 4ac. + + (i) D > 0  kedua akar real dan berbeda + (ii) D = 0  kedua akar sama (kembar) + (iii) D < 0  Persamaan kuadrat tidak mempunyai akar + + nyata + + 145 | Persamaan dan Pertidaksamaan + Contoh 6.13: + Tentukan sifat-sifat akar persamaan berikut ini ! + 1) x2 – 4x + 3 = 0 + 2) x2 + 6x + 9 = 0 + 3) x2 + 3x + 3 = 0 + + Jawab: + 1) x2 – 4x + 3 = 0 + + a = 1, b = -4, c = 3 + D = b2 – 4ac = (-4)2 – 4(1)(3) = 16 – 12 = 4 + D > 0, kedua akar real dan berbeda. + 2) x2 + 6x + 9 = 0 + a = 1, b = 6, c = 9 + D = b2 – 4ac = 62 – 4(1)(9) = 36 – 36 = 0 + D = 0, kedua akar sama (kembar) + 3) x2 + 3x + 3 = 0 + a = 1, b = 3, c = 3 + D = b2 – 4ac = 32 – 4(1)(3) = 9 – 13 = -3 + D < 0, persamaan tidak mempunyai akar nyata. + +C. PERTIDAKSAMAAN LINEAR + Pertidaksamaan linear adalah suatu pertidaksamaan + +yang variabelnya paling tinggi berderajat satu. +Bentuk umum : + + ax + b (R) 0 ; a, b  R, a  0 + + a = koefisien dari x + x = variabel + b = konstanta + (R) = salah satu relasi pertidakamaan ( , , ,  ) + +Dasar Matematika | 146 + Contoh 6.14: + 5x + 5  25 + 3x – 3  12 + x+y8 + +1. Sifat-sifat Pertidaksamaan + a. Arah tanda pertidaksaman tetapjika ruas kiri dan ruas + kanan pertidaksamaan ditambah, dikurangi, dikalikan, + atau dibagi dengan bilangan positif yang sama. + + 1) a  b  a + c  b + c + 2) a  b  a – d  b – d + 3) a  b dan c  0  ac  bc + + ab + + 4) a  b dan d  0   + + dd + + b. Arah tanda pertidaksamaan berubah jika ruas kiri dan + ruas kanan dikalikan atau dibagi dengan bilangan + negatif yang sama. + + 1) a  b dan c  0  ac  bc + + ab + + 2) a  b dan d  0   + + dd + + Contoh 6.15: + 1) Selesaikan 6x + 2  4x + 10 ! + + Jawab: + 6x + 2  4x + 10 +  6x + 2 – 2  4x + 10 – 2 +  6x  4x + 8 +  6x – 4x  4x – 4x + 8 +  2x  8 + + 11 + +  .2x  .8 + + 22 + + x4 + + 147 | Persamaan dan Pertidaksamaan + 2) Selesaikan 6x – 5  9x + 10 ! + +Jawab: + +6x – 5  9x + 10 + + 6x – 5 + 5  9x + 10 + 5 + + 6x  9x + 15 + + 6x – 9x  9x – 9x + 15 + + -3x  15 + +   1  (-3x)    1  (15) + 3  3 + +x5 + +2. Himpunan Penyelesaian Pertidaksaman Linear + +Contoh 6.16: +a. Tentukan himpunan penyelesaian dari 6x + 4  4x + 20, + + xB ! + Jawab: + 6x + 4  4x + 20 +  6x + 4 - 4  4x + 20 – 4 +  6x  4x + 16 +  6x – 4x  4x – 4x + 16 +  2x  16 + + 11 + +  .2x  .16 + + 22 + + x8 + + 8 +Jadi HP = { x x  8, xB} + +Dasar Matematika | 148 + b. Tentukan himpunan penyelesaian dari 5x + 10 > 8x + 4, + +xR ! + +Jawab: + +5x + 10 > 8x + 4 + + 5x + 10 – 10 > 8x + 4 – 10 + + 5x > 8x – 6 + + 5x – 8x > 8x – 8x – 6 + + -3x > -6 + +   1  (-3x) <   1  (-6) + 3  3 + +x<2 + +Jadi HP ={ x x < 2 , xR} + +D. PERTIDAKSAMAAN KUADRAT + + Pertidaksamaan kuadrat adalah suatu pertidaksamaan +yang mempunyai variabel paling tinggi berderajat dua dan +koefisien variabel pangkat duanya tidak sama dengan nol. + +Bentuk umum : + + ax2 + bx + c (R) 0; a, b, cR ; a 0 + a = koefisien dari x2 + b = koefisien dari x + c = konstanta + (R) = salah satu relasi pertidakamaan ( , , ,  ) + + Contoh 6.17: + x2 + 5x + 6  0 + x2 – x - 6 < 0 + 2x2 + 9x + 5  0 + + 149 | Persamaan dan Pertidaksamaan + 1. Sifat-sifat Pertidaksamaan Kuadrat + Secara umum sifat-sifat pertidaksamaan kuadrat sama + dengan sifat-sifat pertidaksamaan linear. + +2. Himpunan Penyelesaian Pertidaksamaan Kuadrat + Langkah-langkah menentukan himpunan penyelesaian + suatu pertidaksamaan kuadrat adalah sebagai berikut : + (i) Ubah bentuk pertidaksamaan ke dalam bentuk + umum. + (ii) Tentukan pembuat nol ruas kiri. + (iii) Letakkan pembuat nol pada garis bilangan. + (iv) Substitusi sembarang bilangan pada pertidaksamaan + kecuali pembuat nol. + +Jika benar, maka daerah yang memuat bilangan tersebut +merupakan daerah penyelesaian. + +Contoh 6.18: + +1. Tentukan himpunan penyelesaian dari x2 + 6x + 8  0 + +untuk x R ! + +Jawab: + +(i) x2 + 6x + 8  0 + +(ii) Pembuat nol + +x2 + 6x + 8 = 0 + + (x + 4)(x + 2) = 0 + + x + 4 = 0 atau x + 2 = 0 + +x = -4 atau x = -2 + +(iii) (B) (S) (B) + ++ - + + + -4 -2 + +(iv) Ambil x = 0  x2 + 6x + 8  0 + 8  0 (B) + +Jadi HP = { xx  -4 atau x  -2 } + +Dasar Matematika | 150 + 2. Tentukan himpunan penyelesaian dari 2x2 + 3x - 5 < 0 + untuk x R ! + Jawab: + 2x2 + 3x - 5 < 0 + Pembuat nol + 2x2 + 3x - 5 = 0 +  (2x + 5)(x – 1) = 0 +  2x + 5 = 0 atau x – 1 =0 +  2x = -5 atau x = 1 + + x =  5 atau x = 1 + 2 + +(S) (B) (S) + ++ - B + +  5 1 + 2 + +Ambil x = 0  2x2 + 3x - 5 < 0 + + - 5 < 0 (B) + +Jadi HP = { x  5 < x < 1 } + 2 + +E. APLIKASI PERSAMAAN DAN PERTIDAKSAMAAN LINIER + + Beberapa masalah dalam kehidupan sehari - hari dapat +diselesaikan dengan konsep peramaan maupun dengan +pertidaksamaan linier. Langkah pertama yang dilakukan adlah +menterjemahkan masalah tersebut kedalam kalimat +matematika. Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh - contoh +berikut. + + Contoh 6.19: + 1. Ahli kesehatan mengatakan bahwa akibat menghisab + + satu batang rokok waktu hidup seseorang akan + + 151 | Persamaan dan Pertidaksamaan + berkurang selama 5,5 menit. Berapa rokok yang + dihisab Fahri tiap selama 275 hari(1 tahun = 360 hari). + + Jawab: + misalkan banyaknya rokok yang dihisab tiap hari + adalah x, maka waktu hidup berkurang tiap harinya + 5,5 x menit. + Dalam setahun waktu hidup, berkurang banyak 5,5x + +  360 hari. Dalam 20 tahun waktu hidup berkurang + banyak 5,5x  360  20 menit. Sehingga diperoleh + + persamaan : + + 5,5x  360 20 = 275  60  24 + + 39.600x = 396.000 + x = 396.000/39.600 + x = 10 + jadi, fahri menghisap rokok 10 batang setiap hari. + + 2. Upah seorang teknisi untuk memperbaiki suatu mesin + bubut adalah Rp. 250.000,- ditambah biaya Rp. 75.000 + tiap jamnya. Karena pekerjaanya kurang rapi, + pembayaranya dip[otong 10% dari upah total yang + harus diterima. Jika teknisi tersebut mendapat upah + sebesar Rp. 798.750,- Berapa jam mesin bubut + tersebut diperbaiki? + + Jawab: + Misalkan teknisi bekerja selama x jam, dan upah yang + diterima hanya (100 - 10)% = + 90%, maka diperoleh persamaan berikut: + (75.000x + 250.000) X 90% = 798.750 + 67.500x + 225.000 = 798.750 + 67.500x = 798.750 – 225.000 + 67.500x = 573.750 + +Dasar Matematika | 152 + x = 573.750/67.500 = 8.5 + Jadi, teknisi tersebut bekerja memperbaiki mesin + selama 8,5 jam. + +3. Untuk dapat diterima sebagai karyawan di PT.Teknik + Sejahtera, calon karyawan akan menjalani tes + sebanyak 4 kali, yaitu tes tertulis, psikotes, tes + ketrampilan, dan wawancara dengan perbandingan + hasil tes berturut-turut adalah 4 : 3 : 2 : 1. Total nilai + tes tidak boleh kurang dari 827. Azam telah mengikuti + tes dengan hasil sebagai berikut. Psikotes =80, tes + ketrampilan =95, dan wawancara =85. Tentukan nilai + terendah tes tertulisnya agar azam dapat diterima + menjadi karyawan. + Jawab : + Misalkan nilai tes tertulis adalah x,maka diperoleh + pertidaksamaan : + 4x + 3 . 80 + 2 . 95 + 1 .85 > 827 + 4x + 240 + 190 + 85 > 827 + 4x > 827 – 240 – 190 – 85 + 4x > 312 + x > 78 + Jadi, nilai terendah tes tertulis azam adalah agar + diterima sebagai karyawan adalah 78. + + 153 | Persamaan dan Pertidaksamaan + F. RANGKUMAN + + 1. Persamaan adalah kalimat terbuka yang mengandung + hubungan (relasi) sama dengan. + Bentuk umum persamaan linier: + ax + b = 0; a,b ∈ R, a≠0 + a adalah koefisen dari variabel x dan b adalah + konstanta + + 2. Sifat-sifat persamaan linier + a. nilai persamaan tidak berubah, jika: + kedua ruas ditambahkan atau dikurangi + bilangan yang sama + kedua ruas dikalikan atau dibagi bilangan yang + sama + b. suatu persamaan jika dipindahkan ruas, maka: + penjumlahan berubah menjadi pengurang, + demikian pula sebaliknya + perkalian berubah menjadi pembagian dan + sebaliknya + + 3. Ada beberapa cara menyelsaikan sistem persamaan + linier dua variabel yaitu: + a. Cara grafik + b. Cara eliminasi + c. Cara subtitusi + d. Cara gabungan (eliminasi-subtitusi + e. Cara determinan + + 4. Persamaan kuadrat adalah persamaan berderajat dua + dalam x dinyatakan dengan: ax2 + bx + c = 0; a,b,c ∈ R, + a≠0 + + 5. Cara menyelesaikan persamaan kuadrat, antara lain: + a. Memfaktorkan + +Dasar Matematika | 154 + b. Melengkapkan kuadrat sempurna + c. Rumus ABC +6. Sifat-sifat akar persamaan kuadrat ditentukan oleh + nilai diskriminannya yaitu D = b2 – 4ac + D > 0  kedua akar real dan berbeda + D = 0  kedua akar sama (kembar) + D < 0  Persamaan kuadrat tidak mempunyai akar + nyata +7. Sifat-sifat pertidaksamaan + a. Arah tanda pertidaksamaan tetap jika ruas kiri dan + + ruas kanan pertidaksamaan ditambah, dikurangi, + dikalikan dan dibagi dengan bilangan positif yang + sama + b. Arah tanda pertidaksamaan berubah jika ruas kiri + dan ruas kanan dikalikan dan dibagi dengan + bilangan negatif yang sama. + + 155 | Persamaan dan Pertidaksamaan + G. LATIHAN + +1. Tentukan himpunan penyelesaian persamaan linear + berikut ! + a. 5 + 3(2 – x) + 2 = 2(x – 3) + b. 8x – 3 = 4(x + 1) + 5 + +2. Tentukan himpunan penyelesaian persamaan linear + +berikut ! + +3x  2  x +a. 5 3 + +b. x  3x  x  2 + 34 + +c. 3 x  1 x  2x  3 +52 4 + +3. Tentukan penyelesaian soal-soal berikut ! + + a. 6x + 3  -2x + 1 + + 1 + + b. x + 2 > (x + 1) + + 2 + c. x 1 1  3 + + 2 + +4. Tentukan himpunan penyelesaian sistem persamaan + +kuadrat berikut dengan menggunakan pemfaktoran! + +a. x2 – 5x - 36 = 0 b. x2 – 13x + 22 = 0 + +5. Tentukan himpunan penyelesaian sistem persamaan + +kuadrat berikut dengan melengkapkan kuadrat sempurna! + +a. x2 + 5x + 4 = 0 b. x2 – 11x + 24 = 0 + +Dasar Matematika | 156 + 6. Tentukan himpunan penyelesaian sistem persamaan + +kuadrat berikut dengan menggunakan rumus abc ! + +a. x2 – 4x - 45 = 0 b. . x2 + 2x - 3 = 0 + 4 + +7. Tentukan himpunan penyelesaian sistem persamaan + kuadrat berikut dari x2 + 4x – 60 = 0 ! + +8. Jika x1 dan x2 adalah akar-akar persamaan kuadrat x2 + 5x + - 36 = 0, tentukan x1 dan x2 ! + +9. Tentukan himpunan penyelesaian pertidaksamaan + +kuadrat berikut ! + +a. x2 – 2x - 8 < 0 d. x2 – 5x < 0 g. x2 –x - 2 < 0 + +b. x2 – 3x  0 e. x2 – 3 x + 1 > 0 h. x  x 1 + 2 x4 + +c. x2 – 10x + 21 < 0 f. x2 + x - 12  0 + +10. Suatu persegi panjang memiliki ukuran panjang (4x + 2) cm + dan lebar (x + 1) cm. + a. Tentukan keliling persegi panjang + b. Jika kelilingnya 66 cm, tentukan x. + c. Tentukan panjang dan lebarnya + d. Tentukan luas persegi panjang tersebut. + +11. Dua kali suatu bilangan jika ditambah dengan lima hasilnya + sama dengan 27. Tuliskan kalimat matematikanya. + +12. Usman memiliki uang Rp 3.800,00 lebih banyak dari uang + Adi. Jika jumlah uang mereka Rp 10.200,00 maka banyak + uang Usman adalah… + +13. Bastian berusia 3 tahun lebih tua dari Diah. Jumlah usia + mereka kurang dari 15 tahun, usia Diah sekarang adalah….. + + 157 | Persamaan dan Pertidaksamaan + 14. Lebar sebuah persegi panjang lebih pendek 4 cm dari + panjangnya. Jika keliling nya sama dengan 72 cm, panjang + persegi panjang adalah + +15. Sebuah kawat yang panjangnya tidak lebih dari 72 cm + dibuat kerangka balok dengan kedua ujung kerangka balok + tersebut berbentuk persegi. Panjang balok lebih 6 cm dari + pada lebarnya. Maka tentukan panjang, lebar dan tinggi + balok tersebut? + +16. Ukuran panjang lapangan tenis 16 m lebihnya daripada + lebar lapangan tersebut. Apabila luas lapangan tenis 225 + m2, berapakah ukuran panjang dan lebar lapangan tenis + tersebut? + +17. Untuk dapat diterima sabagai suster di RS SEHAT, seorang + calon suster akan menjalani tes sebanyak 4 kali, yaitu tes + tertulis, psikotes, tes keterampilan dan wawancara dengan + perbandingan hasil tes berturut-turut 3 : 2 : 4 : 1 dan total + tes tidak boleh kurang dari 793. Windy adalah salah + seorang calon suster yang telah mengikuti tes dengan hasil + sebagai berikut: tes tertulis = 75, psikotes = 78, dan nilai + wawancara = 92. Tentukan nilai terendah tes keterampilan + agar ia diterima di rumah sakit tersebut. + +18. Dua bilangan mempunyai selisih 495. Jika yang satu dibagi + yang lain, maka hasilnya 4 dengan sisa 6. Bilangan- + bilangan yang manakah itu? + +19. Empat kali ukuran tinggi suatu jajar genjang sama dengan + 3 kali ukuran alasnya dikurangi 9 cm. jika alas ditambah 4 + dan tingginya dikurangi 2 cm, maka luas daerahnya + berkurang 6 cm. Berapakah tinggi jajar genjang tersebut? + +20. Dalam suatu kelas terdapat anak laki-laki dan anak + perempuan. Jika ada 4 anak laki-laki masuk dan 5 anak + +Dasar Matematika | 158 + perempuan masuk maka rasio banyaknya anak laki-laki + dan anak perempuan adalah 3:4. Jika ada 3 anak laki-laki + dan 2 anak perempuan keluar, maka rasio banyaknya anak + laki-laki dan anak perempuan menjadi 2 : 3. Berapa + banyaknya anak laki-laki dan anak perempuan? +21. Beni memiliki sejumlah uang logam. Uang tersebut + disusun dalam suatu jajaran. Jika banyaknya uang logam + pada tiap baris dikurangi 2, maka banyanya baris + bertambah 2. Jika pada tiap baris ditambahkan 4 uang + logam, maka banyaknya baris berkurang 3. Berapa + banyaknya uamg logam tersebut? + + 159 | Persamaan dan Pertidaksamaan + Dasar Matematika | 160 + BAB 7 + + TRIGONOMETRI + PENDAHULUAN + + Trigonometri adalah cabang matematika yang +mempelajari hubungan yang meliputi panjang dan sudut +segitiga. Trigonometri berasal dari bahasa Yunani yaitu +trigonom = tiga sudut dan metron adalah mengukur. Dari dua +kata tersebut, trigonometri dapat diartikan cabang ilmu +matematika yang mempelajari tentang perbandingan ukuran +sisi siatu segitiga apabila ditinjau dari salah satu sudut yang +terdapat pada segitiga tersebut. Dalam mempelajari +perbandingan sisi-sisi segitiga pada trigonometri, maka +segitiga mempunyai satu tepat sudutnya 900 artinya segitiga +itu tidak lain adalah segitiga siku-siku. Jadi, konsep dasar dari +trigonometri adalah sudut dan segitiga siku-siku. Awal +trigonometri pada zaman Mesir kuno dan Babilonia. +Matematikawan India adalah perintis perhitungan variabel +aljabar yang digunakan untuk menghitung astronomi. Aplikasi +trigonometri banyak kita temukan dalam kehidupan sehari- +sehari terutama yang bergerak di bidang ilmu astronomi yang +digunakan untuk menghitung jarak ke bintang-bintang +terdekat, navigasi satelit, geografi, teknik dan sebagainya. + + Trigonometri merupakan suatu metode dalam +perhitungan untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan +dengan perbandingan-perbandingan pada bangun geometri, +khususnya bangun yang berbentuk segitiga. Selain itu, + + 161 | Trigonometri Pendahuluan + trigonometri bermanfaat untuk menghitung ketinggian suatu +tempat tanpa mengukur secara langsung sehingga bersifat +lebih praktis dan efesien. + + Pada bab 6 memuat materi tentang perbandingan +trigonometri, penentuan nilai perbandingan trigonometri +diberbagai kuadran, penggunaan aturan sinus dan cosinus, +rumus luas segitiga, dan identitas trigonometri + +A. PENGERTIAN TRIGONOMETRI + Trigonometri merupakan ilmu ukur segitiga atau + +pengukuran segitiga yang memperlajari sudut, dan sisi-sisi +segitiga (segitiga siku-siku). Jadi trigonometri merupakan nilai +perbandingan yang dikaitkan dengan sebuah sudut. +Perbandingan tersebut meliputi sin (sinus), cos (cosinus), tan +(tangen), cosec (cosecant), sec( secan) dan cotan (cotangent). + + Pada umumnya, ada dua ukuran untuk menyatakan +besaran sudut yaitu derajat dan radian. Tanda “0” dan “rad” +berturut –turut merupakan simbol dari derajat dan radian. + +B. SATUAN SUDUT + + Derajat + + Apabila satu lingkaran penuh dibagi + 360 bagian yang sama, maka setiap + bagian disebut satu derajat. Satu + derajat didefinisikan sebagai sudut + yang besarnya 1/360 keliling lingkaran. +Satu derajat dapat dibagi menjadi 60 bagian yang sama besar +yang disebut satu menit, dan satu menit dapat diab gi menjadi +60 bagian sama besar yang disebut detik. + +162 | Dasar Matematika +  Radian + Satu radian adalah besarnya sudut dalam lingkaran yang + panjang busur di depannya sama dengan jari-jarinya. Atau + ukuran sudut pusat yang panjang busurnya sama dengan + jari-jarinya. Apabila keliling lingkaran K dan jari-jarinya r, + maka K = 2, sehingga besar sudut satu keliling lingkaran + adalah 2 radian. Jadi konversi derajat dan radian adalah: + 2 radian = 3600 + radian = 1800 + +C. PERBANDINGAN TRIGONOMETRI + Perbandingan trigonometri pada segitiga siku-siku: + Perhatikan gambar berikut: + + 163 | Trigonometri Pendahuluan + Contoh 7.1: sebagai +Jika sin = 2 , tentukan nilai dari cos2x + tan2x ! + + 3 + +Penyelesaian: +Karena sin = 2 maka dapat digambarkan + + 3 + +berikut: + +C + + 3 +2 + +A b xB + +Berdasarkan teorema Pythagoras diperoleh: + +AB2 = BC2 – AC2 + +AB2 = 32 - 22 + +AB2 = 5 + +AB = √5 + +Akibatnya: + +Cos x = = √5 dan tan x = = 2 + 3 √5 + +Jadi cos2x + tan2x = (√5)2 + ( 2 2 = 5 + 4 = 61 + + 3 √5 ) 9 5 45 + +Contoh 7.2: +Tentukan nilai sin ∝, cos ∝ dan tan ∝ dari segitiga +dberikut: jika DE = 6 cm dan DF = 8 cm +penyelesain: + + Pandang  DEF yang salah satu sudutnya + siku-siku sehingga berlaku dalil Pythagoras + EF2 = DE2 + DF2 + EF2 = 62 + 82 = 100 + EF = √100 = 10 cm. + +Jadi, sin ∝= = 8 , cos ∝= = 6 , ∝= = 8 + 10 10 6 + +164 | Dasar Matematika + Contoh 7.3: +Perhatikan segitiga berikut: + +Tentukan panjang SR, QS dan SP! + +Penyelesaian: +QR2 = PQ2 + PR2 +QR2 = 152 + 82 +QR2 = 289 +QR = 17 + +Perhatikan ∆ : ? = = 15 dan ∆: cos? = + 17 15 + +Nilai cos ? dari ∆ = nilai cos ? dari ∆ (besar sudut + +sama besar) + +Sehingga diperoleh: + + = ⟹ 15 = + + 15 17 15 + +17. = 15.15 + + = 225 = 13 4 +17 17 + +Untuk QS  QR = QS + SR sehingga + +QS = QR – SR = 17 - 13 4 = 3 13 + 17 17 + +Untuk PS  Perhatikan : ∆ = sin? = = 8 dan + + 17 + +∆ = sin? = = + + 15 + + 165 | Trigonometri Pendahuluan + Sehingga diperoleh: =  8 = + + 17 15 + +17. = 8 15 + + = 120 = 7 1 +17 17 + +D. NILAI TRIGONOMETRI SUDUT ISTIMEWA + + Sudut istimewa pada trigonometri adalah sudut-sudut +yang besarnya 0, 30, 45, 60 dan 90 derajat. Untuk mencari nilai +sinus, cosinus dan tangen. Perhatikan gambar segitiga berikut: + +Pada segitiga I + +sin 300 = = 1; 600 = = √3 = 1 √3 + 2 2 + 2 + +cos 600 = = 1 ; 300 = = √3 = 1 √3 + 2 2 + 2 + + 300 = = 1 = 1 √3; tan 600 = = √3 = √3 + √3 3 1 + +Pada segitiga II + +sin 450 = = = 1 = 1 √2; + 2 + √2 + +cos 450 = = = 1 = 1 √2; + 2 + √2 + + 450 = = = 1 + + + + Untuk sudut 0 dan sudut 90 dari + + sinus, cosinu dan tangen, + + perhatikan gambar berikut: + + Misalkan suatu lingkaran berpusat + +166 | Dasar Matematika + di titik (0,0) dan berjari-jari r satuan. Ambil suatu titik pada + +lingkaran yaitu titik T(x,y). + +pada gambar didapat nilai sin ? = ; cos? = ; tan? = . + + +Sudut 0 terjadi jika titik T berimpit dengan sumbu x + +sehingga sin 00 = 0 = 0; cos00 = = 1 ; tan 00 = 0 = 0. + + +Sedangkan sudut siku-siku atau 900 terjadi jika titik T + +berimpit dengan sumbu y sehingga di peroleh: sin 900 = 1, + +cos 900 = 0 dan tan 900 tak terdefinisi (tidak mempunyai + +nilai. Berikut tabel sudut-sudut istimewa + + 00 300 450 600 900 + 1 1 +Sin ∝ 0 1 1 2 √3 +Cos ∝ 2 √2 0 +tan ∝ 2 1 1 + 2 √2 Tidak + 1 1 2 terdefinisi + 2 √3 1 √3 + + 0 1 + 3 √3 + +E. PERBANDINGAN TRIGONOMETRI DI BERBAGAI + KUADRAN + + Sistem kuadran pada bidang cartesius terbagi menjadi +4 bagian yang ditetapkan yaitu: Kuadran II: daerah yang +dibatasi oleh sumbu x positif dan sumbu y positif; kuadran II: +daerah yang dibatasi oleh sumbu x negatif dengan sumbu y +positif, kuadran III: daerah yang dibatasi oleh sumbu x negatif +dan sumbu y negatif, dan kaudran IV: daerah yang dibatasi +oleh sumbu x positif dan sumbu y negatif. Perbandingan +trigonometri pada kuadran dapat digambarkan sebagai +berikut: + + 167 | Trigonometri Pendahuluan + 900 + +1800 Kuadran II Kuadran I 00 + SIN + SEMUA + 3600 + + Kuadran III Kuadran IV + TAN + COS + + + 2700 + +Contoh 7.4: + +Nilai dari sin 300+cos 600 = ⋯ + 245 + +Penyelesaian: + +Ingat: sec 450 = 1 = √2 + cos 450 + +Sehingga diperoleh sin 300+cos 600 = 12+12 = 1 + 245 (√2)2 2 + +Contoh 7.5: +Sebuah tangga disandarkan pada suatu tembok. Sudut +yang dibentuk oleh tangga tersebut dengan lantai adalah +600. Jika jarak kaki tangga ke tembok adalah 6 m. +Hitunglah: +a. Panjang tangga tersebut +b. Tinggi tembok dari ujung tangga ke lantai +c. Misal sudut antara tangga dan lantai adalah ∝, + + tentukan nilai ∝ apabila panjang tangga 6√2 + +168 | Dasar Matematika + Penyelesaian: + + Perhatikan segitiga ABC yang siku-siku di A. BC adalah + panjang tangga dan AC adalah tinggi tembok. +a. Menurut perbandingan cosinus + + cos 600 = = 6 + + + + Cos 600 . BC = 6 + 1 . BC = 6 + + 2 + + = 12 m + Jadi panjang tangga adalah 12 m +b. Menurut perbandingan tangen + tan 600 = = + + 6 + + Tan 600.6 = AC + √3 .6 = AC + Jadi tinggi tembok dari ujung tangga ke lantai = 6√3 m +c. Menurut perbandingan cosinus + cos = = 6 = 1 . Jadi besar = 450 + + 6√2 √2 + + 169 | Trigonometri Pendahuluan + F. IDENTITAS TRIGONOMETRI + + Identitas terigonometri merupakan pernyataan yang +memuat kesamaan dua bentuk untuk setiap pengantian +variabelnya dengan nilai di mana bentuk tersebut +didefinisikan. Untuk membuktikan identitas trigonometri +digunakan subtitusi trigonometri dan manipulasi aljabar +dengan tujuan mengubah bentuk trigonometri menjadi lebih +sederhana. Dalam membuktikan identitas trigonometri +dengan menyelesaikan masing-masing ruas secara terpisah. +Berikut rumus identitas trigonometri: + +Contoh 7.6: +Butkikan bahwa sin cot = cos + +Penyelesaian: +sin cot = sin cos + + sin + +sin cot = cos terbukti + +Contoh 7.7: + +Buktikan bahwa tan + cos = sin (sec + cot ) + +Penyelesaian + +sin (sec + cot ) = sin sec + sin cot + + 1 cos + = sin cos + sin sin + + = tan + cos + +Terbukti bahwa tan + cos = sin (sec + cot ) + +170 | Dasar Matematika + Contoh 7.8: + +Buktikan identitas trigonometri dari 1 (12 − 1) = 1 + 2 + +Penyelesaian: + + 1 1 2 1 − 2 +2 (2 − 1) = 2 ( 2 ) + + 2 2 + = (2 ) (2) + + =1 + +Dalam membuktikan identitas trigonometri: + +1. Manipulasi ruas persamaan yang lebih rumit terlebih + +dahulu + +2. Carilah bentuk yang dapat disubtitusi dengan bentuk + +trigonometri yang ada dalam identitas trigonometri + +sehingga diperoleh bentuk sederhana + +3. Perhatikan operasi-operasi aljabar dalam + +penerapannya + +4. Jika kita tidak tahu apa yang harus dilakukan, + +ubahlah bentuk trigonometri menjadi bentuk sinus + +dan cosinus (mungkin dapat membantu dalam + +menyelesaikan identitas trigonometri) + +5. Selalu perhatikan ruas persamaan yang tidak kita + +manipulasi untuk memastikan langkah-langkah yang + +kita lakukan menunju bentuk ruas tersebut. + + 171 | Trigonometri Pendahuluan + G. ATURAN SINUS DAN COSINUS +Mencari rumus Sinus +Perhatikan gambar segitga ABC berikut: + + Misalkan ∆ adalah segitiga dengan ∠ = , ∠ = + ∠ = serta panjang BC, AC dan AB berturut-turut + adalah a, b dan c. tarik garis melalui titik C di luar garis AB + tegak lurus garis tersebut misalkan ̅̅̅̅. + sin = → = . sin diperoleh CD = b sin A ………(1) + + + + sin = → = . sin diperoleh CD = a sin B ………(2) + + + + Dari (1) dan (2) di dapat: + b sin A = a sin B  = ……………(3) + + sin sin + + Tarik garis melalui titik B diluar garis AC tegak lurus garis + tersebut, misalkan ̅̅̅̅ + sin = → = . sin diperoleh BE = c sin A ………..(4) + + + + sin = → = . sin diperoleh BE = a sin C ………..(5) + + + + Dari (4) dan (5) di dapat: + sin = sin → = ………… (6) + + sin sin + + Dari (3) dan (6) diperoleh: + = = → = = disebut rumus sinus / + + sin sin sin sin sin sin + + aturan sinus + +172 | Dasar Matematika + Mencari rumus cosinus +Perhatikan segitiga berikut: + +sin = → = sin ……… (1) + + + +cos = → = cos + + + +BD = AB – AD = c – b cos A ……… (2) +Perhatikan sudut BDC siku-siku di D, maka berlaku teorema +Pythagoras: +BC2 = BD2 + CD2 +a2 = (c – b cos A)2 + (b sin A)2 +a2 = c2 – 2bc Cos A + b2 cos2 A + b2 sin2 A +a2 = c2 – 2bc Cos A + b2 +a2 = b2 + c2 – 2bc Cos A +dengan cara yang sama, akan diperoleh rumus cosinus yang +lain yaitu: +b2 = a2 + c2 – 2ac cos B +c2 = a2 + b2 – 2bc cos C +Buktikan! + + 173 | Trigonometri Pendahuluan + Contoh 7.9: + +Diketahui segitiga ABC dengan AB = 4 cm, ∠ = 300 dan + +∠ 450. Tentukan panjang BC? + +Penyelesaian: + + Berdasarkan aturan sinus: + + = + sin 300 sin 450 + + = 4 → 1 √2. = 1.4 + 1 21√2 + 2 2 2 + + = 2√2 + + Jadi panjang BC = 2√2 cm. + +Contoh 7.10: +Diketahui segitiga ABC dengan AB = 4 cm dan AC = 2√2 +cm dan ∠ = 300. Tentukan panjang BC! +Penyelesaian: + + Berdasarkan aturan cosinus: + a2 = b2 + c2 – 2 bc cos A + a2 = (2√2)2 + 42 – 2(2√2)(4) cos + 300 + a2 = 8 + 16 - 16√2(1 √3) + + 2 + + a2 = 24 - 8√6 + + a = √24 − 8√6 = 2√6 − 2√6 cm + + jadi panjang BC = 2√6 − 2√6 cm + +Contoh 7.11 + +diketahui segitiga PQR dengan ∠ = 600, = 3 √6 dan + + 4 + + = 9 cm. Tentukan besar sudut PRQ dan RPQ! + + 4 + +Penyelesaian: + + = → 9 = 34√6 +sin 60 sin ∠ 4 sin ∠ + 12√3 + +9 . sin ∠ = 3 √6 1 √3 = 3 √18 + 4 2 8 +4 + +174 | Dasar Matematika + sin ∠ = 1 √2 = 450 + + 2 + +Jadi besar sudut PQR adalah 450 sedangkan besar sudut RPQ = +180 – (65 + 45) = 700 + +H. LUAS SEGITIGA + Luas segitiga adalah banyaknya satuan luas yang tepat + +menutupi permukaan segitiga tersebut. Rumus luas segitiga, +ada tiga cara yaitu: +1. Luas segitiga = ½ x alas x tinggi (jika alas dan tinggi pada + + alas diketahui). + +2. Luas segitiga dengan menggunakan perbandingan + trigonometri + Aturan sinus: Jika diketahui satu sudut dan diapit dua sisi + ∆ ABC = 1 a. b sin C + + 2 + + ∆ ABC = 1 a. c sin B + + 2 + + ∆ ABC = 1 b. c sin A + + 2 + + Jika diketahui satu sisi diapit dua sudut + ∆ ABC = a2 sin B sin C + + 2 sin(B+C) + + ∆ ABC = b2 sin A sin C + + 2 sin(A+C) + + ∆ ABC = c2 sin A sin B + + 2 sin(A+B) + +3. Jika diketahui tiga sisi + Luas ∆ ABC = √( − )( − )( − ) dimana = ++ + + 2 + + 175 | Trigonometri Pendahuluan + Contoh 7.12: +Diketahui segitiga ABC dengan AC = BC = 6 cm dan sudut +BAC = 1350. Tentukan luas segitiga ABC! + +Penyelesaian: +Karena diketahui satu sudut diapit dua sisi maka +digunakan aturan sinus + +Luas ∆ ABC = 1 AC. BC sin ∠BAC + + 2 + +Luas ∆ ABC = 1 . 6.6 sin 135 + + 2 + +Luas ∆ ABC = 18. 1 √2 = 9√2 + 2 + +Contoh 6.13: +Diketahui segitiga ABC dengan panjang sisi AB = 6 cm dan +besar sudut A = 300 dan sudut C = 1200. Tentukan luas +segitiga ABC! + +Penyelesaian: + +∠ = 300 + +Sehingga: + + = 2 sin sin = 62300 sin 300 = 9 = 3√3 cm + 2 sin 2 sin 1200 √3 + +176 | Dasar Matematika + I. RANGKUMAN +1. Perbandingan trigonometri pada segitiga siku-siku + + Sin α = + + + + cos = + + + + tan = + + + + = 1 + + sin + + sec = 1 + + cos + + = 1 = cos + + tan sin + +2. Identitas Trigonometri + sin2A + cos2A = 1 + tan2A - sec2A = 1 + tan = sin + + cos + + = cos + + sin + + = 1 + + sin + + sec = 1 + + cos + +3. Aturan Cosinus + a2 = b2 + c2 – 2bc Cos A + b2 = a2 + c2 – 2ac cos B + c2 = a2 + b2 – 2bc cos C + +4. Luas Segitiga + Luas segitiga dengan menggunakan perbandingan + trigonometri + + 177 | Trigonometri Pendahuluan + Aturan sinus: Jika diketahui satu sudut dan diapit dua sisi + ∆ ABC = 1 a. b sin C + + 2 + + ∆ ABC = 1 a. c sin B + + 2 + + ∆ ABC = 1 b. c sin A + + 2 + + Jika diketahui satu sisi diapit dua sudut + ∆ ABC = a2 sin B sin C + + 2 sin(B+C) + + ∆ ABC = b2 sin A sin C + + 2 sin(A+C) + + ∆ ABC = c2 sin A sin B + + 2 sin(A+B) + + Jika diketahui tiga sisi + Luas ∆ ABC = √( − )( − )( − ) dimana = ++ + + 2 + +178 | Dasar Matematika + J. LATIHAN + +1. Jika sin = 2. Tentukanlah nilai dari cos2x + tan2x! + + 3 + +2. Jika nilai dari sin = √2 dan tan = √2. Berapakah p2 + + − + + = q2? + +3. Perhatikan gambar berikut: + + Q R + + 8 cm + + 600 + + P S + + Tentukan panjang QR! + +4. Sebuah tangga yang panjangnya 2 m disandarkan ke + bagian paling atas sebuah tembok. Tangga tersebut + membentuk sudut terhadap tanah. Jika tinggi tembok + √3 m, berapakah besar sudut ? + +5. Buktikan bahwa 3sin2x – 2 cos2x = 5 sin2x – 2 + +6. Jika sin x + cos x = 1, berapakah nilai dari sin3x + cos3x + + 2 + +7. Buktikan 1−sin = 1 + 2 1+sin + +8. Buktikan bahwa 2 tan = 2 sin cos + 1+2 + +9. Jika x1 dan x2 memenuhi 12 cos2x – cos x – 1 = 0 maka + berapakah sec2x1 + sec2x2? + +10. Buktikan bahwa 2 sin cos −cos = + 1−sin +2−2 + + 179 | Trigonometri Pendahuluan + 11. Pada gambar berikut, jika PQ = 10√3, berapakah nilai PS? + R + + 300 600 + +P S + +12. Dalam ∆, jika AB = 3, AC = 4 dan ∠ = 600, + tentukanlah nilai dari tan ∠ + +13. Diketahui segitiga ABC dengan AB = 4 cm, AC = 6 cm dan + BC = 8 cm dan ∠ = . Berapakah nilai cos ? + +14. Diketahui ABCD dengan P dan Q masing-masing terletak + pada BC dan CD sehingga 5 BP = PC dan jika sudut PAQ = + . Berapakah nilai dari cos ? + +15. Buktikan identitas trigonometri dari (1 + tan2x)(1 + + cotan2x) = sec2x. cosec2x! + +180 | Dasar Matematika + DAFTAR PUSTAKA + +Alimuddin. (2012). Proses Berpikir Kreatif Mahasiswa Calon Guru + Kreatif dalam Pemecahan Masalah Matematika + Berdasarkan Gender. Disertasi Tidak diterbitkan + Surabaya: PPs. Universitas Negeri Surabaya + +Bahar. (2013). Investigasi Karakteristik Kesalahan Siswa SMK + dalam Pemecahan Soal Cerita Program Linier Ditinjau + dari Kemampuan Awal. Tesis Tidak diterbitkan. + Makassar: PPs UNM. + +Dwijono, Djoni dan Soesianto. F. (2006). Logika Matematika + untuk Ilmu Komputer. Yogyakarta: Andi Yoyakarta + +Kemendikbud. (2013). Matematika Kelas X kurikulum 2013. + Jakarta: Politeknik negeri media kreatif. + +Kemendikbud. (2014). Matematika Kelas VII semester 1 + kurikulum 2013 Edisi Revisi. Jakarta: Pusat kurikulum + dan Perbukuan, Balitban + +KBBI online ( 2012). Kamus Besar Bahasa Indonesia. + pada + [online] tersedia + + www.pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/ + + 181 | Daftar Pustaka + Prihandoko, Antonius Cahya. (2005). Memahami Konsep + Matematika Secara Benar dan Menyajikannya dengan + Menarik. [pdf] Departemen Pendidikan Nasional, Dirjen + Dikti. + +Ruseffendi, E.T. (1997). Materi Pokok Pendidikan Matematika 3. + Jakarta: Universitas Terbuka. + +Seputro, Thresia. (1992). Pengantar Dasar Matematika; Logika + dan Himpunan. Jakarta: Erlangga + +Siang, Jomg Jek. (2014). Logika Matematika. Yogyakarta: Andi + Ofset + +Siswanto (2013). Matematika untuk kelas X SMA dan MA Program + Wajib. Solo: Global + +Sri Handoko B dan Johannes. H (1974). Pengantar Matematika + untuk Ekonomi. Jakarta: LP3ES + +Soedjadi, R. (2000) Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia. + Jakarta: Dirjen Dikti, Departemen Pendidikan Nasional. + +Soekisno, Aryan. R.B. (2010). Persamaan dan Pertidaksamaan + Linier. Jakarta: Reka + +Sukirman dkk. (2007). Matematika. Jakarta: Universitas Terbuka + +Purcell, E.J. dan Varberg, D. (1996). Kalkulus dan Geometri + Analitis. Jakarta: Erlangga. + +R. Johnsonbaugh, Matematika Diskrit Jilid 1, Prenhallindo, 1998 + +Ruseffendi, E.T. (1984). Dasar-dasar Matematika Modern untuk + Guru. Bandung: Tarsito. + +Dasar Matematika | 182 + Upu, Hamzah. 2004. Problem Possing dan Problem Solving + dalam Pembelajaran Matematika. Bandung: Pustaka + Ramadan. + +Yahya Yusuf, dkk. (2014). Matematika Dasar Untuk Perguruan + Tinggi. Jakarta: Ghalia Indonesia + + 183 | Daftar Pustaka + diff --git a/storage/app/books/senja.pdf b/storage/app/books/senja.pdf new file mode 100755 index 0000000..f811bc9 --- /dev/null +++ b/storage/app/books/senja.pdf @@ -0,0 +1 @@ +